Melihat Kebaikan

Bagaimanakah perasaan kita ketika melihat kebaikan? Apakah akan bahagia ataukah akan bersedih? Lumrah manusia ketika melihat kebaikan dia akan berbahagia. Tak ada satu pun kebaikan yang membuat manusia bersedih. Namun, sangat disayangkan kebanyakan manusia lebih senang melihat kebaikan daripada berbuat kebaikan.
 
Jika dengan melihat kebaikan, kita akan merasakan kebahagiaan. Apalagi jika berbuat kebaikan tentu akan lebih lagi kebahagiaan yang akan dirasakan. Kebaikan itu indah sehingga enak untuk dipandang. Kebaikan itu pun mudah sehingga ringan untuk dilakukan.
 
Selama ini mungkin kita hanya berada pada posisi melihat kebaikan belum memasuki posisi berbuat kebaikan. Contoh mudahnya, ketika kita melihat seorang anak membuang sampah pada tempatnya. Kita akan merasakan bahagia melihat kejadian tersebut. Namun, pada diri kita kebiasaan membuang sampah tersebut belum tertanam sehingga belum bisa melakukannya laksana anak kecil yang dididik sejak dini.
 
Lihatlah kebaikan agar kita termotivasi untuk selalu berbuat baik. Dengan melihat kebaikan setidaknya menutup kemungkinan mata ini tidak melihat keburukan. Tapi, jika mata ini tak diperlihatkan pada kebaikan maka keburukanlah yang akan dilihatnya.
 
Diluar sana banyak orang berlomba-lomba berbuat kebaikan sebab mereka tahu dengan kebaikan itu mereka akan memperoleh kebahagiaan yang mereka cari selama ini. Kebahagiaan yang muncul pada kebaikan akan sangat berbeda dengan kebahagiaan yang muncul karena keburukan.
 
Kebahagiaan yang muncul karena keburukan hanya beberapa saat, tak lama kemudian kebahagiaan itu akan pergi dari keburukan. Sedangkan kebahagiaan yang muncul karena kebaikan, ia akan bertahan lama. Sebab, sahabat sejati dari kebahagiaan itu adalah kebaikan. Mereka berdua akan senantiasa bersama dan bergandengan tangan tatkala mereka menghinggapi seorang insan.
 
Kebahagiaan ada disaat kebaikan ada dan kebaikan pun ada dikala kebahagiaan ada. Begitu pula dengan keburukan, kesedihan ada dikala keburukan ada dan keburukan ada disaat kesedihan ada.
 
Kita sebagai manusia dianjurkan untuk selalu optimis untuk melakukan kebaikan karena kebaikan itulah yang akan menghantarkan manusia pada kebahagiaan. Selama ini kita tak menyadari bahwa kebahagiaan itu ada pada kebaikan. Oleh sebab, tak menyadari itu kita mencari kebahagiaan pada keburukan.
 
Setelah mencari kebahagian pada keburukan, kebahagiaan pun diperoleh sesaat, sesaat kemudian kebahagiaan kabur. Kebahagian tak akan pernah betah berlama-lama dengan keburukan. Manusia kehilangan kebahagiaan dari keburukan kemudian berbuat buruk kembali demi mendapatkan kebahagiaan, memperoleh kebahagiaan sesaat, hilang. Berbuat keburukan kembali. Berputar terus menerus hingga hari akhir.
 
Sungguh bahagia melihat orang yang berbuat kebaikan. Dengan kebaikan itu dia memperoleh kebahagiaan. Karena tahu kebaikan mendatangkan kebahagiaan kemudian dia berbuat kebaikan kembali agar kebahagiaan menghampiri kembali. Begitu terus-menerus berputar tak terhenti.
 
Kebahagiaan itu dekat. Ada di dalam diri masing-masing manusia. Dengan berbuat baik. Kebahagiaan akan muncul secara tak disadari maupun disadari.
Lihatlah kebaikan orang lain, jika diri ini belum mampu untuk berbuat kebaikan. Pada saat melihat kebaikan orang lain. Kita belajar untuk berbuat kebaikan pula agar tertular untuk berbuat kebaikan.
 
Mata ini sebagai sarana untuk memperoleh contoh yang baik dari berbuat kebaikan. Maka dari itu, kita dianjurkan untuk melihat hal-hal yang baik agar hal-hal yang baik itu akan dilakukan. Dari mata yang terbiasa melihat kebaikan, hati dan otak pun akan terprogram untuk melaksanakan kebaikan-kebaikan. Sebaliknya, jika mata ini terbiasa melihat keburukan maka keburukan pun terprogram pada otak dan hati manusia.
“Sinar yang paling berbahaya”, ucap seorang guru besar Farmasi menjelaskan “adalah sinar mata”. Dari sinar mata itulah yang akan memberikan bekas pada hati dan otak manusia.
 
Biasakanlah mata ini untuk melihat kebaikan agar bekas kebaikan itu berbekas dan lama-kelamaan akan mengendap di dalam otak dan hati sehingga endapan itu akan menggerakkan hati dan otak pemiliknya untuk berbuat kebaikan pula.
Apa yang kita lihat itulah yang sering kita lakukan. Jika kebaikan sering dilihat maka kebaikan pula yang akan diperbuat. Jika keburukan lebih banyak dilihat maka keburukan pula yang lebih sering dilakukan.
 
Kebaikankah atau keburukankah yang akan dilihat? Jika kita mengetahui bahwa kebaikan akan berujung pada kebahagiaan dan keburukan akan bermuara pada kesedihan. Tentu, kita akan memilih kebaikan. Kebaikan yang dilihat serta kebaikan yang dilakukan.
 
Tak cukup hanya sekedar melihat kebaikan. Alangkah indahnya, jika kebaikan yang dilihat kemudian dilakukan sebagai bentuk amalan ataupun rutinitas sehari-hari. Rutinitas kebaikan itulah yang akan menjadikan diri manusia bahagia melalui hari-hari dengan berbagai persoalan yang hilir mudik menyapa.
Lihatlah kebaikan sebagai wujud rasa syukur manusia yang telah dikaruniakan mata untuk dipergunakan pada hal-hal yang baik. Bukan sebaliknya, pada hal-hal yang buruk itu sama halnya mengingkari mata yang telah diberikan dengan sempurna kepada setiap manusia.
 
Bermula dari mata kebaikan masuk, kemudian perlahan-lahan akan menempel di otak dan hati. Selanjutnya, karena tempelan kebaikan itu manusia akan bergerak untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang akan memberikan kebahagiaan bagi dirinya. Kebahagiaan yang sangat diidam-idamkan oleh setiap insan yakni kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat.
 
Sumber: fimadani.com

Hidup Sederhana Hidup Bahagia

Kesederhanaan dalam hidup adalah kunci kebahagiaan yang sejati, bagaimana tidak,? orang yang sederhana adalah orang yang bisa hidup dalam kecukupan walau bagaimanapun keadaannya, sifat yang sederhana sangat tidak mungkin dimiliki bagi hedonois (penggila dunia). Logisnya banyak orang orang yang mencari kebahagiaan tapi malah menemukan petaka. mungkin karena dia tidak punya kesederhanaan.

Jika kekayaan itu bisa membuat anda bahagia tentunya orang terkaya di jerman tidak mati bunuh diri. dan jika kepintaran itu bisa membuat anda bahagia tentunya James William Sidis (orang terjenius didunia) tidak akan mati dalam kemiskinan dan kemelaratan dan sebagainya.

Bayangkan apa yang membuat Qorun di tenggelamkan dibumi, Firaun di tenggelamkan dilaut dan Tsa’labah mati dalam keadaan kufur.? penyebabnya adalah harta. secara fisik memang mereka adalah orang orang yang kaya, tapi harta tidak membuat mereka bahagia, malah cenderung mendustakan nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka, mereka hidup jauh dari kesederhanaan yang berujung pada penyiksaan.

Bukan berarti kita tidak boleh jadi orang kaya.. Tapi kita harus tahu apapun yang kita miliki didunia ini adalah sebuah titipan dari Allah, maka semua akan dimintai pertangungjawabnnya nanti diakherat. jangan menjadikan harta sebagai syarat untuk bahagia, ingatlah bahwa harta itu bisa menjadi fitnah perhatikan dalil berikut :

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda andaikan saya berdoa kepada Allah niscaya gunung itu akan berubah mejadi emas. ini menunjukkan bahwa Nabi adalah orang yang sederhana, kesederhanaan yang bisa membuat beliau selalu bahagia dan terlindung dari fitnah harta baik didunia dan diakherat.

Artinya : sesungguhnya aku dijalankan didalam surga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang miskin, dan aku diberangkatkan ke neraka maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah perempuan.

“Sederhanalah dalam kaya dan berhiaslah dalam miskin”.
Semoga kesederhanaah menjadikan kita hamba yang lebih dicintai oleh Allah. Aamin.

Semoga Bermanfaat.

Sumber : harunjy.com

Di Bawah Naungan Alquran

Dari Hudzaifah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Hendaklah kamu sekalian beredar bersama kitab Allah (Al-quran) ke mana saja ia beredar.”(HR al-Hakim).
Al-quran adalah panduan kehidupan bagi manusia. Karena itu, tidak ada satu pun sisi kehidupan kecuali Al-quran telah memberikan panduan secara lengkap, dari hal yang terkecil hingga yang terbesar. Manusia tinggal mengikuti panduan itu, pasti meraih kesuksesan dan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan di akhirat.

Hidup di bawah naungan Al-quran akan mendapatkan banyak keuntungan dan melahirkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Antara lain, pertama, hidup menjadi terbimbing. Meski orang itu pandai, belum tentu mampu membedakan mana hal yang hak dan yang batil. Kemampuan membedakan itu sangat penting untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

Allah SWT berfirman, “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”(QS al-Baqarah [2]: 185).

Kedua, mampu mengatasi segala persoalan. Hidup ini tidak pernah lepas dari persoalan, jika Al-quran dijadikan sebagai panduan hidup maka mengantarkan manusia menjadi takwa dan ketakwaan akan membuatnya mampu mengatasi segala persoalan hidup (QS ath-Thalaq [65]: 4).

Ketiga, kehidupan menjadi bersih. Manusia lahir dalam keadaan bersih (suci), tetapi jika tanpa panduan Al-quran, kehidupan manusia menjadi kotor jiwanya, pikirannya, dan perbuatannya (QS al-A’raaf [7]: 96).

Sebaliknya, jika hidup yang jauh dari Al-quran akan berakibat buruk. Antara lain, pertama, bencana moral. Apabila manusia tidak berpedoman kepada Al-quran maka akan cenderung memperturuti hawa nafsunya. Jika manusia yang berlaku demikian, tentu akan terjadi bencana moral. Kedua, bencana fisik. Hal itu diungkapkan Allah dalam surah Al-Araaf ayat 98, “Akan tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami azab mereka akibat kedustaan mereka.”

Ketiga, bencana ekonomi. Ke empat, bencana sosial. Jika manusia jauh dari Al-quran, hubungan persaudaraan akan rapuh. Hubungan dengan tetangga akan retak, hubungan sosial akan menjadi rusak. Itu merupakan bibit perpecahan umat, bahkan perpecahan bangsa. Jika hal itu terjadi maka akan berakibat pada bencana sosial bagi manusia. Kelima, bencana keimanan. Kerusakan iman akan menjadi sasaran akhir jauhnya manusia dari Alquran. Semoga Allah membimbing kita agar tetap berada dalam naungan Al-quran.

Oleh: Imam Nur Suharno

sumber : republika.co.id

Ini Alasan Sayyidina Khalid, Apa Alasan Kita?

Dikisahkan bahwa, sahabat agung yang berjuluk “saifullah al-maslul” (pedang Allah yang terhunus), Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu,  dulu setiap kali mengambil Mushaf Al-Qur’an untuk membacanya, beliau selalu menangis seraya berkata: Kami telah tersibukkan darimu (wahai Al-Qur’an) oleh jihad! Nah, jika sang panglima jihad islami sepanjang sejarah senantiasa menangis dengan penuh rasa bersalah karena, menurut beliau, kurang banyak membaca Kitabullah, dengan alasan syar’i yang demikian indah, mulia dan agung, yakni kesibukan beliau dalam berjihad fi sabilillah, yang tak lain adalah dalam rangka memperjuangkan dan membela ajaran serta nilai-nilai Al-Qur’an itu sendiri, maka apa kira-kira alasan logis kita ketika selama ini bersikap justru seolah-olah tengah “berseteru” dengan Kalamullah dengan begitu jarangnya kita “menyapanya”? Dan apakah kita juga menangis karenanya, seperti sahabat Khalid radhiyallahu ‘anhu dulu menangis? Mari bertobat dan beristighfar..! Lanjutkan membaca

Bagaimana Berinteraksi Dengan Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Alif laam miin; Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; sebagai petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah: 1-2).  “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).” (QS.Al-Baqarah: 185). “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran)” (QS. An-Nisaa’: 174).  “Dan Kami turunkan Al-Qur’an sebagai penawar (penyembuhan) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian”. (QS Al-Isra’ : 82). “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir”. (QS Al-Hasyr : 21). “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran (diingat dan dipahami), maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran (mempelajari dan memahami)” (QS. Al-Qamar: 17, 22, 32 dan 40). “Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan” (QS. Al-Furqaan: 30). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ” (رواه مسلم عن عمر بن الخطّاب رضي الله عنه). ”Sesungguhnya Allah meninggikan dengan Al-Qur’an ini derajat kaum-kaum tertentu (karena berinteraksi dengannya secara baik), dan merendahkan dengannya pula derajat kaum-kaum yang lain lagi (karena mengabaikan, menjauhi dan meninggalkannya)” (HR.Muslim dari Umar bin Al-Khatthab ra.). Lanjutkan membaca

Urgensi Tilawah Al-Qur’an dan Adab-adabnya

  • “Berkatalah Rasul : ‘Ya Rabbi, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan (sesuatu yang diabaikan)”. (QS Al-Furqan : 30)
  • “Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada Kehidupan Akhirat, suatu dinding yang tertutup”. (QS Al-Isra’ : 45)
  • “Dan Kami turunkan Al-Qur’an sebagai penawar (penyembuhan) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian”. (QS Al-Isra’ : 82)
  • “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir”. (QS Al-Hasyr : 21)
  • ‘Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada Hari Qiyamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya”. (HR Muslim)
  • “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir akan bersama para malaikat mulia. Adapun orang yang membaca Al-Qur’an secara terbata-bata serta berat dalam membacanya, maka ia akan mendapatkan dua pahala “. (HR Al-Bukhari dan Muslim)
  • “Barangsiapa membaca satu huruf Al-Qur’an, ia akan mendapatkan satu amal kebajikan yang akan dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali. Aku tidak mengatakan : Alif Laam Miim adalah satu huruf, namun (yang aku maksud) ialah : ‘Alif  satu huruf, Laam satu huruf, dan Miim satu huruf”. (HR At-Tirmidzi)
  • “Utsman bin Affan dan Hudzifah bin Yaman berkata : ‘Sekiranya hati-hati kita bersih dan suci, niscaya tidak akan pernah merasa kenyang dari membaca Al-Qur’an”.

URGENSI TILAWAH AL-QUR’AN

  1. Tilawah Al-Qur’an adalah salah satu ibadah istimewa dengan pahala yang berlipat-lipat.
  2. Ia adalah salah satu bentuk dzikir terbaik.
  3. Sebagai sarana pembentengan, penjagaan, perlindungan dan pembimbing diri.
  4. Sebagai ruqyah (terapi pengobatan dan penyembuhan).
  5. Sebagai senjata melawan syetan.
  6. Sebagai sarana untuk mendapatkan ketenangan, kekhusyukan, rahmat, dan sebagainya.
  7. Sarana tadabbur untuk memahami kandungan Al-Qur’an dan hukum syari’ah.
  8. Sarana penguat iman.
  9. Sarana pengontrol dan penjaga lidah dan mulut.
  10. Sarana untuk memperoleh syafa’at Al-Qur’an pada Hari Qiyamat.
  11. Salah satu faktor penentu derajat seseorang disisi Allah (pada Hari Qiyamat).
  12. Dan sebagainya.

ADAB-ADAB TILAWAH AL-QUR’AN

  1. Memilih waktu terbaik, cocok dan kondusif bagi kesempurnaan tilawah seperti (secara berurutan) : pada sepertiga malam terakhir (khususnya dalam sholat), lalu tilawah pada waktu malam secara umum, lalu tilawah waktu fajar, lalu tilawah pagi hari, lalu tilawah pada waktu-waktu lain siang hari.
  2. Memilih tempat yang sesuai dan lebih kondusif seperti masjid atau tempat di rumah atau dimana saja yang tenang dan jauh dari gangguan, kebisingan dan kegaduhan.
  3. Memilih keadaan diri dan posisi duduk yang menampakkan kekhusyukan dan penghormatan terhadap firman Allah, misalnya berpakaian lengkap seperti dalam sholat, duduk seperti duduk tasyahhud seraya menghadap kiblat, dan lain-lain.
  4. Berada dalam kondisi fisik yang bersih dan suci dari hadats besar dan juga diutamakan bersih dan suci dari hadats kecil pula.
  5. Berusaha menjaga kebersihan dan kesucian diri dari dosa, kemaksiatan dan kemunkaran, seperti kemaksiatan-kemaksiatan hati, lisan, mata, telinga, dan lain-lain.
  6. Menghadirkan niat ibadah, keikhlasan yang sempurna, kekhusyukan hati dan sikap tajarrud (totalitas) dalam ber-ta’amul(berinteraksi) dengan Kalamullah, serta menjauhkan pikiran dan perasaan dari hal-hal yang mengganggu dan meyibukkan.
  7. Memulai tilawah dengan bacaan isti’adzah atau ta’awwudz sesuai firman Allah dalam QS An-Nahl : 98 ; dan mengawali setiap bacaan permulaan surah (kecuali Surah At-Taubah) dengan basmalah.
  8. Menangis atau berusaha menangis khususnya ketika membaca ayat-ayat tentang adzab, Hari Qiyamat dan yang semakna dengan itu.
  9. Menunjukkan sikap pengagungan terhadap Allah Ta’ala dan menghadirkan kesadaran sedang berhadapan dengan Firman Suci Dzat Yang Maha Suci dan Agung ! Serta berusaha membaca dengan penuh perasaan, pemahaman dan tadabbur, sesuai dengan topik dan tema ayat-ayat yang dibaca. Disamping juga merasa seakan-akan ayat-ayat tersebut hanya ditujukan kepadanya.
  10. Berusaha membaca dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid, makhraj dan tilawah.
  11. Bagi yang mendengarkan tilawah, juga harus memperhatikan adab-adab dan hal-hal diatas, disamping harus diam, mendengarkan dan memperhatikan dengan baik sesuai perintah Allah dalam QS Al-A’raf : 204.

Oleh : KH. Ahmad Mudzoffar Jufri, MA (Pembina Metode Otak Kanan Wafa)