Cahaya Qurani: Hijrahnya Seorang Anak Punk

“Tuhan tidak pernah keliru terhadap takdirnya. Hanya saja kita terkadang salah memahami takdirnya dan terburu-buru menilai/ menyimpulkan takdir-Nya,” mungkin kalimat ini akan mengawali tulisan saya kali ini.

Saya adalah seorang mantan punkers yang kini berjuang menghafalkan Al Qur’an. Beberapa tahun lalu, Allah SWT telah menakdirkan saya untuk berhikmah dengan jalanan. Bukan tanpa sebab, tetapi frustasi akibat tekanan-tekanan keluarga tentang fisik dan kepribadian saya menjadi alasan saya menghendaki kehidupan jalanan. 

Sebagai lelaki berusia remaja yang masih berkobar ego, tanpa pikir panjang, jalan berkelok saya tempuh sebagai bentuk pembuktian kepada dunia. Ya, pembuktian jika saya “ada” dan mereka harus mengakui jika saya ada. Berbagai kenakalan, anarkis, hingga perilaku kriminal banyak saya lakukan. Bagi saya (pada waktu itu), kehidupan jalanan itu tentang kuasa-menguasai, siapa yang kuat akan menguasai, dan siapa yang lemah akan terkuasai.

Dalam pergaulan ini, saya merasa seolah mendapatkan keluarga baru, keluarga yang lebih bisa menerima saya sebagai “manusia” dibandingkan dengan “tuntutan-tuntutan”. Tak ada aturan yang membebani kehidupan saya, tak ada tuntutan dan tujuan yang sulit untuk saya pahami. Bagi saya, hanya ada satu tujuan yang berlaku dalam kehidupan ala punk yang saya jalani, yaitu bagaimana bertahan hidup dan selalu berbahagia di saat itu juga. Ya maklumlah, namanya juga kumpulan anak-anak yang kecewa dengan kehidupannya. 

Walaupun begitu, rasa takut saya terhadap bapak dan emak (sebutan saya kepada ibu) yang sangat otoriter, tegas, dan ganas itu membuat saya tetap istiqomah dalam mengkaji sebuah kitab fiqih berjudul “Safinatunnajah” karangan Syech Salim Ibn Sumair al-Hadrami yang dikaji ala privat oleh bapak saya sendiri. Ya, walaupun sangat terpaksa saya lakukan, saya tetap melaksanakannya. Beberapa kali saya mencoba berontak, tetapi bapak tetap saja tak pernah menyerah untuk memaksa saya melakukan kemauannya.

Orangtua saya memang pada waktu itu sangat kewalahan menghadapi perilaku berontak saya. Tetapi, semangat tanggungjawab mereka akan akhlaq akan anak-anaknya membuat mereka tampak tegar, sabar, dan tegas. Entah berapa ribu peluh emak telah tertumpah jatuh bersamaan dengan kesal akan perbuatan saya. Tapi yang saya ingat, sekesal apapun emak dan bapak tak pernah sekalipun terdengar sekatapun tercuat kutukan kepada saya. 

Hingga suatu hari, Allah menakdirkan saya menderita sakit hepatitis B akibat dari gaya hidup saya yang awut-awutan. Penyakit ini memaksa saya untuk beristirahat total lebih dari enam bulan. Dalam sakit ini, saya hanya dirawat di rumah oleh seorang mantri. Bukan karena biaya atau sifat pelit, tetapi lebih karena saya cukup phobia dan trauma dengan rumah sakit dan jarum suntik.

Awalnya, teman-teman jalanan saya seolah tampak sangat setia mendampingi saya di kala saya sakit. Tetapi, setelah beberapa waktu, penyakit ini juga akhirnya membuat hubungan saya dan teman-teman jalanan semakin renggang. Terlebih, beberapa orang yang sempat menjenguk saya ternyata juga mengalami penyakit serupa. Bahkan, mereka dengan sembrono menyimpulkan jika penyakit hepatitis yang saya derita telah menulari mereka.

Pada saat itu saya merasa sendiri dan sepi. Penyakit ini benar-benar membuat saya down dan semakin frustasi dengan keadaan. Fisik saya tidak lagi mampu menjalani hidup ala punkers seperti sedia kala. Al hasil, saya semakin renggang dan terpisah dari teman-teman punkers saya. Dalam kesendirian ini, saya sempat menghardik keadaan, mengumpat takdir dan membiarkan diri dalam malas dan statis.

Transisi dan teman-teman baru

Rasa bosan yang menghujam otak memaksa saya memberanikan diri untuk kembali mengunjungi teman-teman punkers saya. Tetapi sungguh kecewa yang saya rasakan, teman-teman yang dulu care kini tampak berubah, saya seperti orang asing yang tidak dianggap keberadaannya. Setelah beberapa waktu,  tak ada perubahan dari sikap mereka. Saya pun memutuskan untuk segera berpamitan dan kembali pulang. Di sepanjang jalan, rasa kecewa dan kata kutukan terus terucap kesal dari bibir saya. 

Di tengah perjalanan, saya memutuskan untuk sejenak melepas lelah di sebuah masjid di pinggir jalan. Setelah sekian lama, tiba-tiba dari kejahuan seorang lelaki (yang kini menjadi guru saya) menghampiri saya yang sedang duduk malas bersandar tembok masjid. ”Assalamualaikum,” ucapnya. Setelah saya jawab salamnya, kami pun bercakap-cakap ngalor-ngidul, hingga pada akhirnya ia mengenalkan kepada saya tentang Allah dan Islam secara ilmiah. Sebuah angin segar bagi saya yang selama bertahun-tahun menganggap jika Allah dan Islam hanya sebagai dogma samawi yang sulit untuk saya uraikan secara rasional. Ya, dialah Ust. Anas, seorang lelaki yang membuka jalan keimanan saya dari tingat dasar aqli hingga mulai memahami keimanan dalam tataran naqli ilahiah.

Dari perbincangan ini saya mulai ketagihan berdiskusi dan menanyakan tanpa sungkan tentang Allah dan Islam. Sejauh ini, beliau berhasil memuaskan akal saya dengan jawaban-jawaban rasionalnya. Ya, memang selama ini saya rasa guru-guru agama saya kurang memperhatikan sisi umur dan kematangan berpikir kami dalam mengajar. Bagi saya saat itu, penjelasan rasional dan pragmatis sangat mendominasi pemahaman saya. Kebanyakan dari guru agama saya mnyamaratakan pemahaman secara dogmatis dan terkesan magis. Membatasi nalar kritis kami untuk mengeluarkan unek-unek dan pandangan kami tentang agama dan Tuhan. Padahal tidak jarang dari kami sebenarnya sangat ragu tentang Tuhan dan agama kami. Al hasil, keimanan kita adalah keimanan “yo wes lah”, yaitu keimanan turunan yang kurang didasari oleh kesadaran dan keyakinan.

Dari perbincangan intens yang saya lakukan dengan Ust. Anas yang dipadukan dengan kajian rutin yang dilakukan bapak saya, titik terang mulai tampak menyatu saling menguatkan diantara dua gaya penjelasan tersebut (rasional dan dogmatis). Saya pun semakin tertarik dan getol mempelajari tentang Allah dan Islam sembari membiasakan diri untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas peribadatan saya.

Tersesat dalam Kelam

Juni, 2011. Allah kembali memberikan kejuatan kepada saya. Hasil pengumuman seleksi calaon mahasiswa IAIN menyebutkanjika saya diterima menjadi mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya. Keajiban ini hampir membuat saya tak mempercayainya. Doa orangtua saya telah mematahkan ketidakmungkinan saya diterima sebagai mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya. Saya sebagai mantan anak punk yang sangat minim sekali tentang pemahaman Islam, saya yang tidak terlalu fasih membaca Al Qur’an sebagai syarat wajib mahasiswa IAIN, saya yang ketika tes dipesan bapak, “Le, ingat! Jangan berharap berkuliah. Bapak gak bisa membiayai,” saya yang ketika tes dipesan emak “Le, seluruh keluarga kita tidak mendukung sampean kuliah. Sampean kerja saja membantu biaya sekolah adek. Tes ini hanya buat pengalaman sampean saja, biar tahu kayak teman-teman yang lain,” dan saya yang berkompetisi dengan alumni-alumni pondok pesantren. Tetapi Allah telah menakdirkan saya untuk menjadi mahasiswa IAIN, maka seluruh kesulitan dan kemustahilan di atas menjadi seolah tak berarti. Ya, memang Allah tidak selalu memerlukan alasan untuk mengabulkan doa hambanya. Di sini saya bergaul dengan banyak alumni pondok pesantren. Saya pun akrab berdiskusi bertema Islam. 

Tetapi keterlenaan mengumbar kekritisan tanya mengantarkan saya pada pendalaman filsafat. Berbagai pandangan ala agnostik hingga ala ateis yang berpikir bebas, skeptis ilmiah, dan kritik terhadap agama mulai membingungkan pemahaman saya yang sudah mulai tertata.

Pernah suatu hari saya bertemu dengan seorang mahasiswa dari Yogyakarta yang dianggap mumpuni dalam bidang filsafat. Ia berkata kepada saya, “Kalo kamu ingin pintar berfilsafat, maka kamu harus murtad.” Pernyataan tersebut membuat kepada saya seolah pecah. Saya memang tidak meng-“iya”-kan perkataannya, tetapi secara akidah saya mungkin sudah murtad. Terlebih setelah seorang professor berkritik tentang sebuah ayat di akhir surat Al-Baqoroh semakin membuat saya gila.

Kecemasan akan penjelasan professor ini memaksa saya untuk bergerak mencari jawaban yang memuaskan akal saya. Saya pun menemui Ust. Anas berharap mendapat jawaban yang memuaskan akal saya. Tetapi sayang, kali ini pertanyaan saya membuat Ust. Anas kelabakan.

Karena merasa tidak puas dengan jawaban yang dikemukakan oleh Ust. Anas, saya pun mencari jawaban di berbagai tokoh-tokoh Islam yang dianggap mumpuni. Demi mendapatkan jawaban yang memuaskan, saya bahkan menjadi anggota beberapa ormas Islam, mulai dari; NU, Muhammadyah, HTI, LDII, Islam Kejawen, JIT, dan berdialog dengan berbagai ormas Islam lainnya. Tetapi dari sekian tokoh ormas tersebut, tidak ada satu pun yang memuaskan akal saya.

Hingga pada akhirnya, saya bertemu kembali dengan sang professor. Saya pun tidak menyia-nyiakan pertemuan ini. Saya beranikan diri meminta penjelasan pada sang professor tentang kritik surat Al Baqoroh di waktu yang lalu. Alhamdulillah, singkat cerita, penjelasan professor kali ini benar-benar menentramkan akal saya. Lalu saya menceritakan tentang perjuangan saya mencari jawaban atas pernyataan professor di waktu yang lalu itu. Professor hanya tertawa geli dan berkata pada saya, “Mas, ada kalanya kita menggunakan akal untuk memahami agama dan Tuhan. Tetapi ada kalanya juga kita mesti membuang kepala kita untuk memahami agama dan Tuhan.” Mendengar penjelasan professor, saya seperti ditampar. Saya yang selama ini selalu mengagung-agungkan akal untuk menalar agama dan Tuhan kini telah terbantahkan oleh penjelasan professor.

Akibat dari percakapan ini, saya pun menggandrungi ceramah-ceramah beliau yang ternyata adalah dosen filsafat dan ilmu kalam sekaligus penceramah di kota Surabaya.

 

Pertemuan dengan Wafa: Sebuah awal bekal menata kehidupan 

Kini hati saya kembali tentram, dan saya lebih waspada dengan informasi-informasi yang akan masuk ke otak saya. Saya masih mempelajari filsafat. Ya, hanya untuk mengasah sisi kekritisan saya. 

Waktu berlalu seiring berjalannya waktu. Untuk mengisi kekosongan, saya pun memutuskan menyambi kuliah dengan ikut serta belajar sembari mengajar bersama anak-anak di sebuah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di Sidoarjo.

Hingga suatu hari, seorang teman yang sedikit sentimen berniat membully saya dengan menuliskan sebuah undangan pemberitahuan palatiahan Al-Qur’an yang harus saya ikuti mengatasnamakan instruksi pimpinan lembaga. 

Pelatihan tersebut sebenarnya merupakan acara internal PP. Tafidz Al Kahfi yang hanya diperuntukkan bagi keluarga besar pesantren, sedangkan saya bukanlah bagian dari pesantren tersebut. Tetapi karena ketidaktahuan saya, maka dengan polosnya saya pun lekas mengikuti pelatihan tersebut selama empat hari lamanya.

Saya sempat merasa aneh dengan tatapan peserta pelatihan yang seolah-olah terus mencuri-curi pandang ke arah saya. Mungkin mereka heran dengan kedatangan saya. Tetapi pada saat itu saya hanya berpikir jika meraka juga baru saja saling mengenal. Ya, sama seperti saya dan mereka. 

Dalam pelatihan ini, saya diajarkan tentang metode Wafa, yaitu belajar Al-Qur’an dengan metode otak kanan. Pemateri yang jelas dan menarik membuat saya mudah mengingat dan mencerna setiap pelajarannya. Metode ini mengajarkan saya bagaimana belajar, mengajar, dan menghafal Al Qur’an dengan memadukan gerak, otak, dan cerita. Terlebih irama hijaz yang merdu membuat saya sangat tertarik mempelajari metode ini.

Allah lagi-lagi membuat kejutan

Tibalah hari ketiga, dimana saya baru menyadari jika saya adalah orang asing yang mengikuti acara internal keluarga PP. Al Kahfi. Kesadaran ini terjadi setelah saya dipanggil oleh ketua yayasan PP. Al Kahfi yang menanyakan tentang siapa saya, dan siapa yang menyuruh untuk ikut pada pelatihan internal ini.

Dengan sangat malu, saya pun menjawab jika saya adalah salahsatu pengajar di TPQ As-Salimi dan didelegasikan oleh seorang teman saya. Alhamdulillah ketua yayasan mengenal baik teman saya tersebut dan mengizinkan saya melanjutkan pelatihan dengan catatan harus membayar biaya pelatihan yang saya rasa cukup besar pada waktu itu.

Kebimbangan saya semakin memuncak kala saya melihat isi dompet saya yang kosong, maklumlah, mahasiswa… Hehehe. Di hari itu konsentrasi saya benar-benar kacau terfokus pada kebimbangan meneruskan pelatihan atau melarikan diri. 

Dalam kebimbangan tersebut, tiba-tiba saya kembali dipanggil pengurus pesantren yang mengabarkan jika biaya pelatihan telah dilunasi oleh ketua TPQ As-Salimi. Ucapan syukur “Alhamdulillah” spontan tercuat di bibir saya menandai kelegaan hati. Saya pun kembali ke kelas pelatihan.

Tetapi, kebimbangan kembali hadir setelah terdengar desas desus dari peserta palatihan jika di akhir pelatihan akan ada tes baca Al-Qur’an yang dilakukan oleh tim Wafa. Bagi peserta yang lolos akan mendapatkan sertifikat (syahadah) tanda kelayakan untuk menjadi guru baca Al-Qur’an.

Saya sempat grogi mendengar kabar tersebut. Sebab, walaupun saya merutinkan diri membaca Al-Qur’an, tetapi saya tidak terlalu yakin mampu melafalkan dengan benar huruf-huruf Al-Qur’an yang saya baca. Terlebih dalam tes tersebut, saya juga mesti menghafalkan tajwid dan ghorib yang pernah membuat saya frustasi dan menjadi alasan utama untuk menyudahi belajar Al-Qur’an di Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) pada usia anak menjelang dewasa yang lalu.

Jika Allah berkehendak, maka apapun itu akan terjadi

Karena rasa berutang budi kepada ketua TPQ yang telah membiayai pelatihan saya, saya pun belajar keras untuk memfasihkan bacaan Al-Qur’an dan menghafal materi-materi tajwid dan ghorib. Saya mulai membongkar catatan-catatan lawas yang percaya saya catat sewaktu belajar di TPQ. Subhanallah, seketika itu Allah memberikan pemahaman kepada saya tentang maksud bacaan tajwid dan ghorib beserta hafalannya. Saya hampir tak percaya dengan kemampuan memahami saya ini. Saya yang tadinya sama sekali tidak memahami maksud dari bacaan ghorib dan tajwid, dengan waktu yang relatif singkat mempu menghafal dan memahami maksud hukum bacaan tersebut.

Singkat cerita, di hari keempat ba’da sholat dhuhur, saya melaksanakan tes baca Al-Qur’an, dan saya pun lulus. Dari sini saya mendapat tawaran langsung dari pengasuh pesantren untuk menjadi pengajar di pesantren tersbut, dan saya pun meng”iya”kannya.

Dengan bekal metode Wafa dan irama hijaznya, Allah mengangkat derajat saya dengan Al-Qur’an. Berbagai tawaran menghampiri saya, mulai menjadi guru ekstrakulikuler Qur’an di sekolah, menjadi seorang imam, kultum, khutbah jum’ah, khutbah hari raya id fitri, perwakilan DAI muda kecamatan, hingga tausiyah pada acara halal bi halal karyawan pabrik saya lakoni.

Sebagai seorang konselor, saya juga menggunakan Al-Qur’an sebagai patner terapi dalam melakukan bimbingan atau konseling. Dengan membaca Al-Qur’an atau mendengar bacaan Al-Qur’an terlebih dahulu sebelum melakukan bimbingan atau konseling, klien saya akan lebih siap dan stabil dalam mengungkapkan masalahnya. Hal ini sangat baik bagi seseorang yang mengalami masalah kejiwaan.  Wacana ini ternyata dibenarkan oleh beberapa hasil penelitian yang menyebutkan jika intensitas membaca Al Qur’an berpengaruh pada perilaku atau emosi seseorang, diantaranya adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh; Rahma A, 2020 (1); MA Hidayat, 2017 (2); Najati, 2005 (3), Virgianti NF, 2015 (4) dan lain-lain.

Hikmah

Perjalanan kisah kelam di masa lalu membuat saya benar-benar merasakan kehadiran Allah melalui Al Qur’an sebagai  sahabat sejati. Hingga saya memutuskan untuk berhijrah dari gaya hidup punkers menuju gaya hidup yang lebih Islami. Melalui Al-Qur’an dan Islam saya mendapatkan ketentraman batin. Menjadi manusia yang tidak perlu pengakuan tetapi diakui.

Saya pun beruntung mempunyai orangtua yang mendasari hidup dengan Islam. Karena bagi  saya; “Setiap aturan memiliki kelemahan. tidak ada hukum yang mampu mengontrol seseorang untuk melanggar sebuah aturan,  kecuali dirinya sendiri. Ya, sebuah nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini oleh orangtua dan mendarah daging menjadi asas mecusual dalam mengarungi kehidupan”.

_
Penulis: Muhammad Misbahul Huda – PP. Al Kahfi Tarik Sidoarjo

Hijrah

Nama saya Tyas, lengkapnya adalah Rukminingtyas Panglipur. Dari nama tentu sudah bisa ditebak dari mana asal saya. Ya saya asli Jawa bagian timur yang sekarang tinggal di Kalimantan Timur, merantau ke kabupaten Berau mengikuti suami yang ditugaskan di sini.  Tidak pernah terbayangkan sebelumnya saya akan menetap di ujung paling utara  Kalimantan Timur, jauh dari kota kelahiran saya yang terkenal dengan oleh-oleh tahu dan getuk pisangnya.

Sebagai ibu rumah tangga yang memiliki tiga orang anak, saya merasakan bagaimana bosannya melakukan rutinitas yang itu-itu saja, sehingga saya butuh kegiatan lain yang membuat hidup saya menjadi lebih hidup.

Pertengahan tahun 2016 saya lulus seleksi penerimaan pengajar di salah satu TPA di kecamatan Tanjung Redeb.  Awalnya hanya untuk mengisi waktu luang saja, tidak tahunya saya terjerumus semakin dalam dan semakin cinta dengan profesi ini, menjadi pengajar Al-Qur’an.

Awal bergabung, TPA ini masih belum memakai WAFA. Jadi belum ada standart yang sama dalam pengajaran kami. Belum ada pemetaan untuk anak-anak, anak-anak bebas memilih guru yang menurut saya masih amburadul. Sampai suatu saat kami mengenal metode WAFA lewat seorang ustadz yang menjadi koordinator WAFA di Berau.  Kami menyampaikan maksud kami, agar TPA kami bisa memakai metode ini.   Beliau setuju, dengan syarat kami harus ikut tahsin terlebih dahulu. 

Tahap awal mengikuti tahsin kami dipetakan/tasnif  terlebih dahulu, hasilnya saat itu terbagi menjadi tiga kelompok. Lalu mulailah kami tahsin setiap seminggu sekali pada hari Sabtu.  Awalnya kelompok kami dan kelompok lainnya sangat bersemangat, namun lama kelamaan makin berkurang jumlah pesertanya hingga kelompok saya hanya tersisa dua orang saja, yaitu saya dan teman mengajar di TPA. Godaan dalam menempuh jalan kebaikan memang banyak, kadang sayapun merasakan jenuh dan bosan, rasa malas ketika tiba saatnya tahsin. Apalagi saya sambil bawa balita yang berusia 1 tahun. Banyak sekali printilan yang harus saya siapkan, tak jarang saat tahsin berlangsung anak saya buang air besar, diapersnya bocor yang membuat saya harus berhenti sejenak mengikuti tahsin untuk membersihkan lantai. Kadangkala   saya berharap semoga turun hujan  deras saat jadwal tahsin agar oleh ustadz diliburkan. Namun ada rasa malu sebab ustadz selalu hadir lebih awal walaupun hujan. Hal itu memaksa diri untuk tetap berangkat tahsin, sampai ditempat tahsin semua rasa malas dan godaan tadi akan sirna luruh bersama jatuhnya air hujan.

Saya lupa berapa lama saya ikut tahsin, namun yang jelas lumayan lama. Hingga akhirnya kami bisa memakai metode ini walaupun kami belum bermitra dengan WAFA, karena saat itu  kami berfikir belum pantas untuk menjadi mitra WAFA. Awal memakai metode ini tentu banyak kendala yang kami alami. Dari yang biasanya sejalan-jalannya sekarang harus ada standartnya, yang awalnya mengaji tidak memakai nada sekarang harus memakai nada. Jadi membenahi dari hal-hal kecil sambil gurunya terus belajar. Salah satunya adalah surah Al Fatihah, surah yang dibaca setiap awal pembelajaran. Ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi saya, karena saya tidak hafal nadanya. Untuk mengatasinya saya hanya mengajarkan apa yang saya bisa dulu, saya tidak boleh kelihatan gugup atau kurang pintar dihadapan santri-santri saya. Jika saya baru bias ta’awudz dan basmallah, maka hanya dua kalimat ini yang saya ajarkan sampai beberapa hari. Mengaji dengan nada hijaz bagi anak-anak ini merupakan hal baru juga, sehingga mereka juga tidak langsung bisa. Jadi saya masih punya waktu untuk belajar nada di ayat berikutnya.

Salah satu hal yang kami benahi setelah memakai WAFA adalah, kami tidak bisa menerima santri baru setiap saat karena sistemnya klasikal, untuk satu guru jumlah santri maksimal 12 anak. Karena hal ini pula kami pernah dilabrak seorang bapak yang anaknya tidak kami terima. Beliau  marah-marah dan juga mengatakan bahwa dia banyak menyumbang dalam pembangunan masjid ini. Sedihnya kami saat itu, mungkin sebuah awal perubahan  memang harus begitu.

Saat ini masih banyak masyarakat yang menganggap sebelah mata pada TPA, mereka bisa keluar masuk seenaknya tanpa berpamitan. Sekarang masuk lalu menghilang sekian lama kemudian muncul kembali. Mungkin mirip jaelangkung yang datang tak dijemput pulangpun tidak perlu diantar hahaha. Bahkan anaknya bisa datang sendiri tanpa didampingi orangtuanya. Ini juga yang kami benahi setelah memakai WAFA, perlu waktu memang. Sekarang  jika akan keluar TPA harus pamitan dan jika mau masuk lagi harus daftar baru kembali, ditasnif lagi untuk ditempatkan dikelompok mana yang cocok. Tentu juga dengan melihat kapasitas jumlah santri yang ada, apakah masih ada kuota atau tidak.

Alhamdulillah sekarang TPA kami sudah bisa berjalan lebih baik dari yang sebelumnya walaupun belum bisa memenuhi standart WAFA. Bahkan sekarang yang daftar bisa orang-orang yang lumayan jauh  dari lokasi TPA kami. Suatu kebanggaan juga bagi kami saat salah satu santri kami bisa mengkituti FASI tingkat kecamatan dan berhasil menjadi juara 2 dalam cabang tahfidz juz 30. Padahal hafalan di TPA belum sampai disitu, namun karena semangat anaknya yang menghafal mandiri dan tentu saja juga karena bacaannya yang baik dan benar. Bagi kami ini tentu sesuatu yang membanggakan karena untuk meraih juara tidak pernah kami harapkan. Sejak awal lomba kami berpesan kepada santri bahwa ikut lomba semata-mata untuk syiar bukan mencari juara.

Allah mudahkan juga kami bermitra dengan WAFA sehingga kami bisa tahu program-program terbaru WAFA yang tentunya sangat bermanfaat untuk pengembangan lembaga dan para pengajarnya. Dimasa pandemi inipun WAFA bergerak cepat untuk tetap bisa memberikan pelayanan yang terbaik bagi para mitranya. Pelatihan yang dulu rasanya tidak mungkin saya ikuti, kini bisa di ikuti dengan daring dan biaya terjangkau. Salah satunya adalah  Akademi Tahsin Online, saya salah satu peserta diangkatan pertama. Alhamdulillah  disini saya dibimbing langsung oleh para trainer wafa pusat, saya mengikuti sampai tahap munaqosyah dan lulus. Alhamdulillah, Allahu Akbar.

Kegiatan yang awalnya hanya untuk membuang kejenuhan ditempat perantauan, akhirnya membuat saya ketagihan dan menemukan passion saya. Sesuatu yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika saya tidak hijrah dari tanah kelahiran saya.

_
Penulis: Rukmaningtyas Panglipur – TPA Al Anshor unit 05 Tanjung Redep

Tetap Tegar Mengajar Walau di Tengah Keterbatasan

Di masa pandemi covid-19 seperti sekarang ini kita semua diharuskan untuk selalu berdampingan dengan gawai. Kenapa? Karena semua aktivitas kita yang berhubungan langsung dengan orang lain menjadi terbatas. Itu artinya kita harus saling menjaga jarak satu sama lain agar tidak tertular covid-19. Namun walaupun begitu, kita dapat berhubungan dengan orang lain secara online dengan menggunakan gawai. Kita juga bisa belajar, mengajar, mengikuti pelatihan – pelatihan bahkan jual beli pun sekarang banyak dilakukan secara online.

Kegiatan – kegiatan yang dilakukan secara online tidaklah mudah. Tentunya banyak kekurangan-kekurangan dalam melakukan suatu kegiatan yang dilakukan secara online. Salah satu kegiatan yang dilakukan secara online adalah kegiatan belajar mengajar. Dahulu Guru mengajar siswa Al qur’an dengan metode langsung tatap muka, dimulai dari guru membacakan kemudian siswa menirukan guru. Sekarang hal seperti itu mungkin tidak lagi dapat dilakukan karena penyakit  yang sedang mewabah sehingga pembelajaran harus dilakukan secara online. Pada pembelajaran mengaji wafa dilakukan  dengan menggunakan applikasi zoom atau google meet. Walaupun harus berpacu dengan waktu karena pembelajaran  online sangatlah berbeda dengan pembelajaran tatap muka yang dapat dilakukan langsung. Selain mengajar secara online seorang guru juga diharuskan membuat video pembelajaran dan membuat modul pembelajaran yang menarik sebagai penjelasan tambahan agar siswa menjadi lebih semangat dalam belajar walau belajar dari rumah. Kegiatan inilah yang menjadikan siswa harus terbiasa untuk selalu berdampingan dengan gawai. Walaupun yang tadinya banyak pelatihan-pelatihan dan parenting tentang bagaimana cara orang tua menjauhkan anak dari gawai tetapi pada masa ini sebaliknya mau tidak mau siswa harus berdampingan dengan gawai untuk belajar.  Walaupun sulit, tetapi kita harus mulai terbiasa dengan ini. Semua ini dilakukan demi tercapainya pembelajaran yang efektif di tengah pandemic covid-19.

 

Gawai adalah alat untuk berkomunikasi dan mencari informasi. Selain itu, gawai juga digunakan untuk berbagai macam hal seperti browsing di internet, mendengarkan musik dan menonton video.  

Berdasarkan survey Deloitte (2014) yang dilakukan pada penduduk Australia, didapatkan bahwa hal pertama yang diakses melalui gawai setiap harinya di semua usia adalah pesan singkat (SMS, Short Message Service, atau pesan Whatsapp, sedangkan untuk usia dibawah 35 tahun, media sosial dan game online adalah hal yang pertama kali dilihat. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi adalah salah satu fungsi terpenting dari gawai. (Deloitte, 2014). Disamping manfaat gawai yang begitu banyak, tetapi gawai juga mempunyai dampak bahaya dari penggunaannya. Salah satu dampak bahaya itu adalah ketergantungan terhadap gawai. Kita tahu bahwa semua informasi dapat kita akses dengan mudah, pun dengan halnya informasi yang kurang bermanfaat bahkan berbahaya untuk anak-anak. Disamping itu gawai dapat mengakses aplikasi permainan yang disukai anak-anak sehingga banyak anak yang menjadi kecanduan terhadap game offline dan game online.  Maka dari itu, pengguna gawai harus sadar dan bijak dalam menggunakan gawai. Sebagai seorang pelajar yang baik maka hendaklah berkomitmen untuk belajar dan sadar bahwa kewajiban pelajar adalah belajar bukan bermain game. Betapa banyak waktu yang terbuang dengan bermain game. Betapa banyak madaratnya daripada manfaat dari bermain game. Selain itu siswa yang baik harus menjadi pengendali diri bagi dirinya sendiri. 

Mengendalikan diri adalah salah satu sikap yang harus  dimiliki oleh setiap individu karena mengendalikan diri adalah sikap yang sangat penting untuk kita dalam menjalani hidup. Mengendalikan diri adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya sendiri secara sadar agar menghasilkan perilaku yang tidak merugikan orang lain, sehingga sesuai dengan norma sosial dan dapat diterima oleh lingkungannya (Gandawijaya, 2017). Pengendalian diri juga diartikan sebagai kapasitas manusia untuk mengendalikan respon terutama dalam fungsinya untuk beradaptasi dengan norma ideal, moral, ekspektasi sosial, dan pencapaian jangka Panjang (Baumeister & Tice, 2007), artinya pengendalian diri adalah sebuah mujahadah an nafs dengan kemuliaan dan sangat berfungsi untuk mencegah dalam berbuat hal-hal yang sangat di larang oleh Allah sehingga tidak merugikan orang lain dan tidak bertolak belakang dengan norma agama dan moral.

Menurut saya guru adalah seseorang yang harus tetap sabar dalam mendidik anak didiknya walaupun di tengah keterbatasa dia. Pada masa pandemic seperti sekarang ini tentulah kita merasa sulit untuk mengontrol siswa kita senidiri tetapi kita harus terus bersemangat untuk memperjuangkan nasi banak didik kita dalam mempelajari Alqur’an. Walaupun sulit mengajar karena keterbatasan, tetapi kita harus tetap semangat. Semangat itu tentu harus dimulai dari kesadaran kita untuk bangkit atau move on dari merasa pasrah. Kita harus terus berinovasi dalam mengajarkan Al qur’an di tengah pandemic seperti sekarang ini. Ada beberapa hal yang sudah sy lakukan dalam mengajarkan Alqur’an metode wafa kepada siswa yaitu dari pembuatan video, mengajar secara virtual melalui zoom dan video call. Walaupun begitu, ada beberapa kendala seperti jaringan yang kurang stabil sehingga hamper membuat siswa sedih dan putus asa. Tetapi kita sebagai guru tidak sampai disitu kita harus tetap semangat mengajarkan Alqur’an kepada anak didik kita, ada banyak hal yang kita harus siapkan yaitu merekam suara kita kemudian kita mengirimkan ke siswa kemudian dengan terus melakukan komunikasi secara kontinyu kepada walimurid terkait pencapaian siswa ini menjadikan car akita sebagai guru untuk terus semangat dalam mengajarkan Al qur’an kepada siswa.

Wafa adalah pembelajaran Al qur’an dengan metode otak kanan. Jadi kita diwajibkan untuk selalu berinovasi meng-upgrade ilmu kita yaitu contohnya dalam berkisah karena dengan berkisah, siswa akan semakin semangat dalam belajar Al ‘qur’an selain itu karakter – karakter yang akan kita tanamkan kepada siswa akan lebih mudah diterima siswa sehingga kita bukan hanya mengajarkan Al qur’an saja kepada siswa tetapi kita juga mengajarkan karakter-karakter sifat dan sikap yang Rasulullah contohkan. 

Selain kita harus selalu berinovasi dalam megembangkan pembelajaran wafa kita sebagai guru juga harus pandai mengendalikan emosi kita. Mengendalikan emosi adalah salah satu cara kita agar terus dapat menemukan ide untuk mengembangkan bagaimana cara agar siswa dapat belajar dengan semangat dan merasa senang dengan belajar Al qur’an. 

Ada salah satu Nabi yang perlu dicontoh sikap pengendalian dirinya. Beliau adalah seorang sangat teguh dan sabar. Beliau adalah putera dari nabi Ayub. Basyar adalah nama aslinya. Beliau hidup di lingkungan Raja yang sangat bijaksana. Sejak kecil ia tidak pernah berbohong sehingga ia dikenal seorang yang berlaku baik kepada siapa pun.

Pada suatu hari raja bijaksana tersebut akan lengser tetapi sang raja sangat bingung karena belum ada seseorang yang akan menggantikan kepemimpinan beliau. Sang raja sangat bingung karena itu sang raja akhirnya mengadakan sayembara dan mengumpulkan seluruh rakyatnya. Raja itu pun berkata “siapa yang mampu mengemban tiga tugas dariku yaitu sanggup berpuasa di siang hari, salat di malam hari dan menahan emosi, ia akan ku ngkat menjadi pemimpin”. Tidak ada satu pun dari rakyat raja tersebut yang sanggup melaksanakan tiga perkara tersebut  kemudian datanglah seorang pemuda yang tangguh, teguh pendirian dan sabar datang menghadap raja untuk menyanggupi dirinya menjadi raja. Sang raja menyetujui Basyar menjadi raja untuk menggantikan dirinya karena raja percaya dan tidak salah untuk memilih Basyar sebagai pengganti dirinya. Sejak itulah Basyar diganti dengan nama Dzulkifli yang memiliki arti “sanggup”.

Nabi Dzulkifli a.s. adalah raja yang sangat baik dan adil serta bertanggung jawab atas keselamatan seluruh rakyatnya. Walaupun banyak terjadi pemberontakan dari orang-orang yang durhaka kepada Allah SWT nabi Dzulkifli a.s. tidak sedikit pun takut dan goyah. pada suatu masa datanglah masa sulit yaitu seluruh rakyatnya tidak berani untuk melawan pemberontak karena mereka takut mati sehingga mereka meminta Nabi Dzulkifli a.s. mendoakan mereka kepada Allah untuk menjamin hidup mereka dan akhirnya nabi Dzulkifli berdoa kepada Allah untuk keselamatan kaumnya. Kemenangan pun diraih tanpan ada seorang pun yang gugur. 

Dengan kegigihan dan kesabaran nabi Dzulkifli dalam menghadapi rakyatnya maka iblis pun merasa tergoda untuk mengoda nabi Dzulkifli a.s. dengan melakukan tipu daya agar nabi Dzulkifli a.s. gagal dalam mengemban tugas. Iblis adalah makhluk yang sangat licik, dengan kelicikannya itulah ia berubah wujud menjadi lelaki tua. Ia mendatangi rumah nabi Dzulkifli a.s. dengan berpura-pura bahwa dirinya telah dirampok. Dengan rasa iba yang dimiliki nabi Dzulkifli maka nabi mempersilakan iblis tersebut untuk dating ke kerajaan. Namun ternyata iblis tersebut tidak datang dan tidak menemui nabi Dzulkifli a.s.

Pada saat nabi Dzulkifli a.s. merasa mengantuk yang luar biasa dan akhirnya beliau meminta ahli keluarganya agar tidak ada yang menemuinya. Ternyata iblis tersebut datang kembali untuk mengganggu nabi Dzulkifli dengan menjelma sebagai lelaki tua dan memaksa keluarga nabi Dzulkifli untuk mengizinkan lelaki tua itu menemui Nabi tetapi ahli keluarga nabi tidak mengizinkan. Bukanlah disebut iblis jika tidak mempunyai sifat membangkang, dengan penuh semangat iblis pun terus mengganggu nabi dengan memasuki lubang di dinding rumah nabi Dzulkifli a.s. ketika nabi tertidur pulas.  Dengan izin Allah nabi terbangun dan melihat iblis tersebut dan berkata “Kau musuh Allah” dan iblis pun membenarkan. Nabi Dzulkifli sedikitpun tidak marah kepada iblis tersebut sehinggan membuat iblis tersebut merasa putus asa untuk menggoda dirinya. Dengan ketangguhan dan kesabarannya dalam menghadapi segala masalah pantaslah Allah berfirman dalam QS. Shad ayat 48:

وَاذْكُرْ اِسْمٰعِيْلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ ۗوَكُلٌّ مِّنَ الْاَخْيَارِۗ

Dan ingatlah Ismail, Ilyasa‘ dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Dari Abu Hurairah r.a.: “Rasulullah saw. bersabda: Orang yang kuat bukanlah orang yang (biasa menang) saat bertarung/bergulat, tetapi orang kuat itu adalah yang (mampu) mengendalikan nafsunya ketika marah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Begitulah sikap terpuji nabi Dzulkifli a.s. yang sangat baik dalam mengendalikan diri beliau ketika menghadapi kaumnya. Kita sebagai harus tetap semangat dalam megajarkan Al qur’an kepada anak murid kita, kita juga harus tetap bisa mengendalikan emosi kita agar kita selalu mendapatkan ide untuk terus mengembangkan pembelajaran Al Qur’an wafa kita ini walau di tengah keterbatasan kita.  

_
Penulis: Rina Suhaeni – SDIT Harapan Umat Jember

Dari Skripsi Menjadi Profesi

Saat itu Saya adalah mahasiswa semester akhir di sebuah perguruan tinggi. Sebut saja Riskan, begitu semua memanggil saya. Selain melakukan kegiatan akademis seperti yang lainnya, Saya aktif disebuah organisasi kampus dibidang keagamaan. Entah kenapa sejak masuk ke perguruan tinggi ini saya tertarik untuk mendalam agama Islam lewat organisasi yang saya lihat memang cukup mumpuni sebagai wadah saya mengembangkan diri.

Selama mengikuti semua kegiatan organisasi tersebut, ada banyak pelajaran yang Saya peroleh. Dengan begitu, Alhamdulillah Saya tidak termasuk golongan mahasiswa yang hanya D3M (dating, duduk, diam dan mendengarkan),hehehe… . Berbagai pengalaman Saya peroleh, mulai dari bidang keorganisasian, leadership, serta ilmu keagamaan. Terkhusus lagi ialah ilmu tentang Al Qur’an. Seperti kata seorang Ustadz kondang, bahwasanya untuk mulai mempelajari Al Qur’an dari segi bacaan. Sebagaimana wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW, yaitu Baca.

Sebenarnya sewaktu kecil Saya telah mempelajari cara membaca Al Qur’an. Akan tetapi, ya… mungkin karena kurang serius, maka yang Saya dapatkan hanya kulit luarnya saja. Itupun baru Saya sadari setelah mengikuti program organisasi yang bernama tahsin Qur’an. Sontak Saya tersadar bahwa banyak sekali kesalahan yang Saya perbuat dalam membaca Al Qur’an. Bersamaan dengan hal tesebut, Saya juga teringat salah satu isi khutbah yang Saya dengar dari khotib, bahwasanya mempelajari bacaan Al Qur’an yang baik dan benar atau lebih kita kenal dengan istilah Ilmu Tajwid, adalah langkah kita untuk tidak termasuk golongan orang yang lalai dalam sholat. Hm… apa hubungannya ya, he.. . Kata sang khotib bahwasanya dalam sholat itu terdapat rukun bacaan yaitu surat Al Fatihah. Kalau tidak bisa baca Al Qur’an dengan baik, tentu saja surat Al Fathihah nya pun demikian.

Sejak saat itu, Saya berniat ingin menuntaskan pembelajaran Al Qur’an saya. Hari demi hari kami lalui, bersama program tahsin Qur’an yang dijadwalkan setelah sholat Ashar berjamaah dimasjid kampus selama bulan Ramadhan. Hari demi hari juga, qadarullah satu persatu peserta pun berguguran, he… . Alias tidak datang lagi kekajian tahsin. Hal tersebut terjadi karena ketatnya sang Ustadz melakukan pembelajaran, yang dimulai dari level 1 yaitu makhrijul huruf. Saya sih pantang menyerah, lanjut terus sampai niatan Saya terwujud untuk bisa membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.

Sedikit cerita mengenai metode tahsin Qur’an yang diterapkan oleh sang Ustadz. Metode tersebut bernama metode wafa. Wafa adalah lembaga yang bergerak dibidang pembelajaran Al Qur’an dengan metode otak kanan. Metode otak kanan yang dimaksud adalah dengan pendekatan nada hijaz. Mulai dari level 1, Makhrijul Huruf. Level 2, Panjang 2 harokat. Level 3, bacaan sukun dan tasydid. Level 4, Bacaan dengung. Level 5, bacaan jelas, qolqolah, dan sebagainya. Demikianlah sekilas seputar metode wafa, kembali lagi ke proram tahsin Qur’an yang Saya ikuti.

Tidak terasa bulan Ramadhan akan berakhir, Karena semua anggota termasuk sang ustadz mau mudik maka program tahsin diliburkan. Hari berganti hari,tak terasa beberapa pekan pun berlalu. Program tahsin qur’an pun tak kunjung dilanjutkan. Terinspirasi kisah imam syafe’i yang menemui imam malik untuk belajar, Saya pun berinisiatif untuk menemui sang ustadz di rumahnya. Alhamdulillah sang ustadz membuka kesempatan Saya untuk belajar tahsin di rumahnya dengan jadwal sepulang beliau dari kerja.

Sedikit cerita tentang sang ustadz, beliau berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah Islam didaerah Saya. Masih muda dengan istri satu dan satu anak yang masih bayi. Kegiatan beliau cukup padat, sering kali pulang sore hari. Berkenaan dengan hal itulah Saya mendapatkan jadwal sore tersebut. Saya salut dengan sang ustadz, walaupun baru pulang kerja masih tetap meladeni Saya untuk belajar. Semoga Allah memberikan ganjaran yang setimpal buat beliau.

Berkat izin Allah SWT dan kegigihan sang ustadz mengajari Saya, Alhamdulilah bacaan Al Qur’an Saya pun semakin baik. Akan tetapi, tentu saja ada beberapa hal kesulitan yang tejadi selama proses belajar. Diantaranya pada bab/level 1 yaitu makhrijul huruf, ada beberapa huruf yang membuat saya kesulitan yaitu huruf-huruf istila’ yang membuat saya mual-mual seperti mau muntah. Uniknya huruf-huruf isti’la tersebut baru saya kuasai ketika saya sudah berada di level 4. Sang ustadz, memang meluluskan saya di level 1 waktu itu, tetapi dengan syarat selalu berlatih. Beliau mengingatkan saya tentang sebuah hadits yang menjelaskan bahwasanya belajar Al Qur’an itu akan mendapatkan pahala yang berganda yakni pahala membaca dan pahala belajar. Hal tersebut merupakan salah satu motivasi bagi Saya untuk terus maju sampai Saya lancar membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.

Bersamaan dengan level 5 saya belajar membaca Al Qur’an, Saya berada di semester 6 dibangku kuliah. Disemester ini, tiba saatnya Saya mengajukan judul untuk skripsi. Pengajuan skripsi pun, Saya konsultasikan dengan sang ustadz, karena sang ustadz adalah kakak tingkat Saya diperkuliahan. Ia pun menawarkan Saya untuk penelitian di sekolah tempat ia bekerja dan meneliti metode wafa disekolahnya karena metode wafa juga tergolong baru diterapkan. Khususnya angkatan yang akan datang. Konsultasinyo pun membuahkan hasil, Judul skripi “Efektivitas metode wafa terhadap hasil belajar siswa kelas VII pada pembelajaran Tahsin Qur’an SMP IT Tunas Cendikia pun Saya ajukan ke pembimbing akademik dan ketua program studi dan Alhamdulillah judul tersebut diterima.

Proses skripsi pun bergulir, mulai dari proposal, seminar proposal pada semester 6 diselesaikan. Penelitian berlansung di semester 7 atau kalau pada anak sekolah, pada saat itu baru masuk tahun ajaran baru. Diakhir semester 7 penelitian selesai disambung dengan seminar skripsi. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Bukan hanya itu, selesai kuliah Saya diajak sang ustadz untuk ikut mengajar tahsin disekolahnya. Masya Allah… itulah sedikit dari sekian banyak berkah yang Saya dapatkan dalam mempelajari Al Qur’an. Alhamdulillah dari skripsi lanjut ke profesi, semakin dekat dengan kitabullah. Alhamdulilah tsumma Alhamdulillah, Al Qur’an menjadi sumber keberkahan dalam kehidupan Saya. Selanjutnya doakan Saya ditahun ini, lulus ikut sertifikasi tahsin, Amin ya rabbal ‘alamin.

_
Penulis : Ziyaadul Murtado – SMPIT Tunas Cendikia

Seluruh Masalahmu Bermuara dari Rasa Syukurmu

Oleh Adhan Sanusi
Seri Aturan Bahagia dalam Al-Qur’an
Aturan bahagia 3

Setelah merasakan keterhubungan dengan Allah dan Merasakan setiap saat selalu dalam Rahmat Nya  dalam بسم الله الرحمن الرحيم, maka sepantasnyalah tumbuhkan rasa syukur dengan mengucapkan الحمد لله رب العالمين.

Lawan syukur itu adalah kufur, dan kufur nikmat itu  konsekuensinya ada hukuman Ku sangat pedih (إن عذابي لشديد).

Setiap keterpurukan yang kita alami muaranya adalah kurangnya rasa syukur atas berbagai nikmat Nya (Rahmat Nya). Sehingga orang yang kurang syukurnya (kufur nikmat) akan selalu mengalami siksaan (bathin dan atau  dzahir) dalam hidupnya.

Berbagai penderitaan hidup umumnya bermuara pada  kurangnya rasa syukur.

Kaidah ini ada pengecualiannya, yaitu para Nabi dan Rasul, ulama shaleh serta orang-orang shaleh lainnya. Sebab penderitaan mereka adalah ujian dari Allah. Tarbiyah dari Allah. Bentuk cinta dari Allah.

Sakit, bisa jadi karena kurang rasa syukur berupa menjaga amanah kesehatan yang telah Allah berikan.

Pengangguran bisa jadi karena kurang mensyukuri nikmat potensi yang telah Allah sediakan di dalam dirinya. Dia lebih memilih berdiam diri daripada mengekplorasi dan melatih kemampuan dirinya.

Jadi rasa syukur adalah merasakan begitu besarnya nikmat Allah kepada kita. Bahkan kalaupun kita tidak punya apa-apa pun selama masih hidup. Maka hidup tersebut bisa di syukuri, sebagai bentuk kesempatan oleh Allah untuk memaksimalkan amal-amal terbaik yang bisa di persembahkan.

Apapun Kondisimu, Selalu dalam Rahmat Nya

Oleh Adhan Sanusi
Seri Aturan Bahagia dalam Al-Qur’an

Bahagia itu sumbernya di hati. Selama hatinya hidup, maka kita berpotensi untuk selalu bahagia.

Setelah merasa terhubung dengan sang Pencipta dengan menyebut بسم الله dalam memulai segala aktifitas Kebaikan.

Selanjutnya agar selalu merasa bahagia dalam segala kondisi adalah dengan meyakini bahwa dalam kondisi apapun kita selalu di lingkupi RAHMATNYA. Tidak ada satupun dari makhluk Nya yang keluar dari Rahmat Nya yaitu kalimat Ar Rahman Ar Rahim.

Kalimat بسم الله الرحمن الرحيم mengandung rasa kerhubungan dengan ALLAH dan juga perasaan lingkupan Rahmat Nya dalam segala kondisi.

Dengan keyakinan yang seperti ini, kita akan memandang kondisinya selalu dalam kebaikan.

Dalam kondisi kaya dan miskin ada Rahmat Allah, dalam kondisi sehat dan sakit ada Rahmat Allah, dalam kondisi sempurna dan cacat ada Rahmat Allah, Saat Jadi pimpinan atau bawahan ada Rahmat Allah.

Jadi segala kondisi di pandang baik. Ada sisi yang selalu bisa di syukuri. Dan itu pasti akan bahagia, walaupun dalam pandangan orang lain menderita.

Semenderita apapun hidup saat ini, kehidupannya adalah harapan ahli maksiat di dalam kubur sana. Sekiranya mereka di beri kesempatan hidup lagi, walaupun dengan kehidupan yang kita anggap paling menderita saat ini, mereka akan sangat bersyukur. Jika mereka bisa bersyukur bahagia, kenapa kita tidak mensyukuri kesempatan hidup yang masih Allah berikan kepada kita saat ini.

Maka kesempatan hidup saat ini, apapun kondisinya adalah Rahmat Nya. Bersyukur atas karunia kehidupan saat ini. Apapun kondisinya.

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Bismillah, Sambungkan Kabel Hatimu Kepada Nya

Oleh Adhan Sanusi
Seri Aturan Bahagia dalam Al-Qur’an.

Bismillah, mulai aktifitas dengan menyebut nama Nya.
Bismillah, tetap tersambung kepada Nya dalam segala kondisi.
Bismillah, seluruh aktifitas di niatkan ibadah kepada-Nya.

Dirimu dan segala aktifitas mu itu karena karunia Nya, Bukan karena kehebatan mu.

Allah menginginkan hamba Nya agar selalu tersambung terus kepada Nya. Ingat terus menerus dalam berbagai kondisi, dalam berbagai aktifitas. Agar hidup selalu bahagia.

كُلُّ كَلَامٍ أَوْ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُفْتَحُ بِذِكْرِ اللهِ فَهُوَ أَبْتَرُ – أَوْ قَالَ : أَقْطَعُ –

“Setiap perkataan atau perkara penting yang tidak dibuka dengan dzikir pada Allah, maka terputus berkahnya.” (HR. Ahmad)

Banyak yang menyangka bahwa bahagia itu terkait materi. Materi adalah sarana untuk lebih bahagia. Tetapi bukan sumber kebahagiaan. Orang yang bahagia karena Nya hidupnya di berkahi, penuh kebaikan.

Orang miskin yang tersambung hatinya dengan sang pencipta Nya akan bahagia dalam kekurangan nya.

Orang kaya yang tersambung hatinya akan lebih bahagia di banding orang miskin, karena menjadi lebih banyak memberi manfaat di banding orang miskin.

Demikian juga dengan orang sakit atau sehat, semuanya bisa bahagia manakala bisa tersambung hatinya kepada Allah.

Allah lah yang terpenting dalam hidup ini, selainnya menjadi tidak penting. Menjadi penting jika terkait kepada Nya. Termasuk diri sendiri tidak penting. Menjadi penting jika selalu terhubung kepada Nya. Maka segala aktifitas baik di mulai dengan menyebut nama Nya.

Orang yang menganggap penting dirinya tanpa keterkaitan dengan Allah, akan sulit bahagia. Dia gampang tersinggung jika di hina, kecewa jika tidak sesuai harapan dirinya, marah ketika dirinya terganggu, tidak senang jika di persepsi buruk orang lain. Selalu ingin terlihat kaya, terlihat cerdas, terlihat baik. Hidup tersiksa oleh performa diri.

Sebutlah nama Tuhan Mu Bismillah, atas nama Nya, karena Nya dan kepada Nya kita ada, kita memulai segala aktifitas.

Tahapan Kapasitas Kepemimpinan

Oleh : Ust. Adhan Sanusi, Lc.

Setiap kita adalah pemimpin di level apapun saat ini. Minimal saat tidak ada orang lain yang di pimpin, saat itu berarti sedang memimpin diri sendiri.

Dalam skala yang lebih luas kepemimpinan butuh kapasitas tersendiri. Butuh latihan yang berkesinambungan terhadap setiap tahapan kepemimpinan.

Setidaknya ada 4 level kepemimpinan yang bisa dikembangkan oleh para  pemimpin yang disampaikan oleh ust Muhammad Yamin M.Pd.I (Direktur Wafa) dalam sesi pembinaan pagi di kantor WAFA, yaitu dengan konsep, 4 M: Mempengaruhi, Menggerakkan, Mengembangkan dan Memberdayakan.

Namun setelah di fikir ada satu hal yang sangat fundamental dari itu semua sebelum melakukan 4 M tersebut, yaitu kesadaran kepemimpinan. Yaitu kesadaran untuk mampu memimpin dirinya sendiri untuk menjadi produktif. Baru setelah itu dia bisa. Melaksanakan 4 M tersebut.

Kesadaran inilah yang akan membawa seseorang untuk mencari potensi dirinya dan bidang yang pas untuk meledakkan kapasitasnya untuk kemanfaatan bagi orang.

Kesadaran kepemimpinan lah yang akan membuat seseorang itu bisa mempunyai level kepemimpinan yang pertama yaitu:

  1. Mempengaruhi.

Ada orang memimpin karena posisi, namun tanpa pengaruh. Pengaruh itu muncul dari kesadaran kepemimpinan diri sendiri dan cita-cita yang besar yang membuat orang lain yakin dan tenang akan kemampuannya.

  1. Menggerakkan.

Banyak motivator yang bisa mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu, dia mampu meyakinkan orang lain dan juga menggerakkan nya untuk melakukan sesuatu,  namun tidak bertahan lama.

Sebab hanya seperti tukang kompor meledak-ledak, tidak sampai pada level kemampuan untuk membimbing langkah langkah apa yang akan dilakukannya, kemana arahnya, bagaimana pengawasan dan pengawalan geraknya agar tidak melenceng dari tujuan.

  1. Mengembangkan.

Agar mencapai tujuan, kapasitas diri harus terus berkembang dan juga mampu mengembangkan kemampuan yang di pimpinnya, bisa dengan cara mengirim mereka ke perbagai pelatihan yang sesuai dengan bidangnya.

  1. Memberdayakan.

Dan puncaknya adalah kemampuan memberdayakan yang dipimpin. Memberi mereka tantangan baru, memberikan kepercayaannya kepada yang dipimpin.

Informasi Tambahan:

  1. Instagram https://instagram.com/wafaindonesia?igshid=1em93xp2gau05
  2. Youtube https://www.youtube.com/user/WAFAOtakKanan
  3. Aplikasi android WAFA https://play.google.com/store/apps/details?id=or.id.wafaindonesia.wafa01
  4. Facebook https://www.facebook.com/MetodeWafa
  5. Fanpage https://www.facebook.com/BelajarAlQuranMetodeOtakKanan

OBROLAN KITA ITULAH KUALITAS KITA

Bismillah..
Alhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa aalihi wa shohbihi wa man waalaahu.

Renungan Jum’at pagi
QS.QOF : 18

Saudara/i sekalian,

Kita adalah manusia makhluk sosial. Pastinya diantara kita ada interaksi sosial.
Bersilaturrahim, jual beli dan sebagainya itulah nuansa kehidupan kita. Pada saat silaturrahim, saat itulah kita bertukar cerita, berbagi cerita, bercurah pikiran dan perasaan.

Setiap orang membicarakan apa yang ia pikirkan dan apa yang ia rasakan. Itu sebabnya, pembicaraan menjadi cermin kepribadian.

Agar kepribadian kita lebih berkualitas, masukkan 7 hal dalam obrolan kita :

1. Ilmu, agar berkualitas obrolannya
2. Iman, agar ada benteng diri
3. Ibadah, agar berbarokah
4. Akhlak, agar tidak salah faham
5. Da’wah, agar terjaga keakraban
6. Kepedulian sosial
7. Ingat mati, sehingga ada orientasi akhirat.

TINGKATKAN KUALITAS DIRI, AGAR KITA MENJADI MANUSIA YANG LEBIH TERARAH DAN TERPIMPIN.

SEMANGAAAT…JUM’AT MUBARAK.

Ya Rahman,
Karuniai kami akhlak yg baik, tutur kata yang halus, lembut dan terarah..
Aamiin…