Di Bawah Naungan Alquran

Di Bawah Naungan Alquran

Dari Hudzaifah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Hendaklah kamu sekalian beredar bersama kitab Allah (Al-quran) ke mana saja ia beredar.”(HR al-Hakim).
Al-quran adalah panduan kehidupan bagi manusia. Karena itu, tidak ada satu pun sisi kehidupan kecuali Al-quran telah memberikan panduan secara lengkap, dari hal yang terkecil hingga yang terbesar. Manusia tinggal mengikuti panduan itu, pasti meraih kesuksesan dan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan di akhirat.

Hidup di bawah naungan Al-quran akan mendapatkan banyak keuntungan dan melahirkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Antara lain, pertama, hidup menjadi terbimbing. Meski orang itu pandai, belum tentu mampu membedakan mana hal yang hak dan yang batil. Kemampuan membedakan itu sangat penting untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

Allah SWT berfirman, “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”(QS al-Baqarah [2]: 185).

Kedua, mampu mengatasi segala persoalan. Hidup ini tidak pernah lepas dari persoalan, jika Al-quran dijadikan sebagai panduan hidup maka mengantarkan manusia menjadi takwa dan ketakwaan akan membuatnya mampu mengatasi segala persoalan hidup (QS ath-Thalaq [65]: 4).

Ketiga, kehidupan menjadi bersih. Manusia lahir dalam keadaan bersih (suci), tetapi jika tanpa panduan Al-quran, kehidupan manusia menjadi kotor jiwanya, pikirannya, dan perbuatannya (QS al-A’raaf [7]: 96).

Sebaliknya, jika hidup yang jauh dari Al-quran akan berakibat buruk. Antara lain, pertama, bencana moral. Apabila manusia tidak berpedoman kepada Al-quran maka akan cenderung memperturuti hawa nafsunya. Jika manusia yang berlaku demikian, tentu akan terjadi bencana moral. Kedua, bencana fisik. Hal itu diungkapkan Allah dalam surah Al-Araaf ayat 98, “Akan tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami azab mereka akibat kedustaan mereka.”

Ketiga, bencana ekonomi. Ke empat, bencana sosial. Jika manusia jauh dari Al-quran, hubungan persaudaraan akan rapuh. Hubungan dengan tetangga akan retak, hubungan sosial akan menjadi rusak. Itu merupakan bibit perpecahan umat, bahkan perpecahan bangsa. Jika hal itu terjadi maka akan berakibat pada bencana sosial bagi manusia. Kelima, bencana keimanan. Kerusakan iman akan menjadi sasaran akhir jauhnya manusia dari Alquran. Semoga Allah membimbing kita agar tetap berada dalam naungan Al-quran.

Oleh: Imam Nur Suharno

sumber : republika.co.id

Ketika Allah Masih Menyayangi Kita

Ketika Allah Masih Menyayangi Kita

”Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia justru akan memberikan ujian dan cobaan kepada mereka” (HR At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baihaqi). “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan menimpakan musibah terhadapnya” (HR Al-Bukhari dan Ahmad). (more…)

Ini Alasan Sayyidina Khalid, Apa Alasan Kita?

Ini Alasan Sayyidina Khalid, Apa Alasan Kita?

Dikisahkan bahwa, sahabat agung yang berjuluk “saifullah al-maslul” (pedang Allah yang terhunus), Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu,  dulu setiap kali mengambil Mushaf Al-Qur’an untuk membacanya, beliau selalu menangis seraya berkata: Kami telah tersibukkan darimu (wahai Al-Qur’an) oleh jihad! Nah, jika sang panglima jihad islami sepanjang sejarah senantiasa menangis dengan penuh rasa bersalah karena, menurut beliau, kurang banyak membaca Kitabullah, dengan alasan syar’i yang demikian indah, mulia dan agung, yakni kesibukan beliau dalam berjihad fi sabilillah, yang tak lain adalah dalam rangka memperjuangkan dan membela ajaran serta nilai-nilai Al-Qur’an itu sendiri, maka apa kira-kira alasan logis kita ketika selama ini bersikap justru seolah-olah tengah “berseteru” dengan Kalamullah dengan begitu jarangnya kita “menyapanya”? Dan apakah kita juga menangis karenanya, seperti sahabat Khalid radhiyallahu ‘anhu dulu menangis? Mari bertobat dan beristighfar..! (more…)

Bagaimana Berinteraksi Dengan Al-Qur’an

Bagaimana Berinteraksi Dengan Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Alif laam miin; Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; sebagai petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah: 1-2).  “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).” (QS.Al-Baqarah: 185). “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran)” (QS. An-Nisaa’: 174).  “Dan Kami turunkan Al-Qur’an sebagai penawar (penyembuhan) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian”. (QS Al-Isra’ : 82). “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir”. (QS Al-Hasyr : 21). “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran (diingat dan dipahami), maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran (mempelajari dan memahami)” (QS. Al-Qamar: 17, 22, 32 dan 40). “Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan” (QS. Al-Furqaan: 30). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ” (رواه مسلم عن عمر بن الخطّاب رضي الله عنه). ”Sesungguhnya Allah meninggikan dengan Al-Qur’an ini derajat kaum-kaum tertentu (karena berinteraksi dengannya secara baik), dan merendahkan dengannya pula derajat kaum-kaum yang lain lagi (karena mengabaikan, menjauhi dan meninggalkannya)” (HR.Muslim dari Umar bin Al-Khatthab ra.). (more…)

Urgensi Tilawah Al-Qur’an dan Adab-adabnya

Urgensi Tilawah Al-Qur’an dan Adab-adabnya

  • “Berkatalah Rasul : ‘Ya Rabbi, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan (sesuatu yang diabaikan)”. (QS Al-Furqan : 30)
  • “Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada Kehidupan Akhirat, suatu dinding yang tertutup”. (QS Al-Isra’ : 45)
  • “Dan Kami turunkan Al-Qur’an sebagai penawar (penyembuhan) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian”. (QS Al-Isra’ : 82)
  • “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir”. (QS Al-Hasyr : 21)
  • ‘Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada Hari Qiyamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya”. (HR Muslim)
  • “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir akan bersama para malaikat mulia. Adapun orang yang membaca Al-Qur’an secara terbata-bata serta berat dalam membacanya, maka ia akan mendapatkan dua pahala “. (HR Al-Bukhari dan Muslim)
  • “Barangsiapa membaca satu huruf Al-Qur’an, ia akan mendapatkan satu amal kebajikan yang akan dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali. Aku tidak mengatakan : Alif Laam Miim adalah satu huruf, namun (yang aku maksud) ialah : ‘Alif  satu huruf, Laam satu huruf, dan Miim satu huruf”. (HR At-Tirmidzi)
  • “Utsman bin Affan dan Hudzifah bin Yaman berkata : ‘Sekiranya hati-hati kita bersih dan suci, niscaya tidak akan pernah merasa kenyang dari membaca Al-Qur’an”.

URGENSI TILAWAH AL-QUR’AN

  1. Tilawah Al-Qur’an adalah salah satu ibadah istimewa dengan pahala yang berlipat-lipat.
  2. Ia adalah salah satu bentuk dzikir terbaik.
  3. Sebagai sarana pembentengan, penjagaan, perlindungan dan pembimbing diri.
  4. Sebagai ruqyah (terapi pengobatan dan penyembuhan).
  5. Sebagai senjata melawan syetan.
  6. Sebagai sarana untuk mendapatkan ketenangan, kekhusyukan, rahmat, dan sebagainya.
  7. Sarana tadabbur untuk memahami kandungan Al-Qur’an dan hukum syari’ah.
  8. Sarana penguat iman.
  9. Sarana pengontrol dan penjaga lidah dan mulut.
  10. Sarana untuk memperoleh syafa’at Al-Qur’an pada Hari Qiyamat.
  11. Salah satu faktor penentu derajat seseorang disisi Allah (pada Hari Qiyamat).
  12. Dan sebagainya.

ADAB-ADAB TILAWAH AL-QUR’AN

  1. Memilih waktu terbaik, cocok dan kondusif bagi kesempurnaan tilawah seperti (secara berurutan) : pada sepertiga malam terakhir (khususnya dalam sholat), lalu tilawah pada waktu malam secara umum, lalu tilawah waktu fajar, lalu tilawah pagi hari, lalu tilawah pada waktu-waktu lain siang hari.
  2. Memilih tempat yang sesuai dan lebih kondusif seperti masjid atau tempat di rumah atau dimana saja yang tenang dan jauh dari gangguan, kebisingan dan kegaduhan.
  3. Memilih keadaan diri dan posisi duduk yang menampakkan kekhusyukan dan penghormatan terhadap firman Allah, misalnya berpakaian lengkap seperti dalam sholat, duduk seperti duduk tasyahhud seraya menghadap kiblat, dan lain-lain.
  4. Berada dalam kondisi fisik yang bersih dan suci dari hadats besar dan juga diutamakan bersih dan suci dari hadats kecil pula.
  5. Berusaha menjaga kebersihan dan kesucian diri dari dosa, kemaksiatan dan kemunkaran, seperti kemaksiatan-kemaksiatan hati, lisan, mata, telinga, dan lain-lain.
  6. Menghadirkan niat ibadah, keikhlasan yang sempurna, kekhusyukan hati dan sikap tajarrud (totalitas) dalam ber-ta’amul(berinteraksi) dengan Kalamullah, serta menjauhkan pikiran dan perasaan dari hal-hal yang mengganggu dan meyibukkan.
  7. Memulai tilawah dengan bacaan isti’adzah atau ta’awwudz sesuai firman Allah dalam QS An-Nahl : 98 ; dan mengawali setiap bacaan permulaan surah (kecuali Surah At-Taubah) dengan basmalah.
  8. Menangis atau berusaha menangis khususnya ketika membaca ayat-ayat tentang adzab, Hari Qiyamat dan yang semakna dengan itu.
  9. Menunjukkan sikap pengagungan terhadap Allah Ta’ala dan menghadirkan kesadaran sedang berhadapan dengan Firman Suci Dzat Yang Maha Suci dan Agung ! Serta berusaha membaca dengan penuh perasaan, pemahaman dan tadabbur, sesuai dengan topik dan tema ayat-ayat yang dibaca. Disamping juga merasa seakan-akan ayat-ayat tersebut hanya ditujukan kepadanya.
  10. Berusaha membaca dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid, makhraj dan tilawah.
  11. Bagi yang mendengarkan tilawah, juga harus memperhatikan adab-adab dan hal-hal diatas, disamping harus diam, mendengarkan dan memperhatikan dengan baik sesuai perintah Allah dalam QS Al-A’raf : 204.

Oleh : KH. Ahmad Mudzoffar Jufri, MA (Pembina Metode Otak Kanan Wafa)