Dalam Dakwah Aku Membumikan Al-Qur’an

Pendidikan adalah ladang dalam menginvestasikan amal, sehingga perlu adanya tauladan yang tidak hanya menggurui tapi juga menginspirasi. Begitu juga apa yang telah dilakukan oleh Ustad.Muhammad fadholi, beliau adalah seorang imam masjid disuatu kampung tempat dimana saya dibesarkan. Melalui dakwahnya saya bisa mengenal lebih jauh mengenai ilmu keagamaan mulai dari belajar tata cara berwudhu,sholat,dan juga membaca Al-Qur’an.

Berawal dari sebuah rumah sederhana, beliau mengajak generasi anak-anak untuk belajar Al-Qur’an. Karena dulu pada waktu itu belum ada fasilitas yang memadai seperti sekarang. Disitulah beliau membangun dan mengembangkan TPA yang diberi nama TPA AL-ISHLAH. Dari TPA ini  banyak generasi yang menimba ilmu membaca Al-Qur’an,mulai dari generasi tahun 1980an , 1990an, 2000an hingga sekarang.

Untuk generasi 1980an dan 1990an  walupun dulu ngajinya hanya lesehan dengan beralasnkan tikar dan tanpa ada meja buat landasan untuk menulis, tapi semangat serta antusias dalam mengaji sangat luar biasa adanya. Begitu juga antusias orang tua dalam mendorong anak-anaknya untuk belajar Al-Qur’an di TPA tersebut sangat tinggi,sehingga banyak santri yang belajar dengan beliau. Begitu juga saya, yang dulu begitu semangat apabila disuruh ngaji. Saya merasa ngaji dengan beliau itu seperti mendapatkan kemantapan terhadap ilmu yang saya dapat. Pada era 90an banyak Santri beliau seangkatan saya, sehingga disitulah yang menjadikan salah satu semangat  dalam belajar dengan beliau.

Ustad. Muhammad Fadholi adalah seorang pengajar yang Sederhana, tegas dan menyenangkan. Mungkin karena itulah yang membuat santri beliau semangat dan senang dalam mempelajari Al-Qur’an. Disamping belajar Al-Qur’an  banyak juga kegiatan yang lain yang menjadikan citra dari TPA yang dibangun belaiu tersebut menjadi lebih disukai di kalangan masyarakat baik masyarakat yang dekat dekat dengan TPA tersebut maupun masyarakat dari desa yang lain.

Dalam pembelajaran Al-Quran beliu menggunakan metode belajar dengan IQRO’, mulai dari tingkatan IQRO’ 1 , IQRO’ 2, IQRO’ 3, IQRO’ 4, IQRO’ 5, IQRO’ 6, Juz ama dan terahir apabila semua sudah dirasa cukup lancar dan bisa baru kemudian ke Al-Qur’an.

Pada waktu angkatan saya, untuk pembelajaran Al-Qur’annya  dibagi menjadi 3 golongan kelas,golongan 1 adalah kelas dengan tingkatan IQRO’1,IQRO’2,IQRO’3 ini masuk kedalam golongan kelas 1. Kemudian golongan 2 adalah tingkatan IQRO’4,IQRO’ 5,IQRO’6 ini masuk kedalam golongan kelas 2. Dan yang terahir adalah golongan 3 yaitu dengan tingkatan  Juz Ama dan Al-Qur’an ini masuk kedalam golongan kelas 3. Karena saking banyaknya santri yang tergabung dalam TPA tersebut dan minimnya tenaga pengajar maka dulu apabila yang sudah belajar berada pada golongan 3 atau kelas 3 kadang diberikan amanah buat membantu mengajar digolongan kelas 1 dan golongan kelas 2.

Dalam meningkatakan antusias santrinya untuk membaca quran selain semaan antar santri setiap bagda magrib beliau juga membiasakan untuk membaca quran selepas subuh menggunakan speaker masjid,selain itu setiap ada hari besar islam belaiu juga memprogramkan untuk khataman quran.

Kini setelah sekian lama berjalannya waktu,semua masih berjalan dengan dakwah yang dikemas oleh beliau. Bahkan kini tidak hanya mengurus TPA, ustad. Muhammmad Fadholi  juga membuat kajian untuk bapak-bapak  maupun ibu-ibu untuk sama-sama balajar membaca Al-Qur’an. Dalam membimbing  bapak-bapak  maupun ibu-ibu tersebut beliau menggunanakan metode Quantum Reading Quran. Ternyata hal tersebut bisa memotivasi para orang tua yang belum bisa membaca Al-Qur’an untuk semangat belajar dalam mempelajari Al-Qur’an. Bahkan hampir setiap hari kegiatan belaiu benar-benar di curahkan dalam dakwah untuk membentuk baik genarasi anak-anak sampai generasi orang tua yang bersemangat mempelajari Al-Qur’an.

Alhamdulillah karena semakin semangatnya masyarakat dalam mengaji maka tempat ibadah atau tempat untuk mengkaji Al-Qur’an kini juga mulai dupugar lebih luas dan dikasih fasilitas yang lebih modern, seperti dipasang AC dan lain sebagainya. Dengan adanya perubahan tersebut semakin membuat antusias dan semangat dalam mengaji Al-Qur’an, bahakan kini tempat tersebut menjadi center kegiatan masyarakat.

Besar harapan saya semoga nanti tempat tersebut bisa  terus berkembang dan senantiasa menebarkan manfaat terhadap dunia, Negara dan masyarakat sekitar khususnya. Semoga nanti pembelajaran dengan metode wafa ini bisa diaplikasikan dalam TPA maupun kajian bapak-bapak dan juga kajian ibu-ibu tersebut dalam mempejari Al-Qur’an dan juga menghafalkannya.

Menurut saya yang baru mengenal,mempelajari serta mengamalkan pembelajaran dengan metode wafa, metode ini sangat bagus serta memudahkan peserta didik dalam mempelajari serta menghafalkan Al-Qur’an,dengan adanya gerakan dan alunan nada yang sangat singkron itulah yg membuat kita bisa lebih mudah dalam mengingat apa yang telah tersampaikan.

Dalam hal ini sangat sesuai dengan kondisi masyarakat yang lebih menginginkan cara simple serta mudah dalam belajar. Apa lagi anak-anak di TPA tersebut pasti juga akan lebih senang apa bila belajar sambil mengunakan gerakan dan juga alunan nada yang bisa membuat nyaman dan mudah untuk mengingatnya.

Terima kasih, semoga kedepan Metode pembelajaran dengan metode wafa ini semakin digemari masyarakat dan semoga bisa terus exis.

_
Penulis : Basuki Andri Susanto – SDIT Luqman Al Hakim Sukodono Sragen

Akhlak

Wilayah sekolah saya mengajar adalah pedesaan dan pedalaman yg tentunya lingkungannya terlalu minim pendidikannya dan bahasanya yang tidak tertata, logat bicaranya menirukan guyonan orang dewasa yang jorok, cara bergaul dengan teman bermainnya yang kasar, Ahlaknya yang kurang sopan terutama kepada orang yang lebih tua. “Mheee…Astaugfirullahilazdim…”.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di sekolah RA Tania ini agak kaget dengan tingkah murid yang kurang nyaman di pandang mata dan kurang enak di dengar telinga sehingga sempat tersirat di hati ini, “Apakah saya bisa betah dan bertahan menghadapi anak-anak ini…! dan apakah saya bisa mendidik dan merubah anak-anak ini dengan baik…”!!!

Tapi saya harus bisa merubah semuanya karena status saya di sini sebagai pembimbing, pengayom dan sebagai teman mereka.

“Aku harus bisa…aku harus bisa.. dan harus semangat”…hentakanku menyemangati diriku sendiri.

“Tet..tet..tet…”suara bel sekolah berdering tanda menunjukkan jam pelajaran pertama segera di mulai. “Gebraak…gebruuk…kedabak…kedabuk…” Suara sepatu anak- anak di hentakkan ke tanah sambil berlari berebut saling dorong dan berebut antrian terdepan dan suara ngoceh teriakan terdengar ramai di teling, “aku duluan, kamu minggir” ada yang kakinya kena injak dan menangis ” eeemmm…aaa…”.

“Haaiii…Hallooo…bagaimana kabarnya anak- anakku…” Suara saya serukan untuk mengalihkan perhatian anak-anak pada saya, dan merekapun menjawab “Alhamdulillah…luar biasa…Allahu Akbar…Aku Pasti Biasa…Yess…”

Alhamdulillah anak-anak terdiam sunyi pandangan tertuju pada saya dan mereka menunggu suara saya selanjutnya. Lalu saya bernyanyi dan bergaya di depan anak-anak semampu saya untuk membuat anak-anak senang, tertawa dan riang gembira juga mengikuti nyanyian dan gerakan yang saya contohkan ” lonceng berbunyi baris di halaman…bersiap kaki rapat…pegang pundak teman…” . 

Begitulah setiap hari saya lakukan dengan jurus lagu-lagu, cerita dengan berakting di depan anak-anak se mampu saya. 

Dan setiap kali ada tingkah anak-anak yang tidak wajar saya selalu menasehati dengan halus lembut penuh kasih sayang dan saya bimbing dengan semanis mungkin agar anak-anak tidak gaduh, rame tetapi anak-anak  tetap senyum manis di bibirnya. Dan apabila salah satu temannya ada yang bersalah di sengaja atau tidak di sengaja harus meminta ma’af dan harus berjanji tidak mengulangi lagi.

 

            Pada akhirnya sekarang anak-anakku RA Tania berubah menjadi sopan, penurut, periang, penyayang dan berakhlakul karimah…”Alhamdulillah…ternyata saya bisa merubah mereka”.

Tapi sekarang dengan adanya bencana covid’19 sekolah di liburkan suasana sekolah itu saya rindukan suara bising anak-anak, keramaian, celoteh mereka semuanya tinggal kenangan saja.

Sabar dan berdo’a yang bisa saya lakukan sekarang ini semoga semuanya cepat berlalu agar kembali normal, “amin yarobbal alamin…”.

_
Penulis : Rusmiyati – RA Tania Sumberanyar, Paiton, Probolinggo

Man Siapa Kamu, Jadda Bersungguh-sungguh, Wajada Akan Mendapatkan

Sekolah Mutiara Rabu, 19 Oktober 2020

Seketika terdengar ramai setelah beberapa menit senyap tersumpal oleh pengumuman pembagian murid binaan. Ruang kelas bermain, kelas paling ujung yang biasa kami tempati menjadi ruang dimana harapan dan keputusan berebut kuasa, disanalah lahir keputusan-keputusan yang membahagiakan juga terkadang membuat bimbang. 

“Hmmm, bagaimana Ustadzah Zee, agaknya memang berat karena anak ini memang memiliki keistimewaan dalam  belajar Al-Quran. Ia tertinggal jauh dari teman-temannya. Seharusnya sudah buku 1 tapi sampai saat ini masih bertahan dibuku TK, keluhan dari pengampu sebelumnya anak ini sering lupa bacaan yang telah diajarkan dan candu permainan game dirumahnya, belum ada kontrol serius dari orang tuanya ”. Ustadzah Jen menatapku dengan serius

“Kenapa harus saya Ustadzah Jen, bukankah banyak Ustad atau Ustadzah yang lebih senior dan berkompeten untuk menangani anak tersebut? Aku menimpali dengan segera keputusan dan omongan manager Al-Quran tersebut yang terlihat memainkan pulpen ditangannya, dan Nampak jelas kegelisahan yang penuh harap diwajahnya, akupun tidak memperpanjang alasan penolakanku, karena aku tahu seberapa keras aku menolak keputusan adalah tetap keputusan.

“InsyaAllah bisa, semoga Ustadzah bisa menerima dengan lapang dada”.

Semalaman suntuk, diatas kasur otakku masih dikoyak oleh ketakutan-ketakutan “Kiko Si Pelupa” aku ingat betul keluhan beberapa Ustadzah dalam kegiatan evaluasi mengaji yang dilaksanakan satu pekan sekali terhadap sosok Kiko kecil yang duduk dikelas TK B, beberapa diantaranya telah putus asa dengan habit Kiko sebagai pecandu game dirumahnya sehingga menghambat kemampuan mengaji Al-Quran disekolah, aku beranjak dari kasurku dan membuka Riwayat laporan mengaji milik Kiko di Laptop, kebetulan siang itu manager Al-Quran mengirimkan link untuk mengakses laporan mengaji Kiko

“Ya Tuhan, banyak sekali absen (keterangan Alpha)nya, nilai harian juga rata-rata C artinya dia sering melakukan kesalahan lebih dari tiga kali sehingga harus mengulang dihalaman yang sama, huuffffftttt”

Aku langsung menutup Laptopku, menghempaskan badan keranjang dan mengubur dalam-dalam kekecewaan itu dalam lelap tidur yang sebenarnya masih sesak dengan tanda tanya

Pagi ini adalah hari pertama pertemuanku dengan Kiko dan keempat anak laiinya, seperti biasa pembelajaran masih dilakukan  secara daring, lagi-lagi karena Pandemi dan benar saja PJJ(pembelajaran jarak jauh) inilah yang membuat aku kurang yakin dapat menjadi pengampu yang mampu mengubuh Kiko menjadi lebih baik dalam pembelajaran Al-Quran 

“Assalamualaikum, bagaimana kabarnya anak-anak. Alhamdulillah semuanya masih Allah berikan Kesehatan. Perkenalkan nama Ustadzah adalah Zee kalian bisa memanggil ustdzah dengan sebutan Ustadzah Zee” setelah melaksanakan pembukaan dan lain-lain aku masuk tahap baca simak dan sengaja menunjuk Kiko sebagai siswa pertama yang aku ajar, tidak sabar rasanya seperti apa kemampuannya dalam Al-Quran benarkah seperti yang diadukan oleh kebanyakan guru atau hanya karena ketakutan yang terlalu berlebihan, dan…benar! Kiko persis seperti sosok yang ada dalam forum diskusi itu, bacaannya tersendat-sendat, jeda bacanya lama, hurufnya seringkali tertukar, artikulasi yang tidak jelas, bayangkan saja beberapa baris yang dia baca bunyi pelafalannya terdengar sama.

Tiga minggu berjalan, belum juga ada perubahan. Sebagai guru tentu hal itu adalah beban! Ketidakmampuan atau keterbelakangan yang dialami Kiko menjadi hal wajar yang setiap hari aku ratapi sehingga Kiko menjadi palu yang memukul otakku setiap saat untuk bekerja keras mencari-cari formula yang tepat agar Ia bisa mengejar ketertinggalannya. 

***

Teras Kost Bali, November 2020

“Assalmualaikum, hallo Ma ada apa”
“sedang apa, libur kan hari ini sudah jam 08.00 di Jawa, kamu sudah sarapan?”
“Sedang duduk santai baca buku. Belum makan si Ma, tapi ini aku udah buat Roti isi selai dan kopi dimeja, ma aku mau cerita tentang pekerjaan boleh?”
“Boleh” mama menimpali dengan nada lirih, aku luapkan semua perasaanku kepada mama, tentang kekecewaan dan ketakutan tidak bisa menjalankan Amanah dari manager Al-Quran, tapi lagi-lagi mana menenangkanku dengan kata motifasinya
“Yowes (yasudah), man jadda wa jada, kalau kamu bersungguh-sungguh InsyaAllah bisa kok melalui Amanah itu dengan baik! habis ini beli makan ya. Jaga Kesehatan! semangat selalu kerjanya ya Ka, Assalamualaikum”

“InsyaAllah Ma, jaga Kesehatan juga, waalaikum salaam”

Tuuuut…tuuutttt. 

mama menguatkanku, dengan kalimat motivasinya, obrolan ditelepon itu sangat berharga untukku, bagaimana bisa aku patah semangat untuk menghadapai hari-hari ini. Aku mengambil sepotong roti isi selai coklat diatas meja yang berdempet dengan kursi kayu yang terlihat usang dan ringkih karena usianya, lalu melahap roti itu, “insyaAllah tetap semangat Ma” batinku sambil tersenyum tipis disela-sela kunyahanku dan melanjutkan Kembali membaca buku, seketika mataku terjebak dibeberapa kalimat dihalaman buku itu, aku mencoba mengulang-ulang isi kalimatnya memastikan bahwa aku benar-benar paham.

“Tidak ada anak-anak bodoh, mereka hanya belum bertemu dengan guru yang tepat”

Kalimat ini membuatku berpikir dua kali, benarkah ini sebuah kebenaran atau hanya bualan teori. Beberapa kalimat penjelas yang menguraikan tentang hal ini terus aku baca sampai tuntas, tidak jarang selepas mengajar, aku sempatkan untuk melahap banyak artikel “kiat-kiat menumbuhkan semangat belajar dalam diri anak” sampai pada akhirnya dibulan kedua aku memukan sebuah formula yang aku percaya mampu merubah kebiasaan Kiko dalam belajar terutama dalam pembelajaran AL-Quran metode WAFA.

Sekolah Mutiara merupakan sekolah Islam terpadu yang cukup bergengsi di Bali, metode yang digunakan dalam belajar Al-Quran adalah metode WAFA (metode otak kanan). Ya sekilas metode ini terlihat mudah diterapkan namun meski demikian tidak sedikit guru mampu menerapkan dengan sempurna, pasalnya ada beberapa guru yang masih terlewat dengan beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam pembelajaran WAFA sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap output yang dihasilkan.

Masih melekat dalam otakku pengalaman saat pertama kali mengikuti training wafa yang dilaksanakan oleh sekolah pada musim kemarau sebelum Pandemi itu. “penanaman dan penguasaan konsep terhadap anak harus benar-benar dipastikan diserap dengan baik oleh anak” kira-kira begitu bunyi kalimat yang disampaikan oleh trainer. Iya inilah formula utama yang harus aku lakukan. Namun meski demikian tentu akan menghadapi beberapa hambatan karena pembelajaran Al-Quran masih dikemas dengan kegiatan daring, yang menjadi pertanyaan selanjutnya, bisakah aku sebagai pengajar menerapkan arahan trainer untuk penanaman konsep tersebut dalam kondisi anak tidak fokus, bosan, tidak bersemangat dan tidak tertarik dengan kita? Hhhmmm inilah pertanyaan kedua yang terus ada dalam benak dan memaksa otak bekerja lebih keras menemukan jawabannya. 

***

Sabtu pagi itu seperti biasa aku senantiasa meluangkan waktu dengan kursi dan meja ringkih diteras kamar kostku, tidak ada hangout, biasanya aku menghabiskan waktu untuk beristirahat diwaktu libur! Pikiranku masih dengan persoalan yang sama, meramu Teknik mengajar untuk Kiko, setelah lama berpikir dan mencoret lembaran yang ada dibuku, akhirnya berhenti pada kalimat “strategi menumbuhkan motifasi intrinsik, Bismillah”.  

 

***

Desember 2020 dengan harapan, doa dan segenap usaha. Aku mulai melakukan uji coba strategi membangun motivasi intrinsik pada diri siswa dalam pembelajaran AL-Quran metode wafa dengan tujuan untuk megatasi Kiko sebagai siswa yang tertinggal. Ada beberapa Langkah pembelajaran yang aku tempuh ditengah pandemic ini yaitu megaplikasikan standar belajar Al-Quran dengan baik dan benar, memaksimalkan media belajar. menerapan komunikasi persuasif untuk memotivasi siswa dan terakhir membangun komunikasi dengan peserta didik diluar jam sekolah. Kiko adalah anak yang introvert, pendiam, pemalu dan tidak mudah bergaul dengan siapapun sehingga wajar jika Kiko tidak ada perkembangan selama belajar Al-Quran. Hal ini menjadi tantangan terbesar bagiku sebagai guru, Iya! aku meluangkan waktu yang lebih untuknya daripada siswa yang lain terutama dibagian membangun komunikasi dan kedekatan dengannya sebagai upaya membangun motivasi intrinsik sehingga Kiko bisa belajar tanpa dipaksa dan tidak menjadi anak tertinggal lagi. Beberapa ahli mengatakan “Motivasi ekstrinsik dapat berubah menjadi intrinsik pada saat siswa menyadari pentingya belajar dan ia belajar sungguh-sungguh tanpa disuruh orang lain”. Akhirnya aku gencar melakukan motivasi ekstrinsik sebagai upaya menumbuhkan motivasi intrinsik dalam diri anak didik. Pasalnya jika motivasi intrinsik ini tercapai dengan baik anak akan mendapatkan sebuah penghargaan dalam dirinya penghargaan dimana seseorang mendapatkan kepuasan, kebahagian atau kebanggaan tersendiri setelah melakukan sesuatu sehingga dapat disimpulkan keberhasilannya motifasi tersebut menjadikan belajar diera pandemi bukanlah beban namun lebih dari itu yaitu menjadi sesuatu yang menyenangkan yang pada gilirannya motivasi ini bisa memobilisasi tindakannya untuk belajar dengan sungguh-sungguh dengan sendirinya tanpa diminta ataupun dipaksa oleh guru atau orang tua dirumah.

Itulah yang aku lakukan selama pelajaran Al-Quran diera pandemi kepada siswa terutama Kiko, setiap minggu video call melalui WA degannya dan melebur kedalam dunia Kiko, bermain, bercerita dan memotifasinya setiap hari, adakalanya aku memancingnya dengan sebuah pertanyaan tentang sebab dan akibat jika tidak belajar Al-Quran dengan rajin baik Bersama guru atau Bersama keluarga dirumah, tidak lupa aku mengapresiasi setiap kemajuan Kiko sekecil apapun dihadapan teman-temannya saat pembelajaran. Ya! Semata-mata untuk membuat Kiko percaya diri dan lebih terbuka Bersama teman-temannya, satu hal yang terus saya afirmasi setiap kali Kiko bisa membaca 1-3 baris dalam buku Wafa saya memuji dan menimpali dengan pertayaan “Wah, kok lancar ngajinya hari ini, apakah Kiko belajar tadi malam?” jika Kiko menjawab iya, maka saya segera menimpali Kembali dengan kalimat kesimpulan yang bisa mempengaruhi otak anak didik dengan mengucapkan “wah, lihat teman-teman kalau setiap malam kita belajar, ternyata membacanya bisa lancar lo, coba deh buktikan, nanti malam kalian semua belajar, besok kita buktikan bersama” sebaliknya saya akan mengatakan kebalikan dari kalimat tersebut saat anak-anak tidak lancar mengaji pada saat pertemuan belajar, aku juga tidak melarang Kiko bermain game karena itu merupakan hobi yang membuat dunianya lebih berharga, aku mulai memodifikasi kalimatku dari “jangan main game terus agar ngajinya lancar ya” dengan kalimat “kalian boleh kok main game, dan main apapun. Tetapi ingat sebelum main game belajar wafa dulu ya, agar kalian bisa menjadi anak yang hebat dalam bermain game dan mengaji wafa”

 

***

Pojok kost Kubung Batu, 6 April 2021

Sejak strategi dilakukan pada bulan Desember, Alhamdulillah Kiko bisa mengejar ketertinggalannya dan bisa menuntaskan satu halaman sekali baca, berbeda dari sebelumnya yang membutuhkan 1-4 hari untuk menuntaskan satu halaman, pada tanggal 6 April 2021 pukul 19.15 aku mengirim sebuah pesan kepada Bunda Kiko menanyakan apakah Kiko sudah memiliki kemauan belajar sendiri dirumah atau tidak. Ya, membangun motifasi intrinsik dalam diri Kiko adalah tujuan utamaku! Selang 23 menit kemudian hpku berdering

 

Ting tong…ting tong

Satu pesan masuk, aku meraih handphone yang terletak bersebelahan diatas meja dekat ranjang yang beberapa saat aku letakkan. Terlihat notifikasi pop up “Bunda Kiko” 

“Alhamdulillah, ternyata usahaku tidak sia-sia. Inilah alasannya mengapa perkembangan Kiko sangat pesat” aku tersenyum dan berkali mengucap rasa syukur kepada Allah Swt. 

***

Pojok kelas Sekolah Mutiara, 9 April 2021

Kelas pojok Mutiara, adalah kelas yang dijadikan ruang evaluasi pembelajaran AL-Quran PAUD Mutiara dan segala pelaksanaan rapat pekanan oleh manager AL-Quran dan tim pengajar. Disinilah awal mula aku diberikan Amanah oleh Allah melalui Ustadza Jan selaku manager Al-Quran dan akhirnya aku berjuang raga dan pikiran untuk menuntaskan Amanah dari-Nya dengan sebaik mungkin untuk mendidik Kiko siswa TK B dimana dulu setiap Ustadzah mengeluhkannya.

“terimakasih, Ustadzah Zee, Alhamdulillah sejauh ini perkembangan Kiko begitu cepat dan semua PR sebelumnya telah teratasi dengan baik, give applause untuk Ustadzah Zee teman-teman!”

Semua tim pengajar bersorak dengan tepuk tangan, mengucapkan selamat 

Aku terdiam dengan senyum tipis, mataku berkaca-kaca dan dengan sekuat tenaga aku menahannya agar tidak mengalir dari ekor mataku dan terlihat oleh guru-guru yang hadir dalam pertemuan itu, sesak bercampur Bahagia, tak henti-hentinya aku berbisik dalam hati

“sesungguhnya aku tidak memiliki kekuatan ya Allah untuk merubah seseorang, ini adalah murni campur tangan engkau melalui usaha, doa dan harapanku yang terus aku sampaikann disepertiga malamku, aku terus meraju agar engkau tak perlu mengambil Amanah yang menurutku sangat sulit aku terima, aku hanya memohon kekuatan dan belas kasihmu untuk menunjukkan jalan dan mewujudkan setiap harapan dalam Amanah yang engkau berikan, dengan keyakinan penuh bahwa dalam kesungguhan ada janji terbaikmu 

MAN JADDA WA JADA”

_
Penulis : Nur Azizah – SDIT Mutiara Bali

Pejuang Qur’an di Era Pandemi

Di Era pandemi saat ini, wabah penyakit telah menyebar ke berbagai belahan dunia, umumnya menyerang banyak orang, seperti Corona Virus Disease Nineteen atau virus covid19. Penyakit virus ini diyakini pertama kali muncul di China pada bulan November 2019 dan masuk ke Indonesia pada awal Januari 2020 yang sangat berdampak khususnya bagi dunia pendidikan di Indonesia. Tidak hanya pelaksanaan pendidikan formal, tetapi juga pendidikan nonformal.  Tentunya sebuah tantangan baru bagi orangtua maupun peserta didik, khususnya para guru.  “Apabila kamu mendengar ada wabah penyakit  di suatu negeri maka janganlah  kamu memasukinya; dan apabila (wabah itu) berjangkit sedangkan kamu berada di dalam negeri itu, maka janganlah kamu keluar melarikan diri.” (HR. al-Bukhari)

Adanya virus covid19, menghambat peserta didik dalam mengembangkan pengetahuan  dan pemahaman, khususnya bidang agama seperti belajar ilmu tajwid dan tahfidz. Mempelajari ilmu tajwid akan menambah kesempurnaan dalam sholat dan membaca al-qur’an. ”Menuntut ilmu wajib bagi setiap orang Islam.” (HR. Muslim) 

Penyebaran virus covid19 ini juga mewajibkan peserta didik untuk belajar di rumah. Keterbatasan peserta didik yang tak  bisa lagi  belajar di sekolah atau Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) membuat semangat belajar peserta didik mulai berkurang. Semangat peserta  didik yang berkurang sangat berpengaruh bagi pencapaian target dalam pembelajaran ilmu tajwid dan tahfidz. Selain itu, banyak faktor yang membuat peserta didik tidak tertarik lagi untuk belajar ilmu tajwid dan menganggap remeh tahfidznya. 

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi peserta didik selama belajar di rumah, seperti keterbatasan sarana yang tidak mendukung,  dan maraknya permainan game online yang akan banyak menyita waktu peserta didik, dan tidak semua orangtua dapat mendampingi kegiatan belajar peserta didik karena kesibukan pekerjaan kantor.

Berangkat dari kondisi tersebut, guru qur’an di Indonesia berinovasi dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada dengan mengembangkan hafalan dan pemahaman ilmu tajwid melalui Wafa dengan metode otak kanan. Dengan metode ini, akan melatih kemampuan peserta didik untuk berkreasi dengan bantuan nasyid menggunakan nada hijaz sehingga materi-materi dapat menyerap dengan mudah  pada memori peserta didik. Berbagai murottal wafa dibagikan ke grup  keislaman guna mempermudah peserta didik untuk menghafal. 

Tanpa adanya persiapan, tentunya guru tidak dapat langsung  mengajarkan Wafa ke  peserta didik. Persyaratan demi persyaratan yang diikuti guna menciptakan generasi al qur’an yang berkualitas. Beberapa guru qur’an bergabung bersama mitra Wafa dengan mengikuti seminar dan pelatihan, seperti Akademi Tahsin Online yang dilaksanakan oleh Tim Wafa Pusat. Adapun tahap-tahapannya yaitu : pertama, guru melakukan pendaftaran secara online. Kemudian tes kemampuan awal  guru untuk penyesuaian level kelompok masing-masing. Kedua, pelaksanaan pelatihan Akademi Tahsin Online diikuti selama 7 kali pertemuan secara online. Ketiga, guru mengikuti tes kemampuan akhir dari materi yang telah diajarkan sesuai level. Setelah melaksanakan pelatihan, guru qur’an sudah mampu  menjadi guru ahli di setiap lembaga masing-masing.

Dengan harapan adanya pelatihan ini, Guru qur’an yang telah bergabung bersama mitra Wafa dapat mengembangkan kemampuan  dan menjadikan guru qur’an yang berkualitas demi menciptakan generasi al-qur’an yang berkualitas di era pandemi dan era yang akan datang. Tentunya mendapatkan syafa’at di akhirat.  Aamiin Yaa Rabbal’alamiin

_
Penulis : Sri Handayani Saputri S. – SDIT Mutiara Makassar

Guru Qur’an Tiada Tergantikan

Pendidikan Alqur’an harus tetap dijalankan dimanapun kita berada untuk anak – anak muslim,Baik di desa maupun di kota, Mungkin inilah yang dialami ustadz ahmad, pada waktu dulu berada di desa, beliau juga mengajar Alqur’an, walaupun tidak digaji seperti di kota pada umumnya, kadang lampu listrik di desanya sering mati, akses jalan yang masih jelek terlebih kalau hujan becek & licin untuk dilewati, tapi tidak melemahkan anak-anak & ustadz ahmad untuk mengajar alqur’an walaupun Metode yang di gunakan masih sederhana sesuai dengan kaidah tajwid ghorib ala pesantren.

                Di karenakan suatu hal, akhirnya ustadz ahmad pindah ke kota , dan mencoba melamar menjadi guru Alqur’an di suatu lembaga & Alhamdulillah diterima, ternyata di kota metode yang di pakai Lain seperti yang biasa ustadz ahmad ajarkan di desa, mau tidak mau harus menyesuaikan, dan memaksa untuk belajar lagi, kebetulan metode yang di gunakan metode WAFA , yang menuntut untuk kreatif dalam mengajar, agar memberi stimulus untuk anak didik, 1 tahun berjalan ternyata tiada disangka seluruh dunia terserang pandemi virus corona yang memaksa untuk mengajar dengan daring, begitu sulit pada awalnya untuk menyesuaikan kadang jaringan yang terputus –putus sehingga berulang ulang dalam menerangkan pembelajaran & sekali lagi memaksa ustadz ahmad untuk berinovasi dalam mengajar daring dan manajemen pembelajaran,Tapi ustadz Ahmad tambah Bersyukur dapat ilmu baru. 

                   Mungkin saja peran guru dimasa depan akan tergantikan oleh teknologi  & akses informasi di internet yang mudah di dapat, lain dengan guru ngaji yang tidak bisa  digantikan karna pembelajaran Alqur’an & menghafalnya harus di praktekkan , disimak , secara face to face/klasikal dengan gurunya. Sekian terimakasih…

_
Penulis : Ahmad Saifulloh – Sekolah Albanna Bali

Tidak Goyah Wafa Karena Pandemi

Assalamualaikum wr.wb. 

Untuk para mitra wafa serta saudara muslim dan muslimah yang dirahmati Allah SWT. Alhamdulillah senantiasa bersyukur kepada Allah SWT yang mana pada saat ini penulis dapat berkesempatan mengutarakan kisah inspiratif wafa yang dialami penulis.

Adapun di sini penulis ingin berbagi tulisan yang akan di mulai dari pertemuannya dengan pembelajaran yang bernama wafa sampai sekarang yakni dalam keadaan pandemi.

Pada tahun 2011 penulis mulai Berkenalan dan mengikuti pelatihan pembelajaran wafa yang diselenggarakan di kota Batam saat itu. Awalnya penulis merasa bertanya-tanya apa yang akan dilakukan wafa untuk pembelajaran Al Quran. Lama kelamaan penulis mulai mengerti dan memahami konsep yang ada di pembelajaran wafa. Penulis pun merasa semakin terpikat oleh metode wafa ini, ditambah lagi dengan keseharian di sekolah penulis yang menerapkan metode wafa ini. Inti dari metode pembelajaran wafa ini salah satunya adalah pembelajaran dengan menggunakan metode otak kanan. Dengan berjalan waktu, ketika itu kurang lebih lima tahun kemudian Penulis ditunjuk untuk bertanggung jawab menjadi penjamin mutu pembelajaran wafa yang mana pada saat itu penulis sedang berkecimpung di dunia pendidikan anak usia dini yaitu TKIT Darul Mukmin. Berawal dari amanah tersebut, penulis semakin bersemangat terus untuk mencari-cari dan menambah ilmu pengetahuan tentang pembelajaran Al Quran yang diterapkan pada metode wafa. Selain itu, pembelajaran Al Quran melalui metode wafa juga sangat menyenangkan, apalagi pada buku wafa tingkat KB/TK itu teknisnya dimulai dari kata-kata yang mudah diingat anak. Kemudian dibentuk per kelompok yang mana dalam satu kelompok tersebut merupakan anak-anak yang beda kelas tetapi menyamakan tingkat kemampuan anak dalam membaca wafa.

   Selang waktu berganti, pada waktu bulan juli tahun 2020 penulis dialihkan ke SDIT Darul Mukmin yang mana teknis pembelajarannya sudah berbeda  dibandingkan di TKIT dulu karena  SDIT sudah mulai menggunakan buku wafa dari jilid 1. Pada waktu itu juga bertepatan dengan awal belajar dari rumah. 

Di SDIT, mereka mulai menyusun kelompok pembelajaran Al Quran dikala itu berdasarkan tingkatan kelas. Alhamdulillah penulis diamanahkan di kelas 4a. Ternyata penulis juga digabungkan di kelompok  Penguji Al Quran. 

Sejak itu penulis mulai merasakan perubahan teknis pembelajaran karena siswa tidak dibenarkan ke sekolah, hanya melalui jaringan internet. Dari perubahan tersebut banyak pelajaran dan hikmah yang dapat diambil sebagai motivasi untuk diri sendiri khususnya. Meskipun demikian, siswa tetap bersemangat mengikuti pembelajaran Al Quran metode wafa tersebut. Pada suatu saat  pemerintah setempat menerbitkan informasi memberikan izin siswa untuk dapat belajar secara tatap muka di sekolah, tetapi hanya sebentar mengingat perubahan zona di tempat itu. Pendidik dan siswa pun kembali belajar melalui jaringan internet. Namun keadaan ini tidak menggoyahkan kami untuk terus mentransferkan ilmu pembelajaran wafa kepada siswa, justru yang kami rasakan adalah tantangan yang harus kami hadapi agar kelak apa yang kami sampaikan dalam pelajaran Al Quran ini kepada siswa kami menjadi suatu ilmu yang melekat dalam hati para siswa kami hingga dewasa nanti.  Hampir dua tahun kami belajar melalui jaringan internet. 

Pada awalnya banyak saran yang kami terima dari para orang tua siswa karena teknis pembelajarannya berbeda dengan keadaan seperti biasanya. Namun seiring waktu pendidik mencoba menjelaskan perlahan-lahan dan Alhamdulillah para orang tua siswa dapat menerima dengan lapang dada. Kami memahami untuk keadaan seperti ini para orang tua siswa khususnya sangat resah apalagi memikirkan keadaan ekonomi yang sangat berpengaruh untuk anaknya bersekolah. Namun kami tetap menjalani hak-hak siswa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan terutama ilmu pembelajaran Al Quran yakni pembelajaran Al Quran melalui wafa dengan menggunakan metode otak kanan. Semoga keadaan ini cepat berlalu sehingga para siswa dan pendidik bisa melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar secara tatap muka. Apalagi untuk keadaan saat ini bagaimanapun ketertiban pemerintah tetap  harus diikuti dan pembelajaran wafa juga tidak harus terhenti karenanya. Maka dari itu, teknis apapun itu tetap dilaksanakan selama gagasan tersebut sangat mengarah kesuksesan dari wafa dan misi SDIT Darul Mukmin yakni berakhlak, cerdas, mandiri.

Setiap harinya penulis dan guru-guru Al Quran yang lain harus mengubah cara atau pembaharuan pada saat menyampaikan pembelajaran Al Quran ini sehingga siswa merasa nyaman dan bersemangat dalam mempelajari ilmu Al Quran. Setiap pekan di hari jumat para guru Al Quran mengadakan evaluasi dalam pembelajaran Al Quran yakni wafa dengan tujuan agar pembelajaran wafa ini semakin melekat di hati para siswa dan guru, dan juga mengasah teknis pembelajaran Al Quran metode wafa dengan baik. Dari pengalaman penulis saat ini banyak hal dan pelajaran yang dapat diambil hikmah melalui berbagai karakter siswa yang sangat unik.

Izinkan penulis ingin membubuhi tentang sedikit profil. Penulis adalah salah seorang pendidik pelajaran Al Quran di SDIT Darul Mukmin, yaitu di Kota Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Penulis lahir di Kota Karimun pada 37 tahun yang lalu. Orang tua penulis merupakan orang pendatang di Kota Karimun. Kedua orang tua penulis adalah orang perantauan yang berasal dari  Kota Sidempuan Tapanuli Selatan. Alhamdulillah penulis didampingi seorang suami yang sholih dan dikaruniai seorang putri yang cantik berusia 4 tahun. 

Demikianlah kisah inspiratif dan profil penulis tentang wafa. Terima kasih penulis ucapkan kepada panitia perlombaan ini. Semoga apapun teknis yang akan dilakukan dalam pembelajaran adalah yang terbaik bagi wafa. Aamiin

Wassalamualaikum wr.wb

_
Penulis: Rika Yulianti – SDIT Darul Mukmin

Pandemi Mendidik Kami Berkreasi

“Cling” notif WA berbunyi.

Aku yang sedang rebahan kini mengeluarkan tenaga untuk mengambil HP. Sederet huruf membuat aku tercengang. Apa yang aku takutkan kini benar-benar terjadi. Zona merah, PJJ, WFH, adalah sederet huruf yang dicetak tebal. Kulirik wanita yang baru satu bulan menjadi istriku.

Ya Rabb, baru satu bulan aku memutuskan masa lajang dan membawa anak orang pada perantauan kini harus berada dalam tekanan ujian yang tak bisa aku bayangkan. Dengan hidup dikota yang notabene segala sesuatu perlu dibeli kini aku dihadapkan pada kenyataan harus berada dilingkungan yang sulit.

Sederet huruf cetak tebal itulah  yang meresahkan jiwaku. Melihat alat penunjang dalam pembelajaran online yang menjadi beban terdalam dihidupku. 2 GB paket data yang selama ini aku gunakan dengan hemat sehingga cukup dalam jangka 1 bulan, apa kabar kalau harus mengajar online?.

Ya Rabb, semoga kuat diri ini menjalani semua cobaan ini. HP yang ku genggam terus bergetar, teman-teman dalam grup kini saling berbalas kementar. Pikiranku melayang, disaat pengeluaran harus bertambah dengan adanya seseorang yang sudah menjadi tanggung jawabku, kini harus semakin banyak pula pengeluaran yang ada.

Sedangkan HP yang ku genggam adalah HP Vivo yang sudah tidak lagi produksi. Ngedrop dan ful memori adalah makanan sehari-hari yang aku temukan. semua berada dalam kebimbangan. Tapi Bismilah aku harus bisa melewati semua ini.

Mulai sore ini aku harus mengajar online. Aturan mengajar online sudah diberikan oleh pihak lembaga. Mampukah aku mengirim Video dan mendownload setoran anak-anak nantinya. Tak ada pilihan semua harus aku lakukan. Aku teruskan pengumaman yang dibuat oleh Direktur Griya Qur’ an pada grup yang ada. Mau tidak mau kini harus ada grup dalam setiap kelompok. Semua prosedur aku ikuti walau terkadang harus sharecing dulu di mbah Google.

Alhamdulillah kelar dengan perjuangan lebih dari setengah jam. Wanita yang kini ada disampingku terus memberikan semangat saat melihat aku terus berada dalam kepayahan. Hidup gaptek karenan anak desa yang tak tahu tentang ilmu TI, kini harus berperang dan berjuang untuk membuat semua beradsa dalam kendali.

Otak kian memanas dengan aduan wali santri yang tetap menginginkan tatap muka, sedang aturan lembaga besifat paten. Takutnya lembag ayang menanggung permasalahan. Satu tempat kini aku yang harus menghendle sebab teman-teman pasif dalam menanggapi komentar dan harapan wali santri. Kepala sudah mau pecah menanggapi semua harapan dan problema dari segennap walli santri.

Walau sebenarnya semua ini bukan tanggung jawabku, namun aku paling tidak bisa berdiam diri jika semuanya pasif. Walau kadang jawabanku malah membuat mereka salah paham namun pada ahirnya terselesaikan juga. HP yang biasanya sepi oleh notif pagi ini full. Bahkan sepertinya enggan untuk berhenti.

Baterai yang awalnya seratus persen kini sudah berada diahir pemakain. Dalam jangka tiga jam delapan puluh persen daya habis. Mau tidak mau aku harus berada dalam mode anjing. Rela tertahan dan terpasung didepan kabel listrik. 

Mulai dari membalas kementar hingga penjelasan melalui telfon baru kelar dengan alarm adzan Dzhuhur.  Sunguh pengalaman luar biasa. Berhadapan dengan sejuta pemikiran membuat diri ini harus pandai mengolah kata. 

“Alhamdulillah kelar.” Ucapku ahirnya. Disampingku duduk dengan manis wanita yang saat ini telah halal bagiku. Melihat senyumnya yang menenangkan sedikit luruh penat dan mumet di kepala. Tinggal menunggu sore hari untuk menjalankan aksi yang lebih sulit lagi.

*****

Hari Ahad yang biasanya aku isi dengan santai dari pagi bukan tangan masih belum lepas dari hp. Sejak selesai sarapan aku kembali dalam mode rebahan dengan HP ditangan. Pertanyaan, komplenan, saran dan kritikan kini sudah memenuhi chat WA ku. Ya Rabb, mampukan diri ini berbahasa yang baik dan tidak menyakiti para wali santri.

Permasalahan yang mereka alami kini sudah masuk dalam memori. Pada siapa aku harus berdiskusi menjawab semua problema ini. Pasti ditempat lain juga sama, kalau ditanggung sendiri rasanya aku tak mampu. Puyeng dan salah jawab ahirnya. Itu yang tak aku inginkan.

Wali santri seakan tak mau mengerti. Mereka menuntut kami harus bersikap profesional dalam mendidik anaknya dengan kondiri daring. Padahal kami sudah saling bahu membahu agar memberikan yang terbaik dalam pembelajaran kali ini. Namun perjuangan kami tak ubahnya hanya sebuah permainan. Ya Rabb. Kuatkan hati ini agar kami tidaklah emosi dalam bersikap dan menjawab pesan mereka.

Mereka mungkin tidak tau bagaimana perjuangan ku dalam mengajar. Kurang tau untuk teman-teman yang lain. Jujur video dalam durasi dua menit tiga puluh empat detik HP ku sudah menyalakan alarm memory Full. Lain lagi waktu pengiriman ke grup, durasi tidak sampai tiga menit menghabiskan waktu lebih setengah jam.

Habis dikirim banyak Video yang menjadi kenangan harus aku hapus bersama foto-foto kennagan yang memnag sengaja disimpan di memori HP. Sebab aku paling tak suka jika harus berbagi setiap memori kehidupan pada aplikasi huruf F. Biarlah, ini demi kebaikan semoga saja ini menjadi keputusan terbaik.

Download satu video kiriman wali santri, dikoreksi dan diberikan apresiasi dan catatan perbaikan langsung dihapus kembali untuk koreksi video selanjutnya. Dari senin sampai kamis begitulah aktifitas setiap sore sampai malam yang aku kerjakan. Sedangkan jumat dan sabtu adalah waktunya hafalan. Jadi lebih mudah bagiku, karena cukup ku kirim voice note sebagai bentuk contok pada mereka. 

Memori sedikit aman untuk hari jumat dan sabtu. Cuman aku merasa tidak puas dengan hafalan mereka, sebab aku sendiri tidak bisa mengontrol apakah mereka menyetor sambil melihat Al-Qur’ an atau murni menghafal.

Ingin sekali menggunakan video call tapi kodisi sinyal yang tak memungkinkan, kalau kuota masih bisa dibeli tapi kalau sudah bicara sinyal fix angkat tangan. Ditambah kondisi HP yang tidak mendukung.  Sebab bila digunakan Video Call dengan saudara dimalaysia, harus menggunakan IMO itupun tak bisa puas sebab paling lama setengah jam sudah mati Hpnya. 

Mau VC sambil dicas sinyal yang gak stabil, serba salah. Kadang merasa tak berguna menjadi pengajar dengan kondisi begini. Ditambah infaq tetap berjalan, sedangkan kafalah tetap utuh malah dapat tunjangan untuk pembelian paket data. Sedangkan hasil ananda sangatlah minim. Yang ada hanya bisa mengelus dada.

*****

Empat bulan berada di desa dengan kondisi mengajar online malah membuat diri ini bukan berada dalam ketenangan, dengan gaji utuh dan cara ngajar yang sangat tidak efektif ahirnya aku memutuskan kembali lagi ke kota dengan tujuan menenpati kantor lembaga, sebab selama daring kantor tetutup dengan rapi. 

Alhamdulillah dengan begitu aku bisa sedikait berjuang. Kugunakan tabungan terahir untuk membeli HP baru dengan harga kurang dari dua juta. Tak kupikirkan tabungan untuk masa depan cukup hari ini memberikan yang terbaik untuk mereka.

Dengan tekat bismillah haqqul yakin jika memberikan yang terbaik maka Allah juga akan memberikan yang terbaik pula. Alhamdulillah di kantor juga disoskong dengan WIFI. Alhasil perubahan mulai nampak. Setoran mengaji digunakan dengan Video Call begitu juga dengan hafalan.

Materi kukirim pagi hari dan sore di VC satu persatu secara gantian. Sungguh ada kepuasan dari diriku dan mereka. Walau kendala masih saja terus berlanjut. Mendengar suara mereka dan melihat secara langsung bacaannya sesak dada ini. Saat di ulang beberapa klai yang ada mereka malah enggan melanjutkan ngajinya.

Lain lagi mereka merajuk tak mau mengaji, ingin mengajoi langsung dihadapan ustadz. Itu jawaban mereka. Ya Rabb andai tak terhalang oleh keadaan aku juga tak menginginkan pembelajaran yang seperini ini nak. Tapi bagaimana lagi, aku terikat oleh aturan lembaga, sednag lembaga terikat oleh aturan pemerintah.

Tak ada pilihan lain selain bersabar dan membujuk anak anak dengan senyum yang ceria agar mereka tidak bosa. Bahkan ada yang malah tidur disaat waktunya mengaji agar mereka tidak diapaksa mengaji oleh orang tuanya. Alhasil izin dan jelas sangat berpengaruh pada target dan konsep yang sudah puluhan kali diobrak abrik.

Dua bulan berada di kota Alhamdulillah kondisi mulai membaik walau dengan terpaksa setiap kelompok menempati tempat yang berbeda. Keceriaan dan semangat anak-anak dan orang tua kini jelas terlihat. Semangat yang dulu hilang kini sudah berkobar lagi di kehidupan mereka. Senyum mereka berkobar lagi.

Namun qadarullah. Kesabaran kami kini harus diuji lagi dengan sejuta problema mereka, huruf yang dulu hafal diluar kepala kini sirna entah kemana. Giliran halaman diturunkan mereka malah menangis bahkan merajuk gak akan mengaji lagi.

Sopan santun yang dulu tertata dengan rapi kini sudah tak bisa terkendali. Bahasa-bahasa yang tak semestinya mereka ucapkan kini kerap terdengar. Ya Rabb, tantangan apa lagi ini yang membuat aku harus menarik nafas setaip saat. 

Pola waktu yang biasanya mereka gunakan untuk ngaji hanya lima sampai lima menit dalam Video Call membuat mereka tidak betah jika duduk berlama-lama dalam kelompok. Mau tidak mau otak harus diputar kembali bagaiman kondisi dan keadaan kembali kondusif.

Kelompoki lain kini malah menjadi parasit yang nyata. Bagaimana tidak, saat mereka pulang terlebih dahulu malah menjadi bumerang yang mengakibatkan kelompok yang mati matian dijaga agar kondusif dan nyaman dalam belajar malah takterkendalikan protes minta pulang.

Lain lagi dari segi hafalan mereka yang sangat tak bisa dibayangkan. Jauh dari ekspektasi yang telah tertanam. Segala harapan, himbawan dan arahan yang telah kami sampaikan di grup setiap hari untuk murojaah, hafalannay diperbanyak, bacaanya di perbaiki. Yang ada hanyalah tulisan yang teronggok namun aksi tak ada sama sekali.

Tuntutan lembaga setiap pertemuan harus nambah namun kenyataan malah harus diguanakan untuk perbaikan. Saat konsultasi dengan wali santri malah anaknya gak mau kalau bukan sama ustadznya. Sedangakan aku sendiri juga harus berjuang untuk menghidupi keluarga. Jadi memiliki waktu terbatas dengan santri.

Tapi sudahlah. Semua tak bisa jika dijadikan sebagai alasan untuk menjadinya mundur sebauh pembelajaran Al-Qur’an. Karena sejatinya aku sendiri yang masih sangat jauh dari kata sempurna untuk dijadikan sebagai pengajar.

Sejuta harapan menjadi lebih baik masih terus membuncah didada, karena semakin baik seorang pendidik maka semakin baik pula orang yang dididik. Tumpuan dan harapan masihlah terus menjulang, walau kondisi dan keadaa masih jauh dari kata kesempurnaan.

_
Penulis: Halilur Rohman – Griya Qur’an Birrul Walidain Sumenep 

Menjadi Guru Semesta dalam Dunia Pendidikan dalam Era Digitalisasi

Bismillah,

Semesta merupakan kata yang bermakna sangat dalam dan secara umum bisa di artikan segala   yang ada,telah ada,dan akan ada. Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata semesta adalah seluruh ,segenap, semuanya dan berlaku untuk seluruh dunia.Arti lainnya dari semesta adalah universal. Semesta memiliki 5 arti. Semesta adalah sebuah homonym karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. Semesta memiliki arti dalam kelas numeralia atau kata bilangan sehingga semesta menyatakan jumlah benda atau urutannya dalam suatu deretan dan adjektiva atau kata sifat sehingga semesta dapat mengubah kata benda atau kata ganti, biasanya dengan menjelaskan atau membuatnya menjadi lebih spesifik.

Salah satu kalimat indah yang dituturkan nenek moyang adalah alam terkembang sebagai guru.Dalam pengertian yang sederhana, guru merupakan orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik . Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan Pendidikan di tempat-tempat tentunya jika banyak yang menyebut guru mempunyai jasa yang besar.Bahkan guru di anggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa,karena pengorbanan dan pengabdian mereka seperti kerap ditepikan.Atas besarnya jasa seorang guru, tak ada salahnya untuk mengungkapkan rasa terima kasih. Beragam cara bisa di lakukan untuk mengungkapkan rasa terima kasih terhadap guru.

Guru Semesta merupakan kalimat yang mudah di katakan akan tetapi begitu berat dalam pelaksanaannya. Dari kata yang memiliki makna begitu dalam mencakup ruang lingkup yang sangat luas dan tanggung jawab yang sangat besar. Dari data grafik pendidikan tahun 2019 hingga tahun 2020 dalam dunia statistik mengenai angka Pendidikan di negara Indonesia, indeks Pendidikan Indonesia rendah, dan daya saingnya pun lemah. Ini adalah jadi bahan acuan kita Bersama,bagaimana nantinya bisa membawa  negara kita menjadi negara yang maju dan bisa berinovasi serta berkolaborasi dengan semua elemen yang ada di masa sekarang ini, khususnya bagi negara Indonesia.

Berbicara tentang Guru Semesta kita akan jauh kedepan untuk bisa melihat dan mempelajarinya. Tantangan Pendidikan ternyata bukan semakin ringan ,tetapi semakin berat. Bila hari-hari kita hidup tanpa spirit yang kuat untuk berbuat,hidup bermalas-malasan tanpa semangat,hidup penuh keluhan tanpa kesyukuran,hidup penuh ambisi tanpa ketulusan, hidup Bersama caci maki tanpa kesabaran,hidup penuh kemaksiatan, dan tanpa kesetiaan, Astaghfirullah azhiim. Terus terang, apa yang menjadi kendala saat ini adalah sebuah fenomena yang harus kita lakukan. Dengan bersunggu-sungguh untuk menjadikan profesi guru sebagai lahan dakwah yang siap untuk berjuang dengan mengupayakan segala kemampuan yang ada, dan akan terus menjadi tanggung jawab kita bersama dalam mengemban amanah ini.

Menjadi guru adalah cita-citaku saat masih kecil dulu, guru itu bisa merubah keadaan menjadi lebih baik dan fungsi guru yang pertama adalah sebagai pengajar atau intruksional. Guru juga harus menguasai materi yang akan di ajarkan, strategi dan metode pengajaran yang di gunakan dan menentukan alat evaluasi Pendidikan untuk menilai hasil belajar siswa, Manajemen kelas, serta dasar Pendidikan. Pendidik merupakan tenaga professional yang berfungsi untuk merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam pengertian lain tugas dari seorang guru dalam bidang profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan para siswa.

Sebagai pendidik TPQ Al Muhajirin Mandingin di Kab. HST, sikap profesionalisme sangat dibutuhkan. karena sebagai guru TPQ berbagai suka duka telah di lewati dari gaji yang tertunda hingga transportasi yang terkadang mengelami kendala dalam mencapai lokasi TPQ, tidak hanya hal-hal yang menyulitkan banyak pula hal-hal yang bahagia tidak terduga yang didapatkan. Oleh karena itu sikap profesionalisme diperlukan apapun kondisi yang dialami, sehingga dapat meyampaikan ilmu secara maksimal. Untuk kedepan guru-guru perlu mengikuti pelatihan-pelatihan agar metode pembelajaran dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Dalam Pendidikan karakter, peran guru sangat vital sebagai sosok yang di idolakan,serta sumber inspirator  dan motivasi bagi murid-muridnya. Seorang guru juga bisa membantu dalam watak peserta didik dengan cara memberikan keteladanan, cara berbicara atau menyampaikan materi yang baik, toleransi, dan berbagai hal yang terkait dengannya. Peran guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa adalah salah satu kegiatan integral yang wajib ada dalam kegiatan pembelajaran. Selain memberikan  dan mentransfer ilmu pengetahuan guru juga bertugas untuk meningkatkan motivasi anak dalam belajar. Guru di tuntut   kreatif untuk mengembangkan motivasi belajar siswa.

Kenapa motivasi sangat penting bagi guru? karena dalam sistem pembelajaran perlunya adanya motivasi itu dan itu akan bisa mendorong semangat belajar dan sebaliknya apabila kurang adanya motivasi belajar akan melemahkan semangat belajarnya. Guru harus menjelaskan tujuan belajar kepeserta didik dan guru pun harus menjelaskan mengenai tujuan yang akan di capai oleh peserta didik.

Peran guru dalam pendidikan 4.0 yang tak tergantikan robot, Pendidikan sangat di butuhkan untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik. Peran guru dalam Pendidikan sangat strategis. Guru jadi ujung tombak pelaksanaan pendidikan untuk bisa mencetak SDM unggulan. Guru memiliki beban yang sangat berat, guru juga memiliki peran ganda yang tidak hanya bertanggungjawab pada perkembangan intelegensi tapi pada perkembangan moral peserta didik juga di bebankan pada seorang guru. Tanggung jawab yang berat itu seringnya tidak sesuai dengan apresiasi yang di berikan.Maka  dari itu tak heran jika masih banyak guru yang tidak komppeten yang di pekerjakan.

Maka dari itu kita ada lima peran yang seharusnya di penuhi oleh para guru pada pengertian Pendidikan yang luas, yakni meliputi :

1.Konservator (pemelihara)

Peran guru sebagai konservator atau pemelihara,merujuk pada norma kedewesaan di suatu society. Norma kedewasaan tersebut di pelihara dan ditransfer kan oleh guru pada peserta didik untuk bisa di ikuti dan dihidupi sedemikian rupa.

  1. Inovator (pembaharu)

Guru berperan sebagai pembaharu dalam pembelajaran. Bisa mengembangkan strategi dan metode baru untuk mengoptimalkan pembelajaran.

3.Transmitor (Penerus)

Guru memiliki peran penting dalam meneruskan suatu sistem nilai pada peserta didik. Hal ini supaya sistem nilai tersebut bisa terus berjalan secara berkesinambungan.

4.Transformator (Penerjemah)

Guru berperan menerjemahkan suatu nilai dan menghidupi nilai tersebut. Peserta didik akan mendifinisikan nilai tersebut dari teladan yang di berika oleh para guru.

  1. Organisator (Penyelenggara)

Guru memiliki peran dalam terciptanya suatu proses edukatif. Proses edukatif ini di pertangguangjawabkan secara formal dan pada pemberi tugas. Guru juga mempertanggungjawabkan proses edukatif ini secara moral pada sasaran peserta didik.

Dan dalam ruang lingkup yang lebih sempit lagi kita bisa menyatakan peran guru dalam sistem pembelajaran dan bisa di kelompokkan dalam proses pembelajaran menjadi 4 hal, yakni :

1. Planner 

Guru berperan untuk menyusun rencana pelaksanaan belajar menhakar dan mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan agar proses belajar berjaln lancar.

2. Organizer 

Guru berperan dalam mengatur segala hal selama proses pembelajaran berlangsung.Beberapa hal yang biasanya dilakukan seperti bertindak sebagai pemimpin,menciptakan situasi yang mendukung,merangsang, menggerakkan dan juga mengarahkan proses pembelajaran dan lainnya.

3. Evaluator

Guru bertindak sebagai penilai,mengumpulkan hasil pembelajaran peserta didik, menganalisa  dan kemudian menafsirkan menjadi suatu penilaian.Penilaian tersebaut akan mendefinisikan keaktifan proses dan kualifikasi SDM yang dihasilkan. Tingkat keberhasilannya memiliki kriteria standar yang sudah di tentukan.

4. Teacher Counsel

Peran guru sebagai pendidik tidak bisa berhenti saat transfer ilmu selesai. Guru juga harus berperan memberi bimbingan pada peserta didik. Peserta didik yang mengalami kesulitan belajar di arahkan dan dibimbing supaya bisa menemukan pemecahan masalahnya.

Menyesuaikan dengan Pendidikan 4.0

Gagasan tentang Pendidikan 4.0 muncul sebagai respon terhadap revolusi Industri 4.0 yang saat ini terjadi. Konsep dasar Pendidikan 4.0 adalah mengintegrasikan ITC dalam pembelajaran.Meskipun demikian, peran guru tetaplah kursial dan guru tidak bisa digantikan dengan robot.Peran guru tetap di butuhkan penyesuain. Peran-peran berikut inilah yang akan tetap  dibutuhkan pada Pendidikan 4.0 yang tidak akan bisa di gantikan oleh robot.

 

1. Fasilitator

Guru memfasilitasi pembelajaran supaya seluruh pesrta didik bisa terlibat,paran guru sebagai fasilitator  juga mencakup  bagaimana guru bisa memfasilitasi pembelajaran para peserta didik untuk bisa mendapatkan pengalaman yang otentik. Dalam Pendidikan 4.0 mengedepankan student centered,guru juga memfasilitasi supaya murid bisa lebih dominan dalam pembelajaran. Selain itu murid bisa difasilitasi sesuai potensinya.

2. Motivator

Guru turut berperan sebagai pemberi semangat pada siswa. Memberi dorongan supaya siswa tidak patah semangat dalam menjalani Pendidikan.

3. Inspirator

Guru tidak cukup hanya sekedar jadi panutan. Guru juga harus bisa menginspirasi siswanya hingga menggerakan mereka untuk berkarya, mengerjakan sesuatu dan berjuang mendapai suatu tujuan tertentu.

4. Mentor 

Guru sepatutnya bisa jadi rekan belajar bagi para siswanya. Jadi sosok yang di hormati karena bisa memberi arahan dan bimbingan. Bukannya bersikap tangan besi dan memaksakan fikirannya.

5. Pengembang Imanjinasi dan Kreatifitas

Pada Pendidikan 4.0 pembelajaran seharusnya tidak kaku lagi.Guru harus bisa mendesai pembelajaran yang menyenangkan dan kreatif. Guru seharusnya tidak kaku,tapi juga turut berperan serta memantik kemampuan peserta didik dalam berimajinasi dan berlaku kreatif.

6. Pengembang Nilai-nilai Karakter dan Team Work

Guru juga berperan menanamkan nilai-nilai karakter yang posistif pada pesrta didiknya. Sekalian itu juga,guru juga berperan menanamkan nilai-nilai kolaborasi dalam mengerjakan sesuatu.

7. Empati Sosial

Guru jadi identitas sosial yang harus bisa menunjukan rasa empati pada tiap-tiap peserta didik. Hal tersebut adalah sebuah bentuk penghargaan terhadap sisi kemanusian pada tiap peserta didik.

Kompetensi guru yang dibutuhkan, Pada era ini Pendidikan mulai didigitalisasi. Perubahan ini menurut para guru untuk bisa upgrade kompetensi. Setidaknya ada 5 kompetensi yang dibutuhkan untuk bisa menjalankan pearan guru dalam Pendidikan abad 21, di antaranya :

1. Educatial Competence

Sebuah kompetensi untuk mendidik atau menajalankan suatu pembelajaran dengan basis Internet Of Thing (IOT) sebagai keterampilan dasar.

2. Competence for Technogical Commercialization

Sebuah kompetensi untuk mendidik para siswanya memiliki mental entrepreneurship dengan basis ICT.

3. Competence in Globalization

Kompetensi dalam ranah sosial media berkaitan dengan masyarakat global.Bisa terbuka dengan berbagai macam  budaya dan tidak gagap dalam menyikapinya,Hal ini juga berkaitan gengan kompetensi  dalam pemecahan atau problem  solver competence.

4. Competence in future Strategies.

Sebuah kompetensi untuk memrediksi arah perkembangan dunia.Selalu siap menerima dan menyesuaikan diri dengan berbagai perkembangan baru.

5. Counselor Competence.

Kompetensi ini berkaitan dengan kebutuhan psikologis peserta didik.Kompetensi ini juga berkaitan dengan kemampuan guru untuk menjadi konselor bagi pesrta didik yang tertekan hingga menhadapi masalh yang kompleks. Untuk bisa mencapai kompetensi tersebut,dukungan sekolah sangat di perlukan.Sekolah bisa memfasilitasi suatu pelatihan khusus supaya para guru bisa lebih kompeten.Pihak sekolah tentu akan mendapatkan keuntungan jika pelatihan tersebut bisa berhasil mencetak guru-guru dengan  kompetensi tinggi. Peran guru dalam Pendidikan sangat kursial terhadap keberhasilan kegiatan pembelajaran.Untuk mencapai hal tersebut,maka dari itu para guru perlu pelatihan khusus supaya lebih berkompetensi.

_
Penulis: Rahmawati – TPQ Al Muhajirin

Buah Manis dari Kesabaran

Pagi-pagi sekali Azzam sudah bersiap ke sekolah. Segera ia masukkan semua buku yang masih tergeletak di atas meja sisa belajar tadi malam. 

Azzam bergerak cepat memasang sepatunya. Setelah mengikat tali sepatu kanan, ia terhenti sejenak. Ia pandangi sepasang sepatu itu dengan lekat. Sepasang sepatu yang sudah butut. Terbesit keinginan untuk menggantinya, tapi Azzam urungkan niat itu. Ia sadar betul dengan keterbatasan ibunya.

Jangankan sekadar membeli sepatu baru, untuk makan sehari-hari saja kadang sang ibu harus berpikir dan bekerja lebih keras lagi. Sebagai seorang buruh cuci, pendapatan Ibu Hartini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan SPP Azzam.

Meskipun begitu, Ibu Azzam berprinsip, bahwa keterbatasan materi tidak akan menjadi penghalang untuk memberikan pendidikan yang layak untuk Azzam. Itulah sebabnya, penghasilan sehari-hari Bu Hartini selalu disisihkan untuk pembayaran SPP Azzam.

Belum usai larut dalam lamunan, Azzam dikagetkan dengan ketukan pintu yang membuatnya terpaksa mengakhiri lamunan.

Tok … tok … tok …

“Azzam, ibu tunggu di depan untuk sarapan, ya, Le!” Panggil Bu Hartini mengingatkan Azzam untuk sarapan.

“Iya, Bu. Azzam sebentar lagi menyusul,” sahut Azzam bergegas keluar dari kamarnya.

Setelah perlengkapan sekolah dirasa lengkap, Azzam bergegas menuju ruang makan kecil yang terletak di depan kamarnya. Ia segera menyalami Bu Hartini dan duduk tepat di sampingnya.

“Azzam, maaf, ya, Le. Hari ini kita sarapan singkong rebus dulu. Nanti malam jika uang hasil nyuci kemarin sudah dapat, ibu beli makanan yang enak buat Azzam.” sambil tersenyum Bu Hartini menatap teduh anak lelaki satu-satunya itu.

Dalam benaknya terbesit ingin memberikan kehidupan yang lebih layak untuk Azzam. Tapi, semenjak kepergian suaminya tiga tahun lalu, Bu Hartini hanya mampu bekerja sebagai buruh cuci tangan titipan tetangga atau ibu-ibu majelis ta’lim di mushalla Ar-rohman yang terletak di kompleksnya.

“Iya, Bu. Ini bahkan sudah lebih dari cukup buat Azzam. Enak singkongnya,” sahut Azzam sambil mengacungkan jempol ke arah ibunya. 

Bu Hartini sangat beruntung memiliki Azzam, putera satu-satunya yang menjadi penyemangat hidupnya. Azzam tidak pernah mengeluh dengan keadaan yang serba kekurangan dalam keluarganya. 

“Ibu sudah siapkan bekal makan siang untuk di sekolah nanti, ya,” ucap Bu Hartini sambil menyodorkan kotak makan kecil ke arah Azzam.

“Yey! Alhamdulillah. Hari ini uang saku Azzam bisa ditabung lagi, deh.” dengan senang Azzam menerima kotak makan kecil dari sang ibu.

Bu Hartini tersenyum melihat respon Azzam. Dia lega. Alih-alih protes, Azzam bahkan terlihat begitu senang. 

 “Ya, sudah, Le. Sarapannya segera diselesaikan, ya. Setelah itu berangkat biar tidak telat,” titah Bu Hartini sambil tersenyum lega dan mengelus kepala Azzam penuh dengan kasih sayang. Ia sangat bersyukur memiliki Azzam, satu-satunya harapan dalam keluarganya.

Setelah sarapan selesai, Azzam pun pamit untuk berangkat. Mengingat jarak yang akan ditempuhnya sejauh tiga kilo meter dan hanya menggunakan sepeda butut peninggalan ayahnya.

“Bu, Azzam pamit, ya. Pulang sekolah nanti Azzam bantuin ibu lagi,” pamit Azzam. Dengan sopan ia mencium tangan Bu Hartini. Sejurus kemudian bergegas mengambil sepeda dan mulai mengayuh meninggalkan pelataran rumah.

“Assalamu’alaikum, Bu.”

“Wa’alaikumussalam. Hati-hati di jalan, Le,” ucap Bu Hartini mengingatkan.

 

***

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam lamanya, Azzam pun sampai di sekolah sebelum bel sekolah berbunyi. Azzam tersenyum senang karena sampai di sekolah tepat waktu.

Azzam segera berlari melewati lorong sekolah menuju kelas 3A yang merupakan kelasnya. Sebelum sampai di depan kelas, Azzam berpapasan dengan wali kelasnya, Bu Indriani namanya.

Dengan sopan ia segera menyalami Bu Indri, sapaan akrab wali kelasnya itu.

“Assalamu’alaikum, Bu. Selamat pagi,” Sapa Azzam sambil mencium tangan Bu Indri sopan.

“Wa’alaikumussalam, Azzam. Selamat pagi juga,”  jawab Bu Indri disertai senyum ramahnya.

“MasyaaAllah … rajin sekali Azzam. Jam segini sudah di sekolah,” puji Bu Indri pada Azzam yang masih berdiri sopan di depannya.

Hanya anggukan dan senyuman. Begitulah Azzam merespon pujian dari wali kelasnya tersebut sebelum akhirnya ia pamit masuk kelas.

“Bu, Azzam duluan ke kelas, ya,” pamit Azzam sopan.

“Oh iya, Azzam. Silahkan.”

Azzam pun masuk ke kelas dan langsung menuju bangkunya. Sembari menunggu jam pelajaran dimulai dan siswa/i datang, Azzam selalu menyempatkan membuka lagi pelajaran-pelajaran yang sudah dijelaskan kemarin. 

Sekitar sepuluh menit Azzam mengulang pelajaran kemarin, semua siswa pun mulai berdatangan. Dan menempati bangku masing-masing.

Saat hendak menutup buku pelajaran, tiba-tiba Azzam dikagetkan dengan keusilan Abghi, teman sekelasnya yang memang sering berulah di kelas 3a. Abghi menyenggol lengan Azzam sedikit keras. 

“Eh, Zam! Sudah ngerjain PR?” Cecar Abghi lengkap dengan gaya menantang ala orang hendak berkelahi.

Azzam yang sudah hafal dengan tingkah laku Abghi hanya merespon dengan anggukan sebelum akhirnya ia bertanya balik pada Abghi.

“Sudah, Ghi. Kenapa?” 

“Nyontek, dong!” Seru Abghi.

“Kamu mau dapat hukuman lagi karena ketahuan kalau nyontek lagi?” Sergah Azzam.

“Ah … Iya juga, sih. Nggak apa-apa, deh sini. Aku belum ngerjain PR soalnya,”

Azzam ragu. Jika tidak memberikan contekan, ia kasihan. Bagaimana pun Abghi adalah tetangga sekaligus temannya. Meskipun Azzam tahu kalau perbuatan Abghi sangat tidak bisa ditoleransi. 

Suatu saat perbuatan Abghi akan merugikan dirinya sendiri. Meskipun nilai bagus bisa ia dapatkan, tapi pada akhirnya kompetensi tidak Abghi dapatkan.

“Assalamu’alaikum, anak-anak. Selamat pagi.” Suara Bu Indri menjadi penyelamat bagi kebingungan Azzam. Karena pada akhirnya Abghi kembali ke tempat duduknya. Niat mencontek dia urungkan. Karena Bu Indri keburu datang.

“Baik, anak-anak. Hari ini kita tidak ada pembelajaran. Hari ini ibu hanya akan menyampaikan informasi penting untuk kegiatan belajar-mengajar kita ke depan.” Bu Indri menjeda ucapannya dan mengederkan pandangan ke seluruh siswa yang ada di depannya. Ia ingin memastikan, bahwa siswanya lengkap saat akan menyampaikan informasi penting berkenaan dengan kegiatan belajar-mengajar ke depan.

“Hari ini hadir semua?” 

“Lengkap, Bu!” Jawab semua siswa serempak.

“Baik, alhamdulillah. Hari ini ada informasi penting yang akan ibu sampaikan. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa negeri kita sedang dilanda virus Corona yang penularannya tidak bisa diprediksi, maka pihak sekolah mengikuti himbauan dari pemerintah. Bahwa kegiatan belajar-mengajar beralih ke media daring atau online.” 

Mendengar penjelasan Bu Indri sebagian siswa ada yang merespon senang ada yang merespon sedih. Senang karena tidak perlu bolak-balik ke sekolah tiap hari. Sedih, karena tidak bisa bertemu dengan teman-teman lagi saat pembelajaran.

Setelah bel pulang berbunyi semua siswa berhambur keluar kelas menunggu jemputan. Sedangkan yang jaraknya cukup dekat dengan sekolah, langsung pulang mandiri menggunakan sepeda masing-masing. Termasuk Azzam. 

Azzam bergegas menuju sepedanya di parkiran. Ia pulang dengan kegundahan. Bagaimana ia harus menjelaskan pada ibunya prihal pembelajaran ke depan? Pembelajaran online dengan media handphone pintar tentunya. 

Sedangkan Azzam, jangan handphone pintar, di rumahnya bahkan tidak memiliki telepon genggam. Jika ingin berkomunikasi, Azzam dan ibunya hanya meminjam telepon umum di rumah Pak RT. 

Di zaman yang serba canggih seperti ini, siapa yang tidak memiliki handphone pintar tersebut. Sebagian besar kegiatan diakses melalui media handphone pintar. Kadang terbesit keinginan dalam benak Azzam untuk memiliki handphone pintar tersebut, tapi apa mau dikata, jangankan membeli handphone pintar untuk makan sehari-hari saja bisa dibilang hanya cukup. Kadang juga tidak cukup.

Kurang lebih tiga jam Azzam mengayuh sepeda. Akhirnya ia sampai di depan rumah mungil peninggalan ayahnya itu. Hendak masuk ke dalam rumah, Azzam tertegun memandangi pintu rumah yang terlihat terbuka.

Ia tahu, jika pintu terbuka artinya ibunya sedang ada di rumah. Itu berarti hari ini ibunya tidak bekerja. Sejenak ia bergumam dalam hati, “Bagaimana akan aku jelaskan kepada ibu tentang pembelajaran sekolahku ke depan?” 

Azzaam melangkahkan kakinya dengan ragu. Memegang gagang pintu dan mengetuk pintu pelan.

“Assalamu’alaikum, Bu,” ucapa Azzam langsung mencium punggung tangan Bu Hartini kemudian duduk di sampingnya. 

“Wa’alaikumussalam, Le. Lho! Kok sudah datang, Le?” Tanya Bu Hartini heran. Karena tidak biasanya Azzam pulang lebih cepat dari jam pualng sekolah.

“Hari ini tidak ada pembelajaran, Bu,” terang Azzam.

“Lho, kenapa, Le?” Cecar Bu Hartini.

“Sesuai himbauan pemerintah, sekolah akhirnya menerapkan sistem sekolah daring, Bu. Jadi, setiap hari pembelajaran melalui media handphone pintar. Tidak ada tatap muka. Karena untuk meminimalisir terjadinya penularan virus yang sedang melanda di mana-mana,” lanjut Azzam sambil menunduk, menjelaskan keadaan di sekolahnya pada sang ibu. 

Azzam bingung, bagaimana nasib sekolahnya ke depan? Sedangkan ia tidak memiliki handphone untuk media pembelajaran.

“Bu, bagaimana dengan sekolah Azzam? Kita kan tidak punya handphone, Bu? Ragu, Azzam bertanya dan berharap dapat solusi dari ibunya. 

Sedangkan sang ibu sendiri menatap sendu anak lelakinya tersebut. Ia tidak bisa berbuat banyak untuk menunjang kebutuhan Azzam. Terutama kebutuhan mendadak seperti sekarang. Handphone pintar yang Azzam butuhkan untuk kegiatan belajar di sekolahnya.

“Le, yang sabar, ya. Nanti coba ibu pinjam handphone di rumah Pak RT,” bujuk Bu Hartini sambil mengelus punggung tangan anak lelakinya itu.

“Banyak berdoa, Le. Semoga Allah mencukupkan kebutuhan hidup kita.” Nasihat Bu Hartini seperti air yang membasahi tanah gersang. Begitulah yang Azzam rasakan. 

 

***

Hari pertama pembelajaran online pun tiba. Pagi-pagi sekali Azzam sudah berdiri di depan rumah Pak RT. Dengan sungkan Azzam mengetuk pintu rumah yang lumayan mewah di kampungnya itu.

Tok … tok … tok …

“Assalamu’alaikum, Pak,” ucap Azzam.

Belum ada Jawaban dari sang empunya, hanya terdengar langkah yang semakin mendekati pintu.

Pintu pun akhirnya terbuka. Terlihat laki-laki berkopiah hitam di ambang pintu, yang tak lain adalah Pak RT.

“Wa’alaikumussalam, Azzam. Ayok masuk,” jawab Pak RT mempersilahkan.

Masih dengan langkah ragu, Azzam akhirnya mengikuti langkah Pak RT. 

“Azzam, belajarnya di ruang tamu, ya. Handphone sudah ada di atas meja. Bapak ke balai desa dulu. Kalau sudah selesai nanti panggil Bu RT saja di belakang.” 

Setelah mempersilahkan Azzam, Pak RT pun meninggalkan rumah menuju balai desa yang merupakan tempat dinas Pak RT setiap hari.

Sepeninggalan Pak RT, Azzam pun mulai mengikuti pembelajaran secara online. Azzam sangat bersyukur, masih ada orang yang bersedia membantunya seperti Pak RT.

Meskipun Bu Susi, istri Pak RT terlihat tidak suka dengan kehadiran Azzam di ruang tamunya, Azzam tetap berusaha untuk tidak menghiraukannya. Bahkan tak jarang Bu Susi memandangnya dengan tatapan sinis.

 

***

Tidak terasa, pembelajaran secara online pun sudah berjalan satu bulan. Selama itu pula Azzam bersabar dengan berbagai sindiran Bu Susi, istri Pak RT. 

“Kalau numpang itu jangan terus-terusan, dong! sadar diri. Usaha beli sendiri handphone. Masak jaman serba canggih begini belum punya handphone.” Begitulah sindiran Bu Susi yang sering kali Azzam dengar. 

Akan tetapi, Azzam tidak menghiraukan sindiran itu. Karena yang ia butuhkan sekarang hanyalah kelancaran dalam proses belajarnya. Meskipun harus ‘numpang’ di rumah Pak RT.

Jam 12 siang pembelajaran pun usai. Azzam berjalan kaki dari rumah Pak RT menuju rumahnya. Karena jarak yang cukup dekat.

Saat hendak menyeberang jalan, Azzam mendengar ada yang memanggilnya. 

“Azzam!” 

Azzam ederkan pandangannya ke seluruh penjuru jalan. Ia lihat di ujung jalan ada Bu Indri, wali kelasnya sedang melambaikan tangan ke arahnya. Azzam pun berlari menghampiri Bu Indri.

“Assalamu’alaikum, Bu,” sapa Azzam sambil mencium punggung tangan Bu Indri.

“Wa’alaikumussalam, Azzam.” 

“Azzam, ibu cuma mau ngasih formulir ini. Ibu harap Azzam ikut lomba ini, ya.” Bu Indri menyodorkan selembar formulir lomba. Dalam rangka memperingati datangnya bulan Muharram, sekolah Azzam mengadakan berbagai macam lomba. Salah satunya adalah lomba hafalan. Minimal juz 30. Hadiah dalam lomba ini cukup menjanjikan. Bagi siswa/i yang berhasil menghafal maksimal juz 28, maka akan mendapatkan beasiswa penuh sampai SMA. 

Dengan semringah Azzam menerima formulir itu. Kemudian ia baca dengan seksama. Kesempatan berharga ini tidak boleh dilewatkan. begitu pikirnya. 

Setelah pamit pada Bu Indri, Azzam kembali melanjutkan perjalanan pulang. Ia pulang dengan hati riang. Karena kali ini ia membawa kabar gembira untuk sang ibu.

Dengan tergopoh-gopoh Azzam menghampiri ibunya yang terlihat sedang merajut di depan rumahnya. Merajut memang menjadi kebiasaan Bu Hartini sejak dulu. Kegiatan merajut ini dilakukan jika tidak ada pesanan baju untuk dicuci. Akan tetapi, karena terbatasnya modal menjadi penghambat utama tidak diteruskannya kerajinan ini menjadi kerajinan tangan yang bisa dipasarkan.

Sesampainya di rumah, Azzam menghampiri sang ibu dan mencium punggung tangannya.

“Alhamdulillah, sudah selesai Le?” sapa Bu Hartini melihat Azzam sudah pulang.

“Alhamdulillah sudah, Bu,” sahut Azzam sambil mengambil posisi duduk di samping Bu Hartini.

 

“Bu, tadi Azzam dapat formulir ini dari Bu Indri. InsyaAllah Azzam akan mengikuti lomba ini, Bu. Doain Azzam, ya, Bu,” terang Azzam sambil menyodorkan formulir ke arah Bu Hartini.

“Iya, Le. Pasti ibu doakan. Semoga Azzam dimampukan. Yang penting luruskan niat Azzam. Yakin sama Allah, kalau langkah Azzam akan dimudahkan. Dan jangan lupa, selalu pegang teguh kejujuran.” Azzam terharu mendengar nasihat ibunya. Segera ia berhambur memeluk erat sang ibu. 

Kini semangatnya semakin menguat. Dalam benaknya ia berjanji akan berusaha semaksimal mungkin agar mendapat hasil terbaik.

 

***

Tepat satu Minggu setelah pendaftaran, lomba pun digelar. Masih sama dengan hari-hari saat pembelajaran, Azzam dengan terpaksa numpang lagi ke rumah Pak RT. Meskipun sebenarnya ada rasa tidak enak pada Bu Susi. Karena sampai sekarang Bu Susi masih saja terlihat tidak suka saat Azzam memakai fasilitas desa berupa telepon pintar tersebut.

Akan tetapi, lagi-lagi Azzam tepis perasaan itu. Ia hanya ingin folus mengikuti lomba dengan hikmad. Setiap ayat yang dia baca selalu penuh penghayatan. Tak ayal, semua juri pun terkesima mendengar lantunan ayat-ayat suci yang Azzam bacakan.

Setelah lomba selesai, Azzam pun pulang dengan hati yang berbunga-bunga. Meskipun belum tahu hasilnya, setidaknya Ia sudah berhasil menampilkan yang terbaik. Terbukti dari banyaknya pujian dewan juri terhadapnya.

“Alhamdulillah, Le jika lombanya berjalan dengan lancar. Apa pun hasilnya, yang penting Azzam sudah berusaha maksimal,” ucap Bu Hartini menyemangati Azzam.

“Iya, Bu. Azzam serahkan hasilnya pada Allah saja,” ucap Azzam menimpali.

 

***

Tok … tok … tok …

Saat  menjemur pakaian, Bu Hartini mendengar ada yang tiba-tiba mengetuk pintu. Ini masih pagi sekali, siapa bertamu pagi-pagi begini? Gumamnya. 

“Assalamu’alaikum, Bu Hartini,” sapa Bu Indri dengan ramah.

“Wa’alaikumussalam, Bu Indri. Mari, silakan masuk, Bu,” Jawab Bu Hartini mempersilahkan.

“Maaf pagi-pagi mengganggu, Bu. Saya ke sini hanya ingin menyampaikan hasil lomba Azzam kemarin,” terang Bu Indri.

“Alhamdulillah, Bu. Berdasarkan keputusan semua dewan juri, Azzam berhasil menjuarai lomba hafalan yang diadakan sekolah kemarin. Dengan ini, maka Azzam berhak mendapatkan beasiswa penuh sampai SMA dari pihak sekolah. Selamat, ya, Bu.”

Mendengar penjelasan Bu Indri, Bu Hartini  spontan bersujud syukur. Air mata pun mulai menganak sungai karena haru. Bu Indri yang melihat kejadian ini, langsung merengkuh tubuh Bu Hartini. Keduanya pun larut dalam keharuan. Sedangkan Azzam yang baru saja datang, terheran-heran melihat pemandangan di depannya.

“As-assalamu’alaikum.” Dengan sedikit tergagap Azzam mengucap salam.

Melihat kedatangan Azzam, Bu Hartini pun langsung memeluk anak semata wayangnya tersebut.

“Azzam, alhamdulillah, Le. Azzam memenangkan lomba hafalan kemarin. Akhirnya Azzam berhasil dapat beasiswa impian itu, Nak!” 

“Masyaallah! Alhamdulillah. Terima kasih, ya Allah,” seru Azzam tidak hentinya mengucap syukur. Kedua anak dan ibu itu pun larut dalam suasana haru. Azzam tidak menyangka jika impian mendapat beasiswa menjadi kenyataan. Kini, Azzam tidak perlu khawatir dengan masa depan sekolahnya. Karena kini biaya sekolahnya ke depan sepenuhnya ditanggung sekolah.

 

“Allah tidak akan pernah ingkar janji pada hamba-Nya yang mau bersabar. Yakinlah! Inna ma’al ‘usri yusraa.”

_
Penulis: Rahmawati – Sekolah Albanna Denpasar Bali

The Perfect of Wafa: Wafa Tak Sempurna, Tapi Luar Biasa

الٓرۚ. تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُبِينِ إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا عَرَبِيّٗا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ .نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ أَحۡسَنَ ٱلۡقَصَصِ بِمَآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ وَإِن كُنتَ مِن قَبۡلِهِۦ لَمِنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ .

  1. Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).
  2. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.
  3. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.(Yusuf 1-3)

 

Andai hati kalian bersih, maka kalian tidak akan pernah merasa kenyang (bosan) membaca Al-Qur’an (Ustman bin Affan)

Pada dasarnya setiap insan pastilah memiliki kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Selama hidup pastilah selalu bergantung dan membutuhkan orang lain, ketika manusia tidak bisa beradaptasi dengan baik pada manusia lain maka hidupnya akan sulit dan menjadi serba kekurangan. Namun, esensinya setiap manusia akan selalu tenang dan tentram ketika hidupnya tidak pernah terganggu dengan perkataan dan perbuatan setiap orang.

Saat ini, manusia berada dalam fase dimana setiap manusia  sibuk dengan urusan teknologi. Bahkan, anak-anak kecil pun saat ini sudah pandai dan mahir bermain gadget dengan piawai. Semua aktivitas manusia sudah dapat terekspose dimedia sosial dengan sangat mudah, sekali klik maka seiap orang dipenjuru dunia dapat melihat dan menikmati tampilan yang telah di bagikan oleh pengguna.

Namun, sayangnya beringinan dengan kecanggihan teknologi itu menjadikan setiap generasi mengurangi waktunya untu belajare, terkhusus belajar Al-Qur’an. Bagi setiap anak, belajar Al-Qur’an itu sulit dipahami, menyeramkan, bahkan sangat susah untuk dihafal. Semua itu jelas, bukan karena dirinya tidak pandai ataupun bodoh, akan tetapi karena ketergantungan setiap individu dengan smartphone mereka masing-masing, menjadikan rasa keingintahuan terhadap agama menjadi berkurang. Faktanya, dilapangan masyarakat yang tergolong usia belia, usia remaja saat sekarang ini sampai-sampai ada yang belum bisa membaca Al-Qur’an, kita tau sendiri Al-Qur’an itu sebagai kitab suci agama Islam yang seharusnya kita pelajari dan amalkan.

Fenomena tersebut, memberikan kesaksian nyata kepada kita bahwa sebagai seorang muslim dan sekaligus guru bagi generasi penerus harus dan wajib untuk tetap mengajarkan ilmu Al-Qur’an kepada setiap generasi muda-mudi saat ini. Tanpa ilmu itu, maka dikhawatirkan setiap individu akan terlena dengan godaan dunia yang semakin lama akan semakin merajalela. Sehingga akhirnya generasi penerus dakwah tidak lagi cakap terhadap Al-Qur’an dan tidak lagi menjadi penghafal Qur’an tetapi menjadi pengemis dunia dan dibutakan oleh rayuan dunia.

Bukan hanya dikeluarga dan masyarakat, akan tetapi lebih lagi pendidikan di sekolah seharusnya memberikan nilai-nilai edukasi yang lebih kepada para santrinya, dukungan para qiyadah sangat diperlukan untuk keberlangsungan kehidupan harmonisasi pendidikan Islam saat ini. 

Sekolah menjadi sebuah tempat belajar Al-Qur’an yang paling efektif, dimana ada guru sebagai penggerak utaam pelaksanaan pembelajaran yang berlangsung. Sekolah sebagai wadah dan sarana untuk mentranferkan nilai-nilai pendidikan Al-Qur’an kepada setiap generasi. Salah satu sekolah yang mengajarkan hal itu yaitu Sekolah Islam Terpadu (SIT). SIT merupakan sekolah berbasis keterpaduan antara duniawi dan ukhrowi, pelajaran yang sifatnya keduniaaan akan terselipkan nilai-nilai ukhrowi atau nilai-nilai akherat yang bida dipadukan. SIT sebagai sekolah yang lebih banyak mengajarkan ilmu Al-Qur’an kapad para santrinya/siswanya, salah satunya yaitu dengan menggunakan metode Wafa, metode wafa sebagai salah satu metode belajar Al-Qur’an dengan otak kanan. Pembalajarnnya asyik dengan nada-nada hijjaz disertai metode belajar tahsin, tahfizh, dan ghorib (pembelajaran tajwid) yang sangat mudah dihapalkan dan dipelajari.

Wafa didirikan oleh ulama dan tokoh besar yang mampu memberikan dedikasinya melalui pembelajaran Qur’an ini yaitu KH. Muhammad Shaleh Drehem, Lc., dan KH. Dr. Muhammad Baihaqi,  Lc, MA. Beliau berdua merupakan tokoh inspiratif yang boleh kita  contoh untuk setiap langkah kemajuannya. Kemudian untuk pembelajaran, guru yang sering didengarkan yaitu ustad. Mashuda Al Hafidz, Ustadz Dodi Tisna Amijaya, M.Pd, Ustadz Muhammad Ali Kurniawan, S.H.I., Al-Hafidz, Ust. Wawan Fitriono, dan guru-guru lainnya. 

Awalnya sebelum mengenal wafa, untuk belajar metode-mtode yang lain sedikit sulit untuk dipahami, semenjak mengenal pembelajaran metode otak kanan (wafa) ini, sehingga sedikit memudahkan untuk belajar pendalaman Al-Qur’annya. Belajar dengan metode wafa menjadikan anak sangat senang, karena wafa juga memberikan gerakan-gerakan unik dan asyik dalam proses pembelajarannya. Buku-buku paduan yang mudah dipahami serta cara belajarnya yang sangat mudah menjadikan metode wafa ini banyak sekali melahirkan generasi yang suka dan cinta terhadap Al-Qur’an. 

Salah satu contoh, sekolah yang bermitra dengan Wafa yaitu SDIT Al-Kahfi Kabupaten Lebong. Sekolah IT ini memberikan pelajaran anak mulai dari Wafa tingkat 1 hingga Wafa tingkat atas 6. Kemudian para gurunya memberikan bimbingan intensif dan pengecekan secara rutin setoran wafa yang telah dipelajari sebelumnya. Anak-anak yang awalnya sangat sulit menghapal huruf Hijaiyah maka dengan metode wafa anak menjadi sangat senang karena belajarnya sangat mengasyikkan dengan menggunakan nyanyian nasyid dan dengan gerakan tubuh dan tangan yang membuat anak sangat senang menirukannya.

Kemudian dari segi menghapal, sebelumnya anak yang sangat sulit menghapal qur’an setelah ditawarkan dan diajarkan untuk metode wafa, mereka menjadi sangat semangat dalam menghapal apalagi lagu hijjaznya mereka kuasai dengan sangat sempurna. Anak-anak tidak lagi suntukl dan bosan belajar Al-Qur’an yang selama ini menakutkan berubah menjadi hal yang sangat mengasyikkan.

Dibalik itu semua, Wafa juga menjaring dan membimbing para guru-gurunya untuk meningkatkan kompetensi dengan adanya munaqasyah wafa dan kegiatan pelatihan lainnya. Semua itu tertuju untuk meningkatkan kualitas guru qur’an yang berkualitas dan berkarakter Islami sesuai dengan apa yang seharusnya menjadi tugas utama seorang pendidik. Kemudian kemudahan lainnya ialah setiap guru/individu diberikan akses dengan mudah untuk belajar wafa, baik melalui Youtube ssalah satu nama channelnya yaotu Wafa Indonesia, CD, Webinar dan lainnya. Semua dapat diakses dengan sangat mudah dengan kecanggihan teknologi saat ini.

Pembelajaran Wafa saat ini memberikan dampak yang sangat positif dimana setipa anak yang belajar dengan metode otak kanan melalui wafa akan secara cepat memahaminya. Contoh lainnya yaitu pengalaman saya menerapkan sedikit metode wafa pada anak-anak TPQ di masyarakat, mereka dengan cepatnya mengingat materi “Ma Ta Sa Ya Ka Ya Ro Da” dengan disertai gerakan tangan dan gerakan tubuh yang sangat mudah dipahami menjadikan anak sangat semangat mempelajari Al-Qur’an.

Pada dasarnya, memang tak semua metode belajar itu sempurna akan tetapi pastilah memiliki keutamaan dan kelebihan serta kekurangan yang menyertainya, begitupun wafa secara umum memang terlihat sangat mudah, unik dan asyik akan tetapi pastilah setiap pelajar dan pengajar akan merasakan letak kelebihan dan kekurangan metode ini. Dengan kekurangan ini, Wafa mampu melahirkan generasi AL-Qur’an dengan berbagai macam juz hapalan yang berada disetiap sekolah Islam Terpadu dipenjuru nusantara.

 

Setiap pendidik (guru) pastilah merasa terbantu dan bangga dengan hadirnya metode wafa ini ditengah-tengah kehidupan, selain asyik juga memberikan akses yang mudah untuk ditransferkan kepada peserta didik dalam lingkungan pendidikan. Bahkan orang tua sangat antusias dan mendukung pembelajaran metode wafa disalurkan kepada anak-anak. 

Pada akhirnya, ucapan rasa syukur yang terucap dari semua pelajar Wafa kepada Allah atas hadirnya metode Wafa ini untuk generasi Rabbani memberikan manfaat dan energi yang sangat positif, sehingga sangat memudahkan anak-anak, remaja bahkan orang tua untuk belajar Al-Qur’an. Pentingnya Wafa ini akan memberikan manfaat bagi generasi Qur’an baik generasi dulu, kini dan nanti (masa depan). Harapannya untuk kedepan ialah agar dedikasi Wafa untuk anak bangsa akan secara luas dikenal dan dipelajari tanpa memandang usia dan pendidikan. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin…..

_
Penulis: Ade Surya – SDIT Al Kahfi Lebong