Banyak Ilmu, Bahagia, Tawa, serta Air Mata: Ketika Orang Tua Ikut Belajar

Banyak orang tua merasa sudah melakukan yang terbaik untuk anaknya. Sudah menyekolahkan di tempat yang baik, sudah mendaftarkan ke lembaga Al-Qur’an, bahkan rela mengeluarkan biaya lebih agar anak mendapat kualitas belajar yang layak. Tapi ada satu hal yang sering luput — peran orang tua itu sendiri dalam proses tumbuhnya anak.

Inilah yang menjadi salah satu catatan paling berkesan dari rangkaian Roadshow Wafa Indonesia di Sulawesi Selatan, yang berlangsung pada 17–26 April 2026.

Dari Hotel Harper hingga TPQ di Bulukumba

Pada 11 April 2026, SIT Ar-Rahmah Makassar menggelar Quranic Parenting bertema “Melangkah Lebih Dekat: Membersamai Anak dengan Al-Qur’an” di Hotel Harper Makassar. Acara yang awalnya ditargetkan untuk sekitar 700 peserta itu dihadiri lebih dari 800 orang — termasuk peserta yang sengaja datang dari Parepare dan berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Roadshow Wafa Indonesia di Sulawesi Selatan yang berlangsung sepanjang 17–26 April 2026, menyambangi Pangkep, Parepare, Makassar, Maros, dan Bulukumba. Di setiap titik, selain pelatihan guru dan munaqosyah siswa, Wafa selalu membuka satu sesi khusus untuk wali murid: seminar Quranic Parenting.

Narasumber yang hadir di setiap sesi adalah Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd., Master Trainer Wafa Indonesia dari Surabaya.

Ilmu, Tawa, dan Air Mata

Banyak orang tua hadir tanpa ekspektasi besar. Ada yang mengira acara ini sekadar seremoni penerimaan laporan hasil belajar anak. Ada yang datang hanya karena diajak.

Yang terjadi di dalam ruangan sama sekali berbeda.

Sumber: IG @sditarrahmah

Ustadz Dody membuka sesuatu yang selama ini jarang disentuh dalam forum pendidikan: luka-luka yang orang tua bawa dari masa lalu, dan bagaimana luka itu — tanpa disadari — ikut masuk ke dalam cara mereka mendidik anak.

Bagaimana mungkin orang tua yang terjebak dengan luka-luka masa lalu bisa mendidik anak-anaknya dengan utuh?

Pertanyaan itu bukan tuduhan. Ia adalah undangan untuk jujur. Dan orang-orang di ruangan itu, satu per satu, mulai membuka diri.

Ada yang terdiam panjang. Ada yang menangis pelan. Ada bapak-bapak yang sejak tadi terlihat tenang, tiba-tiba tidak bisa lagi menahan air matanya. Suasana yang terbangun bukan suasana seminar — ia lebih menyerupai ruang untuk pulang.

 

Bukan Tentang Anak Saja

Satu hal yang membuat sesi ini berbeda dari parenting pada umumnya: materinya tidak berhenti pada cara menghadapi anak. Ia berbalik — mengajak orang tua melihat ke dalam diri sendiri lebih dahulu.

Sumber: IG @sditarrahmah

Bagaimana mungkin orang tua yang tidak mencintai dirinya sendiri bisa mencintai anak-anaknya?

Setiap anak, kata Ustadz Dody, lahir dengan potensinya masing-masing. Tugas orang tua bukan membandingkan, melainkan menemukenali dan merayakannya. Konflik yang sering terjadi di rumah bukan karena kurangnya cinta — melainkan karena cinta yang sangat besar, namun tidak terkomunikasikan dengan cara yang tepat.

Dan ketika kesadaran itu datang, yang tersisa hanyalah rasa syukur.

Ketika rasa syukur orang tua lebih besar dari tuntutannya kepada anak, potensi terbaik anak akan keluar dengan sendirinya.

Salah satu peserta menuliskan pengalamannya setelah acara:

“Ekspektasinya cuma dikasih hasil belajar anak SD, ternyata malah kena ke diri sendiri. Kukira nasihatnya tentang jadi orang tua, ternyata tentang jadi anak juga.”

Yang lain menuliskan lebih singkat, tapi tidak kalah dalam:

“Banyak ilmu, banyak bahagia, banyak tawa, banyak juga air mata.”

Bahkan setelah acara selesai, peserta masih belum bisa ‘move on’. Salah satu peserta menulis di media sosial: “Masya Allah, luar biasa — belum bisa move on dari acara parenting kemarin.”

Pemandangan Paling Indah

Ada satu kalimat yang Ustadz Dody sampaikan di penghujung sesi, dan rupanya paling lama tinggal di hati para peserta:

Tidak satu pun pemandangan di dunia ini yang mampu mengalahkan keindahan saat ayah dan ibu menyaksikan langsung anaknya taat kepada Allah.

Kalimat itu berbicara tentang tujuan. Bukan tentang nilai, bukan tentang prestasi, bukan tentang perbandingan dengan anak tetangga. Melainkan tentang satu momen yang tidak bisa dibeli: melihat anak yang tumbuh dekat dengan Al-Qur’an, dan menyadari bahwa kita ikut andil di dalamnya.

Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd. menutupnya dengan sebuah pengingat yang hangat:

“Harta yang paling berharga bukanlah sekadar materi atau piala, melainkan waktu yang dihabiskan bersama anak dalam ketaatan kepada Allah.”

— Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd., Master Trainer Wafa Indonesia

Pendidikan yang Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Pengalaman di lapangan menunjukkan sesuatu yang sederhana namun sering dilupakan: pendidikan yang kuat tidak tumbuh hanya dari satu arah. Guru bisa mengajar sebaik mungkin, metode bisa secanggih apa pun — tapi tanpa keterlibatan orang tua, hasilnya tidak akan pernah utuh.

Sebaliknya, ketika orang tua ikut belajar, ikut memahami, dan ikut hadir — sesuatu yang berbeda mulai tumbuh. Bukan hanya pada anak, tetapi juga pada diri mereka sendiri.

Karena dari rumah, semuanya dimulai.

Informasi tentang program Quranic Parenting dan kemitraan Wafa Indonesia dapat diakses melalui wafaindonesia.or.id atau menghubungi tim Wafa di WhatsApp +62 811 3058 9310.

Kontributor: Anggraini Andini Ruswandi & Aqiilah Wardah Zakariyah

Sepuluh Hari di Sulawesi Selatan: Ketika Trainer Wafa Pusat Datang Langsung ke Pintu Lembaga

Ada yang berbeda dari cara Wafa Indonesia bekerja. Ketika banyak lembaga metode Al-Qur’an lain mengirimkan modul, buku panduan, atau video pelatihan — Wafa mengirimkan orangnya langsung.

Bukan sembarang orang. Trainer Wafa Pusat yang datang, menyusuri satu per satu lembaga mitra di daerah, duduk bersama guru-gurunya, mendengar perkembangan mereka, mengoreksi bacaan mereka, dan menyampaikan hal-hal yang kadang membuat ruangan menjadi hening.

Inilah yang terjadi di Sulawesi Selatan, sepanjang 16–26 April 2026.

Foto: Dokumentasi acara Upgrading Guru Al-Qur'an Wafa di RTQ Al Hanif Muta’awin, Bulukumba
Sumber: doc RTQ Al-Hanif Muta’awin, Bulukumba

Bukan Kunjungan. Ini Pendampingan.

Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd., Master Trainer Wafa Indonesia, menghabiskan lebih dari satu pekan menyambangi lembaga-lembaga mitra Wafa di Sulawesi Selatan. Mulai sekolah Islam terpadu di Pangkep, pesantren di Parepare, sekolah di Makassar dan Maros, hingga TPQ di Bulukumba — semuanya disambangi satu per satu.

Agenda di setiap titik tidak seragam — disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing lembaga. Ada lembaga yang butuh pelatihan tahsin guru, ada yang sudah siap munaqosyah siswa, ada pula yang mengundang wali murid untuk seminar parenting. Satu hal selalu sama: Ustadz Dody hadir langsung, duduk di hadapan guru-gurunya, mendengar, mengoreksi, dan mendorong.

Setiap kedatangan selalu membawa hal baru — karena para pemateri pun terus belajar dan berkembang.

Itulah yang membuat setiap pertemuan terasa hidup, bukan sekadar pengulangan materi.

 

Satu per Satu, Kota demi Kota

PANGKEP, 17–19 APRIL 2026

Perjalanan dimulai di SDS Semen Tonasa II Pangkep. Selama dua hari, dua belas guru mengikuti Pelatihan Tahsin — pertemuan lanjutan dalam rangkaian panjang pendampingan Wafa. Semangat para guru sudah baik sejak awal, dan Wafa hadir untuk terus mendorong kemampuan mereka naik ke level berikutnya. Hasilnya terlihat nyata: beberapa guru berhasil naik level secara signifikan.

Sehari setelahnya, masih di Pangkep, giliran para siswa SDIT dan SMPIT Al Fatih yang diuji. Munaqosyah bukan sekadar ujian biasa — ia adalah momen pembuktian bahwa sistem yang dibangun bersama antara Wafa dan lembaga benar-benar bekerja.

PAREPARE, 20 APRIL 2026

Di SIT Darul Qur’an Madani Parepare, hari itu berlangsung munaqosyah. Hasilnya membanggakan: seluruh santri dinyatakan lulus 100%, dengan sejumlah santri meraih predikat mumtaz.

Tapi yang paling diingat bukan angka kelulusannya. Sebuah sesi motivasi lahir secara spontan — tidak direncanakan, tidak masuk agenda — untuk para guru yang hadir. Ustadz Dody menyampaikan sesuatu yang sederhana namun menghunjam: tanggung jawab mengajarkan Al-Qur’an bukan hanya milik guru Al-Qur’an. Ia milik semua guru, semua orang dewasa di lingkungan anak.

Ruangan menjadi sunyi. Kemudian air mata mengalir di mana-mana.

MAKASSAR, 22–23 APRIL 2026

Di SIT Ibnu Sina Makassar, jadwal dibagi dua hari. Hari pertama untuk guru, hari kedua untuk siswa.

Pada hari pertama, banyak guru mengaku masih merasa perlu banyak belajar dalam menerapkan metode Wafa. Hal yang wajar — metode yang kuat membutuhkan waktu untuk benar-benar meresap. Justru di sinilah nilai pendampingan langsung terasa: ada yang hadir untuk menemani proses itu, bukan sekadar mengirim buku lalu pergi.

Hari kedua, giliran siswa yang diuji. Empat anak meraih predikat mumtaz — pencapaian yang tidak tumbuh dalam semalam, melainkan buah proses panjang yang dijaga bersama.

Foto dokumentasi kegiatan munaqosyah tahfidzul quran di SIT Ibnu Sina Makassar
Sumber: IG @sitibnusinamks

MAROS — RUMAH QUR’AN UMAR AL-FARUQ

Di Maros, hal yang paling berkesan bagi Ustadz Dody bukan angka kelulusan. Melainkan semangat para santri yang begitu nyata, bahkan sebelum pelajaran dimulai.

Wafa menerapkan pendekatan observasi menyeluruh — bukan hanya memantau anak saat belajar, tapi sejak mereka berangkat hingga pulang ke rumah. Terlihat sesuatu yang tidak bisa direkayasa: anak-anak datang bukan karena terpaksa. Ustadz bahkan harus menunggu kedatangan santri, bukan sebaliknya.

Semangat datang belajar adalah indikator yang tidak bisa dipalsukan.

BULUKUMBA, 25–26 APRIL 2026

Titik terakhir. TPQ Al Hanif Muta’awin, Bulukumba.

Bulukumba menyimpan cerita panjang bersama Wafa. Dua tahun lalu, para guru di sini memulai perjalanan mereka bersama Wafa dari titik awal. Kini, setelah pendampingan yang tidak pernah putus, peningkatan kemampuan mereka sangat signifikan. Bukan lompatan ajaib — melainkan buah pertemuan demi pertemuan, koreksi demi koreksi, yang dilakukan dengan sabar dan konsisten.

Hari pertama diisi dengan upgrading guru — memastikan kompetensi mengajar terus bertumbuh. Hari kedua, giliran wali murid yang diundang dalam seminar parenting. Seolah Wafa ingin memastikan bahwa sebelum meninggalkan Bulukumba, semua lini sudah tersentuh: guru, orang tua, dan ekosistem di sekitar anak.

 

Menjaga Diri di Tengah Perjalanan Panjang

Sepuluh hari. Enam kota. Puluhan sesi. Ratusan guru, siswa, dan orang tua yang harus dihadapi dengan sepenuh energi.

Ustadz Dody berbagi tentang bagaimana ia menjaga dirinya tetap bisa hadir seutuhnya di setiap pertemuan. Dua hal tidak pernah ia tinggalkan: Al-Qur’an sebagai pengisi ulang semangat, dan olahraga ringan minimal 30 menit setiap pagi — bahkan saat berada di penginapan.

“Ketika merasa lelah, jenuh, atau drop — justru saat itulah harus kembali kepada Al-Qur’an.”

— Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd.

Kekuatan untuk menjalani roadshow tidak lahir dari stamina fisik semata. Ia lahir dari keseimbangan antara kekuatan ruhiyah dan jasadiyah — bukan teori, melainkan sesuatu yang ia buktikan hari demi hari, kota demi kota.

 

Inilah yang Membedakan Wafa

Foto dokumentasi Munaqosyah Tilawah dan Tahfidz SMPIT Darul Quran Madai Kota Parepare, Sulawesi Selatan
Sumber: IG @smpit_darulquranmadani

Mudah untuk menawarkan metode. Buku bisa dicetak, modul bisa dikirim, video bisa dibagikan. Wafa memilih jalan yang lebih panjang dan lebih melelahkan: mengirimkan manusianya langsung ke lapangan.

Wafa percaya bahwa kualitas tidak bisa dijaga dari jarak jauh. Ia harus dijaga dari dekat — dengan hadir, dengan mendengar, dengan mengoreksi, dan dengan terus kembali meskipun perjalanannya jauh.

Pagi ini bukan sekadar awal hari, tapi kesempatan baru untuk menjadi lebih baik dari kemarin.

— Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd.

Kalimat itu diucapkan di penghujung perjalanan panjang. Tapi ia terasa seperti pesan yang ditinggalkan untuk setiap guru di Pangkep, Parepare, Makassar, Maros, dan Bulukumba — agar semangat yang menyala selama roadshow tidak padam setelah pintu kelas ditutup.

—-

Ingin lembaga Anda menjadi bagian dari ekosistem dakwah Al-Qur’an Wafa? Kunjungi wafaindonesia.or.id atau hubungi tim Wafa di WhatsApp +62 811 3058 9310.

Kontributor: Anggraini Andini Ruswandi & Aqiilah Wardah Zakariyah

Menjaga Standar Keunggulan Al-Qur’an: Supervisi Pembelajaran Metode Wafa

Bismillah, kualitas sebuah pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kurikulum yang baik, tetapi juga oleh proses pengawalan dan evaluasi yang berkesinambungan. Oleh karena itu, Yayasan Bina Ummat berkomitmen menyelenggarakan kegiatan Supervisi Pembelajaran Al-Qur’an Metode Wafa.

🔍 Apa itu Supervisi & Mengapa Ia Urgen?

Banyak yang bertanya, apa sebenarnya tujuan dari supervisi ini?

Supervisi Pembelajaran bukanlah sekadar pemeriksaan atau ujian bagi guru. Ia adalah proses pendampingan profesional dan bimbingan teknis yang bertujuan untuk:

  1. Standardisasi Mutu: Memastikan metode Wafa (Metode Otak Kanan) disampaikan dengan teknik yang tepat dan seragam di setiap kelas.
  2. Penjaminan Kualitas (Quality Assurance): Menjamin bahwa setiap murid/santri mendapatkan kualitas bacaan (tahsin) dan pemahaman Al-Qur’an sesuai standar yang ditetapkan.
  3. Upgrade Kompetensi Guru: Memberikan ruang bagi guru untuk berkonsultasi langsung dengan para ahli mengenai kendala di kelas dan cara mengatasinya.
  4. Optimasi Hasil Belajar: Dengan guru yang terus terpantau kualitasnya, maka target keberhasilan siswa dalam membaca Al-Qur’an akan lebih cepat dan efektif tercapai.

🗓 Detail Pelaksanaan:

Kegiatan ini akan diikuti oleh 12 guru pilihan yang akan dibersamai langsung oleh tim supervisor ahli:

  • Hari/Tanggal: Kamis, 15 Januari 2026
  • Waktu: 07.00 WIB – Selesai
  • Tempat: Yayasan Bina Ummat, Bojonegoro

Narasumber & Supervisor:

✨ Saiful Majid, S.Pd.I

✨ Ade San Putra, M.Pd

✨ H. Mohamad Yamin, S.T., M.Pd.

✨ M. Ali Kurniawan, S.H.

✨ Mashuda, S.Pd.

✨ Wawan Fitriono, S.Pd.I

✨ Bayu Prasetio, S.Pd

Mohon doa agar kegiatan ini menjadi wasilah bagi kami untuk terus mencetak generasi Qur’ani yang unggul, beradab, dan mencintai Al-Qur’an.

#YayasanBinaUmmat #MetodeWafa #SupervisiPendidikan #Bojonegoro #GuruAlQuran #PendidikanIslam #WafaIndonesia #CintaAlQuran #KualitasPendidikan

10 Tahun Kemitraan Bermakna: Guru NUFI QURANIC SCHOOL SIDOARJO Menyelenggarakan Up-Grading Kompetensi

Sidoarjo, 8 Juli 2025 – Dengan penuh semangat, NUFI Global Quranic School Sidoarjo telah sukses menyelenggarakan program Upgrading Guru-guru Al-Qur’an selama dua hari penuh, pada tanggal 7-8 Juli 2025, bertempat di Aula NUFI Global Quranic School Sidoarjo.

Kegiatan ini merupakan wujud komitmen kuat NUFI dalam terus meningkatkan kualitas pengajaran Al-Qur’an bagi para peserta didiknya. Dalam pelaksanaannya, NUFI secara khusus mengundang tim dari Wafa Indonesia metode pembelajaran Al-Qur’an dengan Otak Kanan untuk mengisi langsung acara ini. Para guru menunjukkan antusiasme tinggi dalam sesi penyegaran dan pendalaman metode Wafa (khususnya konsep 5P), yang bertujuan untuk menciptakan pengalaman belajar Al-Qur’an yang lebih menyenangkan dan berdampak bagi siswa.

Momen istimewa turut mewarnai akhir acara, yaitu penganugerahan penghargaan bagi guru-guru berprestasi. Selain itu, kebahagiaan juga terpancar dengan adanya selebrasi 10 tahun kemitraan antara NUFI Global Quranic School Sidoarjo dan Wafa Indonesia. Ini menandai satu dekade kolaborasi dan kerjasama untuk mewujudkan program pendidikan Al-Qur’an yang berdampak di NUFI.

Selamat kepada NUFI Global Quranic School Sidoarjo atas kerja sama yang luar biasa ini! Semoga sinergi ini terus memberikan kebermanfaatan yang luas bagi generasi Qurani di masa depan. Bismillah wa insyaAllah

Meningkatkan Semangat dan Keterampilan Menghafal Al-Quran di Blitar Timur melalui SIMAAN

Meningkatkan Semangat dan Keterampilan Menghafal Al-Quran di Blitar Timur melalui SIMAAN

Metode Wafa – Wafa Pusat bersama Wafa Daerah Blitar Timur (Wafa Daerah) telah mengadakan SIMAAN (Silaturahim Muallim Al-Qur’an) dengan tema “Menghafal Al-Qur’an Mudah Menyenangkan” pada Sabtu (29/01/2025). Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Wildan Nadzif, S.Sos., Al-Hafidz. sebagai narasumber utama. Selain menjadi ajang silaturohim, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan dan memotivasi para guru Al-Quran dalam menghafal. (Baca buku : Al-Quran Hafalan Wafa)

SIMAAN dan Menghafal Wafa Blitar Timur 2
Gambar 1 (Wafa Blitar Timur) – Kegiatan SIMAAN dan Pelatihan Menghafal

Kegiatan ini diikuti oleh guru-guru Al-Quran dari berbagai sekolah mitra di daerah Blitar Timur yang mencakup berbagai jenjang pendidikan sekolah. Kegiatan ini memiliki tujuan utama, yaitu mempererat hubungan antar mitra serta membangun kebersamaan di antara para guru Al-Quran dalam mewujudkan visi bersama: Melahirkan generasi ahl Al-Quran.

Para peserta yang hadir mengaku antusias dalam mengikuti kegiatan hingga akhir. Mereka merasakan manfaat besar, terutama pada pelatihan menghafal, yang membimbing mereka pada metode efektif agar hasil hafalan lebih maksimal.

Semoga kegiatan SIMAAN ini, beserta pelatihan menghafal yang diselenggarakan, dapat terus meningkatkan kompetensi para guru Al-Quran serta mencetak generasi muda Indonesia yang lebih terampil dalam menghafal Al-Quran dengan baik dan sesuai. (Baca juga : Pelatihan SAGAQU dan Akademi Tahsin)

Edukasi Anak Orang Tua Islam

Edukasi Anak, Menjadikan Ananda sebagai “Manusia Surga”

Setiap orang tua yang beriman tentu menginginkan anak-anaknya menjadi shalih dan shalihah, serta kelak berkumpul bersama keluarga di surga. Sehingga menjadi keharusan untuk punya kendali dalam pendidikan sebagai penunjuk jalan putra dan putrinya. Orang tua juga memastikan untuk tetap memohon kepada Allah agar dikaruniai keturunan yang menjadi penyejuk hati dan pemimpin bagi orang-orang bertakwa.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Rabb kami, jadikanlah istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Namun, cita-cita ini harus disertai dengan usaha nyata agar anak-anak kita menjadi “Manusia Surga”. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat ditempuh:

  1. Menanamkan Ilmu Agama

Tidak cukup hanya berdoa, orang tua harus mengajarkan ilmu agama Islam kepada anak-anaknya. (Baca buku : Kisah Islami Wafa)

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ بِهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu (agama), maka Allah akan memudahkannya jalan menuju surga.” (HR. Bukhari)

  1. Membiasakan Amal Shalih

Surga hanya dapat diraih dengan amal shalih.

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang terlebih dahulu kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)

Amal shalih utama yang harus dibiasakan sejak dini adalah shalat lima waktu. (baca juga: Mengajarkan Anak Sholat)

“Perintahkan anak agar menjalankan shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka bila enggan menjalankan shalat pada usia sepuluh tahun, serta pisahkan mereka dari tempat tidur.” (HR. Abu Dawud)

  1. Mendidik dengan Kesabaran

Mendidik anak membutuhkan kesabaran dan ikhtiar karena hidup zaman sekarang merupakan sebuah tantangan bagi orang tua. Seperti mudahnya fitnah tersebar, pergaulan bebas dan pengaruh teknologi. Sehingga peran orang tua sebagai penunjuk arah dan penasihat anak penting agar anak tidak melakukan perbuatan yang dilarang dalam masyarakat maupun agama.

“(Jalan menuju) surga itu dipenuhi dengan hal-hal yang tidak disukai, sedangkan (jalan menuju) neraka dipenuhi dengan berbagai kenikmatan yang disenangi oleh syahwat.” (HR. Muslim)

  1. Mengingatkan akan Kehidupan Akhirat

Iman kepada Hari Akhir merupakan bagian dari rukun iman. Penting juga menjelaskan tentang surga dan neraka sebagai gambaran agar memiliki semangat dan motivasi untuk berusaha mendapatkan surga-Nya dibanding siksa neraka. Keimanan kepada hari akhir harus ditanamkan agar anak-anak memahami akibat dari setiap perbuatan mereka.

 

Pendidikan Anak untuk Membangun Generasi Qurrotu A’yun

Mengasuh dan mendidik anak merupakan amanah besar yang diberikan oleh Allah SWT kepada setiap orang tua. Menurut Abdullah Nashih Ulwan dalam Tarbiyatul Aulad, pendidikan anak harus mencakup:

Pendidikan Iman – Menanamkan tauhid agar terhindar dari kebodohan.

Pendidikan Ibadah – Membiasakan ibadah agar dekat kepada Allah.

Pendidikan Kejiwaan – Menjaga ketenangan hati dengan keimanan.

Pendidikan Intelektual – Membekali anak dengan ilmu untuk menghindari kejahiliyahan.

Pendidikan Akhlak – Mencontohkan akhlak Rasulullah agar memiliki karakter mulia.

Pendidikan Fisik – Menjaga kesehatan agar kuat dan bermanfaat bagi lingkungan.

Pendidikan Seks – Memahamkan identitas diri sesuai fitrah dan syariat.

Pendidikan Sosial – Membantu anak beradaptasi dan menjadi problem solver di masyarakat.

Semoga Allah menjadikan putra-putri kita sebagai qurrata a’yun, penyejuk mata bagi kedua orang tuanya, serta generasi yang diridhai Allah di dunia dan akhirat.

 

– K.H. Muhammad Shaleh Drehem, Lc. (@msdrehem)

Isra Miraj Edukasi Orang Tua dan Anak

Isra Miraj : Momen Mengajarkan Anak Pentingnya Sholat Lima Waktu

Isra Miraj tak hanya tentang peristiwa penting dalam Islam, tak hanya tentang Nabi Muhammad SAW yang melaju cepat ke Baitul Maqdis, tak hanya tentang langit ketujuh dan tak hanya tentang perintah sholat. Tapi juga sebagai momen penting mengajarkan arti sholat lima waktu kepada anak, apalagi saat anak mendapatkan libur sekolah.

Isra Miraj merupakan dua peristiwa penting dalam perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam satu malam saja. Dari peristiwa ini, kita mengetahui perintah sholat lima waktu yang turun langsung dari Allah. Termuat juga dalam firman Allah QS. Al-Isra: 1 & QS. An-Najm: 13-18.

Menjadi Momen Penting untuk Edukasi dan Kebersamaan Anak

Salah satu hari besar Islam adalah Isra Miraj. Hari besar ini menjadi momen penting dalam meningkatkan edukasi serta kedekatan bersama anak. Ayah bunda bisa memanfaatkan momen kebersamaan ini sebagai langkah menguatkan pondasi iman atau kedekatan hubungan dengan Tuhan dengan mengajarkan disiplin dan tanggung jawab melalui perintah sholat lima waktu.

Mengajarkan Anak Pentingnya Sholat melalui Cerita

Salah satu Psikolog Anak dan Keluarga, Amanda Margia Wiranata, M.Psi. (Paramitha, T. & Sumiyati, 2021), menjelaskan bahwa bercerita pada anak memberikan banyak manfaat untuk sang buah hati, antara lain: (1) Menggugah minta baca anak; (2) Merangsang imajinasi, rasa ingin tahu serta perkembangan otak; (3) Membantu regulasi emosi anak; (4) Memudahkan anak beradaptasi; (5) Serta menguatkan ikatan emosianal orang tua dan anak.

Momen Isra Miraj menjadi waktu yang tepat memberikan cerita-cerita seperti: (1) Bagaimana perjalanan nabi Muhammad SAW ke Masjidil Aqsa hingga terbang ke Sidratul Muntaha; (2) Menjelaskan bahwa sholat lima waktu adalah hadiah langsung dari Allah; dan (3) Tidak lupa cerita dalam kehidupan sehari-hari supaya anak merasa ada di dalam cerita tersebut. Pastikan juga cerita mudah dipahami. Sebagai referensi bercerita, ayah bunda bisa mendapat referensi dari Kisah Islami (Buku Berkisah).

Membiasakan Anak Sholat Lima Waktu

Setelah anak memahami arti kecil dari sholat lima waktu, ayah bunda bisa mulai membiasakan anak untuk melakukannya. Tidak perlu terlalu memaksa anak untuk sholat lima waktu, tapi ayah bunda bisa memberikan contoh langsung sebagai teladannya. Mengutip dari artikel hellosehat (Madarina, 2023), bahwa berdasarkan penelitian bahwa perilaku anak cenderung adalah meniru orang tua melalui observasi dan interpretasinya serta anggapan anak bahwa itu adalah hal yang normal.

Dengan ayah bunda memberikan contoh, misal sholat berjamaah di masjid atau berjamaah di rumah untuk mempererat keluarga. Contoh ini akan menjadi sebuah kebiasaan karena anggapan anak bahwa hal tersebut adalah normal. Ayah bunda bisa sesekali memberikan pujian atau hadiah untuk menambah motivasinya.

Peran Penting Ayah Bunda sebagai Pendidik Pertama

Peran ayah dan bunda sangatlah penting dalam membentuk perkembangan anak, termasuk dalam pemahaman agama dan akhlak yang mulia. Sejak dini, anak belajar dari keteladanan orang tua dalam menjalankan ibadah dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Membiasakan anak untuk mencintai sholat, memahami ajaran Islam, dan mengamalkan akhlak yang baik merupakan investasi berharga bagi kehidupan mereka di dunia dan akhirat.

Sebagaimana Al-Quran menjadi pedoman utama dalam kehidupan, orang tua pun memiliki peran sebagai “pendidik pertama” yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, sehingga anak tumbuh dengan keimanan yang kokoh dan perilaku yang berlandaskan ajaran Islam.

4 Langkah yang Harus Dilakukan oleh Mitra Wafa Baru - Mitra Bertanya, Wafa Menjawab

4 Langkah yang Harus Dilakukan oleh Mitra Wafa Baru – Mitra Bertanya, Wafa Menjawab

Metode Wafa menghadirkan sebuah ruang untuk membantu berbagai pertanyaan dan menjawab kesulitan yang dialami oleh guru mitra wafa dalam proses pembelajaran di sekolah. Program ini adalah “Mitra Bertanya, Wafa Menjawab” yang hadir dengan seri “Sistem Manajemen Mutu Wafa 7M”.

 

“Kami (lembaga) benar-benar baru menggunakan metode Wafa, bingung apa yang harus kami lakukan?”

Wafa menjawab,

Untuk menerapkan metode Wafa dengan tepat dan efektif bisa mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Ikuti Pelatihan Sertifikasi Guru Al-Quran (PSGA) Wafa
  2. Terapkan Sistem Manajemen Mutu Wafa 7M
  3. Penyusunan Program Kerja Al-Qur’an Berbasis Sistem Manejemen Mutu Wafa
  4. Coaching dan Workshop

 

4 Langkah di atas harus dilakukan oleh lembaga yang baru saja menggunakan Wafa supaya metode Wafa bisa berjalan dengan tepat dan efektif. Berikut ini adalah penjelasan detailnya.

1. Ikuti Pelatihan Sertifikasi Guru Al-Quran (PSGA) Wafa

Lembaga mitra baru diharuskan mengikuti pelatihan ini tak hanya penting dalam proses lembaga mitra baru tapi untuk memastikan bahwa pengajar memahami dan dapat menerapkan metode Wafa dengan baik. Pelatihan ini memberikan dasar-dasar yang kuat dalam pengajaran Al-Quran yang interaktif dan menyenangkan. Tujuannya agar anak-anak atau peserta didik dengan mudah dan menyenangkan mengikuti kelas belajar.

2. Terapkan Sistem Manejemen Mutu Wafa 7M

Hussin, et al. (2023) dan Yusuf, et al. (2021) menyatakan bahwa Implementasi sistem manajemen mutu yang efektif di lembaga pendidikan mengarah pada peningkatan yang signifikan dalam metodologi pengajaran dan hasil belajar siswa. Lembaga mitra Wafa bisa mencoba mengimplementasikan urutan sistem berikut untuk memaksimalkan penerapan sistem metode Wafa. (baca: Sistem 7M)

  1. Memetakan
  2. Memperbaiki
  3. Menstandarisasi
  4. Mendampingi
  5. Mensupervisi
  6. Memunaqosyah
  7. Mengukuhkan

3. Penyusunan Program Kerja Al-Qur’an Berbasis Sistem Manajemen Mutu Wafa

Melanjutkan pada poin sebelumnya, lembaga mitra Wafa juga diharapkan merancang program kerja yang sesuai, terintegrasi yang mendukung implementasi metode Wafa, melalui aspek manajemen mutu. Program ini akan membantu meningkatkan kualitas pembelajaran Al-Quran di lembaga anda.

4. Coaching dan Workshop

Untuk lembaga yang belum memiliki program kerja Al-Quran dan butuh bantuan, bisa dengan gratis meminta coaching secara online dari Wafa Indonesia. Selain itu, lembaga mitra juga bisa berkonsultasi untuk mengadakan workshop tentang sistem manajemen mutu 7M Wafa secara langsung dan akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pengajaran.

 

Masih bingung atau ada kendala? Konsultasi gratis!

Info Coaching Mitra Wafa :

085857584000

(Ustadz Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd. – Master Trainer Wafa Indonesia)

 

Referensi :

Hussin, A. A., et al. (2023). “The Impact of Quality Management Practices on Educational Outcomes.” Journal of Educational Management, 45(2), 134-150.

Yusuf, M., et al. (2021). “Quality Assurance in Islamic Education: A Case Study of Quranic Schools.” Islamic Education Review, 32(1), 65-82.

Tahun Baru Guru Al-Quran

Tahun Baru, Motivasi Baru Guru Al-Quran

Tahun baru selalu menjadi momen istimewa untuk memulai lembaran baru, termasuk bagi para guru Al-Quran kita. Sebagai pembimbing generasi penerus yang mengamalkan nilai-nilai Al-Quran, mereka juga memiliki peran penting dalam membentuk akhlak dan keimanan anak-anak.

Tahun baru menjadi kesempatan emas sebagai refleksi lika-liku perjalanan sebelumnya, sekaligus menjadi korek api untuk mengobarkan semangat dalam mengajar dan mendidik anak-anak. Dengan motivasi baru, para guru Al-Quran kita semakin mampu menghadirkan ruang kelas yang menyenangkan dan inspiratif untuk mencetak generasi yang mencintai Al-Quran dan berakhlak mulia. (Baca juga: Darimu Kami Belajar Menjadi Guru yang Hebat)

Rasulullah SAW juga Diutus Menjadi Guru

Bayangkan jika Rasulullah SAW saja diutus langsung oleh Allah untuk menjadi guru karena begitu mulianya seorang guru. Seseorang yang tetap belajar hal-hal baru dan mengajarkannya kepada para peserta didik. Begitulah yang juga Rasulullah SAW lakukan.

كُلٌّ عَلَى خَيْرٍ هَؤُلَاءِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَدْعُونَ اللَّهَ فَإِنْ شَاءَ أَعْطَاهُمْ وَإِنْ شَاءَ مَنَعَهُمْ وَهَؤُلَاءِ يَتَعَلَّمُونَ وَإِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا فَجَلَسَ مَعَهُمْ

Artinya: “Mereka semua berada dalam kebaikan. Kelompok pertama membaca Al-Qur’an dan berdoa kepada Allah, jika Allah berkehendak Dia akan memberi (apa yang diminta) mereka. Sementara kelompok yang kedua belajar mengajar, dan sesungguhnya aku diutus untuk menjadi guru.” (HR Ibnu Majah)

Tak Apa Mendidik dengan Perlahan

Seperti peribahasa, “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”, setiap didikan kecil kita dengan perlahan dan terus-menerus bisa membuat bekas kebaikan untuk pengembangan karakternya. Kebaikan-kebaikan kecil itu perlahan menjadi hal besar di masa depan. Setiap tokoh besar yang bermakna lahir dari hal kecil yang diajarkan secara terus menerus.

كُوْنـُـوْا رَبَّانِيِّـْينَ حُلَمَاءَ فُقَهَاءَ عُلَمَاءَ وَيُقَالُ اَلرَّبَّانِيُّ الَّذِى يُــرَبِــّى النَّاسَ بِصِغَارِ اْلعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ

Artinya: “Jadilah pendidik yang penyantun, ahli fiqih, dan ulama. Disebut pendidik apabila seseorang mendidik manusia dengan memberikan ilmu sedikit-sedikit yang lama-lama menjadi banyak.” (HR Bukhari)

Mulia dan Dianggap Beruntung oleh Allah SWT

Allah SWT sudah berfirman tentang menyeru kebaikan dan mencegah keburukan. Allah juga mendorong umat Islam menjadi pendidik yang berilmu, yang berperan penting pada tugas penting tersebut.

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

”Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali – ’Imran: 104)

 

————————-

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari).

10 Adab Membaca Al-Quran Beserta Dalilnya

10 Adab Membaca Al-Quran Beserta Dalilnya

Al-Quran adalah kitab suci umat Islam yang penuh dengan petunjuk dan hikmah dari Allah. Diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril, Al-Quran menjadi pedoman hidup bagi setiap muslim.

Sebagai umat Islam, kita tidak hanya diwajibkan membaca, tetapi juga memahami, mengamalkan, dan menghormatinya. Salah satu cara menghormati Al-Quran adalah dengan menjaga adab-adab dalam membacanya. Berikut ini adalah 10 adab membaca Al-Quran yang perlu kita terapkan.

 

1. Suci dan Bersih

Pertama adalah dalam keadaan suci dan bersih dari hadats kecil maupun besar, ditambah wudhu serta membersihkan mulut untuk menyempurnakan.

Dari Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menulis surat untuk penduduk Yaman yang isinya, “Tidak boleh menyentuh Al-Qur’an melainkan orang yang suci”. (HR. Daruquthni no. 449. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 122).

 

2. Tempat yang bersih

Ulama menganjurkan di dalam masjid, karena akan ada keberkahan di dalam masjid, tempat mulia untuk beribadah, khusunya I’tikaf.

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Hendaklah setiap orang yang duduk di masjid berniat i’tikaf baik untuk waktu yang lama atau hanya sesaat. Bahkan sudah sepatutnya sejak masuk masjid tersebut sudah berniat untuk i’tikaf. Adab seperti ini sudah sepatutnya diperhatikan dan disebarkan, apalagi pada anak-anak dan orang awam (yang belum paham). Karena mengamalkan seperti itu sudah semakin langka.” (At-Tibyan, hlm. 83)

 

3. Memulai dengan Ta’awudz

Bacaan Ta’awuds menurut mayoritas ulama yaitu“a’udzu billahi minasy syaithonir rajiim”. Perintah bacaan ini telah disebutkan dalam Al-Quran.

Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)

 

4. Membaca dalam keadaan Khusyu’ dan Tadabbur

Keadaan Khusyu’ memberikan rasa nikmat dalam membaca dan mendalami Al-Quran termasuk mentadabbur setiap ayat yang dibaca. Ada beberapa firman Allah yang mengingatkan hal tersebut.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29)

 

5. Membaca Al-Quran Seakan Berhadapan dengan Allah SWT

Saat ini masih banyak sekali yang membaca Al-Quran sebatas lewat lisan saja. Tidak hanya menghayati tapi juga menghadirkan Allah saat membaca Al-Quran melalui keyakinan hati kita. Ibnu al-Qayyim, ulama yang juga dikenal sebagai pakar penyakit hati memberikan nasihatnya.

Barang siapa yang mendengar bacaan Al-Quran, maka berusahalah seakan-akan ia mendengar bacaan Al-Quran dari Allah yang sedang mengajak bicara kepadanya.” (Madariju as-Saliki, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, 2/166)

Jika kamu ingin agar Al-Quran bermanfaat bagimu, maka hadirkanlah hatimu ketika membaca dan ketika mendengar bacaannya. Dengarkan dengan seksama. Hadirkanlah sosok Dzat yang memfirmankan Al-Quran ini dalam hatimu ketika kamu membaca firman-Nya. Karena sesungguhnya, Al-Quran ini adalah firman dari Allah yang ditunjukkan untukmu lewat perantara lisan Rasul-Nya.” (Al-Fawaid, Ibnu al-Qayyim, 1/3)

 

6. Membaca dengan Tartil (Perlahan)

Membaca Al-Quran harus dilakukan dengan perlahan supaya jelas dan tidak ada yang terlewat, karena isi Al-Quran seharusnya apa adanya seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT.

“… Bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-Muzzammil: 4)

 

7. Memanjangkan Bacaan

Saat membaca Al-Quran akan lebih baik jika memanjangkan bacaan namun berdasarkan tajwid.

Riwayat Anas bin Malik telah menjelaskan mengenai bacaan ayat Al-Quran yang dipanjangkan sesuai tajwidnya. Anas bin Malik pernah ditanya tentang bagaimana Nabi SAW, ia menjawab mad atau panjang. Beliau membaca, ‘Bismillahirrahmanirrahim’ dengan memanjangkan lafadz ‘Bismillah’, dan memanjangkan lafadz ‘Ar-Rahman dan memanjangkan lafadz Ar-Rahim’.” (HR. Bukhari 5045)

 

8. Mengindahkan Suara Ketika Membaca

Saat ini banyak irama yang bisa menjadi tuntunan dalam mengindahkan bacaan, seperti pada Irama Hijaz Wafa yang telah disederhanakan serta dipermudah untuk dipelajari mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, demi menumbuhkan kecintaan pada Al-Quran.

Anjuran ini sunnah dilakukan seperti yang dikatakan Al-Bara’, “Aku mendengar Rasulullah SAW membaca ‘Wattini wazzaituun’ ketika sholat Isya, dan aku tidak mendengar seseorang yang bersuara indah atau bacaan selain beliau.” (HR. Bukhari 769)

9. Diperbolehkan Membaca Al-Quran dalam Keadaan Berdiri, Berjalan atau Berkendara

Jika sibuk dan jadwal padat, kita masih diperbolehkan membaca Al-Quran sambil berdiri, berjalan ataupun di kendaraan, selama tetap menjaga keselamatan. Allah SWT berfirman,

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali-Imran: 191)

 

10. Berhenti Membaca ketika Sangat Mengantuk

Jika tubuh dan pikiran sudah merasa lelah dan butuh istirahat, maka lebih baik istirahat terlebih dahulu agar kembali dimudahkan dalam  mentadabbur Al-Quran dengan khusyu’.

Dalam riwayat Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian melaksanakn sholat malam, kemudian lidahnya kaku untuk membaca Al-Quran – karena mengantuk – dan dia tidak mengetahui apa yang sedang ia baca, maka tidurlah.” (HR. Muslim 787)

 

Referensi:

Rumaysho. 8 Adab Membaca Al-Qur’an

Detik. 15 Adab Membaca Al-Qur’an, Jangan Lupa Praktikkan Ya!

Dakwah.id. 14 Adab Membaca Al-Quran yang Perlu Diketahui