Spirit Qur’ani Saat Pandemi

Virus corona mungkin salah satu virus yang sangat kondang nan tenar di dunia pervirusan bahkan mungkin dia menyandang makhluk terviral di langit dan di bumi selama 3 tahun terakhir ini. Hahaha….

       Virus yang satu ini mulai menggegerkan dan menggemparkan dunia sejak tahun 2019, sesuai namanya dong, coba munculnya tahun 2017, virus corona bakalan makin sweet (Sweet Seventeen) dan bisa bisa releas album, karena namanya pasti covid seventeen (covid 17) seperti grup band waktu itu. Hehehe. Sejak kemunculannya banyak sekali perubahan yang terjadi dalam kehidupan kita ini, mulai dari aturan, kebijakan, kebudayaan, kebiasaan serta gaya hidup dan lain lain. Dalam mengajar Al Qur’an pun juga mengalami perubahan sistem dan cara mengajar. Mengajar AlQur’an yang dari zaman Rosulullah menerima wahyu dari malaikat Jibril hingga sebelum covid 19 datang, guru dan siswa selalu bertatap muka atau berhadapan, namun sejak pemerintah memutuskan lock down, PSBB (sekarang istilahnya sudah ganti PPKM), karena corona dianggap mematikan, semua aktivitas masyarakat dihentikan, kemudian perlahan diperbolehkan tetapi dibatasi dan via online (dalam jaringan) atau secara virtual. Tidak terkecuali KBM di sekolah juga demikian. 

       Saat itu di lembaga kami, pembelajaran Al Qur’an yang tahsin melalui video call whatsapp secara privat. Setiap harinya guru memvideo call 10-13 siswa dengan estimasi durasi waktu per siswa kurang lebih 10-15 menit, jadi kalau diakumulasikan setiap harinya guru memvideo call siswa selama kurang lebih 130 menit. Bisa dibayangkan? Tentu saja itu bukan waktu yang sebentar, karena selama itu mata kita aktif dengan layar hand phone. Namun cara mengajar tersebut akhirnya dirubah, separuh siswa via pesan suara atau voice note dan guru mengoreksi bacaan siswa, sebagian lagi tetap via video call whatsapp privat. Sehingga guru tidak terlalu lama berinteraksi dengan handphone atau komputer.  Karena kesehatan guru juga harus diprioritaskan, disamping sebagai salah satu stakeholder pendidikan,  guru juga manusia yang sangat biasa. Hahaha…

      Sedangkan pembelajaran tahfidz melalui voice notes atau pesan suara whatsapp. Jadi ada 6 guru sebagai penanggung jawab (PJ) Rekam Suara Tahfidz sesuai kelas masing masing, kelas 1-6. Guru tersebut memberikan contoh lafadz ayat sesuai jadwal setiap harinya melalui rekam suara yang dikirimkan ke grup Guru PJ Tahfidz dengan batas pengiriman sore hari antara ba’da ashar sampai ba’da maghrib, lalu Guru PJ Tahfidz membagikannya ke masing-masing kelas. Kemudian siswa mengirim pesan suara atau voice note seperti yang dicontohkan guru pada keesokan harinya antara jam 07.00 WIB hingga jam 15.00 WIB dan guru mengoreksi hafalan siswa dengan menyebutkan maksimal 2 kesalahan bacaan, siswa mengirimkan lagi revisi bacaan yang salah. Alur yang cukup panjang bukan? Hahaha. 

       Awal mengajar saat pandemi saya yang notabene sebagai IRT (ibu rumah tangga) terasa sangat berat atau aneh, seperti merasa tidak sanggup karena bisa dibilang bahasa Bojonegoronya ora iso kobet blas atau tidak bisa berkutik sama sekali. Mungkin tidak saya saja, hampir seluruh IRT ya, hahaha, karena sehari-hari harus berkutat dengan aktivitas gadget; video call, rekaman, ngoreksi rekaman, video call, rekaman, ngoreksi rekaman, membuat video pembelajaran wafa juga, begitu seterusnya. Kala itu kita memang masih masa adaptasi dengan keadaan, jadi hampir semua guru Al Qur’an di lembaga kami, seperti terkena radiasi handphone, kita merasa pusing, mual, kudu muntah merasa eneg kalau lihat hp, sehingga pembelajaran tahsin yang sebelumnya video call whatsapp secara privat 10-13 siswa/hari, durasi video call 10-15 menit/siswa diganti separuh siswa video call, sebagian lagi siswa mengajinya kirim rekam suara atau pesan suara dan guru mengoreksi by voice note juga. Belum menyelesaikan pekerjaan rumah; nyuci baju, nyuci piring, masak, nyetrika, lipat baju, ngepel dll, nginemlah pokoknya, hahaha. Yang utama lagi mengurus anak sendiri, melayani pak suami dsb, rasanya amazing banget deh, terasa abot namun kita mencoba untuk tetap rapopo, mau abot ataupun enteng, kita harus tetap semangat menumbuhkan spirit qur’ani disaat pandemi. Hahaha. 

       Selain masalah tersebut, masalah yang lainnya adalah dari gadget itu sendiri, iya dari handphonenya, waktu itu saya harus membeli hp baru, gegara hp saya hank karena overload mungkin juga hp saya capek minta dilembiru (lempar beli yang baru),  hehehe. Hp juga butuh nutrisi dan suplemen, hp serasa tidak fungsi dengan baik, apalagi musim daring seperti saat ini kalau tidak ada pulsa dan paket data atau kuota internetnya. Paket data atau kuota internet saat ini merupakan salah satu hal yang sangat mempengaruhi keefektivan KBM, sebab jikalau guru atau siswa tidak memiliki kuota internet, auto KBM tidak bisa terlaksana, ada kuota namun jaringan internet tidak stabil KBM juga kurang maksimal, so terkadang juga ada kendala bagi guru ataupun siswa karena harus selalu mempunyai paket data setiap hari, setiap waktu, walaupun ada sih bantuan kuota dari pemerintah  saat awal pandemic. Alhamdulillah itu juga sangat membantu, namun karena realitanya pandemi sampai sekarang belum berlalu, kebutuhan kuota internet menjadi kebutuhan primer sehingga bisa membuat anggaran rumah tangga membengkak. Oleh Karena itu saya dan guru Al Qur’an lainnya  berusaha ke sekolah setiap hari, tidak seperti guru mata pelajaran lainnya yang masuk hanya saat jadwal piket saja. Ya, karena mengajar Al Qur’an memang tak kenal waktu, tidak sekedar menyelasaikan beban jam tugas mengajar, mengajar membaca Al Qur’an fondasi untuk pembentukan adab anak, tetap menumbuhkan spirit qurani kepada siswa disaat banyak anak-anak yang kecanduan game online insyaAllah tujuan yang mulia. Di lembaga kami sama dengan lembaga lainnya, sejak pandemi covid 19, ada pembatasan masuk sekolah untuk menghindari kerumunan atau social distancing, sehingga guru dijadwalkan ada yang sebagian masuk atau piket, ada yang WFH. Kalau saya mengajar di sekolah, saya sangat merasa lebih nyaman, lebih ringan, lebih mudah, sebab adanya jaringan free wifi yang sangat bisa dimanfaatkan, terlebih lagi rumah saya yang berada di pelosok desa jauh dari kota Bojonegoro, jaringan internetnya belum begitu lancar dan kuat. 

       Kendala selanjutnya adalah ketika kita sudah membuat, menyusun dan menentukan  jadwal video call dengan siswa, kita sudah share di grup whatsapp, subhanallah ternyata saat jamnya tiba, siswa belum siap karena hp nya masih dipakai orang tua bekerja, hp nya masih dipakai kakak yang juga sekolah daring, ada yang orangtua lupa, karena siswa masih tidur, masih sarapan, masih mandi, masih bermain di luar,  ada yang cari mood booster dulu karena masih dirayu nunggu moodnya membaik, sehingga minta divideo call sore, agak siangan dikit, bahkan menjelang maghrib karena orangtua atau wali murid yang baru pulang bekerja juga ada. Pada akhirnya jadwal yang seharusnya selesai tepat waktu sesuai rencana kita, harus molor lagi. Walaupun demikian, guru, siswa dan orangtua tidak boleh menyerah begitu saja dengan keadaan, orangtua dan guru memiliki tujuan yang selaras yaitu menumbuhkan generasi yang qur’ani. Guru dan orangtua harus tetap berjuang bersama-sama, insyaaAllah sekolah selalu berusaha memberikan solusi dengan menentukan kebijakan atau aturan yang tidak memberatkan guru, siswa, wali murid sehingga pembelajaran Al Qur’an tetap berjalan supaya anak-anak tetap dekat dengan Al Qur’an. Itulah pengalaman yang umum dialami bagi guru Al Qur’an  di lembaga kami, saya sendiri mempunyai cerita menarik saat mengajar Al Qur’an di era pandemi yang akan saya bagikan pada paragrap berikutnya. 

       Karena rumah saya yang cukup jauh dengan sekolah, jarak tempuh dari rumah ke sekolah sekitar 45 menit. Mengurus serta mengkondisikan anak saya terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah, terkadang menyebabkan saya terlambat mengajar atau memvideo call anak-anak/siswa, tidak mungkin saya merubah jadwal video call karena mereka dan wali murid pasti sudah menunggu mau mengaji wafa, sehingga saya putuskan untuk mengajar diatas motor sambil dibonceng pak suami, mengajar diatas motor adalah hal yang sudah terbiasa saya lakukan saat pandemi covid ini,  sepanjang jalan saya mengajar wafa dengan menggunakan headset supaya suara bisa terdengar jelas, nah serunya saat motor memasuki kawasan kota, ada rambu lalu lintas, waktu itu  lampu merah menyala, sehingga motor yang saya naiki juga ikut berhenti, di situ saya masih mengajar dengan suara yang tidak pelan, apalagi ditambah kebisingan kendaraan yang lalu lalang, sambil mata saya melirik, sesekali saya melihat keadaan sekitar, spontan kendaraan disamping saya, di sekitar saya pada menatap atau menoleh ke arah saya dengan tatapan yang aneh, entah apa yang ada dalam pikiran mereka, Allahu a’lam, tetapi saya berusaha bersikap biasa dan cuek karena show must go on guys, saya hanya berpikir mengajar ngaji sebagai tanggung jawab saya adalah hal yang lebih utama saya lakukan. 

      Ketika saya harus mengajar di pinggir jalan raya, tepatnya di depan warung makan, kebetulan didepan warung makan tersebut ada kursi panjang yang biasa dijadikan berteduh atau jagong bapak bapak untuk cangkruk. Untungnya saat itu warung makannya masih sepi karena baru buka, coba kalau pas ramai, saya malah mengganggu orang lain yang makan di warung, dan membuat ketidak nyamanan. Di situ saya mengajar sambil menunggu teman saya namanya ustadzah Ida datang, waktu itu saya memang tidak berangkat dengan suami saya karena pak suami sibuk dengan acara kerjaan, akhirnya saya ikut ustadzah Ida untuk berangkat bareng ke sekolah dan kita janjian di daerah Sumberrejo, saya memvideo call anak-anak sampai dapat 3 siswa, ustadzah Ida tak kunjung datang juga. Saya mengajar dengan merasa sungkan, pakewuh karena pemilik warung beberapa kali keluar terlihat masih repot menyiapkan warung makannya buka. Alhamdulillah pemilik warungnya ramah, saya diperbolehkan menunggu dan mengajar di situ sampai akhirnya teman saya datang. 

       Pengalaman saya berikutnya yaitu saat saya di rumah mertua, disaat asyik-asyiknya memvideo call tetiba terputus karena ternyata kuota internet saya habis, karena di rumah hanya ada saya dan mertua saja, saya lari kerumah tetangga,  dan ternyata tetangga saya juga tidak punya kuota internet, saya kebingungan karena pasti siswa yang saya video call tadi juga mencari cari saya, menunggu kok tetiba hilang tidak bisa dihubungi, akhirnya tetangga saya memberikan informasi kalau disebrang jalan raya ada warkop atau warung kopi yang ada jaringan free wifinya, hp saya koneksikan dengan wifi warkop tersebut, alhamdulillah bisa, saya manfaatkan untuk menghubungi teman saya yang jualan pulsa terlebih dahulu, dan saya lihat ada panggilan video call masuk dari siswa yang video callnya terputus tadi, saya terima dan putus lagi karena jaringan wifinya yang low, tetapi Alhamdulillah sekali teman saya yang jualan pulsa tadi sudah berhasil mengisi pulsa ke hp saya, akhirnya saya bisa melanjutkan mengajar lagi dengan lancar hingga selesai.

     Masih ingat saat itu saya mengajar/memvideo call siswa di tepi bengawan solo, Karena rumah saya berada di daerah pinggiran bengawan solo, perbatasan Tuban dan Bojonegoro, kalau mau ke sekolah ada dua akses jalan, bisa lewat menyebrang bengawan solo tembus daerah Sumberrejo atau lewat daerah Soko tanpa menyebrang bengawan solo, saat itu pak suami sedang berada dirumah, jadi saya memilih lewat tambangan menyebrang bengawan solo, kemudian naik ojek dan bareng ke sekolah dengan ustadzah Ida yang rumahnya Baureno, saat itu jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih, perahu yang bawa penumpang juga masih berada di ujung sebrang, terpaksa saya mengajar sambil menunggu perahu datang, saya duduk sendirian di pinggir bengawan, setelah saya memvideo call dapat 2 siswa, perahunya tiba. 

Bapaknya yang menjalankan perahu melihat saya, kemudian bertanya kepada saya; “ lha ewoh opo mbak? ” (lha ngapain mbak?)

Saya jawab; “ ngucal mbah “ (ngajar mbah),

kemudian bapaknya bilang sambil tersenyum; “ tak kiro to ewoh opo “, (saya kira ngapain) Kok omong-omongan nok hp?(kok berbicara lewat hp?), “ woalah tibake ngulang, ngulang jaman sak iki, teko hape, “ (woalah ternyata ngajar, ngajar jaman sekarang dari hp).

Saya tertawa sambil mengakhiri video call dan bergegas naik perahu, penumpang yang lain juga ikut menimpali obrolan saya dengan bapaknya tadi. Saya pikir kali ini, sesekali saya bolehlah menunda jadwal video call, karena wali murid juga sering melakukannya, (bukan balas dendam ya) hehehe, akhirnya saya hubungi siswa berikutnya kalau jam video callnya mundur, karena ustadzah masih perjalanan ke sekolah. Alhamdulillah wali murid menyepakati dan bilang “tidak apa apa ustadzah”, saya senang sekali, karena saya tidak mengajar dijalan raya.

       Pengalaman saya selanjutnya yang ingin saya bagikan yaitu ketika saya mau mengirim rekaman tahfidz. Perlu diketahui pembelajaran tahfidz di lembaga kami yaitu guru PJ Rekaman Tahfidz memberikan contoh lafadz ayat sesuai jadwal setiap harinya melalui rekam suara atau pesan suara dengan batas pengiriman sore hari antara ba’da ashar sampai ba’da maghrib yang dibagikan ke grup Guru PJ Tahfidz, kemudian guru PJ Tahfidz masing masing kelompok/kelas membagikannya ke grup siswa, karena saat itu semua guru PJ Rekaman Tahfidz sudah mengirim semua, tinggal saya yang belum mengirim, teman teman sudah mencari cari saya digrup WA, karena waktu itu saya pulang kesorean ada keperluan yang urgent, ditambah ban motor ustadzah Ida bocor, kehujanan pula, lengkap sudahlah pokoknya, jadi saat itu ba’da maghrib masih rintik rintik hujan, saya basah kuyup karena tidak pakai jas hujan, posisi masih on the way pulang ke rumah, tepatnya di tepi bengawan menunggu perahu datang yang masih lama dan belum ada tanda tanda sama sekali, ditambah suasana tepi bengawan yang sepi, otomatis saya rekaman di TKP itu juga, hahaha, kalau tidak salah surat Al Haqqah, biasanya saya rekaman sambil ngecek di Al Quran dulu, karena saat itu saya gugup, rekaman selesai auto saya kirim ke grup PJ Tahfidz, Alhamdulillah saya merasa lega dan plong sudah menjalankan tanggung jawab saya, eeee….astaghfirullah, sampai rumah salah seorang ustadzah namanya ustadzah Dhea menelepon saya, memberitahu kalau rekamannya tadi ada yang kurang, saya kaget dan langsung cek di Al Qur’an, ternyata memang benar, saya yang salah dan harus rekaman lagi. Alhamdulillah ada yang mengingatkan. 

      Demikianlah beberapa moment yang tidak terlupakan saat saya mengajar Al Qur’an selama pandemic. Bagi kami, pembelajaran Al Qur’an selama pandemic ini dirasa kurang maksimal, karena mengajar dan belajar Al Qur’an tidak mudah dilaksanakan secara online, hari-hari yang kita lalui memang terasa berat, mengajar lebih ngoyo dari hari-hari sebelum pandemi, karena tidak sedikit siswa yang di rumah sulit dikondisikan untuk selalu istiqomah membaca / belajar Al Qur’an, belum lagi kesibukan orangtua yang bekerja sehingga tidak bisa mendampingi siswa dengan maksimal. Padahal orangtua dan sekolah harus sinkron berjalan bersama-sama menciptakan generasi qur’ani, generasi yang dekat dengan Al Qur’an, generasi yang selalu istiqomah belajar dan membaca Al Qur’an. Itu semua butuh kegigihan dan perjuangan, tidak semudah membalikkan telapak tangan ya guys, setiap perjuangan pasti ada ujian, semoga Allah swt mempermudah urusan kita semua dan pandemic covid 19 cepat berlalu, dilenyapkan dari bumi. Aamiin. Karena tehnik dan cara mengajar virtual yang canggih sekalipun dirasa belum mampu menandingi belajar Al Qur’an secara tatap muka. 

_
Penulis : Nurul Khotimah – SDIT Insan Permata Bojonegoro