Jalan juang Pendidik Qur’an

“Mengajar Al-Qur’an adalah sebaik-baik kesibukan”, kalimat inilah yang memotivasi saya untuk terus melakukan pembelajaran dan pembinaan Al-Qur’an,  dengan tujuan mendekatkan nilai-nilai Ilahi kepada setiap jiwa sejak dini.

Sebagai pengajar Al-Qur’an memang menjadi amanah dan misi yang berat, menuntut kesabaran, bahkan kadang membuat minder sebagian seorang guru al-Qur’an.  Tantangan ini awalnya memang dirasakan karena mindset yang keliru terhadap fungsi pengajar Al-Qur’an dimana sebagian kita masih menganggap pengajar Al-Qur’an hanya sebatas mengajarkan baca tulis Al-Qur’an, atau hanya menamatkan bacaan Al-Qur’an santri saja tanpa melihat pengaruh Al-Qur’an terhadap perilaku anak.

Penyebab mindset ini karena sebagian pengajar Al-Qur’an masih minim pengetahuan tentang keutamaan mengajarkan Al-Qur’an dan sebagian guru mencukupi dirinya sebatas mengajarkan anak bacaan al-Qur’an. Selain itu juga, disebabkan oleh faktor eksternal, dimana sebagian orang masih menganggap pengajar Al-Qur’an hanya sebatas menjadikan anaknya menjadi pintar baca Al-Qur’an, bisa tamat dan melaksanakan ritual penamatan bacaan Al-Qur’an tanpa mempedulikan keberlanjutan pendidikan Al-Qur’an untuk anaknya.

Fenomena di atas memang banyak terjadi, dan masih banyak orang tua yang memiliki mindset demikian. Akibatnya, sebagian masjid  yang awal pengajaran Al-Qur’annya dibuka dengan jumlah santri yang langsung membludak, namun lambat laun menjadi berkurang, tak terurus bahkan berhenti.  Ini disebabkan karena faktor yang saya kemukakan sebelumnya. 

Saya pun menjadi salah satu pengajar Al-Qur’an yang hampir terjebak dengan competency trap  sebagaimana kasus yang dialami sebagian guru di atas. tentu saya tidak mengeneralisir kasus ini, namun banyak fakta yang saya dapatkan menunjukkan demikian.

Dari pengalaman itulah, saya pun merasa ada hal yang perlu ditangani serius dalam pendidikan Al-Qur’an kita, agar permasalahan di atas dapat diselesaikan secara perlahan, dan juga mampu mendorong lembaga pendidikan Al-Qur’an bisa lebih memiliki manajemen baik dan berkelanjutan.

Solusi dari problem pendidikan Al-Qur’an di atas perlahan saya temukan ketika mulai bergabung dengan salah satu lembaga dakwah di kampus saya, meski kampus saya berada di background umum, namun kampus tempat saya melanjutkan studi cukup terbuka dan concern dalam pembinaan intensif bacaan Al-Qur’an. Berawal dari sini saya banyak mengenal relasi mahasiswa yang bergelut dalam pembelajaran Al-Qur’an secara intensif, dan dipercaya untuk menjadi salah satu mentor pada program pembelajaran Al-Qur’an Intensif untuk mahasiswa baru.

Saya melihat betapa penting dan urgennya menggeluti dunia pendidikan Al-Qur’an. Alasannya sangat jelas, masih banyak mahasiswa baru yang terjaring berada dalam kategori buta huruf hijaiyah. Setelah saya selesai dari kuliah, dengan modal pengalaman di lembaga dakwah tersebut, Saya pun ditunjuk untuk menjadi ketua yayasan di salah satu lembaga pendidikan yang bergerak dalam pembinaan Al-Qur’an.

Peran sebagai ketua yayasan membawa saya kepada dunia manejemen pendidikan. Di peran ini menjadi strategis bagi saya untuk lebih mendalam mempelajari strategi pendirian lembaga pendidikan Al-Qur’an dan sekaligus mencari desain pendidikan Al-Qur’an yang berkelanjutan.

Akhirnya, kerisauan akan pendidikan Al-Qur’an perlahan bisa saya temukan jalan keluarnya, dengan berinteraksi dengan para pemerhati pendidikan Al-Qur’an. Saya banyak mendapatkan pengalaman dan sekaligus masukan dari beberapa lembaga yang sudah sukses menjalankan program pendidikan Al-Qur’an.

Melalui forum-forum bersama yang membahas tentang pendidikan, saya mulai menemukan benang merah penyelesaian masalah pendidikan al-Qur’an.  yaitu dengan menjawab pertanyaan, “apa visi dan misi yang saya emban dalam lembaga pendidikan tempat saya bekerja?, apakah saya sudah menyelaraskan dengan visi hidup saya di dunia ini? saya pun mendapatkan jawabannya setelah mengikuti salah satu program pendidikan berbasis fitrah, dimana saya mendapatkan nasihat bahwa misi kita adalah untuk menyebarkan kebaikan dengan profesi yang kita emban. 

Saya pun mencoba dan berusaha mengintegrasikan nilai-nilai Al-Qur’an dengan rutinitas saya sebagai ketua lembaga pendidikan, sehingga saya memutuskan untuk kembali merintis pendidikan Al-Qur’an dengan mindset bahwa pengajaran harus lebih terintegrasi , berkelanjutan dan selaras dengan visi dan misi hidup saya.

Saya dan guru-guru saya mulai belajar untuk membuat suatu manajemen mutu di pendidikan Al-Qur’an dengan merumuskan hasil belajar, internalisasi konsep dan sharing saya dengan lembaga pendidikan  Al-Qur’an yang sudah memiliki kurikulum Al-Qur’an yang terencana dan terstandarisasi.

Dari kurikulum yang berhasil saya rancang, sayapun mendapati solusi dari pembelajaran al-Qur;an yaitu dengan cara tadabbur, mengenal jiwa anak, belajar dari shiroh nabi dan para sahabat. Dengan itu, dilembaga kami mampu menerapkan pendidikan Al-Qur’an yang lebih terintegrasi pada adab anak serta modalitas belajar anak yang diberikan oleh Allah subhanahu wata’aa.

Begitupun pada hal teknis di saat PPDB, Sejak awal saya memberitahukan kepada para wali santri agar memberikan motivasi bagi anak, bersiap untuk mendampingi kembali anak dan berusaha memahamkan kepada orang tua betapa pentingnya orang tua memberikan teladan untuk anaknya. Konsep ini kami tanamkan secara perlahan melalui program sekolah parenting di lembaga kami.

Alhamdulillah, dari situ saya dan rekan guru secara perlahan memberikan pemahaman yang benar terhadap orang tua santri hingga akhirnya mampu bersama-sama mendampingi anak-anaknya dalam pembelajaran al-Qur’an. Begitupun juga dari internal lembaga saya, sebagian besar guru telah mengikuti program standarisasi guru Al-Qur’an di salah satu lembaga pendidikan Al-Qur’an bernama wafa.

Melalui pelatihan yang kami ikuti kami diajarkan bahwa pentingnya untuk senantiasa terus menambah kapasitas dan kualitas diri dimulai dari menanamkan kesabaran dan niat awal yang harus kuat, Program pengembangan kompetensi guru yang berkelanjutan, serta senantiasa mengevaluasi capaian lembaga.

Akhirnya, pendidikan Al-Qur’an dari masa ke masa akan terus dibutuhkan, terutama dalam membentengi umat dan menjaga akidah umat dari bahaya arus globalisasi dan digitalisasi saat ini, Pendidikan Al-Qur’an harus memiliki manajemen mutu yang baik dan survive, juga metode dan pendekatan pembelajaran Al-Qur’an harus senantiasa didekatkan dengan jiwa anak melalui pembelajaran yang berbasis keteladanan serta berinteraksi dengan anak dengan kasih sayang. Menanamkan nilai-nilai al-Qur’an dalam lembaga, serta senantiasa selalu menjalin komunikasi baik terhadap orang tua anak untuk bersama-sama mendidik anak demi masa depan ummat yang gemilang.

_
Penulis : Jasmin – Rumah Qur’ani Imam Muslim

Ingin Fantastis? Qur’an Dulu!

Guru Qur’an. Terbesit dibenakku kala itu adalah sebuah profesi yang berbeda dengan guru mata pelajaran yang lain. Yah! Seperti lebih penting Matematika, IPA dan lainnya. Sesekali, aku merasa levelnya rendah. Terlebih, jikalau ada pelatihan terkait perangkat pembelajaran. Nah, biasanya guru yang murni mengajar Al Qur’an tidak dilibatkan karena memang pembelajaran Al Qur’an bukan pembelajaran utama yang ada di sekolah menengah pertama.

Seiring berjalannya waktu, hal tersebut mulai terpecahkan satu-persatu. Walaupun masih banyak kekurangan. Aku menyadari hal itu semenjak tahun 2017 hingga 2021, kurang lebih lima tahun menjadi Koordinator Al Qur’an, ada keasyikan tersendiri dan surprise yang tak terduga.

Aku sebenarnya ingin mengundurkan diri ketika diamanahi jabatan tersebut karena merasa tidak tahu apa-apa terkait metode pembelajarannya, administrasi pembelajaran dan masalah lainnya.

Kegalauan yang ada dibenakku mulai menyusut. Aku bersama manajemen mengadakan study banding ke sekolah Islam Terpadu yang lain. Aku pun tak menyia-nyiakan itu semua. Kalian tahu? Aku hampir saja menerapkan semua yang ada di sekolah tersebut. Namun, ketika dievaluasi memang tak bisa kita terapkan secara keseluruhan, mengingat SDM yang terbatas dan aku sendiri yang masih minim tentang Al Qur’an. 

Melalui hasil study banding itulah, pernah beberapa kali, aku merevisi perangkat pembelajaran yang sesuai JSIT dan pemerintah, buku prestasi yang menjadi buku kendali, kartu hafalan yang kini menjadi buku prestasi hafalan dan ada juga rapor Al Qur’an untuk setiap semesternya. Tentu yang tidak ketinggalan adalah mengevaluasi pembelajaran Al Qur’an dan supervisi bersama Wafa Indonesia. 

Terkadang jika ada pelatihan bersama Wafa Indonesia, aku dek-dekan lebih duluan. Why? Ya, karena aku tidak tahu. Beneran buta. Hanya tahu pembelajaran Al Quran yang biasa diajarkan saat aku mengenyam pendidikan di pondok Rakha Amuntai. Hmm.. Masalah pembelajaran masih mending. Namun, kalau terkait supervisi dan pembagian kelompok, aku hampir tidak bisa tidur memikirkan bagaimana alur dan teknisnya di lapangan. Masyaallah, hal tersebut membuatku terkadang bingung sendiri. 

Qadarullaah, permasalahan tersebut mulai bisa diselesaikan setelah mempelajari metode mengajar dari Wafa Indonesia bersama Ustadz Wawan dan Ustadz Dodi. Kemudian pertemuan terakhir sebelum pandemic covid-19, Wafa Indonesia melakukan  supervisi di SIT Al Khair bersama Ustadz Masyuda dan Ustadz Ali Kurniawan. Gugup! Tapi mikirnya, ya sudahlah. Toh, ini juga masih belajar dan menjadi pengalamanku dan pengajar yang lain pada masa mendatang.

Pada hasil evaluasi dari supervisi yang dilakukan tersebut. Kami terapkanlah dalam pembelajaran Al Qur’an. Pada saat itu, kami memiliki 26 kelompok Al Qur’an. Nah, aku punya kelompok Al Quran dari angkatan ke-9. Mereka adalah Zahra, Namira, Hanifa, Andini, Nahdia, Ihya, Naila, Khadijah dan Ashma. Khadijah dan Ashma sempat belajar bersamaku, namun karena beberapa hal mereka pindah ke sekolah yang lain, sehingga aku hanya memegang 7 anak.

Biasanya, setiap pagi kelompok Al Qur’an Hanifa dan kawan-kawan selalu siap belajar Al Qur’an di depan halaman kantor dengan perlengkapan yang lumayan riweuh. Yup! Meja belajar, buku, Al Qur’an, alat tulis dan buku kendali. Perlengkapan tersebut mereka letakkan di atas meja, kemudian mencari koran bekas di perpustakaan untuk duduk lesehan. Jika hujan, mereka memilih belajar di teras 

Kalau mereka ingat janji belajar di luar. Awwalun, mereka sangat ingat akan janji tersebut, terlebih kalau ditambah ada sesi tudo (tukar kado). Aku pun ikut sesi ini di dalamnya dan setiap bulan ada doorprize bagi yang hafalannya banyak, hadiahnya sederhana, seperti polpen yang ada gambar estetik atau ikat rambut. Masyaallah, kehebohannya!

Suatu ketika kami juga pernah belajar di Mushalla, tapi karena banyak yang menggunakan kami pun hijrah ke tempat yang lebih kondusif. Yup! Pelataran Masjid Al Mashum, sesekali kami belajar Al Qur’an di samping pohon bambu Masjid Al Mashun, pernah juga diparkiran, di bawah pohon mangga dan bahkan di area hutan dan akhirnya pindah karena banyak semut atau gerimis. 

Aku pernah juga, mengajak mereka rujak bareng. Jadi masing-masing membawa buah yang telah disepakati, bahkan adapula pj sambal spesial. Ini dilakukan, sebab mereka terlihat sudah berada di titik jenuh belajar di sekolah, khususnya ketika belajar Al Quran. Sehingga aku berpikir bagaimana membuat mereka belajar dengan happy. Namun sebelumnya belajar dan menghafal Al Qur’an terlebih dahulu. Nah, uniknya! Saking semangatnya, hafalan mereka lancar dan berdampak pada hari-hari berikutnya. Semangat 45!

Selain itu, pernah pula ada yang sakit, namanya Ihya. Maka, karena jaraknya yang dekat, masih dalam satu gang. Kami pun menjenguk Ihya setelah setoran hafalan Al Quran dan aku yang meminta izin kepada Kepala Sekolahnya. Mereka sangat senang, padahal sederhana. Hanya mengunjungi sahabatnya yang sakit. 

Semangat 45 lainnya adalah ketika ada pengawasan dari Tim Wafa Indonesia. Ini hal aneh menurutku, biasanya kalau ada yang mengawas dari pihak luar tentu mereka akan merasa gugup atau tegang. Namun kali ini berbeda, malah tidak sama sekali. 

“Hhhhhh… Ustadzah, yang datang itu siapa?” tanya Andini penasaran dan merasa kaget.

“Itu Ustadz dari Wafa Indonesia mau melihat kita belajar Al Qur’an, nama beliau Ustadz Masyuda dan Ustadz Ali,” tuturku kepada Andini dan kawan-kawan. Mungkin mereka seperti itu karena kagum dan merasa bangga dikunjungi secara langsung oleh tim Wafa Indonesia.

“Wahaaa rami nah, pokoknya kita harus semangat buhannya ai!” sahut Zahra dengan bahasa khas Banhar sambil mengelus dagunya.

“Santai ja, kita balajaran seperti biasa. Esok materinya tentang Hams, tilawah surat Hud ayat 1-3 dan menghafal surat Ath Thur ayat 1-14″, jelasku saat mau mengakhiri pembelajaran.

Keesokan harinya, mereka terlihat sangat antusias. Aku hampir ketawa melihatnya. Sebelumnya, beberapa administrasi pembelajaran Al Qur’an saat itu telah aman karena sudah dikerjakan.

Masyaallah, dari beberapa penilaian pembelajaran, kelompok kami khususnya pengajar dari lembaga SMPIT Al Khair sangat bagus, terlebih administrasinya.

Hal ini diperoleh dengan proses yang cukup lama dan bertahap. Dimulai dari pendekatan pengajar dengan murid, khususnya pembelajaran Al Qur’an agar mudah dan menyenangkan. Malah, kami memiliki program pengembangan SDM agar bisa membimbing kelompok Al Qur’annya secara efektif dengan mengikuti beberapa pelatihan online yang diselanggarakan Wafa Indonesia. 

Hatta sekarang, aku dan pengajar yang lain berkesempatan bisa bersama kelompok Quran selama 3 tahun. Satu tahun setengah pada kondisi lingkungan normal dan satu tahun setengah berikutnya ketika covid kemarin.

Saat mereka kelas 8 pada semester kedua, pertemuan kami sering virtual dan untuk setoran hafalan menggunakan videocall. Mereka sering bertanya, kapan belajar tatap muka dan belajar di sekolah. Namun, pertanyaan tersebut bisa ditepis secara perlahan dengan memberikan pemahaman terkait kondisi sekarang. Tak lupa selalu memotivasi mereka belajar dan menjaga kesehatan.

Awal tahun 2021, wacana simulasi untuk belajar di sekolah hampir viral. But! Hal tersebut purna sebab ada bencana banjir bandang yang menimpa kami pada Kamis, 14 Januari 2021. Padahal semuanya sudah dipersiapkan dengan matang oleh pihak sekolah. Lagi-lagi aku dan sahabat yang lain tak bisa berkelik.

Seiring berjalannya waktu, tak mengira Maret 2020 adalah terakhir kami belajar Al Qur’an bersama di sekolah dan April 2020 hingga sekarang, satu setengah tahun kami tak berjumpa lagi dalam pembelajaran Al Qur’an.

Hal tersebut berlangsung hingga mereka lulus pada bulan Mei 2021 silam. Itulah hari pertemuan terakhir kami bertatap muka dengan anak didikku yang telah 3 tahun belajar Al Qur’an bersama. Disinilah, titikku menemukan bahwa guru Al Qur’an itu penting, bahkan diatas mata pelajaran yang lain terlebih pada masa pandemi ini. Butuh energy positif untuk menyemangatkan mereka. Tak sedikit, mereka yang bagus tilawah dan hafalannya, maka prestasinya pun mengejutkan, fantastis!

Teringat, para ulama dan ilmuwan terdahulu yang semenjak kecil telah dekat dan menghafal Al Qur’an sehingga ilmu-ilmu yang lain pun mendekat dengan mudah dan ahli dalam bidangnya masing-masing. Seperti Imam Syafii yang hafal Al Qur’an ketika berumur 7 tahun, begitupula Imam Thabrani, sang ilmuwan kedokteran Ibnu Sina, Bapaknya Matematika Al Khawarizmi, Bapak Fisika Optik Ibnu Haitam, Al Jazari sang penemu prinsip kerja roda dan masih banyak lagi yang pionir. Mereka semua terdorong menjadi ahli di bidangnya sebab terinspirasi dari Al Quran yang dihafalnya. Mereka pelajari Al Qur’an dengan niatan ingin memudahkan manusia untuk lebih dekat dengan Allah. Allahu Akbar! Mudah-mudahan hafalan Hanifa dan anak-anakku yang lain semakin bertambah, mampu memahami maknanya dan semoga Al Qur’an terus bersemayam dalam hati mereka. 

Aku bangga menjadi guru Qur’an. Karena disitulah aku bisa lebih maksimal mengajak mereka lebih dekat dengan Al Qur’an, memahami Al Qur’an dan tentunya kami pun berusaha menyiapkan lebih awal untuk memahamkan kepada peserta didik. Bukan untuk terlihat lebih ahli. Tidak sama sekali! Namun untuk meng-upgrade diri dan kami merasakan selalu ada jalan kemudahan di dalamnya. Benar dalam sebuah hadits disebutkan bahwa sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.

Mengapa tidak? Ia adalah pedoman hidup yang Allaah berikan kepada hambaNya agar bahagia dunia akhirat. Ketika mengajarkannya, aku pun merasa dekat dengan Sang Pemilik Alam Semesta dan seolah sedang dinasehati Allah dengan cintaNya. Mungkin dengan cara inilah, Allah sukseskan kita di dunia dan juga fi yaumil akhir. Allaahummarhamna bil Qur’an.

_
Penulis : Laila Martasari – SMPIT Al Khair

Al-Qur’an, Mengajariku Arti Kehidupan

BIsmillahirrahmanirrahim

Berawal dari kisah gadis biasa dari keluarga yang sederhana yang memiliki impian besar. Kisah ini berawal ketika kakeknya memanggil untuk belajar mengaji sebut saja namanya Suci, dimana anak ini begitu tidak suka apabila sesuatu dipaksakan kepadanya terlebih lagi ketika dipaksa belajar,Tiba-tiba kakeknya memanggil dengan membawa kayu yang besar mengancamnya untuk belajar mengaji dengannya, karena anaknya yang tomboi dan tidak punya jilbab, dan lupa membawa dari rumahnya karena tinggal dirumah nenek dan kakeknya, suci diajari mengaji dan sholat dan belajar pelajaran sekolahnya, karena orang tuanya yang begitu sibuk mengurus bisnis sehingga lupa mengajar anaknya dan mengandalkan kakek dan nenek, om  mengajar suci,  orang tua suci semakin sibuk dan usaha maju dan semakin banyak pundi kekayaan, lalu orang tua suci berpisah karena ada wanita lain dihati ayah suci , 2 tahun berlalu, ayah suci bangkrut dan meninggalkan banyak hutang sehingga  ibu suci dan kelima saudaranya harus berjuang kembali membiaya dirinya, karena ayah suci meninggal kecelakaan dan belum sempat meminta maaf pada keluarganya, dan tahun berikutnya  kakek suci meninggal dan tahun berikutnya neneknya suci juga meninggal disitulah bentuk kesedihan mendalamnya bagi suci dan keluarganya. Setelah berapa tahun suci masuk SMA, dia masuk sekolah gratis untuk mengurangi biaya keluarganya karena banyak saudara suci yang sekolah juga, suci masuk sekolah dimana sekolah itu sekolah yayasan khusus orang kurang mampu dan belajar pelajaran agama dan menghafal Al-Qur,an setiap subuh hari, siang hari belajar pelajaran umum dan sore menghafal Al-Qur,an lagi, suci sudah mulai menyukai sistem menghafalnya namun suci hanya bertahan 1 tahun belajarnya karena keadaan tempat sekolahnya kekurangan air, dan teman-teman juga dari kalangan keluarga yang bermasalah dan banyak terjadi pembulyan disana walaupun sekolah islam. 

 Suci meminta kepada ibunya pindah kesekolah umum kembali dan disitulah dia bertemu dengan kakak sepupunya yang hijrah belajar Al-Qur,an dan memberikannya buku-buku islami walaupun bukan dari sekolah islam, namun ada pembinaan dari kakak yang mengajar tentang islam, setelah tamat SMA suci ingin sekali memiliki dua cita- cita bila tidak menjadi bagian tenaga kesehatan dia ingin menjadi guru, setelah melalui ujian tes dia dinyatakan lulus masuk kuliah keguruan, dan dia meminta kepada keluarganya untuk tinggal bersama para akhwat ( wanita yang paham islam) namun, kakak suci melarangnya, karena khawatir adiknya juga akan memakai jilbab besar atau memakai niqob (bercadar) namun keyakinan suci menyakinkan kakaknya akhirnya kakak bisa dibujuk untuk membiarkan tinggal dengan akhwat, hari berlalu disitulah suci belajar dunia kampus dan pendidikan namanya belajar mengaji dan tarbiyah dan mengetahui jati dirinya sebagai muslimah, karena dunia kampus begitu banyak tantangan namun suci bersyukur karena kakak senior mengajarkan dan membimbing pelajaran mata kuliah dan pelajaran agamanya utama dalam perbaikan membaca Al-Qur,an dan alhamdulillah kakak senior suci rata-rata dosen dan asisten dosen dikampus. Semester 4 suci sudah bisa mengajar mengaji walaupun masih sementara diperbaiki bacaan Al-Qur,annya  juga karena rumah atau pondok suci  adalah tempat belajar Al- Qur,an (TPA)  yang dibuat kakak seniornya, jadi sepulang kuliah suci dan kakak senior-seniornya mengajar anak- anak belajar Al-Qur,an,dimana anak-anak itu dari tetangga rumah, anak-anak dari kalangan komunitas belajar islam atau anak-anak dari para dosen mereka dikampus, berapa tahun kemudian kakak-kakak seniornya lulus, ada yang menikah dan ada juga  harus mengabdi didaerah mereka sendiri, suci dan akhwat angkatan yang kuliah  harus tetap bertahan mengajar anak-anak mengaji dan juga harus melanjutkan perjuangan dakwah didalam kampus karena mereka juga memiliki organisasi keagamaan yang legal  dikampus yang mengajak para muslimah belajar islam  dimana organisasi kegamaan dibawahi birokrasi kampus dan yang dimana ada pengurus ikhwa ( laki-laki ) dan akhwat ( perempuan).

Agar suci bertahan, dan teman seangkatan kuliah dan adiknya pengurus lembaga keagamaan bisa tetap bekerja, membiayai kebutuhan mereka sehari-hari  mereka, mereka disarankan oleh ibu angkatnya untuk menempati rumahnya yang luas untuk anak-anak mengaji dan membuat sekreatif mungkin agar tempat mengaji itu lebih bagus dan banyak pendaftar kemudiaan mendaftarkannya didepartemen keagamaan dan memberikan nama  TPA dengan nama TPA Nurrahma dan Alhamdulillah, Maa sya Allah atas seizin Allah TPA itu diminati, begitu banyak orang tua dan mereka juga diberikan insentif guru pengajar mengaji dari departemen keagamaan, Seiring berjalan waktu suci menyampaikan kepada orang tua bahwa selesai kuliah dia tetap dikota palopo karena dia sudah mendapatkan pekerjaan di TK mengajar pagi, dan sore hari mengajar TPA , dan Alhamdulillah orang tua mneyetujui dan disitulah suci tetap menjadi aktivis dakwah melanjutkan perjuangan kakaknya tetap berdakwah dikampus dan dibantu adiknya-adiknya muslimah tetap  berdakwah dikampus dan mengajar anak TPA. 

Ditahun 2014 suci bertemu kakak seniornya yang alumni universitas hasanuddin, alumni STIBA dan alumni magister mesir sebutnya saja namanya ustadzah andi verawati , dimana kakak tersebut dikenalkan oleh kakak seniornya, ternyata dia pindah ke palopo untuk mengabdi dikampung halamannya dan berbagi ilmunya selama kuliah, dan bagian kaderisasi dakwah terlebih lagi dia orang yang betul- betul mencintai Al-Qur,an.

 suci dan teman seangkatannya saling bertukar pikiran dengan kakak dari alumni khusus belajar al-Qur,an ini bahwa mereka menyarankan untuk membuka rumah tahfizh yang bernama ibadurrahman, dimana pengajarnya hanya 4 orang, dimana 2 orang suci dan teman seangkatan sulfia, dan dua orang kakak dari STIBA ( sekolah tinggi Bahasa arab), dimana kakak alumni bernama atiqah dan muthmaiinah,  ustadzah andi vera menyarankan mereka mulai menyebarkan flyer penerimaan santri dan alhamdulillah baru dimulai sudah 70 orang yang mendaftar, ternyata setiap pekan peminat belajar bertambah dan 4 orang pengajar kewalahan jadi ustadzah andi vera bermusyawrah dengan para musyrifah (guru pengajar Al-Qur,an) ukh  inna, atika, sulfia dan suci untuk menambah pengajar tahfizh dari kalangan adik-adik lembaga kampus yang sudah dibina atau dibekali mengajar Al-Qur,an.  

Mengadakan musyawarah dengan para orang tua siswa dan orang-orang binaan baik ustadzah andi vera ataupun binaan para musyrifah untuk mencari orang yang mau mewaqafkan rumah untuk amal jariyah mengajarkan Al-Qur,an Alhamdulillah dari usaha tersebut sudah terbuka 3 tempat mengajar tahfizh dan Alhamdulillah selalu diadakan kegiatan ketika ada metode baru mengajar Al-Qur,an dengan mendatangkan pakar-pakar pemateri yang plagiat terhadap Al-Qur,an dan semakin bertambahlah para santri begitupun pengajar dari tahfizh ibadurrahman, kemudian ustadzah andi vera bermusywrah dengan para musyrifah bahwa dia akan menjadikan sekolah rumah tahfizh tersebut dari jenjang tk sampai SMA dan nama rumah tahfizhnya diganti dengan YDM Palopo (yayasan Daarul Mushaf) Alhamdulillah peminatnya semakin bertambah.

Selanjutnya untuk mempromosikan setiap kegiatannya, para musyrifah ( guru-guru)  di tugaskan ustadzah andi vera untuk menampilkan santrinya masing-masing dari setiap rumah tahfizh dan waktu itu suci dipilih membimbing mengajar anak-anak laki-laki karena belum ada pengajar laki-laki atau ustadz membimbing anak-anak ketika santri suci dipilih mengaji dikegiatan POM ( pertemuan orang tua santri), anak santri suci gugup dan mengatakan ustadzah banyak orang dan perempuan saya malu, namun tugasnya sebagai guru dia harus berusaha menyakinkan santrinya bahwa dia bisa, dan Alhamdulillah setelah berapa menit santrinya mulai tenang dan membaca ayat suci Al-Qur,an dengan begitu merdu dan semua orang kagum akan suara anak itu, dan anak santri hafidzul mulai dikenal banyak kalangan karena suaranya yang merdu sehingga selalu diundang disetiap dikegiatan walimahan (pernikahan)  akhwat ataupun ikhwa, kegiatan dakwah atau acara sekolah dan lomba-lomba menghafal Al- Qur,an dan terlebih suci yang bahagia karena dia bisa melihat santrinya sudah bisa menyampaikan ilmu dengan melanntunkan ayat suci Al-Qur,an 

 Suka duka mengajar tahfizh, Lanjut dikegiatan dakwah kampus dan kegiatan mengajar tahfizh hari sabtu dan ahad selalu berbenturan sehingga membuat suci meminta bantuan adik-adik yang dibina dihalaqoh kampusnya untuk menggantikan amanah mengajar dihari itu, namun terkadang adik-adik kampus suci belum berpengalaman mengajar anak-anak santri,  santri yang tidak patuh terkadang pulang sendiri disaat jam belum pulang belajar tahfizh dan suci saat pulang ditegur orang tuanya dan dari yayasan namun suci tetap bersabar, dan ada waktu juga suci diamanahkan kembali mengajar ikhwa yang sudah mau baliq karena kurangnya pengajar ikhwa harus mengajar dengan kakaknya akhwat yang dari STIBA  mereka harus menjaga jarak saat mengajar, dan lebih parah ketika ada anak yang bertengkar karena hal sepele, biasa anak laki-laki bila terkadang iri dengan temannya langsung memukul temannya dan suci dilaporkan kembali oleh orang tua murid tanpa mengetahui sebab anaknya berkelahi dengan teman lainnya sampai ke orang tuanya karena percaya anaknya, orangtua tersebut memukul tiang dinding rumah, namun suci dengan sabar menjelaskan ke orang tua murid bahwa anaknya yang duluan mengganggu temannya, karena taufiq Allah Alhamdulillah orang tua santri akhirnya mengerti dan saling memaafkan dengan siswa yang berkelahi dengan anaknya.

Suci mengajar disekolah TK dan kuliah semester akhir dan mengajar privat dikampus dan asisten dosen dikampus  sehingga harus pintar-pintar membagi waktu dengan kegiatannya yang padat karena dia tidak ingin menyusahkan orang tuanya setidak mengurangi beban orang tuanya,  sampai terkadang suci harus jalan kaki berapa ratus meter dari tempat ngajar dan kekampusnya dan jalan lagi ketempat mengajar tahfizhnya untuk mengurangi biaya pengeluaran sehari-harinya, namun dia yakin bahwa apa yang dia lakukan adalah untuk masa depan dan bisa bermanfaat untuk masyarakat apalagi dalam mendidik siswa-siswanya dan santri-santrinya. 

Alhamdulillah seiring berjalan waktu ditahun 2014 suci dinyatakan lulus kuliah dengan predikat baik dan lanjut tetap mengajar diTK , mengajar tahfizh namun memilih berhenti mengajar menjadi asisten dosen karena tidak nyaman dengan suasana kampus karena harus selalu berbaur dengan para dosen laki-laki apalagi suci sudah berhijab syar,I sehingga dia memilih tempat yang nyaman untuknya mengajar, namun ternyata orang tuanya tidak suka suci hanya mengajar di Taman kanak-kanak dan rumah tahfizh sehingga harus mencari lagi pekerjaan lain, Alhamdulillah beruntungnya suci mendapatkan tawaran mengajar di SMP pesatren sebagai guru mata pelajaran Bahasa inggrisnya sehingga orang tuanya begitu senang dan tetap aktif menjadi aktivis kampus jadi pembina akhwat lembaga dakwah kampus membina akhwat atau perempuan dikampus agar dia memiliki penerus dakwahnya, namun suci terkadang kelelahan karena harus membagi waktu sehingga terkadang pekerjaan ada yang terlambat namun kegigihan tetap melaksanakanan amanah indah dari Allah tersebut. 

Aktivitas kegiatan dakwah juga aktif dilakukan dirumah tahfizh dengan ketua yayasan dan para guru-guru pengajar AL-Qur,an  dengan selalu mengadakan pertemuan belajar mengaji dan kegiatan belajar islam intensif agar tidak hanya anak-anak santri saja yang aktif belajar namun orang tua siswa juga dibekali dan mengkomunikasikan kemajuan dari santri-santri kepada orang tua masing, dan lanjut dengan kegiatan-kegiatan pelatihan untuk guru –guru pengajar mulai dari pelatihan kegiatan soft skill keterampilan belajar berbicara didepan umum, tahsin, belajar kitab-kitab islam dan pengembangan ilmu teknologi, belajar Bahasa arab dan masih banyak kegiatan keterampilan untuk guru-guru pengajar Al-qur,an sehingga suci dan teman-temannya makin akrab dan mereka senang karena dibekali ilmu dari yayasan rumah tahfizh ilmu agama lebih dan softskill lainnya,  dimana ilmu tidak didapat diperkuliahan mereka karena mereka rata-rata lulusan pendidikan guru bukan dari lulusan universitas keagamaan. 

Hari terus berlalu dan ditahun 2018 rumah tahfizh mereka dan yayasannya menyusulkan untuk menjadi sekolah dan Alhamdulillah usulan tersebut diterima para orang tua santri dan masyarakat dan didaftarkan dilembaga pendidikan menjadi sekolah mulai dari TK sampai SMP tahfizh dan lebih dikenal lagi, karena selalu menghadirkan pakar-pakar pemateri dan pengajar dari orang-orang penggiat Al-Qur,an mulai dari pemateri daerah penghafal Al-Qur,an sampai pemateri dari palestina dihadirkan untuk memberikan nasehat-nasehat keutamaan belajar dan mengajar Al-Qur,an dan sehingga semakin diminati siswa, para orang tua karena selalu menampilkan  santri tampil dikegiatan keagamaan atau wisuda-wisuda santri sehingga membuat semua orang tertarik dan senang melihat anak-anak mereka menjadi penghafal Al-Qur,an. 

Ketika Ujian cinta datang dalam mengajar Al-qur, an  

suci terhalang karena harus memilih, dimana saat itu ada ikhwa orang jauh dari pinrang yang menyukainya namun persyaratan ikhwa itu harus ikut dengannya kekampung ikhwa tersebut yang ingin menikahinya, disalah satu pihak ternyata ada ikhwa yang satu lembaga kampusnya ada ikhwa yang menyukai suci yang baru mengatakan perasaannya kepadanya, dimana suci juga mengaguminya dikampus namun ikhwa ini terlambat mengatakannya sehingga suci mempersilahkan ikhwa yang jauh dari pinrang untuk maju berta,aruf dengannya namun disisih lain ikhwa yang dipalopo meminta untuk beristikharah, suci bingung ternyata ikhwa yang dia sukai ternyata sudah juga berta,aruf dengan sahabat dan meminta suci menunggunya, sehingga dia berbicara kepada murobbinya langkah apa yang dia harus ambil karena ikhwa palopo tidak jawaban awalnya tetapi ketika ada ikhwa yang datang dari jauh ,ikhwa ini meminta suci menunggunya sehingga, suci menuruti murobbinya untuk sholat istikharah namun disalah satu pihak suci menyampaikan ke orang tuanya bahwa langkah apa dia harus ambil orang tua menyampaikan lupakan ikhwa yang dipalopo, dimana nama mereka sebut saja namanya fachri yang mirip nama ikhwa itu berdua, dua nama yang sama namun orang berbeda setelah berapa lama ikhwa palopo tidak ada kepastiaan dan suci mulai begitu terpukul saat itu namun bersabar bahwa iya tahu bahwa ikhwa itu sangat menyukainya melebih cintanya kepada Allah kepada suci, sehingga ikhwa fachri tidak bisa bersama suci, selanjutnya suci diberi waktu oleh ikhwa pinrang yang namanya juga sama fachri selama hamper 3 pekan untuk mengambil keputusan apakah lanjut atau tidak ditengah keputusan itu, suci meminta untuk 3 bulan menyelesaikan amanahnya dipalopo namun ikhwa pinrang fachri tidak bisa menunggu sehingga kesepakatan bahwa kesepakatan pernikahan itu dibatalkan karena suci belum siap bila harus cepat meninggalkan amanah dan kegiatan mengajar tahfizh dan disisih lain ikhwa fachri juga tidak mau mengekang suci untuk ikut dengannya, dan mereka sama-sama berdoa semoga Allah memberikan mereka pilihan pasangan hidup yang baik.

Suci kembali ke aktifitasnya walaupun hatinya masih galau karena pernikahan gagal hampir 1 bulan namun suci berprinsip, iya harus tetap melanjutkan hidupnya dan tetap mengajar untuk siswanya dan santri- santri tahfiznya, namun disisi lain dia lelah mengajar disekolah karena amanah disekolah begitu banyak sehingga dia tidak bisa kendalikan sehingga meminta untuk resign dari TK dari dan mengajar SMP  dan lebih memilih mengajar tahfizh, namun orang tuanya kaget dengan keputusan suci karena keinginan orang tuanya suci ingin jadi PNS ( pengawai negeri sipil) agar kehidupan lebih nyaman dan bisa membanggakan orang tuanya, namun suci berhenti dari sekolah dan orang tuanya sangat kecewa, sehingga ketika penandatangan kontrak mengajar tahfizh suci tidak diperbolehkan untuk menandatangi surat kontrak mengajar tahfizh, disitulah suci bertambah sedih dan menyampaikan kepada ketua yayasan, lembaga dakwah dan adik-adiknya untuk minta pamit dan pulang kekampungnya, dikampung suci membantu orang tuanya berdagang namun suci bosan dan orang tuanya meminta suci mengajar disekolah satu tempat ngajar keluarganya namun suci tidak suka karena metode mengajarnya semua pelajaran umum dan tidak ada batasan antara guru laki-laki dan perempuan sehingga suci menolak mengajar disekolah umum. 

Setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan 

Qs. Asy-syarh 6 : Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.

beberapa bulan kemudian, suci  dikirimkan formulir pendaftaran sekolah islam oleh temannya didaerah lain, yang membutuhkan guru mengajar didaerah sengkang, suci terkesan mendaftar dan Alhamdulillah diterima namun diawal suci agak kerepotan mengajar karena dia diamanahkan mengajar siswa laki-laki yang begitu aktif dan orang tuanya juga orang awwam belum paham agamanya dan sekolah juga masih sedikit fasilitasnya sehingga masih belajar dikelas kayu sehingga barang-barang dikelasnya selalu hilang atau jatuh diluar kelas apalagi anak kelas 1, dimana suci mendapat cemohan dan makian dari orang tua sampai mengatakan suci tidak tahu mengajar, suci tetap bersabar karena dia tahu mengajar itu suatu pekerjaan yan mulia apalagi mengajar Al-Qur,an dan diimbangi pelajaran umum intinya plus pelajaran dunia dan akhirat, namun suci tetap bersemangat walaupun harus dikatakan seperti itu karena dia masih baru disekolah itu mengajar, dan tetap bersemangat karena dia ditemani oleh sahabat-sahabat guru yang seperti saudaranya , ada ustadzah ani, jannah, yuna, dan risda dan masih banyak guru yang memberikan motivasi untuknya dan suci juga mengajar tahfizh bila sore, seiring berjalan waktu suci tetap mengajar dengan amanahnya, dikala itu suci sakit dan digantikan oleh yayasan dan orang tua murid membantu untuk mengajar dari situ yayasan dan orang tua murid baru tahu mengajar anak laki-laki yang begitu aktif ternyata membutuhkan kesabaran untuk mengelola kelas dan mengajar mereka, sampai ditahun berikutnya suci sudah nyaman dengan pekerjaan mengajar dikelas 1 dan mengajar siswa kelas 1 dan melewati rintangan mengajar, didaerah yang baru dia kenal dan sudah hampir 3 tahun mengajar dan Alhamdulillah ada beberapa siswa suci juga ikut lomba walaupun belum juara 1 namun dia sudah masuk katagori terbaik menghafal Al-Qur,an mewakili sekolahnya yaitu peringkat 6 besar dari 100 siswa yang mendaftar lomba festival menghafal Al-Qur,an.

Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu 

Qs. Al bagarah 153: Hai orang- orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang- orang yang sabar. 

 walaupun ujian cinta dalam mengajar kembali datang kepada suci, dimana ada ikhwa  yang datang dengan orang tuanya meminta untuk meminang dengan orang tuanya namun dari pembicaraan yang panjang dengan orangtua suci harus disuruh menunggu selama hampir 4 bulan sampai tidak ada kepastiaan dari keluarga ikhwa baik dari ikhwa tersebut karena masalah dana pernikahan dan orang tua yang tidak setuju sehingga niat pernikahan itu batal kembali, namun suci tetap bersabar dan memperbaiki keadaan lagi bahwa dia harus tetap melanjutkan hidup sepahit apapun masalah dalam hidup dan tetap berkarya dengan mengajar siswanya dan terus belajar Al-Qur,an agar santri bisa mendapatkan ilmu dan terus belajar dengan pelatihan guru tahfizh termasuk metode wafa atau metode yang baik untuk diajarkan kesiswa atau kesantrinya, agar  siswa dan santrinya bisa menggatikan amanah dimasa depan dan terlebih lagi suci tahu pekerjaan yang dia lakukan adalah pekerjaan mulia tidak hanya mendapatkan kemuliaan dunia namun terlebih lagi kemuliaan akhirat, dan dia tetap yakin dari kesabaran itu bahwa akan ada orang yang datang menyayanginya karena Allah dan mau berjuang dengan mendakwahkan Al-Qur,an bersamanya. Suci dan kelima saudaranya juga tetap berusaha untuk membahagiakan ibunya yang sudah berjuang untuk kebahagiaan mereka. 

_
Penulis : Nursafitri, S.Pd – SDIT Yaa Bunayya Sengkang Wajo

Perjalanan Merintis Karir

Nama saya Mohamad Ikbal Ramadhan, Lahir di palu 25 februari 1999. Saya seorang guru di salah satu sekolah menengah pertama di palu yaitu SMP islam terpadu bina insan palu. Sebelum menjadi seorang tenaga pendidik di sekolah, saya adalah seorang mahasiswa dan wiraswasta. Kok bisa dua? Iyaa, karena ketika masih kuliah saya sudah membantu orang tua saya berdagang , dari kecilpun saya selalu menemani ayah saya untuk berdagang sampai saya menempuh pendidikan di bangu perkuliahan. Di akhir perjalanan studi saya, saya mendapatkan ujian yang sangat berat pada waktu itu, ujian yang saya dapatkan waktu itu adalah wafatnya orangtua laki laki saya disaat pandemi meraja lela dan perekonomian keluarga yang tidak stabil . sehingga saya sangat sulit untuk mengatur waktu, keuangan serta kuliah saya. Alhamdulillah denga seiring berjalan waktu saya membiasakan diri dengan keadaan saya mencoba mengatur keuangan, waktu dan kuliah. Dengan pembiasaan diri seperti itu saya bisa menyelesaikan study saya dengan predikat coumlaude. Setelah lulus dari bangku kuliah saya memutuskan untuk mencari kerjaan sampingan agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga di rumah. Ketika mendaftar di sekolah sekolah saya di teria di smp islam terpadu bina insane terpadu. Awal masuk sekolah saya mencoba untuk berbaur dengan guru guru dan mencoba membaur dengan kebiasaan yang baru. Awalnya kaget dan tidak terbiasa, tetapi dengan berjalannya waktusaya mulai terbiasa dengan lingkungan disekolah. Pada awal saya mengajar pada anak anak, saya mengikuti penerimaan siswa baru atau yang disebut dengan MPLS ( Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah ) bersama dengan rekan rekan guru yang berada di lingkungan smpit bina insan palu. dengan adanya MPLS ini saya bersemangat untuk bisa mengenal lebih dekat siswa siswi saya yang akan di anajr di sekolah. Setelah mengikuti kegiatan MPLS saya membuat rancangan rancangan pembelajaran dan metode metode yang akan saya pakai untuk mengajar. setelah beberapa hari mendapatkan arahan dan petunjuk dari pimpinan, saya membuat perangkat pembelajaran yang berlaku di sekolah saya. Ketika proses pembuatan saya mendapatkan kesulitan dalam proses pembuatan, karena di masa sekarang wabah pandemi sudah merajalela dan sudah banyak yang terpapar virus. Itulah yang membuat saya terus berupaya untuk mencari jalan keluar dan solusi agar pembelaran bisa lebih efektif. Ketika awal mengajar saya menggunakan aplikasi zoom, mecoba berinteraksi dengan anak anak didik dan berkenalan dengan mereka secara online. Setelah itu saya masuk ke materi yang akan saya ajar. Ada banyak kendala kendala yang saya dapatkan dalam pembelajaran di masa pandemi ini. Materi tidak sempurna tersampaikan, anak anak jaringannya susah, ada yang kehabisan data dan bahkan ada anak yang tidak mempunyai hp sama sekali dan masih banyak lagi. Dampak yang dirasakan guru guru dan anak di masa pandemi sekarang membuat kegiatan belajar mengajar sangat tidak efektif sehingganya saya selalu mencari jalan keluar dan solusi yang tepat agar kegiatan belajar mengajar bisa lebih efektif di masa pandemi seperti sekarang. Banyak hambatan, rintangan yang saya lalui tetapi tidak membuat saya mundur untuk selalu mencari jalan alternatif yang menurut saya cocok untuk di gunakan pada saat kegiatan belajar mengajar. Kami guru guru sangat mengharapkan pandemi ini akan segera berakhir danbisa belajar secara tatap muka bersama murid , karena banyak sekali keluhan keluhan murid yang di lontarkan kepada kami para guru guru dan itu membuat kami sangat terpukul disaat mereka merindukan sekolah mereka tetapi apalah daya semua kegiatan masih di batasi oleh keadaann seperti sekarang. Kami guru guru selalu berdoa untuk siswa siswi kami agar menjadi pribadi yang tegar, yang kuat dalam menghadapi ujian ini, kami guru selalu berikhtiar agar pandemi ini segera berlalu dan bisa belajar bersama. Sejauh perkembangan virus ini saya hanya bisa melakukan pembelajaran melalui zoom menggunakan aplikasi zoom, classroom, dan aplikasi aplikasi penunjang lainnyadan untuk tugas tugas praktek saya memberikan tugas video agar nilai nilai yang harus saya capai bisa terukur atau ternilai dengan baik. Dengan metode atau strategi seperti itu, saya berharap pembelajaran menjadi lebih baik dan siswa siswi bisa menerima dengan baik pula. Mari bersama sama kita berdoa dan berikhtiar bersama agar negara kita bisa mengatasi pandemi yang sedang melanda di negara kita yang tercinta ini agar kedepannya khususnya di bidang pendidikan bisa sekolah bertatap muka lagi dan bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang menarik dan tentunya sangat seru. Jangan lupa untuk selalu meningktan program kesehatan 5M agar kita terhindar dari virus dan senantiasa melindungi orang orang di sekitar kita serta keluargaa kita. Semoga Allah SWT menguatkan hati kita, memperkuat rasa sabar kita dan selalu melindungi kita dari bahaya. Aamiien..

_
Mohamad Ikbal Ramadhan, S.Pd. – SMP Islam Terpadu Bina Insan Palu

Menjadi seorang guru bagi saya merupakan  bukan hanya sebagai profesi namun bagaimana juga saya mampu menilai arti dari sebuah kata guru yang didalamnya mengandung makna mulia dengan berbagi ilmu, berkah dalam hidup dan berkomitmen mewujudkan  generasi bangsa yang cerdas berakhlak mulia serta berkarakter sesuai Sunnah, Dimana untuk menyampaikan nya pun membutuhkan keikhlasan, dari arti keikhlasan inilah yang nantinya akan mampu membuka pintu hidayah sosial 

 

Berawal dari sebuah suport dan dorongan dari  beliau lah yang memimpikan seorang anak wanitanya menjadi seorang guru, meskipun dari keluarga yang kurang mampu, saat itu  tidak saya tahu bagaimana bisa mewujudkan impian beliau, meskipun suatu hal yang mustahil bagi saya.”karena pada hakikatnya yang namanya sekolah pasti harus biaya”

Motivasi ya, hanya terdoktrin dari motivasi beliau lah saja yang menjadi kekuatan niat itu muncul, serta keyakinan bahwa Alloh akan menjawab kesungguhan dalam setiap doa hambaNya.

 

Pada akhirnya langkah kecil ini melangkah dengan dorongan niat meskipun sejuta rasa malu berusaha untuk meleram, saya gandeng teman untuk mengurangi rasa malu dengan bersama melamar menjadi guru meskipun hanya bermodalkan pengalaman dan ijazah dibawah standar nya😔

 

Pada saat itu saya belum mengerti apa hakikat menjadi seorang pengajar, bagi saya datang kesekolah mengajar hanya suatu syarat menggugurkan kewajiban untuk mendapatkan penghasilan, seiring berjalannya waktu  tenyata Alloh telah menyusun scenarioNya untuk saya, betapa bahagianya ketika ternyata Alloh memberikan teman teman Sholeh dan Sholehah yang menunjukkan dan menuntun saya menutup semua masa silam, yang pada awalnya saya hanya dapat melihat dari kacamata material dan komersial menjadi melihat pada arti keikhlasan dan kemuliaan.masyaAlloh,  Karena maklum sekolah kami terkenal dengan agama Islam yang kental dan ukhuwah islamiah yang kuat dan prestasi yang Alhamdulillah

 

Beberapa tahun setelah pergantian  kepengurusan yayasan sekolah kami menggunakan metode WAFA, pada berapa bulan  kemudian, terjadi musim wabah, yang mengakibatkan keterbatasan kami dalam mengajar di sekolah menjadi sedikit kesulitan,karena harus mengajar secara online. sehingga satuan pendidikan sekolah kami  harus menambah dan meng-upgrade kemampuan guru dan wawasan dalam mengajar secara online.  dari sini banyak sekali yang menjadi pelajaran bagi saya pribadi terutama kekurangan saya yakni dalam hal teknologi, masih terngiang pengalaman dan ijazah standar merupakan modal utama saya mengajar, di sini saya benar benar diuji namun betapa pun Alloh yang maha luas ilmunya dalam hati saya berkata , semua saya pasti bisa jika saya mau belajar dan memulai.

 

pelatihan demi pelatihan telah terlalui, alhamdulillah meskipun pada pelaksanaannya banyak sekali ujian dari berbagai arah yakni keluhan keluhan wali santri dan tuntutan sebagai seorang pengajar yang profesional ,membuat saya ingin juga memahamkan agar wali santri bisa mendukung dan bekerja sama dengan saya, pendekatan  pun suatu upaya saya untuk menarik simpatik wali santri untuk tidak pindah dari sekolah ini, karena bagaimana pun sekolah ini semua untuk dakwah yang ingin saya wariskan untuk anak Soleh calon penerus generasi Qurani,

Selain pelatihan dan pendekatan , sekolah kami juga membuka kesempatan bagi para pendidik untuk mengikuti program tahsin wafa online.menambah dan meng-upgrade wawasan begitu yang saya lakukan bersama teman teman untuk tetap menjadi yang terbaik dan menyambung berlangsung nya langkah dakwah ini meskipun saat pandemi yang penuh ujian ini.

 

Penting untuk selalu saya terapkan dalam hati  mengajari harus mencontohi, maka bagaimana anak didik saya bisa hafal, tentunya saya dulu harus hafal,semoga dengan metode WAFA ini menjadikan saya lebih bersemangat dalam menghafal.

Dan saya yakin bahwa Alloh melihat akhir dari sebuah proses, seberapa besar pun upaya saya dalam menghafal Al-Qur’an saya yakin untuk mengangkat beliau di akhirat adalah mudah bagi Allah, yang selalu memotivasi dan  ingin saya memeluk  ibu meski tak sampai lagi saya bertemu dengan beliau , semoga hanya ini yang bisa kelak menjadi balasan untuk ibu saat prestasi yang beliau impikan masih sedikit yang sempat beliau tuai dimasa hidup.

 

Dari sini saya berbagi semoga dapat memotivasi kita semua untuk semangat menegakkan dakwah demi masa depan generasi Qurani yang lebih baik dan berkualitas, semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk tetap semangat mengajar meski pun masa pandemi, kita pasti bisa jika mau belajar dan memulai😊

 

Salam manis dari insan manis

😉👌 Puput Irawati – PAUD IT Insan Utama Toili

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu 🙏

Pelita Rerang

Pada siang hari setelah shalat zuhur ibu Munira bersama suami sedang duduk di ruang keluarga sambil bercengkrama ringan, tiba-tiba terdengar suara salam dari balik pintu rumah.

“Assalamualaikum… Assalamualaikum…”

“Ada apa ma?”, “Siapa ya yang bertamau siang-siang begini, sepertinya penting? “ tanya suami kepada sang istri. “Tidak tahu pa, mama buka pintu ya!! sahut sang istri. Suami menganggukkan kepala dengan raut wajah rasa ingin tahu.

******

“Wa’alaikumussalam”. Jawab ibu Munira, ketika membuka ibu Munira dikejutkan dengan ibu ibu yang memakai seragam olahraga yang berwarna merah campur kuning yang memandanginya.

“Maaf bu, menggangu waktu istirahatnya.” Kata ibu Erni.

“Iya bu, tidak apa-apa, mari bu, silahkan masuk”. Jawab ibu Munira.

Ibu-ibu yang berseragam bergegas masuk mengikuti ibu Erni yang lebih dulu duduk.

******

Setelah rombongan ibu-ibu pergi sang suami menayakan maksud kedatangan mereka, “ibu-ibu yang berseragam olahraga tadi perlu apa ma?” Tanya sang suami.

“Maksud kedatangan mereka ingin memberitahukan bahwa mereka masuk babak final dalam pertandingan bola voly antar desa, mewakili desa Rerang yang akan bertanding melawan group  desa Sabang. Untuk itu, mereka minta didoakan agar tetap tenang selama pertandingan berlangsung.” Terang sang istri yang sedang membersihkan gelas minum yang disuguhkan` kepada tamu tadi.

******

Sore hari setelah ashar, suami istri yang telah berusia lanjut ini mempunyai kebiasaan duduk di teras rumah sambil mengingat kembali kebersamaa bersama anakanya. Mereka dikaruniai dua orang anak laki-laki dan perempuan. Kedua anaknya sedang menempuh pendidikan di pondok pesantren di daerah Jawa Timur. Tinggalah mereka berdua di rumah yang sederhana lagi asri. Orang tua yang ikhlas melepaskan anaknya untuk mondok selama bertahun-tahun hanya  mengharapkan agar anaknya kelak dapat menebarkan ilmu yang bermanfaat kepada umat.  Sang suami dikenal sebagai seorang guru yang menjabat sebagai kepala sekolah SDN 25 Rerang sedangkan istri dikenal sebagai guru agama islam.

******

Tersebar berita bahwa tim dari desa Rerang memenangkan pertandingan bola voly putri. Semua warga sangat bergembira atas kemenangan ini. Ibu Erni menyampaikan berita kemenangan langsung kepada Ibu Munira, sekaligus mengundang ibu Munira untuk mengisi tausiah di pengajiaan pekanan. “Pa, besok mama diundang untuk mengisi pengajian. Bagaiamana pa, boleh?” Sang istri meminta izin. “Bolehlah ma, selama untuk kebaikan umat papa izinkan.” Jawab sang suami. Setelah mendapat izin, ibu Munira menyampaikan kepada ibu Erni, bahwa ia setuju untuk mengisi pengajian esok hari. Sang istri begitu shalihah ketika hendak keluar rumah selalu meminta izin dan ridha kepada suaminya. Setelah ibu Erni pulang, obrolan suami istri ini masih berlanjut di teras rumah yang sederhana lagi asri ini. “Hebat kamu ma, doa apa yang kamu berikan kepada ibu-ibu yang ikut pertandingan voly?” suami memuji sang istri. “Alhamdulillah, mama berikan doa keluar rumah pa. Cukuplah surah alfatihah jadi pembuka segala aktivitas dan zikir  bismillahi tawakatu allahi la haula wa kuata illabilahizalimin menjadi benteng dari syaitan.

*****

Esok hari, ibu Munira mengisi kajian dengan tema memuliakan Al-Quran dengan cara mempelajarinya, mengamalkannya serta mengajarkannya. Kajian tersebut berjalan dengan khidmat. Usai kajian, ibu Munira bergegas pulang mengingat makan malam belum disiapkan, tetapi ketika hendak pulang ibu Munira dihentikan oleh seorang ibu yang terlihat lebih tua dari ibu Munira. “Ada apa bu” tanya ibu Munira.  “Saya belum bisa membaca Al-Quran, tolong ajar saya membaca Al-Quran” jawabnya dengan tatapan penuh harap. “Oh baik, dengan senang hati bu” kata ibu Munira. Ibu tersebut mengajak ibu-ibu yang lain untuk belajar membaca Al-Quran dan akhirnya terkumpul kurang lebih 7 orang ibu-ibu yang lanjut usia. Pengajian ini dijadwalkan seminggu 2 kali dan dimulai dari mempelajari cara menyebut huruf hijaiyah dengan makhraj yang benar. Ibu-ibu yang mempelajari Al-Quran ialah ibu-ibu yang usia lanjut yang berumur 40 sampia 50 tahun. Ibu Munira begitu sabar dan telaten mengajarkan Al-Quran mengingat usia mereka yang sudah tua sehingga lisan sudah mulai kaku mengucapkan huruf hijaiyah.

******

Dalam waktu 6 bulan ibu-ibu sudah bisa membaca huruf hijaiyah serta dapat membaca huruf yang terangkai. Namun semangat ibu-ibu dalam mempelajari Al-Quran terhalang karena munculnya suatu musibah yang membuat pertemuan mereka terhenti. Selama pandemik pertemuan tersebut tidak lagi terlaksana secara optimal bahkan sudah terhitung  setahun lebih ibu Munira tidak lagi mengajarkan Al-Quran kepada ibu-ibu. Ibu Munira sangat sedih dengan adanya virus corona yang melanda seluruh dunia. Ibu Munira sangat merindukan pertemuan bersama ibu-ibu, semangat dan kecerian ibu-ibu dalam belajar membaca Al-Quran terus terngiang dalam ingatannya, sesekali air matanya membasahi pipi ketika teringat ibu-ibu tua yang pantang menyerah walaupun lidah sudah kaku mengucapkan huruf hijaiyah, ia tidak bisa apa-apa, hanya harap dan doa yang selalu ia panjatkan kepada Allah Swt., Zat pengendali alam semesta agar pandemik ini segera berlalu.

_
Penulis : Ahmad Fauzi – SMPIT Bina Insan Palu

Habits

Assalamualaikum, perkenalkan nama saya noval rizky, sekarang saya adalah seorang guru sekaligus pengajar qur’an di SMPIT BINA INSAN PALU. Dalam kesempatan ini, saya akan bercerita mengenai bagaimana perjalanan saya dari seseorang yang dulunya banyak menghabiskan waktu luang hanya dengan bermain game di warnet hingga menjadi seorang guru sekaligus pengajar qur’an di tempat saya bekerja sekarang. Kalau diingat-ingat sejak kecil saya sudah suka dengan yang namanya game apapun jenis game tersebut, tetapi saat itu mungkin masih bisa dikatakan normal. Awal batas dikatakan normal mungkin saat tahun ke-dua kuliah ketika teman mengenalkan dengan yang namanya warnet game, Yah mungkin dari dulu kecanduannya sudah parah hanya tidak terfasilitasi saja. Jadi semenjak diajak teman main ke warnet, disitu bisa dibilang kuliah menjadi terbengkalai, nilai kuliah banyak yang jelek, dan bisa dibilang sudah menjadi rumah kedua karena mainnya bisa sampai 24 jam. Dari awal bermain di warnet itu kalau tidak salah tahun 2015 sampai pada tahun 2018, ketika terjadi gempa di palu waktu itu yang skalanya mencapai 7.9 sr, saat terjadi kejadian tersebut saya masih berada di warnet, padahal waktu kejadia tersebut di palu sudah menunjukkan pukul 6 sore dan sudah masuk waktu magrib dan yang pertama kali terlintas di pikiran saya waktu itu “bagaimana kalau saya mati dalam keadaan seperti ini?”. Memang selama bermain di warnet saya jadi sering lambat sholat bahkan sampai meninggalkan sholat, dan bisa jadi ini adalah suatu teguran. Setelah keadaan bisa dibilang agak sedikit kondusif saya langsung bergegas pergi ke rumah untuk mengecek keadaan orang tua saya di rumah dan alhamdulillah tidak terjadi apa-apa.

Saat palu sedang dalam masa pemulihan, disitu juga saya menyelesaikan tugas akhir saya dan ketika kampus sudah mulai dibuka saya mendaftarkan diri untuk maju seminar komprehensif. Nah pada saat mendaftar ujian kompre, ternyata ada syarat di fakultas atau lebih tepatnya jurusan saya yaitu matematika bahwa jika ingin maju untuk seminar komprehensif maka harus menyetor hafalan minimal satu juz. Memang di fakultas saya atau lebih tepatnya di jurusan saya dulu itu, jika ingin menyelesaikan studi ada persyaratan harus menghafal al-qur’an minimal satu juz dan kita bisa memilih sendiri juz berapa yang ingin kita hafalkan. Ketika menghadap dengan dosen yang bertanggung jawab untuk program hafalan ini, saya meminta menghafalkan juz 30. Nah ketika menghafal saya menggunakan metode mendengarkan daripada menghafal dengan membaca. Apalagi saya belum mengerti mengenai makhrojul huruf atau tempat keluarnya huruf dan sifatul huruf atau sufat-sufat huruf, yang penting bisa membaca a-qur’an. Karena keterbatasan tersebut, saya lebih memilih untuk mendengarkan daripada membaca. Memang awal niat menghafalkan juz 30 itu adalah hanya sebagai syarat agar bisa mengikuti ujian kompre, tetapi ketika banyak membaca referensi, buku tentang bagaimana cara menjadi hafiz, dan ceramah-ceramah tentang bagaimana cara agar mudah menghafal al-qur’an disitu saya tersadar bahwa yang paling penting dalam menghafal itu adalah niatnya, dan saya berfikir “apa gunanya saya susah-susah menghafal tetapi nilainya hanya dapat di dunia saja? Padahal ini hanya perkara niat”. Mulai dari situ, sedikit-sedikit saya mulai mempelajari mengenai hukum-hukum bacaan dan saya belajar secara otodidak karena tidak tahu mau belajar di mana. Saya banyak mencari pelajaran-pelajaran tentang hukum bacaan melalui video – video di youtube agar saya menghafal tidak hanya sekedar meniru tetapi juga memahami bagaimana cara atau hukum-hukum bacaannya dah alhamdulillah setelah beberapa bulan berjuang menghafal, saya bisa mengikuti ujian seminar komprehensif dan bisa lulus walaupun dengan hasil yang memuaskan walaupun dengan masa studi yang bisa dibilang lama yaitu 5 tahun 5 bulan 3 hari.

Setelah lulus dan menjadi pengangguran, kebiasaan menghafal yang saya lakukan sudah menjadi kebiasaan, disitu saya terus menghafal ayat-ayat yang saya fikir yang mana yang ingin saya hafal dan ketika itu saya sempat terpikir untuk belajar al-qur’an lagi dari awal tetapi saya tidak tau di mana saya harus belajar dan pikiran itu muncul hanya sekedar terpikirkan saja, tidak ada action di dalmanya. Kemudian saya mulai mencoba untuk mencari kerja dan selama dua tahun belum ada lamaran yang saya masukkan itu diterima. Sampai pada saat teman saya menawarkan untuk bekerja di tempat dia bekerja. Dia bilang di sana lagi butuh guru matematika sekaligus guru untuk mengajar al-qur’an atau guru Tahsin. Dan alhamdulillah, ketika mencoba mendaftar di sana lamaran saya diterima dan saya ditempatkan di sekolah SMP dan menjadi guru matematika sekaligus menjadi guru al-qur’an atau guru Tahsin. Tetapi sebelum menjadi guru Tahsin, guru-guru di sana terlebih dahulu haru mendapatkan training. Selama training, di sana kami diajarkan mengenai makhrojul huruf, sifat – sifat huruf, hukum – hukum tajwid dan gorib menggunakan metode wafa dan belajar juga menggunakan nada hijaz yang notabenenya saya baru pelajar dan baru pertama kali mendapatkannya mungkin kecuali hukum-hukum tajwid. Setelah menyelesaikan buku yang diajarkan mengenai Tilawah, Tajwid dan Gorib (TTG) maka sekolah mengajukan guru-guru untuk mengikuti program yang diadakan oleh wafa Indonesia yaitu pembimbingan guru al-qur’an dan pengambilan syahadah atau tes munaqosya dan alhamdulillah dalam tes munaqosya saya mendapatkan nilai jayid jiddan. Dan alhamdulillah sekaran saya sudah 3 bulan bekerja di sekolah ini dan sudah mengajarkan al-qur’an kepada anak-anak yang ada di sekolah ini.

_
Penulis : Noval Rizky – SMPIT Bina Insan Palu

Terima Kasih Wafa

Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur telah menjadi salah satu guru Al Quran di sekolah tempat saya mengajar. Amanah ini memang tidak gampang, tetapi saya selalu yakin atas pertolongan Allah bagi siapa saja yang berbuat kebaikan. Insya Allah, amanah ini akan menjadi salah satu jalan bagi saya untuk menuju surga firdaus kelak. Aamiin.

Saya teringat akan beberapa kejadian tempo hari sebelum saya menjadi salah satu guru Al Quran di sekolah tempat saya mengajar. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba suami saya memberi kabar lewat pesan di ponsel. “Apakah kamu tertarik ingin menjadi guru kembali?” Tiba-tiba saja beliau mendadak mengajukan pertanyaan seperti itu di siang bolong. Jelas ini bukan mimpi, sebab saat itu saya sedang terjaga. “Iya, saya bersedia” Saya langsung saja menjawab tanpa pikir panjang. Sedikit cerita, dahulu di awal pernikahan kami, saya adalah seorang guru yang mengajar di salah satu sekolah swasta di kota saya. Sehari-hari saya dan suami berperan menjadi seorang guru. Itulah kegiatan kami sehari-hari. Kami sangat bangga menjadi seorang guru. Ini merupakan jalan menuju surga. Insya Allah. Iya, kami tau, penghasilan seorang guru memang tidak seberapa. Apalagi masih berstatus sebagai pegawai honorer. Ya boleh dikatakan pas-pasan. Apakah hal itu akan menjadi halangan? Jelas tidak. Selama menjalani menjadi seorang guru, kami sama sekali tak peduli dengan upah. Yang jelas, rezeki bisa datang dari arah mana saja. Dengan kata lain, Alhamdulillah, rezeki kami sangat mencukupi untuk kehidupan sehari-hari. Kami senang, dan kami bahagia menjadi seorang guru. Bagi kami, menjadi guru itu bukan hanya sekedar panggilan jiwa, tetapi itu merupakan jalan hidup kami. Inilah kami wahai dunia! Ya, kami sangat bersemangat. Bagi kami, tidak semua yang bernilai dapat dihitung dengan uang, dan tidak semua yang dapat dihitung dengan uang dapat dinilai. Kemuliaan itu dari Allah. Nilai itu keputusan Allah! Bukan dari pengakuan atau pemberian manusia. Kami sangat bersyukur menjadi salah satu guru di muka bumi ini. Seiring berjalannya waktu, Alhamdulillah, saya hamil. Pada waktu itu, melihat kondisi saya yang hamil muda dan sering mual dan muntah, maka saya dengan sadar dan penuh tanggung jawab, memutuskan untuk sejenak berhenti mengajar di sekolah. Saya fokus pada kehamilan saya. Sampai anak saya lahir pun saya masih belum bisa kembali mengajar. Kami memutuskan untuk fokus membesarkan anak saya sampai ia berumur 7 tahun. Belum genap anak pertama saya umur 4 tahun, adiknya lahir. Maka, saya pun fokus kembali membesarkan kedua anak saya. Sebenarnya, saya sama sekali tidak berhenti menjadi guru. Saya tetap menjadi seorang guru. Hanya saja, saya menjadi guru bagi kedua anak saya di rumah. Bagi saya, ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Menjadi guru itu tidak harus berada di sekolah formal. Di dalam rumah tangga, ibu pun punya peran menjadi seorang guru. Ibu sangat berperan memberi teladan kepada anak-anaknya. Mengajarkan ini dan itu dengan penuh kasih sayang hingga anak-anak tumbuh dewasa dan siap menghadapi tantangan di muka bumi ini. Alhamdulillah, setelah si kakak sudah mulai masuk kelas satu sekolah dasar, maka saya berniat kembali mengajar di sekolah formal. Kembali ke awal cerita, tiba-tiba saja suami saya menawarkan kepada saya untuk kembali mengajar di salah satu sekolah swasta di kota kami yang memang lagi membuka penerimaan untuk guru di beberapa bidang studi, salah satunya adalah bidang studi bahasa Indonesia. Akhirnya, saya membuat surat lamaran pekerjaan dan Alhamdulillah lulus setelah mengikuti serangkaian test yang diberikan. Saya diterima mengajar di sekolah tersebut. Sesuai dengan pendidikan terakhir saya yang lulusan sarjana pendidikan bahasa Indonesia, maka jelas, saya diberikan amanah untuk menjadi guru mata pelajaran bahasa Indonesia. Itu bukan masalah. Kemudian setelah itu, tiba-tiba saja saya diberikan amanah lainnya. Saya harus menjadi guru Al Quran. Apakah saya menolak? Tentu saja tidak. Saya menerimanya dengan lapang dada. Pada saat itu, saya pikir, apa salahnya menjadi guru Al Quran. Itu mudah saja. Apalagi sejak dini saya sudah bisa baca tulis Al Quran dengan baik. Saya menjawab tantangan yang diberikan sekolah kepada saya. Setelah itu, saya beserta guru-guru yang diterima di sekolah tersebut setiap paginya mengikuti kegiatan tahsin yang dibawakan langsung oleh Bapak kepala sekolah. Kemudian suatu hari, kami guru-guru diberi tahu agar mengikuti salah satu pelatihan Al Quran yang diadakan oleh Wafa Indonesia. Akhirnya, sayapun ikut dalam kegitan tersebut. Salah satu hal yang masih segar dalam ingatan saya hingga saat ini adalah perubahan total pada pola pikir saya tentang Al Quran. Sebelum mengikuti pelatihan tersebut, saya berpikir, Al Quran itu hanya cukup tahu baca atau menuliskan ayat-ayatnya saja. Tetapi, pola pikir yang demikian adalah salah besar. Saya kaget bukan main. Selama mengikuti pelatihan, justru saya merasa menjadi orang yang paling tidak tahu apa-apa tentang Al Quran. Ternyata pengetahuan saya tentang membaca Al Qur’an masih sangat rendah. Bahkan saya merasa bagaikan masih kanak-kanak yang diajari kembali cara baca Al Quran dengan baik dan benar. Cara baca saya masih sangat keliru. Alhamdulillah, setelah mengikuti pelatihan tersebut, saya jadi tahu cara membaca Al Quran dengan baik dan benar sesuai ilmu tajwid. Dan tibalah klimaks dari semua rangkaian perjalanan saya menjadi guru Qur’an yaitu dengan diajukannya nama saya sebagai salah satu guru Qur’an yang bisa ikut munaqosyah langsung oleh Wafa Indonesia.  Merupakan satu kesyukuran yang besar bagi saya yang lulus dengan predikat Jayyid Jiddan. Alhamdulillah, dengan standarisasi dari Wafa Indonesia, saya merasa semakin percaya diri untuk mengajarkan ilmu AlQur’an kepada peserta didik, bahkan kepada anak-anak dan suami di rumah dengan tidak lagi merasa was-was apakah yang saya ajarkan ini sudah benar atau keliru. Tentu tidak mudah mengajarkan Al Qur’an dari awal kepada setiap peserta didik yang hadir  dengan berbagai karakter dan latar belakang keluarga yang berbeda. Tetapi, InsyaaAllah diawali dengan niat yang benar, hati yang ikhlas, ilmu yang memadai, serta strategi pembelajaran yang sudah disiapkan, setiap hembusan ilmu yang diajarkan akan tersampaikan dengan baik kepada peserta didik. Terima kasih yang sangat besar kepada Allah SWT terhadap apa yang Dia rencanakan di hidup saya, serta kepada semua orang di Yayasan Ihsanul Amal Sulteng dan kepala SMPIT Bina Insan Palu yang sudah mempertimbangkan dan menerima saya menjadi bagian di dalamnya, sehingga saya bisa mengenal  Wafa Indonesia dengan metodenya yang InsyaaAllah mudah dipahami. Terhadap Wafa Indonesia, terimakasih sudah hadir di tengah-tengah kami yang masih sangat haus akan ilmu Al-Qur’an. Insya Allah, dengan pengetahuan yang telah saya dapatkan selama mengikuti pelatihan Wafa dan lulus munaqosyah, akan saya jadikan sebagi jalan menuju surga firdaus. Semoga Allah meridhoi jalan saya yang menjadi guru Al Quran. Insya Allah. Aamiin.

Sekian kisah perjalanan saya menjadi salah satu guru Al-Qur’an.

_
Penulis : Tetes Embun

Azzah’s Journey

Azzah merupakan anak yang besar dari keluarga sederhana, ia juga merupakan alumni dari mahasiswa fakultas Teknik dari sebuah Universitas Negeri di Kota Palu.

Ketika lulus selama setahun ia mencoba melamar pekerjaan di berbagai instansi. Namun hal itu belum membuahkan hasil, hingga ia melihat penerimaan calon guru di salah satu sekolah Islam sebagai salah satu pengajar pelajaran teknologi informasi.

Niat awal mengikuti pendaftaran tersebut hanya iseng semata, karena tidak mungkin seorang seperti dirinya lulus melamar pekerjaan disebuah sekolah Islam ditambah lagi ia tidak mempunyai hafalan Al-Qur’an sama sekali, jangankan hafalan Qur’an dalam hal membaca Al-Qur’an masih banyak salah baca dan makhroj sama sekali tidak tahu.

Tibalah saat pengumuman, alhamdulillah diterima di sekolah tersebut. Akan tetapi tantangan selanjutnya adalah ketika pembinaan guru-guru yaitu belajar makhroj huruf, sifatul huruf serta hukum-hukum bacaan sampai ke ghorib. 

Disaat guru-guru yang lain lancar tanpa kesusahan sedikitpun, namun ia merasa susah karena hal itu baru ia pelajari dan ia dapatkan saat itu juga. Saat guru lain lancar dan mudah tilawah menggunakan nada wafa, ia juga sangat kesusahan.

Dengan belajar dan terus belajar semua nya perlahan mulai membaik. Saat mulai membaik diberilah amanah dari kepala sekolah untuk mengajar siswa tahsin. Tentu saja ia terkejut dengan amanah yang diberikan, karena jika ia mengajarkan 1 huruf namun makhrojnya ternyata salah itu akan berdampak bagi siswa kedepannya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah karena telah mengajarkan hal yang salah kepada siswa.

Amanah tersebut mau tidak mau ia terima karena ketika seseorang telah diberikan amanah maka ia telah dipercayakan untuk amanah itu, dan ketika Allah telah berikan amanah kepada seseorang melewati perantara hambanya yang lain maka Allah tau bahwa ia mampu mengemban amanah tersebut.

Ketika amanah tersebut ia terima, muncullah kabar yang kurang mengenakkan yaitu proses belajar mengajar selama masa pandemi ini tetap dilakukan secara online. Jadi, ia menerima amanah sebagai guru mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi serta guru tahsin siswa.

Seorang yang bukan alumni dari jurusan keguruan, pertama kalinya menjadi seorang guru. Dan pengalaman pertama mengajarnya itu bukan berhadapan dengan siswa langsung melainkan berhadapan dengan siswa melalui perantara media zoom meeting. 

Mulailah ia mengajar tahsin kepada anak-anak lewat perantara zoom meeting. Dan hal itu bukan hal yang mudah mengajarkan makhroj huruf tidak secara langsung karena muncul berbagai macam kendala seperti permasalahan jaringan, kemudian pengucapan siswa terdengar kurang jelas karena tidak bertemu secara langsung.  

Alhamdulillah, Ketika mengajar tahsin tidak berhasil lewat zoom meeting, maka ia mencoba lewat perantara video call menggunakan aplikasi whatsapp, alhamdulillah seperti yang ia inginkan kendala tersebut satu persatu mulai Allah bantu selesaikan. 

Perlahan tapi pasti siswa mulai bagus makhrojnya, mereka mulai antusias belajar Al-Qur’an. Hal itu tentu saja bukan hasil do’a dan ikhtiarnya sendiri. Semua atas pertolongan Allah, do’a dari orangtua khususnya do’a seorang ibu, serta do’a dan ikhitar siswa beserta orangtuanya.

Kendala demi kendala dalam pembelajaran Qur’an terselesaikan. Namun, timbullah masalah lain di mata pelajaran yang ia pegang. Beberapa siswa yang ia ajar tidak memiliki ketertarikan dalam menerima pelajaran sehingga ketika pembelajaran berlangsung beberapa sibuk dengan aktivitas pribadi mereka. 

Mulailah ia melakukan intropeksi diri apakah cara penyampaian yang ia lakukan tidak menyenangkan? Apakah ia kurang tegas? Apa yang membuat siswa sibuk dengan aktivitas pribadinya hingga beberapa dari mereka tidak memperhatikan? 

Ternyata kesalahan terdapat pada dirinya, ketika ia mengajar ia tidak memberitahukan bahwa seperti ini adab ketika seorang penuntut ilmu sedang belajar agar ilmu yang diterima menjadi berkah. Karena menurut ulama Abu Zakariyah An Anbari Rahimahullah “Ilmu tanpa adab seperti kayu bakar dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh” kemudian Rasulullah pun menegaskan betapa pentingnya adab dalam hadistnya yang artinya “Kaum Mu’minin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Tirmidzi no. 1162, ia berkata: “hasan shahih”.

Kemudian ia mengubah pola mengajarnya dengan menyelingi pembelajarannya dengan beberapa video sehingga tidak membuat siswa bosan.

Alhamdulillah, ketika dijelaskan mengenai adab, siswapun perlahan mulai berubah, mereka memperhatikan ketika ia menjelaskan. Dan ketika pola mengajarnya diubah siswa menjadi lebih interaktif.

Maka, seorang muslim baik ia merupakan seorang pengajar atau bukan, hidupnya pasti akan mendapatkan berbagai macam tantangan, permasalahan, entah sedang dilanda pandemi covid-19 ataupun tidak masalah itu akan tetap ada. Karena Allah memberikan seseorang masalah itu untuk melihat apakah hambanya ketika menyelesaikan permasalahan akan mengangkat tangannya dan mengadu kepadanya atau tidak. Jika “iya” maka Allah akan mengangkat derajatnya. 

Setelah kesusahan pasti ada kemudahan, ketika Allah memberikan ujian untuk menguji hambanya, hanya Allah pula yang mampu menyelesaikan permasalahannya, hanya pada Allah yang punya solusi dari setiap permasalahan. Maka solusinya dengan memperkuat ikhtiar ditambah dengan memperbanyak berdo’a kepada Allah. 

Karena jika seorang muslim menyelesaikan permasalahan hanya berikhtiar saja tanpa berdo’a maka ia termasuk sombong karena ia merasa tidak membutuhkan bantuan Allah, namun ketika seorang muslim berdo’a tanpa berikhtiar maka tindakan yang ia lakukan menandakan bahwa ia merupakan hamba yang malas, karena ia terus menerus meminta namun tidak berusaha untuk mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan. Maka, tindakan seorang muslim jika ingin menyelesaikan permasalahan adalah berdo’a meminta kepada Allah agar ia diberikan kemudahan dan berikhtiar untuk mencari titik terang permasalahan tersebut dengan diniatkan segala usaha dan tindakannnya hanya untuk mencari ridho Allah.

_
Penulis : Azizah Rahmaniah – SMPIT Bina Insan Palu

Berjuang Bersama Al-Qur’an “Pasrah Bukan untuk Menyerah”

Ini sebuah cerita nyata pengalaman saya waktu menjadi pendidik Al-Qur’an. Saya Ali Mustofa, pemuda kelahiran Sragen, 30 Januari 1996. Saya anak no 4 dari 4 bersaudara. Sebelum menjadi guru Al-Qur’an  latar belakang saya adalah bukan anak pesantren dan ekonomi menengah kebawah. Tetapi karena sejak kecil orang tua selalu memberikan semangat untuk bisa menjadi pemuda yang cerdas, bisa berpegang teguh Al-Qur’an dan Hadist, akhirnya tergerak hati ini untuk membanggakan orang tua dalam dunia pendidikan.  Seperti sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Nekat istilah itulah yang mungkin  sejak kecil saya terapkan. Ketika dulu hendak menimba ilmu harus ke desa seberang, sejauh apapun jarak dengan rumah pasti saya lalui dengan kakak perempuan dan teman-teman. Meskipun harus berjalan kaki, kepanasan, kehujanan tidak pernah menyurutkan rasa semangat untuk belajar. 

Hari demi hari saya lalui untuk pergi mengaji, sampai akhirnya ditahun 2006 saat usia 10 tahun saya harus pindah tempat mengaji dekat rumah. Rasa syukur karena ternyata Allah memberikan kemudahan untuk bisa belajar Al-Qur’an lebih dekat. Di Taman Pendidikan Al-qur’an (TPA) itulah Allah berikan amanah untuk saya bisa mengkhatamkan Juz’amma bil ghoib dan  Al-quran bin-nadhor. Alhamdulillah sampai akhirnya tahun 2008, diberikan amanah oleh guru saya untuk membantu mengajar santri-santrinya dimadrasah tersebut. Kegiatan rutin yang saya lakukan waktu itu setiap pagi pergi sekolah dan sorenya membantu mengajar  di madrasah ataua TPA. Dari situlah saya belajar menjadi seorang pendidik. Waktu itu ketika mengajar di TPA masih belum terstandart pembelajarannya. Dalam penyampaian masih monoton dan kurang bervasi. Pada akhirnya capaian ataupun target santri belum sesuai harapan. Karean rencana pembelajaran yang kurang terstruktur, proses penyampaian, proses penilian dan evalusai akan menjadi penghambat dan semua itu sangat penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Selain itu tingkat kesadaran dari orang tuapun sangat berpengaruh. Ketika orang tua tidak ikut berpartisipasi dalam pendampingan dirumah akan menjadi penghambat tercapainya target santri. Apalagi waktu itu banyak orang tua yang berpikiran “yang penting anak ngaji”. Pada akhirnya hanya beberapa anak yang sesuai target.

Setelah 6  tahun berjuang bersama di madrasah tersebut, tepatnya tahun 2014 saya lulus sekolah jenjang Menengah Kejuruan. Disinilah pilihan antara bekerja atau melanjutkan sekolah di universitas ada di depan mata. Sampai akhirnya saya dapat tawaran dari seseorang untuk menjadi guru  di sekolah swasta. Tawaran itulah yang akhirnya saya pilih untuk masa depan saya. Dengan bermodalkan pernah mengajar di TPA dan ijazah SMK akhirnnya saya melamar di SD tersebut. Beberapa test saya lalui dan akhirnya saya diterima. 

Ketika saat itu baru berusia 18 tahun. Saya tekatkan untuk menjadi guru Al-Qur’an di SDIT Luqman Al Hakim. Sekolah swasta di daerah Sukodono, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah.  Tahun 2014 inilah cerita menjadi seorang pendidik saya mulai. Dengan pendampingan dan bimbingan  ustadz-ustadzah sayapun mulai menerapkan pembelajaran yang lebh baik. Dengan Kegiatan Belajar Mengajar didampingi salah satun ustadzah, akhirnya kami berdua mengajar Iqra.  Sebelum mengenal wafa, kurikulum Qur’an  di SDIT Luqman Al Hakim hampir sama dengan metode yang diterapkan di madrasah saya sebelumnya. Sehingga belum terstandart dari aspek perencanaan, proses, penilaian maupun evaluasi. 

Pada Juli tahun 2015 saya dan rekan mengajar dipanggil bapak Kepala sekolah, bahwasanya ada seminar guru mitra wafa di TKIT Az Zahra Sragen selama tiga hari. Tanpa pikir panjang kamipun langsung bersedia dengan kesempatan tersebut.  Kesan hari pertama mengenal metode wafa sangat antusias dan dalam hati berkata “ini cocok diterapkan disekolah saya”. Apalagi ketika itu langsung belajar bersama Ustadz Mashuda yang sampai sekarang audio murotal wafa setiap hari kami putar disekolahan. Dalam penyampaian yang jelas dan mudah diterima semakin menambah untuk mengikuti seminar di hari berikutnya. Selama tiga hari tersebut kami diajarkan untuk menyampaiakan cara menegenal makharijul huruf dengan kartu dan dengan nada wafa beserta gerakannya. Tanpa saya sadari bahwa cara tersebut membuuat otak kanan anak berfikir. Dalam seminar tesrsebut saya dan rekan mengajar di test baca wafa langsung agar terstandart. Meskipun hasilnya predikat Cukup Baik (Level 3), tidak menyurutkan semangat kami untuk terus belajar.

Singkat cerita dengan berbagai pertimbangan dan persetujuan di tahun 2018 sekolah kami menggunakan metode wafa dengan menjadi salah satu lembaga mitra wafa. Dengan berbagai pelatihan, seminar serta munaqosyah akhinya kamipun terstandart sebagai guru wafa. Dalam mendidik waktu itu sangat mudah dsan terstruktur. Karean sebelum kami mengajar kami buat terlebih dulu rancangan pembelajaran dengan metode TANDUR yaitu Tumbuhkan Alami Namai Demonstrasikan Ulangi Rayakan. Kemudian dari segi proses dan evalusai lebih terarah karena kami dibekali dengan contoh format yang sesuai dan terstandart. Baik dalam pembelajaran sebelum pandemi atau saat pandemi. Wafa sangan berperan penting dalam proses KBM kami.

Akhirnya setelah 3 tahun berjalan, tepatnmya tahun 2021 lembaga kami memutuskan untuk mempunyai program unggulan kelas akselerasi tahfidz dengan target lulus hafal minimal 3 Juz.  Dengan metode wafa saat ini yang membekali buku dan audio wafa juz 26-30 baik per ayat maupun setengah halaman, sangat memudahkan kami dan orang tua dalam mendampingi santri baik disekolah maupun dirumah. 

Terakhir harapan kami pembelajaran di masa yang akan datang terus untuk di upgrade. Baik dari segi program maupun ustadz-ustadzah. sealalu siap dalam kondisi apapun. Semoga cerita singkat ini bisa memberikan motivasi dan semnagat untuk pembaca.

_
Penulis : Ali Mustofa – SDIT Luqman Al Hakim Sukodono Sragen