“Jangan menunggu ada masalah baru ada coaching.” Kalimat itu disampaikan Ustadz Wildan selaku trainer Coaching Clinic saat menjelaskan alasan hadirnya program tersebut bagi lembaga mitra Wafa.
Setelah pelatihan selesai, tantangan di lapangan justru sering baru mulai terasa. Tidak semua capaian pembelajaran langsung tuntas, tidak semua standar penilaian berjalan seragam, dan tidak semua guru punya ruang untuk mengecek kembali praktik mengajarnya. Melihat kebutuhan itu, WAFA menghadirkan Coaching Clinic sebagai program pendampingan pasca-pelatihan bagi lembaga mitra agar mutu pembelajaran tetap terjaga secara berkelanjutan.
Menurut Ustadz Wildan, Coaching Clinic merupakan program kemitraan yang dirancang untuk membantu guru dan lembaga mitra menjaga kualitas pembelajaran setelah mengikuti pelatihan. Program ini hadir bukan untuk menggantikan pelatihan, melainkan menjadi ruang penguatan agar praktik di kelas tetap berjalan sesuai tujuan pembelajaran.
“Mana yang belum sempurna kita sempurnakan, mana yang belum optimal kita optimalkan,” ujar Ustadz Wildan saat menjelaskan pentingnya pendampingan setelah pelatihan.
Kebutuhan terhadap pendampingan ini muncul karena di lapangan masih ditemukan berbagai kendala, mulai dari target pembelajaran yang belum selesai hingga standar penilaian yang belum sinkron antar guru. Dalam proses evaluasi yang dilakukan, tim menemukan bahwa guru bisa memberikan hasil penilaian yang berbeda pada kemampuan siswa yang sama, meskipun sebelumnya sudah mengikuti pelatihan.
“Kita coba tanya, ini nilainya A, B, atau C? Ada yang jawab A, ada yang jawab B, ada yang jawab C. Berarti ada standar yang belum sinkron,” ungkap Ustadz Wildan.
Karena itu Coaching Clinic tidak hanya berfokus pada materi, tetapi juga pada proses refleksi dan pengawalan pembelajaran. Berbeda dengan pelatihan yang lebih menitikberatkan pada teknis dan metodologi, Coaching justru berjalan melalui proses dialog dan pertanyaan yang membantu guru menemukan solusi dari tantangan yang mereka hadapi sendiri.
“Coaching itu bukan konsultan yang sifatnya mengarahkan. Coaching itu bertanya lebih gimana goal-nya, realitanya bagaimana, apa yang perlu diperbaiki,” tutur beliau.
Dalam tahap uji coba yang sedang berjalan, proses observasi dilakukan melalui rekaman video pembelajaran dan penilaian. Dari hasil rekaman itu, peserta akan mendapat umpan balik untuk melihat bagian mana yang perlu diperbaiki dan mana yang sudah sesuai standar.
Program ini difokuskan pada pengajaran dan penilaian karena dua hal tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam pembelajaran Al-Qur’an. Guru diharapkan tidak hanya mampu menyampaikan materi, tetapi juga memastikan keterampilan siswa benar-benar terbentuk melalui proses belajar yang tepat.
“Yang paling pokok itu proses pengajarannya, proses transfer ilmunya, dan juga proses penilaian,” kata Ustadz Wildan.
Coaching Clinic sendiri masih berjalan dalam tahap uji coba dengan jumlah peserta terbatas dan pendampingan berkala setiap pekan. Meski demikian, respons dari lembaga mitra cukup positif. Sebelumnya, program pendampingan serupa juga diikuti oleh beberapa lembaga sekaligus dalam satu yayasan.
Menurut Ustadz Wildan, pendampingan seperti ini penting agar semangat guru setelah pelatihan tidak berhenti begitu saja ketika kembali ke kelas. Melalui proses supervisi dan Coaching yang lebih terarah, lembaga diharapkan dapat menjaga kualitas pembelajaran secara lebih konsisten dan berkelanjutan sehingga mampu melahirkan generasi Qur’ani yang cinta Al-Qur’an.
+62 811 3058 9310
wafaindonesia.or.id
