8010Proses pembelajaran di kelas seringkali tampak berjalan dengan lancar. Guru menyampaikan materi, siswa terlibat, dan evaluasi dilakukan di akhir sesi. Namun, dibalik semua itu, ada berbagai dinamika yang tak terlihat. Dalam kenyataannya, guru menghadapi berbagai tantangan yang mempengaruhi mutu pengajaran dan hasil belajar siswa. Tantangan tersebut memengaruhi kualitas pengajaran dan hasil belajar siswa, mulai dari metode mengajar, proses penilaian hingga proses evaluasi. Situasi ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran memerlukan pendampingan yang lebih optimal agar dapat berlangsung dengan efektif.
Tantangan Guru dalam Mencapai Target Pembelajaran
Dalam aktivitas pembelajaran, guru memiliki peran yang penting dalam menjamin agar target belajar siswa tercapai. Setiap tujuan pembelajaran menjadi beban yang perlu diselesaikan dengan baik. Namun di lapangan, guru kerap kali menemui banyak hambatan yang mengakibatkan pencapaian tersebut tidak berjalan dengan semestinya.
Guru seringkali menghadapi tantangan internal akibat kurangnya pendampingan dari lembaga pendidikan. Hal ini mengakibatkan kerap kali terjadi kesalahan dalam proses pembelajaran, mulai dari kesalahan penilaian, penyampaian materi, pengajaran, hingga tahsin.
Ketidaktepatan dalam penilaian ini berdampak langsung pada capaian siswa yang tidak sesuai dengan target yang telah ditetapkan, sehingga proses pembelajaran belum berjalan secara optimal. Tantangan yang dialami oleh guru ini diungkapkan oleh Ustadz Wildan dalam proses wawancara.
“Kalau guru itu tantangannya adalah dengan diri mereka sendiri karena di sisi yang lain mereka terlalu dilepas oleh lembaga sehingga mereka agak kebingungan juga ketika melakukan pengajaran dan yang terjadi menilainya salah, menyampaikannya juga salah dan P3-nya, pengajarannya juga salah, tahsinya juga salah, seperti itu karena memang tidak ada proses pengawalan. Di sisi lain, hal itu menyebabkan capaian-capaian siswa yang tidak sesuai dengan target, terkadang pun juga ada guru yang diamanahi tidak sesuai dengan levelnya. Jadi konsistensi dalam mengajar itulah yang seharusnya menjadi tantangan berat” ungkap Ustadz Wildan Arif, S.Pd.
Keterbatasan Evaluasi dan Kebutuhan Pendampingan
Selama ini, proses evaluasi cenderung dilakukan di akhir pembelajaran, sehingga dinilai kurang efektif karena perbaikan tidak dapat dilakukan secara langsung selama proses berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa guru baru mengetahui kesalahan setelah proses pembelajaran selesai. Sementara itu, apabila dilakukan perbaikan dari awal akan berpotensi memberikan dampak kurang baik secara psikologis bagi siswa, karena mereka harus mengulang materi yang telah dilalui.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa guru membutuhkan pendampingan yang lebih berkelanjutan, agar setiap kendala dapat diatasi secara lebih optimal. Pendampingan tidak hanya melibatkan proses pengajaran, tetapi juga termasuk pengawasan terhadap mutu pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
Dalam hal ini, penjamin mutu bertujuan untuk memastikan kualitas bacaan siswa dan guru. Melalui penjamin mutu, proses pendampingan dapat dilakukan secara lebih terarah. Penjamin mutu dapat berupa sebuah kelompok atau individu yang mengawasi dan menjaga kualitas bacaan siswa serta guru agar dapat mencapai target. Namun, saat ini penjamin mutu perlu meningkatkan keterbukaan dan kolaborasi guru.
Guna melaksanakan fungsi itu dengan baik, dibutuhkan sebuah bentuk dukungan yang tidak hanya mengawasi, tetapi juga meningkatkan kapasitas guru secara terus-menerus. Salah satu caranya adalah dengan diadakan coaching clinic, yang berfungsi sebagai tempat untuk refleksi dan peningkatan keterampilan guru dalam proses belajar mengajar.
Peran Coaching Clinic
Coaching Clinic bertujuan untuk merangsang pemikiran, kreativitas, dan menginspirasi peserta agar dapat memaksimalkan potensi diri. Program ini penting untuk mengatasi kendala yang mungkin muncul pasca-pelatihan dan memastikan pencapaian tujuan pembelajaran, serta menjaga konsistensi kualitas pengajaran.
Coaching berfungsi untuk menyempurnakan dan mengoptimalkan hal-hal yang masih belum maksimal dalam proses pembelajaran, dengan tetap berfokus pada pencapaian tujuan. Dalam pelaksanaannya, coaching tidak berdiri sendiri, melainkan didahului oleh supervisi. Supervisi bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi nyata di lapangan, seperti kekurangan dalam hasil pembelajaran maupun kekurangan metode mengajar guru. Hasil dari supervisi tersebut kemudian menjadi dasar dalam pelaksanaan coaching sebagai bentuk pendampingan. Proses ini idealnya dilakukan segera setelah pelatihan agar momentum penerapan ilmu tetap terjaga.
Coaching clinic berbeda dengan proses pelatihan. Perbedaan utama antara pelatihan dan coaching adalah pelatihan berfokus pada aspek teknis dan metodologi, sementara coaching lebih menggali tujuan, realita saat ini, dan cara perbaikan melalui pertanyaan, bukan memberikan arahan langsung.
Coaching clinic dalam uji coba dibatasi pada beberapa pertemuan misalnya 4 kali pertemuan dengan dan jumlah peserta 8 orang dan didampingi satu orang coach. Pentingnya coaching klinik muncul karena banyak lembaga menghadapi kendala dan tujuan yang tidak tercapai meskipun sudah mengikuti pelatihan, seperti PSGA, quantum tahsin, atau sertifikasi.
“Coaching ini menjadi sesuatu hal yang penting. Kita memang punya pelatihan, tetapi pelatihan dan lain sebagainya itu bukan berarti mereka akan menjadi seorang ahli. Dari coaching inilah kita nanti yang belum sempurna kita sempurnakan, mana yang belum optimal kita nanti optimalkan, jadi berfokus kepada tujuan pada goal.” ungkap Ustadz Wildan Arif, S.Pd.
Dengan demikian, coaching clinic berperan penting dalam mengoptimalkan hasil pelatihan melalui pendampingan yang terarah, sehingga kualitas pembelajaran tetap terjaga dan tujuan dapat tercapai secara maksimal.
Informasi lebih lanjut tentang program Coaching Clinic dan Kemitraan bersama WAFA Indonesia:
📞 +62 811 3058 9310 🌐 wafaindonesia.or.id
