Banyak lembaga yang sudah sadar bahwa Sekolah Islam itu, pondasi ilmu pertama yang di berikan adalah Al-Qur’an (Baca, hafal, faham dan Akhlaq Qurani), yang lainnya adalah penjabaran dari Alquran.
Namun ternyata dalam aplikasinya masih banyak yang cara BERFIKIR NYA (mindset)) tertukar antara GURU dan PENGELOLA Lembaga Pendidikan.
Cara berfikir yang seharusnya di miliki guru, ternyata di gunakan Pengelola ( manajemen ). Dan yang seharusnya di gunakan pengelola, ternyata di pakai guru.

Misalnya:
CARA BERFIKIR GURU.
Guru seharusnya hanya berfikir bagaimana mensukseskan Al-Qur’an siswa, dia tidak perlu terlalu pusing dengan gaji. Banyak memikirkan gaji, juga tidak banyak berubah. Daripada memikirkan yang tidak berubah, lebih baik memikirkan apa yang bisa kita ubah untuk sukses, yaitu siswa kita.
Tugas guru mengupgrade diri menjadi guru Al-Qur’an terbaik bacaan, Hafalan dan cara mengajarnya. Gaji sudah ada yang mengurusi yaitu Lembaga dimna kita bekerja.
Nah cara berfikir ini sering digunakan pengelola pendidikan untuk merasionalkan tentang hak guru yang kecil yang diberikan pengelola kepada guru.
Misalnya, Pengelola mengatakan: ” jadi guru itu harus ikhlas, jangan banyak menuntut gaji. Nanti hilang ke ikhlasannya.

CARA BERFIKIR PENGELOLA:
Jika ada guru yang punya cara berfikir yang benar seperti di atas, yaitu selalu memikirkan siswa dan tidak mikirin gaji. ITU GURU SANGAT MAHAL. jangan tanya loyalitasnya dan komitmen nya? Itu sudah mendarah daging.
Lembaga harusnya paham, berapa kesejahteraan yang layak untuk GURU MAHAL ini di berikan tiap bulan.
Tugas lembaga adalah menjaga GURU MAHAL ini, betah di lembaga anda. Beri mereka kenyamanan dan kehidupan yang layak. Sangat sulit mencari GURU MAHAL tersebut.

Namun masalahnya, cara berfikir ini banyak di gunakan Guru Al-Qur’an untuk menuntut Lembaga memikirkan kenaikan kesejahteraan mereka.

Seharusnya:
Jadilah Guru Loyal yang fokus memikirkan kesuksesan siswa.
Jadilah Lembaga yang memikirkan kesejahteraan guru(tentu disesuaikan kemampuan Lembaga dan kepantasan di daerahnya)

Jangan sampai:
Lembaga nuntut loyalitas guru dengan mengecilkan kesejahteraan. dan Guru menuntut Kesejahteraan besar dengan loyalitas minim.

 

Oleh: Adhan Sanusi, Lc.