Ustadz Muhammad Sholeh Drehem

Mengenal Perjalanan Hidup dan Kiprah Ustadz Muhammad Shaleh Drehem

Ustadz Muhammad Shaleh Drehem, Lc., M.Ag. merupakan salah satu tokoh pendakwah yang dikenal melalui kiprahnya dalam pendidikan Al-Qur’an, dakwah, pengembangan masjid, hingga media dakwah. Beliau lahir 10 November 1963 di Sumenep dengan nama gabungan dari tiga item. Drehem nama marga, Shaleh nama ayahanda, dan Muhammad adalah nama pribadi yang melekat pada beliau. Masa kecil beliau dihabiskan di kawasan Pajagalan, Kampung Arab, Sumenep.

Prestasi dan pengalaman hidup beliau yang didapatkannya sekarang tidak dimulai dari kemudahan. Beliau tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi, bahkan telah kehilangan sosok ayah sejak masih dalam kandungan. Tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi membuat beliau berkembang menjadi pribadi yang tekun, mandiri, dan memiliki semangat besar dalam menuntut ilmu serta berdakwah. Sang ibunda menjadi guru pertama bagi Ustadz Muhammad dengan memberikan pembelajaran mengaji sebagai bekal awal dalam perjalanan pendidikannya. Hal ini membentuk kedekatan Muhammad dengan pendidikan agama sejak usia dini. Terdapat satu kalimat dari ibunda yang menjadi prinsip Ustadz Muhammad :

“Kalau tidak ngaji di madrasah, buat apa sekolah.”

Sejak kecil, Muhammad menjalani pendidikan formal sekaligus pendidikan agama. Pada pagi hari beliau belajar di Sekolah Dasar, sedangkan sore harinya belajar di Madrasah Al Wathoniyah Al Islamiyah, Pajagalan, Sumenep. Selain menghabiskan waktu untuk belajar, beliau juga membantu ibunya berdagang. Ketekunannya dalam menempuh pendidikan membuat beliau beberapa kali memperoleh peringkat di sekolah dan mendapatkan beasiswa ketika melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Sumenep.

Pengalaman belajar di madrasah juga menjadi salah satu yang selalu diingat oleh Ustadz Muhammad. Salah satu peristiwa yang selalu diingat adalah saat dia harus tetap di tingkat sebelumnya sedangkan teman-temannya harus melanjutkan pembelajaran di tingkat selanjutnya. Hal ini dikarenakan adanya keterbatasan kelas di madrasah tersebut. Peristiwa ini sempat membuatnya merasa malu, tetapi juga berhasil menjadi pengalaman yang cukup menyenangkan. Pengalaman tersebut justru memperdalam penguasaannya terhadap ilmu agama. Beliau semakin memahami bahwa ilmu yang terus diulang dapat semakin mudah dipahami.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 1 Sumenep, Muhammad melanjutkan pendidikannya ke Jakarta. Beliau diterima di LIPIA dan memperoleh kesempatan untuk memperdalam bahasa Arab serta ilmu agama. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikan ke Islamic University, Riyadh, dan menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Hadis. Selama menuntut ilmu, Muhammad juga aktif memanfaatkan waktu liburan untuk berbagi ilmu dan mengisi berbagai kegiatan kajian.

Proses belajar di Jakarta menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan akademiknya. Di lingkungan pendidikan tersebut, beliau mendapatkan kesempatan untuk memperluas pengetahuan serta memperdalam pemahaman terhadap ilmu-ilmu keislaman. Tidak hanya di Jakarta, saat beliau melanjutkan pendidikan ke Islamic University, Riyadh pun beliau sangat tekun dan disiplin diiringi dengan rasa gembira. Kesempatan tersebut telah dianggap Muhammad sebagai sebuah sarana dari Allah SWT yang kelak dapat membantu beliau untuk mewujudkan mimpi sang ibunda.

Kembali ke Indonesia & Berdakwah

Pada tahun 1991, beliau mulai menetap di Surabaya dan membangun kegiatan dakwah secara lebih aktif. Perjalanan dakwahnya di Surabaya bermula dari sebuah rumah kontrakan di kawasan Kedung Sroko. Dari tempat sederhana tersebut, kegiatan dakwah mulai dijalankan dan perlahan berkembang.

Ustadz Muhammad mulai mengisi berbagai kajian di sejumlah tempat. Kegiatan tersebut dilakukan di masjid, kampus, komunitas, serta lingkungan masyarakat lainnya. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak masyarakat yang mengenal kajiannya. Aktivitas dakwah yang dilakukan pun semakin berkembang dan menjangkau berbagai kalangan di Surabaya maupun daerah lainnya.

Dalam pandangan Ustadz Muhammad, dakwah bukan sekadar menyampaikan ceramah di hadapan banyak orang. Dakwah merupakan proses mengajak manusia menuju kebaikan dan jalan Allah. Dalam sebuah dakwah, yang terpenting adalah sebuah rasa semangat mengambil peran, kepedulian, kesiapan, dan komitmen untuk berkontribusi positif terhadap apapun.

Beliau menekankan pentingnya memahami kondisi masyarakat yang menjadi sasaran dakwah. Setiap orang memiliki latar belakang dan tingkat pemahaman yang berbeda, sehingga penyampaian pesan juga perlu dilakukan dengan cara yang tepat. Berdakwah bukanlah sebuah sarana untuk menuduh atau memaki. Berdakwah adalah sebuah proses untuk mengajak menuju jalan kebaikan.

Kiprah dalam Pendidikan dan Media

Ustadz Muhammad secara berkala memberikan pengajian tiap bulan khusus bagi wali murid Yayasan Al Hikmah, dari SD hingga SMA, yang diselenggarakan di Masjid Al Hikmah. Tidak hanya itu, beliau juga memberikan sumbangsih pikirannya dan tenaganya ke Pusda (pusat dakwah), melalui Pusda beliau memberikan pelatihan untuk para mubaligh agar menjadi da’i profesional. Beliau juga terjun langsung dalam pengembangan kapasitas da’i desa, bersinergi dan berkolaborasi dengan masjid serta madrasah yang ada di setiap desa.

Kiprahnya juga berkembang melalui media, salah satunya Radio Suara Muslim Surabaya. Melalui media, pesan-pesan keislaman dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas dengan berbagai program edukatif. Radio tersebut menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan kajian, informasi, serta berbagai program bernuansa keislaman kepada masyarakat. Melalui media radio, dakwah tidak hanya dilakukan secara langsung melalui pertemuan atau kajian tatap muka, tetapi juga dapat menjangkau pendengar dari berbagai tempat. Pemanfaatan media ini menjadi bagian dari upaya untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman melalui sarana komunikasi yang lebih luas dan mudah diakses oleh masyarakat.

Lahirnya WAFA Indonesia

Bersama para pegiat pendidikan Al-Qur’an, Ustadz Muhammad melihat perlunya sebuah sistem pembelajaran yang lebih terstruktur dan dapat diterapkan secara luas. Gagasan tersebut kemudian berkembang ketika Ustadz Muhammad bersama Ustadz Yamin merintis sebuah metode pembelajaran Al-Qur’an. Pada tahun 2011, Ustadz Muhammad melalui lembaga yang bernama Yayasan Syafaatul Qur’an Indonesia memperkenalkan Sistem Pendidikan Al-Qur’an Metode Otak Kanan (WAFA). Metode ini dikembangkan sebagai sistem pembelajaran Al-Qur’an yang bersifat komprehensif dan integratif, dengan metode yang dirancang agar lebih mudah dan menyenangkan bagi peserta didik.

Sebelum Wafa berdiri, Ustadz Muhammad juga telah merintis kegiatan pembelajaran Al-Qur’an melalui Griya Al-Qur’an. Perkembangan Griya Al-Qur’an tersebut menjadi bagian dari perjalanan dan pengalaman yang kemudian mendukung lahirnya sistem pendidikan Al-Qur’an yang lebih terstruktur melalui Wafa.

Dengan demikian, perjalanan hidup Ustadz Muhammad Shaleh Drehem menunjukkan proses panjang dalam menuntut ilmu dan membagikannya kepada masyarakat. Melalui pendidikan, dakwah, media, dan berbagai kegiatan keislaman, beliau terus berupaya memberikan manfaat dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat.

Informasi lebih lanjut tentang program dan Kemitraan bersama WAFA Indonesia:

📞 +62 811 3058 9310 🌐 wafaindonesia.or.id

 

 

 

 

 

 

 

munaqosyah siswa

Bukan Sekadar Ujian: Kisah di Balik Munaqosyah Wafa SMA Muhammadiyah 1 Malang

Pagi itu, suasana di SMA Muhammadiyah 1 Malang terasa sedikit berbeda. Beberapa siswa duduk menunggu giliran dipanggil. Bibir mereka bergerak pelan mengulang bacaan yang sudah dilatih berminggu-minggu. Ada yang terlihat tenang, ada yang berbisik dengan teman di sebelahnya, ada pula yang justru tertawa kecil meski jantungnya mungkin berdegup lebih kencang dari biasanya. Hari ini adalah hari Munaqosyah.

Munaqosyah adalah ujian membaca Al-Qur’an bukan menghafal, melainkan membaca dengan benar sesuai kaidah yang telah dipelajari. Di SMA Muhammadiyah 1 Malang, ujian ini mencakup tiga komponen: tajwid melalui soal pilihan ganda secara tertulis, ghorib, dan yang paling mendebarkan, membaca Al-Qur’an secara lisan di hadapan penguji. Sebelum sampai di titik ini, para siswa melewati tahap pra-munaqosah, sebuah kelas persiapan tempat mereka dilatih dan dikoreksi hingga bacaan mereka benar-benar siap.

monaqosyah siswa
Sumber : dokumen pribadi

Perjalanan menuju munaqosah dimulai sejak seorang siswa pertama kali masuk dan menjalani tes bacaan awal. Dari hasil tes itulah mereka ditempatkan langsung ke kelas persiapan munaqosyah jika bacaan mereka sudah dinilai cukup lancar.

“Aku langsung masuk kelas Munaqosyah,” cerita Zakiyah, murid Munaqosyah kelas 10.

“Kami semua langsung dites bacaannya, terus masuk sini.” Ujar Lila, murid Munaqosyah kelas 12.

Yang membuat program ini terasa berbeda adalah metode yang digunakan: Metode Wafa. Berbeda dari metode lain yang cenderung singkat dan langsung ke inti, Wafa menggunakan pendekatan yang lebih panjang namun menyenangkan: ada lagu, ada nada khas, ada gerakan tangan yang membantu siswa memahami materi.

“Banyakan ketawa sih aku di Wafa,” ujar Zakiyah.

“Biasanya kalau masuk, senang-senang dulu. Kita dikasih kertas isinya pelajaran tapi dibuat lagu.” Lanjut Lila.

Memang, tidak semua siswa langsung cocok dengan cara belajar seperti ini.  Berbanding dengan Zakiyah. Liya, salah satu siswi mengaku lebih terbiasa dengan metode yang lebih langsung.

“Aku kayak mikirin caranya sendiri gimana biar bisa dapat, biar cepet hafal gitu” ujar Lila. Tapi justru di situlah Wafa mengajarkan sesuatu yang berharga: bahwa setiap orang bisa menemukan jalannya masing-masing, selama mau berusaha memahami.

siswa belajar sebelum Munaqosyah
Sumber : dokumen pribadi

Soal strategi belajar, para peserta ternyata punya pendekatan yang cukup matang. Alih-alih langsung menghafal, mereka memilih untuk memahami terlebih dahulu. Hal ini diungkapkan oleh Lila, salah satu siswi SMA Muhammadiyah 1 Malang

“Kalau mau cepet hafalnya, harus paham dulu. Kalau enggak paham, nggak bakal nyantol” kata Lila.

Mereka mempelajari bentuk bacaan, tanda-tanda, dan aturan tajwid.  Hal ini menunjukkan bahwa mereka belajar cara memahami mengapa sebuah huruf dibaca panjang, mengapa ada yang dengung, sebelum hafalan itu sendiri mengikuti dengan sendirinya.

Di antara semua materi, ada satu bagian yang paling banyak disebut sebagai yang tersusah, yaitu materi tajwid, terutama mad : badal.

Itu yang paling susah, karena harus tahu ini dibaca apa, ini harus gimana” akui salah satu peserta yang kesulitan dengan materi mad badal sambil tertawa. Tapi justru bagian yang susah itulah yang paling diingat, karena mereka berjuang keras untuk menaklukkannya.

Menariknya, perjalanan seorang siswa tidak berhenti setelah mereka lulus munaqosyah. Bagi yang belum lulus di kelas 12, mereka diminta menjadi tentor untuk mendampingi teman-teman di tingkat bawah yang masih berlatih. “Abis ini jadi guru ngaji,” canda Lila. Meski diucapkan dengan tawa, kalimat itu menyimpan makna yang dalam: ilmu bukan untuk disimpan sendiri.

Ketika ditanya apakah program seperti ini cocok diterapkan, jawabannya kompak: cocok.

Ini mengasah kemampuan baca Al-Qur’an. Jadi kayak wadah buat orang-orang yang mau belajar.” ujar Lila

“Menurutku lebih cocok di sekolah swasta ya, karena mereka sama dan ada waktunya, kalau di negeri kurang cocok karena ga cuma yang Muslim saja kan yang sekolah di situ, mungkin bisa belajar ngaji sendiri di TPQ,” sambung Zakiyah.

Mereka menilai Wafa efektif terutama di sekolah swasta yang memiliki ruang dan waktu khusus untuk program seperti ini. Bukan sekadar pelajaran tambahan, melainkan ruang bertumbuh yang sesungguhnya.

Di penghujung hari, satu per satu nama dipanggil masuk ke ruang ujian. Suasana menjadi lebih hening, tapi tidak kehilangan kehangatan. Mereka yang menunggu di luar masih saling berbisik dan tersenyum. Persis seperti yang biasa mereka lakukan di kelas-kelas Wafa. Karena munaqosyah bukan hanya tentang lulus atau tidak lulus. Ia adalah tentang perjalanan: dari bacaan yang masih terbata, hingga akhirnya berdiri dengan keyakinan yang tumbuh satu huruf demi satu huruf.

Informasi lebih lanjut tentang program pelatihan Al-Qur’an dan Kemitraan bersama WAFA Indonesia:

📞 +62 811 3058 9310 🌐 wafaindonesia.or.id

 

 

Coaching clinic

Di Balik Proses Pembelajaran: Tantangan Guru dan Peran Coaching Clinic

Proses pembelajaran di kelas seringkali tampak berjalan dengan lancar. Guru menyampaikan materi, siswa terlibat, dan evaluasi dilakukan di akhir sesi. Namun, dibalik semua itu, ada berbagai dinamika yang tak terlihat. Dalam kenyataannya, guru menghadapi berbagai tantangan yang mempengaruhi mutu pengajaran dan hasil belajar siswa. Tantangan tersebut memengaruhi kualitas pengajaran dan hasil belajar siswa, mulai dari metode mengajar, proses penilaian hingga proses evaluasi. Situasi ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran memerlukan pendampingan yang lebih optimal agar dapat berlangsung dengan efektif.

Tantangan Guru dalam Mencapai Target Pembelajaran

Dalam aktivitas pembelajaran, guru memiliki peran yang penting dalam menjamin agar target belajar siswa tercapai. Setiap tujuan pembelajaran menjadi beban yang perlu diselesaikan dengan baik. Namun di lapangan, guru kerap kali menemui banyak hambatan yang mengakibatkan pencapaian tersebut tidak berjalan dengan semestinya.

Guru seringkali menghadapi tantangan internal akibat kurangnya pendampingan dari lembaga pendidikan. Hal ini mengakibatkan kerap kali terjadi kesalahan dalam proses pembelajaran, mulai dari kesalahan penilaian, penyampaian materi, pengajaran, hingga tahsin.

Ketidaktepatan dalam penilaian ini berdampak langsung pada capaian siswa yang tidak sesuai dengan target yang telah ditetapkan, sehingga proses pembelajaran belum berjalan secara optimal. Tantangan yang dialami oleh guru ini diungkapkan oleh Ustadz Wildan dalam proses wawancara.

“Kalau guru itu tantangannya adalah dengan diri mereka sendiri karena di sisi yang lain mereka terlalu dilepas oleh lembaga sehingga mereka agak kebingungan juga ketika melakukan pengajaran dan yang terjadi menilainya salah, menyampaikannya juga salah dan P3-nya, pengajarannya juga salah, tahsinya juga salah, seperti itu karena memang tidak ada proses pengawalan. Di sisi lain, hal itu menyebabkan capaian-capaian siswa yang tidak sesuai dengan target, terkadang pun juga ada guru yang diamanahi tidak sesuai dengan levelnya. Jadi konsistensi dalam mengajar itulah yang seharusnya menjadi tantangan berat” ungkap Ustadz Wildan Arif, S.Pd. 

Keterbatasan Evaluasi dan Kebutuhan Pendampingan

Selama ini, proses evaluasi cenderung dilakukan di akhir pembelajaran, sehingga dinilai kurang efektif karena perbaikan tidak dapat dilakukan secara langsung selama proses berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa guru baru mengetahui kesalahan setelah proses pembelajaran selesai. Sementara itu, apabila dilakukan perbaikan dari awal akan berpotensi memberikan dampak kurang baik secara psikologis bagi siswa, karena mereka harus mengulang materi yang telah dilalui.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa guru membutuhkan pendampingan yang lebih berkelanjutan, agar setiap kendala dapat diatasi secara lebih optimal. Pendampingan tidak hanya melibatkan proses pengajaran, tetapi juga termasuk pengawasan terhadap mutu pembelajaran yang dilakukan oleh guru.

Dalam hal ini, penjamin mutu bertujuan untuk memastikan kualitas bacaan siswa dan guru. Melalui penjamin mutu, proses pendampingan dapat dilakukan secara lebih terarah. Penjamin mutu dapat berupa sebuah kelompok atau individu yang mengawasi dan menjaga kualitas bacaan siswa serta guru agar dapat mencapai target. Namun, saat ini penjamin mutu perlu meningkatkan keterbukaan dan kolaborasi guru.

Guna melaksanakan fungsi itu dengan baik, dibutuhkan sebuah bentuk dukungan yang tidak hanya mengawasi, tetapi juga meningkatkan kapasitas guru secara terus-menerus. Salah satu caranya adalah dengan diadakan coaching clinic, yang berfungsi sebagai tempat untuk refleksi dan peningkatan keterampilan guru dalam proses belajar mengajar.

Peran Coaching Clinic

Coaching Clinic bertujuan untuk merangsang pemikiran, kreativitas, dan menginspirasi peserta agar dapat memaksimalkan potensi diri. Program ini penting untuk mengatasi kendala yang mungkin muncul pasca-pelatihan dan memastikan pencapaian tujuan pembelajaran, serta menjaga konsistensi kualitas pengajaran.

Coaching berfungsi untuk menyempurnakan dan mengoptimalkan hal-hal yang masih belum maksimal dalam proses pembelajaran, dengan tetap berfokus pada pencapaian tujuan. Dalam pelaksanaannya, coaching tidak berdiri sendiri, melainkan didahului oleh supervisi. Supervisi bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi nyata di lapangan, seperti kekurangan dalam hasil pembelajaran maupun kekurangan metode mengajar guru. Hasil dari supervisi tersebut kemudian menjadi dasar dalam pelaksanaan coaching sebagai bentuk pendampingan. Proses ini idealnya dilakukan segera setelah pelatihan agar momentum penerapan ilmu tetap terjaga.

Coaching clinic berbeda dengan proses pelatihan. Perbedaan utama antara pelatihan dan coaching adalah pelatihan berfokus pada aspek teknis dan metodologi, sementara coaching lebih menggali tujuan, realita saat ini, dan cara perbaikan melalui pertanyaan, bukan memberikan arahan langsung.

Coaching clinic dalam uji coba dibatasi pada beberapa pertemuan misalnya 4 kali pertemuan dengan dan jumlah peserta 8 orang dan didampingi satu orang coach. Pentingnya coaching klinik muncul karena banyak lembaga menghadapi kendala dan tujuan yang tidak tercapai meskipun sudah mengikuti pelatihan, seperti PSGA, quantum tahsin, atau sertifikasi.

“Coaching ini menjadi sesuatu hal yang penting. Kita memang punya pelatihan, tetapi pelatihan dan lain sebagainya itu bukan berarti mereka akan menjadi seorang ahli. Dari coaching inilah kita nanti yang belum sempurna kita sempurnakan, mana yang belum optimal kita nanti optimalkan, jadi berfokus kepada tujuan pada goal.” ungkap Ustadz Wildan Arif, S.Pd.

Dengan demikian, coaching clinic berperan penting dalam mengoptimalkan hasil pelatihan melalui pendampingan yang terarah, sehingga kualitas pembelajaran tetap terjaga dan tujuan dapat tercapai secara maksimal.

Informasi lebih lanjut tentang program Coaching Clinic dan Kemitraan bersama WAFA Indonesia:

📞 +62 811 3058 9310 🌐 wafaindonesia.or.id