Pagi itu, suasana di SMA Muhammadiyah 1 Malang terasa sedikit berbeda. Beberapa siswa duduk menunggu giliran dipanggil. Bibir mereka bergerak pelan mengulang bacaan yang sudah dilatih berminggu-minggu. Ada yang terlihat tenang, ada yang berbisik dengan teman di sebelahnya, ada pula yang justru tertawa kecil meski jantungnya mungkin berdegup lebih kencang dari biasanya. Hari ini adalah hari Munaqosyah.
Munaqosyah adalah ujian membaca Al-Qur’an bukan menghafal, melainkan membaca dengan benar sesuai kaidah yang telah dipelajari. Di SMA Muhammadiyah 1 Malang, ujian ini mencakup tiga komponen: tajwid melalui soal pilihan ganda secara tertulis, ghorib, dan yang paling mendebarkan, membaca Al-Qur’an secara lisan di hadapan penguji. Sebelum sampai di titik ini, para siswa melewati tahap pra-munaqosah, sebuah kelas persiapan tempat mereka dilatih dan dikoreksi hingga bacaan mereka benar-benar siap.

Perjalanan menuju munaqosah dimulai sejak seorang siswa pertama kali masuk dan menjalani tes bacaan awal. Dari hasil tes itulah mereka ditempatkan langsung ke kelas persiapan munaqosyah jika bacaan mereka sudah dinilai cukup lancar.
“Aku langsung masuk kelas Munaqosyah,” cerita Zakiyah, murid Munaqosyah kelas 10.
“Kami semua langsung dites bacaannya, terus masuk sini.” Ujar Lila, murid Munaqosyah kelas 12.
Yang membuat program ini terasa berbeda adalah metode yang digunakan: Metode Wafa. Berbeda dari metode lain yang cenderung singkat dan langsung ke inti, Wafa menggunakan pendekatan yang lebih panjang namun menyenangkan: ada lagu, ada nada khas, ada gerakan tangan yang membantu siswa memahami materi.
“Banyakan ketawa sih aku di Wafa,” ujar Zakiyah.
“Biasanya kalau masuk, senang-senang dulu. Kita dikasih kertas isinya pelajaran tapi dibuat lagu.” Lanjut Lila.
Memang, tidak semua siswa langsung cocok dengan cara belajar seperti ini. Berbanding dengan Zakiyah. Liya, salah satu siswi mengaku lebih terbiasa dengan metode yang lebih langsung.
“Aku kayak mikirin caranya sendiri gimana biar bisa dapat, biar cepet hafal gitu” ujar Lila. Tapi justru di situlah Wafa mengajarkan sesuatu yang berharga: bahwa setiap orang bisa menemukan jalannya masing-masing, selama mau berusaha memahami.

Soal strategi belajar, para peserta ternyata punya pendekatan yang cukup matang. Alih-alih langsung menghafal, mereka memilih untuk memahami terlebih dahulu. Hal ini diungkapkan oleh Lila, salah satu siswi SMA Muhammadiyah 1 Malang
“Kalau mau cepet hafalnya, harus paham dulu. Kalau enggak paham, nggak bakal nyantol” kata Lila.
Mereka mempelajari bentuk bacaan, tanda-tanda, dan aturan tajwid. Hal ini menunjukkan bahwa mereka belajar cara memahami mengapa sebuah huruf dibaca panjang, mengapa ada yang dengung, sebelum hafalan itu sendiri mengikuti dengan sendirinya.
Di antara semua materi, ada satu bagian yang paling banyak disebut sebagai yang tersusah, yaitu materi tajwid, terutama mad : badal.
“Itu yang paling susah, karena harus tahu ini dibaca apa, ini harus gimana” akui salah satu peserta yang kesulitan dengan materi mad badal sambil tertawa. Tapi justru bagian yang susah itulah yang paling diingat, karena mereka berjuang keras untuk menaklukkannya.
Menariknya, perjalanan seorang siswa tidak berhenti setelah mereka lulus munaqosyah. Bagi yang belum lulus di kelas 12, mereka diminta menjadi tentor untuk mendampingi teman-teman di tingkat bawah yang masih berlatih. “Abis ini jadi guru ngaji,” canda Lila. Meski diucapkan dengan tawa, kalimat itu menyimpan makna yang dalam: ilmu bukan untuk disimpan sendiri.
Ketika ditanya apakah program seperti ini cocok diterapkan, jawabannya kompak: cocok.
“Ini mengasah kemampuan baca Al-Qur’an. Jadi kayak wadah buat orang-orang yang mau belajar.” ujar Lila
“Menurutku lebih cocok di sekolah swasta ya, karena mereka sama dan ada waktunya, kalau di negeri kurang cocok karena ga cuma yang Muslim saja kan yang sekolah di situ, mungkin bisa belajar ngaji sendiri di TPQ,” sambung Zakiyah.
Mereka menilai Wafa efektif terutama di sekolah swasta yang memiliki ruang dan waktu khusus untuk program seperti ini. Bukan sekadar pelajaran tambahan, melainkan ruang bertumbuh yang sesungguhnya.
Di penghujung hari, satu per satu nama dipanggil masuk ke ruang ujian. Suasana menjadi lebih hening, tapi tidak kehilangan kehangatan. Mereka yang menunggu di luar masih saling berbisik dan tersenyum. Persis seperti yang biasa mereka lakukan di kelas-kelas Wafa. Karena munaqosyah bukan hanya tentang lulus atau tidak lulus. Ia adalah tentang perjalanan: dari bacaan yang masih terbata, hingga akhirnya berdiri dengan keyakinan yang tumbuh satu huruf demi satu huruf.
Informasi lebih lanjut tentang program pelatihan Al-Qur’an dan Kemitraan bersama WAFA Indonesia:
📞 +62 811 3058 9310 🌐 wafaindonesia.or.id
