Praktik pendekatan metode otak kanan melalui nyanyian dan gerakan tangan bersama siswa-siswi Muhammadiyah 1 Malang

“Anak Muda Hari Ini Butuh Al-Qur’an”: Spirit Qur’an di SMA dan SMP Muhammadiyah 1 Malang bersama Metode WAFA

Sekitar 70 pelajar SMP dan SMA Muhammadiyah 1 Malang berkumpul di masjid sekolah di sela kegiatan Munaqosyah pada Kamis, 8 Mei 2026,  pagi itu. Siswa yang tidak mengikuti ujian diarahkan ke masjid untuk mengikuti Kajian Motivasi bertajuk Spirit Qur’an yang dibawakan langsung oleh Ustadz Ali, salah satu trainer WAFA Indonesia.

Ustadz Ali membuka sesi bukan dengan ayat atau ceramah panjang, melainkan dengan pertanyaan langsung kepada peserta. Siapa yang sering merasa galau? Siapa yang sering overthinking hingga sulit tidur? Siapa yang pernah merasa kesepian meski sedang di tengah keramaian? Hampir seluruh tangan di ruangan terangkat.

Bagi Ustadz Ali, itulah pintu masuk yang sesungguhnya. Ia menegaskan bahwa semua perasaan itu bukan tanda kelemahan.

“Semua tidak salah. Semua tidak jahat. Tapi semua itu terjadi karena kita jauh dari sesuatu yang sesungguhnya kita butuhkan,” ujar Ustadz Ali sebagai motivasi pembuka.

Dari sana ia membangun satu argumen yang sederhana namun menohok, yaitu “kegelisahan anak muda hari ini bukan karena kurangnya hiburan atau stimulasi, justru semua itu sudah berlebihan. Kedekatan dengan Al-Qur’an lah yang hilang”

“Yang mencintakan hati kita adalah Allah. Yang memiliki hati kita adalah Allah. Dan hati itu hanya bisa benar-benar tenang ketika ia dekat dengan penciptanya, dekat dengan Allah.”

Metode Otak Kanan WAFA: Bukan Ceramah tapi Pengalaman

Sesi kajian ini dengan kajian konvensional berbeda dari segi metode penyampaiannya. Kajian ini menggunakan praktik metode otak kanan, pendekatan khas WAFA Indonesia yang dirancang agar belajar Al-Qur’an terasa mudah dan menyenangkan.

Sepanjang sesi, peserta tidak sekadar duduk dan menyimak. Mereka diajak bernyanyi dengan angka, melakukan gerakan tangan, hingga menjawab tebak-tebakan. Semua dirancang untuk mengaktifkan otak kanan secara bersamaan.

Ustadz Ali telah menjelaskan logika di baliknya, yaitu otak kanan diaktifkan oleh gerak, visual, warna, nada, irama, dan rasa. Berbeda dengan otak kiri yang bekerja secara logis dan serius, otak kanan adalah pintu menuju memori jangka panjang. Metode ini juga mengakomodir tiga tipe modalitas belajar sekaligus:

  • Visual: penampilan trainer yang terstandar rapi
  • Auditori: variasi intonasi suara sepanjang sesi
  • Kinestetik: gerakan fisik dan aktivitas aktif selama sesi

“Kalau otak kiri saja bisa, maka dengan dukungan otak kanan itu jauh akan lebih optimal. Singkatnya, kalau kita namakan otak kanan berarti mudah dan menyenangkan,” jelas Ustadz Ali dalam wawancara kami pada 8 Mei 2026.

Terdapat satu prinsip yang tidak pernah dikompromikan sebelum sesi dimulai, yaitu kondisi peserta harus baik dulu.

Ustadz Ali melanjutkan, “kita tidak akan pernah mulai pelatihan sebelum melihat kondisi pesertanya baik-baik saja. Sebelum pesertanya bahagia. Nah itu kuncinya.”

Refleksi Satu Kata dan Satu Jawaban yang Sama

Menjelang akhir sesi, Ustadz Ali memimpin latihan refleks. Peserta diminta memejamkan mata untuk merenungkan perjalanan hidup mereka, lalu merangkumnya dalam satu kata. Jawaban yang muncul sangat beragam, ada yang menjawab lelah, berat, sedih, jatuh, dan berwarna.

Tidak satu pun dihakimi. Ustadz Ali justru menggunakannya sebagai jembatan. Sambil tersenyum Ustadz Ali berkata,

“sebetulnya yang kurang dari diri kita bukan materi dunia. Dunia itu sudah ada. Kebahagiaan kita tidak ditentukan oleh dunia. Yang kurang adalah kedekatan kita dengan Al-Qur’an.”

Ia mengajak siswa untuk mendengarkan lantunan Al-Qur’an. Ketika bertanya apa yang dirasakan setelahnya, hampir serempak peserta menjawab satu kata “tenang”. Bagi WAFA, momen seperti inilah yang menjadi inti dari seluruh metode, bukan sekadar hafalan, melainkan pengalaman nyata yang dirasakan sendiri oleh peserta.

Harapan Untuk Generasi Qur’ani

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melahirkan generasi Qurani dan ahli Al-Qur’an, sejalan dengan cita-cita WAFA dalam membentuk insan yang mampu membangun peradaban masyarakat dan bangsa Indonesia melalui nilai-nilai Al-Qur’an. Fokus yang dibangun tidak hanya pada kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga pada pembentukan pribadi Qurani yang tercermin dalam akhlak dan perilaku sehari-hari.

Mengapa harus sekarang? Jawabannya singkat:

“Bukan berarti kalau nanti itu terlambat tapi lebih awal itu lebih baik,” tutup Ustadz Ali. 

 

Informasi lebih lanjut tentang program pelatihan Al-Qur’an bersama WAFA Indonesia:

📞  +62 811 3058 9310     🌐  wafaindonesia.or.id

Apa Itu Munaqosyah? Tes Ahli Al-Qur’an dengan Metode Otak Kanan bersama Wafa Indonesia

Dalam dunia pendidikan Al-Qur’an, istilah munaqosyah mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Padahal, bagi lembaga dan praktisi pembelajaran Al-Qur’an, munaqosyah adalah gerbang penting untuk mengukur keberhasilan siswa dalam menguasai materi yang dipelajarkan.

Lalu, apa sebenarnya munaqosyah? Bagaimana pelaksanaannya, dan mengapa program ini menjadi bagian penting dari sistem manajemen mutu pembelajaran Al-Qur’an?

Apa Itu Munaqosyah?

Munaqosyah merupakan program penilaian kemampuan siswa di akhir pembelajaran. Program ini dirancang sebagai alat ukur untuk mengevaluasi ketercapaian hasil belajar yang telah dilaksanakan oleh suatu lembaga pendidikan. Secara lebih rinci, munaqosyah adalah program penilaian yang diselenggarakan pada jenjang akhir pembelajaran Al-Qur’an. Program ini dirancang khusus sebagai alat ukur pemahaman peserta secara objektif dan sistematis, guna mengevaluasi sejauh mana ketercapaian hasil belajar dalam pendidikan Al-Qur’an. Dengan kata lain, munaqosyah memang ditujukan sebagai program penilaian yang ditempatkan di penghujung perjalanan belajar Al-Qur’an.

Bedanya Metode Otak Kanan dengan Metode Biasa

Dalam pelaksanaannya, munaqosyah Wafa Indonesia menggunakan metode otak kanan, berbeda dengan metode yang umum seperti menghafal saja.

Biasanya metode konvensional yang cenderung mengandalkan hafalan dari otak kiri yang berfokus pada repetisi (pengulangan), metode otak kanan justru memanfaatkan imajinasi, emosi, dan keterkaitan makna. Dalam metode otak kanan, proses belajar tidak dilakukan dengan menghafal mati-matian. Sebaliknya, informasi “diserap” secara alami melalui pengalaman yang melibatkan perasaan dan kreativitas seperti misalnya mendengarkan lagu. Inilah mengapa anak-anak lebih cepat hafal dan tidak mudah lupa  karena Al-Qur’an dikenalkan dengan cara yang menyenangkan, seperti bernyanyi, bergerak, dan menggambar.

Sumber: https://ganeshaoperation.com/blog/post/menggali-potensi-otak-melalui-revolusi-belajar
Sumber: ganeshaoperation.com

 

Metode mengaji dengan otak kanan menggunakan metode ini lebih berfokus pada memadukan konsep utama:

  • Kinestetik (Gerakan, dalam mengenali symbol Al-Qur’an)
  • Auditori (pendengaran, terutama nada/lagu)
  • Visual (penglihatan, menulis ayat Al-Qur’an)

Hasilnya? Anak-anak lebih cepat hafal dan bisa lebih lama mengingat ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka tidak mudah lupa karena hafalan “menempel” melalui pengalaman yang menyenangkan, dengan memanfaatkan metode otak kanan .

Salah satu peserta munaqosyah, Mavi dari SMA Muhammadiyah 1 Malang, berbagi pengalamannya menggunakan metode Wafa.

“Pakai metode Wafa itu lebih mudah, karena belajarnya pakai nada. Kayak dikasih lagu gitu, jadi dari aku sendiri hafalannya jadi cepet nempel. Aku dulu suka lupa, sekarang munaqosyah malah serasa senandung lagu”

Kutipan ini menggambarkan bagaimana pendekatan nada dan irama dalam metode otak kanan mampu mengubah suasana ujian yang biasanya menegangkan menjadi lebih santai dan menyenangkan.

Wafa Indonesia Targetkan Lahirkan Ahli Al-Qur’an di Setiap Daerah

Selain metode yang unik, Wafa Indonesia juga memberikan fleksibilitas pelaksanaan. Munaqosyah dapat diikuti secara online maupun offline (tatap muka langsung). Hal ini memudahkan lembaga di berbagai daerah untuk tetap mengakses ujian kelulusan Al-Qur’an dengan standar yang sama.

Munaqosyah bukan sekadar ujian kenaikan. Ia adalah perayaan pencapaian belajar Al-Qur’an dengan pendekatan yang hangat, manusiawi, dan terbukti efektif. Dengan metode otak kanan yang memadukan nada, gerak, dan gambar, menjadikan  anak-anak tidak hanya lulus ujian, tetapi juga mencintai prosesnya dengan melakukan pendekatan yang memang berfokus pada kretivitas.

Pelaksanaan Munaqosyah Di SMA Muhammadiyah 1 Malang

Sumber: Dokumen pribadi
Sumber: Dokumen pribadi

 

Di balik pelaksanaan Munaqosyah yang baru-baru ini digelar pada 8 Mei 2026, SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang, terdapat cerita yang menarik, Ustadz Wawan, salah satu penguji Wafa Indonesia, mengungkapkan visinya yang tak hanya berhenti pada ujian kelulusan.

Menurut Ustadz Wawan, pada hari pelaksanaan terdapat dua jenis ujian dengan level berbeda. Untuk level siswa, materi yang diujikan dirancang lebih sederhana dan ramah bagi peserta.

Materi Ujian Level Siswa

Para siswa hanya diuji pada bacaan Al-Qur’an yang diambil dari juz 4. Adapun teori yang masuk adalah seputar ghorib. Untuk tajwid, ujian diberikan dalam bentuk pilihan ganda tertulis, bukan lisan. Hal ini sengaja dilakukan untuk memudahkan siswa. Selain itu, ada juga ujian imlah atau menulis Arab yang menjadi bagian penilaian.

Meskipun terbilang lebih santai, Ustadz Wawan menegaskan bahwa siswa tetap harus belajar dan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.

Persiapan 4 Bulan yang Luar Biasa

Yang menarik, persiapan menuju munaqosyah kali ini hanya berlangsung selama 4 bulan. Meskipun terbilang singkat, hasil yang ditampilkan para siswa sangat luar biasa. Ustadz Wawan mengakui bahwa biasanya lembaga lain membutuhkan waktu 1 hingga 2 tahun untuk mencapai level yang sama.

Keberhasilan ini tidak lepas dari pendampingan yang tepat. Para guru pendamping ternyata sudah memahami standar Wafa Indonesia dengan baik. Sehingga proses belajar mengajar berlangsung efektif. Semangat dari murid dan guru juga menjadi faktor utama dibalik capaian ini.

“Kebetulan ini kan pengalaman pertama sekolah ini. Karena baru Januari kemarin baru pakai. Tapi sudah sangat luar biasa. Jadi memang mengejarnya itu baru 4 bulan ini. Masya Allah. Bisa munaqosyah. Luar biasa. Biasanya kalau lembaga lain butuh waktu 1 tahun, 2 tahun. Yang membuat Ustadz kaget, ini baru 4 bulan, tapi rasanya sudah seperti sudah lumayan lama.”  –  Ust Wawan Fitriono, S. Pd. I., Master Trainer Wafa Indonesia

Harapan ke Depan

Sumber: dokumen pribadi
Sumber: dokumen pribadi

 

Di penghujung wawancara, Ustadz Wawan menyampaikan harapannya. Ia ingin cita-cita Wafa untuk membangun peradaban masyarakat melalui lahirnya para ahli Al-Qur’an benar-benar terwujud. Ia berharap lembaga-lembaga di Malang khususnya bisa berkolaborasi lebih erat. Lebih jauh lagi, ia mengupayakan agar setiap daerah memiliki tim penggerak sendiri yang bergerak tanpa harus menunggu perintah, sehingga ketika tim Wafa datang, semuanya sudah siap.

“Harapan saya, seiring dengan ini ya cita-cita Wafa. Di Wafa ini kan ingin membangun peradaban masyarakat kita. Visi besar kita itu kan ingin melahirkan Al-Qur’an. Kami sedang mengupayakan gimana caranya supaya di setiap daerah itu ada tim yang tanpa kita suruh, mereka sudah bergerak sendiri, sibuk sendiri, mencari inspirasi sendiri. Sehingga tinggal Ustadz, kami siap untuk ke sini. Mungkin nanti di lain waktu Ustadz kembali. Insyaallah” – Ust Wawan Fitriono, S. Pd. I., Master Trainer Wafa Indonesia

Informasi lebih lanjut tentang program pelatihan Al-Qur’an bersama WAFA Indonesia:

📞  +62 811 3058 9310 🌐  wafaindonesia.or.id

 

 

 

Kebersamaan yang Tak Akan Berlalu

Bismillah..
LaKal hamdu ya Rob.., sholli wa sallim ‘ala HabibiKA Muhammad SAW.

Renungan dhuha
6 SYA’BAN 1440 H
QS.ALI-‘IMRON : 103

KEBERSAMAAN YG TAK AKAN BERLALU

Ikhwah fillah,
Pertemuan dan kebersamaan yg sudah lama kita bangun, seharusnya dirayakan dengan amal hati, dzikir dan do’a.

Tentu juga diperkuat dengan tasamuh (toleransi), tawaashiy (saling berwasiat) dan tanaashuh (saling nasehat-menasehati).

Sejatinya.., pertemuan dan kebersamaan ini tidak boleh terputus walaupun kita berpisah.

Hati tersambung cinta, kasih sayang dan do’a…, walau jasad tak bersua.

Untuk itu amal-amal hati harus diteruskan :
-saling menyebut kebaikan,
-saling menghargai,
-saling berterima kasih,
-saling memaafkan,
-saling mengungkap cinta, dan mengingat kasih sayang yg mengikat.

Itu semua harus dibiasakan setiap saat.

Sungguh…, ikatan suci persaudaraan ini menembus perbedaan pendapat dalam urusan duniawi yg fana…!!!

Untuk semua yang membaca renungan ini, diucapkan :
“Innie uhibbuka/i fillah…”

SEMANGAAAT…!!!
Allah SWT selalu membersamai kita semua…???

(@msdrehem)

Melampaui Masalah Hari Ini

Oleh Adhan Sanusi

Apa yang ada di dalam fikiran para sahabat saat di kepung 10.000 pasukan sekutu dalam perang khandak? Di saat paceklik dan rongrongan orang Yahudi di kota Madinah.
Mari kita coba merasakan situasi nya?
Bagaimana mereka melampaui perasaan itu?

Di tengah situasi yang mencekam itu, Nabi memberikan HARAPAN PANJANG dg janji menaklukkan dua negara Adidaya yaitu PERSIA dan ROMAWI.

Kita juga akan melampaui segala onak duri kehidupan saat ini. Jika kita punya MIMPI dan HARAPAN BESAR.

Maka berbahagialah kita yang Allah amanahi profesi terbaik yaitu menjadi GURU. apalagi jika kita kita di amanahi sebagai guru terbaik, dan Guru terbaik itu adalah GURU AL-QUR’AN.

Lembaga terbaik adalah Lembaga Pendidikan, dan Pendidikan terbaik adalah Pendidikan Al-Qur’an.
Maka berbahagialah mereka yang telah menjadi KARYAWAN ALLAH Rabbul Alamin. Menjadi Guru Al-Qur’an.

Bayangkan masa depan bangsa ini dari wajah polos siswi/i kita. Jika bangsa ini tidak berubah hari ini, setidaknya kelak 20-30 tahun kedepan, merekalah yang akan merubah kondisi bangsa ini menjadi lebih baik. Dan pastikan saat perubahan itu terjadi, ada KONTRIBUSI KITA hari ini.

Dengan berfikir seperti ini, kita akan melalui hari ini dan esok dengan penuh BAHAGIA.

Seni Memberi Maaf

Bismillah…

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa aalihi wa shohbih…!

 

Renungan dhuha,

15 RAJAB 1440 H

QS.ALI IMRON : 159

 

SENI MEMBERI MAAF

 

Memberi maaf akan kesalahan orang sungguh sangat terpuji

Terpuji dimata Allah, terpuji dimata manusia

Maafkanlah orang-orang tercinta, walaupun ia tidak minta maaf

Maafkanlah dengan:

– Niat ikhlas

– Niat ingin dimaafkan oleh Allah SWT

– Niat ingin disucikan oleh Allah SWT

– Niat ingin dikuatkan oleh Allah SWT
Maafkanlah dan bersilaturrohimlah

Maafkanlah dan do’akan kebaikan

Maafkanlah dan do’akan perlindungan  dari semua bahaya

Maafkanlah dan waspadalah dari bisikan syetan

 

Waspadalah dari kedzaliman

Waspadalah pula dari terulangnya kedzaliman

Maafkanlah semua dusta, pendustaan, ghibah, fitnah, cerca dan hinaan

Kalau terulang lagi, maafkan lagi

Selalu ada maaf, nasihati dia

Dan kalau juga tetap terulang, jaga jarak dan do’akan

Insyaallah, Allah akan membersamai kita semua

 

Ya Rahman..

Ampuni & beri maaf kami dan seluruh saudara kami.

 

(@msdrehem)

Cinta Dunia

Renungan dhuha,
8 RAJAB 1440 H
QS.AL-FAJR : 20

CINTA DUNIA…!?!?!?

Saudaraku,
Masih banyak dari sebagian saudara kita yang dihati dan pikirannya hanya dunia semata.
Dari mana kita tahu itu…??? dari kesibukan mereka, dan dari pembicaraan mereka.
Mulai bangun dari tidur, sepertinya kegiatan mereka hanya untuk hidup didunia saja.
Pembicaraan merekapun hanya seputar pekerjaan, uang, harta benda, perabot, kendaraan dan membicarakan orang lain.

Uniknya lagi…, kebahagiaan mereka, kesedihan dan kesusahan mereka, kemarahan mereka, kekecewaan mereka,
semua terkait dengan dunia semata…!!!

Sholat sepertinya juga belum masuk kehati/jiwa dan pikirannya.
Alquran yang dibaca tak ada ruh dan hanya sekedar kejar target.
Dzikir, wirid dan do’a dilantunkan kalau ada masalah.

Saatnya kita perlu evaluasi diri…
Saatnya pula kita perlu berorientasi akhirat…

Ingat…!
Dunia ini sementara.., akhirat selamanya…!!!

JUM’AT MUBARAK…!

Ya Rahman…
Karuniai kami hidup bahagia di dunia dan bahagia hidup di akhirat…???

(@msdrehem)

Nikmatnya Awal Pagi

Renungan Dhuha,
1 RAJAB 1440 H
QS.AT-TAUBAH : 36

NIKMATNYA AWAL PAGI

Saudaraku,
Sungguh selalu ada kenikmatan yg membahagiakan pada diri dan kehidupan ini.
Coba buka mata hati, pasti kita bisa memandang dengan cinta.
Buka telinga hati, kita bisa mendengar dengan cinta.
Buka akal pikiran ini, pasti memikirkan dengan cinta.
Gerakkan lisan hati untuk menegakkan amal-amal hati…!
Lalu… tersenyumlah seindah mungkin saat sendiri dan saat didepan orang-orang tercinta.
Pasti merasakan bahagia karena iman, dan disaat yg bersamaan kita telah mencetak pahala yg membahagiakan, lalu bahagiakan lah orang-orang tercinta.
Inilah makna do’a perlindungan dari kelemahan dan kemalasan.
Benar sekali… tidak malas itu kreatif untuk selalu bahagia dan membahagiakan…!!!

JUM’AT MUBARAK…!!!
SEMANGAAAT…✊✊✊✊✊

اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان…!!

Ya Rahman…
berkahi kami di Rajab & Sya’ban ini, dan karuniai kami jumpa Ramadhan…!!

(@msdrehem)

Mewaspadai “Bahaya” Perbedaan Pendapat

Renungan Dhuha,
23 JUMADITS-TSANI 1440 H
QS.ALI IMRON : 105

MEWASPADAI “BAHAYA” PERBEDAAN PENDAPAT

Ikhwah fillah,
Perbedaan pendapat dalam masalah-masalah yang diperbolehkan kita berbeda pendapat, itu adalah sesuatu yang mubah/boleh, wajar, dan manusiawi.
Bahkan perbedaan seperti ini menjadi pembelajaran, materi musyawarah, motivasi kemajuan, dan mendekati kesempurnaan ide, pemikiran, teori dan praktek…!
Subhaanallah…!!!

Tapi ada beberapa sisi negatif dan bahaya dari perbedaan yang wajib diwaspadai dan dijauhi, antara lain :
– rasa benci dan permusuhan
– rasa ujub dan sikap takabbur
– selalu mau berbeda
– senang melihat orang yg berbeda itu sedih
– susah melihat orang yg berbeda itu bahagia
– mengharapkan bahkan mendoakan keburukan.

Hasbunallah wa ni’mal-Wakiel…
Hati-hati ya akhil-KARIEM…!!!

Ya Rahman…
Karuniai kami tawadhu’, rendah hati dan lapang dada dlm menyikapi perbedaan.

(@msdrehem)

Saling Berdoa untuk Kebaikan

Renungan Dhuha
16 JAMADITS-TSANI 1440 H
QS.AL-HASYRU : 10

Ikhwah fillah,
Sungguh berdo’a untuk kebaikan diri sendiri itu sangat mebahagiakan, karena dalam do’a itu ada keutuhan keyakinan, dan sepenuh harapan bahwa Allah akan mengabulkan..!

Akan tetapi berdo’a untuk kebaikan orang lain, terutama orang-orang tercinta, terlebih jika dengan menyebut nama-nama mereka dalam do’a…, tentu kebaikan & kebahagiaan yang dihasilkannya jauh lebih besar, karena disini ada penghayatan cinta yang suci kepada orang-orang tercinta…!

Menyebut nama-nama orang tercinta dalam do’a memang tidak mudah jika tanpa pembiasaan…!

“Sebut namaku dalam do’amu ya…”
iitulah pesan indah yang baik untuk dibiasakan…!!!

Berdo’alah ya akhil-KARIEM…,
Haqqul Yaqien…, Malaikatpun pasti mengamininya…!!!

JUM’AT MUBARAK…!

Ya Rahman,
Anugerahi kami dan slrh saudara kami akan ridho dan rahmatMU…!???

(@msdrehem)

Mindset Tertukar Antara Pengelola dan Guru Tentang Al-Quran

Banyak lembaga yang sudah sadar bahwa Sekolah Islam itu, pondasi ilmu pertama yang di berikan adalah Al-Qur’an (Baca, hafal, faham dan Akhlaq Qurani), yang lainnya adalah penjabaran dari Alquran.
Namun ternyata dalam aplikasinya masih banyak yang cara BERFIKIR NYA (mindset)) tertukar antara GURU dan PENGELOLA Lembaga Pendidikan.
Cara berfikir yang seharusnya di miliki guru, ternyata di gunakan Pengelola ( manajemen ). Dan yang seharusnya di gunakan pengelola, ternyata di pakai guru.

Misalnya:
CARA BERFIKIR GURU.
Guru seharusnya hanya berfikir bagaimana mensukseskan Al-Qur’an siswa, dia tidak perlu terlalu pusing dengan gaji. Banyak memikirkan gaji, juga tidak banyak berubah. Daripada memikirkan yang tidak berubah, lebih baik memikirkan apa yang bisa kita ubah untuk sukses, yaitu siswa kita.
Tugas guru mengupgrade diri menjadi guru Al-Qur’an terbaik bacaan, Hafalan dan cara mengajarnya. Gaji sudah ada yang mengurusi yaitu Lembaga dimna kita bekerja.
Nah cara berfikir ini sering digunakan pengelola pendidikan untuk merasionalkan tentang hak guru yang kecil yang diberikan pengelola kepada guru.
Misalnya, Pengelola mengatakan: ” jadi guru itu harus ikhlas, jangan banyak menuntut gaji. Nanti hilang ke ikhlasannya.

CARA BERFIKIR PENGELOLA:
Jika ada guru yang punya cara berfikir yang benar seperti di atas, yaitu selalu memikirkan siswa dan tidak mikirin gaji. ITU GURU SANGAT MAHAL. jangan tanya loyalitasnya dan komitmen nya? Itu sudah mendarah daging.
Lembaga harusnya paham, berapa kesejahteraan yang layak untuk GURU MAHAL ini di berikan tiap bulan.
Tugas lembaga adalah menjaga GURU MAHAL ini, betah di lembaga anda. Beri mereka kenyamanan dan kehidupan yang layak. Sangat sulit mencari GURU MAHAL tersebut.

Namun masalahnya, cara berfikir ini banyak di gunakan Guru Al-Qur’an untuk menuntut Lembaga memikirkan kenaikan kesejahteraan mereka.

Seharusnya:
Jadilah Guru Loyal yang fokus memikirkan kesuksesan siswa.
Jadilah Lembaga yang memikirkan kesejahteraan guru(tentu disesuaikan kemampuan Lembaga dan kepantasan di daerahnya)

Jangan sampai:
Lembaga nuntut loyalitas guru dengan mengecilkan kesejahteraan. dan Guru menuntut Kesejahteraan besar dengan loyalitas minim.

 

Oleh: Adhan Sanusi, Lc.