Apa Itu Munaqosyah? Tes Ahli Al-Qur’an dengan Metode Otak Kanan bersama Wafa Indonesia

Dalam dunia pendidikan Al-Qur’an, istilah munaqosyah mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Padahal, bagi lembaga dan praktisi pembelajaran Al-Qur’an, munaqosyah adalah gerbang penting untuk mengukur keberhasilan siswa dalam menguasai materi yang dipelajarkan.

Lalu, apa sebenarnya munaqosyah? Bagaimana pelaksanaannya, dan mengapa program ini menjadi bagian penting dari sistem manajemen mutu pembelajaran Al-Qur’an?

Apa Itu Munaqosyah?

Munaqosyah merupakan program penilaian kemampuan siswa di akhir pembelajaran. Program ini dirancang sebagai alat ukur untuk mengevaluasi ketercapaian hasil belajar yang telah dilaksanakan oleh suatu lembaga pendidikan. Secara lebih rinci, munaqosyah adalah program penilaian yang diselenggarakan pada jenjang akhir pembelajaran Al-Qur’an. Program ini dirancang khusus sebagai alat ukur pemahaman peserta secara objektif dan sistematis, guna mengevaluasi sejauh mana ketercapaian hasil belajar dalam pendidikan Al-Qur’an. Dengan kata lain, munaqosyah memang ditujukan sebagai program penilaian yang ditempatkan di penghujung perjalanan belajar Al-Qur’an.

Bedanya Metode Otak Kanan dengan Metode Biasa

Dalam pelaksanaannya, munaqosyah Wafa Indonesia menggunakan metode otak kanan, berbeda dengan metode yang umum seperti menghafal saja.

Biasanya metode konvensional yang cenderung mengandalkan hafalan dari otak kiri yang berfokus pada repetisi (pengulangan), metode otak kanan justru memanfaatkan imajinasi, emosi, dan keterkaitan makna. Dalam metode otak kanan, proses belajar tidak dilakukan dengan menghafal mati-matian. Sebaliknya, informasi “diserap” secara alami melalui pengalaman yang melibatkan perasaan dan kreativitas seperti misalnya mendengarkan lagu. Inilah mengapa anak-anak lebih cepat hafal dan tidak mudah lupa  karena Al-Qur’an dikenalkan dengan cara yang menyenangkan, seperti bernyanyi, bergerak, dan menggambar.

Sumber: https://ganeshaoperation.com/blog/post/menggali-potensi-otak-melalui-revolusi-belajar
Sumber: ganeshaoperation.com

 

Metode mengaji dengan otak kanan menggunakan metode ini lebih berfokus pada memadukan konsep utama:

  • Kinestetik (Gerakan, dalam mengenali symbol Al-Qur’an)
  • Auditori (pendengaran, terutama nada/lagu)
  • Visual (penglihatan, menulis ayat Al-Qur’an)

Hasilnya? Anak-anak lebih cepat hafal dan bisa lebih lama mengingat ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka tidak mudah lupa karena hafalan “menempel” melalui pengalaman yang menyenangkan, dengan memanfaatkan metode otak kanan .

Salah satu peserta munaqosyah, Mavi dari SMA Muhammadiyah 1 Malang, berbagi pengalamannya menggunakan metode Wafa.

“Pakai metode Wafa itu lebih mudah, karena belajarnya pakai nada. Kayak dikasih lagu gitu, jadi dari aku sendiri hafalannya jadi cepet nempel. Aku dulu suka lupa, sekarang munaqosyah malah serasa senandung lagu”

Kutipan ini menggambarkan bagaimana pendekatan nada dan irama dalam metode otak kanan mampu mengubah suasana ujian yang biasanya menegangkan menjadi lebih santai dan menyenangkan.

Wafa Indonesia Targetkan Lahirkan Ahli Al-Qur’an di Setiap Daerah

Selain metode yang unik, Wafa Indonesia juga memberikan fleksibilitas pelaksanaan. Munaqosyah dapat diikuti secara online maupun offline (tatap muka langsung). Hal ini memudahkan lembaga di berbagai daerah untuk tetap mengakses ujian kelulusan Al-Qur’an dengan standar yang sama.

Munaqosyah bukan sekadar ujian kenaikan. Ia adalah perayaan pencapaian belajar Al-Qur’an dengan pendekatan yang hangat, manusiawi, dan terbukti efektif. Dengan metode otak kanan yang memadukan nada, gerak, dan gambar, menjadikan  anak-anak tidak hanya lulus ujian, tetapi juga mencintai prosesnya dengan melakukan pendekatan yang memang berfokus pada kretivitas.

Pelaksanaan Munaqosyah Di SMA Muhammadiyah 1 Malang

Sumber: Dokumen pribadi
Sumber: Dokumen pribadi

 

Di balik pelaksanaan Munaqosyah yang baru-baru ini digelar pada 8 Mei 2026, SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang, terdapat cerita yang menarik, Ustadz Wawan, salah satu penguji Wafa Indonesia, mengungkapkan visinya yang tak hanya berhenti pada ujian kelulusan.

Menurut Ustadz Wawan, pada hari pelaksanaan terdapat dua jenis ujian dengan level berbeda. Untuk level siswa, materi yang diujikan dirancang lebih sederhana dan ramah bagi peserta.

Materi Ujian Level Siswa

Para siswa hanya diuji pada bacaan Al-Qur’an yang diambil dari juz 4. Adapun teori yang masuk adalah seputar ghorib. Untuk tajwid, ujian diberikan dalam bentuk pilihan ganda tertulis, bukan lisan. Hal ini sengaja dilakukan untuk memudahkan siswa. Selain itu, ada juga ujian imlah atau menulis Arab yang menjadi bagian penilaian.

Meskipun terbilang lebih santai, Ustadz Wawan menegaskan bahwa siswa tetap harus belajar dan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.

Persiapan 4 Bulan yang Luar Biasa

Yang menarik, persiapan menuju munaqosyah kali ini hanya berlangsung selama 4 bulan. Meskipun terbilang singkat, hasil yang ditampilkan para siswa sangat luar biasa. Ustadz Wawan mengakui bahwa biasanya lembaga lain membutuhkan waktu 1 hingga 2 tahun untuk mencapai level yang sama.

Keberhasilan ini tidak lepas dari pendampingan yang tepat. Para guru pendamping ternyata sudah memahami standar Wafa Indonesia dengan baik. Sehingga proses belajar mengajar berlangsung efektif. Semangat dari murid dan guru juga menjadi faktor utama dibalik capaian ini.

“Kebetulan ini kan pengalaman pertama sekolah ini. Karena baru Januari kemarin baru pakai. Tapi sudah sangat luar biasa. Jadi memang mengejarnya itu baru 4 bulan ini. Masya Allah. Bisa munaqosyah. Luar biasa. Biasanya kalau lembaga lain butuh waktu 1 tahun, 2 tahun. Yang membuat Ustadz kaget, ini baru 4 bulan, tapi rasanya sudah seperti sudah lumayan lama.”  –  Ust Wawan Fitriono, S. Pd. I., Master Trainer Wafa Indonesia

Harapan ke Depan

Sumber: dokumen pribadi
Sumber: dokumen pribadi

 

Di penghujung wawancara, Ustadz Wawan menyampaikan harapannya. Ia ingin cita-cita Wafa untuk membangun peradaban masyarakat melalui lahirnya para ahli Al-Qur’an benar-benar terwujud. Ia berharap lembaga-lembaga di Malang khususnya bisa berkolaborasi lebih erat. Lebih jauh lagi, ia mengupayakan agar setiap daerah memiliki tim penggerak sendiri yang bergerak tanpa harus menunggu perintah, sehingga ketika tim Wafa datang, semuanya sudah siap.

“Harapan saya, seiring dengan ini ya cita-cita Wafa. Di Wafa ini kan ingin membangun peradaban masyarakat kita. Visi besar kita itu kan ingin melahirkan Al-Qur’an. Kami sedang mengupayakan gimana caranya supaya di setiap daerah itu ada tim yang tanpa kita suruh, mereka sudah bergerak sendiri, sibuk sendiri, mencari inspirasi sendiri. Sehingga tinggal Ustadz, kami siap untuk ke sini. Mungkin nanti di lain waktu Ustadz kembali. Insyaallah” – Ust Wawan Fitriono, S. Pd. I., Master Trainer Wafa Indonesia

Informasi lebih lanjut tentang program pelatihan Al-Qur’an bersama WAFA Indonesia:

📞  +62 811 3058 9310 🌐  wafaindonesia.or.id