Banyak Ilmu, Bahagia, Tawa, serta Air Mata: Ketika Orang Tua Ikut Belajar

Banyak orang tua merasa sudah melakukan yang terbaik untuk anaknya. Sudah menyekolahkan di tempat yang baik, sudah mendaftarkan ke lembaga Al-Qur’an, bahkan rela mengeluarkan biaya lebih agar anak mendapat kualitas belajar yang layak. Tapi ada satu hal yang sering luput — peran orang tua itu sendiri dalam proses tumbuhnya anak.

Inilah yang menjadi salah satu catatan paling berkesan dari rangkaian Roadshow Wafa Indonesia di Sulawesi Selatan, yang berlangsung pada 17–26 April 2026.

Dari Hotel Harper hingga TPQ di Bulukumba

Pada 11 April 2026, SIT Ar-Rahmah Makassar menggelar Quranic Parenting bertema “Melangkah Lebih Dekat: Membersamai Anak dengan Al-Qur’an” di Hotel Harper Makassar. Acara yang awalnya ditargetkan untuk sekitar 700 peserta itu dihadiri lebih dari 800 orang — termasuk peserta yang sengaja datang dari Parepare dan berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Roadshow Wafa Indonesia di Sulawesi Selatan yang berlangsung sepanjang 17–26 April 2026, menyambangi Pangkep, Parepare, Makassar, Maros, dan Bulukumba. Di setiap titik, selain pelatihan guru dan munaqosyah siswa, Wafa selalu membuka satu sesi khusus untuk wali murid: seminar Quranic Parenting.

Narasumber yang hadir di setiap sesi adalah Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd., Master Trainer Wafa Indonesia dari Surabaya.

Ilmu, Tawa, dan Air Mata

Banyak orang tua hadir tanpa ekspektasi besar. Ada yang mengira acara ini sekadar seremoni penerimaan laporan hasil belajar anak. Ada yang datang hanya karena diajak.

Yang terjadi di dalam ruangan sama sekali berbeda.

Sumber: IG @sditarrahmah

Ustadz Dody membuka sesuatu yang selama ini jarang disentuh dalam forum pendidikan: luka-luka yang orang tua bawa dari masa lalu, dan bagaimana luka itu — tanpa disadari — ikut masuk ke dalam cara mereka mendidik anak.

Bagaimana mungkin orang tua yang terjebak dengan luka-luka masa lalu bisa mendidik anak-anaknya dengan utuh?

Pertanyaan itu bukan tuduhan. Ia adalah undangan untuk jujur. Dan orang-orang di ruangan itu, satu per satu, mulai membuka diri.

Ada yang terdiam panjang. Ada yang menangis pelan. Ada bapak-bapak yang sejak tadi terlihat tenang, tiba-tiba tidak bisa lagi menahan air matanya. Suasana yang terbangun bukan suasana seminar — ia lebih menyerupai ruang untuk pulang.

 

Bukan Tentang Anak Saja

Satu hal yang membuat sesi ini berbeda dari parenting pada umumnya: materinya tidak berhenti pada cara menghadapi anak. Ia berbalik — mengajak orang tua melihat ke dalam diri sendiri lebih dahulu.

Sumber: IG @sditarrahmah

Bagaimana mungkin orang tua yang tidak mencintai dirinya sendiri bisa mencintai anak-anaknya?

Setiap anak, kata Ustadz Dody, lahir dengan potensinya masing-masing. Tugas orang tua bukan membandingkan, melainkan menemukenali dan merayakannya. Konflik yang sering terjadi di rumah bukan karena kurangnya cinta — melainkan karena cinta yang sangat besar, namun tidak terkomunikasikan dengan cara yang tepat.

Dan ketika kesadaran itu datang, yang tersisa hanyalah rasa syukur.

Ketika rasa syukur orang tua lebih besar dari tuntutannya kepada anak, potensi terbaik anak akan keluar dengan sendirinya.

Salah satu peserta menuliskan pengalamannya setelah acara:

“Ekspektasinya cuma dikasih hasil belajar anak SD, ternyata malah kena ke diri sendiri. Kukira nasihatnya tentang jadi orang tua, ternyata tentang jadi anak juga.”

Yang lain menuliskan lebih singkat, tapi tidak kalah dalam:

“Banyak ilmu, banyak bahagia, banyak tawa, banyak juga air mata.”

Bahkan setelah acara selesai, peserta masih belum bisa ‘move on’. Salah satu peserta menulis di media sosial: “Masya Allah, luar biasa — belum bisa move on dari acara parenting kemarin.”

Pemandangan Paling Indah

Ada satu kalimat yang Ustadz Dody sampaikan di penghujung sesi, dan rupanya paling lama tinggal di hati para peserta:

Tidak satu pun pemandangan di dunia ini yang mampu mengalahkan keindahan saat ayah dan ibu menyaksikan langsung anaknya taat kepada Allah.

Kalimat itu berbicara tentang tujuan. Bukan tentang nilai, bukan tentang prestasi, bukan tentang perbandingan dengan anak tetangga. Melainkan tentang satu momen yang tidak bisa dibeli: melihat anak yang tumbuh dekat dengan Al-Qur’an, dan menyadari bahwa kita ikut andil di dalamnya.

Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd. menutupnya dengan sebuah pengingat yang hangat:

“Harta yang paling berharga bukanlah sekadar materi atau piala, melainkan waktu yang dihabiskan bersama anak dalam ketaatan kepada Allah.”

— Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd., Master Trainer Wafa Indonesia

Pendidikan yang Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Pengalaman di lapangan menunjukkan sesuatu yang sederhana namun sering dilupakan: pendidikan yang kuat tidak tumbuh hanya dari satu arah. Guru bisa mengajar sebaik mungkin, metode bisa secanggih apa pun — tapi tanpa keterlibatan orang tua, hasilnya tidak akan pernah utuh.

Sebaliknya, ketika orang tua ikut belajar, ikut memahami, dan ikut hadir — sesuatu yang berbeda mulai tumbuh. Bukan hanya pada anak, tetapi juga pada diri mereka sendiri.

Karena dari rumah, semuanya dimulai.

Informasi tentang program Quranic Parenting dan kemitraan Wafa Indonesia dapat diakses melalui wafaindonesia.or.id atau menghubungi tim Wafa di WhatsApp +62 811 3058 9310.

Kontributor: Anggraini Andini Ruswandi & Aqiilah Wardah Zakariyah

Sepuluh Hari di Sulawesi Selatan: Ketika Trainer Wafa Pusat Datang Langsung ke Pintu Lembaga

Ada yang berbeda dari cara Wafa Indonesia bekerja. Ketika banyak lembaga metode Al-Qur’an lain mengirimkan modul, buku panduan, atau video pelatihan — Wafa mengirimkan orangnya langsung.

Bukan sembarang orang. Trainer Wafa Pusat yang datang, menyusuri satu per satu lembaga mitra di daerah, duduk bersama guru-gurunya, mendengar perkembangan mereka, mengoreksi bacaan mereka, dan menyampaikan hal-hal yang kadang membuat ruangan menjadi hening.

Inilah yang terjadi di Sulawesi Selatan, sepanjang 16–26 April 2026.

Foto: Dokumentasi acara Upgrading Guru Al-Qur'an Wafa di RTQ Al Hanif Muta’awin, Bulukumba
Sumber: doc RTQ Al-Hanif Muta’awin, Bulukumba

Bukan Kunjungan. Ini Pendampingan.

Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd., Master Trainer Wafa Indonesia, menghabiskan lebih dari satu pekan menyambangi lembaga-lembaga mitra Wafa di Sulawesi Selatan. Mulai sekolah Islam terpadu di Pangkep, pesantren di Parepare, sekolah di Makassar dan Maros, hingga TPQ di Bulukumba — semuanya disambangi satu per satu.

Agenda di setiap titik tidak seragam — disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing lembaga. Ada lembaga yang butuh pelatihan tahsin guru, ada yang sudah siap munaqosyah siswa, ada pula yang mengundang wali murid untuk seminar parenting. Satu hal selalu sama: Ustadz Dody hadir langsung, duduk di hadapan guru-gurunya, mendengar, mengoreksi, dan mendorong.

Setiap kedatangan selalu membawa hal baru — karena para pemateri pun terus belajar dan berkembang.

Itulah yang membuat setiap pertemuan terasa hidup, bukan sekadar pengulangan materi.

 

Satu per Satu, Kota demi Kota

PANGKEP, 17–19 APRIL 2026

Perjalanan dimulai di SDS Semen Tonasa II Pangkep. Selama dua hari, dua belas guru mengikuti Pelatihan Tahsin — pertemuan lanjutan dalam rangkaian panjang pendampingan Wafa. Semangat para guru sudah baik sejak awal, dan Wafa hadir untuk terus mendorong kemampuan mereka naik ke level berikutnya. Hasilnya terlihat nyata: beberapa guru berhasil naik level secara signifikan.

Sehari setelahnya, masih di Pangkep, giliran para siswa SDIT dan SMPIT Al Fatih yang diuji. Munaqosyah bukan sekadar ujian biasa — ia adalah momen pembuktian bahwa sistem yang dibangun bersama antara Wafa dan lembaga benar-benar bekerja.

PAREPARE, 20 APRIL 2026

Di SIT Darul Qur’an Madani Parepare, hari itu berlangsung munaqosyah. Hasilnya membanggakan: seluruh santri dinyatakan lulus 100%, dengan sejumlah santri meraih predikat mumtaz.

Tapi yang paling diingat bukan angka kelulusannya. Sebuah sesi motivasi lahir secara spontan — tidak direncanakan, tidak masuk agenda — untuk para guru yang hadir. Ustadz Dody menyampaikan sesuatu yang sederhana namun menghunjam: tanggung jawab mengajarkan Al-Qur’an bukan hanya milik guru Al-Qur’an. Ia milik semua guru, semua orang dewasa di lingkungan anak.

Ruangan menjadi sunyi. Kemudian air mata mengalir di mana-mana.

MAKASSAR, 22–23 APRIL 2026

Di SIT Ibnu Sina Makassar, jadwal dibagi dua hari. Hari pertama untuk guru, hari kedua untuk siswa.

Pada hari pertama, banyak guru mengaku masih merasa perlu banyak belajar dalam menerapkan metode Wafa. Hal yang wajar — metode yang kuat membutuhkan waktu untuk benar-benar meresap. Justru di sinilah nilai pendampingan langsung terasa: ada yang hadir untuk menemani proses itu, bukan sekadar mengirim buku lalu pergi.

Hari kedua, giliran siswa yang diuji. Empat anak meraih predikat mumtaz — pencapaian yang tidak tumbuh dalam semalam, melainkan buah proses panjang yang dijaga bersama.

Foto dokumentasi kegiatan munaqosyah tahfidzul quran di SIT Ibnu Sina Makassar
Sumber: IG @sitibnusinamks

MAROS — RUMAH QUR’AN UMAR AL-FARUQ

Di Maros, hal yang paling berkesan bagi Ustadz Dody bukan angka kelulusan. Melainkan semangat para santri yang begitu nyata, bahkan sebelum pelajaran dimulai.

Wafa menerapkan pendekatan observasi menyeluruh — bukan hanya memantau anak saat belajar, tapi sejak mereka berangkat hingga pulang ke rumah. Terlihat sesuatu yang tidak bisa direkayasa: anak-anak datang bukan karena terpaksa. Ustadz bahkan harus menunggu kedatangan santri, bukan sebaliknya.

Semangat datang belajar adalah indikator yang tidak bisa dipalsukan.

BULUKUMBA, 25–26 APRIL 2026

Titik terakhir. TPQ Al Hanif Muta’awin, Bulukumba.

Bulukumba menyimpan cerita panjang bersama Wafa. Dua tahun lalu, para guru di sini memulai perjalanan mereka bersama Wafa dari titik awal. Kini, setelah pendampingan yang tidak pernah putus, peningkatan kemampuan mereka sangat signifikan. Bukan lompatan ajaib — melainkan buah pertemuan demi pertemuan, koreksi demi koreksi, yang dilakukan dengan sabar dan konsisten.

Hari pertama diisi dengan upgrading guru — memastikan kompetensi mengajar terus bertumbuh. Hari kedua, giliran wali murid yang diundang dalam seminar parenting. Seolah Wafa ingin memastikan bahwa sebelum meninggalkan Bulukumba, semua lini sudah tersentuh: guru, orang tua, dan ekosistem di sekitar anak.

 

Menjaga Diri di Tengah Perjalanan Panjang

Sepuluh hari. Enam kota. Puluhan sesi. Ratusan guru, siswa, dan orang tua yang harus dihadapi dengan sepenuh energi.

Ustadz Dody berbagi tentang bagaimana ia menjaga dirinya tetap bisa hadir seutuhnya di setiap pertemuan. Dua hal tidak pernah ia tinggalkan: Al-Qur’an sebagai pengisi ulang semangat, dan olahraga ringan minimal 30 menit setiap pagi — bahkan saat berada di penginapan.

“Ketika merasa lelah, jenuh, atau drop — justru saat itulah harus kembali kepada Al-Qur’an.”

— Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd.

Kekuatan untuk menjalani roadshow tidak lahir dari stamina fisik semata. Ia lahir dari keseimbangan antara kekuatan ruhiyah dan jasadiyah — bukan teori, melainkan sesuatu yang ia buktikan hari demi hari, kota demi kota.

 

Inilah yang Membedakan Wafa

Foto dokumentasi Munaqosyah Tilawah dan Tahfidz SMPIT Darul Quran Madai Kota Parepare, Sulawesi Selatan
Sumber: IG @smpit_darulquranmadani

Mudah untuk menawarkan metode. Buku bisa dicetak, modul bisa dikirim, video bisa dibagikan. Wafa memilih jalan yang lebih panjang dan lebih melelahkan: mengirimkan manusianya langsung ke lapangan.

Wafa percaya bahwa kualitas tidak bisa dijaga dari jarak jauh. Ia harus dijaga dari dekat — dengan hadir, dengan mendengar, dengan mengoreksi, dan dengan terus kembali meskipun perjalanannya jauh.

Pagi ini bukan sekadar awal hari, tapi kesempatan baru untuk menjadi lebih baik dari kemarin.

— Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd.

Kalimat itu diucapkan di penghujung perjalanan panjang. Tapi ia terasa seperti pesan yang ditinggalkan untuk setiap guru di Pangkep, Parepare, Makassar, Maros, dan Bulukumba — agar semangat yang menyala selama roadshow tidak padam setelah pintu kelas ditutup.

—-

Ingin lembaga Anda menjadi bagian dari ekosistem dakwah Al-Qur’an Wafa? Kunjungi wafaindonesia.or.id atau hubungi tim Wafa di WhatsApp +62 811 3058 9310.

Kontributor: Anggraini Andini Ruswandi & Aqiilah Wardah Zakariyah

Menjaga Standar Keunggulan Al-Qur’an: Supervisi Pembelajaran Metode Wafa

Bismillah, kualitas sebuah pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kurikulum yang baik, tetapi juga oleh proses pengawalan dan evaluasi yang berkesinambungan. Oleh karena itu, Yayasan Bina Ummat berkomitmen menyelenggarakan kegiatan Supervisi Pembelajaran Al-Qur’an Metode Wafa.

🔍 Apa itu Supervisi & Mengapa Ia Urgen?

Banyak yang bertanya, apa sebenarnya tujuan dari supervisi ini?

Supervisi Pembelajaran bukanlah sekadar pemeriksaan atau ujian bagi guru. Ia adalah proses pendampingan profesional dan bimbingan teknis yang bertujuan untuk:

  1. Standardisasi Mutu: Memastikan metode Wafa (Metode Otak Kanan) disampaikan dengan teknik yang tepat dan seragam di setiap kelas.
  2. Penjaminan Kualitas (Quality Assurance): Menjamin bahwa setiap murid/santri mendapatkan kualitas bacaan (tahsin) dan pemahaman Al-Qur’an sesuai standar yang ditetapkan.
  3. Upgrade Kompetensi Guru: Memberikan ruang bagi guru untuk berkonsultasi langsung dengan para ahli mengenai kendala di kelas dan cara mengatasinya.
  4. Optimasi Hasil Belajar: Dengan guru yang terus terpantau kualitasnya, maka target keberhasilan siswa dalam membaca Al-Qur’an akan lebih cepat dan efektif tercapai.

🗓 Detail Pelaksanaan:

Kegiatan ini akan diikuti oleh 12 guru pilihan yang akan dibersamai langsung oleh tim supervisor ahli:

  • Hari/Tanggal: Kamis, 15 Januari 2026
  • Waktu: 07.00 WIB – Selesai
  • Tempat: Yayasan Bina Ummat, Bojonegoro

Narasumber & Supervisor:

✨ Saiful Majid, S.Pd.I

✨ Ade San Putra, M.Pd

✨ H. Mohamad Yamin, S.T., M.Pd.

✨ M. Ali Kurniawan, S.H.

✨ Mashuda, S.Pd.

✨ Wawan Fitriono, S.Pd.I

✨ Bayu Prasetio, S.Pd

Mohon doa agar kegiatan ini menjadi wasilah bagi kami untuk terus mencetak generasi Qur’ani yang unggul, beradab, dan mencintai Al-Qur’an.

#YayasanBinaUmmat #MetodeWafa #SupervisiPendidikan #Bojonegoro #GuruAlQuran #PendidikanIslam #WafaIndonesia #CintaAlQuran #KualitasPendidikan

Meningkatkan Semangat dan Keterampilan Menghafal Al-Quran di Blitar Timur melalui SIMAAN

Meningkatkan Semangat dan Keterampilan Menghafal Al-Quran di Blitar Timur melalui SIMAAN

Metode Wafa – Wafa Pusat bersama Wafa Daerah Blitar Timur (Wafa Daerah) telah mengadakan SIMAAN (Silaturahim Muallim Al-Qur’an) dengan tema “Menghafal Al-Qur’an Mudah Menyenangkan” pada Sabtu (29/01/2025). Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Wildan Nadzif, S.Sos., Al-Hafidz. sebagai narasumber utama. Selain menjadi ajang silaturohim, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan dan memotivasi para guru Al-Quran dalam menghafal. (Baca buku : Al-Quran Hafalan Wafa)

SIMAAN dan Menghafal Wafa Blitar Timur 2
Gambar 1 (Wafa Blitar Timur) – Kegiatan SIMAAN dan Pelatihan Menghafal

Kegiatan ini diikuti oleh guru-guru Al-Quran dari berbagai sekolah mitra di daerah Blitar Timur yang mencakup berbagai jenjang pendidikan sekolah. Kegiatan ini memiliki tujuan utama, yaitu mempererat hubungan antar mitra serta membangun kebersamaan di antara para guru Al-Quran dalam mewujudkan visi bersama: Melahirkan generasi ahl Al-Quran.

Para peserta yang hadir mengaku antusias dalam mengikuti kegiatan hingga akhir. Mereka merasakan manfaat besar, terutama pada pelatihan menghafal, yang membimbing mereka pada metode efektif agar hasil hafalan lebih maksimal.

Semoga kegiatan SIMAAN ini, beserta pelatihan menghafal yang diselenggarakan, dapat terus meningkatkan kompetensi para guru Al-Quran serta mencetak generasi muda Indonesia yang lebih terampil dalam menghafal Al-Quran dengan baik dan sesuai. (Baca juga : Pelatihan SAGAQU dan Akademi Tahsin)

Supervisi

  • Program ini bertujuan untuk merealisasikan   sistem  jaminan  mutu  7M pembelajaran WAFA dan sekaligus melakukan    monitoring   dan   evaluasi    terhadap   proses   pembelajaran   Al-Quran    di lembaga.
  • Sasaran program ini adalah untuk guru Al-Qur’an sekolah atau lembaga pendidikan Al-Quran yang sudah bermitra dengan Wafa.
  • Waktu pelaksanaan program ini saat dan setelah proses pembelajaran Al-Qur’an di Kelas.
  • Bentuk kegiatan yang dilakukan selama supervisi:
  1. Observasi proses  pembelajaran Al  Our’an. Kegiatan  pengamatan secara   langsung oleh Supervisor saat proses belajar mengajar Al-Qur’an di    Sekolah/lembaga, baik perangkat   pembelajaran maupun pelaksanaan kegiatan   pembelajaran  itu sendiri,  dibandingkan  dengan standar  yang telah  dicanangkan sebelumnya.
  2. Pemaparan hasil  supervisi  dan diskusi. Pasca observasi pembelajaran,   dilanjutkan   dengan   presentasi   hasil observasi  dan diskusi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Al-Qur’an   dengan  para   guru.
  3. Tashnif atau pemetaan bacaan  (lanjutan). Pemetaan yang  dilakukan oleh supervisor untuk  mengukur level  tilawah  Al Ouran  yang  dicapai   oleh guru-guru Al-Our’an di sekolah/lembaga mitra.

Pelatihan Tahsin

  • Pelatihan ini bertujuan untuk melatih guru Al-Qur’an dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an sesuai dengan kaidah makharijul huruf dan ilmu tajwid.
  • Sasaran pelatihan ini adalah untuk guru Al-Qur’an di lembaga formal dan non formal yang sudah bermitra dengan Wafa.
  • Jumlah peserta 20 – 40 orang.
  • Durasi Waktu Pelatihan 2 Hari dengan 7 Jam/Hari.
  • Materi yang dipelajari:
  1. Tahsin Makharijul Huruf.
  2. Bedah Buku Tilawah Wafa (Buku KB/TK, Tilawah 1-5 dan Gharib).

Pelatihan dan Sertifikasi Guru Al-Qur’an (PSGA)

  • Pelatihan ini bertujuan untuk melatih Guru Al-Qur’an melalui pengenalan dan pelatihan metode pengajaran Al-Qur’an yang integratif dan menyenangkan dengan aktivasi otak kanan.
  • Sasaran pelatihan ini adalah untuk guru Al-Qur’an di lembaga formal dan non formal.
  • Jumlah peserta 40 – 60 orang.
  • Durasi Waktu Pelatihan 2-3 Hari (7 Jam/Hari).
  • Materi yang dipelajari:
  1. Membangun Motivasi Qurani.
  2. Sistem Manajemen Mutu Pembelajaran Al-Quran WAFA.
  3. Bedah Buku Wafa dan Pengenalan Irama Hijaz Wafa.
  4. Tahsin Makharijul Huruf.
  5. Teknik pengelolaan kelas Al-Quran yang efektif.
  6. Neuroscience Pembelajaraan Al-Qur’an dan Modalitas Belajar.
  7. Metodologi Pembelajaran Al-Qur’an Wafa.
  8. Modeling Pembelajaran.
  9. Workshop Perumusan RPP 5P.
  10. Kurikulum Pembelajaran Al-Quran WAFA.
  11. Standar Penilaian Pembelajaran Al-Quran WAFA.
  12. Micro Teaching.