Get in Touch With Wafa

Selama hampir 2 tahun ini dunia pendidikan sedang dirundung duka karena pandemi. Ya, pandemi telah membuat wajah pendidikan benar—benar berubah. Perubahan wajah ini juga terjadi di sekolah kami, SDIT Al Uswah Banyuwangi. Selain karena pandemi, sekolah kami mengalami banyak sekali perubahan juga disebabkan oleh konflik yang terjadi di internal yayasan. Di rentang waktu antara tahun 2019 – 2020 banyak sekali guru dan kepala sekolah  yang mengundurkan diri karena konflik ini, masih ditambah lagi dengan dipindahnya sebagian murid mengikuti para guru dan kepala sekolah yang mengundurkan diri ke sekolah baru yang mereka dirikan. 

Di tengah badai yang hebat ini, yayasan memutuskan untuk mengganti metode pembelajaran Al Qur’an dari Ummi ke Wafa. Tentu hal ini sangat meresahkan bukan saja wali murid, tetapi juga guru. Kami pesimis akan keberhasilan pembelajaran Al Qur’an metode Wafa ini, karena pembelajaran di sekolah masih dilaksanakan secara daring. Yayasan bukan tidak mengetahui adanya keresahan ini, oleh karena itu yayasan segera mengadakan pelatihan pembelajaran Al Qur’an metode Wafa secara luring pada bulan Juli 2020, sekaligus sebagai persiapan untuk pembelajaran Al Qur’an di tahun pelajaran 2020/2021. Pelatihan ini kami beri judul “Get in Touch with Wafa”, karena ini memang pertama kalinya kami berkenalan dengan Wafa, dan akan mencoba menyukainya.

Memang benarlah kata pepatah, “Tak kenal maka tak sayang”. Sebelum mengikuti pelatihan kami pesimis akan keberhasilan metode baru ini. Tetapi setelah bertemu dengan para trainer Wafa dan mengikuti pelatihannya, kami mulai senang dengan metode baru ini.  Bahkan sebagian dari kami langsung mengunduh aplikasinya dari ‘Play Store’ untuk lebih mendalami metodenya. Kami mulai optimis untuk menggunakan metode ini dalam pembelajaran bersama siswa meskipun masih dengan moda daring. Bersyukur lagi karena ternyata berdasarkan hasil tashih 30 guru peserta pelatihan dari SDIT Al Uswah, 6 di antaranya sudah siap munaqosyah, dan yang lain berkisar di level 3 sampai 6. 6 orang yang sudah siap munaqosyah ini bisa diberdayakan untuk membimbing teman-teman yang lain.

Setelah pelatihan selesai maka dimulailah perjuangan kami yang sesungguhnya untuk mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anak di sekolah. Diawali dengan pelaksanaan ‘Qur’anic Parenting Online’ untuk memeperkenalkan metode baru ini kepada wali murid di semua sekolah dalam satu yayasan. Di pertemuan itu banyak wali murid yang menanyakan alasan perubahan metode pembelajaran Al Qur’an dari Ummi menjadi Wafa, serta menyampaikan pesimismenya atas keberhasilan metode ini karena pembelajaran masih dilakukan secara daring. Semuanya dijawab dengan meyakinkan oleh pengurus yayasan, bahwa kita bisa.

Karena pandemi masih belum usai dan sekolah masih dilaksanakan dengan moda daring, maka kami di sekolah harus membuat formula yang tepat agar siswa bisa mudah memahaminya. Dimulai dengan konversi jilid, yaitu penyesuaian pencapaian dari Ummi ke Wafa. Proses ini sempat menimbulkan sedikit masalah di kalangan wali murid, karena mereka menganggap putra putrinya mengalami penurunan jilid. Kami jelaskan bahwa mereka tidak turun jilid tetapi menyesuaikan, karena metode Ummi mempunyai 6 jilid ditambah ghorib dan tajwid, sedangkan Wafa mempunyai 5 jilid ditambah tajwid dan ghorib. Kami yakinkan wali murid bahwa meskipun mungkin jilidnya lebih rendah tetapi kemampuan anak-anak tidak menurun dan insya Allah akan lebih cepat sampai ke Al Qur’an.

Selain meyakinkan siswa dan orangtuanya, kami juga berusaha memberikan pelayanan yang prima. Guru-guru yang telah mencapai level siap munaqosyah diberdayakan untuk memberikan pembinaan tahsin. Ada 6 kelompok kecil guru berdasarkan levelnya, yaitu 3 kelompok level 3, 2 kelompok level 4, dan 1 kelompok level 5. Pembinaan ini dilaksanakan satu kali dalam sepekan. Selain memperbaiki bacaan Al Qur’an para guru juga menambah dan menjaga hafalannya. Hal ini dilakukan guru demi memantaskan diri di depan siswa, agar kami juga melakukan apa yang dilakukan oleh siswa. Hal ini kami yakini sebagai salah satu faktor kesuksesan sebuah proses pembelajaran.

Pembelajaran harian dilaksanakan dalam kelompok – kelompok kecil, yang dimulai dengan pembuatan grup Whatsapp. Materi pembelajaran dikirimkan melalui pesan suara di grup tersebut. Jika pencapaian halamannya tidak sama, maka kami memberikan keterangan di bawahnya berdasarkan halaman. Setelah guru mengirim materi, maka siswa diminta menyetorkan rekamannya mengaji di rumah. Di sini masalah mulai timbul. Para orang tua banyak yang kesulitan mendampingi anaknya mengaji dari rumah, biasanya masalah berasal dari orang tua yang bekerja dan yang merasa tidak bisa mengaji. Untuk yang mengalami masalah kami memberikan kesempatan kepada siswa untuk datang dan mengaji ke sekolah, minimal sekali dalam sepekan. Kami hanya memberikan pelayanan tatap muka untuk siswa yang bermasalah sekali dalam sepekan saja, karena di hari lain ada jadwal tes kenaikan jilid bagi siswa yang telah menyelesaikan tahsinnya. Ya, tes kenaikan jilid kami laksanakan secara tatap muka, agar hasilnya lebih bisa dipertanggungjawabkan. Meski cuma sekali, hal ini sudah lebih melegakan dan mulai menguraikan beberapa masalah yang terjadi di lapangan. 

Alhamdulillah, dengan kerjasama yang solid dan keyakinan akan pertolongan Allah, pembelajaran Al Qur’an di SDIT Al Uswah Banyuwangi dengan menggunakan metode Wafa bisa berjalan dengan baik. Meskipun dengan moda daring, banyak di antara siswa kami yang lebih cepat menyelesaikan jilidnya dan naik jilid melebihi target waktu yang telah ditentukan. Demikian juga dengan guru-gurunya. Dalam tashih yang dilaksanakan saat pelatihan terakhir, 90% guru telah naik level dari sebelumnya. Semua karena program tahsin pekanan di sekolah.

Pandemi ini memang lama dan tak tahu kapan berakhir, tetapi tidak boleh membuat pesimis dan menyurutkan langkah kita. Dari pengalaman bersama Wafa ini kami bisa mengambil hikmah bahwa, kesungguhan dan keyakinan akan pertolongan Allah adalah salah satu kunci sukses dalam proses pembelajaran. Apalagi yang kita ajarkan adalah kalamullah, panglima segala ilmu. Dan yang paling penting adalah, kita sebagai gurunya juga menjalani proses yang sama dengan siswa kita, yaitu terus belajar dan menghafal serta merutinkan tilawah Al Qur’an. Hal ini yang membuat proses pembelajaran itu berjalan baik dengan sendirinya.

_
Penulis : Dyna Rukmi HS – SDIT Al Uswah Banyuwangi

Kisah Perjalananku Menyampaikan Ayat-Ayat CintaMu

Bismillah…

Kumulai menulis dari sini

Kisah ini menjadi satu diantara Ribuan bahkan Miliaran  guru Al-Qur’an di dunia ini untuk menyampaikan Ayat -Ayat Cinta yang penuh makna dari Yang Maha Agung Rabb Pencipta Alam Semesta.

Pertengahan Tahun 2003…

Sepulangnya aku dari Pondok Pesantren Tholabudhin Miftahul Ulum Bondowoso yang terletak di salah satu Propinsi Jawa Timur demi sebuah cita cita untuk menuntut ilmu,kini aku Kembali di tempat kelahiran disalah satu pelosok desa yang jauh dari keramayan dan hiruk pikuk bising kendaraan seperti dikota,bahkan lampu listrikpun terbatas .Lampu pelita ( sebutan untuk lampu minyak sebagai salah satu alat penerang tradisional di kampung) Adalah handalan masyarakat disana .Aktifitas malam sangatlah terbatas, dan disinalah  awal perjuanganku menjadi seorang guru.Oleh Pak Ulul kepala Sekolah SD di kampungku,Beliaulah yang memintaku untuk mengajar Agama sekaligus guru ngaji namun tidak disekolah formal akan tetapi di Madrasah, saat itu bangunan yang dijadikan sebagai Madrasah tempat aku mengajar adalah Balai Desa yang sering kosong karena hanya sesekali digunakan untuk pertemuan Desa.Aku terima dengan senang hati. Kumulai mengajar anak anak dikampungku dari kelas 1 sampai kelas 6 untuk mengajar Agama,sedangkan mengajar ngaji aku hanya menerima bagi anak yang mau saja datang dirumah dikarenakan keterbatasan waktu dan tenaga.

Setiap bulannya Pak Ulul kerumah untuk mengantarkan amplom atau sekedar bertukar pikiran tentang kesulitan dan apapun kebutuhanku selama mengajar. Tak banyak yang aku keluhkan.Hanya keterbatasan buku bacaan dan reperensi untuk mengajar.Sedangkan gaji yang beliau sodorkan tak pernah aku komplen berapapun itu aku terima dengan senang hati

Menjadi guru Agama dan guru ngaji bagi anak anak dikampungku aku jalani lebih kurang 1 Tahun lamanya.Senang rasanya bisa berbagi ilmu dengan mereka yang selalu setia menanti kedatanganku diMadrasah, bahkan Ketika aku terlambat datang, merekapun tak segan menyusul dirumahku seolah tak sabar ingin bersama.

Tak terasa waktu berlalu,disela mengajar terpikirkan olehku akan keterbatasan ilmu yang di miliki. Tiga tahun dipondok seperti hanya menumpang tidur saja, itu perumpamaan yang dibuat bagi santri yang mondok sebentar sepertiku.Akan tetapi bisa menyampaikan walau satu ayat saja serasa seribu ayat yang disampaikan jika itu bermanfaat untuk mencerdaskan anak anak dikampung.Melihat mereka bisa menghafal Asma’ul Husna,sifat wajib Allah, melafadzkan doa doa harian dengan nada yang sederhana yang aku dapatkan juga dari pondok, itu sudah cukup membuat senang dan bahagia terlebih lagi bacaan sholat beserta gerakan sholat yang langsung dipraktekkan tatkala kumandang Adzan terdengar dari Surau Baiturrahman,anak anak seolah tak sabar ingin cepat cepat mengakhiri belajar diMadrasah dan bersegera menuju surau untuk sholat berjamaah.Masyaallah…. rindu masa itu.

Ayat ayat cintapun tak luput menjadi saksi perjalananku menjadi Guru, tanpa kusadari ada satu dari anak didikku yang telah selesai mengaji dan menghatamkan 30 juz Al Qur’an.Saat itu Ia duduk dikelas tiga SD,dan satu lagi yang pernah kuajarkan mengaji murid yang terasa spesial dihati dia adalah Mualaf,seorang ibu rumah tangga dari suku laut ( salah satu suku asli didaerahku).Dia adalah tetanggaku,rumahnya berhadapan dengan rumahku hanya dipisahkan oleh jalan kampung.Mengajarnya terasa seperti kembali mengajar anak yang baru mengenal huruf,namun pelan pelan kuajarkan kepadanya dari alif hingga ia mengenal 28 huruf hijaiyyah.Aku sampaikan kepadanya kalimat motivasi untuk orang orang yang ingin belajar AlQur’an dan bisa membacanya, bahwasanya Rasulullah bersabda :’’ siapa saja membaca satu huruf dari Al Qur’an, maka baginya satu kebaikan,dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.’’ (H.R.At Tarmidzi ).Semangatnya untuk belajar tampak dikala waktu mengaji dimalam hari,tak peduli dengan lampu pelita yang terkadang sesekali padam Ketika ditiup angin ia terus mengeja huruf demi huruf yang aku contohkan kepadanya, namun  belum sempat aku merangkaikan ayat ayat cinta itu kepadanya, Aku memutuskan untuk melanjutkan Pendidikanku, aku ingin melanjutkan hafalan Al Qur’anku yang sewaktu dipondok dulu belum terlaksana dan menempuh Pendidikan formal dijenjang yang lebih tinggi lagi menjadi seorang sarjana.

Kuputuskan juga jalan ini, kutinggalkan anak didikku dikampung dengan berat hati ,tahun 2005, aku pergi merantau lagi untuk menuntut ilmu agama yang aku cari,terutama ilmu Al Qur’an.Pergi ke ibukota Propinsi Kepri ,Tanjung pinang kota gurindam julukannya.Ya Allah perjalananku dan perjuanganku masih Panjang. Alhamdulillah walaupun perjalanan ini banyak batu krikil yang harus dilewati, Aku bisa menyelesaikan pendidikanku ke jenjang S1 dengan gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam, akan tetapi ada yang kurang  bagiku,… menjadi Hafidzoh,itu yang belum aku dapatkan.Proses itu terus berjalan hingga sekarang mesti tak muda lagi.

  Menjadi pendidik mungkin sudah mendarah daging di tubuhku,Akhir 2010 kuputuskan untuk mengajar disalah satu SD Swasta bergengsi di kota ini,dengan berbekal  ijazah S1 Pendidikan Agama Islam aku diterima disekolah itu dan diterima menjadi guru AL Qur’an.Pada tahun ke tiga aku mengajar, Aku diamanahkan menjadi Walikelas sekaligus mengajar Al-Qur’an.Tahun itu terasa Allah tambahkan amanah dan tanggung jawab yang lebih lagi, karena anak didik yang aku ajar adalah mereka yang sebenarnya tidak lolos sewaktu tes penerimaan siswa baru, karena yang diterima setiap tahunnya hanya tiga kelas, namun ditahun ini berbeda,ambisi dan semangat orang tua untuk memasukkan anaknya di SDIT Al MADINAH saat itu begitu luarbiasanya. Akhirnya dengan beberapa pertimbangan, dibukalah kelas tambahan  lagi dan itulah kelas yang aku diamanahkan.Jika dikelas lain jumlah siswa dan siswinya hampir berimbang, namun tidak dikelas yang ku pegang, ada enam belas murid laki laki dan hanya enam murid perempuan .Terbayangkan….???  betapa hebohnya kelas ini diisi dengan dominan murid laki laki.Ya Allah dengan izinmu kujalani ini, aku tidak berpikir dan khawatir dengan capayan akademis mereka,namun aku berusaha untuk mendidik mereka dengan cinta yang kupunya ,itu saja hasilnya kupasrahkan kepadaNYA sang Rabb yang maha  A’lim.

Sampai pada akhirnya ditahun 2017,WAFA hadir sebagai salah satu metode Al Qur’an belajar otak kanan yang menyenangkan.Disinilah Aku dan beberapa sahabat guru Qur’an lainnya ikut dalam pelatihan Metode Wafa sehingga ilmu yang kami dapatkan dari pelatihan tersebut dapat kami implementasikan kepada anak didik sebagai salah satu metode mengajar Al Qur’an yang lebih menarik ,mudah dipahami bahkan menyenangkan bagi anak didik.

.Banyak pembekalan ilmu yang aku dapatkan, mulai dari model Pendidikan Al Qur’an dengan istilah 5T yang meliputi : Tahsin Tilawah, Tahfidz, Terjemah, Tafhim dan Tafsir .Kemudian istilah 7M yang merupakan pendekatan dalam system pembelajaran Al Qur’an yang meliputi : Memetakan ,Memperbaiki bacaan, Menstandarisasi, Mendampingi, Memperbaiki, Menilai, dan Mengukuhkan. Kemudian Quantum Teaching yang diajarkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif.yang dalam Wafa distilahkan dengan TANDUR yang merupakan akronim dari Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan. Macam macam ice breaking dipraktekkan untuk membuat suasana  belajar menjadi hidup dan menyenangkan ,ditambah lagi lantunan nada hijazz yang dipakai 3 nada yang mudah dipelajari menjadi pelengkap materi yang membuatku  bersemangat mempelajarinya.

Setelah semua ilmu yang diberikan oleh Trainer Wafa selama kurang lebih tiga hari, kini kusadari begitu banyak kekurangan dan keterbatasan ilmu yang aku miliki.’’SEMANGAT’’ itu salah satu kalimat Motivasi yang datang dari energi dalam diri. Aku harus terus belajar ,menggali sedalam mungkin Ilmu Al Qur’an agar bisa kubaca, kuhafal, kufahami dan kutadaburi setiap ayat ayat cinta yang akan kuajarkan kepada anak didikku dan semata mata mencari keridhoanMu.Setelah menjalani beberapa tes untuk pemetaan guru Wafa, Masing masing dari kami mendapatkan nilai dengan kemampuan masing masing.Meskipun Aku tak mendapatkan nilai sempurna, menyelesaikan ujian ini saja rasanya sudah senang,walau masih ada beberapa kesalahan.Hasil itu bagiku tidak mempengaruhi semangat belajar dan semangat untuk terus mengajarkan ilmu Al Qur’an kepada anak didik.’’ALLAHU AKBAR’’ sekali lagi kobaran semangat dari dalam diri.

Awal mengajar dengan metode WAFA, Aku ditempatkan dikelas satu, dan sebelum metode ini hadir, aku telahpun mengajar dikelas satu, berbagai cara aku coba untuk memudahkan anak didikku memahami huruf hijaiyyah yang belum ia kenal.Mulai dari mencari gambar yang menarik di internet hingga mencocokkannya dengan huruf alfabet dan huruf hijaiyyah yang akan aku ajarkan.aku cari gambar apel dan kupadukan dengan huruf A dan Huruf Alif pada belakang gambar, begutu seterusnya hingga huruf ya’.Setiap harinya ku ajarkan beberapa huruf yang ia mampu mengingatnya dan memahaminya, mungkin butuh beberapa hari untuk ia memahami empat sampai lima huruf hijaiyyah, kertas kertas yang ku buat, kutempelkan didinding kelas sehingga nampak dan bahkan sering dilihatnya Ketika datang, istirahat maupun pulang sekolah, itu aku lakukan demi untuk anak didikku paham dengan apa yang aku ajarkan.

Alhamdulillah setelah Wafa hadir, ternyata sangat membantuku, terutama mengajar huruf hijaiyah dikelas satu.Wafa punya kartu kartu huruf hijaiyyah yang full callor dengan warna yang sangat menarik..Selain kartu,ada buku wafa yang juga tak kalah menarik isinya, ada gambar yang berisikan sirah  dan kisah bermakna dan penuh hikmah, serta materi tajwid sampai pelajaran ghoribpun lengkap.

Pada tahun 2019,memasuki tahun ke dua mengajar dengan metode WAFA, Aku diamanahkan untuk mengajar dikelas tiga, disini kutemukan beberapa dari anak didikku yang masih sangat butuh bimbinganku, dari hasil pemetaaan yang ku dapatkan, mereka yang berada digrade c memiliki masing masing permasalahan, akan tetapi motivasi untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an tak pernah jemu kuulang ulang.Aku sampaikan kepada mereka bahwasanya ‘’keutamaan orang yang membaca Al Qur’an itu akan dilipatgandakan pahalanya, diangkat drajatnya, mendapatkan ketenangan hati, mendapatkan pertolongan Allah, mendapatkan syafaat dihari kiamat, rumahnya dihadiri Malaikat, dan akan ditempatkan Bersama Malaikat.Semoga apa yang kusampaikan akan melekat dihati mereka.

Hampir satu tahun hingga akhir semester aku lakukan itu,dan aku ingat sekali dikala itu aku sedang mengandung anak ke tiga, dengan usia kehamilan yang semakin besar.Aku tau betul mengajar Al-Qur’an dengan posisi duduk lesehan dilantai selama jam Al-Qur’an tidaklah mudah, terkadang membuat pinggang meringis ngilu dan terasa sakit, kram dikaki bahkan diperut akan terasa,namun tetap kujalani lillah demi mencari Ridhomu lewat huruf, ayat, bahkan surat cinta yang kuajarkan kepada mereka..Dikala semester 2 hampir berakhir dan masih ada 2 siswaku yang belum tuntas.Kala itu,kondisi kehamilanku sedikit bermasalah,Aku mengalami pendarahan hebat sehingga harus segera dilarikan dirumah sakit. 

Pada hari itu juga Dokter memutuskan aku harus segera dioperasi dan bayinya harus segera dilahirkan.Ya Allah…kuatkan aku ya Allah dan kondisi bayi ini,….sebenarnya banyak rasa yang hadir saat dokter menyatakan itu,takut, gelisah, khawatir dan macam macam rasa yang lainnya.Ahamdulillah prosesnya berjalan lancar dengan segala ikhtiar,bayiku lahir normal .aku dan bayiku sehat walafiat, ini kebesaranMu,  ayat ayat cinta menjadi semangat dan penguatku.ya Allah engkau maha sempurna dengan segala penciptaanMu.

Teringat olehku ketika aku harus cuti melahirkan, ada dua anak didikku yang belum  tuntas bacaannya. Namun yang ku ingat dari mereka, adap, kesopanan mereka kepadaku saat belajar hingga izin dan berpamitan pulang.Bagiku menanamkan adab dan akhlak itu yang lebih utama, setelah itu baru pemahaman ilmu akan mudah masuk, karena Adab dalam menuntut ilmu adalah sebab yang menolong berkahnya mendapatkan ilmu, sebagaimana Abu Zakariya An Anbari rahimahullah mengatakan’’ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh’’Meskipun belum banyak yang mereka dapatkan dan fahami, ilmu adap telahpun mereka dapatkan, …semoga dikelas berikutnya Allah mudahkan kalian dalam memahami ayat ayat cinta ini.

Tahun 2020,bulan September, tepat 10 tahun aku mengajar di sekolah ini, dan tahun ini adalah tahun ke 4 sekolahku bermitra dengan Wafa, ditahun ini pula aku dan beberapa sahabat Al Qur’an lainnya diajukan untuk mengikuti tes sertifikasi guru Al Qur’an,namun sebelum aku dan yang lainnya benar benar dites,kami mendapatkan pembekalan ilmu selama 2 hari..Bagiku tes sertivikasi guru Al Qur’an seperti akan mengikuti ujian sekripsi waktu dikampus dulu,.Semua materi sudahpun kupelajari,terkadang aku suka menyendiri ,berbicara sendiri dengan lantang dan sekedar oret oret dibuku mengingat ingat kembali materi yang sudah kupelajari,seolah olah ujian tertulis.itulah caraku memahami dan mempelajari materi dengan auditorial.,Aku rasa trik ini lebih evektif untuk mempertajam daya ingatku dan menjadi lebih focus ,ditambah lagi diskusi bersama membuat aku lebih memahaminya lagi.

 Adapun yang pertama kali kulakukan adalah meminta do’a restu dari orang tua terutama ibu.kenapa aku lakukan itu….? Aku ingat lagi hadits Rasulullah tentang’’ ridho Allah itu tergantung ridho orang tua dan murka Allah tergantung kepada murka kedua orang tua.’’ (H.R Tirmidzi ).Do’a orang tua sangat berpengaruh dalam kunci kesuksesan anak anaknya.Bahkan karena salah satu do’a yang mustajab dan tidak diragukan lagi kedahsyatannya adalah do’a orang tua kepada anaknya.Aku bukanlah sehebat guru yang lain,mental berbicaraku didepan audiens sangatlah minim sekali.Oleh karenanya aku sangat yakin doa ortu terutama ibu,senjataku yang paling ampuh.

Tibalah dihari,dimana tes sertifikasi itu dilaksanakan.namun tes ini berbeda dari yang biasanya.karena masih dimasa Pandemi,seluruh dunia terkena imbasnya,terlebih dunia pendidkanpun ikut merasakan pengaruh perubahan besar pada pelaksanaan Pendidikan,semua serba digital,belajar hanya bisa lewat online,cara virtuallah yang diambil,demi menyampaikan ilmu yang bermanfaat untuk seluruh anak didik.

Kembali pada pelaksanaan tes sertivikasi yang dilakuakn via video call.Jam didinding kelas menunjukkan pukul 08.50 wib,bitu berarti 10 menit lagi waktunya, aku tidak lagi disibukkan dengan materi yang akan diuji, namun kusibukkan dengan beristigfar memohon ampun atas segala kesalahan dan kehilafan yang pernah aku buat, 99 Asma’ul Husna kulapadzkan dari bibir ini, karena Allah akan mengabulkan hambanya yang berdoa dengan menyebut Asma’ul husna seperti dalam surah Al A’raf ayat 180 yang Artinya :

‘’Hanya milik ALLAH Asma’ul Husna,maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut Asma’ul Husna itu dan tinggalkanlah orang orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama namaNya.Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.’’

…..dan Akhirnya tiba juga waktu itu,satu chat muncul di whashapku,

‘’Assalamu’alaikum ustadzah,,apakah sudah siap sekarang ‘’

Aku menjawab chat beliau :

‘’waalaikumsalam, insyaAllah sudaha siap ustadz’’

Namun keringat sudah mulai bercucuran disekujur tubuhku,detak jantungku berdegup kencang, akhirnya waktu yang kutunggu datang juga.Panggilan video di handphonepku telah berbunyi.’’bismillah ku angkat’’salam kuawali, begitupun ustadz yang akan menguji. Namun salam ramahnya dan aura teduh orang sholeh yang ada pada wajahnya membuat aku sedikit rileks,, dan ketika soalan demi soalan beliau lontarkan,Alhamdulillah bisa kujawab tanpa ragu, hanya ada saja kekurangaan dari kualitas jawabannya.Alhamdulillah tes hari ini telahpun selesai.Kuucapkan banyak banyak terimakasih,syukurku padamu Ya Allah, terimakasih doanya kepadamu Mak ,ditanganmu kucium bau surga, terimakasih suamiku jembatan surgaku,dan ustadz ustadzah terimakasih telah memberikan Ilmu yang bermanfaat untuk amal jariyahku semuanya kelak menjadi cinta pengikat surgaku.

Sampai dihari ini,bulan Agustus 2021,Pandemi covid-19 masih belum pergi dari negri ini, termasuk kota Tanjung Pinang sebagai ibukota propinsi Kepri tempat sekolahku untuk membagi ilmu bersama anak didik. Bahkan proses untuk menyampaikan ilmu pun harus dipikirkan dengan cara yang seepektif mungkin, karena covid-19 bukanlah menjadi penghalang.Tak bisa bertemu langsung saat di sekolah, lewat video call dan Zoom meetingpun menjadi handalan, bahkan menjadi yutuber dadakanpun dilakoni oleh guru.Apa yang tidak mungkin, tidak pada zamannya lagi untuk merasa susah dalam menyampaikan ilmu, hanya saja membuat anak didik mengerti dan mengamalkan ilmu yang diberikan itulah ikhtiar yang terus dijalani seorang guru.

Saat ini ada program baru disekolahku untuk Al-Qur’an yaitu Murajaah harian secara virtual setiap pagi dan sholat dhuha.Rasanya aku menemukan energi itu Kembali. Kini bacaan Al-Qur’an yang biasanya ramai dan riuh dikala pagi hari disekolah, kini Al-Qur’an itu juga riuh diruang zoom,begitupun dengan sholat dhuha.Betapa senangnya hatiku, mereka begitu antusias melaksanakannya, walaupun terkadang lelah kurasa, sakit dan perih mata ini hampir seharian berada dilayar leptop dan Handphone, kering tenggorokan, hampir tanpa jeda waktu yang kami berikan untuk mengajar prifat dengan video call, namun kukatakan dalam diri dan kepada mereka,’’nak semua ini kita lakukan dan niatkan karena Allah.Semoga Allah terima segala amal perbuatan  kita, aamiin 

Zaman boleh berganti, yang dulunya mengajar menggunakan penerangan Lampu pelita,kemudian cahaya listrik bahkan yang secanggih sekarangpun menggunakan layar ponsel dan leptoppun tak menyurutkan semangat untuk menyampaikana ayat ayat cintaMu yang dari dulu hingga akhir kehidupan ini Al Qur’anlah menjadi pegangan, petunjuk bahkan cahaya penerang bagi umat sedunia.

Mungkin masih jauh proses perjalanan ini, demi untuk mempelajari dan memaknai ayat ayat cintaMu yang akan diberikan kepada Anak didik.Namun lewat goresan pena ini, dapat kuluahkan segala cerita cintaku kepada mereka. Akan selalu kuuntaikan do’a untuk kalian generasi Qur’ani  ’’semoga Allah berikan kesuksesan Dunia dan Akhirat untuk kalian’’.Ayat ayat Cinta dari Rabbku yang pernah kuajarkan semoga selalu menjadi pegangan dan amal jariyah menuju surgaNya.

Diakhir tulisan ini ku ingin menutup dengan do’a khotmil Qur’an yang sering kulantunkan Bersama mereka Anak didikku dikala mengaji.

Ya Allah …

‘’ jadikanlah Al-Qur’an sebagai pemberi Rahmat,imam,cahaya,dan petunjuk. Pengingat Ketika lupa,pemberi pemahaman atas kebodohan,dan pemberi rezki sepanjang malam dan siang Ketika membacanya,dan jadikan Al-Qur’an sebagai hujjah penjelas bagi kehidupan yang fana ini.’’

_
Penulis : Arumaliana – SDIT Al Madinah Tanjung Pinang

Bahagia Bersama Wafa

Rasulullah SAW bersabda :

“ Bacalah oleh kalian al-qur’an, karena ia (al-qur’an) akan datang pada hari kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.” (HR. Muslim)

Hadits inilah yang menjadi motivasi saya untuk selalu bersemangat belajar dan mengajarkan al-qur’an. MasyaAllah… sungguh luar biasa ayat al-qur’an yang kita baca dan yang diajarkan akan menjadi penolong dihari kiamat kelak.

Maka dari itu jadikanlah al-qur’an sebagai renungan dan bacaan rutin setiap hari sampai akhir hayat.

Alhamdulillah pada tahun 2009 mendaftar di Yayasan Islam Al-Amin Kapuas saya diterima sebagai pengajar al-qur’an. Yang saat itu metode belajar qur’annya  belum memakai WAFA. Sekian tahun berjalan, walaupun masih banyak kendala. Siswa dipanggil satu persatu secara bergantian sedangkan yang lain menunggu giliran. Memakai metode ini, menurut saya kurang maksimal karena siswa yang menunggu giliran lama kelamaan akan bosan dan metode yang diterapkan terkesan monoton. Akhirnya siswa menjadi ramai dan kurang terkontrol.

Alhamdulillah ditahun 2017 Yayasan Islam Al-Amin memutuskan untuk menerapkan pembelajaran al-qur’an dengan metode WAFA, karena metode ini dilakukan secara  klasikal dan privat (kombinasi). Materi pembelajarannya disajikan secara menarik dan sistematis sehingga menjadikan peserta didik senang dalam belajar alqur’an. Metode ini sangat cocok bagi guru qur’an karena pembelajaran identik dengan menggunakan otak kanan. 

Sebelum mengajar WAFA, guru wajib membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Al-Qur’an yang  meliputi P1 (Pembukaan), P2 (Pengalaman), P3 (Pengajaran), P4 (Penilaian), dan P5 (Penutupan). Membuat RPP ini bertujuan agar pembelajaran al-qur’an lebih terarah dan juga banyak pengalaman yang kita dapatkan. 

Kegiatan P1 (Pembukaan), guru harus dapat menjadikan suasana kelas lebih menarik dan menyenangkan, karena tahapan ini merupakan tahapan yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan tahap-tahap berikutnya yaitu dengan cara bertanya kabar, membuat pertanyaan yang menantang siswa, memberi motivasi, melihat video, bercerita, bernyanyi, tampilan asing dan bermain tebak-tebakan.

Kegiatan P2 (Pengalaman), guru memberikan rangsangan kepada siswa untuk menggerakkan rasa ingin tahunya sebelum mereka memperoleh materi yang dipelajari. Dengan demikian, siswa akan mengalami kegiatan nyata yang akan memperkuat daya ingat materi yang diberikan. Adapun strategi yang digunakan bisa dengan cara simulasi, peraga langsung oleh siswa dan nasyid atau cerita analogis.

Kegiatan P3 (Pengajaran), guru memberikan materi pelajaran secara bertahap dan dilakukan secara diulang-ulang sehingga pada proses ini guru al-qur’an harus benar-benar mengerahkan kemampuannya agar para siswa tetap terjaga semangatnya dan dapat menguasai materi yang diberikan. Strateginya bisa dengan baca tiru dengan kartu peraga, peraga besar dan buku tilawah. Guru membaca kemudian siswa menirukan, satu siswa membaca, siswa yang lain menirukan dan satu kelompok membaca yang lain menirukan.

Kegiatan P4 (Penilaian), guru mengambil nilai dengan cara demontrasi, baca simak klasikal (satu siswa membaca sedangkan guru dan siswa yang lain menyimak), baca simak privat (satu siswa membaca, guru menyimak sedangkan siswa yang lain menulis atau muroja’ah hafalan).

Kegiatan P5 (penutup), guru akan mereview materi, memberikan penghargaan dan pujian. Ada yang istimewa dalam kegiatan penutup ini yaitu ada motivasi pendek yang bisa dijadikan oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Motivasi ini walaupun pendek tapi mempunyai kesan yang sangat bermakna sehingga tidak hanya siswa saja yang akan termotivasi membaca Al-Qur’an tetapi juga seluruh keluarganya.

Sebagai pengajar qur’an saya dikenal guru yang penyabar. Katanya sih, dapat menghadapi siswa yang susah dalam pengucapan membaca dan menghafal al-qur’an. Bagi saya menghadapi siswa yang bermasalah mendidiknya harus dengan cinta. Biasanya ketika menghadapi siswa yang seperti ini, saya selalu mengkondisikan diri saya seperti siswa ketika masih sekolah dulu sehingga dapat mengadakan pendekatan, mencari permasalahan beserta solusinya.

Pengajar qur’an adalah pekerjaan yang sangat mulia, karena sesungguhnya mengajarkan kalam Allah SWT yaitu kitab suci al-qur’an ganjaran yang didapat sangat menggiurkan yaitu pahala yang tidak berujung. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

“ Sebaik-baik diantara kalian adalah mereka yang mengajarkan al-qur’an dan mengajarkannya (HR. Bukhari)”.

Walaupun dalam kenyataannya, menjadi pengajar qur’an tidaklah mudah karena banyak tantangan yang dihadapi dan profesi ini tidak dapat dilakukan oleh setiap orang. Selain dituntut bisa mengaji dan baca tulis qur’an, juga harus telaten terutama ketika menghadapi siswa yang bermasalah.

Namun sebagai pengajar qur’an saya memiliki kebahagian tersendiri dalam membimbing siswa, yang membuat saya selalu bersemangat dan pantang menyerah. Di antaranya yaitu :

  1. Bahagia ketika mendo’akan siswa

     Setiap siswa pasti memiliki kelebihan dan kekurangan dalam mengikuti pembelajaran, ada yang lambat dan ada yang cepat memahami. Ketika ada siswa kesusahan membaca dan menghafal qur’an. Saat itulah dalam hati berdo’a (Ya Allah mudahkanlah anak ini si Ahmad membaca dan menghafal qur’an). Saat itu InsyaAllah ada keajaiban datang memudahkan lidah anak tersebut, yang pada akhirnya bisa membaca. Ini yang membuat saya sangat bahagia, karena do’a saya panjatkan dikabulkan oleh Allah SWT. Do’a adalah cara paling ampuh yang dibutuhkan setiap manusia agar Allah SWT selalu  membantu dan memudahkan dalam urusan apapun tidak terkecuali kegiatan pembelajaran.

  1. Bahagia karena ada muroja’ah hafalan

     Muroja’ah adalah mengulang hafalan suroh yang pernah dihafal. Kegiatan ini menurut saya sangat bermanfa’at. Semakin sering muroja’ah maka hafalan akan semakin kuat. Alhamdulillah di Lembaga kami ada program muroja’ah yaitu sebelum breafing guru, rapat mingguan, rapat khusus dengan tim qur’an, dan muroja’ah dengan siswa setiap kali mengajar. Sungguh sangat bersyukur sekali bergabung denga para penghafal qur’an. Bagi saya, muroja’ah adalah pelecut diri untuk menguatkan hafalan.

  1. Suka tilawah dengan nada wafa

     Membaca qur’an harus dengan baik dan seindah mungkin. Jika mentalaqi siswa dengan suara pas-pasan sangat memalukan. Ini adalah masalah saya sebelum memakai metode wafa. Alhamdulillah dengan memakai metode wafa, lama kelamaan nada tilawah saya lumayan baik didengar dari sebelumnya. Terpenting harus sering latihan dan konsisten tilawah dengan menerapkan nada wafa. Semakin sering kita menggunakan nada wafa maka akan terbiasa. Menurut saya nada wafa adalah nada termudah yang saya temukan.

  1. Bahagia karena sering mengikuti pelatihan wafa

     Guru yang profesional sangat diperlukan untuk mendidik siswa. Pelatihan adalah salah satu cara terbaik untuk menambah wawasan guru, karena guru yang terus belajar dan berkarya akan mencetak generasi pembelajar sepanjang hayat. Selain itu, mendidik harus menyesuaikan zaman yang dialami peserta didiknya. Apalagi perkembangan teknologi telah merubah dunia pembelajaran kita begitu cepat sehingga kita harus meningkatkan kualitas diri dalam mendidik.

     Metode wafa sangat menyenangkan dengan metodenya yang bervariasi, juga para pengajar Qur’an sangat diperhatikan perkembangannya. Pelatihannya bervariatif dengan adanya buku wafa yang berbeda sesuai tingkatan kemampuan siswa, metode menghafal yang menyenangkan, kelengkapan administrasi, sampai dengan munaqasah guru. Kita dapat memilih pelatihan yang kita kehendaki. Sungguh pelayanan yang sangat prima sehingga membuat saya tidak bosan mengikuti pelatihan yang diadakan wafa.

      Selain kebahagiaan, tentunya juga ada beberapa kendala dalam mengajar. Apalagi di musim pandemi covid-19 yang melanda Indonesia. Hal ini juga salah satu penyebab utama dalam belajar qur’an di Lembaga kami. Semangat dan keaktifkan siswa menjadi menurun. Pembelajaran daring (dalam jaringan) saat ini menjadi trend di dunia pendidikan. Maka dari itu, guru harus siap menghadapi semua permasalahan. Guru harus pandai/smart mengajar secara daring dengan menguasai metode dan aplikasi agar siswa mudah memahami dan tertarik dengan materi yang disampaikan.

     Bagi kelas bawah (kelas 1, 2 dan 3) yang orang tuanya sibuk bekerja, akhirnya siswa tidak mengikuti pembelajaran qur’an kecuali siswa tersebut dititipkan ke salah satu anggota keluarga yang dapat memahami teknologi penggunaan hp android. Permasalahan ini menjadi salah satu kendala besar dalam pembelajaran qur’an, yakni harus ada kerjasama yang baik anatara guru dan orangtua siswa.

    Tetapi walaupun banyak kendala dalam proses pemebelajaran daring , kami tetap semangat berjuang agar anak Indonesia tetap semangat belajar qur’an. Dengan metode wafa, kami sangat terbantu untuk tetap istiqamah membumikan al-qur’an.

    Wafa merupakan metode pembelajaran al-qur’an yang sangat tepat untuk anak-anak Indonesia maupun dunia. Dengan metode otak kanan, materi pembelajaran disajikan secara menarik dan sistematis sehingga menjadikan peserta didik semangat dalam belajar qur’an.

    Kami sangat senang dengan metode wafa dan ingin mengaji lebih baik dan sempurna lagi. Dengan menggunakan metode wafa banyak hal yang kami pelajari dan caranya pun sangat menyenangkan sehingga sangat mudah dimengerti. Sungguh, kami bahagia bersama wafa. Terimakasih wafa.

_
Penulis : Marfu’ah – SIT Al Amin Kapuas Kalteng

Secercah Cahaya

Hujan sore ini terasa begitu menyejukkan hati, seperti tanah yang kering dibasahi air hujan. Menandakan musim hujan telah tiba, maka dari itu kita semua harus “jaga iman jaga imun”, dilingkaran majelis Al-Qur’an bersama santri sholeh dan sholehah. Bersama-sama kami melantunkan do’a “Allahumma shoyyiban naafi’an”. Yang artinya “ya Allah, jadikan hujan ini hujan yang bermanfaat”, kupandangi wajah santri yang memakai seragam di rumah Qur’ani ini duduk teratur dengan senyum yang merekah dibibir mereka.

 Mengingatkanku diawal aku menginjakkan kaki bergabung menjadi salah satu pengajar di RQIM (Rumah Qur’ani Imam Muslim) tepatnya pada tahun 2018 selama menjalani rutinitasku menjadi guru di lembaga ini banyak hal yang kudapatkan, mengajar memang sudah menjadi gaya hidupku, terlebih pada saat dibangku kuliah aku mengambil jurusan pendidikan disalah satu universitas swasta di kota Makassar atau yang sering disebut “kota Daeng”, pada saat selesai kuliah aku langsung mengabdikan diri di Rumah Qur’ani ini.

Masih sangat jelas diingatan, ketika para santri dengan wajah malu-malu bergabung dalam kelas, berlari-lari layaknya anak-anak yang belum mengetahui aturan dalam kelas yang aku bina, berlarian saling mengejar satu sama lain, saling mendahului ingin menjadi yang pertama mengaji dengan sabar dan berharap ridho Allah, kumulai pengajian hari itu dengan mengucapkan bismillahirrahmanirahim (Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyanyang) dan memulai membimbing santriku. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dalam mendidik generasi Qur’ani. 

Mereka memiliki semangat luar biasa dalam menuntut ilmu, kuajarkan kepada mereka satu demi satu huruf hijaiyyah sehingga mereka mampu mengenal semua huruf hijaiyyah, ada satu hadist yang menjadi penyemangat dalam mendidik santriku yaitu hadist riwayat At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud Radhiyallau Anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ailaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an, maka baginya satu pahala, dan satu pahala itu dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala, aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf”. Dan sering juga aku mendengar mereka mengeluh dengan kalimat “susah ustadzah” itulah kata yang sering lolos dari lisan mereka yang kemudian aku tanggapi dengan seulas senyum yang menghiasi bibir, sebagai salah satu dorongan motivasi untuk mereka sehingga senyum itu pula yang tertular ke santri kemudian melanjutkan kembali membaca Al-Qur’annya. 

 Ada pepatah yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang berasal dari hati maka akan sampai ke hati, itu pula yang menjadi slogan bagiku untuk senantiasa bersemangat dalam mendidik anak-anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah, anak adalah asset yang sangat berharga yang harus dididik sejak dini, sebagaimana  didalam hadist bahwa doa anak sholeh akan diijabah oleh Allah.

Selain membaca Al-qur’an di rumah qur’ani juga mengajarkan membaca dan menghafal hadits-hadist serta doa-doa sehari-hari, yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengetahui berbagai doa dan hadist sebagai pengajar hal tersebut semakin memudahkan dalam mengarahkan mereka menjadi lebih baik, kadang aku terseyum sendiri ketika melihat mereka berinteraksi antara satu sama lain ketika waktu istirahat, tetiba terdengar suara “laa taqdob walakal jannah” kata-kata itu hampir setiap hari dilontarkan anak-anak ketika ada diantara mereka yang ingin marah, sehingga temannya tersebut tidak jadi marah, ada rasa bahagia melihat perubahan positif dari mereka. Masya Allah.

RQIM juga mengajarkan santri untuk menjaga sholat 5 waktu karena sholat adalah tiang agama maka dari itu salah satu persyaratan yang diajukan kepada santri untuk membawa perlengkapan sholat, agar dapat mengerjakan sholat secara berjama’ah, ketika waktu sholat telah masuk ditandai dengan suara adzan dari masjid terdekat dari RQIM. Dengan antusias yang tinggi para santri laki-laki bergegas ke musholah dengan terlebih dahulu mengambil whudu dengan antri, sedangkan santri putri akan sholat berjama’ah di dalam kelas dengan salah satu ustazah menjadi imam sholat.        

Alhamdulillah Pada tahun 2020 RQIM pembangunan rumah Qur’an telah rampung dibangun sehingga jarak antara RQIM lama dengan RQIM sekarang sekitar 2 Km itu artinya tempat mengaji semakin jauh, namun tidak menyurutkan semangat para orangtua untuk mengantarkan putra putri mereka dalam menuntut ilmu agama, tak jarang aku mendapati para orangtua yang harus merelakan waktu istirahat mereka setelah bekerja dari pagi sampai siang demi melihat anak-anak mereka menjadi anak yang sholeh, karena waktu belajar di RQIM pukul 14.30 WITA.

Perkembangan ananda setiap hari semakin terlihat mulai dari bacaan al-qur’an yang semakin fasih, hafalan hadist, hafalan doa harian, serta semangat menambah hafalan surah demi surah, berkat kerjasama antara pihak RQIM yang menggunakan metode WAFA dengan gerakan dan nada hijaz memudahkan santri mengingat dan memahami setiap materi yang diberikan, dengan orangtua santri bersinergi membangun keluarga yang qur’ani. Dimasa pandemi PPKM seperti sekarang ini RQIM melakukan tatap muka dengan tetap memperhatikan protocol kesehatan, dengan mencuci tangan, memakai masker, dan pertemuan dilakukan 2 sesi, yaitu sesi pertama pagi pukul 08.00 WITA ada dua kelas, sedangkan sesi kedua pukul 14.30 WITA ada tiga kelas.

_
Penulis : Rabiah – Rumah Qur’ani Imam Muslim

Bahagia Menjadi Guru Ngaji

Saya terlahir dari keluarga yang sangat minim pemahaman agamanya. Namun orang tua saya selalu menyuruh saya untuk sholat di masjid dan mengaji  di sana. Karena orang tua saya juga tidak bisa membaca Al Quran. Saya pun mulai belajar mengaji bersama teman- teman yang lain  di masjid kampung. Kala itu masih menggunakan buku turutan. Ada seorang tetangga saya yang dengan sabar menyimak bacaan saya. Namanya Pak Tukiran.  Alhamdulillah dari beliaulah saya bisa mengenal huruf hijaiyyah. Semenjak itulah saya ingin belajar ilmu tajwid. Namun saya bingung dengan siapa saya harus belajar?

Sewaktu kecil sering kali saya ditanya oleh orang tua, guru, maupun teman  mengenai cita-cita saya kalau sudah besar nanti.  Spontan kala itu saya menjawab  ingin menjadi guru. Entah guru apa belum jelas. Yang penting menjadi guru. Mungkin dibenak saya waktu itu,  guru adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan.  

 Seiring  berjalannya waktu, setelah lulus SMK saya pun tidak terbersit untuk melanjutkan kuliah karena faktor ekonomi. Saya lebih  memilih bekerja di sebuah perusahaan di Pulau Bintan.

Namun baru dapat setahun ternyata perusahaannya gulung tikar. Akhirnya saya pun mencari lowongan pekerjaan di Pulau Batam. Dan alhamdulillah saya pun diterima bekerja di sebuah perusaan elektronik di Kota Batam.

Setelah setengah tahun saya bekerja disana saya merasakan hidup ini hanya sekedar mengisi rutinitas pergi pagi pulang kerja malam. Begitulah seterusnya dan waktupun berlalu tanpa ada makna haqiqi.  Seperti robot yang ada hanya dikejar target dan target. Mulai dari situlah saya merenung panjang, seperti inikah hidup ini?

Bermula dari sinilah saya mulai mencari tau kegiatan apa saja yang bisa dilakukan setelah pulang kerja. Saya pun dipertemukan dengan seorang teman dari Jawa Timur yang mengajak saya untuk bergabung di kajian taklim pagi dan sore disebuah pondok pesantren. Sejak saat itulah saya  bisa  mengenal ajaran agama islam dan bacaan Al Qur’an  menggunakan metode Qiraaty di sana.

Tak terasa 5 tahun sudah saya di perantauan dan habislah masa kontrak kerja, sayapun pulang ke kampung halaman pada tahun 2004. Sesampaianya di kampung halaman, saya  bingung mau kerja apa ya? Masak mau nganggur dan menjadi beban orang tua lagi? Ditengah kegundahan itulah saya diajak tetangga saya untuk membantu mengajar di TPA.  Berbekal sedikit ilmu Quran yang saya miliki, bismillah saya terima tawaran itu.

Pertama kali saya mengajar TPA adek-adek, saya grogi banget dan masih malu-malu. Namun berbekal pede, lama kelamaan terbiasa juga. Sambil terus belajar dari partner guru ngaji yang lain. Saya pun ditawari untuk menjadi  guru ngaji di sebuah sekolah dasar swasta. Saya terima saja tawaran itu.  Sebelum masuk saya dites dulu bacaan Qurannya oleh  wakil kepala sekolah. Dan alhamdulillah saya diterima. Semenjak itulah, pagi saya ngajar di sekolah dan sore harinya saya ngajar di TPA.

Setelah bergabung di SDiT inilah saya bertemu dengan salah satu ustadzah yang dulu kuliah di PGPQ Raudhatul Mujawwidin Semarang. Beliau bercerita banyak tentang PGPQ Raudhatul Mujawwidin dan metode Qiraaty. Saya pun tertarik untuk meniru jejak beliau kuliah di PGPQ Raudhatul Mujawwiddin karena saya memang saat itu belum mempunyai syahadah. Setahun sudah saya menimba ilmu di sana. Masya Allah sungguh luar biasa ilmu yang saya dapat pelajari dari sana. Yakni ilmu tajwid yang semasa kecil dahulu saya impikan. Terimakasih ya Allah engkau telah menuntun diri ini untuk mengenal  indahnya agama islam dan ilmu membaca Al Quran.

Setelah lulus dari PGPQ  Raudhatul Mujawwidin saya mengabdikan diri mengamalkan ilmu tajwid ini di SDIT Ar Raihan dan TPA Al Jihad sampai dengan saat ini.  Di SDIT Ar Raihan dahulu juga menggunakan metode Qiraaty dan semenjak enam tahun terakhir ini menggunakan metode Wafa dari Surabaya. Metode Wafa ini menurut saya adalah metode paket lengkap  dan sangat menyenangkan dalam pembelajaran Al Quran. Di setiap jilidnya ada gambar menarik  dan cerita/kisah berhikmahnya. Yang tentu saja membuat anak-anak semakin senang  dalam belajar Al Qura’an. Apalagi ketika tilawah langsung dipraktekkan menggunakan irama  hijjaz yang sangat indah  dan menyentuh hati. Ada juga pembimbingan dan pembinaan langsung dari pengelola WAFA kepada seluruh mitra WAFA. 

Pada bulan Juli  tahun ini SDIT Ar Raihan mengirimkan 19 ustadz/ ustadzahnya untuk mengikuti kegiatan munaqosyah guru yang diadakan oleh TIM WAFA Surabaya. Alhamdulillah 100% dinyatakan lulus dengan hasil yang menggembirakan.  Meskipun secara online namun kegiatan munaqosyah ini disambut dengan antusias oleh ustadz/ustadzah dari SDIT Ar Raihan. Mudah-mudahan ilmu yang kami dapatkan dapat menjadi  bekal untuk senantiasa lebih dekat dengan Al Qur’an dan bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih-lebih bisa mengajarkannya kepada orang lain. Allahuma Amiin.

 Agar ilmu yang kami peroleh tidak hilang, saya pun di rumah membuka program  “ Omah Ngaji”, untuk membantu siapa saja yang ingin belajar membaca Al Quran. Setiap bakda magrib sampai isyak dan setiap hari ahad siang sampai sore. Alhamdulillah sudah ada beberapa santri yang ikut belajar di sana. Adapun yang menjadi motivasi saya untuk menjadi seorang guru ngaji adalah sebuah hadist yang berbunyi : “Khoirukum man ta’allamal Qur’ana wa ‘allamahu.“ Yang artinya  :“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.”

 

Tak terasa sudah  kurang lebih 17  tahun saya menjalani profesi ini. Yang saya rasakan adalah kebahagiaan dan ketenangan hati. Meskipun profesi guru ngaji dimata orang umum tidaklah  menjanjikan.  Namun saya menyukai profesi ini karena panggilan Allah.  Bismillah semoga Allah meridhoi dan memudahkan jalan ini untuk kami para guru- guru ngaji.  Aamin ya Robbal ‘alamin.

_
Penulis : Puryanti – SDIT Ar Raihan Bantul DIY

Pengalaman Saya Mengajar Al-Qur’an

Sejak usia dini, anak-anak umat muslim telah diajarkan mengaji bukan hanya mengenal ayat-ayat suci di dalam Al-Qur’an, mengaji juga bertujuan agar anak terbentuk menjadi pribadidengan akhlak terpuji. Mengaji juga cara untuk mendalami ajaran agama, mengenal Islam lebih dekat sekaligus membentuk karekter seseorang agar sesuai dengan ajaran-ajaran agama yang ada. Belajar mengaji di Indonesia adalah hal yang wajar dan bisa ditemukan di berbagai mesjid, rumah warga serta pesantren maupun sekolah. Saya Mita Ramadhanty sebagai guru Al-Qur’an, sebelum saya mengajar di lembaga SIT Ihsanul Amal yang berada di Alabio Kalimantan Selatan banyak hal yang saya rasakan selama mengajar Al-Qur’an seperti saat melaksanakan praktek mengajar di Sekolah MIN 22 HSU yang berada di Teluk daun Kalimantan Selatan di sana saya mengajar mata pelajaran Al-Qur’an Hadist dan pada saat itu anak-anak ditugaskan menghafal surah Al-Kautsar, jadi saya berinisitaif untuk membangun suasa belajar lebih aktifdan semangat sehingga memudahkan anak untuk menghafal yantu saya membuat alat peraga atau media pembelajaran seperti menjodohkan disana anak-anak diperintahkan untuk mencocokkan ayat dan artinya kemudian di prensentasikan di depat kelas kemudia anak-nak membaca ayat beserta artinya bersama-bersama dan hal itu membuat anank lebih bersemangat membaca dan menghafalnya. kemudian melaksanakan KKN, Kami ditugaskan di desa Lok Hamawang di sana saya dan teman-teman saya berancana ingin mengajarkan anak-anak mengajari ngaji setiap senin-kamis pada pukul 4 sore, dan pada saat itu anak-anak sangat bersemangat untuk belajar mengaji disana kami juga mengajak anak untuk menghafal Surah-surah pendek, dan anak-anak juga semangat menghafalnya, tidak sampai disitu juga kami juga mengajak anak-anak untuk shalat berjamaah kemudian dzikir bersama, baca yasin dan doa bersama dengan niat agar anak-anak terbiasa melaksanakan amal ibadah, kemudian diakhiri dengan makan bersama, hal itu menimbulkan respon positif baik anak-anak maupun orang tuanya dan meraka sangat semangat dalam mengikuti kegiatan tersebut.

Pendemi covid-19 yang merebak di sluruh indonesia membuat banyak dampak yang sangat merugikan bagi masyarakat di Indonesia seperti pada pendidikan yang ada di Indonesia akibat pendemi covid-19 ini membuat pembelajaran agak kurang berjalan dengan efektif dibandingkan sebelumnya karena pembelajaran yang dilaksanakan kurang memuaskan bagi peserta didik misal seperti pembelajaran online atau daring, karena pendemi covid-19 masih menyebar hingga sekarah, maka terpaksa pemerintah maharuskan tiap sekolah melaksanakan pembelajaran secara online, begitupun di tempat kerja saya, pertama kali saya masuk mengajar disana bertepatan dengan pendemi covid-19 yang mengharuskan pembelajaran disana dilakukan secara online atau daring, karena saya pertama kali melaksanakan pembelajaran online atau daring di sekolah maka agak membuat saya sedikit kesusahan pada saat itu, tapi saya tidak menyerah dengat hal itu, saya berusaha keras untuk membiasakan melaksanakan pembelajaran secara online, semakin terbiasa membuat saya tidak kesulitan lagi melaksanakannya, dan banyak hal yang saya pelajari pada saat pelaksanaan pembelajaran online atau daring tersebut dan memeng berbeda dengan pembelajaran tatap muka yang pernah saya lakukan, pada saat itu para guru Al-qur’an termasuk saya melaksanakan pembelajaran online atau daring dengan beberapa mata pelajaran seperti WAFA, tahfizh Al-Qur’an, Hadits, dan do’a dan juga praktik ibadak dan semua mata pelajaran tersebut dilaksanakan dengan online atau daring, agar pembelajaran tidak terasa jenuh maka kami para membuat video pembelajaran, juga melaksanakan pembelajaran WAFA lewat pembelajaran secara virtual misal lewat zoom atau videocall, dengan tujuan untuk mempermudah anak murid lebih mudah memahami pembelajaran dan mengetahui bacaan mana yang benar dan salah, dan juga hal ini memberi respon baik pada anak murid karena secara langsung mereka dapat bertemu dengan teman sekelasnya yang dimana selama pandemi mereka dibatasi berdiam dirumah saja sehingga membuat mereka tidak dapat bertemu dan berkenalan dengannya, dan juga membuat anak murid dan guru lebih dekat dan membuat anak murid menjadi nyaman dengan pembelajaran yang kita sampaikan walaupun lewat online tapi itu tidak membatasi kita untuk memjalin silaturahmi baik dengan peserta didik ataupun orang tua, sebab hal yang sangat penting dijaga pada pembelajaran online atau daring ini yaitu tetap menjalin komunikasi pada orang tua ataupun peserta didik, dan satiap pemberian tugas selalu memberi semangat atau pesan yang baik untuk anak agar anak lebih semangat dalam melaksanakan tuganya, dan setiap anak mengumpulkan tugas saya selalu memberi respon yang positif agar anak lebih semangat belajarnya, dan juga membuat anak murid senang dengan balasan apa yang sudah mereka kerjakan, karena mereka merasa dihargai dengan apa yang mereka kerjakan. Jangan jadikan pendemi covid-19 ini sebagai penghalang untuk kita menjalin komunikasi dengan orang lain karena banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menjalin komunikasi, dan kita sebagai seorang guru, dimana guru adalah pekerjaan yang mulia maka kita harus menjaga hal tersebut dengan memberikan pembelajaran semaksimal mungkin kepada anak murid dimanapun dan rintangan apapun, karena segala rintangan yang kita jalani akan dibalas dengan kebahagian hati karena kita melakukannya secara ikhlas.

_
Penulis : Mita Ramadhanty – SIT Ihsanul Amal

Keberhasilan Murid

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla walaa quwwata illabillahil itulah do’a yang selalu dipanjatkan Ibu Rahma ketika keluar dari rumah. Ia bergegas menghampiri kendaraan roda duanya untuk berangkat menuju sekolah tercintanya, sekolah Islam Terpadu Ihsanul Amal. Sudah hampir enam tahun ia mengabdikan dirinya di sana, cinta yang begitu dalam sudah tertaut di hatinya untuk Ihsanul Amal. Banyak pelajaran berharga yang ia dapatkan di sana, berbagai ilmu yang didapatkan, khususnya ilmu tentang keterampilan mengajar yang belum pernah ia dapatkan dibangku kuliah.

Bismillahi majriha wa mursaha, Bu Rahma mulai menjalankan kendaraan roda duanya. Dingin udara pagi menyelinap masuk ke pori-pori sendinya walaupun ia sudah mengenakan jaket kesayangannya. Jaket warna biru yang berlambangkan logo sekolah. Ia senang dengan jaket yang ia kenakan. Apalagi jaketnya berwarna biru muda, warna favorit Ibu Rahma.

Tepat pukul 08.00 pagi Bu Rahma sampai di sekolah. Jarak dari rumah dan sekolahnya kurang lebih menempuh perjalanan sekitar 35 menit. Lumayan jauh, namun  semangatnya untuk mengajar anak-anak tak pernah pudar, walaupun kadang hujan deras mengguyur bumi ketika ia berangkat ke sekolah. Ia bahagia karena diberi kesempatan untuk bisa berbagi dan mendidik anak-anak tercinta di sana.

Mentari pagi mulai menampakkan senyumnya, bersinar cerah, menandakan masih ada semangat pejuang walaupun tanpa kehadiran anak-anak saat ini. Suasana sekolah yang biasanya ramai kini berubah menjadi sunyi sepi tak ada lagi keramaian. Canda tawa anak-anak yang menyenangkan telah hilang, keseruan bermain mereka tidak Bu Rahma dengar lagi karena datangnya virus corona yang melanda dunia ini sehingga menyebabkan semuanya berubah. Anak-anak yang dulunya belajar di sekolah kita harus belajar di rumah dengan pembelajaran daring yang sangat terbatas untuk komunikasi.

Walaupun demikian, Ibu Rahma menyadari bahwa setiap musibah yang Allah berikan pasti ada banyak hikmah yang tersembunyi dibalik semua itu. “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya,….” 

Begitu halnya dengan corona, sebuah virus yang bisa mematikan manusia. Namun, Ibu Rahma sadar dengan adanya corona akan membuat ia semakin yakin akan kekuasaan Allah swt. Allah lah yang berkuasa atas kematian, kehidupan, dan hancurnya sebuah Negara. Dengan adanya corona juga mengajarkan ia agar tidak sombong dan lebih mendekatkan diri kepada Allah pemilik segala sesuatu.

Pukul 08.20 pagi, Ibu Rahma sudah bersiap untuk melaksanakan pembelajaran Al-Qur’an. Pembelajaran Al-Qur’an kini diadakan secara online karena belum memungkinkan untuk menghadirkan anak-anaknya di sekolah. Pembelajaran Al-Qur’an dilaksanakan via zoom walaupun kadang pembelajarannya kurang efektif karena kendala jaringan dan sebagainya. Walaupun pembelajaran ini sangat terbatas namun bisa sekedar melepas rasa rindu Ibu Rahma kepada anak didiknya.  Dan ia berharap anak-anak akan merasa bahagia.

Untung anak didiknya sudah mengenal Ibu Rahma sebelumnya saat di kelas 4 dan 5 jadi, keakraban diantara mereka sudah terjalin saat kini berada di kelas 6. Sudah dua tahun ini Ibu Rahma diamanahi mengajar Al-Qur’an pada jenjang kelas 6. 

Pukul 08.25, Ibu Rahma sudah membuka zoom meeting untuk anak-anak tercintanya. Lima menit lebih awal untuk mencek kesiapan anak-anak sebelum mulai belajar. Satu, dua anak sudah ada yang bergabung pada pembelajaran online via zoom.

“Assalamu’alaikum Dimas”. Sapa Bu Rahma  sambil tersenyum bahagia karena bisa melihat wajah muridnya walau hanya dari kotak kecil dari Hp Androidnya.

“Wa’alaikumussalam Bu.” Jawabnya Dimas agak malu-malu.

“Sudah sarapan pagi ananda Dimas?” 

“Sudah Bu, sarapan ayam goreng katanya dengan wajah senang”

“Alhamdulillah, Dimas sudah dikasih makanan enak oleh Allah” kata Bu Rahma

Dimas tersenyum senang dari kejauhan.

“Selamat bergabung juga ananda Raihan, gimana kabarnya nak?”

“Sehat bu”  Jawabnya.

“Sudah sarapan juga ananda Raihan?” Tanya Bu Rahma.

“Sudah Bu, sarapan telur dadar, saya sendiri bu yang masak” jelasnya.

‘Masya Allah, hebat ananda Raihan sudah bisa masak sendiri” Puji bu Rahma sambil mengacungkan dua jempolnya.

Setelah Bu Rahma menyapa anak didiknya satu persatu dan mengabsen pada lembar kehadiran, ada satu anak yang tidak hadir, yaitu ananda Nisa.  Ibu Rahma pun menanyakan kepada teman-temannya yang sudah hadir di zoom.

“Apakah ada yang tahu, ada apa dengan Nisa tidak hadir belajar online hari ini ?” Tanya ibu Rahma.

“Tidak tahu Bu” Jawab mereka bersahut-sahutan di media

“Barangkali Nisa sebelumnya ada mengirim pesan di whatsapp kepada teman-teman?” 

“Tidak ada Bu” Jawab Toni.

“Ya sudah sambil menunggu Nisa gabung kita mulai saja yaa pembelajaran Al-Qur’annya, mungkin nanti Ananda Nisa akan bergabung” kata Ibu Rahma.

“Setuju” Jawab anak-anak serentak

Ibu Rahma pun mempersilahkan salah satu siswa memimpin do’a mau belajar. 

“Saya Bu” Jawab Dimas sambil mengangkat tangan.

“Silahkan Dimas” kata Ibu Rahma mempersilahkan

Semua siswa membaca do’a mau belajar dengan khusuk walaupun tempat mereka yang berbeda-beda. Ada yang di kamar, ruang tamu, dan ada juga yang di teras rumah. Walaupun demikian, mereka belajar sangat antusias karena bisa bertemu teman-teman, saling menyapa lewat media sosial. Apalagi Ibu Rahma memulai pembelajaran dengan teki-teki yang membuat anak didiknya semakin antusias. Kemudian dilanjutkan pembelajaran tilawah Al Qur’an dan belajar buku tajwid dengan metode baca tiru, setelah Ibu Rahma mencontohkan kemudian ditirukan oleh anak didiknya.

Setelah pembelajaran selesai, Ibu Rahma mengingatkan anak didiknya  agar mereka  terus semakin giat belajar dan membaca Al-Qur’an.”Barang siapa yang membaca Al-Qur’an ketika di dunia maka nanti Al-Qur’an akan datang di akhirat sebagai pembela kepada pembacanya.” Kata Ibu Rahma.

Ibu Rahma melampaikan tangan kepada anak didiknya sambil mengucapkan salam kepada mereka.

“Sampai jumpa besok ya, semoga kita semuanya selalu sehat” Kata Ibu Rahma.

“Aamiin” Jawab anak-anak.

Ibu Rahma pun menutup zoom meetingnya dan ia segera mengirimkan pesan melalui whatsaps kepada orang tua Nisa. Ia menanyakan apa yang menyebabkan Nisa tidak ikut belajar hari ini.

Orang tuanyapun menyampaikan bahwa ananda Nisa akhir-akhir ini kecanduan bermain game online sehingga ia susah sekali disuruh untuk belajar mengaji dan salatnya pun juga sering bermalas-malasan.

“Kami sudah mengingatkan beberapa kali kepada anak kami namun sering perkataan kami tidak didengarkan.”Jelas  orang tuanya.

“Inggeh bunda, terima kasih atas informasi yang diberikan. Apakah Nisa sudah punya HP sendiri bunda?” Tanya Bu Rahma.

“Justru itu Bu Ustadzah, setelah dibelikan HP Nisa sering lupa waktu.” Kata Bundanya lagi.

“Boleh minta nomor HP Nisa Bunda.” Pinta Bu Rahma kepada Bunda Nisa.

Bunda Nisa pun dengan senang hati memberi nomor HP anaknya kepada Ibu Rahma dan ia berharap Ibu Rahma bisa memberikan nasehat agar anaknya bisa berubah.

Setelah mendapat informasi dari Bunda Ananda Nisa, Ibu Rahma segera menghubungi Ananda Ananda Nisa lewat video call dan menanyakan kabarnya dan apa yang menyebabkan ia tidak ikut belajar wafa hari ini.

“Saya lupa tadi bu.” Jawab Ananda Nisa dari seberang sana 

“Apa yang menyebabkan sehingga kamu bisa lupa nak?” Tanya Bu Rahma

“Tadi  main game Bu.”Jawab Nisa agak malu-malu.

“Asyik ya nak bermain gamenya?”Tanya Bu Rahma

“Nisa hanya senyum-senyum dan ia mengakui bahwa bermain game sangat asyik.

“Ananda Nisa, Ibu juga suka loo main game, tapi game Al-Qur’an dan menurut Ibu game Al-Qur’an ini sangat banyak manfaatnya, salah satunya bisa memperkuat hafalan dan yang lebih hebat dari itu nanti Al-Qur’an akan menjadi penolong buat Ibu dan keluarga.” Cerita Bu Rahma.

“Benarkah Bu?” Tanya Nisa penasaran dan ia kelihatannya tertarik dengan game Al-Qur’an yang diceritakan Bu Rahma tadi.

“Dimana Nisa bisa mendapatkannya bu?” Tanya Ananda Nisa lagi.

Bu Rahma tersenyum.”Ananda Nisa bisa mendapatkan game Al-Qur’an dengan download aplikasi puzzle susun ayat di play store.” Katanya pada Nisa.

“Ibu biasanya, kalau saat main game  Al-Qur’an tiba-tiba azan salat berkumandang, kira-kira apa ya nak yang akan ibu lakukan ?” Tanyanya Bu Rahma.

“Berwudhu lalu salat” Jawab Nisa sambil tersipu. Ia menyadari kalau selama ini ia sering menunda-nunda salatnya.

“Iya betul sekali nak” Kata Bu Rahma sambil acungkan jempol kepada Nisa.

“Kira-kira Ananda Nisa tahu tidak, kenapa jadi Ibu memilih salat daripada melanjutkan main game?” Tanya Bu Rahma lagi.

Nisa bergeleng-geleng kepala tanda ia belum tahu.

“Keduanya sama-sama kegiatan yang baik namun, salat lebih penting dari segalanya karena salata adalah amal yang pertama kAnanda Nisa dihisab di hari kiamat dibanding kebaikan-kebaikan lainnya. Salat diawal waktu adalah amal yang sangat besar pahalanya. Berbeda halnya dengan orang yang salat di akhir waktu dan suka bermalas-malasan. Ada seseorang wanita yang disiksa ketika ia meninggal dunia karena suka melambat-lambatkan salat saat hidup. Ketika itu kakak laki-lakinya ikut menguburkan jenazah wRahmata yang sebagai adiknya tadi. Secara tidak sengaja dompetnya terjatuh tanpa ia sadari. Sesampai di rumah ia baru menyadari kalau dompetnya tadi terjatuh di dalam liang kubur adiknya. Ia pun bergegas kembali menuju tempat pemakaman adiknya. Laki-laki tadi menggali kubur adiknya. Baru beberapa jengkal galian tiba-tiba tangannya merasa kepanasan karena kukusan api menyala dari kubur adiknya . Ia pun segara menarik tangannya mengurungkan niatnya untuk mengambil dompetnya yang terjatuh. Ia segera pulang ke rumah orang tuanya dan menceritakan kejadian yang telah terjadi barusan. Ia menanyakan kepada orang tuanya apa yang menyebabkan kubur adiknya demikian. Orang tuanyapun menjelaskan bahwa adiknya waktu hidup sering menunda-nunda salat dan bermalas-malasan melaksanakannya.” Jelas Ibu Rahma kepada Nisa.

Beberapa minggu kemudian orang tuanya memberi kabar kepada Ibu Rahma bahwa Ananda Nisa sudah mengurangi bermain game yang kurang manfaat, salatnya sudah tepat waktu dan berjama’ah, rajin mengaji dan muraja’ah di rumah. 

Ibu Rahma merasa senang mendengar kabar tersebut. Ananda Nisa juga selalu hadir di pembelajaran wafa via zoom dan bahkan ia paling semangat dari teman-temannya yang lain. Ketika pembelajaran via online ini Ibu Rahma juga selalu menanyakan tentang salat, tilawah, tahfizh dan muraja’ah sehingga membuat anak-anaknya semangat terlebih kepada  Nisa.

Setelah dua bulan berlalu, peraturan pemerintah mengizinkan pembelajaran di sekolah namun harus bershif. Di kelas 6 A Bengkulu jumlah siswanya ada 33 jadi dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok 1 melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di sekolah selama 1 minggu. Minggu kedua kelompok 2, dan minggu ketiga kelompok 3.

Ibu Rahma sangat senang mendengar siswanya diperbolehkan untuk belajar di sekolah karena akan dapat memudahkan dalam proses pembelajaran bisa langsung bertatap muka. Di hari pertama turun ke sekolah anak-anak sangat bahagia karena  bisa berjumpa dengan teman-teman, guru dan juga sekolah mereka yang mereka cinta. Mereka dapat melepas kerinduan itu semua. Begitu halnya dengan Nisa ia yang paling semangat, ia orang yang  paling awal datang ke sekolah yang kebetulan ia mendapat jadwal turun ke sekolah di kelompok 1 di minggu pertama dibulan Oktober. 

Anak-anak begitu sangat bahagia dan pembelajaran Al-Qur’an hari itu sangat menyenangkan bagi mereka. Bisa menghafal dan muraja’ah bersama teman-teman di kelas.  Ibu Rahma mengingatkan anak didiknya yang sudah tiba di sekolah untuk mencuci tangan sebelum masuk kelas dan berwudhu bagi yang batal wudhunya saat sampai ke sekolah. Biasanya anak-anak sudah terbiasa berwudhu dari rumah.

Setelah anak-anak masuk ke kelas, Ibu Rahma juga mengingatkan mereka untuk tilawah Al-Qur’an sebanyak satu halaman masing-masing. Sebelum anak-anak melaksanakan kebiasaan tilawahnya Ibu Rahma pun juga melaksanakan tilawah di depan anak-anaknya maupun tidak di depan mereka. Ibu Rahma juga melaksanakan tilawah Al-Qur’an 1 hari 1 juz (one day one juz).  Ia memberikan keteladanan agar anak-anaknya semakin cinta Al-Qur’an yang ia mulai dari diri sendiri sebelum ia perintahkan kepada anak didiknya. Setelah ia tilawah pagi hari dikelas baru ia berkeliling menyimak bacaan anak didiknya sambil membetulkan jika ada terjadi kekeliruan bacaan.

Ibu Rahma juga selalu memberikan motivasi Qur’ani  kepada anak didiknya agar mereka terus selalu bersemangat membaca dan menghafal Al-Qur’an. “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya maka ia akan dikumpulkan bersama malaikat yang mulia dan senantiasa taat kepada Allah. Adapun yang membaca Al-Qur’an dan terbata-bata dan sulit atas bacaanya maka baginya dua pahala.” Kata Ibu Rahma kepada anak didiknya.

“Dua pahala itu apa Bu?” Tanya Nisa mengacungkan tangan kepada ibu Rahma.

“Dua pahala itu adalah pahala membacanya dan pahala capeknya ia membaca.” Kata Ibu Rahma kepada  Nisa dan teman-temannya.

Mereka semakin semangat membaca Al-Qur’annya.

Beberapa bulan kemudian, tak terasa waktu berlalu. Tepat dibulan April siswa kelas 6 akan mengadakan perpisahan. Perpisahan dengan guru dan teman-temanya. Mereka akan meninggalkan sekolah tercinta mereka dan akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Haru rasanya berpisah dengan guru dan teman-teman yang mereka cintai. Namun perpisahan kali ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Yang dulunya diadakan sangat meriah di sekolah dihadiri semua guru, orang tua,  dan tamu undangan. Kini saat ini hanya diadakan secara online lewat zoom. Hanya murid-murid yang meraih prestasi yang diizinkan datang ke sekolah untuk mendapat penghargaan.

Ada 5 anak yang berprestasi dalam bidang Al-Qur’an. Salah satunya adalah Nisa. Ia termasuk anak yang memperoleh hafalan 5 juz. Orang tuanya sangat senang dan bangga atas prestasi Ananda Nisa. Orang tuanya menangis haru, tak disangka Nisa bisa meraih hal demikian. Dulu Nisa sangat sulit disuruh menghafal dan tilawah. Ia suka bermalas-malasan dan tidak bisa menggunakan waktunya dengan baik.

Ibu Rahma tersenyum bahagia melihat anak didiknya bisa membuat orang tuanya bangga dengan prestasinya.”Semoga engkau bisa memberikan kebanggaan untuk orang tua dan keluarga tercinta di akhirat kelak ya nak.” Doa Bu Rahma dalam hati.

“Acara berikutnya penyerahan hadiah kepada siswa berprestasi” kata pembawa acara pepisahahan hari ini.

Ibu Rahma diminta untuk menyerahkan hadiah dan piagam penghargaan kepada ananda Ananda Nisa dan 4 anak lainnya. Ia mengucapkan selamat kepada mereka yang berprestasi.

Setelah penyerahkan hadiah. Bunda Nisa memeluk Ibu Rahma dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepadanya karena telah membimbing Nisa sehingga ia bisa meraih prestasinya.  Ibu Rahma ikut terharu bahagia. 

Setelah acara perpisahan selesai. Ibu Rahma mendapat pesan di whatsapp dari Nisa berupa sebuah puisi.

Terima kasih telah mengajariku

Terima kasih telah meluangkan waktumu untukku

Terima kasih telah bisa membuatku berada dititik ini

Terima kasih atas semua jasamu

 

Maafkan aku kalau selama ini banyak melakukan kesalahan

Maafkan aku kalau banyak membuatmu kesal

Maafkan aku kalau selalu merepotkanmu

Maafkan aku jika sikap dan kata-kataku kurang sopan

Maafkan aku jika telah mengecawakanmu wahai guruku

Maafkan aku jika tidak pernah memberimu kado, tapi aku hanya bisa memberikan doa

 

Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan sebaik-baiknya

Semoga Allah memasukkanmu ke surga-Nya

Sebanyak apapun kata-kataku tak akan mampu melukiskan jasamu

Sebanyak apapun kata-kataku tak akan mampu melukiskan rasa terima kasihku

Sebanyak apapun kata-kataku tak akan mampu melukiskan rasa bersalahku

Sebanyak apapun perbuatanku tak  akan mampu membalas jasamu

 

Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membuatmu bangga

Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan ilmu yang telah kau ajarkan

 

Thanks you so much and I Love you guruku 

 

Tangis haru bahagia Bu Rahma setelah membaca  puisi cinta dari muridnya. Doa terbaik ia panjatkan untuk semua anak muridnya agar menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat. Menjadi kebanggan untuk keluarga, orang-orang tercinta, bangsa dan negara.

_
Penulis : Syahriati, S.Pd.I. – SDIT Ihsanul Amal

Bintang dan Penyesalan

Antrian dihari pertama pendaftaran KKN UIN Antasari Banjarmasin semester Genap hari itu padat merayap. Jam baru menunjukkan pukul 08.15 WIT. Mahasiswa berkerumun untuk mendaftar dihari itu. Tidak terkecuali juga denganku, Abdul Latif, seorang mahasiswa Jurusan Bahasa Arab semester 7 UIN Antasari Banjarmasin. Tak ada yang spesial dariku, kuliah seperti biasa, rutinitas seperti biasa, dalam fikiranku juga beranggapan bahwa aku pun salah masuk jurusan. Tapi aku selalu bisa melewati hari-hariku dengan baik. Aku sangat antusias mendaftar pada hari itu dan tiba saatnya untuk aku pulang kampung terlebih dahulu sebelum pergi KKN. 

Tiga hari sebelum keberangkatan, aku mendapat kabar yang tidak pernah terpikir sebelumnya, Ibuku divonis mengidap rumor ganas di leher. Kabar itu ibarat hujan dipanas terik matahari, pikiranku berkecamuk, dilema kian membayangi. Aku yang merupakan bungsu dari 7 bersaudara itu merasa terpukul atas apa yang terjadi pada ibuku itu. Saudara-saudaraku yang lain sudah berkeluarga dan tinggal cukup jauh dari kediaman ibunya dan sulit untuk terus membersamai kata mereka kepada ibunya. Entah itu merupakan alasan atau bukan, aku sedikit risih mendengarnya.

Dua hari sebelum keberangkatan, teman-temanku sudah packing barang-barang sebelum berangkat KKN yang kebetulan pada semester ini, lokasi pengabdiannya yaitu di daerah Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Entah ini kebetulan atau tidak, tempat ini sangat jauh dari tempat tinggal sekarang dan tentunya dipikiranku sekarang apakah bisakah aku melanjutkan program KKN disaat ibu dalam keadaan seperti itu. Pertanyaan yang timbul dipikiranku adalah apakah aku harus lanjut atau membersamai ibuku untuk sekarang ini.

Ibu adalah cinta pertama anak laki-laki. Ibuku seorang wanita yang tangguh, suka bicara, baik dan lain-lain. Mungkin kalau ditanya kepada siapa saja tentang apa saja kebaikan ibumu, pastinya tak akan cukup untuk disebutkan semuanya. Kebanyakan anak laki-laki lebih akrab kepada ibunya dibandingkan ke ayahnya. Begitu juga denganku, sedikit mengenang tentang Almarhum ayahku, beliau seorang guru Madrasah Ibtidaiyah yang bertempat kurang lebih 4 Km dari tempat tinggalku, beliau sedikit keras dan tentunya keren. Ayahku meninggal ketika aku baru kelas 1 Aliyah, tepatnya di tahun 2010 silam. Tak banyak kenangan yang terukir bersama ayah, selain dimarahi karena lama mandi di sungai bersama teman, dimarahi karena lama bermain dirumah tetangga dan mungkin lebih banyak waktu bersama ayah itu membuat aku mengerti akan pentingnya kedisiplinan ya. Sungguh masa-masa yang sangat menyenangkan bagiku.

Kembali ke topik utama, setelah memikirkan beberapa pertimbangan akhirnya aku memutuskan untuk menunda dulu kegiatan kuliahku di semester itu. Karena aku berpikir bahwa berbakti dan merawat orang tua khususnya ibu adalah kesempatan yang tak akan terulang kembali. Tetapi kalau melanjutkan pendidikan insya Allah kalau Allah memberi jalan maka akan bisa dilanjutkan nanti. Semua akan indah pada waktu asal dijalani dengan kesabaran dan keikhlasan. Dan harapanku saat itu semoga ibuku cepat sehat dan bisa beraktifitas kembali seperti biasanya.

Dua minggu berlalu, ternyata penyakit yang diderita ibuku rupanya semakin parah. Tiap malam beliau merasakan sakit yang amat sangat. Beberapa malam dilalui dengan penuh kesakitan. Namun ibuku tetap sabar menahan semua itu. Aku tetap berada disamping beliau dan mengurus segala keperluan beliau. Disitu aku sedikit menyadari dan merasa yakin atas keputusanku ini. Waktu merawat dan membersamai orang tua kita tidak bisa terulang untuk kedua kalinya, jadi raih kenangan yang indah bersama orang tua mu, kesempatan tidak datang dua kali. Seperti Umar bin Khattab pernah mengatakan “Engkau merawat ibumu sambil menunggu kematiannya sementara ibumu merawatmu sambil mengharap kehidupanmu dan kebahagiaanmu”. 

Ibuku tak ingin berobat dirumah sakit, mengingat biaya operasi juga yang tak sedikit untuk dijalani. Jadi bentuk ikhtiar yang dijalani adalah menjalani pengobatan tradisional. Aku akhirnya berada difase dimana melihat keadaan ibuku ketika diawal-awal sakit yang masih bisa berjalan sampai akhirnya beliau hanya bisa terbaring dikasur akibat tumor ganas yang diderita beiau itu. Aku berada 24 jam disamping beliau, mengurus makan beliau sampai ketika beliau ingin mandi. Aku sempat berpikir kenapa ini bisa terjadi. Perkuliahan yang mulai ku jalani beberapa tahun yang lalu, dan kini mengalami peristiwa yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya. Dan aku sadar bahwa memang manusia merancang sesuatu dengan cita-cita, tapi Allah merancang dengan cinta. Kita hanya bersabar dan bertawakal kepada-Nya.

Tiga bulan berlalu, disekian ikhtiar yang sudah dijalani selama ini untuk mengharap kesembuhan akhirnya disanggah oleh Allah. Ibuku ternyata dipanggil ke hadirat-Nya. Di akhir hayat beliau, kulihat ibuku tak pernah setetes pun mengeluarkan air mata ketika mengalami kesakitan yang amat sangat. Itu memberiku pelajaran bahwa seberat apapun cobaan yang Allah berikan, jangan pernah kau tampakkan di hadapan manusia lainnya. Karena manusia yang lain juga mendapatkan cobaan yang mungkin lebih berat dari kita. Lebih baik kita hanya mengadu kepada Allah dan berharap apapun cobaan yang kita alami, itu merupakan sebab digugurkannya dosa bagi kita. Ibu memang wanita terkuat yang pernah kukenal. Dan akupun berada disamping beliau disaat nafas terakhirnya dihembuskan. 

Penyesalan selau dialami oleh manusia, seperfeksionis nya seseorangpun pasti selalu ada yang terlewatkan dan menimbulkan penyesalan didalamnya. Aku teringat segala macam kebodohanku yang menyebabkan hati ibuku terluka. Tapi dengan mengalami kejadian selama tiga bulan terakhir itu dapat sedikit mengurangi rasa penyesalan atas perbuatanku dimasa lalu dan insya Allah akan berdampak pada kehidupannku dimasa yang akan datang. Walaupun kita tak akan bisa membalas segala kebaikan yang pernah seorang ibu kepada kita walaupun hanya dengan sekali teriakan waktu melahirkan kita kedunia.

Setelah itu aku melanjutkan studi dan lebih mendalami Al-Qur’an. Dan kini aku mengabdi disalah satu SMP Islam Terpadu yang ada di Tabalong, Kalimantan Selatan. Redaksi “penyesalan” dalam Al-Qur’an yakni : “Yaa Laitanii” dan “Yaa Laitana”. Berbagai macam bentuk penyesalan digambarkan didalam Al-Qur’an. Penyesalan berdampak besar dalam kehidupan, jangan sampai kita salah dalam memilih prioritas. Pendidikan memang penting tapi akhlak dan baktimu kepada orang tua mu jauh lebih penting.  Pangkat yang ingin kau raih memang penting tapi berkat dari orang tua mu jauh lebih penting. 

Aku berpikir rasa Penyesalan yang kurasakan dulu tak ubahnya seperti cahaya bintang yang merupakan kilasan cahaya dari masa lalu. Mengapa demikian, ketika kita melihat benda di angkasa, kita sedang melihat ke masa lalu. Bisa saja kita sedang melihat bintang yang sebenarnya sudah tidak ada. Kita bisa melihat bintang itu karena kita baru saja menerima cahaya yang menjelajah dari bintang tersebut di masa lalu dan baru tiba sekarang. Maknanya apa, penyesalan itu seperti bintang, perbuatan kita dimasa lalu ibarat cahaya yang akan dirasakan dampaknya dikemudian hari. Sayangi orangtua mu khususnya ibu apalagi kalau beliau sudah di usia senjanya, kau boleh saja menjelajahi isi dunia, tapi ingat baktimu kepada mereka berdua. Jangan sampai penyesalan membayangi seumur hidupmu ketika mereka sudah disisi Allah.

_
Penulis : Abdul Latif – Yayasan Ashabul Kahfi Tabalong

Melangkah Bersama Wafa

Lebih dari 7 tahun yang lalu, seorang laki-laki berusia 22 tahun bersuku batak, datang dari ibukota, Jakarta. Bersama 5 teman semasa kuliahnya menapakkan langkah kaki di tanah melayu, Gurindam kota tercinta, Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Laki-laki tersebut bernama Muhammad Anshori Daulay. Biasa dipanggil Ustadz Anshori. Berlatar belakang pendidikan syari’ah, pernah belajar dan menyelesaikan pendidikan S1 di Ma’had Aly An-Nu’aimy Jakarta dan mengabdi serta menyelesaikan hafalan Al-qur’an 30 juz di Ma’had Al-Jandal Bekasi. 

Atas izin Allah SWT. Pertengahan tahun 2014 beliau mulai bergabung di SDIT (Sekolah  Dasar Islam Terpadu) As-Sakinah Tanjungpinang. Menjadi seorang tenaga pendidik, seorang guru Al-Qur’an. Beradaptasi dengan lingkungan yang baru bukanlah hal yang mudah bagi beliau. Sebulan pertama mengajar terbesit dalam hati beliau untuk mencukupkan kontrak mengajar disini dalam rentang waktu 1 tahun, yang kelak akan dijadikannya pengalaman perdana dalam dunia kerja. Namun, Allah SWT Maha Baik. Setelah satu tahun menjadi bagian dari keluarga besar SDIT As-Sakinah ternyata cukup beliau nikmati dan cukup menyenangkan. Hingga ditahun kedua dan seterusnya beliau melanjutkan kontrak mengajar disini. 

Pada tahun 2015 Allah izinkan beliau menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti pelatihan Al-Qur’an metode Wafa di Kota Pahlawan, Surabaya. SDIT As-Sakinah menjadi wasilah beliau mengenal salah satu metode pendidikan Al-Qur’an, yaitu Wafa. Pada pelatihan tersebut, menjadi awal beliau mengenal Wafa dan mempelajari  Al-qur’an dengan metode otak kanan yang komperhensif, mudah, dan menyenangkan. Berbekal secercah ilmu dari kota Surabaya tersebut mendorongnya untuk membagikan ilmu yang sudah diperoleh dengan memperkenalkan Wafa dan menerapkan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode otak kanan kepada seluruh peserta didik, rekan- rekan guru serta orangtua/wali murid. 

Berawal dari tugas mengajar sebagai guru Al-Qur’an dan kemudian beliau pernah diamanahkan menjadi koordinator Al-Qur’an SDIT As-Sakinah serta saat ini beliau mengemban amanah sebagai Kepala Bidang BPI (Bina Pribadi Islam) dan Al-Qur’an Yayasan Bina Insan Sakinah maka beliau berusaha untuk selalu upgrade diri dalam ilmu terutama dalam hal belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, mengelola kelompok belajar peserta didik serta mengelola kelompok guru. Dengan adanya pendampingan dari Wafa pusat, beliau semakin bersemangat dalam mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an. Metode Wafa sangat mudah diterima oleh seluruh kalangan. Dengan menggunakan metode Wafa mempermudah beliau dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada seluruh peserta didik dilingkungan sekolah dalam pembelajaran Al-Qur’an dan juga di sambut  baik dilingkungan masyarakat. 

Mulai dari lingkungan tempat tinggal. Alhamdulillah beliau tinggal di Perumahan THI (Taman Harapan Indah). Masjid As-Sakinah berada dalam perumahan ini  yang mayoritas warganya sangat semangat dalam menuntut ilmu. Terutama dalam ilmu agama khususnya dalam belajar Al-Qur’an. Beliau mengajar mengaji, mensyi’arkan metode pendidikan Al-Qur’an Wafa kepada jama’ah masjid As-Sakinah dengan bentuk kegiatan mengaji rutin setiap hari Selasa dan Sabtu ba’da shalat shubuh. Kegiatan ini sudah berlangsung sejak 4 bulan setelah beliau menikah. Sekitar pertengahan tahun 2018 agenda ini mulai berjalan. Awal mula beliau mengajar mengaji ada beberapa jama’ah yang memang buta huruf, tidak memperhatikan panjang pendek serta tidak paham tentang hukum tajwid. Beliau dengan sabar mendampingi dan membimbing dalam belajar Al-Qur’an. Untuk menghafal mereka memulai dari juz 30 yaitu surat An-Naba’ dan sekarang alhamdulillah sudah sampai surat Al-Lail. Tentu bukanlah hal yang mudah untuk mentalaqqy ayat demi ayat kepada jama’ah yang bisa dikategorikan dari segi umur sudah lanjut usia, namun dengan konsistensi dan kemauan yang besar semua berjalan dengan penuh hikmat, perjuangan dan kesungguhan. Mengajar mengaji sudah menjadi bagian hidup beliau, sehingga sangat beliau nikmati. Dengan melihat perkembangan kemampuan jama’ah yang awalnya tidak bisa mengaji menjadi bisa, menjadi kesenangan tersendiri untuk beliau. Kini, sudah memasuki tahun ke-3 kegiatan ini berlangsung rutin yang diikuti oleh jama’ah masjid dengan rentang usia 40-60 tahun dengan jumlah peserta sekitar 15-20 jama’ah laki-laki. Belajar Al-qur’an mulai dari tahsin, tajwid, ghorib, lengkap dengan sifat huruf serta hafalan juz 30 dengan nada hijaz. 

Mengajar mengaji dengan pembelajaran Al-Qur’an metode Wafa yang beliau syi’arkan tidak hanya diminati oleh kaum laki-laki saja. Namun juga pembelajaran Wafa diminati dikalangan ibu-ibu dengan rentang usia 25-50 tahun. Kegiatan rutin ini dilaksanakan di masjid yang sama dengan jdwal yang berbeda. Kegiatan ini rutin dilaksanakan pada hari sabtu ba’da shalat dzuhur. Dengan adanya kegiatan ini lahirlah sebuah Komunitas 30 yang disingkat menjadi “K30”. Kegiatan mengaji di masjid ini sempat berhenti beberapa bulan dikarenakan wabah corona yang semakin merajalela. Untuk menjaga keselamatan bersama maka kegiatan mengaji dihentikan untuk sementara waktu. Pembelajaran secara online juga belum memunginkan dilaksanakan karena mengingat bahwa mayoritas peserta ngaji adalah orangtua yang sudah lanjut usia. Tibalah pada suatu waktu dimana semangat dalam belajar jama’ah tak bisa dibendung lagi dan kondisipun sudah mulai membaik maka dengan tetap menjaga protokol kesehatan kegiatan mengaji di masjid kembali dilaksanakan.

Berbekal ilmu yang beliau miliki, pengalaman mengajar serta ditambah dengan pendampingan dari Wafa membuat beliau mengajar Al-Qur’an mulai dari sekolah, masjid dan lingkungan masyarakat dengan waktu ba’da subuh, yaitu sebelum terbit matahari. Begitu juga jadwal mengajar siang hari, saat matahari tepat berada diatas kepala. Bahkan hingga malam hari beliau mengajarkan Al-Qur’an tidak sedikitpun membuat beliau bosan dan mengeluh dengan aktivitas yang beliau lakukan. Terkadang dengan kondisi cuaca yang tidak bisa diperkirakan, rintik-rintik gerimis yang membasahi atau bahkan hujan lebat yang mengguyur sekalipun tetap ia pergi untuk mengajar. Karena ia tahu bahwa banyak orang yang semangat untuk mengaji dan banyak orang yang menunggu kehadiran beliau. Jika jadwal mengaji dimasjid maka ia akan berjalan kaki pergi dengan sebuah payung. Begitu pula jika jadwal mengaji di luar lingkungan perumahan maka ia akan mengendarai sepeda motor lengkap dengan jas hujan agar tetap biasa pergi mengajar mengaji. Dengan mengajar beliau merasa sangat senang dan yang beliau harapkan hanyalah Ridho dari Allah SWT. Beliau terus berdo’a agar setiap bertambahnya umur semoga semakin bertambah pulalah keberkahan. Setiap langkah kaki yang beliau langkahkan terhitung pundi-pundi pahala sebagai bekal akhirat dan juga tentunya  beliau berharap dengan ilmu yang beliau miliki bisa bermanfaat untuk umat.

Semakin mulai berkembangnya metode Wafa di Tanjungpinang, metode Wafa menjadi tidak asing lagi dikalangan masyarakat. Permintaan kepada beliau untuk mengajar mengaji terus berdatangan. Forum Kajian Mubaligh Tanjungpinang juga tidak mau ketinggalan dalam belajar Al-Qur’an. Jadwal rutin forum kajian mubaligh dalam belajar Al-Qur’an dengan beliau yaitu setiap hari Selasa ba’da shalat isya. Dihadiri dengan jumlah peserta lebih dari 10 dengan beragam jenjang usia. Ada yang masih muda dan juga ada yang sudah cukup berumur. Semua belajar dengan penuh semangat meskipun waktu belajarnya dimalam hari. Begitu juga dengan Majelis ta’lim ibu-ibu yang sebelum pandemi rutin dilaksanakan 2x sebulan di Masjid Nurul Ikhwan Tanjungpinang. Dengan hal ini tampak bahwa Wafa tidak hanya diminati dari kalangan anak anak saja disekolah, namun juga kalangan orangtua. Baik laki-laki maupun perempuan. Dengan tersampaikannya pendidikan Al-Qur’an kepada orangtua, beliau berharap sistem pendidikan Al-Qur’an tidak hanya dibebankan kepada guru Al-Qur’an yang mengajar di sekolah namun  juga dengan pengenalan Wafa kepada orangtua sehingga mampu bersinergi dengan pihak sekolah dalam mendampingi dan membimbing peserta didik belajar Al-Qur’an di rumah.

Pada tanggal 22 Juli 2021 beliau mengikuti “Sukses Munaqosyah Guru Al-Qur’an”. Munaqosyah dilaksanakan pukul 08.00 WIB secara virtual dan langsung diuji oleh penjamin mutu Wafa, yaitu Ustadz Mashuda. Beliau sangat antusias mengikuti munaqosyah dan menyerahkan hasil munaqosyah tersebut sepenuhnya kepada Allah SWT. Pada tanggal 29 Juli 2021 beliau memperoleh hasil munaqoyah tilawah guru Al-Qur’an metode Wafa dengan keterangan “Mumtadz”. Beliau sangat senang sekali dan bersyukur kepada Allah SWT atas prestasi yang beliau peroleh. Tentu dengan capaian yang beliau peroleh menambah semangat beliau untuk terus berjuang menjadikan sekolah-sekolah dibawah naungan Yayasan Bina Insan Sakinah menjadi sekolah-sekolah yang terjamin mutu pembelajaran Al-Qur’annya. 

Kesibukan beliau dalam mengajar peserta didik disekolah, pertemuan orangtua/wali murid, jama’ah masjid, majlis ta’lim, forum kajian mubaligh, komunitas2 di Tanjungpinang disambut baik dan diminati semua kalangan.  Semakin diminati pembelajaran Al-quran semakin bersemangat pula beliau menebarkan kebermanfaatannya. Dengan padatnya agenda beliau dalam mengajarkan Al-Qur’an tidak turut serta mengurangi intensitas beliau dalam membimbing dan membersamai keluarganya dirumah. Istri beliau bernama Istiqamah. Istri beliau juga merupakan salah satu guru Al-Qur’an di SDIT Ar-Refah Tanjungpinang. Mereka sudah dikaruniai sepasang buah hati yang masih batita. Meskipun mereka merupakan guru Al-Qur’an disekolah, dengan kesibukan mengajar Al-Qur’an disekolah namun mereka tetap bisa membagi waktu untuk keluarganya dirumah. Menjadikan anak-anak mereka kelak generasi yang mencintai Al-Qur’an, mampu mambaca Al-Qur’an dengan baik, memahami isi Al-Qur’an, berakhlak qur’ani dan mencetak generasi qur’an mulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Keluarga qur’ani, keluarga Impian.

Semoga beliau senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan umur. Dimudahkan segala aktivitas dalam mengajarkan Al-Qur’an baik di sekolah maupun dilingkungan masyarakat. Semoga Allah jadikan keluarga beliau Ahlul Qur’an, menjadikan istri, anak, dan seluruh keluarga beliau hafidz/ah yang mutqin/ah. Semangat beliau, jiddiyah, tadhiyah, dan mujahadah beliau dalam belajar dan mengajar mengaji serta setiap tetes demi tetes keringat beliau yang mengalir dalam belajar dan mengajarkan Al-Qur’an sejak dulu, hingga kini terus beliau jalankan bernilai pahala disisi Allah SWT. Semoga nanti, dikemudian hari bisa membangun generasi peradaban masyarakat qur’ani Indonesia. Alahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Walillahilham.

_
Penulis : Istiqamah – SDIT Ar Refah Tanjungpinang

Menebar Pesan Cinta Al-Qur’an dengan Aplikasi Tik Tok Dalam Pembelajaran Wafa Selama Masa Pandemi

Bismillahirrahmanirrahim… 

 Ini adalah sepenggal  kisah yang saya tuangakan dalam sebuah tulisan tentang semangat mengajar Al-Qur’an dimasa pandemi covid-19. Yaa pandemi yang Batas Akhirnya tidak dapat diprediksi kapan selesai. Sudah hampir 2 tahun pandemi covid-19 ini melanda negeri kita Tercinta Indonesia. Allah SWT hari ini memberikan ujian kepada seluruh ummat manusia tanpa terkecuali, Allah ingin melihat seberapa besar tingkat keimanan dan ketakwaan serta Kesabaran kita kepada Allah SWT dari apa yang Allah SWT ujikan kepada kita, baik sebelum memasuki lebih jauh cerita pengalaman pembelajaran saya dimasa pandemi yang saya terapkan, sebagai wawasan dan tambahan untuk ilmu kita, saya akan menjelaskan beberapa hal terlebih dahulu tentang Pandemi Yang kita Hadapi sampai hari ini.

Pandemi menurut WHO (World Health Organisation), dinyatakan bahwa wabah penyakit baru menyebar diseluruh dunia melampaui batas. Pendapat lain yang dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia dimaknai sebagai wabah yang menjangkit serempak dimana-mana, melampaui daerah geografis yang luas. Nah kini pandemi penyakit baru telah melanda seluruh negara yang ada di Dunia. Tidak terkecuali di Negeri kita tercinta yakni Indonesia. Pandemi ini bernama covid-19. Yang awal kemunculan di Indonesia sekitar bulan Maret 2020 lalu. Banyak orang tidak menyangka akan kemunculan virus covid-19 ini bisa menyebar sangat cepat dan sangat luas di Indonesia.

Pemerintah menganggap penyakit ini membahayakan, dalam waktu yang sangat cepat konfirmasi positif dan jumlah korban meninggal dunia semakin bertambah. Dalam satu setengah tahun ini saja, per Tanggal 16 Agustus 2021 jumlah konfirmasi positif mencapai 3.854.354 jiwa dan kasus meninggal dunia 117.588 jiwa. Data ini diambil dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Akhirnya dari awal terjadinya konfimasi positif yang semakin banyak, pemerintah segera merespon dengan cepat dan segera mengambil keputusan terutama dibidang pendidikan, dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk semua tingkat pendidikan dari Sekolah dasar sampai Perguruan tinggi. Pemerintah juga sekaligus menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan berubah kembali Istilah yang digunakan hari ini ialah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) semua ini dilakukan untuk menekan penularan covid- 19. Implementasi pembelajaran jarak jauh yang di terapkan pemerintah yakni pembelajaran dengan menggunakan teknologi internet, HP, laptop Televisi dan alat lainnya  sebagai Alternatif Pengganti pembelajaran tatap Muka.

Alhamdulillah selama masa pandemi melanda, selama Masa PSBB/PPKM diterapkan oleh Pemerintah,  saya  selaku  Pengajar Al-Qur’an disalah satu Sekolah swasta di  Kota kecil bernama Probolinggo yakni SMPIT Permata Kraksaan. Sekolah kami dalam pembelajaran Al-Qur’an menggunakan metode yang menarik hati bagi pengajar dan anak didik yang selalu memberikan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran Al –Qur’an sehingga tidak Ada bosannya kami sebagai pendidik selalu mengupgrade diri dalam pembelajaran Al-Qur’an, yaa.. tak lain metode yang kami gunakan yakni metode Wafa. Awalnya dengan adanya pembatasan pembelajaran yang terjadi seperti saat ini, membuat kami dewan guru tim pengajar Wafa dibuat kebingungan mencari solusi bagaimana kalam-kalam Allah SWT Al-Qur’an yang biasanya kita berikan kepada peserta didik setiap hari kita bertemu dengan tatap muka di sekolah Tetap tersampaikan dengan baik kepada anak anak didik kita Tercinta yang sedang belajar di rumah. 

Ya..akhirnya keputusan yang kami pilih awalnya kebijakan pembelajaran jarak jauh yakni  menggunakan Media whats aap untuk bisa menyampaikan pembelajaran Wafa dengan cara Voice Note dan memvideo call siswa yang ada di rumah. sering juga kami manfaatkan aplikasi ZOOM untuk Pertemuan dengan skala Besar. Tidak dipungkiri memang sangat membosankan pembelajaran seperti Ini, yang biasanya kita langsung bercengkrama dengan Peserta didik namun hari ini hal itu tidak dapat dilakukan. Pembelajaran menggunakan aplikasai Whats app dan Zoom seperti ini Berjalan cukup lama disekolah kami, yang akhirnya timbul dalam benak saya memanfaatkan aplikasi yang kekinian yang sangat disukai oleh kalangan anak muda Yakni Aplikasi TIK-TOK. Mengapa aplikasi tik-tok yang saya pilih dalam salah satu media Belajar? Alasanya Tak lain ialah pertama Untuk para remaja kaum milenial saat ini siapa sih yang tak mengenal dengan aplikasi tik–tok. Hampir semua remaja siswa milenial saat ini terutama siswa di sekolah tempat saya mengajar tahu dan faham cara pemakaian aplikasi tik-tok ini.  Memang Aplikasii tik-tok yang keluar pertama tahun 2016 ini dalam sepemahaman saya, banyak orang yang memandang Negatif aplikasi ini karena kurang berfaedah. Contoh seperti vidio lawakan, Musik non Islami ,vidio berjoget dan banyak lagi video lainnya yang kurang bermanfaat. Ada juga sih video yang bagus dan layak untuk ditonton tapi video tersebut kalah tranding dengan video yang saya sebutkan diatas.

Nah dari situlah saya ingin merubah pemikiran Negatif tadi menjadi hal-hal yang positif yang banyak bermanfaat untuk orang banyak. Jalan salah satunya yakni membuat konten pembelajaran yang kreatif mengenai pembelajaran Al-Qur’an Menggunakan Aplikasi Tik-tok, sehingga harapan besar kami, video yang kami buat dengan anak didik bisa ditonton orang banyak oleh semua kalangan terutama kaum melenial saat Ini, yang miris rasanya memang banyak anak muda yang mana mereka tidak mampu membaca melafalkan Al Qur’an. Padahal Negeri kita ini mayoritas adalah muslim, trus bagaimana kita nanti mempertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT sebagai orang yang mampu menyebarluaskan ilmu Al-Qur’an namun kita tidak melakukan apa-apa. Harus ada langkah nyata sebagai pendidik selain mencerdaskan Anak didik kita sendiri dalam Memahami Al-Qur’an yakni tugas lain juga menyebarkan Al-Qur’an Membumikan Al-Qur’an kepada seluruh Ummat manusia, Insya Allah.

Awal kali ide saya ini muncul menggunakan aplikasi Tik-tok sebagai media pembelajaran, ialah saat pertama kali saat saya menonton konten – konten menarik Vidio wafa yang diaplikasi  tik-tok tersebar luas. ada yang melantunkan tajwid dengan lagu, Ghorib dengan lagu, adapula yang bertilawah serta ada juga vidio hafalan Al-Qur’an dengan sambung ayat. Nah sangat menarik bukan? hal ini yang membuat saya tergerak juga menyebarluaskan visi dan misi wafa yakni melahirkan ahli Al-Qur’an sebagai pembangun peradapan masyarakat Qur’ani di Indonesia. Dan ide saya ini juga di dukung dengan banyaknya siswa di sekolah  yang memiliki aplikasi Tiktok. Mereka mahir berkreasi sendiri dengan keahlian dalam mengoprasikan aplikasi tiktok tersebut dalam membuat konten vidio. Nah dalam pembelajaran AL-Qur’an akhirnya saya  menggerakkan siswa untuk membuat konten – konten Pembelajaran Al-qur’an sekaligus sebagai tugas Al-Qur’an di rumah selama pembelajaran dilaksanakan di rumah.

 

Yaa…Alhamdulillah ketika saya memberi tugas melalui aplikasi tik-tok membuat konten pembelajaran Al-Qur’an ini kepada siswa, tidak diduga siswa menyambut dengan senang dari apa yang saya tugaskan. dari beberapa tugas yang sudah dikumpulkan oleh siswa sudah dikerjakan dengan baik diantaranya Ada yang membuat konten tilawah, Muroja’ah, Pembacaan Tajwid dan ghorib. Sesuai dengan apa yang di tugaskan. Yaa meskipun dalan video yang terkumpul masih ada kekurangan. Tapi saya yakin dalam kekurangan itu menjadikan amal yang baik karena yang kita sebarkah hal-hal yang bermanfaat. Yang saya inginkan dari semua pembelajaran ini kepada siswa yakni siswa dapat Berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan “fastabiqul Khairot”. Bukankah semua Kebaikan itu awalnya dinilai oleh Allah dari niat baiknya terlebih dahulu ? iya Betul,  Sehingga dengan inilah akan membawa kepada Keridhoan Allah SWT.

Manusia hanya dapat berusaha sebaik mungkin dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik terutama di masa-masa sulit pada hari ini. Namun banyak hikmah yang bisa kita ambil dari ujian yang Allah SWT berikan kepada kita saat ini, yang salah satu hikmahnya ialah guru dituntut untuk mahir teknologi yang berkembang saat ini. Mau tidak mau kita di tuntut untuk selalu belajar dengan kemajuan zaman saat ini. Ya pembelajaran jarak jauh adalah salah satu pilihan belajar saat ini yang diterapkan pemerintah. Ya meskipun kurang efektif rasanya pembelajaran seperti ini tapi kita harus tetap semangat memberikan pembelajaran yang terbaik untuk anak didik kita.

 Sebelum saya mengakhiri kisah saya ini ada pesan yang ingin saya sampaikan” untuk saudaraku yang terlanjur menjadi guru”  mengapa sang guru selalu awet muda dalam hidupnya ? karena guru selalu bekerja dengan penuh kebahagiaan serta ketulusan cinta mendampingi siswanya dalam belajar. Mengapa sang guru selalu selamat ? karena setiap hari menyambut siswa dan siswa Mendo’akan salam kepadanya (Assalamualaikum). Mengapa sang guru sangat berjasa ? karena guru merupakan jembatan kesuksesan siswanya. Mengapa sang guru dijanjikan kebahagiaan oleh Allah ? karena meski telah wafat iya masih mendapat kiriman pahala karena amal jariyah ilmunya yang diamalkan siswanya. Sungguh mulia menjadi seorang guru tanpa hadirnya seorang guru siswa bukanlah apa-apa dalam kehidupan di dunia ini, Terimakasih Guruku, Terimakasih. Semoga pandemi yang melanda Indonesia saat ini  segera berakhir dan pembelajaran tatap muka bisa dilaksanakan kembali. Aaminnn….

_
Penulis : Moh Imron Amrullah – SMPIT Permata Kraksaan