Mengajar Membuatku Banyak Belajar

Hari pertama mengajar di SDIT Taqiyya Rosyida sekolah yang sangat rindang dan sejuk di pinggiran kota Kartasura. Udara sejuk menyambut teduh di hari pertama mengajar, kami diajak berkeliling bangunan sekolah dan dijelaskan berbagai sudut ruangan disekolah. Hari kedua kami dikenalkan metode yang akan kami pakai untuk mengajar Al-Qur’an dan Tahfidz. Metode yang diajarkan saat pelatihan sangat menarik dan menyenangkan. Menggunakan metode belajar otak kanan WAFA Indonesia memberikan kualitas pembelajaran Al-Qur’an yang mudah, menyenangkan, dan terstandar. Selain pelatihan WAFA metode belajar Al-Qur’an otak kanan kami guru baru juga dibekali softskill lainnya.

Mengajar bukan hal yang mudah ternyata tahun pertama mengajar menorehkan sejuta kisah. Sebagai seorang yang berlatar belakang pendidikan formal belum mengenal pendidikan di sekolah Islam saya menemukan banyak hal menarik selama mengajar. Pembiasaan akhlaq yang luar biasa di terapkan di SDIT Taqiyya Rosyida setiap pagi disambut ramah salam serta senyum anak dan wali murid saat berangkat sekolah. Bel berbunyi anak-anak berbaris didepan kelas menyanyikan yel-yel kelas dan satu persatu masuk dengan mencium tangan ustadz dan ustadzah. Sebelum pembelajaran sholat dhuha dilaksanakan terlebih dahulu dan dilanjutkan murajaah.

Tahun pertama mengajar merupakan awalan yang sangat menantang dengan kondisi masih kuliah, masih menempuh pendidikan di pondok dan beban mengajar. Setiap hari saya lakukan dengan kesibukkan yang tidak ada ujungnya. Pagi buta saya awali untuk mempersiapkan setoran hafalan rutin dipondok sampai pukul 06.30. Selanjutnya saya berangkat kesekolah untuk mengajar, udara sejuk SDIT Taqiyya Rosyida membuat semangat setiap harinya. Mengajar merupakan hal yang sangat saya nantikan bertemu anak-anak dengan senyuman khas mereka. Masyaallah apalagi ketika mereka menyapa dengan panggilan khas dari mereka dan saya mendapatkan jawaban dari pernyataan berkahnya menjadi seorang guru. Seketika lelah dan masalah hilang meski ketika usai maslah kembal lagi dan harus nyata diselesaikan. 

Mengajar AQT menggunakan metode WAFA sangatlah menyenangkan selain memudahkan anak untuk belajar ternyata memberikan dampak kepada guru yang mengajar. Mengajar memang tidak akan mengurangi ilmu namun dengan belajar ilmu akan bertambah. Benar sekali selama mengajar saya mendapatkan banyak pengalaman. Dalam hal motivasi menghafal misalnya saya belajar banyak dari anak-anak yang senantiasa semangat dalam menghafal. Membuat saya memiki semangat untuk melanjutkan hafalan saya. 

Allah memberikan ujian di tahun pertama mengajar dengan kesibukkan yang masih menumpuk saya jatuh sakit. Sakit sampai berbulan-bulan, hingga saya ingin menyerah dan berhenti mengajar. Masalah yang tidak kunjung usai membuat kondisi semakin rumit. Jam mengajar bertemu anak-anak yang semula sangat menyenangkan kini menjadi menjadi beban. Memang tak seharusnya guru mencampurkan masalah pribadi kedalam kelas namun emosi yang belum stabil dan tubuh yang belum pulih menjadi mendung yang menyelimuti diri. “Astaghfirullah…manusia memang tempatnya salah Ya Allah maafkan saya telah banyak khilaf.” Tiba-tiba kenangan itu muncul kembali melintas dibenak saya awal pertama masuk di SDIT Taqiyya Rosyida yang sangat menyenangkan dan saya nantikan mengapa berubah menjadi beban ?

“Akankah aku lulus dari ujian ini atau menyerah dan berbalik arah ?” harus banyak belajar inilah jawaban dari masalah ditahun pertama. Jawaban dari semua permalahan dalam hidup sebenarnya sederhana namun terkadang manusia banyak yang khilaf. Kedekatan dengan Allah dan kesabaran adalah kunci menyelesaikan masalah hidup. Jadi jika ada masalah mari kembali mendekat kepada Allah perbanyak berinteraksi dengan Al-Qur’an. Allah yag akan memberi kemudahan. Sakit Allah yang akan menyembuhkan, kuliah Allah yang akan mudahkan, dan rizky Allah yang sudah menanggungnya. Semangat itu saya temukan kembali ketika mengajar Al-Qur’an dari sorot mata yang menyinarkan banyak hikmah. Mengembalikan niat awal saya untuk berkontribusi menidik generasi Islam anak bangsa. Mengembalikan niat yang hampir melenceng dan hilang.

Mereka memberikan keceriaan ketenangan dan banyak pelajaran. Terimakasih anak-anakku telah banyak mengajariku. Kini mendung masalah dan sakit sudah hilang digantikan pelangi indah kebersamaan dalam indahnya bingkai pendidikan belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Bersama kalian anak-anakku mari bersama belajar menjadi hamba yang Allah sayangi menjadi generasi Qur’an yang dirindukan.

***

Selang satu tahun mengajar ternyata Allah memberikan kejutan yang lain mendung kembali datang. Mendung yang sangat berbeda belum pernah berada dibenak pikiran manusia. Pandemi datang mengharuskan para guru memutar otak agar pembelajaran tetap berlangsung. Dalam kondisi yang sangat-sangat sulit, pertemuan offline ditiadakan. Lock down dan ketakutan dimana-mana banyak korban berjatuhan, krisis ekonomi melanda.

Ya Allah….

Namun kami tahu tenggelam dalam kesedihan bukanlah solusi, sedih sewajarnya dan mari bangkit karena kita punya Allah yang akan membrikan anugerah yang terbaik. Apapun kondisinya mari kita maksimalkan tanpa keluh kesah dan amarah. Meski pembelajaran online dengan segala kendala dan kekurangannya saya yakin tidak membedakan keberkahan ilmu yang ada. Pembelajaran online nyatanya juga sangat menyenangkan meski melihat mereka dari layar smartphone senyuman dan semangat mereka masih seperti dulu, kepolosan dan kelucuan mereka masih sama seperti dulu. Wahai calon generasi Qur’an semoga kelak kalian menjadi generasi hebat menjadi orang besar dengan Al-Qur’an. Doaku selalu teriring untuk kalian anak-anakku Ustadzah mencintai kalian karena Allah…

_
Penulis : VIRA FEBRIANA – SDITTAQIYYAROSYIDA

Rauna Bersama Ananda

Pelajaran Penting Pertama

Pada bulan pertama saya bergabung di SDIT Taqiyya Rosyida, seorang pengampu tahfidz memberikan kepercayaan untuk menjadi pengganti semetara mendampingi ananda di kelompok Al-Qur’an dan Tahfidz (AQT). Saya mendampingi dua kelas, yaitu kelas 1B dan 6A. pertemuan perdana daring bersama ananda saya kumpulkan tugas hafalan dan membaca wafa dari ananda, kemudian saya koreksi satu persatu secara pribadi. Saat pertemuan pertama pula ada ananda yang tidak mengumpulkan tugas dan whatsapp saya kepada orang tua juga belum sempat terbalas hingga berganti hari. 

Pertemuan selanjutnya, ananda ini kembali tidak mengumpulkan tugas. Setelah saya konsultasikan ke Ustadzah pengampu sebelumnya, ananda ini memiliki catatan khusus saat pembelajaran daring. Ketika jadwal video call ananda tidak hadir bukan karena ananda tidak mau, ternyata ananda dititipkan dengan Neneknya sehingga terkendala saat jadwal AQT tiba. Alhamdulillah, setelah lebih dari 4 pertemuan ananda tidak ikut, hari diluar jadwal ada pesan masuk dari orang tua ananda. Tersurat balasan penyampaian maaf karena ananda tidak bisa mengikuti AQT sesuai jadwal dan akan mengatur jadwal supaya ananda bisa ikut. 

Kring….kring. Video call saya terangkat oleh ananda. “Assalamu’alaikum, perkenalkan ini ustadzah Rani. Sudah tau sebelumnya?” ananda pun tidak menjawab justru memandang layar HP dengan heran. Terdengar suara dari kejauhan “Hayo dijawab dulu…” kemudian si ananda menjawab “Wa’alaikumussalam..” yes..! pendekatan pertama. Kemudian saya lanjutkan menanyakan kabar. Ternyata ananda tidak menjawab, saya tanya keberadaan juga tidak menjawab, saya ajak murojaah tidak menjawab, saya tanya sampai wafa berapa jawabnya simple “Gak tau”, saya tunjukkan buku wafa dari layar HP saya “Ga tau” ujar ananda. Saat itu juga saya berpikir, supaya ananda tidak lagi menjawab hal yang sama untuk kesekian kalinya. Ananda, ambil buku wafanya diransel ya kalau tidak ada kemungkinan di atas meja belajar. Kemudian ananda beranjak dari tempat duduk dan berlari. Nah! Diambillah buku wafanya. 

Saya mulai mengajak murojaah dan alhamdulillah 2 surat ia bisa mengikuti. Selebihnya saya skip terlebih dahulu. Lumayan, PDKT dulu hehe. Hari berganti tugas, ananda pun sering saya video call. Malam itu, alhamdulillah diberi kesempatan untuk shering dengan ibu dari ananda. Ibunya menyampaikan beberapa faktor kenapa ananda jarang mengumpulkan tugas maupun ikut pembelajaran daring dan solusi untuk si ananda di ikutkan ke program Rumah Qur’an yang baru berjalan beberapa waktu untuk ananda. Dari kisah satu ananda ini lega dan senang rasanya, bisa mengetahui keadaan sebenarnya yang dialami ananda walau belum genap 1 bulan mendampingi ananda. Disini saya mendapatkan hikmah yang berarti, pada setiap perjalanan baru, kita akan menemukan banyak orang. Semuanya penting! Semua harus kita perhatikan dan pelihara. Walaupun itu hanya sekedar sapaan dan perhatian kecil bertanya “Kabar”.

 

Pelajaran Penting Kedua (Laporan ke Allah setiap hari) 

Selesainya koordinasi tim AQT, saya duduk di serambi sekolah sambil menunggu waktu pulang. “Ayo pulang Us, jangan dipikir sambil ngalamun. Hehe” ujar salah satu ustadzah AQT. Saya sepontan menyampaikan “Us, kan baru pertama nih saya megang, nanti evaluasi ananda dicatat seperti apa?” ustadzah itu menatap saya sambil mangangguk-anggukkan kepala dibumbui senyuman manisnya. Maasyaa Allah, ustadzah satu ini meluluhkan hatiku dengan jawabannya. “Caranya itu.. Laporan administrasi setiap hari. Selanjutnya laporan sama Allah setiap malam”. 

 

Pelajaran Penting Ketiga (Keadilan dalam Kasih Sayang Kepada Ananda)

Pada bulan ke-2 saya bersama tim AQT, alhamdulillah ini strategi baru dari sekolah yaitu Guru Beraksi. Sebelum pembelajaran inti, kegiatan setelah berdoa yaitu talaqqi bacaan sholat untuk kelas bawah. Saat pembelajaran AQT, berkesempatan menjadikan ayat tahfidz siswa menjadi surat yang dibaca. Bagi siswa laki-laki di masing-masing kelompok akan mendapatkan giliran menjadi imam. Saat itu terjadi percakapan antara dua ananda. Ananda A “Aku mau jadi imam lagi” sementara ananda B menyahut “Yang itu belum pernah lo..” dari percakapan ini semua siswa terpusat ke ananda yang belum pernah menjadi imam sholat duha. Terlihat ananda yang dimaksud menundukkan kepala, dengan wajah polosnya sambil mengoyang-goyangkan badan ke kanan ke kiri. 

Akhirnya, saya menjadikan anak itu imam. Setelah bacaan Al-fatihah ananda membaca surat pendek pilihan yang ternyata ananda imam belum lancar. Saya mendekati imam dan mengajak semua siswa melantangkan suara bacaan. Dikemudian hari, ananda mengajukan diri untuk menjadi imam lagi dan teman lainnya menyetujui. Hikmah saat itu yang saya mendapati, siswa membutuhkan keadilan dalam kasih sayang ustadz ustadzahnya, sesuai takaran. 

Pelajaran Penting Keempat (Ciptakan Momen)

April 2021 menjadi bulan haru bagi saya mendampingi siswa kelas 6. Kita akan segera mengakhiri kegiatan belajar mengajar untuk mereka beralih fokus pada ujian kelulusan sekolah. 1 minggu sebelum ujian lisan tahfidz diselenggarakan, siswa mempunyai  kesempatan tatap muka pembelajaran Qur’an. Fun game berhitung itulah ayatku menjadi pilihan saya untuk mengajak siswa murojaah. Ada satu siswa yang ikut bermain, tetapi saat ditumjuk nomor dan ayat yang dibaca, ananda hanya diam dan ingin kembali ketempat duduknya, saya persilahkan khusus bagi ananda ini.  

Selesainya permainan saya memanggil ananda kedepan. “Ananda, sini. Sebisanya dan boleh membuka tutup Qur’an kok”. Mengawali dengan senyum-senyum dan suara lirih menyampaikan “Us, maaf belum hafal. Tapi surat ini sudah hafal kok Us” dia menunjukkan surat yang lain dan saya minta untuk menyetorkan beberapa ayat. 

“Sekarang ikuti Ustadzah ya” dia menjawab “Iya Us..” sambil menundukkan kepala. Saya talaqqi 1 ayat dengan potongan-potongan ayat secara berulang dan Alhamdulillah ananda bisa mengikuti. Walau ternyata tertinggal jauh dengan target temannya yang lain. Pembelajaranpun selesai, saya mengumumkan untuk persiapan ujian lisan. Tiba waktunya ujian lisan. Ananda ini tidak hadir dan qodarullah, orang tua menyampaikan ananda tidak bisa masuk karena sakit. 

Selang beberapa hari, ada pembinaan seluruh ustad ustadzah dari kepala sekolah. Saat itu juga bapak Isnandariawan menyampaikan “Jangan sampai anak trauma dengan Al-Qur’an setelah lulus dari sini”. Kemudian saya menghubungi orang tua siswa, saat itu juga ananda sendiri yang justru menanyakan waktu untuk ujian. Disinilah kesempatan untuk service excellent kepada ananda ini, menitipkan secuil motivasi. Sebelum tiba masanya, kita hanya bisa mendoakan untuk keistiqomahan ananda berjuang dengan Qur’an. Ketika mereka lulus nanti.

 

Pelajaran Penting Keenam (Menghafal dengan Hati Bukan Hanya Mengandalkan Logika)

 “Murojaah sama Ustadzah ya surat Al-‘Alaq”. “Iya Us, audzubillahiminasyaitonirojim…” kemudian ia melantunkan dari ayat 1 ke ayat 2 tanpa jeda. Sesampainya ayat ke 6 ia sudah mulai terbolik-balik, akhirnya dia menghelai nafas panjang “Haaah..” saya lanjutkan satu per satu bersama ananda. Saat ia mengikuti saya, selalu ia mendahului. Tergesa-gesa dan akhirnya dia menyeletukkan kata “Padahal aku sudah hafal lo Us, 19 ayat”. Saya amati anand ini memang selalu tergesa-gesa saat murojaah, alhasil apa yang sudah dihafal akhirnya terseret dengan ayat lainnya.

“Coba lagi yuk mba, pelan pelan saja tidak usah terburu-buru”. “Kalla saufata…” ananda masih kurang fokus. “Alhamdulillah kamu hebat, tapi kenapa ayatnya campur dengan surat lain?” Ayo yang sabar, tidak usah terburu-buru. Diulangi dari ayat 1 lagi bareng Ustadzah yaa” ananda menjawab “Heem, sebel”. Seketika ananda saya acak untuk ayatnya, dan makin kemana-mana ayatnya. 

Kondisi mood ananda semakin tidak stabil. Saat saya jauh menatap mata ananda, teringat hal yang saya dapati disuatu petang kala itu. Kubuka layar HP terdapat notifikasi berjudulkan “Deeptalks dengan sahabat”. Menceritakan first impression persahabatan yang salah satu sosok disini seorang mualaf dan hafidzoh. Terinspirasi dari kisah mereka berjuang dengan Al-Qur’an. “Menghafal itu pakai hati, kalau pakai logika ga hafal-hafal” jleb! Kemudain saya menyadari, saya sendiri yang harus jauh belajar untuk lebih dekat dari hati dengan Al-Qur’an. 

Bagaimanapun hal ini harus saya tularkan kepada ananda. Pelajaran berharga juga kita dapati dalam QS Al-Khafi : 24 “… dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa…” pelajaran berharga sebagai penghafal Al-Qur’an bahwa ketika ada hafalan yang terlupa, sedikit atau banyak, seharusnya kita segera mengingaat Allah. Setelah itu, kita kembali mengingat-ingat ayat yang terlupa agar kembali melekat dengan baik pada ingatan, dan agar tidak terus-menerus terlupakan karena dibiarkan begitu saja. 

“Jika kita menghafal hanya mengandalkan logika saja bisa sampai mba, tapi hasilnya kurang maksimal. Tapi, apabila kita menghafal juga melibatkan hati kita, akan terjadi kedahsyatan pada diri bahkan tiada henti. Insyaa Allah. Istighfar 3 kali. Bismillah, kita lanjut ya dari awal” setelah ananda beristighfar ia memanggil dengan lirih “Ustadzah…” menatap kembali raut wajah ananda sepertinya berbeda, “Iya mba, gapapa pelan-pelan”.

Ananda merubah gaya duduk, merubah intonasi suara saat melafalkan terdengar sangat lembut. Heran lagi tiba-tiba ananda menundukkan kepala mengusap mata,”Kamu kenapa?”. Ananda menggelengkan kepala sambil tersenyum. Sesampainya dirumah, bunda dari ananda meninggalkan pesan “Terimkasih Ustadzah, waktu daring tadi ananda angkat tangan pertama terus dan semangat anaknya”. Alhamdulillah.

_
Penulis : Rani Alindasari – SDIT TAQIYYA ROSYIDA KARTOSURO

Perjuangan Membumikan Al Qur’an di Kampung Halaman

Aku Zakier, panggil saja begitu adanya. Lengkapnya Ahmad Muzakir. Nama pemberian dari ayahku, menurut beliau makna “ahmad” adalah orang yang namanya terpuji di seluruh penduduk langit dan “mudzakir” adalah orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah SWT. Sebuah nama yang dengan nama itu aku hidup hingga sekarang. Aku terus belajar untuk memantaskan diri dengan sandangan makna nama itu. Aku berdo’a semoga diriku bisa sesuai apa yang diharapkan oleh kedua orang tuaku.

Ini adalah cerita pengalamanku menjadi guru mengaji di kampung halamanku. Tahun 2008, aku ditawari oleh temanku Said untuk mengajar pada sebuah sekolah swasta. Sekolah itu bernama SDIT Ihsanul Amal. Sekolah ini berada di desa Sungai Sandung kecamatan Sungai Pandan kabupaten Hulu Sungai Utara provinsi Kalimantan Selatan. Sekolah yang berjarak kurang lebih sepuluh kilo meter dari rumahku. 

Ringkas cerita, aku diterima menjadi guru di sana. Setiap hari aku pulang pergi antara rumah dan sekolah ke tempatku bekerja menempuh waktu kurang lebih tiga puluh menit.  Pergi dari rumah pada pukul 06.30 WITA sampai di sekolah pukul 07.00 WITA. Latar belakang pendidikanku yang konsentrasi dalam hal Al Qur’an menjadikan bahan pertimbangan bagi Yayasan untuk memposisikanku sebagai guru Al Qur’an pada sekolah tersebut. Aku bersyukur bisa diterima di sekolah itu. Hal ini sesuai dengan keinginan almarhum ayahku yaitu menjadi guru ngaji bagi masyarakat. Ayahku memang tak muluk-muluk harapannya untuk anak-anaknya. Dia hanya berharap agar keberadaan anak-anaknya kalau besar bisa menjadi suluh bagi masyarakatnya. 

Menjadi guru Al Qur’an pada SDIT Ihsanul Amal memberikan banyak pengalaman bagiku. SDIT Ihsanul Amal adalah sekolah yang juga fokus dalam meningkatkan kualitas siswa dan pendidiknya dalam hal Al Qur’an. Sekolah ini telah bekerjasama dengan Wafa Surabaya. Wafa Surabaya adalah sebuah lembaga berada di Surabaya yang memberikan pendampingan, pelatihan bagi sekolah yang mau meningkatkan kualitas pembelajaran Al Qur’an agar bisa bermutu. Aku diikutkan pelatihan Wafa oleh kepala sekolah saat itu yaitu ustaz Amirudin. Saat pelatihan tersebut aku bertemu dengan trainer dari pihak Wafa, yaitu ustaz Adhan Sanusi, Lc. Ada banyak hal yang aku pelajari dari pelatihan Wafa tersebut yaitu bagaimana cara mengajarakan Al Qur’an yang baik, memahami irama nada hijaz dan menjadi ciri khas metode Wafa. Selain itu aku juga belajar komunikasi, cara memahami perilaku orang lain serta cara menemukan solusi untuk memecahkan sebuah permasalahan. Semua pengetahuan itu sangat berguna bagiku yang masih minim pengalaman ini. 

Aku senang menjadi guru Al Qur’an. Selain menjadi guru Al Qur’an di SDIT Ihsanul Amal, aku juga menjadi guru Al Qur’an di kampung. Yakni di kampungku sendiri di Desa Cakeru. Desa Cakeru adalah sebuah kampung jauh dari keramaian kota. Sebuah desa yang ada di kecamatan Amuntai Utara kabupaten Hulu Sungai Utara. Tidak semua anak bersekolah di kampung tersebut, ada juga yang putus sekolah. Mereka meninggalkan pendidikan formal. Ini terjadi bukan tanpa sebab, tentunya ada alasan dan faktor tertentu yang melatar belakanginya. Sebagian besar di desaku, memang karena latar belakang ekonomi. Akibat dari putus sekolah tersebut memang banyak anak yang hilang waktu mereka untuk mengenyam pendidikan karena mereka bekerja mengikuti keinginan orang tuanya. Tuntutan keadaan yang membuat mereka bersikap demikian. 

Putus sekolah adalah bagian dari permasalahan masyarakat, selain itu maraknya penggunaan narkoba juga terjadi di desaku. Hingga suatu ketika pernah terjadi penggerebekan oleh pihak kepolisian di depan rumahku. Polisi menembakkan peluru ke atas langit beberapa kali, sebagai isyarat agar pelaku menyerahkan diri. Aku dan keluargaku terkejut. Aku dilarang oleh ibuku keluar rumah, hanya diam dan melihat dari bilik kaca jendela. Menurut tetanggaku penggerebekkan terjadi karena mau menangkap bandar narkoba yang mau melarikan diri. Akhirnya bandar narkoba tadi berhasil diamankan pihak kepolisian. 

Merajalelanya narkoba, minimnya pengetahuan keagamaan, banyaknya anak-anak yang putus sekolah, sedikitnya jama’ah yang shalat di musala tempat tinggalku, membuatku miris dan sedih. Lingkungan yang membuat sanubariku terpanggil untuk bergerak melakukan perubahan yang lebih baik. Pesan dosenku saat kuliah senantiasa menggaung ditelingaku. DR. H. Saberan Affandi, MA beliau menyampaikan “syiarkanlah Al Qur’an karena dia dari yang Maha Mulia, tempelkan namamu bersamanya maka kamu akan mendapatkan kemuliaan. Menjadi guru Al Qur’an walaupun kamu tak digaji nanti Allah yang akan membalasmu di akhirat”. Belum lagi pesan ayahku yang selalu tersemat juga dalam kepalaku, yaitu “jadilah suluh bagi masyarakat, belajarlah bacaan Al Qur’an agar nanti bisa jadi imam shalat menggantikan ayah, kalau ayah sudah meninggal dunia”. Atas dasar inilah aku mendalami ilmu tentang Al Qur’an dan juga berinisiatif membuka pembelajaran Al Qur’an selepas shalat magrib di rumahku. 

Kegiatan sukarela ini aku lakukan sendiri. Tujuanku untuk merangkul anak-anak tetangga yang ada di sekitar rumahku. Langkah kecil yang aku lakukan ini kuharapkan menjadi manfaat yang lebih baik untuk kampungku. Kegiatan ini aku lakukan karena di tempatku belum ada TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an). Kegiatan pembelajaran Al Qur’an ini sangat didukung oleh ibuku. Kadang-kadang beliau menyuguhkan pisang goreng untuk anak-anak yang belajar Al Qur’an. Jelas hal itu sangat menyenangkan bagi anak-anak yang mengaji Al Qur’an saat itu.

Ada sekitar lima belas anak-anak yang belajar mengaji Al Qur’an di rumahku. Mereka beragam usia, dari usia delapan tahun hingga empat belas tahun. Pengetahuan yang aku dapatkan di SDIT Ihsanul Amal sangat berguna bagiku. Cara dan metode yang aku ketahui di sana, sebagian aku terapkan juga pada pembelajaran Al Qur’an di rumahku. Meskipun dalam suasana non formal, pola pembelajaran tersebut terus aktif. Seperti membuat peraturan selama belajar, adanya konsekuensi logis dan irama nada lagu hijaz metode Wafa. Selain itu, sebelum memulai pembelajaran juga dilakukan pengulangan bacaan surah-surah pendek juz tiga puluh dalam Al Qur’an. Hal ini aku lakukan agar membiasakan mereka. Harapanku, setelah mereka sudah terbiasa, mereka akan mudah menghapalnya.

Langkah berikutnya yang aku lakukan adalah membuat aturan dalam pembelajaran Al Qur’an di rumahku. Hanya satu aturan yaitu pembiasaan shalat lima waktu berjama’ah. Bagi anak yang melaksanakana shalat lima waktu berjama’ah aku layani pembelajaran secara privat mendapat tempat lebih dulu. Bagi yang belum sempurna akan dilayani sesuai urutan ketercapaian berapa waktu yang mereka laksanakan. Kalau misalnya ada yang sama skornya, maka anak yang lebih disiplin datangnya ke tempat mengaji itu yang lebih awal mendapat pembelajaran privat dariku. Rupanya ini berdampak positif bagi lingkungan sekitarku. Ada hal yang luar pikiranku, mereka berinisitif saling mengajak teman-temannya agar shalat berjama’ah. Apalagi saat mau shalat subuh. Setiap anak, mereka saling mengetok pintu rumah dan mengajak temannya agar shalat berjama’aah. Orang tua di sekeliling rumahku merasa terharu. Mereka tersadarkan. Banyak orang tua yang bersyukur karena gerakan anak-anak ini menjadi inspirasi dan menumbuhkan nilai-nilai religi. Selain itu juga menumbuhkan rasa malu bagi orang tua atau ayah mereka yang masih belum rajin ke mushala. Mereka merasa terpanggil juga untuk shalat berjama’ah. Jumlah jama’ah shalat semakin banyak. Ada pergerakan yang lebih baik. Biasanya satu shaf, kini menjadi dua shaf shalat. 

Suasana belajar aku lakukan secara bervariasi. Sebelum memulai pembelajaran, Kadangkala kuselingi dengan cerita edukatif, hapalan surah, tepuk-tepukan yang membuat riuh dan suasana menjadi hidup. Beberapa anak mereka bergerak dengan keluguannya mengajak anak-anak yang lain untuk belajar di tempatku. Pengalaman belajar yang mereka rasakan, mereka ceritakan dengan teman-temannya yang lainnya. Rumahku akhirnya di datangi anak-anak lain beda RT yang juga ikut bersama belajar mengaji Al Qur’an. Karena jumlah anak-anak tersebut mulai banyak, aku meminta adikku Mubarak untuk membantuku mengajar Al Qur’an. Kamipun berdua akhirnya sama-sama mengajar Al Qur’an di rumah tersebut.

Salah satu di antara anak yang aku bimbing itu ada yang bernama Dani. Ibunya sengaja mendatangiku untuk meminta anak beliau juga diajarkan cara baca Al Qur’an.  Dani adalah anak yang santun. Ayahnya sudah lama lumpuh sehingga tak bekerja lagi. Ibu Dani menjadi tulang punggung keluarga. Kondisi keluarga ini memang sangat memprihatinkan. Semasa usia itu, Dani sudah bersekolah pada jenjang  Madrasah Tsanawiah. Anak ini tergolong rajin dan berbakti pada orang tuanya. Paginya dia sekolah, siangnya dia berjualan nasi dan gorengan untuk membantu ibunya. Memang banyak anak yang belajar, tetapi dari sekian anak yang belajar di tempatku, Dani yang paling rajin belajar Al Qur’an. Setiap ada lomba di sekolah yang berkaiatan dengan Al Qur’an dia tidak sungkan untuk berlatih di tempatku. Pernah dia mengikuti lomba adzan, kemudian dia memintaku untuk melatihnya. Aku juga sambil belajar melatih semampu yang aku bisa. Alhamdulillah dengan kesungguhannya, dia akhirnya juara sampai ke tingkat provinsi. 

Saat ini anak-anak yang aku dan saudaraku Mubarak sudah ada yang kuliah, termasuk Dani. Dia sekarang kuliah di STIQ (Sekolah Ilmu Tinggi Al Qur’an) semester tiga. Dia juga telah menghapalkan lima belas juz Al Qur’an. Setiap bulan Ramadhan dia diminta untuk menjadi imam shalat di mushala dan sebagian masjid. Sekarang kultur keagamaan di mushala tempat aku tinggal juga semakin semarak dengan kegiatan keagamaan. Sudah banyak jam’ah yang shalat lima waktu. Kondisi anak-anak yang putus sekolah dan masyarakat pengguna narkoba juga sudah mulai berkurang. Setiap malam Senin dan Jum’at juga ada pengajian dan tadarus Al Qur’an. Semua atas kuasa Allah SWT untuk menggerakkan hambanya melakukan perubahan kondisi yang lebih baik. Sekarang ini juga telah didirikan TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) di kampungku. Walaupun pandemi, pembelajaran Al Qur’an terus berlangsung dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Isteri saya juga menjadi guru di TPA tersebut. 

Ada banyak kejadian yang ada di sekitar kita menjadi nilai bermakna dalam hidup. Ketika kita meluruskan niat dalam melakukan kebaikan, maka ada pertolongan Allah SWT yang datang merestui setiap langkah kita. Segala kendala dan rasa sakit dalam perjuangan dakwah kebaikan pasti ada akan berakhir. Berusahalah sabar dan ikhlas dalam menjalaninya. Libatkanlah peran Allah SWT dalam segala gerak dan langkah kita, serta memohon restu dengan orang tua, dengan begitu keberkahan menyertai kita. Ketika kita membumikan Al Qur’an, mensyiarkan Al Qur’an, memuliakan Al Qur’an. Allah tak akan segan mengumpulkan kita bersama-sama orang yang mulia. Baik itu dunia, maupun di akhirat kelak. Hasbunallah Wani’mal Wakil. Ni’mal Maula Wa Ni’man Nashir. (Alabio, 17 Agustus 2021).

_
Penulis : AKHMAD MUZAKIR – SDIT IHSANUL AMAL

Performa Keimanan adalah Kunci

Betapa merasa tidak apa-apanya ketika bertemu dengan orang-orang yang memiliki kualitas keimanan yang begitu memukau. Kesehariannya begitu mempesona, urusanannya begitu tertata, prilakunya begitu bersahaja. Sangat menyejukkan bagi orang-orang yang berinteraksi dengannya. Hal memukau lainnya adalah ketika bertemu dengan orang-orang yang memiliki banyak hafalan Alquran. Entah itu anak-anak, remaja, dewasa, bahkan yang usianya telah lanjut sekalipun. Orang-orang yang berkemauan untuk menghafal Alquran adalah orang-orang yang mensyukuri pemberian Allah, mensyukuri karunia berupa memori otak yang sangat luar biasa dalam mengolah informasi yang diterima. Penghafal Alquran juga adalah orang yang tidak mau membiarkan sel-sel otaknya tumpul, karena tidak dimanfaatkan untuk berfikir ataupun mengingat. Kelebihan lainnya dari seorang penghafal Alquran adalah bermainnya tidak hanya disektor mengoptimalkan fungsi memori otak saja, namun juga bermain dalam ranah mengoptimalkan ruhiyahnya. Menjaga kebersihan ruhiyah agar hafalan yang telah didapatkan tetap mampu bertahan dalam jiwanya adalah syarat mutlak bagi para penghafal Alquran. Agar hafalannya mampu menyinari hatinya sehingga dalam fikiran, sikap dan tindakannya terekspresi nilai-nilai yang qurani. 

Saya memang bukanlah seseorang yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Namun dalam keseharian semenjak kecil orang tua saya menanamkan pentingnya belajar ilmu agama. Ketika masih kecil saya diantarkan untuk belajar mengaji (belajar baca Alquran) oleh orang tua saya. Darisanalah saya mulai untuk belajar mengenal huruf-huruf Alquran. Dengan berjalannya waktu tumbuh jadi remaja dan dewasa, alhamdulilllah jika diminta untuk membaca huruf-huruf di dalam Alquran saya  bisa. Tidak lagi buta sama sekali. Saya sangat bersyukur kepada Allah dan sangat berterima kasih kepada kedua orang tua dan khusunya kepada guru mengaji saya yang akrab kami panggil uwak, karena telah mengajarkan saya membaca huruf-huruf dalam aluran. Yang tak kalah penting beliau sampai saat ini menjadi orang yang saat konsisten untuk mengajarkan baca alquran kepada anak-anak generasi penerus agama ini. Panjangnya nafas perjuangan beliau dalam mengajarkan Alquran semoga menjadi amal jariyah yang tak terhingga bagi beliau. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin..

Saat ini begitu banyak metode belajar Alquran yang bermunculan. Dari sekian banyak metode yang muncul tidak ada yang jelek, semuanya bagus. Tinggal bagaimana cara kita menggunakannya dan metode mana yang dirasa pas dengan situasi dan kondisi kita. Saat kecil dulu saya belajar membaca Alquran dengan metode Baghdadiyah atau yang lebih dikenal dengan istilah Turutan ada juga yang menyebutnya Alif-Alifan. Dewasa ini cara pengajaran dengan metode ini sudah mulai jarang digunakan, karena dirasa proses belajar dengan metode ini panjang sehingga terkesan lamban. Namun metode ini tetap menjadi acuan berbagai metode dalam mengembangkan metode pembelajarannya. Setelah semakin bertambah teman dalam pergaulan, semakin banyak saya mengetahui metode dalam belajar alquran. Ada metode iqro, metode ummi, metode yanbu’a, metode tilawati dan serterusnya. Pada umumnya masyarakat tidak terlalu mempermasalahkan mau dengan metode apa belajar membaca Alquran tersebut. Karena yang terpenting adalah dalam proses belajar tersebut, siapapun yang belajar pada hasil akhirnya nanti menjadi bisa membaca alquran dengan baik dan benar. Namun, zaman semakin berkembang, masyarakatpun membutuhkan akselerasi dalam proses pembelajaran Alquran. Apalagi zaman now dengan merebaknya gadget secara langsung ataupun tidak langsung cukup mempengaruhi tingkat kesabaran seseorang dalam proses belajar. Sehingga Metode belajar Alquran dengan metode Wafa bisa menjadi pilihan yang tepat untuk mempercepat proses belajar membaca Alquran.

 Saat ini saya mengenal metode pembelajaran Alquran dengan metode Wafa dan saya turut mengajarkan metode wafa ini kepada peserta didik yang ada di sekolahan tempat kami mengajar, guru-gurunyapun mendalami metode ini. Dari pengalaman saya dalam mengajarkan Alquran, khususnya mengajar dengan metode wafa ini ada beberapa hal yang saya rasakan dan sangat penting untuk dimiliki oleh siapa saja yang mengajar alquran. Hal-hal tersebut sebagai berikut :

1. Semangat untuk jadi pembelajar

Sebelum mengajar Alquran dengan metode Wafa. Saya sudah mengetahui kalau ada belajar Alquran dengan metode Wafa. Namun pada saat itu saya belum mendalami metode ini. Tentu saja adalah hal yang wajar jika diawal-awal yang saya rasakan adalah saya masih merasa belum akrab dengan metode ini. Hal ini membuat saya bertanya dalam hati, apa bedanya metode ini dengan metode lainnya? apa kelebihan metode ini?  Sehingga dengan berjalannya waktu saya mulai mengakrabi metode ini, saya banyak belajar dengan para guru-guru Alquran di sekolahan kami yang sudah lebih dahulu mendalami metode ini. Akhirnya sedikit demi sedikit saya mulai mengetahui metode belajar Alquran dengan metode wafa ini. Metode belajar Alquran dengan metode Wafa secara sederhana dapat saya maknai sebagai metode belajar baca alquran dengan menggunakan pendekatan otak kanan. Menggunakan imajinasi, huruf-hurufnya diimajinasikan dengan hal-hal yang dekat dengan keseharian para peserta didik, agar mudah lengket dalam ingatan peserta didik. Sehingga bila peserta didik lupa dengan huruf yang sedang dibaca, tinggal dingatkan saja dengan analogi-analogi yang dekat dengan keseharian peserta didik tadi. Sehingga dengan demikian belajar lebih terasa menyenangkan dan mudah untuk diingat. Contoh untuk mengenal dan mengingat huruf mim, ta, sa, ya, kaf ro dan dal. Diimajinasikan dengan memberi tanda fathah pada setiap hurufnya. Sehingga huruf-huruf tadi bisa terangaki menjadi ma-ta-sa-ya-ka-ya-ro-da. Mata dan roda adalah hal yang dekat dengan keseharian, sehingga mudah diimajinasikan untuk diingat. Belajarpun menjadi menyenangkan. Ini baru sebagian hal yang menjadi keunikan dalam belajar menggunakan metode wafa. Membacanyapun menggunakan nada baca yang ear catching. Nadanya menggunakan nada Hijaz. Jika ada 4 bagian nada yang digunakan datar-naik-naik-turun. Jika tiga bagian nadanya datar-naik-turun, jika ada 2 bagian pada bacaan nadanya datar-turun. Berdasarkan pengalaman para guru yang sudah lama mendalami metode ini. Jika kita membaca dengan menggunakan nada Hijaz ini, baca Alquran serasa tidak mau berhenti, membaca Alquran menjadi serasa nagih ingin baca lagi dan lagi, karena menyenangkan. Saya pelajari hal tersebut dan akhirnya saya mulai beradaptasi dengan hal-hal tersebut. Jadi semangat untuk terus belajar adalah sangat penting dimiliki oleh siapa saja yang ingin akrab dan bisa menguasai suatu hal. Termasuk dalam belajar Alquran dengan metode Wafa ini. Benarlah adanya petuah orang-orang yang mengatakan bahwa dengan mengajar maka anda akan belajar. Hal ini turut saya rasakan dalam mengajarkan Alquran dengan metode wafa ini. Sehingga guru dan siswa insya Allah sama-sama berkembang. Karena terus belajar. 

2. Menjaga Performa Keimanan

Pengalaman berikutnya yang semakin saya rasakan adalah, menjadi guru atau pendidik itu benar-benar harus mampu untuk menjaga kualitas ruhiyah. Kualitas ruhiyah ini memberi pengaruh terhadap suasana psikologis seseorang. Baiknya kualitas ruhiyahnya insya Allah baik pula suasana psikologisnya. Darisanalah terpancar cahaya keteduhan bagi siapa saja yang berinteraksi dengannya.  Darisanalah terekspresi kualitas semangat, etos kerja menjadi meningkat karena performa keimanannya sangat kuat. Menjadi guru yang mengajarkan pelajaran umum saja sangat penting untuk menjaga ruhiyah, terlebih lagi menjadi guru Alquran. Yang saya rasakan bila performa keimanan meningkat, beberapa kemudahan yang Allah turunkan diantaranya adalah peserta didik yang diberi pengajaran menjadi mudah untuk diajak bekerjasama. Ilmu yang hendak diajarkan pun menjadi mudah untuk ditransformasikan dan banyak lagi kemudahan-kemudahan lainnya. Direktur sekolahan kamipun tak pernah lelah untuk memberikan taujihnya tentang pentingnya menjaga kualitas keimanan sebagai seorang guru. Beliau mengutip pesan dari ulama yang mengatakan bahwa kait mata antara seorang guru dengan muridnya itu sangat kuat. Bila seorang guru melakukan suatu kemaksiatan, maka efek dari kemaksiatan itu bisa terpancar dari mata gurunya. Bila seorang guru tersebut adalah orang yang taat maka kait ketaatan itulah juga yang akan terpancar dari mata gurunya ke mata murid-muridnya. Maka sangat penting sekali bagi guru untuk menjaga ketaatannya. Lebih-lebih lagi guru Alquran yang bercita-cita membentuk generasi yang qur’ani.

 

3. Sinergi antara rumah dan sekolah

Hal salanjutnya yang penting untuk ada dan hadir di tengah-tengah kita agar tujuan dan pencapaian pengajaran menjadi tercapail adalah, adanya senergi antara rumah dan sekolah. Lebih-lebih dimasa pandemi seperti sekarang ini. Pembelajaran di sekolah secara frekuensi waktu menjadi berkurang.  Jarak interaksi secara langsung menjadi terbatas. Karena tidak boleh berkerumun dan tidak boleh lama-lama dulu jika sedang berinteraksi secara langsung. Pertemuan banyak dilakukan di dunia maya dengan aplikasi tertentu, yang bila kondisi signal untuk mengakses ruang pertemuan tersebut sedang kurang baik tentu saja menjadikan pertemuan via online tersebut mengalami kendala. Tantangan-tantangan semacam ini tidak bisa diatasi bila minimnya kerjasama antara sekolah dan rumah. Tak terkecuali dalam mengajarkan Alquran. Para pengajar Alquranpun terkena dampaknya dan harus mampu beradaptasi dengan keadaan seperti ini. Kemudian para pengajar utama dikeluarga dalam hal ini adalah orang tua bagi anak-anaknya butuh untuk turut melakukan pendampingan terhadap anandanya dirumah agar pembelajaran Alquran di sekolah mampu tetap terjaga dirumah. Kemampuan peserta didik dalam menyerap pelajaran tidak sama, berkurangnya waktu untuk ruang pertemuan secara langsung cukup memberikan pengaruh terhadap hasil pembelajaran. Sehingga komunikasi dan kerjasama antara sekolah dan rumah menjadi sangat penting. Kami para pengajar sangat bersyukur bila ada orangtua yang begitu objektif dalam menilai proses pembelajaran yang saat ini sedang terus-menerus menyesuaikan dengan keadaan zaman. Saya sangat merasa tersentuh ketika ada orang tua siswa yang mengatakan : “ Pak ini anak kami, anak kami anak bapak juga. Ketika bapak yang mengajar maka sepenuhnya kami serahkan pengajaran itu kepada bapak. Bila dirumah maka itu manjadi tanggung jawab kami, kami yang akan mengambil peran untuk mendidiknya” hal ini adalah salah satu bentuk gayung bersambutnya antara peran sekolah dan rumah. Mudah-mudahan dengan semakin sinerginya rumah dan sekolah dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan, akan semakin mempercepat terwujudnya masyarakat yang kondusif dalam menyambut tegaknya nilai-nilai positif di tengah tatanan masyarakat kita. Aamiiin ya Rabbal ‘Alamin..

_
Penulis : Andri Hidayat – SDIT TUNAS CENDIKIA BATURAJA SUMATERA SELATAN

Strategi dalam Melejitkan Tilawah dan Membangun Karakter Siswa

Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Robb semesta alam yang memiliki kerajaan di langit dan di bumi. Sholawat beserta salam yang memiliki semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnyaserta umatnya hingga akhir zaman.

Penulisan  kisah ini semoga dapat memberikan inspirasi dan bermanfaat bagi pembaca. Amin.

  • Strategi dalam Satu Kelompok Belajar dari 2 macam jilid menjadi 1 jilid murni 

Berawal dari kisah pengalaman mengajar Al Qur’an Sekolah Dasar kelas II sampai kelas IV, pada tahap awal kelompok ini berbeda jilid, 5 anak jilid 2 dan 7 anak jilid 4 dengan kemampuan yang berbeda-beda. Nama-nama mereka diantaranya Cantika Nasution yang kemarin masuk final Lomba Tahfidz Wafa Indonesia, kemampuannya cukup bagus, kelemahannya adalah di bacaan Ikhfa’ anehnya, hari ini saya jelaskan dan lanjut setoran bisa menyelesaikan bacaannya dengan baik, nah … apa yang terjadi di hari berikutnya ? ternyata sudah beda lagi. Bacaannya sudah tidak sesuai yang saya ajarkan. Saya menjelaskannya lagi, tidak mengapa guru memeng harus sabar, dengan sabar sayapun mencari tahu, kenapa kualitas bacaannya selalu berubah, kemudian cantikanya menjawab, bahwa dia selain belajar ngaji di sekolah, juga belajar ngaji prifat. Dan ternyata cara mengajar saya dan guru yang di rumah sangat berdeda. Setelah keadaan ini berlangsung hingga satu bulan akhirnya saya memutuskan untuk komunikasi dengan orang tua sekaligus menyampaikan perkembangan cantika. Akhirnya sayapun menyarankan untuk tidak ngaji dulu dirumah dengan guru yang belum standart, dan semenjak itu Alhamdulillah bacaan cantika terjaga dan bisa dibilang bagus.

Berbeda lagi dengan Lalu Gaisan yang anaknya pendiam dan biasa-biasa saja dalam kemampuan bacaannya, namun karena selalu sungguh-sungguh dalam belajar sehingga mampu mengejar ketinggalannya.

Dalam proses belajar mengajar saya buat 2 kelompok,  kelompok jilid 2 (kelompok A) dan 1 lagi kelompok jilid 4 (Kelompok B). Kelompok jilid 2 terdiri dari 5 anak dan kelompok 4 berjumlah 7 anak. Ketika saya mengajar kelompok jilid 2 maka kelompok jilid 4 saya berikan tugas belajar saling menyimak atau partner (berpasang-pasangan) sehingga dalam waktu tertentu hasilnya sebagai berikut :

Kelas II Kelas III Kelas IV
Semester 1 Semester 2 Semester 1 Semester 2 Semester 1 Semester 2
A 2 3 dan 4 (1/2) 4 dan 5 AlQur’an + Tajwid Tajwid Ghorib & Munaqasyah Tilawah
B 4 5 Al Qur’an &  Tajwid Tajwid

NB : Mereka menjadi kelompok baca simak murni  di kelas IV semester 2.

Jadi kelompok B agak dipelankan dan kelompok A dipercepat dan terus dikontrol. Bayangkan yang tadinya berbeda 2 jilid dapat dikejar dengan strategi yang tepat.

 

  • Karakter disiplin, rapi dan jujur

Diawal pembelajaran saya selalu membuat kesepakatan-kesepakatan diantaranya jadwal piket,  dimana kelompok saya pada waktu itu berada di luar kelas, tepatnya di lobi depan sekolah. Bagi yang bertugas harus lebih awal untuk menyiapkan sarana persiapan pembelajaran, karpet, besi peraga dan peraga AlQur’an. Anak-anak sealau disiplin dalam piket dengan tugas menyiapkan karpet dan mengembalikannya.

Merapikan sepatu selalu menjadi perhatian, dimana pada waktu itu anak-anak menaruh sepatunya sesukanya sehingga tampak benar ketidakrapiannya. Terjadi dialog antara guru danmurid :

Guru : Spontan saja saya perintahkan kepada anak-anak untuk berdiri. Anak-anak solih    solihah… silakan berdiri…

Murid : iya ustadzah 

Guru : coba perhatikan sepatu kalian masing-masing

Murid : iya ustadzah (merekapun memperhatikannya)

Guru : kalau anak-anak meletakkan sepatu seperti itu, kira-kira kalau ada orang lewat terburu-buru apa yang terjadi ?

Murid : jatuh ustdzah, kesandung

Guru : benar sekalih, maka dari itu mulai sekarang dan seterusnya silahkan ditaruh yang rapi. Taruhlah didekatnya tempok atau dipinggir tembok agar tidak mengganggu orang yang berjalan. Sehingga kita dapat pahala dari Allah karena kita telah melakukan satu perbuatan yang terpuji, yakni  membuat orang yang lewat aman.  Jelas anak-anak?

Murid : jelas ustadzah

Guru : baik ustzdzah ucapkan terima kasih, dan silahkan duduk kembali

 

Ketertiban dalam belajar prioritas, seperti kelengkapan belajar, buku alqur’an, prestasi. Dalam kegiatan belajar mengajar tidak boleh membawa buku selain buku perlengkapan belajar AlQur’an. Jika ada yang melanggar maka akan kita nasihati dan jika masih berulang-ulang maka buku yang lain atau mainan akan disita oleh guru, dan akan dikembalikan jika telah berjanji tidak akan mengulanginya. Dengan aturan seperti ini melatih anak-anak untuk untuk tertib dan disiplin dalam aturan pembelajaran.

 Ketiaka kegiatan saling menyimak sesama teman (partner) yang menjadi penanggung jawab selalu memberikan laporan berapa kesalahan pada kelompok masing-masing, sehingga disini akan tumbuh karakter kejujuran. 

 

  • Mengatasi Pengucapan yang kurang tepat pada huruf Hijayyah

Teringat salah satu murid sebut saja Fulanah kelas IV, pada saat itu untuk pengucapan huruf hijaiyyah banyak yang tidak jelas, diantaranya ك ق ط د س ش ث ف ل  belum huruf yang memang sulit pengucapnnya. Karena Fulanah ini tidak hanya dihuruf hijayyah pelafalan abjadpun masih kurang jelas. KA, SA dibaca ca, dan ketika akhir pembelajaran atau ketika storan sy membantu dengan latihan mengoptimalkan tulang rahang sebagai latihan oral. Contoh, makan, lihat mulutnya usth dan ikuti ya “makan”, pulpen, spidol  dan lain-lain. Setelah belajar ilmu tentang tuntas motoric, memang tepat bagi anak-anak yang artikulasinya kurang jelas maka dapat dilatih dengan latihan rahang. 

Demikian pengalaman mengajar yang saya tuangkan dalam tulisan kisah ini, mohon maaf jika ada kesalahan kata dan terima kasih telah membacanya.

_
Penulis : Ernawatiningsih – Sekolah Albanna Bali

Aku dan Pengalamanku

Ramai riuh terdengar menggema saling bersahutan, 

Yaaaa……. Suara anak-anak yang berdatangan ke masjid untuk mengaji. Sambil menunggu bel berbunyi untuk berbaris bersama, anak-anak bermain, berlari, kejar-kerjaran dengan teman-temannya. 

Wajah-wajah yang polos nan suci menghias penuh arti. Semangat yang membara sangat nampak terlihat dari anak-anak, dan dari semangat merekalah yang memotivasi kami para guru untuk mengajar dengan penuh semangat pula. Agar materi yang disampaikan nantinya juga tersampaikan sehingga anak-anak dapat mengerti dan memahaminya.

Kriiiiiiiiinggggggggg…….. bel masuk telah berbunyi. Dan seperti biasa salah satu  guru atau ustadzah  memimpin barisan untuk merapikan anak-anak. Dan mulai menyiapkan barisannya agar rapi. Anak-anak berdiri tegak dan berbaris rapi sesuai jilid ngajinya masing-masing.

Namun, pada hari itu, ada salah satu anak dari kelompok jilid tinggi terlihat membuat gaduh, dan membuat adik-adik jilid bawah pun belum dapat di kendalikan untuk rapi barisannya. Dengan nada tinggi, guru tadi memanggil salah satu nama, yang terlihat menjadi sumber kegaduhan dan menanyakan penyebab terjadinya kegaduhan. Sepertinya si anak kurang suka dengan panggilan guru yang memimpin barisan karena merasa tidak bersalah. Padahal setelah ditanyakan pada teman-temannya dialah yang membuat gaduh dan mengajak teman-teman lain ngobrol sehingga sampai intruksi untuk berbaris rapi tidak terdengar oleh teman lainnya. 

 Dan akhirnya guru yang memimpin barisan tadi mengeluarkan si pembuat gaduh, yang membuat anak tersebut tertunduk malu dan marah di depan teman-temannya karna di keluarkan dari barisan. 

Beberapa menit kemudian, Setelah semua rapi, selanjutnya bersama-sama melanjutkan  membaca doa pembuka,kemudian membaca salah satu bacaan sholat, dan untuk menambah semangat anak-anak kita biasanya memberikan satu lagu yang berbeda setiap harinya tentang nama bulan, anggota tubuh, macam-macam warna dalam Bahasa arab, dan nama surat di dalam al qur’an. 

Setelah selesai berbaris, pemimpin barisan membubarkan barisan. Anak-anak maju ke depan sesuai dengan jilidnya, bersalaman dengan semua guru sambal membaca sholawat  lalu masuk ke dalam kelas untuk menerima materi berikutnya. 

Setelah semua masuk, koordinator TPQ  memanggil guru yang memimpin barisan tadi. Ternyata adegan kegaduhan yang membuat salah satu murid keluar dari barisan tadi membuat guru yang memimpin barisan mendapat satu teguran. 

Karena TPQ kami bergabung dengan masjid, maka saat baris berbaris pun akan terlihat banyak orang yang lalu Lalang, ada jamaah yang selesai dari sholatnya, dan beberapa anak-anak luar TPQ yang bermain di masjid,  ada juga beberapa wali santri yang menunggu sedang putra-putrinya sampai  masuk ke dalam kelas. Tentu yang lalu Lalang akan sembari melihat barisan anak-anak TPQ dengan suara merdu melantangkan hafalan dan bacaan lainnyanya . 

Pada saat itu, ada salah satu jamaah melihat guru yang tadi mengeluarkan salah satu santrinya dari barisan. Sepertinya kurang suka dengan tindakan guru tersebut. Karena memang terlihat kurang baik, ketika mengeluarkan anak-anak dari barisan sehingga terlihat malu di depan teman-temannnya bahkan adik di jilid bawahnya. 

Dari wajah jamaah tadi, Koordinator TPQ menyimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan pemimpin barisan tadi kurang baik. Jadi coordinator berharap, tidakan yang seperti ini tidak terualang lagi. Karna selain menjatuhkan mental si anak di depan teman-teman lainnya, juga akan berdampak pada nama baik si guru dan lembaga tempat dimana mengajar. Dengan penuh kesadaran dan rasa hormat si guru menerima kritik dan saran dari koordinator.

 Akhirnya kemudian semua guru masuk kelas masing-masing untuk memberikan materi pembelajaran al qur’an. Suasana masing-masing kelas terlihat pun ramai bersahutan, anak-anak memulai berdo’a, muroja’ah hafalan dan selanjutnya memulai kegiatan belajar mengajar di kelas. 

Setelah mendapat teguran di koordinator TPQ, guru menyadari bahwa kita tidak bisa mengambil keputusan dalam keaadaan emosi, tidak boleh menghakimi anak-anak ketika anak berbuat kesalahan dalam keadaan emosi, tidak boleh mempermalukan anak-anak di depan anak lain, bisa jadi tindakan yang dilakukan guru tadi akan menjadi contoh yang kurang baik pada anak-anak, sehingga anak dapat menirukannya. 

Dari kejadian itu, pelan-pelan guru tersebut juga menyadari dan akhirnya membuat dia berfikir bahwa tindakan yang dilakukan saat itu memanglah kurang pantas dan belajar tidak akan mengulangi lagi. Dan perlahan setiap kali mau memberi nasehat atau ketika ada santri yang bermasalah, sudah tidak lagi mengedepankan emosi.

Menasehati anak-anak dalam keadaan emosi ketika anak berbuat salah sangatlah tidak baik, nasehat yang kita berikan pun tidak akan dapat di cerna dengan baik oleh si anak. Sehingga harapan untuk guru merubah anak-anak untuk manjadi baik pun hanya di angan saja. Sebaliknya, sebagai guru, kita adalah panutan untuk mereka, baik dari tindakan , perilaku, kata-kata dan segala gerak gerik kita. Untuk itu perlu sekali kita banyak membaca dan terus belajar bagaimana menjadi guru yang baik untuk anak-anak kita, santri kita, dan umumnya lingkungan terdekat kita. Sehingga kita akan melahirkan generasi qur’ani yang tangguh, berilmu, dan ber adab serta menjadi calon pemimpin bangsa yang menginspirasi banyak orang. 

Apalagi di kondisi yang saat ini, yang semua serba online. Salah satunya adalah pembelajaran qur’an. Yang tidak bisa memaksa untuk belajar bertatap muka secara langsung. Namun, kita sebagai guru pun tidak boleh putus harapan dan berhenti ber inovasi dalam memberikan pengajaran kepada anak didik dan santri kita. Walapun dalam kondisi daring dan virtual kita masih bisa mengajar kepada santri kita dengan banyak media, contohnya zoom, video call, google meet. Dan anak-anak juga dapat melihat video pembelajaran, kisah kenabian, dan kisah lainnya dengan salah satunya aplikasi yaitu youtube.

Di era ini kita sangat di tuntut untuk melek digital. Artinya, kita harus terus menggali ilmu-ilmu yang ter update dari media digital. Agar guru dan santri atau anak didik  tidak tertinggal dengan perkembangan zaman dan perubahan digital. 

Teriring do’a untuk keluarga,murid/ santri, dan negara kita terutama dan yang terkhusus untuk pembaca yang Budiman. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Kesehatan untuk kita, melapangkan rezeki serta dijauhkan dari wabah dan bencana, terutama wabah covid ini. Sehingga para guru dimanapun berada, bisa mengajar Kembali dengan normal, bisa bertatap muka langsung dengan anak didik dan santri-santrinya serta dapat terus berkreasi, ber inovasi untuk masa depan anak negeri yang qurani.

_
Penulsi : Nur Inaroin Sawitri – PAUD Albanna

Huruf-Huruf yang Tumbuh

Pada  pertengahan mei 2017, kulihat awan bulan mei begitu pandai menyimpan mendung. Aku mengemasi barang-barang pada  sebuah koper, dan sepuluh kotak kardus berisi buku-buku koleksiku, kususun di bagian belakang mobil sekolah yang akan mengantarkanku menuju pelabuhan. 

Aku harus pulang atas permintaan ibuku yang saat ini sendirian meniti hari tuanya di desa. Banyak hal yang harus aku lepas begitu saja dari kota Tanjungpinang, kota yang telah mengambil separuh hidupku, begitu berat meninggalkan kota ini. Mobil pun melaju dengan lengang, bagai nada-nada piano yang disusun sendu, dari hati yang memendam gemuruh, kutuliskan sebuah puisi penanda hidup.

LENGAN GURITA

Tidak semua ingatan, bisa kita bawa pulang

Tapi semuanya bisa kita simpan jadi kenangan.

Andai saja boleh berandai-andai

Maka akan kumiliki lengan gurita

Untuk memeluk hatimu yang seluas bentangan langit

Tapi aduhai betapa panjang angan-angan

Dilarang kanjeng Nabi

Puisi itu jadi caption sebuah gambar  tumpukan kotak berisi buku-buku koleksiku, dan kuunggah di instagram,  ada tiga  komentar tentang postingan ini, dan hanya dua puluh tiga akun yang menyukainya. Aku pulang, dan tak ada kata perpisahan yang spesial, entah apa yang bakal aku lakukan di desa, desa yang banyak ditinggalkan para pemudanya, mereka mencari peluang ke kota, sedang aku harus kembali di saat karir sedang bagus-bagusnya.

Setibanya di desa, kelebat bayang orang-orang pasar menyapaku, gedung-gedung muram menatapku, tak banyak yang berubah, jalanan tidak semacet di kota, di sini orang mengendarai motor seolah tanpa ambisi, kecuali beberapa orang yang memang punya semacam target setoran harian, dan sebuah tugu jam yang mati pada pukul 9, itulah waktu apabila kiamat terjadi. 

Lalu aku melewati deretan pohon karet yang berjajar rapi, sabar menanti hari saat getah siap untuk ditoreh, seolah mereka memberi pesan isyarat bahwa yang menetap dalam kebaikan akan tumbuh dan memberi manfaat. Terkenang aku sepotong mahfudzhoh tatkala dahulu pernah diajarkan, Man Tsabata Nabata,  barangsiapa yang menetap (istiqomah) maka ia akan tumbuh.

***

Tak terasa sudah sebulan pula aku berada di desa, bingung mau buat apa, buat kerja-kerja kampung tidak terbiasa. Aku kehilangan teman-teman, sebab sudah lama tidak berjumpa mereka, maka jelas terasa kesenjangan antara aku dan teman-teman masa  kecil, banyak diantara mereka yang berubah, menikah, dan kabar-kabar mengejutkan lainnya.

Ibuku seolah tahu isi hatiku, ia memberi ide supaya aku mengajar ngaji saja, agar rumah terasa sejuk karena bacaan Al-Quran, tanpa banyak debat, aku pun menyetujui usulan ibu. Berbekal pernah mengajar Wafa di SDIT As-Sakinah Tanjungpinang, maka aku pun mencoba berbagi sedikit ilmu.

Ada tiga jilid buku wafa yang kubawa dari Tanjungpinang, kurasa cukuplah untuk ngajar ngaji lima anak-anak desa setempat, tapi lama kelamaan anak-anak desa semakin banyak, bertambah sepuluh, lima belas, hingga dua puluh santri, berjubel di ruang tamu rumah ibuku. Sebab semakin ramai, maka aku memesan beberapa jilid buku wafa untuk dbagikan ke anak-anak secara gratis.

Tersebab dari mulut ke mulut, maka program ngajar ngaji dari rumah yang aku gelar, ternyata mengundang teman-teman dari anak-anak desa lain, ruangan semakin tidak memadai, maka berbekal keyakinan “Intansurullaha Yanshurkum Wayutsabbit Aqdaamakum” maka kutempel sebuah gambar saung yang kucetak dari google, lalu gambar itu, aku tempel di depan tembok tempat biasa aku dan anak-anak menghadap untuk shalat, 

“Nak, sebab semakin banyak kita hari ini, maka mari kita doakan supaya Saung seperti di gambar ini bisa kita bangun, jadi nanti kalian bisa ngaji tanpa harus berdesak-desakan dan kepanasan lagi,” maka kami pun larut dalam doa-doa sederhana, doa yang entah bila dapat Allah kabulkan.

 

*** 

Hari begitu cepat berlalu, tak terasa umurku sudah masuk 26 tahun, dorongan batin untuk menikah terasa begitu kuat memanggil-manggil. Setelah melewati tahapan ta’aruf, maka terpilihlah satu nama untuk kupersunting. Tantangan selanjutnya tentu muncul, uang dari mana harus kuambil untuk memberi hantaran dan membeli mahar? Sedangkan ngajar ngaji tidak bergaji.

Kupilih menjadi guru honorer tanpa kuketahui sebelumnya ternyata memang sangat jauh dari cukup untuk oprasional sebulan. Aku harus mencari sumber lain, maka aku menulis buku, dan buku itu terbit menjadi pemenang utama sebuah sayembara lomba naskah buku, dan sebuah instansi pemerintahan yang cukup ternama, entah dari mana jalur komunikasinya, seseorang asing di balik perangkat bicara, menguhubungiku untuk dapat mengisi acara kepenulisan, padahal ilmu kepenulisanku, masih perlu banyak yang harus diasah lagi.

The Power Of Kepepet, kuiyakan saja tawaran itu, setelah selesai mengajar ngaji, aku membaca lagi, dan mempersiapkan diri untuk mengisi acara tersebut. Alhamdulillah tiba di hari H aku lumayan lancar dan interaktif memimpin sharing pengalaman kepenulisan kepada pegawai Bea Cukai Karimun, dan tak kusangka sebelumnya, ternyata honor menjadi pemateri di sana lumayan besar, uang tesebut kusimpan untuk membeli mahar. Berbekal nekat dan sepotong ayat Jika Engkau Nikah Akan Aku Kayakan, maka aku pun mencoba beberapa peluang, seperti menjual beras, menjual pulsa, menjual cabe keliling ke rumah-rumah warga. Aku ingat betul saat membawa karung beras dalam gerobak motor, sore itu beras dan becak motor yang membawa beras masuk ke dalam selokan jalan, untungnya tidak ada yang terluka parah, hanya beras saja yang terburai beberapa karung. Aku seolah sedang Allah arahkan menuju jalan yang tak disangka-sangka, aku mulai berdamai dengan diri sendiri, ternyata di desa banyak menyimpan hal yang belum kusibak menjadi peluang.  singkat cerita kami pun menikah pada 12 Januari 2018, mengusung mimpi-mimpi Khoirunnas ‘Anfauhum Linnas.

Lalu apa yang terjadi selanjutnya?  Pada Ramadhan tahun 2018, sebuah saung berukuran 6×7 meter dengan atap limas dua undakan terbangun, nah prosesnya gak ujug-ujug sih, beberapa donatur dan teman dekat mempercayakan donasinya untuk kegiatan kami sehingga terkumpul sekitar seratus juta rupiah, sehingga kami bisa bangun pustaka juga ruangan MCK, program ini murni swadaya dari masyarakat, yang turut kami libatkan, ada yang memasang tiang, ada yang menyiapkan makanan tukang, ada yang mengaduk semen, ada yang menyumbang bata, semua saling mendukung meramaikan desa ini, desa yang semula sepi, perlahan-lahan mulai dilalui banyak roda kendaraan, mulai dari roda dua hingga roda empat.

Ada perasaan yang tak terukur dengan uang, tatkala melihat senyum anak-anak desa terlukis di wajah indah saat pertama kalinya mereka menggunakan saung yang baru dibangun. Allah Maha Baik untuk seorang Rendra yang penuh dengan dosa, diberi kesempatan memperbaiki diri dari jalan ini, jalan Al-Quran. 

Semakin hari tuntutan semakin besar, kami mulai merancang-rancang sebuah logo dan nama gerakan. Kundur Kampung Al Quran menjadi Brand gerakan ini, mulai didatangi banyak orang, bukan karena aku hebat, malah jauh dari kata hebat, tapi Allah punya kuasa menghimpun hati-hati manusia untuk condong kepada kebaikan.

Aku tak pernah bercita-cita ingin mendirikan lembaga pendidikan, sebab aku pernah merasakan begitu ribetnya birokrasi kepengurusan legalitas sebuah lembaga pendidikan, namun dorongan orang-orang sekitar ‘menjerumuskanku’ untuk melebarkan sentuhan gerakan. Tercetuslah sebuah ide dari para komporer  untuk membeli lahan wakaf, oke aku coba saja tanpa rasa ngotot atau ambisius, perlahan-lahan menetes, akhirnya berlubanglah batu yang keras itu! Pada tahun 2020, kami mampu membeli sebuah lahan untuk dijadikan wakaf pembangunan fasilitas pendidikan Al Quran. 

Aset demi aset wakaf terus kami usahakan untuk menunjang gerakan dakwah Kundur Kampung Al Quran. Tibalah saatnya kami harus menentukan kurikulum apa yang akan kita terapkan di lembaga ini? Setelah membandingkan beberapa kurikulum, maka aku beranikan diri untuk ke Depok menuju Kuttab Al Fatih. Sesampainya di sana, aku diminta untuk pulang dan memepersiapkan persyaratannya yang cukup berat, yaitu harus ada penanggung jawab yang minimal punya gelar Lc, harus ada bangunan dan lahan wakaf, dan harus ada wakaf produktif untuk menopang izzah gerakan pendidikan iman dan Al-Quran. 

Aku pun pulang. Merapikan kembali niat dalam hati. Tibalah kita masuk di tahun 2021. Pandemi masih saja menjadi sorotan mata publik. Tapi kami pun terus begerak walau dalam keterbatasan, sebab dalam gerakan ada banyak keberkahan, maka kami bergerak walau selangkah demi selangkah memaksimalkan potensi yang ada.

Lagi-lagi kami menghadapi peluang yang paling menantang, yaitu siapa yang harus menjadi guru Al Quran, di tengah-tengah mahalnya biaya oprasional bila menghadirkan guru Al Quran dari luar pulau. Jika ada kemauan pasti ada jalan, maka ada tiga siswa lulusan SMA  yang kami rekrut untuk jadi pembina Al Quran, awalnya mereka juga punya bacaan yang belum layak. Kami mencari solusi, tiga lulusan SMA ini harus kami bina, untungnya ada seorang teman yang sedang kuliah di Sudan mengambil jurusan Qiroah, Ustadz Khalid namanya. Sehabis zuhur atau sekitar jam delapan pagi di Sudan kami dibina oleh ustadz Khalid melalui Whatsapp, berkah doa dan kesabarannya membina kami, perlahan-lahan bacaan kami mulai bisa ia garansi. 

Peluang terus tersibak, semakin maju kita melangkah, semakin nampak tujuannya, walau kita tak tahu harus memijak sesuatu yang berbahaya untuk menujunya. Ada kabar gembira dan kabar tak sedapnya, mana satu yang mau kamu dengar duluan? 

Karena aku tak bisa mendengar jawabanmu, maka kuputuskan untuk memberi tahumu dari kabar baiknya dahulu, bahwa pada tanggal 31 juli 2021, kami telah mendirikan Yayasan Kundur Kampung Al Quran, sekaligus mengurus Sertifikat Lahan Wakaf di BPN. Pendirian lembaga ini diharapkan menjadi payung hukum bagi gerakan-gerakan sosial yang kami selenggarakan.

Selain kabar baik, tentu tak lepas pula dari kabar tak sedapnya, bahwa gerakan kami pernah dianggap radikal, pernah dicap ustadz jadi-jadian dan mulai dibanding-bandingkan dengan pesantren lain, aku tetap seperti yang dulu sejak awal hingga hari ini, tak punya rumah, tak punya aset bahkan tak punya kendaraan pribadi, beberapa kali sempat mengeluh ke istri, “Udah ya Nda, Ayah berhenti saja, aset wakaf ini kita serahkan ke orang lain saja, ayah cari kerja yang ada gajinya,” tapi istriku tak banyak menuntut dan ia membesarkan hatiku untuk sabar, menetap mantap untuk kembali ke niatan awal.

“Lalu tanah wakaf kita mau dijadikan apa pak Ustadz?” tanya salah seorang warga.

“InshAllah kita mau bangun masjid dulu pak sebagai pusat kegiatan dan dakwah KKQ, sebab membangun masjid adalah sunnah yang Rasulullah ajarkan dalam gerakan dakwahnya, dan kita meniru langkah agung itu, dari masjid kita tata masyarakat, kita makmurkan, kita bantu dari masjid” jawabku mantap.

“Uangnya dari mana pak Ustadz, nanti mangkrak gimana?” 

“InshAllah ada jalan pak, bukan sekali dua kami hadapi tantangan seperti ini, dan alhamdulillah bisa kita lalui,”

 

*** 

Beberapa dialog penyegar gerakan pun kerap masuk ke membran timpani kami.

“Alhamdulillah pak Ustadz, dulu di depan rumah pak Fulan sering orang-orang kumpul minum tuak dan main judi, tapi semenjak anak-anak mereka ngaji di sini, terdengar suara azan dan suara kajian, mereka sudah tak nampak lagi, barangkali malu sama anak-anak sebab tak memberi contoh yang baik,”

Ada lagi ungkapan perasaan seorang ibu yang pernah kami dengar, 

“Si Jayo anak kami yang spesial ini pak, alhamdulillah heran saya kok bisa ya ngafal An-Naba sampai selesai? Padahal ngaji di tempat lain tak diajarkan hafalan ayat, “

“Iya bu Alhamdulillah, itu Allah yang titipkan hafalan ke anak ibu, “ jawabku.

 

***

Diantara pejam dan jaganya mata. Orang silih berganti datang dan pergi. Saat ini ada sekitar 110 santri yang mengaji bersama kami, ada doa yang akan terus kami pinta bersama para santri. Ibarat menanam benih, tahun-tahun awal adalah menyemai, selanjutnya di tahun-tahun berikutnya akan ada diantara mereka yang kembali dan turut membangun gerakan ini, tiadalah yang mampu menggerakkan hati mereka untuk menebar manfaat kecuali Allah yang Maha Merajai.

***

Beberapa buku Wafa mulai robek di sana-sini, menandai usia gerakan ini sudah berlangsung 4 tahun. kami tampal dan kami sampul, tak mengapa kiranya buku-buku itu rusak asalkan mereka gunakan untuk mengaji. Kita bimbing mereka untuk merawat titipan para Muhsinin, agar bisa diwariskan bagi adik-adik yang datang kemudian, kepada Wafa Indonesia, walau belum pernah berjumpa dengan kami, kami ingin ucapkan Jazakumullah atas ilmu yang membuka banyak kebaikan di desa kami. Huruf-huruf yang keluar dari lisan guru-guru Wafa menumbuhkan harapan suci kemudian hari, semoga menjadi amal  jariyah yang bernilai pahala tak putus-putusnya.

Peluang selalu ada bagi mereka yang mau bergerak, bila tak ia temukan maka ia harus ambil bagian untuk menciptakan. Tanjung Batu Kundur, Kab. Karimun Kepulauan Riau, tempat aku kini mengabdikan diri entah sampai kapan. Membersamai anak-anak mengaji, mengajak pemuda-pemudi setempat menyelenggarakan kegiatan sosial,dari desa untuk Indonesia.  

Kini, saung berukuran enam kali tujuh meter itu sudah kembali sesak. Terdengar riuh suara 110 santri melantunkan juz ‘Amma, juga suara azan mereka masuk ke rumah-rumah warga, melewati celah-celah fentilasi dan jendela, mengetuk pintu paling jujur dalam lubuk hati manusia dan mulai memberi tanda awal kebangkitan di desa ini. Semoga Allah mampukan kami untuk mendirikan Masjid ramah anak sebagai pusat pendidikan, pendidikan berbasis masjid, mendatangkan para guru yang memiliki kualitas. Sehingga anak-anak, dan pemuda kembali ke masjid untuk menggapai gemilangnya.

Kini agustus 2021 yang benar-benar basah, tak menyurutkan langkah para orangtua mengantarkan anak-anak mereka ke rumah ngaji Kundur Kampung Al Quran, padahal jalan yang mereka tempuh belum beraspal, jalanan membentuk kubangan air yang licin, kalaulah tak kuat niat, tentu tak akan mampu mereka bertahan hingga detik ini. Itulah yang membuat kami masih bertahan menggerakan program KKQ.

Aku pun mulai bingung untuk menutup kisah ini, tapi aku terus berharap kelak masih dapat menyaksikan sebuah peradaban madani, minimal terbentuk dari desa ini, setiap rumah warganya memiliki minimal seorang hafidz Al Quran, menjadi tren dan aib pula bila di rumah mereka tidak ada seorang pun anak mereka yang hafidz Al Quran. Semoga ya, ini adalah cita-cita kita semua, aku dan kamu bersama Al Quran. Semoga kita berakhir bahagia bertemu kembali Allah jamu di surga, setelah sekian lelah meniti lelah di dunia. 

 

Di Ketik di Pulau Kundur, pada Agustus yang basah.

25 Agustus 2021

_
Penulis : Rudi Rendra – Kundur Kampung Al-Qur’an

Bersama Wafa, Membangun Moderasi Qurani

Tak mudah menerima suatu kebaruan dalam pranata yang telah berjalan lama. Demikian pula menerima WAFA di tengah masyarakat Madura yang telah terbiasa dengan metode Bagdadi yang melegenda. Tapi sungguh, WAFA menjadikan kami harus belajar mengimplementasikan moderasi dalam sisi yang berbeda. Yah,  moderasi Qurani. Moderasi dalam mengaji.

Gaung moderasi di Kementerian Agama  menjadi sumber inspirasi agar tidak menjadikan metode mengaji yang bervariasi sebagai sarana pemecah belah umat. Toh tujuan yang ingin digapai sebenarnya sama yakni rido ilahi. Bukan rahasia umum jika beberapa oknum masih saja suka mengait-ngaitkan perbedaan metode terkait paham keagamaan yang berbeda. Mereka dengan mudah mengklaim metode yang mereka gunakan sebagai metode paling benar, paling fasih dan paling-paling lainnya. Tak mudah memberikan masukan berupa pendapat obyektif pada orang yang sudah telanjur menananamkan klaim di pikirannya. Oleh karena itu, dengan metode WAFA yang menerapkan prinsip Quantum Teaching dalam prosesnya diharapkan bisa menjadi metode baru yang aplikatif dan moderat. Menjadi hal yang niscaya bagi para guru al-Quran  untuk mengawali niat belajar al-Quran dengan ketulusan hati demi mengagungkan kalam Ilahi. Hal penting lain yang harus dipersiapkan adalah mempersiapkan siswa sebagai para pembelajar al-Quran untuk memulai hal yang sama. Tujuan utamanya tentu agar pembelajaran al-Quran tak hanya menjadi sebuah pembelajaran ansich, namun menjadi sebuah kegiatan menyenangkan yang bernilai ibadah.

Penghujung tahun 2017, sebagai koordinator bidang kurikukum di MIN 1 Bangkalan, saya dibuat pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, hasil survey Kualita Pendidikan Islam (KPI) terhadap beberapa sekolah Islam di Jawa Timur, menunjukkan bahwa beberapa sekolah termasuk sekolah kami merupakan lembaga pendidikan Islam yang belum menggunakan metode mengaji yang terstandart. Artinya validitas kualitas baca al-Quran siswa juga diragukan. Kami memang belum menerapkan satu metode tertentu sebagai tolok ukur keberhasilan siswa dalam membaca al-Quran. Sehingga standart BAIK siswa kami dalam membaca al-Quran menjadi tidak obyektif dan tidak valid karena tidak ada alat pengukur standart. Masih terngiang ketika trainer KPI kala itu mengingatkan : “jangan-jangan baik menurut gurunya saja”. Seketika itulah kami menyadari urgensi penetapan sebuah metode dalam lembaga resmi tidak hanya sebagai pelengkap, tapi bahkan merupakan suatu kewajiban. Terlebih visi madrasah kami adalah mencetak generasi yang Islami dan Qurani. Sebuah ironi yang membuat kami terlecut untuk berbenah diri dan segera menentukan metode mengaji yang terstandar.

Akhirnya, hasil musyawarah dengan kepala madrasah dan saran dari tim mitra di KPI Surabaya, kami memberanikan diri menggunakan platform WAFA. Pada awalnya banyak yang tidak menyetujuinya. Selain belum familiar di wilayah Madura, beberapa orang tak sependapat dan memberikan alternatif metode mengaji lain yang memang sangat variatif. Saat itu yang banyak digunakan di daerah kami adalah metode Qiroati, Tilawati, Ummi, dan Baghdadi. Meski WAFA sudah didirikan oleh YAQIN dari tahun 2012, tapi kami sama sekali belum familiar saat itu. Kami mempelajari kelebihan metode WAFA dari beberapa sumber. Hal positif yang bisa kami rangkum  diantaranya  bahwa metode WAFA menghadirkan sebuah proses pembelajaran al-Quran yang sistemik, integratif dan komperhensif. Metode WAFA mencakup 5 T yang terintegrasi dalam proses pembelajaran yakni Tilawah, Tahfiz, Tarjamah, Tafhim dan Tafsir. Metode WAFA juga mengggunakan aspek multisensorik serta optimalisasi otak kanan yang mampu mengendapkan memori jangka panjang (long term memory). Berdasarkan banyak hal positif tersebut, akhirnya kami meputuskan untuk menggunakan metode WAFA sebagai metode mengaji di MIN 1 Bangkalan. Dukungan kepala madrasah yang luar biasa sangat membantu kelancaran implementasinya, sehingga kami seluruh guru MIN 1 Bangkalan –saat itu masih bernama MIN Kamal- mendapatkan pelatihan intensif guru al-Quran WAFA. Implementasi tak semudah ekspektasi. Dalam perjalanannya, tentu banyak sekali kendala yang kami temui di lapangan. Setahap demi setahap kami melaluinya dengan tekun. Dengan jumlah murid yang lumayan banyak, saat itu kurang lebih 569 murid beserta 25 guru,  kami harus memetakan kemampuan mengaji mereka. Berkat bimbingan dari tim WAFA, kala itu ada Ustadz Adhan Sanusi dan Ustadz Wawan Fitriono, kami memulai inisiasi implementasi metode WAFA di lembaga kami. Hampir seminggu lebih kami menata kelas berikut administrasi persiapan WAFA melalui placement test menggunakan lembar uji khas WaFA. Tim khusus guru Tahsin dilibatkan untuk melakukan uji kemampuan membaca al-Quran dari siswa kelas 1 hingga kelas 6 yang berjumlah kurang lebih 20 rombel. Alhamdulillah biaunillah kami berhasil memetakan siswa dalam kelas-kelas WAFA sesuai dengan kemampuan baca al-Quran mereka. Hal ini ternyata juga sangat membantu guru mapel al-Quran Hadis dalam pembelajaran mereka di kelas. 

Setelah terpetakan dengan rapi, kemudian kami menentukan tim guru al-Quran yang mendampingi kelas-kelas tersebut berdasarkan hasil pemetaan TIM WAFA. Ya, sebelumnya dalam pelatihan WAFA kami para guru sudah dipetakan berdasarkan kemampuan membaca al-Quran. Jujur, saat itu hanya satu orang teman guru yang lulus dan mendapatkan sertifikat mengajar WAFA. Sebagian besar lulus di buku lima, buku empat dan sedikit di buku dua. Dalam prakteknya, kami hanya tinggal menyempurnakan kualitas bacaan saja dari segi fasahah dan sifat-sifat huruf.  Untuk yang sangat urgen seperti panjang pendek bacaan dan hukum Tajwid, para guru dinyatakan lulus. Menurut beliau para trainer WAFA yang membimbing kami, untuk sementara kami diperbolehkan mengajar sesuai dengan taraf kemampuan hasil pemetaan. Umpamanya guru yang lulus di buku tiga,  diperbolehkan mengajar hanya sampai buku tiga. Demikian seterusnya, sehingga kami bisa menjalankan metode ini bersama seluruh tim kami. Untuk menyempurnakan kualitas guru, kami akan diupgrade lagi nantinya.

Akhirnya tibalah hari H kami memperkenalkan metode WAFA kepada siswa-siswa kami. 
Sambutan mereka antusias luar biasa terasa. Mata saya kaya roda menggema di setiap agenda. Alhamdulilah, agenda utama kami untuk menjadikan metode WAFA sebagai metode baca al-Quran di lembaga kami berjalan lancar. Senang sekali rasanya mengaji dengan ceria dan bahagia. Tentu banyak hal yang harus kami kaji dan perbaiki. Dua tahun pertama kami menemukan banyak kendala. Madrasah Negeri seperti lembaga kami memang memerlukan evaluasi dan perbaikan yang terus menerus. Diantara kendala yang paling nyata adalah sulitnya mencari waktu khusus agar kualitas mengaji para siswa tetap terjaga. Intensitas pertemuan juga harus rutin. Padatnya jadwal dan tuntutan kurikulum madrasah menjadikan kami harus mereschedule agar WAFA bisa berjalan optimal. Pada awalnya kami hanya menjadwalkan di hari Sabtu, hingga akhirnya kami jadwal ulang setiap hari sebelum pembelajaran resmi dimulai. Jadi setelah shalat Dhuha, anak-anak akan belajar sesuai kelas WAFA di tempat-tempat yang telah ditentukan. Kendala lainnya adalah beberapa siswa banyak yang mengaji diniyah sore di TPA masjid atau madrasah di luar sekolah.  Ternyata di tempat mengaji, anak-anak mendapatkan metode yang berbeda. Hal yang terdeteksi pada awalnya adalah nada baca Hijaz  yang terkontaminasi dengan dengan nada-nada metode mengaji yang lain. Pada dasarnya hal itu tidak kami permasalahkan karena yang penting kualitas mengajinya yang kami perhatikan. Disinilah, kami memegang erat konsep dasar moderasi. Tentu menjadi ganjil, jika kami melarang para siswa mengaji dengan metode yang lain. Justru, dengan demikian, mereka menjadi lebih memahami variasi metode baca al-Quran. Namun, konsekuensi logis tentu ada. Ternyata tidak mudah bagi kami untuk meluruskan kembali agar kembali pada pakem Hijaz WAFA. Intensitas mereka yang tentunya lebih banyak di TPA atau diniyah, tentu membuat kami jungkir balik memperbaiki nada Hijaz WAFA yang menjadi ciri khas yang tentu tak boleh lepas. Inilah bentuk nyata moderasi Qurani. Kita harus tetap memegang teguh ciri khas, namun tak perlu menafikan yang lainnya. Toh kami bersyukur karena nada Hijaz yang easy hearing sangat mudah diingat oleh anak-anak.

Hal utama yang belum juga berhasil kami implementasikan hingga hari ini adalah Munaqasyah langsung dari TIM inti WAFA. Perbaikan terus kami upayakan, namun masih banyak hal yang menghalanginya. Saat pandemi melanda, kami sempat vakum karena pemberlakuan kurikulum darurat dengan jam belajar minimalis. Tahun ini kami mulai mengintensifkan mengaji online, terlebih WAFA juga sudah menyediakan aplikasi online yang sangat membantu kami.  Memang, tak mudah merealisasikan idealitas di tengah heterogenitas. Bukan tak bisa, tapi memang butuh waktu yang tidak sebentar dan terkesan stgnan di tempat. Lembaga negeri dengan berbagai keterbatasan kendala aturan kurikulum, menjadi kesulitan tersendiri yang sampai hari ini seolah tak teratasi. Namun, semangat kami untuk tetap mengusung WAFA sebagai standar keberhasilan baca al-Quran tetap kami upayakan. Tahun 2020 kemarin, para guru MIN 1 Bangkalan kembali mendapat Upgrading ilmu al-Quran dari Tim WAFA. Beberapa perbaikan kami lakukan di banyak lini meski berada dalam kondisi pandemi. Semoga niat kami untuk mengawal generasi Qurani dalam iklim moderasi tetap membara. Mewujudkan impian bersama WAFA, membangun generasi mulia selamanya. Aamin.

_
Penulis : Rurin Elfi Farida, SHI., M.PdI, M. Pd. – MIN 1 Bangkalan

Usaha dan Do’a akan Membuahkan Hasil

Berbagai kafilah datang dengan robongannya masing-masing. Hanya saja kafialah-kafilah itu tidak datang dengan mengendarai unta, karena tempat ini memang bukan padang pasir. Melainkan sebuah tempat yang katanya, sama dengan mempermudah jalan menuju surga. Tuhanku sendiri mengatakan seperti itu. Sebgaimana potongan hadits yang diriwayatakan oleh Abu Hurairah Ra, Rasullulah Saw bersabda:

“Man salaka thariqan yaltamisu fiihi I’lman sahhalallahu lahuu bihi thariqan ilaljannah”

“Barang siapa menemuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya.” (HR. Muslim).

Dari yang keluaran paling terbaru, motor yang bodinya buncit-buncit, hingga motor dan mobil sejuta umat, silih bergantian memasuki sebuah tempat yang asal muasalnya dicetuskan oleh Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau dalam buku sejarah lebih sering kita kenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Ya, sekolah. Tempat yang seharusnya menjadi tujuan mempercepat langkah menuju surga.

Namun tidak semua hamba-hamba yang datang ketempat ini berniat untuk menuntut ilmu. Ada yang datang menjadi Firaun, memamerkan segala benda mahal yang dimilikinya. Ada yang datang untuk bersaing dengan istrinya Abu Lahab, dari awal menginjakkan langkah pertama di gebang masuk, mulutnya bebuih membicarakan keburukan guru atau siswa lainnya hingga pulang. Namun tidak sedikit juga yang memiliki keseriusan belajar laksana Abu Hurairah.

Kulangkahkan kakiku dengan penuh ketakziman, kuluruskan niatku untuk mengajar anak-anak di kelas, agar anak-anakku meraih kemudahan dan kefahaman dalam belajara dan menghafal al-qur’annya, dihari pertama ngajar, saya hanya mengamati bagaimana karekter setiap anak didik yang akan saya hendel dan saya ajari. Karena saya ngajarnya dirumah tahfidz maka banyak anak-anak dari kalanagan umum yang masuk di sekolah tersebut. Tertanya didalam keles ada satu anak yang berumur 3,5 tahun karena iya berasal dari TK umum bukan TK dari tempat saya ngajar maka butuh bimbingan khusus untuk anak ini, karena dia belum terbiasa dengan menghafal al-qur’an. Suatu hari anak ini berulah masalah kebetulan saya yang bertugas untuk mengkondisikan anak-anak didalam kelas tersebut, setelah melaksanakan sholat ashor anak ini ingin keluar dari kelas karena saya tidak mengejinkan keluar maka dia tidak berani keluar, akan tetapi dia malah mencopot  gambar tulisan huruf hijaiyah yang dikasih warna oleh temen-temennya yang ditempel didinding kelas,saya tegur dia, dia malah mengeluarkan jurus handalnya yaitu dengan cara menangis, melihat anak tersebut menangis saya merasa iba dan kasihan jadi saya biarkan saja dia mencopot gambar-gambar tersebut, dan teman patner kerja yang didalam kelas pun tidak menghirau kan saya yang lagi kesusahan mengatasi anak tersebut, belum berakhir pelajaran ketua yayasan sekolah pun masuk mengontrol setiap keadaan kelas, setelah sampai ketua yayasan di kelas yang saya hendel, betapa terkejutnya beliu melihat anak yang lagi asyik main merobek-rebek ketas yang dia copot tadi. Pelajaranpun berakher, setelah semua anak-anak pulang dijemput oleh orang tuanya masing-masing, rapat dengan ketua yaysan pun dimulai, nah disini lah saya dimarahi oleh ketua yayasan karena membiarkan anak mencopot gambar-gamabr yang ada didinding, singkat cerita sayapun ingin dipidahkan oleh ketua yaysan di kelas level 2 dimana anak-anak tersebut hafalannya sudah selesai juz 30 dilanjutkan dengan hafalan juz 29, tapi kerana patner kerja dilevel 2 tersebut laki-laki dan belum menikah, seketika rawut mukaku berubah menjadi pucat, tanganpun gemeter, sayapun terdiam tidak menanggapi perkataan beliu, Cuma dengan gerakan tubuh saya menolak dipasangkan dengan laki-laki tersebut, akhirnya saya tidak jadi dipasangkan patner kerja dengan laki-laki tersebut. Saya bertekat bahwa dalam 1 minggu saya bisa menghendel kelas dan menghendel anak-anak. Akan tetapi kisah yang saya tuangkan bukan dari anak ini melainkan dari seorang anak yang ibunya bekerja serabutan dan ayahnya bekerja di tempat perantauan, sekali sebulan baru pulang kerumah. Sebut saja namanya Ilmi

Minggu kedua masuk sekolah, anak-anak sudah aktif pembelajaran dalam menghafal, ketika itu Ilmi setoran hafalan dengan ustadzah atun dia terhenti di surah an-Naba, saya lupa ayat berapa, dikarnakan anada ilmi keliru dalam pelafalan huruf ز , jadi ustadzah atun tergur dia utuk memperbaikinya, sudah beberapa kali mencoba melfalkan huruf tersebut akan tetapi tidak berhasil, akhirny dia berhenti diayat tersebut. Besoknya bundanya datang bercerita kepada kami bahwa ananda ilmi kemarin selesai ngaji datng kerumah langsung menangis, bundany pun bertanya kepada ilmi “kenapa kamu menangis, apakah di sekolah ada yang mengganggu”, dia pun menjawab dengan air mata berlinang “aku kasihan dengan ustadzah yang mengajariku membaca dan menghafal al-qur’an karena aku tidak bisa-bisa melafalkan huruf hijaiyah dan panjang, pendeknya pun masih banyak yang keliru, aku sudah mencobanya tapi aku tetap tidak bisa, makanya aku menangis karena kasian dengan ustadzah yang susah payah mengajariku”. Masya allah betapa mulianya hati ananda ilmi ini kami sebagai gurunya menjadi terharu setelah mendengar cerita bundanya, bundanya berpesan kapada kami tolong jangaan busen mengajari anak kami karena kami sebagai orang tuanya tidak bisa mengajarinya hanya dia yang bisa kamiharapkan bisa mengaji disekolah ini, selesei berbincang-bincang dengan bundanya ilmi kamipun mengucapakn terimakasiih sudah mempercai anak beliu sekolah ditempat kami dan meminta do’a agar ananda ilmi diberi kemudah dan kepahaman dalam belajar dan menghafal al-qur’an.

Keesokan harinya saya dan temen-temen yang mengajar disana selalu memberi bibingan kepada anada ilmi dan memberikan semangat agar tidak busen-usennya belajar, kata saya “jangan bersedih karena kita ngajinya masih terbata-bata, sesungguhnya allah itu sayang dengan kita, dengan terbata-bataanya bacaan kita maka kita buh berulang-ulang kal untuk membenaarkan bacaan kita, satu huruf allah ganjarkan dengan pahala sepuluh kali lipat bayang kita membacanya berulang-ulang maka pahala kitapun banyak”.

Hari berganti hari, minggu pun berganti minggu seirinya waktu berjalan ananda ilmi pun lebih giat belajar ketika dia salah mengahafal kami betulakan besoknya dia stor ulang  hafalnya lebih baik hafalannya dari pada kemarin, alhamduliilah bulan aprel tahun 2020 kemarin dia ikut lommba tahfidz tinggkat kabupaten dia merayih juara 3, dan hafalnya di bulan aprel tahun 2020 sudah mencapai 3 juz.

Allah tidak akan merubah nasib hambanyaa kecuali hambanya itu sendiri yang merubahnya. Berusahalah yang giat selagi itu dijalan kebenaran, dan bersabarlah, ikhlas dan tawakkal kepada allah segala apa yang kita usahakan, dan jang lupa berdo’a kepada allah apa yang kita usahakan, seandainya allahpun belum manggabulakan setidaknya kita dapat pahala atas do’a kita. 

Dilain temapat, ini cerita penagalam dari teman saya yang bernama Siti Rahmida.

Diawal tahun 2020 merebaknya virus covid-19 atau bisa disebut virus corona yang menjadi catatan sejarah dunia. Bermula dari negara cina sampai menyebar ke negara indonesia. Selain hanya memakan korban jiwa, covid-19 juga mengancam adanya krisis ekonomi global.

Di indonesia jutaan orang terancam kehilangan pekerjaan merika ditengan penerapan pembatasan sosial berskala besar ( PSBB) demi memutus rantai penyebaran virus corona. Kerugian yang dialami , misalnya pengahasilan para pedagang yang drastis menurun, para buruh serta guru yang hampir kehilangan pekerjaannya karena diistirahatkan untuk sementara berhubung dana untuk menggaajih para buruh dan guru tidak mencukupi. Virus corona ini menyebabkan hampir seluruh dunia lembaga pendidikan diliburkan oleh pihak pemerintah agar mengurangi menyebaran virus yang sangat membahayakan.

Siti Rahmida sebagai pengajar juga merasakan kegelisahan yang mendalam terhadap apa yang menimpa negeri ini. Sekolah diliburkan untuk belajar tatap muka dalam jangka waktu yang panjang. Waktu demi waktu berlalu, mulailah rasa kebusanan itu muncul dihaati Siti Rahmida. Berbagai macam kegiatan-kegiatan yang penah dijalani, kini telah tetunda. Karena sebelum terjadinya pandemi ini, di sekolah sangat ramai anak-anak belajar di dalam kelas. Selain kegiatan belajar, mengajar anak-anak juga sering pergi mengunjungi pepustakaan untuk membaca buku disana. Pada saat jam istiraha halaman sekolah dipenuhi oleh anak-anak yang bermain. Misalnya bermain sepak bola, lopat tali, bulu tangkis, engklek, asinan dan lain-lain.

Saat pembelajaran dimulai, sekolahpun bergemuruh dengan suara anak-anak yang sedang belajar, mengaji, menghafal surah serta hadits, bernyanyi, bercanda ria dengan tema-temannya, dengan guru makan bersama sambil menonton video tentang kisah nabi dan kisah-kisah islami lainnya, sholat berjama’ah yang dipimpin oleh salah stu siswa,qailullah bersama di dalam kelas, mabit, kegiatan pramuka, outbound, market day (belajar jual beli menurut islam) yang dipenuhi anak-anak dan para orang tua. Semua aktivitas yang dijalani di sekolah telah menjadi kenangan oleh semua ustadz-ustadzah dan juag anak-anak didik. Oleh karena itu kenagan yang lalu bisa mengobati rasa sedih dan rindu yang berkecamuk didalam hati.

Sebelum pandemi, diawal tahun ajaran baru anak-anak bersemangat sekali masuk sekolah dengan harapan bisa pergi kesekolah yang baru untuk bertemu dengan ustadz-ustadzah yang belum dikenal, teman-teman yang baru, kelas baru, dan memakai seragam baru, serta membawa peralatan sekolah yang lengkap. Semua itu terliahat dari wajahnya yang ceria dan bahagia saat memasuki sekolahnya. Saat pengenalan lingkungan sekolah mereka mengikuti semua aktivitas yang diarahkan oleh ustadz-ustadzahnya dengan baik .

Namu sekarang jauh berbanding terbalik, koma dimana masa pengenalan sekolah disaat pandemi hanya diaadakan secara online yang diambil video oleh ustadz-ustadzah kemudian dikirim melalui grup whatsapp. Pada pembelajaran wafa biasa dilaksakan didalam kelas atau diluar kelas yang suasananya seju, indah, dan tenang yang bertempat disaung-saung atau dirumahan kecil yang sangat cocok untuk dijadikan tempat pembelajaran wafa. Sekarang pembelajaran wafa hanya bisa dilakukan dipalikasi zoom meeting dengan waktu yang terbatas, orang yang terbatas, dan tidak bisa memberikan pembelajaran secara efektif.

Saat melakukan pembelajaran online, Siti Rahmida tidak dapat membuat chemistry (hubungan bati) terhadap anak didik, yang hanya saya dapat ketika pembelajaran tatap muka. Saat pandemi ini para ustadz-ustadzah dipaksa untuk menguasai ilmu teknologi yang dimanfaatkan untuk proses belajar mengajara yang lebih optimal. Beruntungnya saat ini teknologi berkembang semakin maju. Karena mampu meberikan solosi untuk berbagai kebutuhan hidup. Salah satunya kemajuan teknologi adalah dalam bentuk sekolah online. Dengan diadakannya sekolah online dunia pendididkan pun bisa terjalani.

Dengan berjalannya waktu keluhan demi keluhan dari orang tua anak didik bermunculan, karena proses belajar menagajar yang sudah lama diliburkan, kini kebijakan dari pemerintah melakukan proses belajar mengajar dengan cara BDR (belajar dari rumah). Adapun aplikasi yang digunakan ketika pembelajaran seperti whasapp, zoom meeting, youtobe, dan lain-lain. Namun tidak semua orang tua anak didik siap menjalani pembelajaran dengan cara yang baru. Karena sebagian orang tuanya tidak menguasai dengan dunia teknologi. Dengan demikian pendidik dituntut untuk menghasilkan ide-ide kriatif agar tercipta proses yaang interaktif dapat dipahami, dan diterima oleh anak didik dan orang tuanya.

_
Penulis : Husnaniah – SDIT Ihsanul Amal Alabio

Pengalaman Dari Kuliah Sampai Mengajar

Menjadi penghapal Al-Qur’an memang sangat membahagiakan bagi kita semua karena akan menjadi hujjah kelak nanti di hadapan Allah SWT dan dengan menghapal Al-Qur’an semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. 

Awal mula, menghafal Al-Qur’an adalan saat memasuki dunia perkuliahan di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an. Sebelumnya, saya berpikir menghafal Al-Qur’an itu sulit dan begitu terasa melelahkan saat melihat betapa tebal pedoman umat Islam ini.  

Keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih berkualitas lagi tatkala mengikuti jejak adik saya memutuskan berkuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai. Ia baru menyelesaikan pendidikannya di jenjang Madrasah Aliyah. Dan, Berkat dorongan orangtua yang menyanggupi membiayai kuliah, berani melangkah masuk ke masa perkuliahan. Dalam bayangan saya banyak rencana tersusun rapi guna tidak ingin mengecewakan kerja keras orangtua. Salah satunya menghafal 2 ayat atau lebih sehari untuk mengejar target minimal yang telah disyaratkan oleh pihak kampus.   

Awal-awal menghafal di masa perkuliah di mulai dari juz 30 dari surah-surah yang pendek, lalu ke juz 29 yang sudah mulai surah panjang-panjang, tapi alhamdulillah saya bisa menghafalnya. Berlanjut ke surah pilihan seperti surah Sajadah, Al-Waqi’ah, Yasin, dan Ad-Dukhan karena surah-surah amalan rutinan di setiap malam. Jika sudah melalui juz 30, 29 dan surah pilihan akan diperbolehkan menghafal dari juz 1 sampai seterusnya. 

Teman seperjuangan merupakan orang-orang yang paling mempemgaruhi saya dalam menghafal Al-Qur’an. Saya dan beberapa teman-teman penghafal Al-Qur’an memulai dari nol. Tekad saya membara saat teman seperjuangan menyetorkan hafalannya dua halaman dalam sekali stor bahkan lebih dari itu. Saya melakukan intropeksi diri dan berkata dalam hati, “Dia bisa stor hafalan sampai lebih dari 2 halaman, kenapa saya tidak?”

Maka, di sinilah saya giat menghafal. Menurut pendapat kebanyakan orang waktu paling ampuh dalam menghafal pada waktu Magrib dan Subuh. saya coba menghafal pada masa yang dianjurkan dengan membiasakan satu halaman setelah shalat subuh, lalu jam 9 atau jam 10 pagi mengulang hafalan. Begitu juga, setelah shalat magrib menghapal satu halaman, lalu selesai shalat isya mengulang kembali agar lebih kuat hafalannya. Menurut pengalaman saya dalam menghafal satu halaman jika tidak ada pengulangan maka hafalan akan hilang dan tidak bisa distorkan ke Instruktur Tahfiz.

Lingkungan dan teman yang baik sangat mempengaruhi segala aspek kehidupan. Termasuk berada diantara ahli Qur’an yang sangat mendukung perjuangan saya sebagai penghafal Al-Qur’an dan menjadi jalan motovasi saya menghadapi berbagai kesulitan yang melanda.

Saya bergabung dalam lembaga Sekolah Islam Terpadu Ihsanul Amal dipertengahan bulan september kala sidang skripsi telah sukses dilewati dan menunggu untuk merayakan perjuangan perkuliahan. Satu minggu pertama masuk ke sekolah ini hanya melihat proses ustadz dan ustadzah mengajar. Dan, belajar bagaimana cara mengajar yang baik dan menkondisikan kelas agar para siswa bisa fokus untuk menyimak materi yang di sampaikan ustadz dan ustadzah.

Dalam melakukan pembelajaran kita harus dari awal bersikap tegas, bukan berarti marah-marah. Dengan ketegasan agar anak-anak  segan pada kita dan mereka akan patuh pada teguran jika mereka melakukan kesalahan yang tidak wajar. Anak-anak akan semaunya ketika ketika ketegasan tidak dilakukan diawal pertemuan. Mereka juga akan menutup telinga segala masukan dan teguran yang diberikan. 

Dalam proses mengajar kita harus selalu belajar kepada yang lebih ahli dan lebih berpengalaman, karena yang lebih ahli dan berpengalaman ini lebih banyak mempunyai jurus jitu dalam mengkondisikan kelas. Oleh karena itu, satu tahun pertama saya memang agak kesulitan dalam mengkondisikan kelas dan saya juga berusaha terus belajar, seperti bagaimana melihat wali kelas mengajar, dan tepuk-tepukannya bagaimana wali kelas itu saat mengajar. Guru-guru baru pun terus diberi pelatihan agar bisa mengajar dengan baik sesuai standar.

Alhamdulillah, di tahun kedua mengajar ditempatkan masih di kelas 1. Saya sudah lebih percaya diri dalam mengajar dan lebih bisa mengkondisikan kelas agar tetap fokus dan menyenangkan dalam mengajar. Pada masa musim pandemi ini, segala kreatifitas kita harus dikeluarkan agar pelajaran Al-Qur’an tetap asik dan menyenangkan bagi siswa walaupun secara online.

Dan pada tahun ini tahun ketiga saya mengajar pada ajaran 2021-2022, adalah sebuah tantangan untuku karena di tempatkan menjadi guru Al-Qur’an di kelas 6 yang karakteristik siswanya berbeda dari kelas 1 dan cara mengajarnya pun sangat jauh berbeda. Asalkan mau belajar dan terus belajar insya Allah akan dimudahkan segala urusan oleh Allah dan tetap selalu melakukan yang terbaik serta semaksimal mungkin agar mendapatkan hasil yang baik dan maksimal juga.

_
Penulis : Syahid – SDIT Ihsanul Amal