Wafa Qur’anic Festival 2018

Wafa Qur’anic Festival 2018

Setelah sukses di tahun 2017, pada tahun 2018 ini Wafa Indonesia kembali mengadakan Wafa Qur’anic Festival. Kami mengundang seluruh bagian Mitra WAFA se-Indonesia baik Murid dan Guru untuk berkarya dalam kategori perlombaan sebagai berikut,

Klik untuk versi PDF

 

KATEGORI LOMBA

  1. Tahfidz Terjemah dengan Gerakan untuk murid tingkat TK sederajat dan SD sederajat kelas 1
  1. Menulis Khat Naskhi untuk murid tingkat SD sederajat
  1. Tilawah Nada Hijaz untuk murid tingkat SMP/SMA sederajat
  1. Microteaching Metodologi 5P Wafa untuk seluruh guru lembaga mitra Wafa

 

HADIAH

Setiap kategori lomba berhadiah:

Juara 1: Uang Pembinaan, Marchandise, dan Piagam Penghargaan

Juara 2: Uang Pembinaan, Marchandise, dan Piagam Penghargaan

Juara 3: Uang Pembinaan, Marchandise, dan Piagam Penghargaan

 

KETENTUAN PENDAFTARAN DAN TEKNIS LOMBA

  • Lomba Tahfidz Terjemah dengan Gerakan
  1. Peserta adalah murid tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) sederajat dan Sekolah Dasar (SD) sederajat kelas 1 perwakilan dari lembaga Mitra WAFA.
  2. Setiap lembaga maksimal mengirimkan 2 murid perwakilan.
  3. Calon peserta harus didaftarkan secara online di laman bit.ly/WQFestival.
  4. Peserta yang telah terdaftar akan mendapatkan konfirmasi via SMS/WhatsApp di kemudian hari.
  5. Surat dan ayat Alquran yang harus dihafalkan ditentukan oleh panitia yang akan diberitahukan ke peserta setelah mendaftarkan diri.
  6. Gerakan bebas sesuai dengan kalimat yang diterjemahkan.
  7. Penilaian panita melalui rekaman video yang diunggah di Youtube dengan memberikan judul video sesuai format berikut:

Tahfidz Terjemah dengan Gerakan WAFA oleh (spasi) Nama Peserta (spasi)  Asal Lembaga (spasi) Kota

  1. Pengambilan video dan proses pengeditan bebas, menarik, dan kreatif.
  2. Contoh Tahfidz Terjemah dengan Gerakan bisa dilihat di link bit.ly/tahfidzgerakanwafa.

 

  • Menulis Khat Naskhi
  1. Peserta adalah murid tingkat Sekolah Dasar (SD) sederajat perwakilan dari lembaga Mitra WAFA.
  2. Setiap lembaga maksimal mengirimkan 2 murid perwakilan.
  3. Calon peserta harus didaftarkan secara online di laman bit.ly/WQFestival.
  4. Peserta yang telah terdaftar akan mendapatkan konfirmasi via SMS/WhatsApp di kemudian hari.
  5. Setiap peserta hanya diizinkan menulis khat naskhi yang ditentukan panitia yakni surat Al Kautsar ayat 1 s.d. 3 (termasuk basmallah).
  6. Alat dan media penulisan khat naskhi bebas.
  7. Penilaian panita melalui rekaman video proses penulisan khat naskhi yang diunggah di Youtube dengan memberikan judul video sesuai format berikut:

Menulis Khat Naskhi WAFA oleh (spasi) Nama Peserta (spasi)  Asal Lembaga (spasi) Kota

  1. Pengambilan video dan proses pengeditan bebas, menarik, dan kreatif.
  2. Contoh tulisan khat naskhi bisa dilihat di link bit.ly/khatnaskhi.

 

  • Tilawah Nada Hijaz
  1. Peserta adalah murid tingkat SMP/SMA sederajat perwakilan dari lembaga Mitra WAFA.
  2. Setiap lembaga maksimal mengirimkan 2 murid perwakilan.
  3. Calon peserta harus mendaftar/didaftarkan secara online di laman bit.ly/WQFestival.
  4. Peserta yang telah terdaftar akan mendapatkan konfirmasi via SMS/WhatsApp di kemudian hari.
  5. Surat dan ayat Alquran yang harus dibaca ditentukan oleh panitia yang akan diberitahukan ke peserta setelah mendaftarkan diri.
  6. Penilaian panita melalui rekaman video yang diunggah di Youtube dengan memberikan judul video sesuai format berikut:

Tilawah Nada Hijaz WAFA oleh (spasi) Nama Peserta (spasi)  Asal Lembaga (spasi) Kota

  1. Pengambilan video dan proses pengeditan bebas, menarik, dan kreatif.
  2. Contoh Tilawah Nada Hijaz bisa dilihat di link bit.ly/tilawahnadahijaz.

 

  • Microteaching Metodologi 5P Wafa
  1. Peserta adalah Guru/Ustadz/Ustadzah perwakilan dari lembaga Mitra WAFA, baik dari lembaga formal (TK/SD/SMP/SMA/Madrasah Sederajat) maupun nonformal (TPQ/Pondok Pesantren/Kampus/R-TAQWA/WQC/ Mitra WAFA lainnya).
  2. Setiap lembaga maksimal mengirimkan 2 guru perwakilan.
  3. Calon peserta harus mendaftar/didaftarkan secara online di laman bit.ly/WQFestival.
  4. Peserta yang telah terdaftar akan mendapatkan konfirmasi via SMS/WhatsApp di kemudian hari.
  5. Penilaian panita melalui rekaman video yang diunggah di Youtube dengan memberikan judul video sesuai format berikut:

Microteaching Metodologi 5P WAFA oleh (spasi) Nama Peserta (spasi)  Asal Lembaga (spasi) Kota

  1. Praktek microteaching harus dilakukan di depan para murid.
  2. Pengambilan video dan proses pengeditan bebas, menarik, dan kreatif.
  3. Contoh Tilawah Nada Hijaz bisa dilihat di link bit.ly/metodologi5pwafa.

 

LAIN-LAIN

Pendaftaran lomba semua kategori gratis (tidak dipungut biaya).

 

JADWAL

Pendaftaran 8 Maret – 28 April 2018
Pengumpulan (Pengunggahan) Hasil Karya 19 Maret – 28 April 2018
Penilaian Dewan Juri 29 April – 5 Mei 2018
Pengumuman Pemenang 6 Mei 2018
Penganugerahan Hadiah 27 Mei 2018

 

NARAHUBUNG

WA : 0819 3822 0168 (Ust. Mashuda)

WA : 0877 0260 5889 (Ust. Dody)

Telepon : (031) 99043404

Facebook : Wafa Indonesia

Melihat Kebaikan

Melihat Kebaikan

Bagaimanakah perasaan kita ketika melihat kebaikan? Apakah akan bahagia ataukah akan bersedih? Lumrah manusia ketika melihat kebaikan dia akan berbahagia. Tak ada satu pun kebaikan yang membuat manusia bersedih. Namun, sangat disayangkan kebanyakan manusia lebih senang melihat kebaikan daripada berbuat kebaikan.
 
Jika dengan melihat kebaikan, kita akan merasakan kebahagiaan. Apalagi jika berbuat kebaikan tentu akan lebih lagi kebahagiaan yang akan dirasakan. Kebaikan itu indah sehingga enak untuk dipandang. Kebaikan itu pun mudah sehingga ringan untuk dilakukan.
 
Selama ini mungkin kita hanya berada pada posisi melihat kebaikan belum memasuki posisi berbuat kebaikan. Contoh mudahnya, ketika kita melihat seorang anak membuang sampah pada tempatnya. Kita akan merasakan bahagia melihat kejadian tersebut. Namun, pada diri kita kebiasaan membuang sampah tersebut belum tertanam sehingga belum bisa melakukannya laksana anak kecil yang dididik sejak dini.
 
Lihatlah kebaikan agar kita termotivasi untuk selalu berbuat baik. Dengan melihat kebaikan setidaknya menutup kemungkinan mata ini tidak melihat keburukan. Tapi, jika mata ini tak diperlihatkan pada kebaikan maka keburukanlah yang akan dilihatnya.
 
Diluar sana banyak orang berlomba-lomba berbuat kebaikan sebab mereka tahu dengan kebaikan itu mereka akan memperoleh kebahagiaan yang mereka cari selama ini. Kebahagiaan yang muncul pada kebaikan akan sangat berbeda dengan kebahagiaan yang muncul karena keburukan.
 
Kebahagiaan yang muncul karena keburukan hanya beberapa saat, tak lama kemudian kebahagiaan itu akan pergi dari keburukan. Sedangkan kebahagiaan yang muncul karena kebaikan, ia akan bertahan lama. Sebab, sahabat sejati dari kebahagiaan itu adalah kebaikan. Mereka berdua akan senantiasa bersama dan bergandengan tangan tatkala mereka menghinggapi seorang insan.
 
Kebahagiaan ada disaat kebaikan ada dan kebaikan pun ada dikala kebahagiaan ada. Begitu pula dengan keburukan, kesedihan ada dikala keburukan ada dan keburukan ada disaat kesedihan ada.
 
Kita sebagai manusia dianjurkan untuk selalu optimis untuk melakukan kebaikan karena kebaikan itulah yang akan menghantarkan manusia pada kebahagiaan. Selama ini kita tak menyadari bahwa kebahagiaan itu ada pada kebaikan. Oleh sebab, tak menyadari itu kita mencari kebahagiaan pada keburukan.
 
Setelah mencari kebahagian pada keburukan, kebahagiaan pun diperoleh sesaat, sesaat kemudian kebahagiaan kabur. Kebahagian tak akan pernah betah berlama-lama dengan keburukan. Manusia kehilangan kebahagiaan dari keburukan kemudian berbuat buruk kembali demi mendapatkan kebahagiaan, memperoleh kebahagiaan sesaat, hilang. Berbuat keburukan kembali. Berputar terus menerus hingga hari akhir.
 
Sungguh bahagia melihat orang yang berbuat kebaikan. Dengan kebaikan itu dia memperoleh kebahagiaan. Karena tahu kebaikan mendatangkan kebahagiaan kemudian dia berbuat kebaikan kembali agar kebahagiaan menghampiri kembali. Begitu terus-menerus berputar tak terhenti.
 
Kebahagiaan itu dekat. Ada di dalam diri masing-masing manusia. Dengan berbuat baik. Kebahagiaan akan muncul secara tak disadari maupun disadari.
Lihatlah kebaikan orang lain, jika diri ini belum mampu untuk berbuat kebaikan. Pada saat melihat kebaikan orang lain. Kita belajar untuk berbuat kebaikan pula agar tertular untuk berbuat kebaikan.
 
Mata ini sebagai sarana untuk memperoleh contoh yang baik dari berbuat kebaikan. Maka dari itu, kita dianjurkan untuk melihat hal-hal yang baik agar hal-hal yang baik itu akan dilakukan. Dari mata yang terbiasa melihat kebaikan, hati dan otak pun akan terprogram untuk melaksanakan kebaikan-kebaikan. Sebaliknya, jika mata ini terbiasa melihat keburukan maka keburukan pun terprogram pada otak dan hati manusia.
“Sinar yang paling berbahaya”, ucap seorang guru besar Farmasi menjelaskan “adalah sinar mata”. Dari sinar mata itulah yang akan memberikan bekas pada hati dan otak manusia.
 
Biasakanlah mata ini untuk melihat kebaikan agar bekas kebaikan itu berbekas dan lama-kelamaan akan mengendap di dalam otak dan hati sehingga endapan itu akan menggerakkan hati dan otak pemiliknya untuk berbuat kebaikan pula.
Apa yang kita lihat itulah yang sering kita lakukan. Jika kebaikan sering dilihat maka kebaikan pula yang akan diperbuat. Jika keburukan lebih banyak dilihat maka keburukan pula yang lebih sering dilakukan.
 
Kebaikankah atau keburukankah yang akan dilihat? Jika kita mengetahui bahwa kebaikan akan berujung pada kebahagiaan dan keburukan akan bermuara pada kesedihan. Tentu, kita akan memilih kebaikan. Kebaikan yang dilihat serta kebaikan yang dilakukan.
 
Tak cukup hanya sekedar melihat kebaikan. Alangkah indahnya, jika kebaikan yang dilihat kemudian dilakukan sebagai bentuk amalan ataupun rutinitas sehari-hari. Rutinitas kebaikan itulah yang akan menjadikan diri manusia bahagia melalui hari-hari dengan berbagai persoalan yang hilir mudik menyapa.
Lihatlah kebaikan sebagai wujud rasa syukur manusia yang telah dikaruniakan mata untuk dipergunakan pada hal-hal yang baik. Bukan sebaliknya, pada hal-hal yang buruk itu sama halnya mengingkari mata yang telah diberikan dengan sempurna kepada setiap manusia.
 
Bermula dari mata kebaikan masuk, kemudian perlahan-lahan akan menempel di otak dan hati. Selanjutnya, karena tempelan kebaikan itu manusia akan bergerak untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang akan memberikan kebahagiaan bagi dirinya. Kebahagiaan yang sangat diidam-idamkan oleh setiap insan yakni kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat.
 
Sumber: fimadani.com
Hidup Sederhana Hidup Bahagia

Hidup Sederhana Hidup Bahagia

Kesederhanaan dalam hidup adalah kunci kebahagiaan yang sejati, bagaimana tidak,? orang yang sederhana adalah orang yang bisa hidup dalam kecukupan walau bagaimanapun keadaannya, sifat yang sederhana sangat tidak mungkin dimiliki bagi hedonois (penggila dunia). Logisnya banyak orang orang yang mencari kebahagiaan tapi malah menemukan petaka. mungkin karena dia tidak punya kesederhanaan.

Jika kekayaan itu bisa membuat anda bahagia tentunya orang terkaya di jerman tidak mati bunuh diri. dan jika kepintaran itu bisa membuat anda bahagia tentunya James William Sidis (orang terjenius didunia) tidak akan mati dalam kemiskinan dan kemelaratan dan sebagainya.

Bayangkan apa yang membuat Qorun di tenggelamkan dibumi, Firaun di tenggelamkan dilaut dan Tsa’labah mati dalam keadaan kufur.? penyebabnya adalah harta. secara fisik memang mereka adalah orang orang yang kaya, tapi harta tidak membuat mereka bahagia, malah cenderung mendustakan nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka, mereka hidup jauh dari kesederhanaan yang berujung pada penyiksaan.

Bukan berarti kita tidak boleh jadi orang kaya.. Tapi kita harus tahu apapun yang kita miliki didunia ini adalah sebuah titipan dari Allah, maka semua akan dimintai pertangungjawabnnya nanti diakherat. jangan menjadikan harta sebagai syarat untuk bahagia, ingatlah bahwa harta itu bisa menjadi fitnah perhatikan dalil berikut :

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda andaikan saya berdoa kepada Allah niscaya gunung itu akan berubah mejadi emas. ini menunjukkan bahwa Nabi adalah orang yang sederhana, kesederhanaan yang bisa membuat beliau selalu bahagia dan terlindung dari fitnah harta baik didunia dan diakherat.

Artinya : sesungguhnya aku dijalankan didalam surga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang miskin, dan aku diberangkatkan ke neraka maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah perempuan.

“Sederhanalah dalam kaya dan berhiaslah dalam miskin”.
Semoga kesederhanaah menjadikan kita hamba yang lebih dicintai oleh Allah. Aamin.

Semoga Bermanfaat.

Sumber : harunjy.com

Di Bawah Naungan Alquran

Di Bawah Naungan Alquran

Dari Hudzaifah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Hendaklah kamu sekalian beredar bersama kitab Allah (Al-quran) ke mana saja ia beredar.”(HR al-Hakim).
Al-quran adalah panduan kehidupan bagi manusia. Karena itu, tidak ada satu pun sisi kehidupan kecuali Al-quran telah memberikan panduan secara lengkap, dari hal yang terkecil hingga yang terbesar. Manusia tinggal mengikuti panduan itu, pasti meraih kesuksesan dan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan di akhirat.

Hidup di bawah naungan Al-quran akan mendapatkan banyak keuntungan dan melahirkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Antara lain, pertama, hidup menjadi terbimbing. Meski orang itu pandai, belum tentu mampu membedakan mana hal yang hak dan yang batil. Kemampuan membedakan itu sangat penting untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

Allah SWT berfirman, “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”(QS al-Baqarah [2]: 185).

Kedua, mampu mengatasi segala persoalan. Hidup ini tidak pernah lepas dari persoalan, jika Al-quran dijadikan sebagai panduan hidup maka mengantarkan manusia menjadi takwa dan ketakwaan akan membuatnya mampu mengatasi segala persoalan hidup (QS ath-Thalaq [65]: 4).

Ketiga, kehidupan menjadi bersih. Manusia lahir dalam keadaan bersih (suci), tetapi jika tanpa panduan Al-quran, kehidupan manusia menjadi kotor jiwanya, pikirannya, dan perbuatannya (QS al-A’raaf [7]: 96).

Sebaliknya, jika hidup yang jauh dari Al-quran akan berakibat buruk. Antara lain, pertama, bencana moral. Apabila manusia tidak berpedoman kepada Al-quran maka akan cenderung memperturuti hawa nafsunya. Jika manusia yang berlaku demikian, tentu akan terjadi bencana moral. Kedua, bencana fisik. Hal itu diungkapkan Allah dalam surah Al-Araaf ayat 98, “Akan tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami azab mereka akibat kedustaan mereka.”

Ketiga, bencana ekonomi. Ke empat, bencana sosial. Jika manusia jauh dari Al-quran, hubungan persaudaraan akan rapuh. Hubungan dengan tetangga akan retak, hubungan sosial akan menjadi rusak. Itu merupakan bibit perpecahan umat, bahkan perpecahan bangsa. Jika hal itu terjadi maka akan berakibat pada bencana sosial bagi manusia. Kelima, bencana keimanan. Kerusakan iman akan menjadi sasaran akhir jauhnya manusia dari Alquran. Semoga Allah membimbing kita agar tetap berada dalam naungan Al-quran.

Oleh: Imam Nur Suharno

sumber : republika.co.id