Dok. Wafa - LAZ Amalyakin

Wafa dan LAZ Amal Yaqin Salurkan Qurban Guru Al-Qur’an

SURABAYA — Wafa Indonesia bersama LAZ Amal Yaqin menyalurkan hewan qurban kepada puluhan guru pengajar Al-Qur’an dan masjid di tiga wilayah Jawa Timur pada perayaan Idul Adha, Juni 2026. Program distribusi strategis yang menyasar wilayah Sidoarjo, Surabaya Timur, dan Lamongan ini sukses terlaksana demi memuliakan para pejuang dakwah Islam.

Pada tahun ini, sinergi kebaikan antara Wafa dan LAZ Amal Yaqin difokuskan untuk mengapresiasi para guru ngaji. Distribusi dilakukan secara langsung dengan mengantarkan paket daging qurban ke rumah masing-masing guru pengajar Al-Qur’an. Selain itu, hewan qurban berupa kambing juga disalurkan ke lima titik ibadah, meliputi tiga tempat di Surabaya Timur, satu masjid di Sidoarjo, dan satu masjid di Lamongan.

Langkah kolaboratif ini menghadirkan kebahagiaan mendalam bagi orang-orang sekitar, terutama para guru ngaji Al-Qur’an yang menjadi target utama distribusi. Berdasarkan pantauan panitia di lapangan, para penerima manfaat merasa sangat senang atas perhatian yang diberikan melalui program ini.

Melihat antusiasme tersebut, panitia pelaksana menyampaikan harapan besar untuk keberlanjutan program ini di masa mendatang.

Mereka para guru ngaji al-quran merasa sangat senang menerima penyaluran ini. Harapannya, semoga di tahun depan hewan qurban yang bisa kita himpun dan salurkan jumlahnya bisa lebih banyak lagi,” ungkap panitia yang bertugas saat diwawancarai.

Meskipun berjalan lancar, pihak penyelenggara mencatat beberapa hambatan operasional, khususnya dalam hal teknis pengawasan di tiga titik wilayah yang berjauhan. Untuk mengatasinya, Wafa dan LAZ Amal Yaqin berkomitmen untuk mengadakan program volunteer atau relawan pada pelaksanaan berikutnya agar proses pengontrolan distribusi menjadi lebih mudah dan efektif.

Melihat dampak nyata dan besarnya penerimaan masyarakat sekitar, kegiatan ini dipastikan akan menjadi program rutin Wafa. Respons hangat dari warga menjadi bukti pentingnya sinergi dalam menghadirkan kepedulian bagi para penjaga ayat-ayat Allah.

Saat ini, jangkauan distribusi program qurban ini baru menyentuh wilayah Jawa saja. Oleh karena itu, Wafa menitipkan pesan penting mengenai pentingnya membangun kolaborasi yang jauh lebih kuat lagi ke depannya. Dengan kemitraan yang semakin solid, diharapkan akan ada lebih banyak masyarakat yang tergerak untuk berqurban, sehingga sebaran manfaatnya bisa meluas ke berbagai daerah di luar pulau Jawa.

Mari perkuat barisan kebaikan dan ambil bagian dalam memuliakan para guru Al-Qur’an. Salurkan qurban dan kepedulian terbaik Anda melalui program rutin Wafa Indonesia sekarang juga!

Untuk informasi lebih lanjut mengenai program qurban dan kolaborasi kebaikan lainnya, Anda dapat menghubungi layanan informasi Wafa Indonesia melalui nomor telepon +62 811-3058-9310 atau mengunjungi situs resmi kami di wafaindonesia.or.id.

Coaching clinic

Di Balik Proses Pembelajaran: Tantangan Guru dan Peran Coaching Clinic

Proses pembelajaran di kelas seringkali tampak berjalan dengan lancar. Guru menyampaikan materi, siswa terlibat, dan evaluasi dilakukan di akhir sesi. Namun, dibalik semua itu, ada berbagai dinamika yang tak terlihat. Dalam kenyataannya, guru menghadapi berbagai tantangan yang mempengaruhi mutu pengajaran dan hasil belajar siswa. Tantangan tersebut memengaruhi kualitas pengajaran dan hasil belajar siswa, mulai dari metode mengajar, proses penilaian hingga proses evaluasi. Situasi ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran memerlukan pendampingan yang lebih optimal agar dapat berlangsung dengan efektif.

Tantangan Guru dalam Mencapai Target Pembelajaran

Dalam aktivitas pembelajaran, guru memiliki peran yang penting dalam menjamin agar target belajar siswa tercapai. Setiap tujuan pembelajaran menjadi beban yang perlu diselesaikan dengan baik. Namun di lapangan, guru kerap kali menemui banyak hambatan yang mengakibatkan pencapaian tersebut tidak berjalan dengan semestinya.

Guru seringkali menghadapi tantangan internal akibat kurangnya pendampingan dari lembaga pendidikan. Hal ini mengakibatkan kerap kali terjadi kesalahan dalam proses pembelajaran, mulai dari kesalahan penilaian, penyampaian materi, pengajaran, hingga tahsin.

Ketidaktepatan dalam penilaian ini berdampak langsung pada capaian siswa yang tidak sesuai dengan target yang telah ditetapkan, sehingga proses pembelajaran belum berjalan secara optimal. Tantangan yang dialami oleh guru ini diungkapkan oleh Ustadz Wildan dalam proses wawancara.

“Kalau guru itu tantangannya adalah dengan diri mereka sendiri karena di sisi yang lain mereka terlalu dilepas oleh lembaga sehingga mereka agak kebingungan juga ketika melakukan pengajaran dan yang terjadi menilainya salah, menyampaikannya juga salah dan P3-nya, pengajarannya juga salah, tahsinya juga salah, seperti itu karena memang tidak ada proses pengawalan. Di sisi lain, hal itu menyebabkan capaian-capaian siswa yang tidak sesuai dengan target, terkadang pun juga ada guru yang diamanahi tidak sesuai dengan levelnya. Jadi konsistensi dalam mengajar itulah yang seharusnya menjadi tantangan berat” ungkap Ustadz Wildan Arif, S.Pd. 

Keterbatasan Evaluasi dan Kebutuhan Pendampingan

Selama ini, proses evaluasi cenderung dilakukan di akhir pembelajaran, sehingga dinilai kurang efektif karena perbaikan tidak dapat dilakukan secara langsung selama proses berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa guru baru mengetahui kesalahan setelah proses pembelajaran selesai. Sementara itu, apabila dilakukan perbaikan dari awal akan berpotensi memberikan dampak kurang baik secara psikologis bagi siswa, karena mereka harus mengulang materi yang telah dilalui.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa guru membutuhkan pendampingan yang lebih berkelanjutan, agar setiap kendala dapat diatasi secara lebih optimal. Pendampingan tidak hanya melibatkan proses pengajaran, tetapi juga termasuk pengawasan terhadap mutu pembelajaran yang dilakukan oleh guru.

Dalam hal ini, penjamin mutu bertujuan untuk memastikan kualitas bacaan siswa dan guru. Melalui penjamin mutu, proses pendampingan dapat dilakukan secara lebih terarah. Penjamin mutu dapat berupa sebuah kelompok atau individu yang mengawasi dan menjaga kualitas bacaan siswa serta guru agar dapat mencapai target. Namun, saat ini penjamin mutu perlu meningkatkan keterbukaan dan kolaborasi guru.

Guna melaksanakan fungsi itu dengan baik, dibutuhkan sebuah bentuk dukungan yang tidak hanya mengawasi, tetapi juga meningkatkan kapasitas guru secara terus-menerus. Salah satu caranya adalah dengan diadakan coaching clinic, yang berfungsi sebagai tempat untuk refleksi dan peningkatan keterampilan guru dalam proses belajar mengajar.

Peran Coaching Clinic

Coaching Clinic bertujuan untuk merangsang pemikiran, kreativitas, dan menginspirasi peserta agar dapat memaksimalkan potensi diri. Program ini penting untuk mengatasi kendala yang mungkin muncul pasca-pelatihan dan memastikan pencapaian tujuan pembelajaran, serta menjaga konsistensi kualitas pengajaran.

Coaching berfungsi untuk menyempurnakan dan mengoptimalkan hal-hal yang masih belum maksimal dalam proses pembelajaran, dengan tetap berfokus pada pencapaian tujuan. Dalam pelaksanaannya, coaching tidak berdiri sendiri, melainkan didahului oleh supervisi. Supervisi bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi nyata di lapangan, seperti kekurangan dalam hasil pembelajaran maupun kekurangan metode mengajar guru. Hasil dari supervisi tersebut kemudian menjadi dasar dalam pelaksanaan coaching sebagai bentuk pendampingan. Proses ini idealnya dilakukan segera setelah pelatihan agar momentum penerapan ilmu tetap terjaga.

Coaching clinic berbeda dengan proses pelatihan. Perbedaan utama antara pelatihan dan coaching adalah pelatihan berfokus pada aspek teknis dan metodologi, sementara coaching lebih menggali tujuan, realita saat ini, dan cara perbaikan melalui pertanyaan, bukan memberikan arahan langsung.

Coaching clinic dalam uji coba dibatasi pada beberapa pertemuan misalnya 4 kali pertemuan dengan dan jumlah peserta 8 orang dan didampingi satu orang coach. Pentingnya coaching klinik muncul karena banyak lembaga menghadapi kendala dan tujuan yang tidak tercapai meskipun sudah mengikuti pelatihan, seperti PSGA, quantum tahsin, atau sertifikasi.

“Coaching ini menjadi sesuatu hal yang penting. Kita memang punya pelatihan, tetapi pelatihan dan lain sebagainya itu bukan berarti mereka akan menjadi seorang ahli. Dari coaching inilah kita nanti yang belum sempurna kita sempurnakan, mana yang belum optimal kita nanti optimalkan, jadi berfokus kepada tujuan pada goal.” ungkap Ustadz Wildan Arif, S.Pd.

Dengan demikian, coaching clinic berperan penting dalam mengoptimalkan hasil pelatihan melalui pendampingan yang terarah, sehingga kualitas pembelajaran tetap terjaga dan tujuan dapat tercapai secara maksimal.

Informasi lebih lanjut tentang program Coaching Clinic dan Kemitraan bersama WAFA Indonesia:

📞 +62 811 3058 9310 🌐 wafaindonesia.or.id

 

 

 

 

Pamflet program Choaching Clinic bersama Ustadz Wildan

Dari Pelatihan ke Pendampingan: Menyelami Peran Coaching Clinic dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran

Jangan menunggu ada masalah baru ada coaching.Kalimat itu disampaikan Ustadz Wildan selaku trainer Coaching Clinic saat menjelaskan alasan hadirnya program tersebut bagi lembaga mitra Wafa.

Setelah pelatihan selesai, tantangan di lapangan justru sering baru mulai terasa. Tidak semua capaian pembelajaran langsung tuntas, tidak semua standar penilaian berjalan seragam, dan tidak semua guru punya ruang untuk mengecek kembali praktik mengajarnya. Melihat kebutuhan itu, WAFA menghadirkan Coaching Clinic sebagai program pendampingan pasca-pelatihan bagi lembaga mitra agar mutu pembelajaran tetap terjaga secara berkelanjutan.

Menurut Ustadz Wildan, Coaching Clinic merupakan program kemitraan yang dirancang untuk membantu guru dan lembaga mitra menjaga kualitas pembelajaran setelah mengikuti pelatihan. Program ini hadir bukan untuk menggantikan pelatihan, melainkan menjadi ruang penguatan agar praktik di kelas tetap berjalan sesuai tujuan pembelajaran.

“Mana yang belum sempurna kita sempurnakan, mana yang belum optimal kita optimalkan,” ujar Ustadz Wildan saat menjelaskan pentingnya pendampingan setelah pelatihan.

Kebutuhan terhadap pendampingan ini muncul karena di lapangan masih ditemukan berbagai kendala, mulai dari target pembelajaran yang belum selesai hingga standar penilaian yang belum sinkron antar guru. Dalam proses evaluasi yang dilakukan, tim menemukan bahwa guru bisa memberikan hasil penilaian yang berbeda pada kemampuan siswa yang sama, meskipun sebelumnya sudah mengikuti pelatihan.

“Kita coba tanya, ini nilainya A, B, atau C? Ada yang jawab A, ada yang jawab B, ada yang jawab C. Berarti ada standar yang belum sinkron,” ungkap Ustadz Wildan.

Karena itu Coaching Clinic tidak hanya berfokus pada materi, tetapi juga pada proses refleksi dan pengawalan pembelajaran. Berbeda dengan pelatihan yang lebih menitikberatkan pada teknis dan metodologi, Coaching justru berjalan melalui proses dialog dan pertanyaan yang membantu guru menemukan solusi dari tantangan yang mereka hadapi sendiri.

“Coaching itu bukan konsultan yang sifatnya mengarahkan. Coaching itu bertanya lebih gimana goal-nya, realitanya bagaimana, apa yang perlu diperbaiki,” tutur beliau.

Dalam tahap uji coba yang sedang berjalan, proses observasi dilakukan melalui rekaman video pembelajaran dan penilaian. Dari hasil rekaman itu, peserta akan mendapat umpan balik untuk melihat bagian mana yang perlu diperbaiki dan mana yang sudah sesuai standar.

Program ini difokuskan pada pengajaran dan penilaian karena dua hal tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam pembelajaran Al-Qur’an. Guru diharapkan tidak hanya mampu menyampaikan materi, tetapi juga memastikan keterampilan siswa benar-benar terbentuk melalui proses belajar yang tepat.

“Yang paling pokok itu proses pengajarannya, proses transfer ilmunya, dan juga proses penilaian,” kata Ustadz Wildan.

Coaching Clinic sendiri masih berjalan dalam tahap uji coba dengan jumlah peserta terbatas dan pendampingan berkala setiap pekan. Meski demikian, respons dari lembaga mitra cukup positif. Sebelumnya, program pendampingan serupa juga diikuti oleh beberapa lembaga sekaligus dalam satu yayasan.

Menurut Ustadz Wildan, pendampingan seperti ini penting agar semangat guru setelah pelatihan tidak berhenti begitu saja ketika kembali ke kelas. Melalui proses supervisi dan Coaching yang lebih terarah, lembaga diharapkan dapat menjaga kualitas pembelajaran secara lebih konsisten dan berkelanjutan sehingga mampu melahirkan generasi Qur’ani yang cinta Al-Qur’an.

📞  +62 811 3058 9310     🌐  wafaindonesia.or.id

Satu Lantunan, Banyak Perjuangan: Munaqosyah Siswa dan Guru SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang

Bukan sekadar ujian, Munaqosyah menjadi sarana evaluasi kemampuan serta refleksi dalam menjaga kualitas bacaan dan hafalan Al-Qur’an. Munaqosyah tidak hanya menjadi wadah bagi siswa, tetapi juga bagi guru untuk terus mengasah kemampuan serta memberikan teladan dalam pembelajaran Al-Qur’an.

Kisah di Balik Munaqosyah di SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang

Pada 8 Mei 2026, SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang menggelar Munaqosyah Tilawah Metode Wafa. Dari total 85 siswa terdapat 23 siswa yang disiapkan khusus untuk mengikuti Munaqosyah. Tidak hanya siswa, sejumlah guru juga turut ambil bagian dalam kegiatan ini sebagai bentuk komitmen dalam menjaga kualitas bacaan Al-Qur’an. Sekitar 10 guru telah siap mengikuti munaqosyah. 

Program Wafa di SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang dimulai dari bulan Januari. Awal mula dilakukan pemetaan berdasarkan kemampuan membaca Al-Qur’an siswa. Dari sekitar 85 siswa, kemampuan mereka cukup beragam, mulai dari jilid 1 hingga jilid 5, serta level Al-Qur’an. Pembelajaran ini dilakukan secara intensif dengan frekuensi pertemuan 4 kali sepekan. Saat ini, pembelajaran masih dipegang oleh 6 guru mitra (eksternal). 

Meskipun baru 4 bulan menerapkan metode Wafa, kemampuan siswa dan guru menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hal ini terlihat dari peningkatan kualitas bacaan, Ghorib, Tajwid, serta rasa semangat mereka saat mengikuti munaqosyah. 

Foto seorang munaqisy dari wafa sedang menguji siswi
Sumber: Dokumen Pribadi

Salah satu Master Trainer Wafa Indonesia mengungkapkan rasa harunya melihat perkembangan tersebut. 

“Baru 4 bulan menuju Munaqosyah tapi rasanya sudah lumayan lama. Hal itu membuat cukup kaget, artinya yang mendampingi mereka punya taste, mereka memahami standar kita. Dari murid dan gurunya sendiri semangat semangat untuk belajar.” – Ust Wawan Fitriono, S. Pd. I., Master Trainer Wafa Indonesia

Menjaga Kualitas Bacaan & Hafalan

Materi yang diujikan dibagi menjadi dua level, yaitu level siswa dan level guru. Materi yang diujikan pada level siswa meliputi materi ghorib, soal pilihan ganda tajwid, dan imla (menulis Arab). Ujian pada level ini dilaksanakan secara tertulis dan menggunakan bacaan juz 4. 

Sementara, pada level guru lebih banyak dilakukan ujian lisan. Materi yang diujikan pada level ini meliputi tes tajwid lisan, fawatihus suwar, cara waqaf, makhraj & sifatul huruf. Bacaan yang digunakan dalam ujian level guru berasal dari  juz 12 dengan tingkat kesulitan lafadz yang tinggi. Hal ini membuat munaqosyah guru membutuhkan waktu yang relatif  lama. 

suasana ujian munaqosyah wafa
Sumber: Dokumen Pribadi

Perbedaan pada materi dan cara pelaksanaan ujian ini mencerminkan adanya kriteria kualitas yang perlu dipenuhi oleh siswa dan pengajar, dalam memastikan ketepatan bacaan dan keandalan hafalan Al-Qur’an. Adapun ketentuan kelulusan munaqosyah ditentukan berdasarkan kompilasi nilai dari seluruh materi ujian yang kemudian dirata-ratakan sebagai hasil akhir. 

Salah satu siswa mengungkapkan strateginya dalam belajar Al-Qur’an.

“Memahami setiap bacaan huruf, kalau mau hafal harus paham dulu. Kalau gak paham nanti akan cepat lupa, jadi harus paham dulu biar hafalan nya ‘nyantol’ terus.” – Zakiyah, salah satu siswa yang mengikuti Munaqosyah

Di Balik Tantangan, Ada Harapan

Di tengah perkembangan dan rasa semangat di SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi dalam proses pembelajaran Al-Qur’an. Tantangan utama adalah terletak pada cara menumbuhkan motivasi yang kuat tentang pentingnya mempelajari Al-Qur’an. Pada tingkat SMA, siswa cenderung lebih tertib tetapi masih perlu motivasi yang kuat untuk mempelajari Al-Qur’an. 

Sementara itu, masalah terbesar pada tingkat SMP atau sekolah swasta terletak pada latar belakang siswa yang beragam. Sebagian siswa berasal dari kondisi latar belakang yang memiliki masalah atau keterbatasan fasilitas sehingga siswa tidak dapat belajar secara optimal dan membutuhkan pendekatan secara intensif. 

Selain itu, kemampuan para pengajar yang tidak sama seringkali menjadi hambatan, terutama saat mereka diharuskan untuk mengajarkan Al-Qur’an dengan tepat. Oleh karena itu, pendampingan harus dilakukan secara dua arah, baik bagi para guru maupun murid.

Salah satu Ustadzah membagikan pengalaman beliau dalam mengajar jenjang SMA & Jenjang SMP :

“Anak SMA lebih tertib, cuma mereka perlu diberikan motivasi untuk belajar Al-Qur’an. Untuk SMP disini kendalanya terletak pada minimnya fasilitas sehingga SDM nya juga tidak maksimal. Bagaimana Wafa harus dibawakan secara menyenangkan, meskipun dalam praktiknya banyak kendala kondisi lapangan dan waktu belajar yang diletakkan di siang hari.”  – Ustadzah Maryam

Di balik beberapa tantangan tersebut, muncul harapan agar pembelajaran Al-Qur’an dapat terus berkembang dan menjadi hal yang menyenangkan. Sejalan dengan visi misi Wafa Indonesia, diharapkan lembaga-lembaga khususnya di wilayah Malang dapat saling berkolaborasi dalam membangun generasi yang mencintai Al-Qur’an. 

Selain itu, guru-guru yang mengikuti munaqosyah diharapkan mampu membagikan ilmunya untuk mengajar Al-Qur’an secara mandiri sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Siswa siswi yang sudah tuntas Munaqosyah akan ditugaskan membantu mengajar adik kelas, sehingga kemampuan mereka terus berkembang. 

pembukaan munaqosyah wafa
Sumber: Dokumen Pribadi

Munaqosyah bukan menjadi akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk terus mengembangkan kemampuan dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Seiring rasa semangat yang terus tumbuh, diharapkan siswa dan guru dapat bersama-sama membangun generasi yang mencintai Al-Qur’an. Proses ini tidak hanya membentuk kemampuan, tetapi juga menghadirkan ketenangan dalam diri. Pada akhirnya, ketenangan itu ditemukan dalam Al-Qur’an.

Informasi lebih lanjut tentang program pelatihan Al-Qur’an dan Kemitraan bersama WAFA Indonesia:

📞  +62 811 3058 9310     🌐  wafaindonesia.or.id

Banyak Ilmu, Bahagia, Tawa, serta Air Mata: Ketika Orang Tua Ikut Belajar

Banyak orang tua merasa sudah melakukan yang terbaik untuk anaknya. Sudah menyekolahkan di tempat yang baik, sudah mendaftarkan ke lembaga Al-Qur’an, bahkan rela mengeluarkan biaya lebih agar anak mendapat kualitas belajar yang layak. Tapi ada satu hal yang sering luput — peran orang tua itu sendiri dalam proses tumbuhnya anak.

Inilah yang menjadi salah satu catatan paling berkesan dari rangkaian Roadshow Wafa Indonesia di Sulawesi Selatan, yang berlangsung pada 17–26 April 2026.

Dari Hotel Harper hingga TPQ di Bulukumba

Pada 11 April 2026, SIT Ar-Rahmah Makassar menggelar Quranic Parenting bertema “Melangkah Lebih Dekat: Membersamai Anak dengan Al-Qur’an” di Hotel Harper Makassar. Acara yang awalnya ditargetkan untuk sekitar 700 peserta itu dihadiri lebih dari 800 orang — termasuk peserta yang sengaja datang dari Parepare dan berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Roadshow Wafa Indonesia di Sulawesi Selatan yang berlangsung sepanjang 17–26 April 2026, menyambangi Pangkep, Parepare, Makassar, Maros, dan Bulukumba. Di setiap titik, selain pelatihan guru dan munaqosyah siswa, Wafa selalu membuka satu sesi khusus untuk wali murid: seminar Quranic Parenting.

Narasumber yang hadir di setiap sesi adalah Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd., Master Trainer Wafa Indonesia dari Surabaya.

Ilmu, Tawa, dan Air Mata

Banyak orang tua hadir tanpa ekspektasi besar. Ada yang mengira acara ini sekadar seremoni penerimaan laporan hasil belajar anak. Ada yang datang hanya karena diajak.

Yang terjadi di dalam ruangan sama sekali berbeda.

Sumber: IG @sditarrahmah

Ustadz Dody membuka sesuatu yang selama ini jarang disentuh dalam forum pendidikan: luka-luka yang orang tua bawa dari masa lalu, dan bagaimana luka itu — tanpa disadari — ikut masuk ke dalam cara mereka mendidik anak.

Bagaimana mungkin orang tua yang terjebak dengan luka-luka masa lalu bisa mendidik anak-anaknya dengan utuh?

Pertanyaan itu bukan tuduhan. Ia adalah undangan untuk jujur. Dan orang-orang di ruangan itu, satu per satu, mulai membuka diri.

Ada yang terdiam panjang. Ada yang menangis pelan. Ada bapak-bapak yang sejak tadi terlihat tenang, tiba-tiba tidak bisa lagi menahan air matanya. Suasana yang terbangun bukan suasana seminar — ia lebih menyerupai ruang untuk pulang.

 

Bukan Tentang Anak Saja

Satu hal yang membuat sesi ini berbeda dari parenting pada umumnya: materinya tidak berhenti pada cara menghadapi anak. Ia berbalik — mengajak orang tua melihat ke dalam diri sendiri lebih dahulu.

Sumber: IG @sditarrahmah

Bagaimana mungkin orang tua yang tidak mencintai dirinya sendiri bisa mencintai anak-anaknya?

Setiap anak, kata Ustadz Dody, lahir dengan potensinya masing-masing. Tugas orang tua bukan membandingkan, melainkan menemukenali dan merayakannya. Konflik yang sering terjadi di rumah bukan karena kurangnya cinta — melainkan karena cinta yang sangat besar, namun tidak terkomunikasikan dengan cara yang tepat.

Dan ketika kesadaran itu datang, yang tersisa hanyalah rasa syukur.

Ketika rasa syukur orang tua lebih besar dari tuntutannya kepada anak, potensi terbaik anak akan keluar dengan sendirinya.

Salah satu peserta menuliskan pengalamannya setelah acara:

“Ekspektasinya cuma dikasih hasil belajar anak SD, ternyata malah kena ke diri sendiri. Kukira nasihatnya tentang jadi orang tua, ternyata tentang jadi anak juga.”

Yang lain menuliskan lebih singkat, tapi tidak kalah dalam:

“Banyak ilmu, banyak bahagia, banyak tawa, banyak juga air mata.”

Bahkan setelah acara selesai, peserta masih belum bisa ‘move on’. Salah satu peserta menulis di media sosial: “Masya Allah, luar biasa — belum bisa move on dari acara parenting kemarin.”

Pemandangan Paling Indah

Ada satu kalimat yang Ustadz Dody sampaikan di penghujung sesi, dan rupanya paling lama tinggal di hati para peserta:

Tidak satu pun pemandangan di dunia ini yang mampu mengalahkan keindahan saat ayah dan ibu menyaksikan langsung anaknya taat kepada Allah.

Kalimat itu berbicara tentang tujuan. Bukan tentang nilai, bukan tentang prestasi, bukan tentang perbandingan dengan anak tetangga. Melainkan tentang satu momen yang tidak bisa dibeli: melihat anak yang tumbuh dekat dengan Al-Qur’an, dan menyadari bahwa kita ikut andil di dalamnya.

Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd. menutupnya dengan sebuah pengingat yang hangat:

“Harta yang paling berharga bukanlah sekadar materi atau piala, melainkan waktu yang dihabiskan bersama anak dalam ketaatan kepada Allah.”

— Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd., Master Trainer Wafa Indonesia

Pendidikan yang Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Pengalaman di lapangan menunjukkan sesuatu yang sederhana namun sering dilupakan: pendidikan yang kuat tidak tumbuh hanya dari satu arah. Guru bisa mengajar sebaik mungkin, metode bisa secanggih apa pun — tapi tanpa keterlibatan orang tua, hasilnya tidak akan pernah utuh.

Sebaliknya, ketika orang tua ikut belajar, ikut memahami, dan ikut hadir — sesuatu yang berbeda mulai tumbuh. Bukan hanya pada anak, tetapi juga pada diri mereka sendiri.

Karena dari rumah, semuanya dimulai.

Informasi tentang program Quranic Parenting dan kemitraan Wafa Indonesia dapat diakses melalui wafaindonesia.or.id atau menghubungi tim Wafa di WhatsApp +62 811 3058 9310.

Kontributor: Anggraini Andini Ruswandi & Aqiilah Wardah Zakariyah