Praktik pendekatan metode otak kanan melalui nyanyian dan gerakan tangan bersama siswa-siswi Muhammadiyah 1 Malang

“Anak Muda Hari Ini Butuh Al-Qur’an”: Spirit Qur’an di SMA dan SMP Muhammadiyah 1 Malang bersama Metode WAFA

Sekitar 70 pelajar SMP dan SMA Muhammadiyah 1 Malang berkumpul di masjid sekolah di sela kegiatan Munaqosyah pada Kamis, 8 Mei 2026,  pagi itu. Siswa yang tidak mengikuti ujian diarahkan ke masjid untuk mengikuti Kajian Motivasi bertajuk Spirit Qur’an yang dibawakan langsung oleh Ustadz Ali, salah satu trainer WAFA Indonesia.

Ustadz Ali membuka sesi bukan dengan ayat atau ceramah panjang, melainkan dengan pertanyaan langsung kepada peserta. Siapa yang sering merasa galau? Siapa yang sering overthinking hingga sulit tidur? Siapa yang pernah merasa kesepian meski sedang di tengah keramaian? Hampir seluruh tangan di ruangan terangkat.

Bagi Ustadz Ali, itulah pintu masuk yang sesungguhnya. Ia menegaskan bahwa semua perasaan itu bukan tanda kelemahan.

“Semua tidak salah. Semua tidak jahat. Tapi semua itu terjadi karena kita jauh dari sesuatu yang sesungguhnya kita butuhkan,” ujar Ustadz Ali sebagai motivasi pembuka.

Dari sana ia membangun satu argumen yang sederhana namun menohok, yaitu “kegelisahan anak muda hari ini bukan karena kurangnya hiburan atau stimulasi, justru semua itu sudah berlebihan. Kedekatan dengan Al-Qur’an lah yang hilang”

“Yang mencintakan hati kita adalah Allah. Yang memiliki hati kita adalah Allah. Dan hati itu hanya bisa benar-benar tenang ketika ia dekat dengan penciptanya, dekat dengan Allah.”

Metode Otak Kanan WAFA: Bukan Ceramah tapi Pengalaman

Sesi kajian ini dengan kajian konvensional berbeda dari segi metode penyampaiannya. Kajian ini menggunakan praktik metode otak kanan, pendekatan khas WAFA Indonesia yang dirancang agar belajar Al-Qur’an terasa mudah dan menyenangkan.

Sepanjang sesi, peserta tidak sekadar duduk dan menyimak. Mereka diajak bernyanyi dengan angka, melakukan gerakan tangan, hingga menjawab tebak-tebakan. Semua dirancang untuk mengaktifkan otak kanan secara bersamaan.

Ustadz Ali telah menjelaskan logika di baliknya, yaitu otak kanan diaktifkan oleh gerak, visual, warna, nada, irama, dan rasa. Berbeda dengan otak kiri yang bekerja secara logis dan serius, otak kanan adalah pintu menuju memori jangka panjang. Metode ini juga mengakomodir tiga tipe modalitas belajar sekaligus:

  • Visual: penampilan trainer yang terstandar rapi
  • Auditori: variasi intonasi suara sepanjang sesi
  • Kinestetik: gerakan fisik dan aktivitas aktif selama sesi

“Kalau otak kiri saja bisa, maka dengan dukungan otak kanan itu jauh akan lebih optimal. Singkatnya, kalau kita namakan otak kanan berarti mudah dan menyenangkan,” jelas Ustadz Ali dalam wawancara kami pada 8 Mei 2026.

Terdapat satu prinsip yang tidak pernah dikompromikan sebelum sesi dimulai, yaitu kondisi peserta harus baik dulu.

Ustadz Ali melanjutkan, “kita tidak akan pernah mulai pelatihan sebelum melihat kondisi pesertanya baik-baik saja. Sebelum pesertanya bahagia. Nah itu kuncinya.”

Refleksi Satu Kata dan Satu Jawaban yang Sama

Menjelang akhir sesi, Ustadz Ali memimpin latihan refleks. Peserta diminta memejamkan mata untuk merenungkan perjalanan hidup mereka, lalu merangkumnya dalam satu kata. Jawaban yang muncul sangat beragam, ada yang menjawab lelah, berat, sedih, jatuh, dan berwarna.

Tidak satu pun dihakimi. Ustadz Ali justru menggunakannya sebagai jembatan. Sambil tersenyum Ustadz Ali berkata,

“sebetulnya yang kurang dari diri kita bukan materi dunia. Dunia itu sudah ada. Kebahagiaan kita tidak ditentukan oleh dunia. Yang kurang adalah kedekatan kita dengan Al-Qur’an.”

Ia mengajak siswa untuk mendengarkan lantunan Al-Qur’an. Ketika bertanya apa yang dirasakan setelahnya, hampir serempak peserta menjawab satu kata “tenang”. Bagi WAFA, momen seperti inilah yang menjadi inti dari seluruh metode, bukan sekadar hafalan, melainkan pengalaman nyata yang dirasakan sendiri oleh peserta.

Harapan Untuk Generasi Qur’ani

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melahirkan generasi Qurani dan ahli Al-Qur’an, sejalan dengan cita-cita WAFA dalam membentuk insan yang mampu membangun peradaban masyarakat dan bangsa Indonesia melalui nilai-nilai Al-Qur’an. Fokus yang dibangun tidak hanya pada kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga pada pembentukan pribadi Qurani yang tercermin dalam akhlak dan perilaku sehari-hari.

Mengapa harus sekarang? Jawabannya singkat:

“Bukan berarti kalau nanti itu terlambat tapi lebih awal itu lebih baik,” tutup Ustadz Ali. 

 

Informasi lebih lanjut tentang program pelatihan Al-Qur’an bersama WAFA Indonesia:

📞  +62 811 3058 9310     🌐  wafaindonesia.or.id

munaqosyah siswa

Bukan Sekadar Ujian: Kisah di Balik Munaqosyah Wafa SMA Muhammadiyah 1 Malang

Pagi itu, suasana di SMA Muhammadiyah 1 Malang terasa sedikit berbeda. Beberapa siswa duduk menunggu giliran dipanggil. Bibir mereka bergerak pelan mengulang bacaan yang sudah dilatih berminggu-minggu. Ada yang terlihat tenang, ada yang berbisik dengan teman di sebelahnya, ada pula yang justru tertawa kecil meski jantungnya mungkin berdegup lebih kencang dari biasanya. Hari ini adalah hari Munaqosyah.

Munaqosyah adalah ujian membaca Al-Qur’an bukan menghafal, melainkan membaca dengan benar sesuai kaidah yang telah dipelajari. Di SMA Muhammadiyah 1 Malang, ujian ini mencakup tiga komponen: tajwid melalui soal pilihan ganda secara tertulis, ghorib, dan yang paling mendebarkan, membaca Al-Qur’an secara lisan di hadapan penguji. Sebelum sampai di titik ini, para siswa melewati tahap pra-munaqosah, sebuah kelas persiapan tempat mereka dilatih dan dikoreksi hingga bacaan mereka benar-benar siap.

monaqosyah siswa
Sumber : dokumen pribadi

Perjalanan menuju munaqosah dimulai sejak seorang siswa pertama kali masuk dan menjalani tes bacaan awal. Dari hasil tes itulah mereka ditempatkan langsung ke kelas persiapan munaqosyah jika bacaan mereka sudah dinilai cukup lancar.

“Aku langsung masuk kelas Munaqosyah,” cerita Zakiyah, murid Munaqosyah kelas 10.

“Kami semua langsung dites bacaannya, terus masuk sini.” Ujar Lila, murid Munaqosyah kelas 12.

Yang membuat program ini terasa berbeda adalah metode yang digunakan: Metode Wafa. Berbeda dari metode lain yang cenderung singkat dan langsung ke inti, Wafa menggunakan pendekatan yang lebih panjang namun menyenangkan: ada lagu, ada nada khas, ada gerakan tangan yang membantu siswa memahami materi.

“Banyakan ketawa sih aku di Wafa,” ujar Zakiyah.

“Biasanya kalau masuk, senang-senang dulu. Kita dikasih kertas isinya pelajaran tapi dibuat lagu.” Lanjut Lila.

Memang, tidak semua siswa langsung cocok dengan cara belajar seperti ini.  Berbanding dengan Zakiyah. Liya, salah satu siswi mengaku lebih terbiasa dengan metode yang lebih langsung.

“Aku kayak mikirin caranya sendiri gimana biar bisa dapat, biar cepet hafal gitu” ujar Lila. Tapi justru di situlah Wafa mengajarkan sesuatu yang berharga: bahwa setiap orang bisa menemukan jalannya masing-masing, selama mau berusaha memahami.

siswa belajar sebelum Munaqosyah
Sumber : dokumen pribadi

Soal strategi belajar, para peserta ternyata punya pendekatan yang cukup matang. Alih-alih langsung menghafal, mereka memilih untuk memahami terlebih dahulu. Hal ini diungkapkan oleh Lila, salah satu siswi SMA Muhammadiyah 1 Malang

“Kalau mau cepet hafalnya, harus paham dulu. Kalau enggak paham, nggak bakal nyantol” kata Lila.

Mereka mempelajari bentuk bacaan, tanda-tanda, dan aturan tajwid.  Hal ini menunjukkan bahwa mereka belajar cara memahami mengapa sebuah huruf dibaca panjang, mengapa ada yang dengung, sebelum hafalan itu sendiri mengikuti dengan sendirinya.

Di antara semua materi, ada satu bagian yang paling banyak disebut sebagai yang tersusah, yaitu materi tajwid, terutama mad : badal.

Itu yang paling susah, karena harus tahu ini dibaca apa, ini harus gimana” akui salah satu peserta yang kesulitan dengan materi mad badal sambil tertawa. Tapi justru bagian yang susah itulah yang paling diingat, karena mereka berjuang keras untuk menaklukkannya.

Menariknya, perjalanan seorang siswa tidak berhenti setelah mereka lulus munaqosyah. Bagi yang belum lulus di kelas 12, mereka diminta menjadi tentor untuk mendampingi teman-teman di tingkat bawah yang masih berlatih. “Abis ini jadi guru ngaji,” canda Lila. Meski diucapkan dengan tawa, kalimat itu menyimpan makna yang dalam: ilmu bukan untuk disimpan sendiri.

Ketika ditanya apakah program seperti ini cocok diterapkan, jawabannya kompak: cocok.

Ini mengasah kemampuan baca Al-Qur’an. Jadi kayak wadah buat orang-orang yang mau belajar.” ujar Lila

“Menurutku lebih cocok di sekolah swasta ya, karena mereka sama dan ada waktunya, kalau di negeri kurang cocok karena ga cuma yang Muslim saja kan yang sekolah di situ, mungkin bisa belajar ngaji sendiri di TPQ,” sambung Zakiyah.

Mereka menilai Wafa efektif terutama di sekolah swasta yang memiliki ruang dan waktu khusus untuk program seperti ini. Bukan sekadar pelajaran tambahan, melainkan ruang bertumbuh yang sesungguhnya.

Di penghujung hari, satu per satu nama dipanggil masuk ke ruang ujian. Suasana menjadi lebih hening, tapi tidak kehilangan kehangatan. Mereka yang menunggu di luar masih saling berbisik dan tersenyum. Persis seperti yang biasa mereka lakukan di kelas-kelas Wafa. Karena munaqosyah bukan hanya tentang lulus atau tidak lulus. Ia adalah tentang perjalanan: dari bacaan yang masih terbata, hingga akhirnya berdiri dengan keyakinan yang tumbuh satu huruf demi satu huruf.

Informasi lebih lanjut tentang program pelatihan Al-Qur’an dan Kemitraan bersama WAFA Indonesia:

📞 +62 811 3058 9310 🌐 wafaindonesia.or.id

 

 

Satu Lantunan, Banyak Perjuangan: Munaqosyah Siswa dan Guru SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang

Bukan sekadar ujian, Munaqosyah menjadi sarana evaluasi kemampuan serta refleksi dalam menjaga kualitas bacaan dan hafalan Al-Qur’an. Munaqosyah tidak hanya menjadi wadah bagi siswa, tetapi juga bagi guru untuk terus mengasah kemampuan serta memberikan teladan dalam pembelajaran Al-Qur’an.

Kisah di Balik Munaqosyah di SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang

Pada 8 Mei 2026, SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang menggelar Munaqosyah Tilawah Metode Wafa. Dari total 85 siswa terdapat 23 siswa yang disiapkan khusus untuk mengikuti Munaqosyah. Tidak hanya siswa, sejumlah guru juga turut ambil bagian dalam kegiatan ini sebagai bentuk komitmen dalam menjaga kualitas bacaan Al-Qur’an. Sekitar 10 guru telah siap mengikuti munaqosyah. 

Program Wafa di SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang dimulai dari bulan Januari. Awal mula dilakukan pemetaan berdasarkan kemampuan membaca Al-Qur’an siswa. Dari sekitar 85 siswa, kemampuan mereka cukup beragam, mulai dari jilid 1 hingga jilid 5, serta level Al-Qur’an. Pembelajaran ini dilakukan secara intensif dengan frekuensi pertemuan 4 kali sepekan. Saat ini, pembelajaran masih dipegang oleh 6 guru mitra (eksternal). 

Meskipun baru 4 bulan menerapkan metode Wafa, kemampuan siswa dan guru menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hal ini terlihat dari peningkatan kualitas bacaan, Ghorib, Tajwid, serta rasa semangat mereka saat mengikuti munaqosyah. 

Foto seorang munaqisy dari wafa sedang menguji siswi
Sumber: Dokumen Pribadi

Salah satu Master Trainer Wafa Indonesia mengungkapkan rasa harunya melihat perkembangan tersebut. 

“Baru 4 bulan menuju Munaqosyah tapi rasanya sudah lumayan lama. Hal itu membuat cukup kaget, artinya yang mendampingi mereka punya taste, mereka memahami standar kita. Dari murid dan gurunya sendiri semangat semangat untuk belajar.” – Ust Wawan Fitriono, S. Pd. I., Master Trainer Wafa Indonesia

Menjaga Kualitas Bacaan & Hafalan

Materi yang diujikan dibagi menjadi dua level, yaitu level siswa dan level guru. Materi yang diujikan pada level siswa meliputi materi ghorib, soal pilihan ganda tajwid, dan imla (menulis Arab). Ujian pada level ini dilaksanakan secara tertulis dan menggunakan bacaan juz 4. 

Sementara, pada level guru lebih banyak dilakukan ujian lisan. Materi yang diujikan pada level ini meliputi tes tajwid lisan, fawatihus suwar, cara waqaf, makhraj & sifatul huruf. Bacaan yang digunakan dalam ujian level guru berasal dari  juz 12 dengan tingkat kesulitan lafadz yang tinggi. Hal ini membuat munaqosyah guru membutuhkan waktu yang relatif  lama. 

suasana ujian munaqosyah wafa
Sumber: Dokumen Pribadi

Perbedaan pada materi dan cara pelaksanaan ujian ini mencerminkan adanya kriteria kualitas yang perlu dipenuhi oleh siswa dan pengajar, dalam memastikan ketepatan bacaan dan keandalan hafalan Al-Qur’an. Adapun ketentuan kelulusan munaqosyah ditentukan berdasarkan kompilasi nilai dari seluruh materi ujian yang kemudian dirata-ratakan sebagai hasil akhir. 

Salah satu siswa mengungkapkan strateginya dalam belajar Al-Qur’an.

“Memahami setiap bacaan huruf, kalau mau hafal harus paham dulu. Kalau gak paham nanti akan cepat lupa, jadi harus paham dulu biar hafalan nya ‘nyantol’ terus.” – Zakiyah, salah satu siswa yang mengikuti Munaqosyah

Di Balik Tantangan, Ada Harapan

Di tengah perkembangan dan rasa semangat di SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi dalam proses pembelajaran Al-Qur’an. Tantangan utama adalah terletak pada cara menumbuhkan motivasi yang kuat tentang pentingnya mempelajari Al-Qur’an. Pada tingkat SMA, siswa cenderung lebih tertib tetapi masih perlu motivasi yang kuat untuk mempelajari Al-Qur’an. 

Sementara itu, masalah terbesar pada tingkat SMP atau sekolah swasta terletak pada latar belakang siswa yang beragam. Sebagian siswa berasal dari kondisi latar belakang yang memiliki masalah atau keterbatasan fasilitas sehingga siswa tidak dapat belajar secara optimal dan membutuhkan pendekatan secara intensif. 

Selain itu, kemampuan para pengajar yang tidak sama seringkali menjadi hambatan, terutama saat mereka diharuskan untuk mengajarkan Al-Qur’an dengan tepat. Oleh karena itu, pendampingan harus dilakukan secara dua arah, baik bagi para guru maupun murid.

Salah satu Ustadzah membagikan pengalaman beliau dalam mengajar jenjang SMA & Jenjang SMP :

“Anak SMA lebih tertib, cuma mereka perlu diberikan motivasi untuk belajar Al-Qur’an. Untuk SMP disini kendalanya terletak pada minimnya fasilitas sehingga SDM nya juga tidak maksimal. Bagaimana Wafa harus dibawakan secara menyenangkan, meskipun dalam praktiknya banyak kendala kondisi lapangan dan waktu belajar yang diletakkan di siang hari.”  – Ustadzah Maryam

Di balik beberapa tantangan tersebut, muncul harapan agar pembelajaran Al-Qur’an dapat terus berkembang dan menjadi hal yang menyenangkan. Sejalan dengan visi misi Wafa Indonesia, diharapkan lembaga-lembaga khususnya di wilayah Malang dapat saling berkolaborasi dalam membangun generasi yang mencintai Al-Qur’an. 

Selain itu, guru-guru yang mengikuti munaqosyah diharapkan mampu membagikan ilmunya untuk mengajar Al-Qur’an secara mandiri sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Siswa siswi yang sudah tuntas Munaqosyah akan ditugaskan membantu mengajar adik kelas, sehingga kemampuan mereka terus berkembang. 

pembukaan munaqosyah wafa
Sumber: Dokumen Pribadi

Munaqosyah bukan menjadi akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk terus mengembangkan kemampuan dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Seiring rasa semangat yang terus tumbuh, diharapkan siswa dan guru dapat bersama-sama membangun generasi yang mencintai Al-Qur’an. Proses ini tidak hanya membentuk kemampuan, tetapi juga menghadirkan ketenangan dalam diri. Pada akhirnya, ketenangan itu ditemukan dalam Al-Qur’an.

Informasi lebih lanjut tentang program pelatihan Al-Qur’an dan Kemitraan bersama WAFA Indonesia:

📞  +62 811 3058 9310     🌐  wafaindonesia.or.id