Ada yang berbeda dari cara Wafa Indonesia bekerja. Ketika banyak lembaga metode Al-Qur’an lain mengirimkan modul, buku panduan, atau video pelatihan — Wafa mengirimkan orangnya langsung.
Bukan sembarang orang. Trainer Wafa Pusat yang datang, menyusuri satu per satu lembaga mitra di daerah, duduk bersama guru-gurunya, mendengar perkembangan mereka, mengoreksi bacaan mereka, dan menyampaikan hal-hal yang kadang membuat ruangan menjadi hening.
Inilah yang terjadi di Sulawesi Selatan, sepanjang 16–26 April 2026.

Bukan Kunjungan. Ini Pendampingan.
Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd., Master Trainer Wafa Indonesia, menghabiskan lebih dari satu pekan menyambangi lembaga-lembaga mitra Wafa di Sulawesi Selatan. Mulai sekolah Islam terpadu di Pangkep, pesantren di Parepare, sekolah di Makassar dan Maros, hingga TPQ di Bulukumba — semuanya disambangi satu per satu.
Agenda di setiap titik tidak seragam — disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing lembaga. Ada lembaga yang butuh pelatihan tahsin guru, ada yang sudah siap munaqosyah siswa, ada pula yang mengundang wali murid untuk seminar parenting. Satu hal selalu sama: Ustadz Dody hadir langsung, duduk di hadapan guru-gurunya, mendengar, mengoreksi, dan mendorong.
Setiap kedatangan selalu membawa hal baru — karena para pemateri pun terus belajar dan berkembang.
Itulah yang membuat setiap pertemuan terasa hidup, bukan sekadar pengulangan materi.
Satu per Satu, Kota demi Kota
PANGKEP, 17–19 APRIL 2026
Perjalanan dimulai di SDS Semen Tonasa II Pangkep. Selama dua hari, dua belas guru mengikuti Pelatihan Tahsin — pertemuan lanjutan dalam rangkaian panjang pendampingan Wafa. Semangat para guru sudah baik sejak awal, dan Wafa hadir untuk terus mendorong kemampuan mereka naik ke level berikutnya. Hasilnya terlihat nyata: beberapa guru berhasil naik level secara signifikan.
Sehari setelahnya, masih di Pangkep, giliran para siswa SDIT dan SMPIT Al Fatih yang diuji. Munaqosyah bukan sekadar ujian biasa — ia adalah momen pembuktian bahwa sistem yang dibangun bersama antara Wafa dan lembaga benar-benar bekerja.
PAREPARE, 20 APRIL 2026
Di SIT Darul Qur’an Madani Parepare, hari itu berlangsung munaqosyah. Hasilnya membanggakan: seluruh santri dinyatakan lulus 100%, dengan sejumlah santri meraih predikat mumtaz.
Tapi yang paling diingat bukan angka kelulusannya. Sebuah sesi motivasi lahir secara spontan — tidak direncanakan, tidak masuk agenda — untuk para guru yang hadir. Ustadz Dody menyampaikan sesuatu yang sederhana namun menghunjam: tanggung jawab mengajarkan Al-Qur’an bukan hanya milik guru Al-Qur’an. Ia milik semua guru, semua orang dewasa di lingkungan anak.
Ruangan menjadi sunyi. Kemudian air mata mengalir di mana-mana.
MAKASSAR, 22–23 APRIL 2026
Di SIT Ibnu Sina Makassar, jadwal dibagi dua hari. Hari pertama untuk guru, hari kedua untuk siswa.
Pada hari pertama, banyak guru mengaku masih merasa perlu banyak belajar dalam menerapkan metode Wafa. Hal yang wajar — metode yang kuat membutuhkan waktu untuk benar-benar meresap. Justru di sinilah nilai pendampingan langsung terasa: ada yang hadir untuk menemani proses itu, bukan sekadar mengirim buku lalu pergi.
Hari kedua, giliran siswa yang diuji. Empat anak meraih predikat mumtaz — pencapaian yang tidak tumbuh dalam semalam, melainkan buah proses panjang yang dijaga bersama.

MAROS — RUMAH QUR’AN UMAR AL-FARUQ
Di Maros, hal yang paling berkesan bagi Ustadz Dody bukan angka kelulusan. Melainkan semangat para santri yang begitu nyata, bahkan sebelum pelajaran dimulai.
Wafa menerapkan pendekatan observasi menyeluruh — bukan hanya memantau anak saat belajar, tapi sejak mereka berangkat hingga pulang ke rumah. Terlihat sesuatu yang tidak bisa direkayasa: anak-anak datang bukan karena terpaksa. Ustadz bahkan harus menunggu kedatangan santri, bukan sebaliknya.
Semangat datang belajar adalah indikator yang tidak bisa dipalsukan.
BULUKUMBA, 25–26 APRIL 2026
Titik terakhir. TPQ Al Hanif Muta’awin, Bulukumba.
Bulukumba menyimpan cerita panjang bersama Wafa. Dua tahun lalu, para guru di sini memulai perjalanan mereka bersama Wafa dari titik awal. Kini, setelah pendampingan yang tidak pernah putus, peningkatan kemampuan mereka sangat signifikan. Bukan lompatan ajaib — melainkan buah pertemuan demi pertemuan, koreksi demi koreksi, yang dilakukan dengan sabar dan konsisten.
Hari pertama diisi dengan upgrading guru — memastikan kompetensi mengajar terus bertumbuh. Hari kedua, giliran wali murid yang diundang dalam seminar parenting. Seolah Wafa ingin memastikan bahwa sebelum meninggalkan Bulukumba, semua lini sudah tersentuh: guru, orang tua, dan ekosistem di sekitar anak.
Menjaga Diri di Tengah Perjalanan Panjang
Sepuluh hari. Enam kota. Puluhan sesi. Ratusan guru, siswa, dan orang tua yang harus dihadapi dengan sepenuh energi.
Ustadz Dody berbagi tentang bagaimana ia menjaga dirinya tetap bisa hadir seutuhnya di setiap pertemuan. Dua hal tidak pernah ia tinggalkan: Al-Qur’an sebagai pengisi ulang semangat, dan olahraga ringan minimal 30 menit setiap pagi — bahkan saat berada di penginapan.
“Ketika merasa lelah, jenuh, atau drop — justru saat itulah harus kembali kepada Al-Qur’an.”
— Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd.
Kekuatan untuk menjalani roadshow tidak lahir dari stamina fisik semata. Ia lahir dari keseimbangan antara kekuatan ruhiyah dan jasadiyah — bukan teori, melainkan sesuatu yang ia buktikan hari demi hari, kota demi kota.
Inilah yang Membedakan Wafa

Mudah untuk menawarkan metode. Buku bisa dicetak, modul bisa dikirim, video bisa dibagikan. Wafa memilih jalan yang lebih panjang dan lebih melelahkan: mengirimkan manusianya langsung ke lapangan.
Wafa percaya bahwa kualitas tidak bisa dijaga dari jarak jauh. Ia harus dijaga dari dekat — dengan hadir, dengan mendengar, dengan mengoreksi, dan dengan terus kembali meskipun perjalanannya jauh.
Pagi ini bukan sekadar awal hari, tapi kesempatan baru untuk menjadi lebih baik dari kemarin.
— Ust. Dr. Dody Tisna Amijaya, M.Pd.
Kalimat itu diucapkan di penghujung perjalanan panjang. Tapi ia terasa seperti pesan yang ditinggalkan untuk setiap guru di Pangkep, Parepare, Makassar, Maros, dan Bulukumba — agar semangat yang menyala selama roadshow tidak padam setelah pintu kelas ditutup.
—-
Ingin lembaga Anda menjadi bagian dari ekosistem dakwah Al-Qur’an Wafa? Kunjungi wafaindonesia.or.id atau hubungi tim Wafa di WhatsApp +62 811 3058 9310.
Kontributor: Anggraini Andini Ruswandi & Aqiilah Wardah Zakariyah
