Category: Artikel
Hidup Sederhana Hidup Bahagia
Kesederhanaan dalam hidup adalah kunci kebahagiaan yang sejati, bagaimana tidak,? orang yang sederhana adalah orang yang bisa hidup dalam kecukupan walau bagaimanapun keadaannya, sifat yang sederhana sangat tidak mungkin dimiliki bagi hedonois (penggila dunia). Logisnya banyak orang orang yang mencari kebahagiaan tapi malah menemukan petaka. mungkin karena dia tidak punya kesederhanaan.
Jika kekayaan itu bisa membuat anda bahagia tentunya orang terkaya di jerman tidak mati bunuh diri. dan jika kepintaran itu bisa membuat anda bahagia tentunya James William Sidis (orang terjenius didunia) tidak akan mati dalam kemiskinan dan kemelaratan dan sebagainya.
Bayangkan apa yang membuat Qorun di tenggelamkan dibumi, Firaun di tenggelamkan dilaut dan Tsa’labah mati dalam keadaan kufur.? penyebabnya adalah harta. secara fisik memang mereka adalah orang orang yang kaya, tapi harta tidak membuat mereka bahagia, malah cenderung mendustakan nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka, mereka hidup jauh dari kesederhanaan yang berujung pada penyiksaan.
Bukan berarti kita tidak boleh jadi orang kaya.. Tapi kita harus tahu apapun yang kita miliki didunia ini adalah sebuah titipan dari Allah, maka semua akan dimintai pertangungjawabnnya nanti diakherat. jangan menjadikan harta sebagai syarat untuk bahagia, ingatlah bahwa harta itu bisa menjadi fitnah perhatikan dalil berikut :
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda andaikan saya berdoa kepada Allah niscaya gunung itu akan berubah mejadi emas. ini menunjukkan bahwa Nabi adalah orang yang sederhana, kesederhanaan yang bisa membuat beliau selalu bahagia dan terlindung dari fitnah harta baik didunia dan diakherat.
Artinya : sesungguhnya aku dijalankan didalam surga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang miskin, dan aku diberangkatkan ke neraka maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah perempuan.
“Sederhanalah dalam kaya dan berhiaslah dalam miskin”.
Semoga kesederhanaah menjadikan kita hamba yang lebih dicintai oleh Allah. Aamin.
Semoga Bermanfaat.
Sumber : harunjy.com
Di Bawah Naungan Alquran
Dari Hudzaifah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Hendaklah kamu sekalian beredar bersama kitab Allah (Al-quran) ke mana saja ia beredar.”(HR al-Hakim).
Al-quran adalah panduan kehidupan bagi manusia. Karena itu, tidak ada satu pun sisi kehidupan kecuali Al-quran telah memberikan panduan secara lengkap, dari hal yang terkecil hingga yang terbesar. Manusia tinggal mengikuti panduan itu, pasti meraih kesuksesan dan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan di akhirat.
Hidup di bawah naungan Al-quran akan mendapatkan banyak keuntungan dan melahirkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Antara lain, pertama, hidup menjadi terbimbing. Meski orang itu pandai, belum tentu mampu membedakan mana hal yang hak dan yang batil. Kemampuan membedakan itu sangat penting untuk menuju kehidupan yang lebih baik.
Allah SWT berfirman, “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”(QS al-Baqarah [2]: 185).
Kedua, mampu mengatasi segala persoalan. Hidup ini tidak pernah lepas dari persoalan, jika Al-quran dijadikan sebagai panduan hidup maka mengantarkan manusia menjadi takwa dan ketakwaan akan membuatnya mampu mengatasi segala persoalan hidup (QS ath-Thalaq [65]: 4).
Ketiga, kehidupan menjadi bersih. Manusia lahir dalam keadaan bersih (suci), tetapi jika tanpa panduan Al-quran, kehidupan manusia menjadi kotor jiwanya, pikirannya, dan perbuatannya (QS al-A’raaf [7]: 96).
Sebaliknya, jika hidup yang jauh dari Al-quran akan berakibat buruk. Antara lain, pertama, bencana moral. Apabila manusia tidak berpedoman kepada Al-quran maka akan cenderung memperturuti hawa nafsunya. Jika manusia yang berlaku demikian, tentu akan terjadi bencana moral. Kedua, bencana fisik. Hal itu diungkapkan Allah dalam surah Al-Araaf ayat 98, “Akan tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami azab mereka akibat kedustaan mereka.”
Ketiga, bencana ekonomi. Ke empat, bencana sosial. Jika manusia jauh dari Al-quran, hubungan persaudaraan akan rapuh. Hubungan dengan tetangga akan retak, hubungan sosial akan menjadi rusak. Itu merupakan bibit perpecahan umat, bahkan perpecahan bangsa. Jika hal itu terjadi maka akan berakibat pada bencana sosial bagi manusia. Kelima, bencana keimanan. Kerusakan iman akan menjadi sasaran akhir jauhnya manusia dari Alquran. Semoga Allah membimbing kita agar tetap berada dalam naungan Al-quran.
Oleh: Imam Nur Suharno
sumber : republika.co.id