Praktik pendekatan metode otak kanan melalui nyanyian dan gerakan tangan bersama siswa-siswi Muhammadiyah 1 Malang

“Anak Muda Hari Ini Butuh Al-Qur’an”: Spirit Qur’an di SMA dan SMP Muhammadiyah 1 Malang bersama Metode WAFA

Sekitar 70 pelajar SMP dan SMA Muhammadiyah 1 Malang berkumpul di masjid sekolah di sela kegiatan Munaqosyah pada Kamis, 8 Mei 2026,  pagi itu. Siswa yang tidak mengikuti ujian diarahkan ke masjid untuk mengikuti Kajian Motivasi bertajuk Spirit Qur’an yang dibawakan langsung oleh Ustadz Ali, salah satu trainer WAFA Indonesia.

Ustadz Ali membuka sesi bukan dengan ayat atau ceramah panjang, melainkan dengan pertanyaan langsung kepada peserta. Siapa yang sering merasa galau? Siapa yang sering overthinking hingga sulit tidur? Siapa yang pernah merasa kesepian meski sedang di tengah keramaian? Hampir seluruh tangan di ruangan terangkat.

Bagi Ustadz Ali, itulah pintu masuk yang sesungguhnya. Ia menegaskan bahwa semua perasaan itu bukan tanda kelemahan.

“Semua tidak salah. Semua tidak jahat. Tapi semua itu terjadi karena kita jauh dari sesuatu yang sesungguhnya kita butuhkan,” ujar Ustadz Ali sebagai motivasi pembuka.

Dari sana ia membangun satu argumen yang sederhana namun menohok, yaitu “kegelisahan anak muda hari ini bukan karena kurangnya hiburan atau stimulasi, justru semua itu sudah berlebihan. Kedekatan dengan Al-Qur’an lah yang hilang”

“Yang mencintakan hati kita adalah Allah. Yang memiliki hati kita adalah Allah. Dan hati itu hanya bisa benar-benar tenang ketika ia dekat dengan penciptanya, dekat dengan Allah.”

Metode Otak Kanan WAFA: Bukan Ceramah tapi Pengalaman

Sesi kajian ini dengan kajian konvensional berbeda dari segi metode penyampaiannya. Kajian ini menggunakan praktik metode otak kanan, pendekatan khas WAFA Indonesia yang dirancang agar belajar Al-Qur’an terasa mudah dan menyenangkan.

Sepanjang sesi, peserta tidak sekadar duduk dan menyimak. Mereka diajak bernyanyi dengan angka, melakukan gerakan tangan, hingga menjawab tebak-tebakan. Semua dirancang untuk mengaktifkan otak kanan secara bersamaan.

Ustadz Ali telah menjelaskan logika di baliknya, yaitu otak kanan diaktifkan oleh gerak, visual, warna, nada, irama, dan rasa. Berbeda dengan otak kiri yang bekerja secara logis dan serius, otak kanan adalah pintu menuju memori jangka panjang. Metode ini juga mengakomodir tiga tipe modalitas belajar sekaligus:

  • Visual: penampilan trainer yang terstandar rapi
  • Auditori: variasi intonasi suara sepanjang sesi
  • Kinestetik: gerakan fisik dan aktivitas aktif selama sesi

“Kalau otak kiri saja bisa, maka dengan dukungan otak kanan itu jauh akan lebih optimal. Singkatnya, kalau kita namakan otak kanan berarti mudah dan menyenangkan,” jelas Ustadz Ali dalam wawancara kami pada 8 Mei 2026.

Terdapat satu prinsip yang tidak pernah dikompromikan sebelum sesi dimulai, yaitu kondisi peserta harus baik dulu.

Ustadz Ali melanjutkan, “kita tidak akan pernah mulai pelatihan sebelum melihat kondisi pesertanya baik-baik saja. Sebelum pesertanya bahagia. Nah itu kuncinya.”

Refleksi Satu Kata dan Satu Jawaban yang Sama

Menjelang akhir sesi, Ustadz Ali memimpin latihan refleks. Peserta diminta memejamkan mata untuk merenungkan perjalanan hidup mereka, lalu merangkumnya dalam satu kata. Jawaban yang muncul sangat beragam, ada yang menjawab lelah, berat, sedih, jatuh, dan berwarna.

Tidak satu pun dihakimi. Ustadz Ali justru menggunakannya sebagai jembatan. Sambil tersenyum Ustadz Ali berkata,

“sebetulnya yang kurang dari diri kita bukan materi dunia. Dunia itu sudah ada. Kebahagiaan kita tidak ditentukan oleh dunia. Yang kurang adalah kedekatan kita dengan Al-Qur’an.”

Ia mengajak siswa untuk mendengarkan lantunan Al-Qur’an. Ketika bertanya apa yang dirasakan setelahnya, hampir serempak peserta menjawab satu kata “tenang”. Bagi WAFA, momen seperti inilah yang menjadi inti dari seluruh metode, bukan sekadar hafalan, melainkan pengalaman nyata yang dirasakan sendiri oleh peserta.

Harapan Untuk Generasi Qur’ani

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melahirkan generasi Qurani dan ahli Al-Qur’an, sejalan dengan cita-cita WAFA dalam membentuk insan yang mampu membangun peradaban masyarakat dan bangsa Indonesia melalui nilai-nilai Al-Qur’an. Fokus yang dibangun tidak hanya pada kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga pada pembentukan pribadi Qurani yang tercermin dalam akhlak dan perilaku sehari-hari.

Mengapa harus sekarang? Jawabannya singkat:

“Bukan berarti kalau nanti itu terlambat tapi lebih awal itu lebih baik,” tutup Ustadz Ali. 

 

Informasi lebih lanjut tentang program pelatihan Al-Qur’an bersama WAFA Indonesia:

📞  +62 811 3058 9310     🌐  wafaindonesia.or.id

Dok. Wafa - LAZ Amalyakin

Wafa dan LAZ Amal Yaqin Salurkan Qurban Guru Al-Qur’an

SURABAYA — Wafa Indonesia bersama LAZ Amal Yaqin menyalurkan hewan qurban kepada puluhan guru pengajar Al-Qur’an dan masjid di tiga wilayah Jawa Timur pada perayaan Idul Adha, Juni 2026. Program distribusi strategis yang menyasar wilayah Sidoarjo, Surabaya Timur, dan Lamongan ini sukses terlaksana demi memuliakan para pejuang dakwah Islam.

Pada tahun ini, sinergi kebaikan antara Wafa dan LAZ Amal Yaqin difokuskan untuk mengapresiasi para guru ngaji. Distribusi dilakukan secara langsung dengan mengantarkan paket daging qurban ke rumah masing-masing guru pengajar Al-Qur’an. Selain itu, hewan qurban berupa kambing juga disalurkan ke lima titik ibadah, meliputi tiga tempat di Surabaya Timur, satu masjid di Sidoarjo, dan satu masjid di Lamongan.

Langkah kolaboratif ini menghadirkan kebahagiaan mendalam bagi orang-orang sekitar, terutama para guru ngaji Al-Qur’an yang menjadi target utama distribusi. Berdasarkan pantauan panitia di lapangan, para penerima manfaat merasa sangat senang atas perhatian yang diberikan melalui program ini.

Melihat antusiasme tersebut, panitia pelaksana menyampaikan harapan besar untuk keberlanjutan program ini di masa mendatang.

Mereka para guru ngaji al-quran merasa sangat senang menerima penyaluran ini. Harapannya, semoga di tahun depan hewan qurban yang bisa kita himpun dan salurkan jumlahnya bisa lebih banyak lagi,” ungkap panitia yang bertugas saat diwawancarai.

Meskipun berjalan lancar, pihak penyelenggara mencatat beberapa hambatan operasional, khususnya dalam hal teknis pengawasan di tiga titik wilayah yang berjauhan. Untuk mengatasinya, Wafa dan LAZ Amal Yaqin berkomitmen untuk mengadakan program volunteer atau relawan pada pelaksanaan berikutnya agar proses pengontrolan distribusi menjadi lebih mudah dan efektif.

Melihat dampak nyata dan besarnya penerimaan masyarakat sekitar, kegiatan ini dipastikan akan menjadi program rutin Wafa. Respons hangat dari warga menjadi bukti pentingnya sinergi dalam menghadirkan kepedulian bagi para penjaga ayat-ayat Allah.

Saat ini, jangkauan distribusi program qurban ini baru menyentuh wilayah Jawa saja. Oleh karena itu, Wafa menitipkan pesan penting mengenai pentingnya membangun kolaborasi yang jauh lebih kuat lagi ke depannya. Dengan kemitraan yang semakin solid, diharapkan akan ada lebih banyak masyarakat yang tergerak untuk berqurban, sehingga sebaran manfaatnya bisa meluas ke berbagai daerah di luar pulau Jawa.

Mari perkuat barisan kebaikan dan ambil bagian dalam memuliakan para guru Al-Qur’an. Salurkan qurban dan kepedulian terbaik Anda melalui program rutin Wafa Indonesia sekarang juga!

Untuk informasi lebih lanjut mengenai program qurban dan kolaborasi kebaikan lainnya, Anda dapat menghubungi layanan informasi Wafa Indonesia melalui nomor telepon +62 811-3058-9310 atau mengunjungi situs resmi kami di wafaindonesia.or.id.

Apa Itu Munaqosyah? Tes Ahli Al-Qur’an dengan Metode Otak Kanan bersama Wafa Indonesia

Dalam dunia pendidikan Al-Qur’an, istilah munaqosyah mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Padahal, bagi lembaga dan praktisi pembelajaran Al-Qur’an, munaqosyah adalah gerbang penting untuk mengukur keberhasilan siswa dalam menguasai materi yang dipelajarkan.

Lalu, apa sebenarnya munaqosyah? Bagaimana pelaksanaannya, dan mengapa program ini menjadi bagian penting dari sistem manajemen mutu pembelajaran Al-Qur’an?

Apa Itu Munaqosyah?

Munaqosyah merupakan program penilaian kemampuan siswa di akhir pembelajaran. Program ini dirancang sebagai alat ukur untuk mengevaluasi ketercapaian hasil belajar yang telah dilaksanakan oleh suatu lembaga pendidikan. Secara lebih rinci, munaqosyah adalah program penilaian yang diselenggarakan pada jenjang akhir pembelajaran Al-Qur’an. Program ini dirancang khusus sebagai alat ukur pemahaman peserta secara objektif dan sistematis, guna mengevaluasi sejauh mana ketercapaian hasil belajar dalam pendidikan Al-Qur’an. Dengan kata lain, munaqosyah memang ditujukan sebagai program penilaian yang ditempatkan di penghujung perjalanan belajar Al-Qur’an.

Bedanya Metode Otak Kanan dengan Metode Biasa

Dalam pelaksanaannya, munaqosyah Wafa Indonesia menggunakan metode otak kanan, berbeda dengan metode yang umum seperti menghafal saja.

Biasanya metode konvensional yang cenderung mengandalkan hafalan dari otak kiri yang berfokus pada repetisi (pengulangan), metode otak kanan justru memanfaatkan imajinasi, emosi, dan keterkaitan makna. Dalam metode otak kanan, proses belajar tidak dilakukan dengan menghafal mati-matian. Sebaliknya, informasi “diserap” secara alami melalui pengalaman yang melibatkan perasaan dan kreativitas seperti misalnya mendengarkan lagu. Inilah mengapa anak-anak lebih cepat hafal dan tidak mudah lupa  karena Al-Qur’an dikenalkan dengan cara yang menyenangkan, seperti bernyanyi, bergerak, dan menggambar.

Sumber: https://ganeshaoperation.com/blog/post/menggali-potensi-otak-melalui-revolusi-belajar
Sumber: ganeshaoperation.com

 

Metode mengaji dengan otak kanan menggunakan metode ini lebih berfokus pada memadukan konsep utama:

  • Kinestetik (Gerakan, dalam mengenali symbol Al-Qur’an)
  • Auditori (pendengaran, terutama nada/lagu)
  • Visual (penglihatan, menulis ayat Al-Qur’an)

Hasilnya? Anak-anak lebih cepat hafal dan bisa lebih lama mengingat ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka tidak mudah lupa karena hafalan “menempel” melalui pengalaman yang menyenangkan, dengan memanfaatkan metode otak kanan .

Salah satu peserta munaqosyah, Mavi dari SMA Muhammadiyah 1 Malang, berbagi pengalamannya menggunakan metode Wafa.

“Pakai metode Wafa itu lebih mudah, karena belajarnya pakai nada. Kayak dikasih lagu gitu, jadi dari aku sendiri hafalannya jadi cepet nempel. Aku dulu suka lupa, sekarang munaqosyah malah serasa senandung lagu”

Kutipan ini menggambarkan bagaimana pendekatan nada dan irama dalam metode otak kanan mampu mengubah suasana ujian yang biasanya menegangkan menjadi lebih santai dan menyenangkan.

Wafa Indonesia Targetkan Lahirkan Ahli Al-Qur’an di Setiap Daerah

Selain metode yang unik, Wafa Indonesia juga memberikan fleksibilitas pelaksanaan. Munaqosyah dapat diikuti secara online maupun offline (tatap muka langsung). Hal ini memudahkan lembaga di berbagai daerah untuk tetap mengakses ujian kelulusan Al-Qur’an dengan standar yang sama.

Munaqosyah bukan sekadar ujian kenaikan. Ia adalah perayaan pencapaian belajar Al-Qur’an dengan pendekatan yang hangat, manusiawi, dan terbukti efektif. Dengan metode otak kanan yang memadukan nada, gerak, dan gambar, menjadikan  anak-anak tidak hanya lulus ujian, tetapi juga mencintai prosesnya dengan melakukan pendekatan yang memang berfokus pada kretivitas.

Pelaksanaan Munaqosyah Di SMA Muhammadiyah 1 Malang

Sumber: Dokumen pribadi
Sumber: Dokumen pribadi

 

Di balik pelaksanaan Munaqosyah yang baru-baru ini digelar pada 8 Mei 2026, SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang, terdapat cerita yang menarik, Ustadz Wawan, salah satu penguji Wafa Indonesia, mengungkapkan visinya yang tak hanya berhenti pada ujian kelulusan.

Menurut Ustadz Wawan, pada hari pelaksanaan terdapat dua jenis ujian dengan level berbeda. Untuk level siswa, materi yang diujikan dirancang lebih sederhana dan ramah bagi peserta.

Materi Ujian Level Siswa

Para siswa hanya diuji pada bacaan Al-Qur’an yang diambil dari juz 4. Adapun teori yang masuk adalah seputar ghorib. Untuk tajwid, ujian diberikan dalam bentuk pilihan ganda tertulis, bukan lisan. Hal ini sengaja dilakukan untuk memudahkan siswa. Selain itu, ada juga ujian imlah atau menulis Arab yang menjadi bagian penilaian.

Meskipun terbilang lebih santai, Ustadz Wawan menegaskan bahwa siswa tetap harus belajar dan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.

Persiapan 4 Bulan yang Luar Biasa

Yang menarik, persiapan menuju munaqosyah kali ini hanya berlangsung selama 4 bulan. Meskipun terbilang singkat, hasil yang ditampilkan para siswa sangat luar biasa. Ustadz Wawan mengakui bahwa biasanya lembaga lain membutuhkan waktu 1 hingga 2 tahun untuk mencapai level yang sama.

Keberhasilan ini tidak lepas dari pendampingan yang tepat. Para guru pendamping ternyata sudah memahami standar Wafa Indonesia dengan baik. Sehingga proses belajar mengajar berlangsung efektif. Semangat dari murid dan guru juga menjadi faktor utama dibalik capaian ini.

“Kebetulan ini kan pengalaman pertama sekolah ini. Karena baru Januari kemarin baru pakai. Tapi sudah sangat luar biasa. Jadi memang mengejarnya itu baru 4 bulan ini. Masya Allah. Bisa munaqosyah. Luar biasa. Biasanya kalau lembaga lain butuh waktu 1 tahun, 2 tahun. Yang membuat Ustadz kaget, ini baru 4 bulan, tapi rasanya sudah seperti sudah lumayan lama.”  –  Ust Wawan Fitriono, S. Pd. I., Master Trainer Wafa Indonesia

Harapan ke Depan

Sumber: dokumen pribadi
Sumber: dokumen pribadi

 

Di penghujung wawancara, Ustadz Wawan menyampaikan harapannya. Ia ingin cita-cita Wafa untuk membangun peradaban masyarakat melalui lahirnya para ahli Al-Qur’an benar-benar terwujud. Ia berharap lembaga-lembaga di Malang khususnya bisa berkolaborasi lebih erat. Lebih jauh lagi, ia mengupayakan agar setiap daerah memiliki tim penggerak sendiri yang bergerak tanpa harus menunggu perintah, sehingga ketika tim Wafa datang, semuanya sudah siap.

“Harapan saya, seiring dengan ini ya cita-cita Wafa. Di Wafa ini kan ingin membangun peradaban masyarakat kita. Visi besar kita itu kan ingin melahirkan Al-Qur’an. Kami sedang mengupayakan gimana caranya supaya di setiap daerah itu ada tim yang tanpa kita suruh, mereka sudah bergerak sendiri, sibuk sendiri, mencari inspirasi sendiri. Sehingga tinggal Ustadz, kami siap untuk ke sini. Mungkin nanti di lain waktu Ustadz kembali. Insyaallah” – Ust Wawan Fitriono, S. Pd. I., Master Trainer Wafa Indonesia

Informasi lebih lanjut tentang program pelatihan Al-Qur’an bersama WAFA Indonesia:

📞  +62 811 3058 9310 🌐  wafaindonesia.or.id

 

 

 

Pamflet program Choaching Clinic bersama Ustadz Wildan

Dari Pelatihan ke Pendampingan: Menyelami Peran Coaching Clinic dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran

Jangan menunggu ada masalah baru ada coaching.Kalimat itu disampaikan Ustadz Wildan selaku trainer Coaching Clinic saat menjelaskan alasan hadirnya program tersebut bagi lembaga mitra Wafa.

Setelah pelatihan selesai, tantangan di lapangan justru sering baru mulai terasa. Tidak semua capaian pembelajaran langsung tuntas, tidak semua standar penilaian berjalan seragam, dan tidak semua guru punya ruang untuk mengecek kembali praktik mengajarnya. Melihat kebutuhan itu, WAFA menghadirkan Coaching Clinic sebagai program pendampingan pasca-pelatihan bagi lembaga mitra agar mutu pembelajaran tetap terjaga secara berkelanjutan.

Menurut Ustadz Wildan, Coaching Clinic merupakan program kemitraan yang dirancang untuk membantu guru dan lembaga mitra menjaga kualitas pembelajaran setelah mengikuti pelatihan. Program ini hadir bukan untuk menggantikan pelatihan, melainkan menjadi ruang penguatan agar praktik di kelas tetap berjalan sesuai tujuan pembelajaran.

“Mana yang belum sempurna kita sempurnakan, mana yang belum optimal kita optimalkan,” ujar Ustadz Wildan saat menjelaskan pentingnya pendampingan setelah pelatihan.

Kebutuhan terhadap pendampingan ini muncul karena di lapangan masih ditemukan berbagai kendala, mulai dari target pembelajaran yang belum selesai hingga standar penilaian yang belum sinkron antar guru. Dalam proses evaluasi yang dilakukan, tim menemukan bahwa guru bisa memberikan hasil penilaian yang berbeda pada kemampuan siswa yang sama, meskipun sebelumnya sudah mengikuti pelatihan.

“Kita coba tanya, ini nilainya A, B, atau C? Ada yang jawab A, ada yang jawab B, ada yang jawab C. Berarti ada standar yang belum sinkron,” ungkap Ustadz Wildan.

Karena itu Coaching Clinic tidak hanya berfokus pada materi, tetapi juga pada proses refleksi dan pengawalan pembelajaran. Berbeda dengan pelatihan yang lebih menitikberatkan pada teknis dan metodologi, Coaching justru berjalan melalui proses dialog dan pertanyaan yang membantu guru menemukan solusi dari tantangan yang mereka hadapi sendiri.

“Coaching itu bukan konsultan yang sifatnya mengarahkan. Coaching itu bertanya lebih gimana goal-nya, realitanya bagaimana, apa yang perlu diperbaiki,” tutur beliau.

Dalam tahap uji coba yang sedang berjalan, proses observasi dilakukan melalui rekaman video pembelajaran dan penilaian. Dari hasil rekaman itu, peserta akan mendapat umpan balik untuk melihat bagian mana yang perlu diperbaiki dan mana yang sudah sesuai standar.

Program ini difokuskan pada pengajaran dan penilaian karena dua hal tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam pembelajaran Al-Qur’an. Guru diharapkan tidak hanya mampu menyampaikan materi, tetapi juga memastikan keterampilan siswa benar-benar terbentuk melalui proses belajar yang tepat.

“Yang paling pokok itu proses pengajarannya, proses transfer ilmunya, dan juga proses penilaian,” kata Ustadz Wildan.

Coaching Clinic sendiri masih berjalan dalam tahap uji coba dengan jumlah peserta terbatas dan pendampingan berkala setiap pekan. Meski demikian, respons dari lembaga mitra cukup positif. Sebelumnya, program pendampingan serupa juga diikuti oleh beberapa lembaga sekaligus dalam satu yayasan.

Menurut Ustadz Wildan, pendampingan seperti ini penting agar semangat guru setelah pelatihan tidak berhenti begitu saja ketika kembali ke kelas. Melalui proses supervisi dan Coaching yang lebih terarah, lembaga diharapkan dapat menjaga kualitas pembelajaran secara lebih konsisten dan berkelanjutan sehingga mampu melahirkan generasi Qur’ani yang cinta Al-Qur’an.

📞  +62 811 3058 9310     🌐  wafaindonesia.or.id

Banyak Ilmu, Bahagia, Tawa, serta Air Mata: Ketika Orang Tua Ikut Belajar

Banyak orang tua merasa sudah melakukan yang terbaik untuk anaknya. Sudah menyekolahkan di tempat yang baik, sudah mendaftarkan ke lembaga Al-Qur’an, bahkan rela mengeluarkan biaya lebih agar anak mendapat kualitas belajar yang layak. Tapi ada satu hal yang sering luput — peran orang tua itu sendiri dalam proses tumbuhnya anak.

Inilah yang menjadi salah satu catatan paling berkesan dari rangkaian Roadshow Wafa Indonesia di Sulawesi Selatan, yang berlangsung pada 17–26 April 2026.

Dari Hotel Harper hingga TPQ di Bulukumba

Pada 11 April 2026, SIT Ar-Rahmah Makassar menggelar Quranic Parenting bertema “Melangkah Lebih Dekat: Membersamai Anak dengan Al-Qur’an” di Hotel Harper Makassar. Acara yang awalnya ditargetkan untuk sekitar 700 peserta itu dihadiri lebih dari 800 orang — termasuk peserta yang sengaja datang dari Parepare dan berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Roadshow Wafa Indonesia di Sulawesi Selatan yang berlangsung sepanjang 17–26 April 2026, menyambangi Pangkep, Parepare, Makassar, Maros, dan Bulukumba. Di setiap titik, selain pelatihan guru dan munaqosyah siswa, Wafa selalu membuka satu sesi khusus untuk wali murid: seminar Quranic Parenting.

Narasumber yang hadir di setiap sesi adalah Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd., Master Trainer Wafa Indonesia dari Surabaya.

Ilmu, Tawa, dan Air Mata

Banyak orang tua hadir tanpa ekspektasi besar. Ada yang mengira acara ini sekadar seremoni penerimaan laporan hasil belajar anak. Ada yang datang hanya karena diajak.

Yang terjadi di dalam ruangan sama sekali berbeda.

Sumber: IG @sditarrahmah

Ustadz Dody membuka sesuatu yang selama ini jarang disentuh dalam forum pendidikan: luka-luka yang orang tua bawa dari masa lalu, dan bagaimana luka itu — tanpa disadari — ikut masuk ke dalam cara mereka mendidik anak.

Bagaimana mungkin orang tua yang terjebak dengan luka-luka masa lalu bisa mendidik anak-anaknya dengan utuh?

Pertanyaan itu bukan tuduhan. Ia adalah undangan untuk jujur. Dan orang-orang di ruangan itu, satu per satu, mulai membuka diri.

Ada yang terdiam panjang. Ada yang menangis pelan. Ada bapak-bapak yang sejak tadi terlihat tenang, tiba-tiba tidak bisa lagi menahan air matanya. Suasana yang terbangun bukan suasana seminar — ia lebih menyerupai ruang untuk pulang.

 

Bukan Tentang Anak Saja

Satu hal yang membuat sesi ini berbeda dari parenting pada umumnya: materinya tidak berhenti pada cara menghadapi anak. Ia berbalik — mengajak orang tua melihat ke dalam diri sendiri lebih dahulu.

Sumber: IG @sditarrahmah

Bagaimana mungkin orang tua yang tidak mencintai dirinya sendiri bisa mencintai anak-anaknya?

Setiap anak, kata Ustadz Dody, lahir dengan potensinya masing-masing. Tugas orang tua bukan membandingkan, melainkan menemukenali dan merayakannya. Konflik yang sering terjadi di rumah bukan karena kurangnya cinta — melainkan karena cinta yang sangat besar, namun tidak terkomunikasikan dengan cara yang tepat.

Dan ketika kesadaran itu datang, yang tersisa hanyalah rasa syukur.

Ketika rasa syukur orang tua lebih besar dari tuntutannya kepada anak, potensi terbaik anak akan keluar dengan sendirinya.

Salah satu peserta menuliskan pengalamannya setelah acara:

“Ekspektasinya cuma dikasih hasil belajar anak SD, ternyata malah kena ke diri sendiri. Kukira nasihatnya tentang jadi orang tua, ternyata tentang jadi anak juga.”

Yang lain menuliskan lebih singkat, tapi tidak kalah dalam:

“Banyak ilmu, banyak bahagia, banyak tawa, banyak juga air mata.”

Bahkan setelah acara selesai, peserta masih belum bisa ‘move on’. Salah satu peserta menulis di media sosial: “Masya Allah, luar biasa — belum bisa move on dari acara parenting kemarin.”

Pemandangan Paling Indah

Ada satu kalimat yang Ustadz Dody sampaikan di penghujung sesi, dan rupanya paling lama tinggal di hati para peserta:

Tidak satu pun pemandangan di dunia ini yang mampu mengalahkan keindahan saat ayah dan ibu menyaksikan langsung anaknya taat kepada Allah.

Kalimat itu berbicara tentang tujuan. Bukan tentang nilai, bukan tentang prestasi, bukan tentang perbandingan dengan anak tetangga. Melainkan tentang satu momen yang tidak bisa dibeli: melihat anak yang tumbuh dekat dengan Al-Qur’an, dan menyadari bahwa kita ikut andil di dalamnya.

Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd. menutupnya dengan sebuah pengingat yang hangat:

“Harta yang paling berharga bukanlah sekadar materi atau piala, melainkan waktu yang dihabiskan bersama anak dalam ketaatan kepada Allah.”

— Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd., Master Trainer Wafa Indonesia

Pendidikan yang Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Pengalaman di lapangan menunjukkan sesuatu yang sederhana namun sering dilupakan: pendidikan yang kuat tidak tumbuh hanya dari satu arah. Guru bisa mengajar sebaik mungkin, metode bisa secanggih apa pun — tapi tanpa keterlibatan orang tua, hasilnya tidak akan pernah utuh.

Sebaliknya, ketika orang tua ikut belajar, ikut memahami, dan ikut hadir — sesuatu yang berbeda mulai tumbuh. Bukan hanya pada anak, tetapi juga pada diri mereka sendiri.

Karena dari rumah, semuanya dimulai.

Informasi tentang program Quranic Parenting dan kemitraan Wafa Indonesia dapat diakses melalui wafaindonesia.or.id atau menghubungi tim Wafa di WhatsApp +62 811 3058 9310.

Kontributor: Anggraini Andini Ruswandi & Aqiilah Wardah Zakariyah

Sepuluh Hari di Sulawesi Selatan: Ketika Trainer Wafa Pusat Datang Langsung ke Pintu Lembaga

Ada yang berbeda dari cara Wafa Indonesia bekerja. Ketika banyak lembaga metode Al-Qur’an lain mengirimkan modul, buku panduan, atau video pelatihan — Wafa mengirimkan orangnya langsung.

Bukan sembarang orang. Trainer Wafa Pusat yang datang, menyusuri satu per satu lembaga mitra di daerah, duduk bersama guru-gurunya, mendengar perkembangan mereka, mengoreksi bacaan mereka, dan menyampaikan hal-hal yang kadang membuat ruangan menjadi hening.

Inilah yang terjadi di Sulawesi Selatan, sepanjang 16–26 April 2026.

Foto: Dokumentasi acara Upgrading Guru Al-Qur'an Wafa di RTQ Al Hanif Muta’awin, Bulukumba
Sumber: doc RTQ Al-Hanif Muta’awin, Bulukumba

Bukan Kunjungan. Ini Pendampingan.

Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd., Master Trainer Wafa Indonesia, menghabiskan lebih dari satu pekan menyambangi lembaga-lembaga mitra Wafa di Sulawesi Selatan. Mulai sekolah Islam terpadu di Pangkep, pesantren di Parepare, sekolah di Makassar dan Maros, hingga TPQ di Bulukumba — semuanya disambangi satu per satu.

Agenda di setiap titik tidak seragam — disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing lembaga. Ada lembaga yang butuh pelatihan tahsin guru, ada yang sudah siap munaqosyah siswa, ada pula yang mengundang wali murid untuk seminar parenting. Satu hal selalu sama: Ustadz Dody hadir langsung, duduk di hadapan guru-gurunya, mendengar, mengoreksi, dan mendorong.

Setiap kedatangan selalu membawa hal baru — karena para pemateri pun terus belajar dan berkembang.

Itulah yang membuat setiap pertemuan terasa hidup, bukan sekadar pengulangan materi.

 

Satu per Satu, Kota demi Kota

PANGKEP, 17–19 APRIL 2026

Perjalanan dimulai di SDS Semen Tonasa II Pangkep. Selama dua hari, dua belas guru mengikuti Pelatihan Tahsin — pertemuan lanjutan dalam rangkaian panjang pendampingan Wafa. Semangat para guru sudah baik sejak awal, dan Wafa hadir untuk terus mendorong kemampuan mereka naik ke level berikutnya. Hasilnya terlihat nyata: beberapa guru berhasil naik level secara signifikan.

Sehari setelahnya, masih di Pangkep, giliran para siswa SDIT dan SMPIT Al Fatih yang diuji. Munaqosyah bukan sekadar ujian biasa — ia adalah momen pembuktian bahwa sistem yang dibangun bersama antara Wafa dan lembaga benar-benar bekerja.

PAREPARE, 20 APRIL 2026

Di SIT Darul Qur’an Madani Parepare, hari itu berlangsung munaqosyah. Hasilnya membanggakan: seluruh santri dinyatakan lulus 100%, dengan sejumlah santri meraih predikat mumtaz.

Tapi yang paling diingat bukan angka kelulusannya. Sebuah sesi motivasi lahir secara spontan — tidak direncanakan, tidak masuk agenda — untuk para guru yang hadir. Ustadz Dody menyampaikan sesuatu yang sederhana namun menghunjam: tanggung jawab mengajarkan Al-Qur’an bukan hanya milik guru Al-Qur’an. Ia milik semua guru, semua orang dewasa di lingkungan anak.

Ruangan menjadi sunyi. Kemudian air mata mengalir di mana-mana.

MAKASSAR, 22–23 APRIL 2026

Di SIT Ibnu Sina Makassar, jadwal dibagi dua hari. Hari pertama untuk guru, hari kedua untuk siswa.

Pada hari pertama, banyak guru mengaku masih merasa perlu banyak belajar dalam menerapkan metode Wafa. Hal yang wajar — metode yang kuat membutuhkan waktu untuk benar-benar meresap. Justru di sinilah nilai pendampingan langsung terasa: ada yang hadir untuk menemani proses itu, bukan sekadar mengirim buku lalu pergi.

Hari kedua, giliran siswa yang diuji. Empat anak meraih predikat mumtaz — pencapaian yang tidak tumbuh dalam semalam, melainkan buah proses panjang yang dijaga bersama.

Foto dokumentasi kegiatan munaqosyah tahfidzul quran di SIT Ibnu Sina Makassar
Sumber: IG @sitibnusinamks

MAROS — RUMAH QUR’AN UMAR AL-FARUQ

Di Maros, hal yang paling berkesan bagi Ustadz Dody bukan angka kelulusan. Melainkan semangat para santri yang begitu nyata, bahkan sebelum pelajaran dimulai.

Wafa menerapkan pendekatan observasi menyeluruh — bukan hanya memantau anak saat belajar, tapi sejak mereka berangkat hingga pulang ke rumah. Terlihat sesuatu yang tidak bisa direkayasa: anak-anak datang bukan karena terpaksa. Ustadz bahkan harus menunggu kedatangan santri, bukan sebaliknya.

Semangat datang belajar adalah indikator yang tidak bisa dipalsukan.

BULUKUMBA, 25–26 APRIL 2026

Titik terakhir. TPQ Al Hanif Muta’awin, Bulukumba.

Bulukumba menyimpan cerita panjang bersama Wafa. Dua tahun lalu, para guru di sini memulai perjalanan mereka bersama Wafa dari titik awal. Kini, setelah pendampingan yang tidak pernah putus, peningkatan kemampuan mereka sangat signifikan. Bukan lompatan ajaib — melainkan buah pertemuan demi pertemuan, koreksi demi koreksi, yang dilakukan dengan sabar dan konsisten.

Hari pertama diisi dengan upgrading guru — memastikan kompetensi mengajar terus bertumbuh. Hari kedua, giliran wali murid yang diundang dalam seminar parenting. Seolah Wafa ingin memastikan bahwa sebelum meninggalkan Bulukumba, semua lini sudah tersentuh: guru, orang tua, dan ekosistem di sekitar anak.

 

Menjaga Diri di Tengah Perjalanan Panjang

Sepuluh hari. Enam kota. Puluhan sesi. Ratusan guru, siswa, dan orang tua yang harus dihadapi dengan sepenuh energi.

Ustadz Dody berbagi tentang bagaimana ia menjaga dirinya tetap bisa hadir seutuhnya di setiap pertemuan. Dua hal tidak pernah ia tinggalkan: Al-Qur’an sebagai pengisi ulang semangat, dan olahraga ringan minimal 30 menit setiap pagi — bahkan saat berada di penginapan.

“Ketika merasa lelah, jenuh, atau drop — justru saat itulah harus kembali kepada Al-Qur’an.”

— Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd.

Kekuatan untuk menjalani roadshow tidak lahir dari stamina fisik semata. Ia lahir dari keseimbangan antara kekuatan ruhiyah dan jasadiyah — bukan teori, melainkan sesuatu yang ia buktikan hari demi hari, kota demi kota.

 

Inilah yang Membedakan Wafa

Foto dokumentasi Munaqosyah Tilawah dan Tahfidz SMPIT Darul Quran Madai Kota Parepare, Sulawesi Selatan
Sumber: IG @smpit_darulquranmadani

Mudah untuk menawarkan metode. Buku bisa dicetak, modul bisa dikirim, video bisa dibagikan. Wafa memilih jalan yang lebih panjang dan lebih melelahkan: mengirimkan manusianya langsung ke lapangan.

Wafa percaya bahwa kualitas tidak bisa dijaga dari jarak jauh. Ia harus dijaga dari dekat — dengan hadir, dengan mendengar, dengan mengoreksi, dan dengan terus kembali meskipun perjalanannya jauh.

Pagi ini bukan sekadar awal hari, tapi kesempatan baru untuk menjadi lebih baik dari kemarin.

— Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd.

Kalimat itu diucapkan di penghujung perjalanan panjang. Tapi ia terasa seperti pesan yang ditinggalkan untuk setiap guru di Pangkep, Parepare, Makassar, Maros, dan Bulukumba — agar semangat yang menyala selama roadshow tidak padam setelah pintu kelas ditutup.

—-

Ingin lembaga Anda menjadi bagian dari ekosistem dakwah Al-Qur’an Wafa? Kunjungi wafaindonesia.or.id atau hubungi tim Wafa di WhatsApp +62 811 3058 9310.

Kontributor: Anggraini Andini Ruswandi & Aqiilah Wardah Zakariyah

Menjaga Standar Keunggulan Al-Qur’an: Supervisi Pembelajaran Metode Wafa

Bismillah, kualitas sebuah pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kurikulum yang baik, tetapi juga oleh proses pengawalan dan evaluasi yang berkesinambungan. Oleh karena itu, Yayasan Bina Ummat berkomitmen menyelenggarakan kegiatan Supervisi Pembelajaran Al-Qur’an Metode Wafa.

🔍 Apa itu Supervisi & Mengapa Ia Urgen?

Banyak yang bertanya, apa sebenarnya tujuan dari supervisi ini?

Supervisi Pembelajaran bukanlah sekadar pemeriksaan atau ujian bagi guru. Ia adalah proses pendampingan profesional dan bimbingan teknis yang bertujuan untuk:

  1. Standardisasi Mutu: Memastikan metode Wafa (Metode Otak Kanan) disampaikan dengan teknik yang tepat dan seragam di setiap kelas.
  2. Penjaminan Kualitas (Quality Assurance): Menjamin bahwa setiap murid/santri mendapatkan kualitas bacaan (tahsin) dan pemahaman Al-Qur’an sesuai standar yang ditetapkan.
  3. Upgrade Kompetensi Guru: Memberikan ruang bagi guru untuk berkonsultasi langsung dengan para ahli mengenai kendala di kelas dan cara mengatasinya.
  4. Optimasi Hasil Belajar: Dengan guru yang terus terpantau kualitasnya, maka target keberhasilan siswa dalam membaca Al-Qur’an akan lebih cepat dan efektif tercapai.

🗓 Detail Pelaksanaan:

Kegiatan ini akan diikuti oleh 12 guru pilihan yang akan dibersamai langsung oleh tim supervisor ahli:

  • Hari/Tanggal: Kamis, 15 Januari 2026
  • Waktu: 07.00 WIB – Selesai
  • Tempat: Yayasan Bina Ummat, Bojonegoro

Narasumber & Supervisor:

✨ Saiful Majid, S.Pd.I

✨ Ade San Putra, M.Pd

✨ H. Mohamad Yamin, S.T., M.Pd.

✨ M. Ali Kurniawan, S.H.

✨ Mashuda, S.Pd.

✨ Wawan Fitriono, S.Pd.I

✨ Bayu Prasetio, S.Pd

Mohon doa agar kegiatan ini menjadi wasilah bagi kami untuk terus mencetak generasi Qur’ani yang unggul, beradab, dan mencintai Al-Qur’an.

#YayasanBinaUmmat #MetodeWafa #SupervisiPendidikan #Bojonegoro #GuruAlQuran #PendidikanIslam #WafaIndonesia #CintaAlQuran #KualitasPendidikan

pelatihan menulis nufi sidoarjo metode wafa

Perdana, Wafa Gelar Pelatihan Menulis Huruf Hijaiyah di SDIT Nurul Fikri Sidoarjo

Metode Wafa – Wafa bersama SDIT Nurul Fikri Sidoarjo (NUFI Sidoarjo) mengadakan Pelatihan Menulis Huruf Hijaiyah dengan pengajar khusus Drs. Ali Mustofa, penulis buku “Ayo Belajar Menulis Huruf Hijaiyah”. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan para guru Al-Qur’an dalam menulis huruf hijaiyah sesuai kaidah yang benar. Sabtu (5/10/2024).

Pelatihan perdana ini diikuti oleh guru-guru Al-Qur’an dari SDIT Nurul Fikri, mulai dari SD (Sekolah Dasar), Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-Kanak (TK), hingga Daycare. Program ini juga direncanakan untuk diperluas ke sekolah-sekolah lain khususnya mitra Metode Wafa.

Buku “Ayo Menulis Huruf Hijaiyah” karya Drs. Ali Mustofa, yang terdiri dari 6 jilid, digunakan sebagai media utama dalam proses pembelajaran. Buku ini mengajarkan berbagai tingkatan penulisan huruf hijaiyah, mulai dari huruf tunggal, huruf bersambung (awal, tengah, dan akhir), hingga ayat-ayat Al-Qur’an serta kalimat thayyibah.

Ali Mustofa pelatihan menulis Wafa

Sebelum mengikuti pelatihan ini, saya merasa telah menyesatkan peserta didik. Sering keliru dalam mengajarkan penulisan huruf hijaiyah. Namun, setelah pelatihan ini, saya lebih paham cara menulis yang sesuai kaidah,” ujar salah satu guru SDIT Nurul Fikri yang juga peserta pelatihan, dengan tertawa saat memberikan ulasannya.

Para peserta mengakui manfaat besar dari pelatihan ini. Memang sebelum pelatihan menulis ini, guru-guru terbiasa mengajarkan sesuai dengan kemampuan dan pemahaman masing-masing. Beberapa di antaranya salah dalam memulai penulisan huruf dari atas atau kurang tepat dalam mengajarkan bentuk huruf sambung yang benar.

Pada sesi akhir pelatihan, dilakukan post-test oleh Drs. Ali Mustofa, dengan meminta peserta menulis kembali kalimat basmalah. Hasilnya menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam keterampilan menulis peserta dibanding pre-test.

Pelatihan ini memberikan hasil yang sesuai harapan. Kami belajar banyak dari pelatihan menulis perdana ini, kami jadi mengetahui dan memahami pola pelatihan menulis yang sesuai sebagai bahan pengembangan di pelatihan selanjutnya”, ujar Drs. Ali Mustofa setelah pelatihan berakhir.

Semoga pelatihan ini dapat terus meningkatkan kompetensi para guru Al-Qur’an serta mencetak generasi muda Indonesia yang lebih terampil dalam menulis huruf hijaiyah sesuai kaidah yang benar.

Menjawab Tantangan Guru Al-Qur’an Masa Kini dengan Pelatihan Metode Wafa

Guru yang sering orang katakan sebagai sosok yang digugu dan ditiru, nyatanya adalah profesi yang tidak mudah. Dari mereka lah terlahir berbagai jenis profesi yang digandrungi manusia di muka bumi ini. Mulai dari profesi yang terlihat sepele hingga profesi yang mendunia, semua berawal dari guru. Karena guru adalah muasal tersampaikannya berbagai macam ilmu yang Allah turunkan di dunia ini. Tanpa guru, tidak sedikit manusia yang akan kesulitan mencerna suatu ilmu secara mandiri.

Oleh karena perannya yang krusial bagi dunia pendidikan di Indonesia, seorang guru dituntut punya kompetensi yang linear dengan perkembangan zaman. Menjadi guru masa kini yang dicintai peserta didik dengan segala tantangannya. Tak terkecuali pula menjadi guru Al-Qur’an.

Meski secara spesifik tidak termasuk dalam Kurikulum 2013 yang dicanangkan Mendikbud, mata pelajaran Al-Qur’an di suatu lembaga pendidikan mengambil peran penting dalam membentuk generasi masa kini. Tugas guru Al-Qur’an meski secara kasat mata tak serumit guru mata pelajaran lain, ternyata punya ‘beban’ yang cukup berat di hadapan Allah. Mengapa demikian? Karena yang diajarkan adalah kalamullah, firman yang redaksionalnya diturunkan secara langsung oleh Allah. Bahasa Allah. Bukan yang tertulis dalam buku-buku diktat mata pelajaran yang dirilis berbagai penerbit terkenal. Sehingga tentu saja, levelnya sedikit lebih ‘berat’ dari guru mata pelajaran lainnya. Itulah mengapa, guru Al-Qur’an perlu terus digembleng melalui berbagai pelatihan.

Bagi sekolah mitra Wafa Indonesia, salah satu bentuk penggemblengan itu adalah melalui kegiatan Pelatihan Guru Al-Qur’an Metode Wafa. Ini adalah pelatihan yang didesain khusus untuk menstandardisasi kompetensi guru Al-Qur’an di sekolah mitra agar selaras dengan ‘kurikulum’ yang dikembangkan oleh metode Wafa.

Salah satu sekolah mitra Wafa yang beberapa waktu lalu menyelenggarakan pelatihan ini adalah Madrasah Tsanawiyah Husnul Khotimah 2 Kuningan. Sekolah yang berdiri semenjak 2015 ini, menggelar pelatihan metode Wafa dengan tujuan mengupayakan kenaikan target jumlah hafalan peserta didiknya yang semula hanya dua juz menjadi tiga juz. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Unit Tahsin dan Tahfidz Al-Qur’an (TTQ) Pondok Pesantren Husnul Khotimah 2 bekerjasama dengan tim Wafa Indonesia. Diketuai langsung oleh kepala unit  TTQ, Ustadz Yayan Bayanullah, S.Pd.I Al-Hafidz, pelatihan ini disambut dengan antusiasme para pesertanya yang terdiri dari 45 asatidz dan musyrif Al-Qur’an. Meski berlangsung selama tiga hari berturut-turut mulai 9 hingga 11 Maret 2019 di Aula MTs Husnul Khotimah, kegiatan pelatihan terlaksana dengan baik atas bimbingan dua trainer handal Wafa Indonesia, Ustadz Dodi Tisna Amijaya, M.Pd dan Ustadz Ahmad Syarif Fathoni, S.Pd.I Al-Hafidz. Alhamdulillah.

Tak hanya pesertanya yang antusias mengikuti kegiatan pelatihan dari awal hingga akhir, tim kreatif Ponpes Husnul Khotimah pun tak kalah antusiasnya. Melalui channel Youtube HKTV (Husnul Khotimah TV), kegiatan pelatihan didokumentasi untuk di-show-up pada masyarakat sebagai salah satu branding bahwa sekolah ini serius menggembleng guru-guru Al-Qur’annya melalui pelatihan metode Wafa. Keseriusan ini diperkuat dengan dukungan langsung dari kepala sekolahnya, Ustadz Danni Abdurrahman, M.Pd. Dalam video dokumentasi yang diunggah dengan durasi hampir empat menit ini, Ustadz Danni menyampaikan bahwa pelatihan ini selain bertujuan meningkatkan target jumlah hafalan peserta didiknya, adalah untuk menstandardisasi kompetensi guru-guru Al-Qur’annya agar sesuai dengan ‘kurikulum’ Wafa, sehingga dalam tiga hingga lima tahun ke depan sekolah ini bisa mengembangkan metode belajar Al-Qur’an secara independen dengan menyesuaikan karakter lembaganya.

Mengutip pesan sarat hikmah yang pernah ditulis oleh Hasan Al-Bashri, “Orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan tanpa panduan. Orang yang beramal tanpa ilmu hanya akan membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan kebaikan”. Apa yang disampaikan ulama’ tabi’in yang hidup pada delapan abad lalu ini rupanya cukup relevan dengan dunia pendidikan masa kini dengan sekian tuntutannya. Guru adalah profesi ‘amal’, profesi sosial. Mustahil seseorang disebut sebagai guru jika ia tidak berilmu. Maka, sebagai penyambung ilmu, seorang guru pun dituntut untuk terus berilmu. Agar apa yang disampaikan pada peserta didik bisa menjadi perantara datangnya kebaikan-kebaikan, alih-alih sebagai pemicu kerusakan. Untuk itu, agar seorang guru terus ‘terisi gelasnya’ setelah ‘dikosongkan’ terus menerus, diperlukan pelatihan yang diharapkan dapat meng-upgrade kapasitas keilmuannya. Terlebih bagi seorang guru Al-Qur’an, guru yang punya amanah lebih ‘berat’ dibanding guru-guru lainnya.

Tidak hanya sebagai pengisi ‘gelas kosong’ guru Al-Qur’an, pelatihan yang rutin diharapkan bisa menjadi perantara lahirnya guru yang inspiratif. Bukan hanya guru yang sekedar menyampaikan ilmu, tapi juga seorang guru yang sebenar-benarnya digugu dan ditiru seperti yang diungkapkan William Arthur Ward, seorang penulis berkebangsaan Amerika, “The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires”. Guru yang biasa hanya menyampaikan, guru yang baik akan menjelaskan, guru yang unggul akan mencontohkan, tapi guru yang luar biasa adalah guru yang menginspirasi.

Karena itu, untuk menjawab tantangan guru Al-Qur’an masa kini, Wafa Indonesia hadir dengan metode pembelajaran otak kanan. Dilengkapi dengan berbagai tools yang akan membantu pengembangan kurikulum pendidikan Al-Qur’an di ratusan sekolah mitra yang tersebar di seluruh Indonesia. Salah satu tools itu adalah pelatihan. Maka, mari jadi bagian perjalanan dakwah kami dalam melahirkan generasi ahli Al-Qur’an dengan cara yang mudah, komprehensif, dan menyenangkan.

Salam,
Wafa Indonesia

Komprehensif | Mudah | Menyenangkan

WhatsApp: +6281233867676
Email : [email protected]
Facebook : Wafa Indonesia
Instagram : wafaindonesia