Satu Lantunan, Banyak Perjuangan: Munaqosyah Siswa dan Guru SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang

Bukan sekadar ujian, Munaqosyah menjadi sarana evaluasi kemampuan serta refleksi dalam menjaga kualitas bacaan dan hafalan Al-Qur’an. Munaqosyah tidak hanya menjadi wadah bagi siswa, tetapi juga bagi guru untuk terus mengasah kemampuan serta memberikan teladan dalam pembelajaran Al-Qur’an.

Kisah di Balik Munaqosyah di SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang

Pada 8 Mei 2026, SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang menggelar Munaqosyah Tilawah Metode Wafa. Dari total 85 siswa terdapat 23 siswa yang disiapkan khusus untuk mengikuti Munaqosyah. Tidak hanya siswa, sejumlah guru juga turut ambil bagian dalam kegiatan ini sebagai bentuk komitmen dalam menjaga kualitas bacaan Al-Qur’an. Sekitar 10 guru telah siap mengikuti munaqosyah. 

Program Wafa di SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang dimulai dari bulan Januari. Awal mula dilakukan pemetaan berdasarkan kemampuan membaca Al-Qur’an siswa. Dari sekitar 85 siswa, kemampuan mereka cukup beragam, mulai dari jilid 1 hingga jilid 5, serta level Al-Qur’an. Pembelajaran ini dilakukan secara intensif dengan frekuensi pertemuan 4 kali sepekan. Saat ini, pembelajaran masih dipegang oleh 6 guru mitra (eksternal). 

Meskipun baru 4 bulan menerapkan metode Wafa, kemampuan siswa dan guru menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hal ini terlihat dari peningkatan kualitas bacaan, Ghorib, Tajwid, serta rasa semangat mereka saat mengikuti munaqosyah. 

Foto seorang munaqisy dari wafa sedang menguji siswi
Sumber: Dokumen Pribadi

Salah satu Master Trainer Wafa Indonesia mengungkapkan rasa harunya melihat perkembangan tersebut. 

“Baru 4 bulan menuju Munaqosyah tapi rasanya sudah lumayan lama. Hal itu membuat cukup kaget, artinya yang mendampingi mereka punya taste, mereka memahami standar kita. Dari murid dan gurunya sendiri semangat semangat untuk belajar.” – Ust Wawan Fitriono, S. Pd. I., Master Trainer Wafa Indonesia

Menjaga Kualitas Bacaan & Hafalan

Materi yang diujikan dibagi menjadi dua level, yaitu level siswa dan level guru. Materi yang diujikan pada level siswa meliputi materi ghorib, soal pilihan ganda tajwid, dan imla (menulis Arab). Ujian pada level ini dilaksanakan secara tertulis dan menggunakan bacaan juz 4. 

Sementara, pada level guru lebih banyak dilakukan ujian lisan. Materi yang diujikan pada level ini meliputi tes tajwid lisan, fawatihus suwar, cara waqaf, makhraj & sifatul huruf. Bacaan yang digunakan dalam ujian level guru berasal dari  juz 12 dengan tingkat kesulitan lafadz yang tinggi. Hal ini membuat munaqosyah guru membutuhkan waktu yang relatif  lama. 

suasana ujian munaqosyah wafa
Sumber: Dokumen Pribadi

Perbedaan pada materi dan cara pelaksanaan ujian ini mencerminkan adanya kriteria kualitas yang perlu dipenuhi oleh siswa dan pengajar, dalam memastikan ketepatan bacaan dan keandalan hafalan Al-Qur’an. Adapun ketentuan kelulusan munaqosyah ditentukan berdasarkan kompilasi nilai dari seluruh materi ujian yang kemudian dirata-ratakan sebagai hasil akhir. 

Salah satu siswa mengungkapkan strateginya dalam belajar Al-Qur’an.

“Memahami setiap bacaan huruf, kalau mau hafal harus paham dulu. Kalau gak paham nanti akan cepat lupa, jadi harus paham dulu biar hafalan nya ‘nyantol’ terus.” – Zakiyah, salah satu siswa yang mengikuti Munaqosyah

Di Balik Tantangan, Ada Harapan

Di tengah perkembangan dan rasa semangat di SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi dalam proses pembelajaran Al-Qur’an. Tantangan utama adalah terletak pada cara menumbuhkan motivasi yang kuat tentang pentingnya mempelajari Al-Qur’an. Pada tingkat SMA, siswa cenderung lebih tertib tetapi masih perlu motivasi yang kuat untuk mempelajari Al-Qur’an. 

Sementara itu, masalah terbesar pada tingkat SMP atau sekolah swasta terletak pada latar belakang siswa yang beragam. Sebagian siswa berasal dari kondisi latar belakang yang memiliki masalah atau keterbatasan fasilitas sehingga siswa tidak dapat belajar secara optimal dan membutuhkan pendekatan secara intensif. 

Selain itu, kemampuan para pengajar yang tidak sama seringkali menjadi hambatan, terutama saat mereka diharuskan untuk mengajarkan Al-Qur’an dengan tepat. Oleh karena itu, pendampingan harus dilakukan secara dua arah, baik bagi para guru maupun murid.

Salah satu Ustadzah membagikan pengalaman beliau dalam mengajar jenjang SMA & Jenjang SMP :

“Anak SMA lebih tertib, cuma mereka perlu diberikan motivasi untuk belajar Al-Qur’an. Untuk SMP disini kendalanya terletak pada minimnya fasilitas sehingga SDM nya juga tidak maksimal. Bagaimana Wafa harus dibawakan secara menyenangkan, meskipun dalam praktiknya banyak kendala kondisi lapangan dan waktu belajar yang diletakkan di siang hari.”  – Ustadzah Maryam

Di balik beberapa tantangan tersebut, muncul harapan agar pembelajaran Al-Qur’an dapat terus berkembang dan menjadi hal yang menyenangkan. Sejalan dengan visi misi Wafa Indonesia, diharapkan lembaga-lembaga khususnya di wilayah Malang dapat saling berkolaborasi dalam membangun generasi yang mencintai Al-Qur’an. 

Selain itu, guru-guru yang mengikuti munaqosyah diharapkan mampu membagikan ilmunya untuk mengajar Al-Qur’an secara mandiri sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Siswa siswi yang sudah tuntas Munaqosyah akan ditugaskan membantu mengajar adik kelas, sehingga kemampuan mereka terus berkembang. 

pembukaan munaqosyah wafa
Sumber: Dokumen Pribadi

Munaqosyah bukan menjadi akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk terus mengembangkan kemampuan dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Seiring rasa semangat yang terus tumbuh, diharapkan siswa dan guru dapat bersama-sama membangun generasi yang mencintai Al-Qur’an. Proses ini tidak hanya membentuk kemampuan, tetapi juga menghadirkan ketenangan dalam diri. Pada akhirnya, ketenangan itu ditemukan dalam Al-Qur’an.

Informasi lebih lanjut tentang program pelatihan Al-Qur’an dan Kemitraan bersama WAFA Indonesia:

📞  +62 811 3058 9310     🌐  wafaindonesia.or.id

Banyak Ilmu, Bahagia, Tawa, serta Air Mata: Ketika Orang Tua Ikut Belajar

Banyak orang tua merasa sudah melakukan yang terbaik untuk anaknya. Sudah menyekolahkan di tempat yang baik, sudah mendaftarkan ke lembaga Al-Qur’an, bahkan rela mengeluarkan biaya lebih agar anak mendapat kualitas belajar yang layak. Tapi ada satu hal yang sering luput — peran orang tua itu sendiri dalam proses tumbuhnya anak.

Inilah yang menjadi salah satu catatan paling berkesan dari rangkaian Roadshow Wafa Indonesia di Sulawesi Selatan, yang berlangsung pada 17–26 April 2026.

Dari Hotel Harper hingga TPQ di Bulukumba

Pada 11 April 2026, SIT Ar-Rahmah Makassar menggelar Quranic Parenting bertema “Melangkah Lebih Dekat: Membersamai Anak dengan Al-Qur’an” di Hotel Harper Makassar. Acara yang awalnya ditargetkan untuk sekitar 700 peserta itu dihadiri lebih dari 800 orang — termasuk peserta yang sengaja datang dari Parepare dan berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Roadshow Wafa Indonesia di Sulawesi Selatan yang berlangsung sepanjang 17–26 April 2026, menyambangi Pangkep, Parepare, Makassar, Maros, dan Bulukumba. Di setiap titik, selain pelatihan guru dan munaqosyah siswa, Wafa selalu membuka satu sesi khusus untuk wali murid: seminar Quranic Parenting.

Narasumber yang hadir di setiap sesi adalah Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd., Master Trainer Wafa Indonesia dari Surabaya.

Ilmu, Tawa, dan Air Mata

Banyak orang tua hadir tanpa ekspektasi besar. Ada yang mengira acara ini sekadar seremoni penerimaan laporan hasil belajar anak. Ada yang datang hanya karena diajak.

Yang terjadi di dalam ruangan sama sekali berbeda.

Sumber: IG @sditarrahmah

Ustadz Dody membuka sesuatu yang selama ini jarang disentuh dalam forum pendidikan: luka-luka yang orang tua bawa dari masa lalu, dan bagaimana luka itu — tanpa disadari — ikut masuk ke dalam cara mereka mendidik anak.

Bagaimana mungkin orang tua yang terjebak dengan luka-luka masa lalu bisa mendidik anak-anaknya dengan utuh?

Pertanyaan itu bukan tuduhan. Ia adalah undangan untuk jujur. Dan orang-orang di ruangan itu, satu per satu, mulai membuka diri.

Ada yang terdiam panjang. Ada yang menangis pelan. Ada bapak-bapak yang sejak tadi terlihat tenang, tiba-tiba tidak bisa lagi menahan air matanya. Suasana yang terbangun bukan suasana seminar — ia lebih menyerupai ruang untuk pulang.

 

Bukan Tentang Anak Saja

Satu hal yang membuat sesi ini berbeda dari parenting pada umumnya: materinya tidak berhenti pada cara menghadapi anak. Ia berbalik — mengajak orang tua melihat ke dalam diri sendiri lebih dahulu.

Sumber: IG @sditarrahmah

Bagaimana mungkin orang tua yang tidak mencintai dirinya sendiri bisa mencintai anak-anaknya?

Setiap anak, kata Ustadz Dody, lahir dengan potensinya masing-masing. Tugas orang tua bukan membandingkan, melainkan menemukenali dan merayakannya. Konflik yang sering terjadi di rumah bukan karena kurangnya cinta — melainkan karena cinta yang sangat besar, namun tidak terkomunikasikan dengan cara yang tepat.

Dan ketika kesadaran itu datang, yang tersisa hanyalah rasa syukur.

Ketika rasa syukur orang tua lebih besar dari tuntutannya kepada anak, potensi terbaik anak akan keluar dengan sendirinya.

Salah satu peserta menuliskan pengalamannya setelah acara:

“Ekspektasinya cuma dikasih hasil belajar anak SD, ternyata malah kena ke diri sendiri. Kukira nasihatnya tentang jadi orang tua, ternyata tentang jadi anak juga.”

Yang lain menuliskan lebih singkat, tapi tidak kalah dalam:

“Banyak ilmu, banyak bahagia, banyak tawa, banyak juga air mata.”

Bahkan setelah acara selesai, peserta masih belum bisa ‘move on’. Salah satu peserta menulis di media sosial: “Masya Allah, luar biasa — belum bisa move on dari acara parenting kemarin.”

Pemandangan Paling Indah

Ada satu kalimat yang Ustadz Dody sampaikan di penghujung sesi, dan rupanya paling lama tinggal di hati para peserta:

Tidak satu pun pemandangan di dunia ini yang mampu mengalahkan keindahan saat ayah dan ibu menyaksikan langsung anaknya taat kepada Allah.

Kalimat itu berbicara tentang tujuan. Bukan tentang nilai, bukan tentang prestasi, bukan tentang perbandingan dengan anak tetangga. Melainkan tentang satu momen yang tidak bisa dibeli: melihat anak yang tumbuh dekat dengan Al-Qur’an, dan menyadari bahwa kita ikut andil di dalamnya.

Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd. menutupnya dengan sebuah pengingat yang hangat:

“Harta yang paling berharga bukanlah sekadar materi atau piala, melainkan waktu yang dihabiskan bersama anak dalam ketaatan kepada Allah.”

— Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd., Master Trainer Wafa Indonesia

Pendidikan yang Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Pengalaman di lapangan menunjukkan sesuatu yang sederhana namun sering dilupakan: pendidikan yang kuat tidak tumbuh hanya dari satu arah. Guru bisa mengajar sebaik mungkin, metode bisa secanggih apa pun — tapi tanpa keterlibatan orang tua, hasilnya tidak akan pernah utuh.

Sebaliknya, ketika orang tua ikut belajar, ikut memahami, dan ikut hadir — sesuatu yang berbeda mulai tumbuh. Bukan hanya pada anak, tetapi juga pada diri mereka sendiri.

Karena dari rumah, semuanya dimulai.

Informasi tentang program Quranic Parenting dan kemitraan Wafa Indonesia dapat diakses melalui wafaindonesia.or.id atau menghubungi tim Wafa di WhatsApp +62 811 3058 9310.

Kontributor: Anggraini Andini Ruswandi & Aqiilah Wardah Zakariyah