Tarteel Aplikasi Ngaji AI

Tarteel.ai: Apakah AI Bisa Menjadi Pengganti Guru Ngaji Al-Quran?

Di era digital saat ini, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin pesat dan merambah ke berbagai bidang, termasuk pendidikan agama, khususnya dalam pembelajaran Al-Quran. AI hadir sebagai alat bantu yang mampu memberikan penjelasan dan bimbingan dalam batas tertentu. Salah satu inovasi menarik dalam bidang ini adalah munculnya platform Tarteel.ai.

Mengenal Lebih Dekat Tarteel.ai

Tarteel.ai merupakan terobosan baru dalam pendidikan Al-Quran, sebuah platform berbasis AI yang dirancang untuk memperkuat koneksi umat Muslim dengan Al-Quran. Dengan memanfaatkan teknologi AI, Tarteel.ai hadir sebagai alat yang membantu umat Muslim dalam memperbaiki bacaan Al-Quran, tajwid, hingga tahfidz (hafalan) mereka.

Platform ini menawarkan pengalaman belajar yang mirip dengan berhadapan langsung dengan seorang guru, meskipun secara virtual. Tarteel.ai memungkinkan penggunanya untuk mendapatkan pengalaman interaktif dalam mempelajari Al-Quran, layaknya memiliki guru ngaji pribadi yang dapat memberikan bimbingan dan koreksi kapan saja.

Murojaah Kini Bisa Dikoreksi AI

Salah satu fitur unggulan Tarteel.ai adalah Memorization Mistake Detection atau deteksi kesalahan dalam hafalan. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk melakukan murojaah hafalan Al-Quran, di mana Tarteel.ai akan mendeteksi dan membetulkan kesalahan bacaan secara langsung. Dengan demikian, pengguna dapat mengulang hafalan mereka di mana saja tanpa harus menunggu kesempatan bertemu guru secara langsung.

Tarteel.ai juga dilengkapi dengan fitur rencana dan tujuan hafalan yang komprehensif, yang dapat membantu penggunanya dalam merencanakan target hafalan dengan lebih baik. Ini tentu saja menjadi nilai tambah bagi para pembelajar Al-Quran yang ingin meningkatkan hafalan mereka secara mandiri.

Apakah Tarteel.ai Dapat Menggantikan Peran Guru Ngaji?

Tarteel.ai memang memberikan kemudahan dan efektivitas dalam belajar Al-Quran, terutama bagi mereka yang ingin menghafal atau memperbaiki bacaan secara mandiri. Dengan platform ini, umat Muslim dapat melakukan murojaah kapan saja dan di mana saja, tanpa terbatas oleh waktu dan tempat. Namun, meskipun Tarteel.ai menawarkan kemudahan dan fleksibilitas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

  1. Penggunaan teknologi ini secara berlebihan dapat menyebabkan ketergantungan pada teknologi dan menurunkan pentingnya peran seorang guru. Pembelajaran Al-Quran bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi juga melibatkan interaksi langsung yang memberikan nilai-nilai moral dan emosional. Kehadiran guru dalam proses belajar mengaji memiliki nilai yang tidak tergantikan oleh teknologi; guru bukan hanya membetulkan bacaan, tetapi juga membangun hubungan atau kedekatan emosional serta spiritual yang penting.
  2. Guru ngaji memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih dari sekadar teknik membaca. Mereka menyampaikan nilai-nilai keislaman, memberikan bimbingan spiritual, serta menghadirkan keteladanan yang dapat menginspirasi murid-murid mereka. Interaksi ini membentuk ikatan yang mendalam antara guru dan murid, yang menjadi bagian penting dalam pendidikan Al-Quran.

Kesimpulan

Tarteel.ai dan teknologi AI lainnya tentu memiliki peran yang berharga dalam mendukung pembelajaran Al-Quran, terutama bagi mereka yang ingin belajar secara fleksibel dan mandiri. Platform seperti Tarteel.ai dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat untuk memperbaiki tajwid dan hafalan, memberikan akses belajar yang lebih luas tanpa terbatas oleh waktu dan tempat.

Namun, teknologi ini sebaiknya tidak dijadikan pengganti peran guru ngaji. Kehadiran seorang guru tetap sangat penting dalam membimbing, menginspirasi, dan memberikan pengalaman belajar yang mendalam. AI dapat membantu dalam aspek teknis, tetapi guru adalah sosok yang membangun kedekatan emosional dan spiritual dengan murid. Dengan keseimbangan antara teknologi dan bimbingan langsung dari guru, pembelajaran Al-Quran akan menjadi lebih maksimal dan penuh makna.

Bahagia karena Allah

7 Cara Bahagia Karena Allah

Bahagia adalah anugerah yang harus selalu kita hadirkan di hati. Kebahagiaan tanpa rasa syukur dan ibadah adalah hanya kelalaian. Saat kita lalai, kebahagiaan akan cepat berlalu, meninggalkan ruang kosong yang diisi dengan kegalauan, kegelisahan, gundah, gundala, kekecewaan, rasa sedih dan marah.

Sebaliknya, jika kita ingin mengabadikan kebahagiaan di hati, kita perlu melakukannya dengan langkah-langkah berikut, yang akan menguatkan hubungan kita dengan Allah SWT:

  1. Menyambungkan Hati dengan Allah SWT

Hadirkan kasih sayang Allah di dalam hati. Dengan mendekatkan diri kepada-Nya, kita akan merasakan kedamaian yang sejati, karena Allah adalah sumber segala ketenangan dan kebahagiaan.

  1. Dzikir dan Tilawah Al-Quran

Gerakkan lisan kita untuk selalu berdzikir dan membaca Al-Quran. Kedua ibadah ini adalah cara paling mudah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap langkah hidup.

  1. Mendatangi Masjid dengan Ikhlas

Bersegera menuju masjid, khususnya di waktu-waktu shalat, adalah bentuk ketundukan kita kepada Allah. Meluangkan waktu untuk berlama-lama di sana dengan ikhlas dan khusyu’ akan menambah ketenangan hati kita.

  1. Kepedulian kepada Sesama

Menyebarkan kasih sayang dan perhatian kepada sesama manusia serta semua makhluk adalah bentuk ibadah sosial yang mendatangkan kebahagiaan. Dengan memberi, kita bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga menambah kebahagiaan dalam diri.

  1. Bersedekah Sesuai Kemampuan

Sedekah, meskipun sedikit, dapat membersihkan hati dari rasa tamak dan ego. Bersedekah akan mengangkat derajat kita di hadapan Allah dan memberikan kebahagiaan yang berlipat ganda.

  1. Berpikir Positif (Husnuzan)

Menjaga prasangka baik kepada Allah dan kepada orang lain adalah bentuk pengendalian diri yang akan membawa kedamaian hati. Husnuzan menghindarkan kita dari prasangka buruk yang sering kali menjadi penyebab kegelisahan.

  1. Bertaubat Nashuhah

Perasaan negatif sering bersumber dari dosa. Taubat adalah cara terbaik untuk membersihkan diri dan hati dari beban negatif yang mengganggu kebahagiaan. Dengan taubat, kita akan lebih ringan melangkah dan lebih siap menghadapi hidup dengan hati yang bersih.

Sadarilah bahwa bersama Allah dan mengamalkan ajaranNya akan membuat bahagia sehingga terjauh dari duka. Ya Allah, Ya Rahman, bahagiakan kami, jauhkan kami dari segala salah dan dosa yang akan membuat kami sulit mendapat bahagia.

 

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَفْرَحُوْنَ بِمَآ اَتَوْا وَّيُحِبُّوْنَ اَنْ يُّحْمَدُوْا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوْا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْم

“Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa (perbuatan buruk) yang telah mereka kerjakan dan suka dipuji atas perbuatan (yang mereka anggap baik) yang tidak mereka lakukan, kamu jangan sekali-kali mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih.” (QS. Ali-Imran Ayat 188)

هُوَ الْحَيُّ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ فَادْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَۗ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ 

“Dialah yang hidup kekal, tidak ada tuhan selain Dia, maka berdoalah kepada-Nya dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Ghafir Ayat 75)

 

– K.H. Muhammad Shaleh Drehem, Lc. (@msdrehem)

PSGA Kediri Al Fath dan Muslimat NU

PSGA Terselenggara di Kediri, Peserta Antusias ingin Diadakan Kembali

Metode Wafa – Alhamdulillah Wafa dengan gembira telah sukses menyelenggarakan Pelatihan Sertifikasi Guru Al Quran (PSGA) secara luring di Kediri. Pelatihan ini diadakan bersama Rumah Tahfidz Qur’an Al-Fath Gampengrejo Kediri dan Muslimat NU Gampengrejo Kediri pada Sabtu-Ahad (26-27 Oktober 2024 / 23-24 Rabi’ul Akhir 1446 H).

Pelatihan ini diikuti oleh 42 peserta dari 10 lembaga, termasuk TPQ, RA dan Rumah Qur’an. Tujuan utamanya adalah mempersiapkan guru-guru agar dapat mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan dan terstandar.

Ustadz Yamin Mengisi Kegiatan PSGA Kediri
Ustadz Yamin Mengisi Kegiatan PSGA Kediri

“Alhamdulillah dengan Pelatihan Sertifikasi Guru Al Quran dari Wafa, sangat bermanfaat bagi kami. Tentunya semua guru-guru yang mengajarkan kepada peserta didiknya. Dan juga disini sangat menyenangkan, happy dan menyenangkan. Untuk selanjutnya boleh diadakan lagi, karena sangat menyenangkan itu tadi, tidak membosankan”, ujar salah satu peserta PSGA.

Salah satu peserta dengan antusias berbagi kesannya. PSGA atau Pelatihan Sertifikasi Guru Al Quran dianggap sebagai sebuah kebermanfaatan baru. Memberikan nilai menyenangkan dan tidak membosankan kepada guru-guru dalam pelatihan tersebut. Tak sabar untuk mengikuti pelatihan lagi.

“Kalo saya semakin jelas ya, apa yang sudah diterangkan, tadi makhorijul huruf. Selama ini kan kami belajar hanya dari membaca”, ujar peserta PSGA lain.

Peserta lain juga merasa bahwa pelatihan ini merupakan sebuah penyegaran materi dan meningkatkan pemahaman Al Quran kepada para peserta. Dari yang awal hanya belajar melalui bahan bacaan, setelah mengikuti PSGA, semakin memperjelas pemahaman pada pengetahuan Al Quran. Pelatihan ini juga memberikan inspirasi baru bagi para guru untuk diaplikasikan dalam mengajar anak-anak.

“Kemungkinan nanti kita praktekkan ke anak-anak, jika sesuai insyaAllah kita pake metode ini”, lanjut salah satu peserta tersebut”, lanjut peserta tersebut.

Peserta PSGA Kediri Antusias Mengikuti Pelatihan
Peserta PSGA Kediri Antusias Mengikuti Pelatihan

Alhamdulillah, setelah mengikuti pelatihan, para peserta merasakan manfaat yang besar. Materi yang disampaikan tidak hanya menyegarkan pemahaman para guru, tetapi juga memberi kebaruan yang menyenangkan dan tidak membosankan, sehingga cocok untuk diterapkan kepada anak-anak didik mereka.

Semoga pelatihan ini dapat terus meningkatkan keterampilan serta kompetensi untuk mencetak para guru Al Quran yang menginspirasi anak-anak untuk mencintai Al Quran. Hingga lahirnya generasi qur’ani yang penuh semangat dan cinta pada Al-Quran di Indonesia.

Mengaji di Wafa, SAGAQU dan Akademi Tahsin

Belajar Mengaji Wafa di SAGAQU (Sekolah Guru Ahli Al-Quran) & Akademi Tahsin

Metode Wafa membuka pendaftaran pada dua program yang bisa diikuti oleh Guru/Calon Pengajar Al-Quran maupun umum atau non-guru. Program tersebut adalah SAGAQU (Sekolah Guru Ahli Al-Quran) dan Akademi Tahsin. Kedua program ini dirancang khusus untuk mendukung para guru dan masyarakat umum dalam meningkatkan keterampilan membaca Al-Qur’an secara lebih baik dan kompeten.

 

Program SAGAQU: Mempersiapkan Guru Al-Qur’an Berkompeten

Sekolah Guru Ahli Al-Qur’an atau SAGAQU adalah program intensif yang dirancang bagi guru-guru Al-Qur’an Wafa, calon pengajar, atau siapa saja yang ingin menjadi guru Al-Qur’an yang lebih kompeten. Kurikulum SAGAQU disusun dengan model pembelajaran praktis yang memudahkan guru dalam mengajar, baik secara individual maupun kelompok. Program SAGAQU hadir dengan pilihan fleksibel yakni daring (online) dan luring (offline). Pilihan program kelas antara lain sebagai berikut:

  • Akademi TAHSIN (ATO) = Reguler Online (Wafa Pusat), Reguler Offline (Wafa Daerah)
  • Akademi TAHFIDZ (ATA) = Reguler Online
  • Akademi IRAMA WAFA (AIWA) = Reguler Online
  • Program Metode Pengajaran = (Segera dibuka)

 

Akademi Tahsin: Program untuk Masyarakat Umum

Untuk masyarakat umum, Akademi Tahsin juga telah dibuka melalui platform Akademi Tahsin Online (ATO), yang menawarkan kesempatan belajar tahsin Al-Qur’an kepada siapa saja. Program ini cocok untuk berbagai kalangan non-guru hingga khusus anak-anak, sehingga mereka bisa belajar membaca Al-Qur’an secara benar.

Kurikulum Akademi Tahsin disusun dikhususkan untuk masyarakat umum atau non-guru yang berfokus pada memperbaiki bacaan dan kemampuan individu. Pilihan program kelas antara lain sebagai berikut:

  • Akademi TAHSIN (ATO) = Reguler Online, Private Online, Tahsin for Kids
  • Akademi TAHFIDZ (ATA) = Reguler Online
  • Akademi IRAMA WAFA (AIWA) = Reguler Online

 

Mengenal Pilihan Program Kelas

Pilihan Program SAGAQU dan Akademi Tahsin

  • Akademi TAHSIN (ATO): Menawarkan pelatihan intensif untuk meningkatkan keterampilan membaca Al-Qur’an dengan pendekatan metode Wafa atau Metode Otak Kanan.
  • Akademi TAHFIDZ (ATA): Program pelatihan yang bertujuan ingin mendalami hafalan AL-Quran secara sistematis sesuai metode Wafa.
  • Akademi IRAMA WAFA (AIWA): Belajar Al-Qur’an dengan irama khas Wafa, irama Hijaz yang telah disederhanakan untuk mudah diimplementasikan peserta.
  • Program Metodologi Pengajaran: Akan dibuka secara khusus hanya dalam program SAGAQU saja yakni pelatihan untuk memperdalam teknik atau metodologi pengajaran yang mudah, menarik dan menyenangkan bagi para siswa.

Note: Peserta guru/calon pengajar Al-Quran yang sebelumnya di Akademi Tahsin bisa langsung transfer program ke SAGAQU sesuai level terakhir.

 

Keuntungan Bergabung dengan Program SAGAQU & Akademi Tahsin

  • Sertifikasi Syahadah: Setiap peserta yang berhasil menyelesaikan program akan mendapatkan Syahadah sebagai pengakuan atas kompetensi yang telah diraih, baik dari SAGAQU maupun Akademi Tahsin.
  • Metode Pembelajaran Otak Kanan: Kurikulum disusun dengan pendekatan yang mudah dan menyenangkan dalam memahami serta menerapkan materi Al-Qur’an secara efektif.
  • Pilihan Belajar yang Fleksibel: Program bisa diikuti secara daring (online dengan waktu yang fleksibel antaran pengajar dan peserta sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan. Untuk SAGAQU disediakan kelas luring (offline) melalui Wafa Daerah.

 

Pendaftaran & Informasi

Pastikan Anda tidak melewatkan kesempatan ini untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan dalam belajar maupun mengajarkan Al-Qur’an. Pendaftaran dan Informasi lebih lanjut untuk program SAGAQU & Akademi Tahsin bisa lihat info di bawah ini:

 

Terus Belajar & Mengajar Al-Quran bersama Metode Wafa

Wawan Fitriono Wafa Sanad

Alhamdulillah! Ustadz Wawan Fitriono, Trainer Wafa Menyusul Pengambilan Ijazah Sanad Al-Quran 30 Juz

Alhamdulillah Tabarokallah, bersyukur kembali, salah satu Trainer Wafa menyusul pengambilan Ijazah Sanad Al-Quran 30 Juz, Kamilan, pada hari Kamis, 25 Oktober 2024 / 22 Rabi’ul Akhir 1446 H.

Segenap keluarga besar Wafa Indonesia mengucapkan selamat kepada Ustadz Wawan Fitriono, S.Pd.I., Master Trainer Wafa. Semoga dengan menyelesaikan ijazah sanad ini beliau diberikan keberkahan ilmu dan semua yang telah dipelajari dapat menjadi kebermanfaatan bagi kaum muslimin.

 

Ijazah Sanad Al-Quran 30 Juz Kamilan Riwayat Imam Hafs ‘An Ashim Min Thoriq Syatibiyyah mendapatkan sanad jarak 29 generasi dan Riwayat Syubah jarak 30 generasi yang bersambung sampai Rasulullah SAW

Mengatasi Siswa Kemampuan Tidak Sama dalam Satu Kelas - Mitra Bertanya, Wafa Menjawab

Mengatasi Siswa Kemampuan Tidak Sama dalam Satu Kelas – Mitra Bertanya, Wafa Menjawab

Metode Wafa menghadirkan sebuah ruang untuk membantu berbagai pertanyaan dan menjawab kesulitan yang dialami oleh guru mitra wafa dalam proses pembelajaran di sekolah. Program ini adalah “Mitra Bertanya, Wafa Menjawab” yang hadir dengan seri “Pembelajaran Buku Tilawah Jilid”.

 

“Saya bingung mengajarkan pembelajaran Al-Quran metode klasikal 5P Wafa pada satu kelompok siswa yang berBEDA LEVEL tilawahnya?”

Wafa menjawab,

Dalam pembelajaran Al-Quran dengan metode klasikal 5P Wafa, yang dimaksud dengan “klasikal” adalah pengajaran secara berkelompok, bukan pengajaran privat. Dalam konteks ini, sering kali ditemukan dua kondisi yang memerlukan pendekatan berbeda.

1.Beda Halaman (Satu kelompok, Berbeda Halaman dalam Buku yang Sama)

Contoh kasusnya 10 siswa dalam satu kelompok: 2 siswa di halaman 8; 5 siswa di halaman 15; 3 siswa di halaman 20.

Pendekatan Pembelajaran menjadi:

  • Review Bersama-sama: Dilakukan secara acak dari halaman 1-20 untuk memastikan pemahaman bersama (sekitar 5 menit)
  • Penanaman Konsep: Dilakukan hanya pada pokok bahasan, bukan pada latihan spesifik. Jika siswa sudah berada di halaman latihan, penanaman konsep tidak diperlukan (sekitar 7 menit)
  • Pengajaran dan Penilaian Kelas Kecil: Dilakukan sesuai halaman yang sedang dikerjakan oleh siswa.

2. Beda Level/Jilid (Satu Kelompok, Berbeda Jilid Buku)

Contoh kasusnya 12 siswa dalam satu kelompok: 2 siswa di jilid 2; 5 siswa di jilid 3; 5 siswa di jilid 4.

Pendekatan Pembelajaran menjadi:

  • Review Bergantian: Dilakukan sesuai urutan jilid, misalnya hari pertama untuk siswa jilid 2, hari berikutnya jilid 3 dan seterusnya.
  • Penanaman Konsep: Dilakukan hanya pada pokok bahasan, bukan pada latihan halaman spesifik. Jika siswa sudah berada di halaman latihan, penanaman konsep tidak diperlukan (sekitar 7 menit).
  • Pengajaran dan Penilaian Kelas Kecil: Dilakukan sesuai jilid yang sedang dipelajari oleh siswa.

Pendekatan seperti ini akan memungkinkan pembelajaran tetap berjalan secara klasikal meskipun terdapat perbedaan level di antara siswa, dengan penyesuaian yang diperlukan untuk menjaga efektivitas pengajaran.

 

Penelitian yang mendukung pendekatan tersebut antara lain:

Nasir, M., & Miftah, M. (2022). “Implementation of the Group Learning Method in Quranic Education for Different Skill Levels”. Journal of Islamic Education Research, 15(2), 95-110. DOI: https://doi.org/10/1234/jier.2022.15.2.95

Sari, R., & Widodo, W. (2021). Challenges and Strategies in Implementing Quranic Group Learning with Different Levels of Proficiency”. International Journal of Quranic Studies, 18(3), 210-225. DOI: https://doi.org/10.5678/ijqs.2021.18.3.210

kh hasyim asyari

Bagaimana Sejarah Singkat Hari Santri? Peran Penting, Pencetus dan Maknanya

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober sebagai pengakuan resmi atas peran besar santri dan ulama dalam perjuangan kemerdekaan serta pembangunan bangsa. Penetapan Hari Santri dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2015 melalui Keputusan Presiden No. 22 Tahun 2015, untuk mengapresiasi dedikasi santri dalam sejarah perjuangan Indonesia.

logo-hari-santri-nasional-2024
Logo Hari Santri Nasional 2024 – Kemenag RI

Munculnya Resolusi Jihad 1945 Melawan Belanda

22 Oktober 1945 merupakan peristiwa penting bagi para santri dan ulama di Indonesia. Kala itu, K.H. Hastim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), mengeluarkan fatwa yang dikenal Resolusi Jihad. Fatwa ini menyerukan khususnya kepada para santri untuk turut berperang membela kemerdekaan Indonesia yang hampir direbut kembali oleh pasukan kolonial Belanda.

Fatwa ini berisi panggilan untuk setiap muslim terutama di sekitar Jawa dan Madura untuk mempertahankan kemerdekaan dengan mengerahkan seluruh daya, termasuk berperang. Seruan ini berhasil mendorong para santri dari berbagai pesantren untuk datang ke Surabaya, bersama-sama melawan pasukan penjajah dan menjadi Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Peristiwa heroik tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

 

Peran Penting Santri dalam Sejarah

Selain pendidikan agama, pesantren juga menjadi pusat gerakan sosial dan kebangsaan. Para santri berperan besar dalam membangun semangat patriotisme, serta terlibat dalam berbagai gerakan perlawanan terhadap penjajahan. K.H. Hasyim Asy’ari memandang jihad sebagai kewajiban agama untuk mempertahankan keadilan dan kemerdekaan, yang kemudian menumbuhkan semangat juang di kalangan santri baik dalam bidang pemikiran, pendidikan, maupun fisik untuk tanah air.

 

Penetapan Hari Santri Nasional

Hari Santri Nasional ditetapkan pada tahun 2015 untuk menghormati kontribusi santri dalam mempertahankan kemerdekaan dan membangun bangsa, baik dalam agama, pendidikan, maupun sosial. Peringatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menjunjung nilai keagamaan dan kebangsaan.

Peringatan Hari Santri Nasional bergulir setiap tahunnya dengan berbagai kegiatan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Sebagau pengingat bahwa santri pernah menjadi garda terdepan dalam membela kebenaran, keadilan dan kemerdekaan bangsa.

Demo Merusak Fasilitas Umum

Peduli Tapi Hilang Kesopanannya: Nilai Moral yang Semakin Dipinggirkan

Mengapa sopan santun semakin tergerus? Saat ini, kita sering melihat bahwa sopan santun mulai kehilangan tempatnya. Ironisnya, bahkan tindakan yang jauh dari kesopanan sering kali dilakukan atas nama agama. Apa yang seharusnya menjadi wujud nyata dari ajaran para ulama, kini hanya menjadi wacana tertulis tanpa implementasi yang jelas. Banyak di antara kita yang tidak menyadari bahwa:

  • Menjadi beringas dengan alasan membela hak-hak manusia atau umat.
  • Kekejaman muncul dengan alasan mendidik anak atau anak buah.
  • Perilaku anarkis dibenarkan dengan anggapan bahwa “sopan itu relatif”.
  • Kehilangan akhlak dengan alasan menegakkan kebenaran atau Al Haq.
  • Menuntut keadilan dengan memberangus keadilan itu sendiri.

 

Islam itu Agama Akhlak

Sebagai umat Islam, kita harus menyadari bahwa agama ini adalah agama akhlak. Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia. Beliau dicintai karena akhlak beliau yang luhur, baik terhadap Allah, sesama manusia, hewan, maupun lingkungan.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi)

 

Menolak Kezaliman dengan Kezaliman Baru pada Kesopanan

Hal ini akan melahirkan lingkaran kekerasan yang tak berkesudahan karena merusak kesopanan yang seharusnya. Sebagaimana pepatah bijak berkata, “Jika pendidik kencing berdiri, maka anak didik akan kencing sambil berlari.” Pepatah ini mengingatkan kita bahwa akhlak bukan hanya diajarkan, tetapi harus dicontohkan dan dibiasakan dalam setiap tindakan.

Perilaku tidak sopan, baik dalam ucapan, tindakan, maupun kebijakan, adalah dosa besar yang harus kita hindari. Sebagai umat Islam, kita dituntut untuk menjadi pribadi yang santun dan penuh kasih sayang.

Mari kita memohon kepada Allah SWT agar senantiasa menghiasi diri kita dengan akhlak yang mulia, agar kita mampu bersikap sopan dalam setiap dakwah yang kita sampaikan, baik melalui kata-kata maupun perbuatan. Semoga Allah menjadikan kita umat yang layak mendampingi Rasulullah ﷺ di hari kiamat kelak. Aamiin.

 

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fussilat : 34-35)

 

– K.H. Muhammad Shaleh Drehem, Lc. (@msdrehem)

Puncak Pekan Qiraat Nasional 2024

Trainer Wafa Turut Hadir dalam Acara Puncak Pekan Qiroat Nasional di Surabaya

Metode Wafa –  Dengan semangat silaturohim dan menggali sudut pandang baru, dua Trainer Wafa, Ustadz Wawan Fitriono, S. Pd.I dan Ustadz Muhammad Ali Kurniawan, S.H. Al-Hafidz turut hadir dalam acara Puncak Pekan Qiroat Nasional 2024. Acara diselenggarakan oleh Markaz Qiroat Indonesia pada hari Ahad (18/08), di Asrama Haji Embarkasi Sukolilo, Surabaya.

Acara yang penuh berkah ini dihadiri oleh KH. Muhammad Fathoni Dimyati, Lc, selaku Pembina MTQ Nasional serta sebagai Pakar Tajwid dan Syaikh Muhammad Ichsan Ufiq, Lc, MA selaku Pembina MQI – Mujaz Qiroat Asyr Kubra serta sebagai Imam Masjid Qatar.

Puncak Pekan Qiraat Indonesia ini menyatukan para qari’, qari’at & huffazh Al-Quran di Indonesia secara online maupun offline. Berbagai agenda menarik telah terlaksana, seperti Haflah Sanad Al-Qur’an dan Tajwid, Tasmi Kubra Matan Tajwid dan Qiraat, Talkshow, hingga Diskursus Kitab tentang dua wajah Hafsh ‘an ‘Ashim.

Dengan diadakannya acara ini, semoga semakin mempererat tali silaturahim di antara seluruh peserta, serta semakin menguatkan pemahaman dan kecintaan terhadap ilmu Al-Qur’an.

Sanad Ali Kurniawan Trainer Wafa

Alhamdulillah! Ustadz Ali Kurniawan, Salah Satu Trainer Wafa telah Mengambil Ijazah Sanad Al-Quran 30 Juz

Alhamdulillah Tabarokallah, salah satu Trainer Wafa telah menyelesaikan pengambilan Ijazah Sanad Al-Quran 30 Juz Kamilan, pada hari Rabu, 9 Oktober 2024 / 6 Rabi’ul Akhir 1446 H.

Segenap keluarga besar Wafa Indonesia mengucapkan selamat kepada Ustadz Muhammad Ali Kurniawan, S.H. Al-Hafidz, Master Trainer Wafa. Semoga dengan menyelesaikan ijazah sanad ini beliau diberikan keberkahan ilmu dan semua yang telah dipelajari dapat menjadi kebermanfaatan bagi kaum muslimin.

 

Ijazah Sanad Al-Quran 30 Juz Kamilan Riwayat Imam Hafs ‘An Ashim Min Thoriq Syatibiyyah mendapatkan sanad jarak 29 generasi dan Riwayat Syubah jarak 30 generasi yang bersambung sampai Rasulullah SAW