Perjalanan Merintis Karir

Nama saya Mohamad Ikbal Ramadhan, Lahir di palu 25 februari 1999. Saya seorang guru di salah satu sekolah menengah pertama di palu yaitu SMP islam terpadu bina insan palu. Sebelum menjadi seorang tenaga pendidik di sekolah, saya adalah seorang mahasiswa dan wiraswasta. Kok bisa dua? Iyaa, karena ketika masih kuliah saya sudah membantu orang tua saya berdagang , dari kecilpun saya selalu menemani ayah saya untuk berdagang sampai saya menempuh pendidikan di bangu perkuliahan. Di akhir perjalanan studi saya, saya mendapatkan ujian yang sangat berat pada waktu itu, ujian yang saya dapatkan waktu itu adalah wafatnya orangtua laki laki saya disaat pandemi meraja lela dan perekonomian keluarga yang tidak stabil . sehingga saya sangat sulit untuk mengatur waktu, keuangan serta kuliah saya. Alhamdulillah denga seiring berjalan waktu saya membiasakan diri dengan keadaan saya mencoba mengatur keuangan, waktu dan kuliah. Dengan pembiasaan diri seperti itu saya bisa menyelesaikan study saya dengan predikat coumlaude. Setelah lulus dari bangku kuliah saya memutuskan untuk mencari kerjaan sampingan agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga di rumah. Ketika mendaftar di sekolah sekolah saya di teria di smp islam terpadu bina insane terpadu. Awal masuk sekolah saya mencoba untuk berbaur dengan guru guru dan mencoba membaur dengan kebiasaan yang baru. Awalnya kaget dan tidak terbiasa, tetapi dengan berjalannya waktusaya mulai terbiasa dengan lingkungan disekolah. Pada awal saya mengajar pada anak anak, saya mengikuti penerimaan siswa baru atau yang disebut dengan MPLS ( Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah ) bersama dengan rekan rekan guru yang berada di lingkungan smpit bina insan palu. dengan adanya MPLS ini saya bersemangat untuk bisa mengenal lebih dekat siswa siswi saya yang akan di anajr di sekolah. Setelah mengikuti kegiatan MPLS saya membuat rancangan rancangan pembelajaran dan metode metode yang akan saya pakai untuk mengajar. setelah beberapa hari mendapatkan arahan dan petunjuk dari pimpinan, saya membuat perangkat pembelajaran yang berlaku di sekolah saya. Ketika proses pembuatan saya mendapatkan kesulitan dalam proses pembuatan, karena di masa sekarang wabah pandemi sudah merajalela dan sudah banyak yang terpapar virus. Itulah yang membuat saya terus berupaya untuk mencari jalan keluar dan solusi agar pembelaran bisa lebih efektif. Ketika awal mengajar saya menggunakan aplikasi zoom, mecoba berinteraksi dengan anak anak didik dan berkenalan dengan mereka secara online. Setelah itu saya masuk ke materi yang akan saya ajar. Ada banyak kendala kendala yang saya dapatkan dalam pembelajaran di masa pandemi ini. Materi tidak sempurna tersampaikan, anak anak jaringannya susah, ada yang kehabisan data dan bahkan ada anak yang tidak mempunyai hp sama sekali dan masih banyak lagi. Dampak yang dirasakan guru guru dan anak di masa pandemi sekarang membuat kegiatan belajar mengajar sangat tidak efektif sehingganya saya selalu mencari jalan keluar dan solusi yang tepat agar kegiatan belajar mengajar bisa lebih efektif di masa pandemi seperti sekarang. Banyak hambatan, rintangan yang saya lalui tetapi tidak membuat saya mundur untuk selalu mencari jalan alternatif yang menurut saya cocok untuk di gunakan pada saat kegiatan belajar mengajar. Kami guru guru sangat mengharapkan pandemi ini akan segera berakhir danbisa belajar secara tatap muka bersama murid , karena banyak sekali keluhan keluhan murid yang di lontarkan kepada kami para guru guru dan itu membuat kami sangat terpukul disaat mereka merindukan sekolah mereka tetapi apalah daya semua kegiatan masih di batasi oleh keadaann seperti sekarang. Kami guru guru selalu berdoa untuk siswa siswi kami agar menjadi pribadi yang tegar, yang kuat dalam menghadapi ujian ini, kami guru selalu berikhtiar agar pandemi ini segera berlalu dan bisa belajar bersama. Sejauh perkembangan virus ini saya hanya bisa melakukan pembelajaran melalui zoom menggunakan aplikasi zoom, classroom, dan aplikasi aplikasi penunjang lainnyadan untuk tugas tugas praktek saya memberikan tugas video agar nilai nilai yang harus saya capai bisa terukur atau ternilai dengan baik. Dengan metode atau strategi seperti itu, saya berharap pembelajaran menjadi lebih baik dan siswa siswi bisa menerima dengan baik pula. Mari bersama sama kita berdoa dan berikhtiar bersama agar negara kita bisa mengatasi pandemi yang sedang melanda di negara kita yang tercinta ini agar kedepannya khususnya di bidang pendidikan bisa sekolah bertatap muka lagi dan bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang menarik dan tentunya sangat seru. Jangan lupa untuk selalu meningktan program kesehatan 5M agar kita terhindar dari virus dan senantiasa melindungi orang orang di sekitar kita serta keluargaa kita. Semoga Allah SWT menguatkan hati kita, memperkuat rasa sabar kita dan selalu melindungi kita dari bahaya. Aamiien..

_
Mohamad Ikbal Ramadhan, S.Pd. – SMP Islam Terpadu Bina Insan Palu

Menjadi seorang guru bagi saya merupakan  bukan hanya sebagai profesi namun bagaimana juga saya mampu menilai arti dari sebuah kata guru yang didalamnya mengandung makna mulia dengan berbagi ilmu, berkah dalam hidup dan berkomitmen mewujudkan  generasi bangsa yang cerdas berakhlak mulia serta berkarakter sesuai Sunnah, Dimana untuk menyampaikan nya pun membutuhkan keikhlasan, dari arti keikhlasan inilah yang nantinya akan mampu membuka pintu hidayah sosial 

 

Berawal dari sebuah suport dan dorongan dari  beliau lah yang memimpikan seorang anak wanitanya menjadi seorang guru, meskipun dari keluarga yang kurang mampu, saat itu  tidak saya tahu bagaimana bisa mewujudkan impian beliau, meskipun suatu hal yang mustahil bagi saya.”karena pada hakikatnya yang namanya sekolah pasti harus biaya”

Motivasi ya, hanya terdoktrin dari motivasi beliau lah saja yang menjadi kekuatan niat itu muncul, serta keyakinan bahwa Alloh akan menjawab kesungguhan dalam setiap doa hambaNya.

 

Pada akhirnya langkah kecil ini melangkah dengan dorongan niat meskipun sejuta rasa malu berusaha untuk meleram, saya gandeng teman untuk mengurangi rasa malu dengan bersama melamar menjadi guru meskipun hanya bermodalkan pengalaman dan ijazah dibawah standar nya😔

 

Pada saat itu saya belum mengerti apa hakikat menjadi seorang pengajar, bagi saya datang kesekolah mengajar hanya suatu syarat menggugurkan kewajiban untuk mendapatkan penghasilan, seiring berjalannya waktu  tenyata Alloh telah menyusun scenarioNya untuk saya, betapa bahagianya ketika ternyata Alloh memberikan teman teman Sholeh dan Sholehah yang menunjukkan dan menuntun saya menutup semua masa silam, yang pada awalnya saya hanya dapat melihat dari kacamata material dan komersial menjadi melihat pada arti keikhlasan dan kemuliaan.masyaAlloh,  Karena maklum sekolah kami terkenal dengan agama Islam yang kental dan ukhuwah islamiah yang kuat dan prestasi yang Alhamdulillah

 

Beberapa tahun setelah pergantian  kepengurusan yayasan sekolah kami menggunakan metode WAFA, pada berapa bulan  kemudian, terjadi musim wabah, yang mengakibatkan keterbatasan kami dalam mengajar di sekolah menjadi sedikit kesulitan,karena harus mengajar secara online. sehingga satuan pendidikan sekolah kami  harus menambah dan meng-upgrade kemampuan guru dan wawasan dalam mengajar secara online.  dari sini banyak sekali yang menjadi pelajaran bagi saya pribadi terutama kekurangan saya yakni dalam hal teknologi, masih terngiang pengalaman dan ijazah standar merupakan modal utama saya mengajar, di sini saya benar benar diuji namun betapa pun Alloh yang maha luas ilmunya dalam hati saya berkata , semua saya pasti bisa jika saya mau belajar dan memulai.

 

pelatihan demi pelatihan telah terlalui, alhamdulillah meskipun pada pelaksanaannya banyak sekali ujian dari berbagai arah yakni keluhan keluhan wali santri dan tuntutan sebagai seorang pengajar yang profesional ,membuat saya ingin juga memahamkan agar wali santri bisa mendukung dan bekerja sama dengan saya, pendekatan  pun suatu upaya saya untuk menarik simpatik wali santri untuk tidak pindah dari sekolah ini, karena bagaimana pun sekolah ini semua untuk dakwah yang ingin saya wariskan untuk anak Soleh calon penerus generasi Qurani,

Selain pelatihan dan pendekatan , sekolah kami juga membuka kesempatan bagi para pendidik untuk mengikuti program tahsin wafa online.menambah dan meng-upgrade wawasan begitu yang saya lakukan bersama teman teman untuk tetap menjadi yang terbaik dan menyambung berlangsung nya langkah dakwah ini meskipun saat pandemi yang penuh ujian ini.

 

Penting untuk selalu saya terapkan dalam hati  mengajari harus mencontohi, maka bagaimana anak didik saya bisa hafal, tentunya saya dulu harus hafal,semoga dengan metode WAFA ini menjadikan saya lebih bersemangat dalam menghafal.

Dan saya yakin bahwa Alloh melihat akhir dari sebuah proses, seberapa besar pun upaya saya dalam menghafal Al-Qur’an saya yakin untuk mengangkat beliau di akhirat adalah mudah bagi Allah, yang selalu memotivasi dan  ingin saya memeluk  ibu meski tak sampai lagi saya bertemu dengan beliau , semoga hanya ini yang bisa kelak menjadi balasan untuk ibu saat prestasi yang beliau impikan masih sedikit yang sempat beliau tuai dimasa hidup.

 

Dari sini saya berbagi semoga dapat memotivasi kita semua untuk semangat menegakkan dakwah demi masa depan generasi Qurani yang lebih baik dan berkualitas, semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk tetap semangat mengajar meski pun masa pandemi, kita pasti bisa jika mau belajar dan memulai😊

 

Salam manis dari insan manis

😉👌 Puput Irawati – PAUD IT Insan Utama Toili

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu 🙏

Pelita Rerang

Pada siang hari setelah shalat zuhur ibu Munira bersama suami sedang duduk di ruang keluarga sambil bercengkrama ringan, tiba-tiba terdengar suara salam dari balik pintu rumah.

“Assalamualaikum… Assalamualaikum…”

“Ada apa ma?”, “Siapa ya yang bertamau siang-siang begini, sepertinya penting? “ tanya suami kepada sang istri. “Tidak tahu pa, mama buka pintu ya!! sahut sang istri. Suami menganggukkan kepala dengan raut wajah rasa ingin tahu.

******

“Wa’alaikumussalam”. Jawab ibu Munira, ketika membuka ibu Munira dikejutkan dengan ibu ibu yang memakai seragam olahraga yang berwarna merah campur kuning yang memandanginya.

“Maaf bu, menggangu waktu istirahatnya.” Kata ibu Erni.

“Iya bu, tidak apa-apa, mari bu, silahkan masuk”. Jawab ibu Munira.

Ibu-ibu yang berseragam bergegas masuk mengikuti ibu Erni yang lebih dulu duduk.

******

Setelah rombongan ibu-ibu pergi sang suami menayakan maksud kedatangan mereka, “ibu-ibu yang berseragam olahraga tadi perlu apa ma?” Tanya sang suami.

“Maksud kedatangan mereka ingin memberitahukan bahwa mereka masuk babak final dalam pertandingan bola voly antar desa, mewakili desa Rerang yang akan bertanding melawan group  desa Sabang. Untuk itu, mereka minta didoakan agar tetap tenang selama pertandingan berlangsung.” Terang sang istri yang sedang membersihkan gelas minum yang disuguhkan` kepada tamu tadi.

******

Sore hari setelah ashar, suami istri yang telah berusia lanjut ini mempunyai kebiasaan duduk di teras rumah sambil mengingat kembali kebersamaa bersama anakanya. Mereka dikaruniai dua orang anak laki-laki dan perempuan. Kedua anaknya sedang menempuh pendidikan di pondok pesantren di daerah Jawa Timur. Tinggalah mereka berdua di rumah yang sederhana lagi asri. Orang tua yang ikhlas melepaskan anaknya untuk mondok selama bertahun-tahun hanya  mengharapkan agar anaknya kelak dapat menebarkan ilmu yang bermanfaat kepada umat.  Sang suami dikenal sebagai seorang guru yang menjabat sebagai kepala sekolah SDN 25 Rerang sedangkan istri dikenal sebagai guru agama islam.

******

Tersebar berita bahwa tim dari desa Rerang memenangkan pertandingan bola voly putri. Semua warga sangat bergembira atas kemenangan ini. Ibu Erni menyampaikan berita kemenangan langsung kepada Ibu Munira, sekaligus mengundang ibu Munira untuk mengisi tausiah di pengajiaan pekanan. “Pa, besok mama diundang untuk mengisi pengajian. Bagaiamana pa, boleh?” Sang istri meminta izin. “Bolehlah ma, selama untuk kebaikan umat papa izinkan.” Jawab sang suami. Setelah mendapat izin, ibu Munira menyampaikan kepada ibu Erni, bahwa ia setuju untuk mengisi pengajian esok hari. Sang istri begitu shalihah ketika hendak keluar rumah selalu meminta izin dan ridha kepada suaminya. Setelah ibu Erni pulang, obrolan suami istri ini masih berlanjut di teras rumah yang sederhana lagi asri ini. “Hebat kamu ma, doa apa yang kamu berikan kepada ibu-ibu yang ikut pertandingan voly?” suami memuji sang istri. “Alhamdulillah, mama berikan doa keluar rumah pa. Cukuplah surah alfatihah jadi pembuka segala aktivitas dan zikir  bismillahi tawakatu allahi la haula wa kuata illabilahizalimin menjadi benteng dari syaitan.

*****

Esok hari, ibu Munira mengisi kajian dengan tema memuliakan Al-Quran dengan cara mempelajarinya, mengamalkannya serta mengajarkannya. Kajian tersebut berjalan dengan khidmat. Usai kajian, ibu Munira bergegas pulang mengingat makan malam belum disiapkan, tetapi ketika hendak pulang ibu Munira dihentikan oleh seorang ibu yang terlihat lebih tua dari ibu Munira. “Ada apa bu” tanya ibu Munira.  “Saya belum bisa membaca Al-Quran, tolong ajar saya membaca Al-Quran” jawabnya dengan tatapan penuh harap. “Oh baik, dengan senang hati bu” kata ibu Munira. Ibu tersebut mengajak ibu-ibu yang lain untuk belajar membaca Al-Quran dan akhirnya terkumpul kurang lebih 7 orang ibu-ibu yang lanjut usia. Pengajian ini dijadwalkan seminggu 2 kali dan dimulai dari mempelajari cara menyebut huruf hijaiyah dengan makhraj yang benar. Ibu-ibu yang mempelajari Al-Quran ialah ibu-ibu yang usia lanjut yang berumur 40 sampia 50 tahun. Ibu Munira begitu sabar dan telaten mengajarkan Al-Quran mengingat usia mereka yang sudah tua sehingga lisan sudah mulai kaku mengucapkan huruf hijaiyah.

******

Dalam waktu 6 bulan ibu-ibu sudah bisa membaca huruf hijaiyah serta dapat membaca huruf yang terangkai. Namun semangat ibu-ibu dalam mempelajari Al-Quran terhalang karena munculnya suatu musibah yang membuat pertemuan mereka terhenti. Selama pandemik pertemuan tersebut tidak lagi terlaksana secara optimal bahkan sudah terhitung  setahun lebih ibu Munira tidak lagi mengajarkan Al-Quran kepada ibu-ibu. Ibu Munira sangat sedih dengan adanya virus corona yang melanda seluruh dunia. Ibu Munira sangat merindukan pertemuan bersama ibu-ibu, semangat dan kecerian ibu-ibu dalam belajar membaca Al-Quran terus terngiang dalam ingatannya, sesekali air matanya membasahi pipi ketika teringat ibu-ibu tua yang pantang menyerah walaupun lidah sudah kaku mengucapkan huruf hijaiyah, ia tidak bisa apa-apa, hanya harap dan doa yang selalu ia panjatkan kepada Allah Swt., Zat pengendali alam semesta agar pandemik ini segera berlalu.

_
Penulis : Ahmad Fauzi – SMPIT Bina Insan Palu

Habits

Assalamualaikum, perkenalkan nama saya noval rizky, sekarang saya adalah seorang guru sekaligus pengajar qur’an di SMPIT BINA INSAN PALU. Dalam kesempatan ini, saya akan bercerita mengenai bagaimana perjalanan saya dari seseorang yang dulunya banyak menghabiskan waktu luang hanya dengan bermain game di warnet hingga menjadi seorang guru sekaligus pengajar qur’an di tempat saya bekerja sekarang. Kalau diingat-ingat sejak kecil saya sudah suka dengan yang namanya game apapun jenis game tersebut, tetapi saat itu mungkin masih bisa dikatakan normal. Awal batas dikatakan normal mungkin saat tahun ke-dua kuliah ketika teman mengenalkan dengan yang namanya warnet game, Yah mungkin dari dulu kecanduannya sudah parah hanya tidak terfasilitasi saja. Jadi semenjak diajak teman main ke warnet, disitu bisa dibilang kuliah menjadi terbengkalai, nilai kuliah banyak yang jelek, dan bisa dibilang sudah menjadi rumah kedua karena mainnya bisa sampai 24 jam. Dari awal bermain di warnet itu kalau tidak salah tahun 2015 sampai pada tahun 2018, ketika terjadi gempa di palu waktu itu yang skalanya mencapai 7.9 sr, saat terjadi kejadian tersebut saya masih berada di warnet, padahal waktu kejadia tersebut di palu sudah menunjukkan pukul 6 sore dan sudah masuk waktu magrib dan yang pertama kali terlintas di pikiran saya waktu itu “bagaimana kalau saya mati dalam keadaan seperti ini?”. Memang selama bermain di warnet saya jadi sering lambat sholat bahkan sampai meninggalkan sholat, dan bisa jadi ini adalah suatu teguran. Setelah keadaan bisa dibilang agak sedikit kondusif saya langsung bergegas pergi ke rumah untuk mengecek keadaan orang tua saya di rumah dan alhamdulillah tidak terjadi apa-apa.

Saat palu sedang dalam masa pemulihan, disitu juga saya menyelesaikan tugas akhir saya dan ketika kampus sudah mulai dibuka saya mendaftarkan diri untuk maju seminar komprehensif. Nah pada saat mendaftar ujian kompre, ternyata ada syarat di fakultas atau lebih tepatnya jurusan saya yaitu matematika bahwa jika ingin maju untuk seminar komprehensif maka harus menyetor hafalan minimal satu juz. Memang di fakultas saya atau lebih tepatnya di jurusan saya dulu itu, jika ingin menyelesaikan studi ada persyaratan harus menghafal al-qur’an minimal satu juz dan kita bisa memilih sendiri juz berapa yang ingin kita hafalkan. Ketika menghadap dengan dosen yang bertanggung jawab untuk program hafalan ini, saya meminta menghafalkan juz 30. Nah ketika menghafal saya menggunakan metode mendengarkan daripada menghafal dengan membaca. Apalagi saya belum mengerti mengenai makhrojul huruf atau tempat keluarnya huruf dan sifatul huruf atau sufat-sufat huruf, yang penting bisa membaca a-qur’an. Karena keterbatasan tersebut, saya lebih memilih untuk mendengarkan daripada membaca. Memang awal niat menghafalkan juz 30 itu adalah hanya sebagai syarat agar bisa mengikuti ujian kompre, tetapi ketika banyak membaca referensi, buku tentang bagaimana cara menjadi hafiz, dan ceramah-ceramah tentang bagaimana cara agar mudah menghafal al-qur’an disitu saya tersadar bahwa yang paling penting dalam menghafal itu adalah niatnya, dan saya berfikir “apa gunanya saya susah-susah menghafal tetapi nilainya hanya dapat di dunia saja? Padahal ini hanya perkara niat”. Mulai dari situ, sedikit-sedikit saya mulai mempelajari mengenai hukum-hukum bacaan dan saya belajar secara otodidak karena tidak tahu mau belajar di mana. Saya banyak mencari pelajaran-pelajaran tentang hukum bacaan melalui video – video di youtube agar saya menghafal tidak hanya sekedar meniru tetapi juga memahami bagaimana cara atau hukum-hukum bacaannya dah alhamdulillah setelah beberapa bulan berjuang menghafal, saya bisa mengikuti ujian seminar komprehensif dan bisa lulus walaupun dengan hasil yang memuaskan walaupun dengan masa studi yang bisa dibilang lama yaitu 5 tahun 5 bulan 3 hari.

Setelah lulus dan menjadi pengangguran, kebiasaan menghafal yang saya lakukan sudah menjadi kebiasaan, disitu saya terus menghafal ayat-ayat yang saya fikir yang mana yang ingin saya hafal dan ketika itu saya sempat terpikir untuk belajar al-qur’an lagi dari awal tetapi saya tidak tau di mana saya harus belajar dan pikiran itu muncul hanya sekedar terpikirkan saja, tidak ada action di dalmanya. Kemudian saya mulai mencoba untuk mencari kerja dan selama dua tahun belum ada lamaran yang saya masukkan itu diterima. Sampai pada saat teman saya menawarkan untuk bekerja di tempat dia bekerja. Dia bilang di sana lagi butuh guru matematika sekaligus guru untuk mengajar al-qur’an atau guru Tahsin. Dan alhamdulillah, ketika mencoba mendaftar di sana lamaran saya diterima dan saya ditempatkan di sekolah SMP dan menjadi guru matematika sekaligus menjadi guru al-qur’an atau guru Tahsin. Tetapi sebelum menjadi guru Tahsin, guru-guru di sana terlebih dahulu haru mendapatkan training. Selama training, di sana kami diajarkan mengenai makhrojul huruf, sifat – sifat huruf, hukum – hukum tajwid dan gorib menggunakan metode wafa dan belajar juga menggunakan nada hijaz yang notabenenya saya baru pelajar dan baru pertama kali mendapatkannya mungkin kecuali hukum-hukum tajwid. Setelah menyelesaikan buku yang diajarkan mengenai Tilawah, Tajwid dan Gorib (TTG) maka sekolah mengajukan guru-guru untuk mengikuti program yang diadakan oleh wafa Indonesia yaitu pembimbingan guru al-qur’an dan pengambilan syahadah atau tes munaqosya dan alhamdulillah dalam tes munaqosya saya mendapatkan nilai jayid jiddan. Dan alhamdulillah sekaran saya sudah 3 bulan bekerja di sekolah ini dan sudah mengajarkan al-qur’an kepada anak-anak yang ada di sekolah ini.

_
Penulis : Noval Rizky – SMPIT Bina Insan Palu

Terima Kasih Wafa

Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur telah menjadi salah satu guru Al Quran di sekolah tempat saya mengajar. Amanah ini memang tidak gampang, tetapi saya selalu yakin atas pertolongan Allah bagi siapa saja yang berbuat kebaikan. Insya Allah, amanah ini akan menjadi salah satu jalan bagi saya untuk menuju surga firdaus kelak. Aamiin.

Saya teringat akan beberapa kejadian tempo hari sebelum saya menjadi salah satu guru Al Quran di sekolah tempat saya mengajar. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba suami saya memberi kabar lewat pesan di ponsel. “Apakah kamu tertarik ingin menjadi guru kembali?” Tiba-tiba saja beliau mendadak mengajukan pertanyaan seperti itu di siang bolong. Jelas ini bukan mimpi, sebab saat itu saya sedang terjaga. “Iya, saya bersedia” Saya langsung saja menjawab tanpa pikir panjang. Sedikit cerita, dahulu di awal pernikahan kami, saya adalah seorang guru yang mengajar di salah satu sekolah swasta di kota saya. Sehari-hari saya dan suami berperan menjadi seorang guru. Itulah kegiatan kami sehari-hari. Kami sangat bangga menjadi seorang guru. Ini merupakan jalan menuju surga. Insya Allah. Iya, kami tau, penghasilan seorang guru memang tidak seberapa. Apalagi masih berstatus sebagai pegawai honorer. Ya boleh dikatakan pas-pasan. Apakah hal itu akan menjadi halangan? Jelas tidak. Selama menjalani menjadi seorang guru, kami sama sekali tak peduli dengan upah. Yang jelas, rezeki bisa datang dari arah mana saja. Dengan kata lain, Alhamdulillah, rezeki kami sangat mencukupi untuk kehidupan sehari-hari. Kami senang, dan kami bahagia menjadi seorang guru. Bagi kami, menjadi guru itu bukan hanya sekedar panggilan jiwa, tetapi itu merupakan jalan hidup kami. Inilah kami wahai dunia! Ya, kami sangat bersemangat. Bagi kami, tidak semua yang bernilai dapat dihitung dengan uang, dan tidak semua yang dapat dihitung dengan uang dapat dinilai. Kemuliaan itu dari Allah. Nilai itu keputusan Allah! Bukan dari pengakuan atau pemberian manusia. Kami sangat bersyukur menjadi salah satu guru di muka bumi ini. Seiring berjalannya waktu, Alhamdulillah, saya hamil. Pada waktu itu, melihat kondisi saya yang hamil muda dan sering mual dan muntah, maka saya dengan sadar dan penuh tanggung jawab, memutuskan untuk sejenak berhenti mengajar di sekolah. Saya fokus pada kehamilan saya. Sampai anak saya lahir pun saya masih belum bisa kembali mengajar. Kami memutuskan untuk fokus membesarkan anak saya sampai ia berumur 7 tahun. Belum genap anak pertama saya umur 4 tahun, adiknya lahir. Maka, saya pun fokus kembali membesarkan kedua anak saya. Sebenarnya, saya sama sekali tidak berhenti menjadi guru. Saya tetap menjadi seorang guru. Hanya saja, saya menjadi guru bagi kedua anak saya di rumah. Bagi saya, ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Menjadi guru itu tidak harus berada di sekolah formal. Di dalam rumah tangga, ibu pun punya peran menjadi seorang guru. Ibu sangat berperan memberi teladan kepada anak-anaknya. Mengajarkan ini dan itu dengan penuh kasih sayang hingga anak-anak tumbuh dewasa dan siap menghadapi tantangan di muka bumi ini. Alhamdulillah, setelah si kakak sudah mulai masuk kelas satu sekolah dasar, maka saya berniat kembali mengajar di sekolah formal. Kembali ke awal cerita, tiba-tiba saja suami saya menawarkan kepada saya untuk kembali mengajar di salah satu sekolah swasta di kota kami yang memang lagi membuka penerimaan untuk guru di beberapa bidang studi, salah satunya adalah bidang studi bahasa Indonesia. Akhirnya, saya membuat surat lamaran pekerjaan dan Alhamdulillah lulus setelah mengikuti serangkaian test yang diberikan. Saya diterima mengajar di sekolah tersebut. Sesuai dengan pendidikan terakhir saya yang lulusan sarjana pendidikan bahasa Indonesia, maka jelas, saya diberikan amanah untuk menjadi guru mata pelajaran bahasa Indonesia. Itu bukan masalah. Kemudian setelah itu, tiba-tiba saja saya diberikan amanah lainnya. Saya harus menjadi guru Al Quran. Apakah saya menolak? Tentu saja tidak. Saya menerimanya dengan lapang dada. Pada saat itu, saya pikir, apa salahnya menjadi guru Al Quran. Itu mudah saja. Apalagi sejak dini saya sudah bisa baca tulis Al Quran dengan baik. Saya menjawab tantangan yang diberikan sekolah kepada saya. Setelah itu, saya beserta guru-guru yang diterima di sekolah tersebut setiap paginya mengikuti kegiatan tahsin yang dibawakan langsung oleh Bapak kepala sekolah. Kemudian suatu hari, kami guru-guru diberi tahu agar mengikuti salah satu pelatihan Al Quran yang diadakan oleh Wafa Indonesia. Akhirnya, sayapun ikut dalam kegitan tersebut. Salah satu hal yang masih segar dalam ingatan saya hingga saat ini adalah perubahan total pada pola pikir saya tentang Al Quran. Sebelum mengikuti pelatihan tersebut, saya berpikir, Al Quran itu hanya cukup tahu baca atau menuliskan ayat-ayatnya saja. Tetapi, pola pikir yang demikian adalah salah besar. Saya kaget bukan main. Selama mengikuti pelatihan, justru saya merasa menjadi orang yang paling tidak tahu apa-apa tentang Al Quran. Ternyata pengetahuan saya tentang membaca Al Qur’an masih sangat rendah. Bahkan saya merasa bagaikan masih kanak-kanak yang diajari kembali cara baca Al Quran dengan baik dan benar. Cara baca saya masih sangat keliru. Alhamdulillah, setelah mengikuti pelatihan tersebut, saya jadi tahu cara membaca Al Quran dengan baik dan benar sesuai ilmu tajwid. Dan tibalah klimaks dari semua rangkaian perjalanan saya menjadi guru Qur’an yaitu dengan diajukannya nama saya sebagai salah satu guru Qur’an yang bisa ikut munaqosyah langsung oleh Wafa Indonesia.  Merupakan satu kesyukuran yang besar bagi saya yang lulus dengan predikat Jayyid Jiddan. Alhamdulillah, dengan standarisasi dari Wafa Indonesia, saya merasa semakin percaya diri untuk mengajarkan ilmu AlQur’an kepada peserta didik, bahkan kepada anak-anak dan suami di rumah dengan tidak lagi merasa was-was apakah yang saya ajarkan ini sudah benar atau keliru. Tentu tidak mudah mengajarkan Al Qur’an dari awal kepada setiap peserta didik yang hadir  dengan berbagai karakter dan latar belakang keluarga yang berbeda. Tetapi, InsyaaAllah diawali dengan niat yang benar, hati yang ikhlas, ilmu yang memadai, serta strategi pembelajaran yang sudah disiapkan, setiap hembusan ilmu yang diajarkan akan tersampaikan dengan baik kepada peserta didik. Terima kasih yang sangat besar kepada Allah SWT terhadap apa yang Dia rencanakan di hidup saya, serta kepada semua orang di Yayasan Ihsanul Amal Sulteng dan kepala SMPIT Bina Insan Palu yang sudah mempertimbangkan dan menerima saya menjadi bagian di dalamnya, sehingga saya bisa mengenal  Wafa Indonesia dengan metodenya yang InsyaaAllah mudah dipahami. Terhadap Wafa Indonesia, terimakasih sudah hadir di tengah-tengah kami yang masih sangat haus akan ilmu Al-Qur’an. Insya Allah, dengan pengetahuan yang telah saya dapatkan selama mengikuti pelatihan Wafa dan lulus munaqosyah, akan saya jadikan sebagi jalan menuju surga firdaus. Semoga Allah meridhoi jalan saya yang menjadi guru Al Quran. Insya Allah. Aamiin.

Sekian kisah perjalanan saya menjadi salah satu guru Al-Qur’an.

_
Penulis : Tetes Embun

Azzah’s Journey

Azzah merupakan anak yang besar dari keluarga sederhana, ia juga merupakan alumni dari mahasiswa fakultas Teknik dari sebuah Universitas Negeri di Kota Palu.

Ketika lulus selama setahun ia mencoba melamar pekerjaan di berbagai instansi. Namun hal itu belum membuahkan hasil, hingga ia melihat penerimaan calon guru di salah satu sekolah Islam sebagai salah satu pengajar pelajaran teknologi informasi.

Niat awal mengikuti pendaftaran tersebut hanya iseng semata, karena tidak mungkin seorang seperti dirinya lulus melamar pekerjaan disebuah sekolah Islam ditambah lagi ia tidak mempunyai hafalan Al-Qur’an sama sekali, jangankan hafalan Qur’an dalam hal membaca Al-Qur’an masih banyak salah baca dan makhroj sama sekali tidak tahu.

Tibalah saat pengumuman, alhamdulillah diterima di sekolah tersebut. Akan tetapi tantangan selanjutnya adalah ketika pembinaan guru-guru yaitu belajar makhroj huruf, sifatul huruf serta hukum-hukum bacaan sampai ke ghorib. 

Disaat guru-guru yang lain lancar tanpa kesusahan sedikitpun, namun ia merasa susah karena hal itu baru ia pelajari dan ia dapatkan saat itu juga. Saat guru lain lancar dan mudah tilawah menggunakan nada wafa, ia juga sangat kesusahan.

Dengan belajar dan terus belajar semua nya perlahan mulai membaik. Saat mulai membaik diberilah amanah dari kepala sekolah untuk mengajar siswa tahsin. Tentu saja ia terkejut dengan amanah yang diberikan, karena jika ia mengajarkan 1 huruf namun makhrojnya ternyata salah itu akan berdampak bagi siswa kedepannya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah karena telah mengajarkan hal yang salah kepada siswa.

Amanah tersebut mau tidak mau ia terima karena ketika seseorang telah diberikan amanah maka ia telah dipercayakan untuk amanah itu, dan ketika Allah telah berikan amanah kepada seseorang melewati perantara hambanya yang lain maka Allah tau bahwa ia mampu mengemban amanah tersebut.

Ketika amanah tersebut ia terima, muncullah kabar yang kurang mengenakkan yaitu proses belajar mengajar selama masa pandemi ini tetap dilakukan secara online. Jadi, ia menerima amanah sebagai guru mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi serta guru tahsin siswa.

Seorang yang bukan alumni dari jurusan keguruan, pertama kalinya menjadi seorang guru. Dan pengalaman pertama mengajarnya itu bukan berhadapan dengan siswa langsung melainkan berhadapan dengan siswa melalui perantara media zoom meeting

Mulailah ia mengajar tahsin kepada anak-anak lewat perantara zoom meeting. Dan hal itu bukan hal yang mudah mengajarkan makhroj huruf tidak secara langsung karena muncul berbagai macam kendala seperti permasalahan jaringan, kemudian pengucapan siswa terdengar kurang jelas karena tidak bertemu secara langsung.  

Alhamdulillah, Ketika mengajar tahsin tidak berhasil lewat zoom meeting, maka ia mencoba lewat perantara video call menggunakan aplikasi whatsapp, alhamdulillah seperti yang ia inginkan kendala tersebut satu persatu mulai Allah bantu selesaikan. 

Perlahan tapi pasti siswa mulai bagus makhrojnya, mereka mulai antusias belajar Al-Qur’an. Hal itu tentu saja bukan hasil do’a dan ikhtiarnya sendiri. Semua atas pertolongan Allah, do’a dari orangtua khususnya do’a seorang ibu, serta do’a dan ikhitar siswa beserta orangtuanya.

Kendala demi kendala dalam pembelajaran Qur’an terselesaikan. Namun, timbullah masalah lain di mata pelajaran yang ia pegang. Beberapa siswa yang ia ajar tidak memiliki ketertarikan dalam menerima pelajaran sehingga ketika pembelajaran berlangsung beberapa sibuk dengan aktivitas pribadi mereka. 

Mulailah ia melakukan intropeksi diri apakah cara penyampaian yang ia lakukan tidak menyenangkan? Apakah ia kurang tegas? Apa yang membuat siswa sibuk dengan aktivitas pribadinya hingga beberapa dari mereka tidak memperhatikan? 

Ternyata kesalahan terdapat pada dirinya, ketika ia mengajar ia tidak memberitahukan bahwa seperti ini adab ketika seorang penuntut ilmu sedang belajar agar ilmu yang diterima menjadi berkah. Karena menurut ulama Abu Zakariyah An Anbari Rahimahullah “Ilmu tanpa adab seperti kayu bakar dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh” kemudian Rasulullah pun menegaskan betapa pentingnya adab dalam hadistnya yang artinya “Kaum Mu’minin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Tirmidzi no. 1162, ia berkata: “hasan shahih”.

Kemudian ia mengubah pola mengajarnya dengan menyelingi pembelajarannya dengan beberapa video sehingga tidak membuat siswa bosan.

Alhamdulillah, ketika dijelaskan mengenai adab, siswapun perlahan mulai berubah, mereka memperhatikan ketika ia menjelaskan. Dan ketika pola mengajarnya diubah siswa menjadi lebih interaktif.

Maka, seorang muslim baik ia merupakan seorang pengajar atau bukan, hidupnya pasti akan mendapatkan berbagai macam tantangan, permasalahan, entah sedang dilanda pandemi covid-19 ataupun tidak masalah itu akan tetap ada. Karena Allah memberikan seseorang masalah itu untuk melihat apakah hambanya ketika menyelesaikan permasalahan akan mengangkat tangannya dan mengadu kepadanya atau tidak. Jika “iya” maka Allah akan mengangkat derajatnya. 

Setelah kesusahan pasti ada kemudahan, ketika Allah memberikan ujian untuk menguji hambanya, hanya Allah pula yang mampu menyelesaikan permasalahannya, hanya pada Allah yang punya solusi dari setiap permasalahan. Maka solusinya dengan memperkuat ikhtiar ditambah dengan memperbanyak berdo’a kepada Allah. 

Karena jika seorang muslim menyelesaikan permasalahan hanya berikhtiar saja tanpa berdo’a maka ia termasuk sombong karena ia merasa tidak membutuhkan bantuan Allah, namun ketika seorang muslim berdo’a tanpa berikhtiar maka tindakan yang ia lakukan menandakan bahwa ia merupakan hamba yang malas, karena ia terus menerus meminta namun tidak berusaha untuk mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan. Maka, tindakan seorang muslim jika ingin menyelesaikan permasalahan adalah berdo’a meminta kepada Allah agar ia diberikan kemudahan dan berikhtiar untuk mencari titik terang permasalahan tersebut dengan diniatkan segala usaha dan tindakannnya hanya untuk mencari ridho Allah.

_
Penulis : Azizah Rahmaniah – SMPIT Bina Insan Palu

Berjuang Bersama Al-Qur’an “Pasrah Bukan untuk Menyerah”

Ini sebuah cerita nyata pengalaman saya waktu menjadi pendidik Al-Qur’an. Saya Ali Mustofa, pemuda kelahiran Sragen, 30 Januari 1996. Saya anak no 4 dari 4 bersaudara. Sebelum menjadi guru Al-Qur’an  latar belakang saya adalah bukan anak pesantren dan ekonomi menengah kebawah. Tetapi karena sejak kecil orang tua selalu memberikan semangat untuk bisa menjadi pemuda yang cerdas, bisa berpegang teguh Al-Qur’an dan Hadist, akhirnya tergerak hati ini untuk membanggakan orang tua dalam dunia pendidikan.  Seperti sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Nekat istilah itulah yang mungkin  sejak kecil saya terapkan. Ketika dulu hendak menimba ilmu harus ke desa seberang, sejauh apapun jarak dengan rumah pasti saya lalui dengan kakak perempuan dan teman-teman. Meskipun harus berjalan kaki, kepanasan, kehujanan tidak pernah menyurutkan rasa semangat untuk belajar. 

Hari demi hari saya lalui untuk pergi mengaji, sampai akhirnya ditahun 2006 saat usia 10 tahun saya harus pindah tempat mengaji dekat rumah. Rasa syukur karena ternyata Allah memberikan kemudahan untuk bisa belajar Al-Qur’an lebih dekat. Di Taman Pendidikan Al-qur’an (TPA) itulah Allah berikan amanah untuk saya bisa mengkhatamkan Juz’amma bil ghoib dan  Al-quran bin-nadhor. Alhamdulillah sampai akhirnya tahun 2008, diberikan amanah oleh guru saya untuk membantu mengajar santri-santrinya dimadrasah tersebut. Kegiatan rutin yang saya lakukan waktu itu setiap pagi pergi sekolah dan sorenya membantu mengajar  di madrasah ataua TPA. Dari situlah saya belajar menjadi seorang pendidik. Waktu itu ketika mengajar di TPA masih belum terstandart pembelajarannya. Dalam penyampaian masih monoton dan kurang bervasi. Pada akhirnya capaian ataupun target santri belum sesuai harapan. Karean rencana pembelajaran yang kurang terstruktur, proses penyampaian, proses penilian dan evalusai akan menjadi penghambat dan semua itu sangat penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Selain itu tingkat kesadaran dari orang tuapun sangat berpengaruh. Ketika orang tua tidak ikut berpartisipasi dalam pendampingan dirumah akan menjadi penghambat tercapainya target santri. Apalagi waktu itu banyak orang tua yang berpikiran “yang penting anak ngaji”. Pada akhirnya hanya beberapa anak yang sesuai target.

Setelah 6  tahun berjuang bersama di madrasah tersebut, tepatnya tahun 2014 saya lulus sekolah jenjang Menengah Kejuruan. Disinilah pilihan antara bekerja atau melanjutkan sekolah di universitas ada di depan mata. Sampai akhirnya saya dapat tawaran dari seseorang untuk menjadi guru  di sekolah swasta. Tawaran itulah yang akhirnya saya pilih untuk masa depan saya. Dengan bermodalkan pernah mengajar di TPA dan ijazah SMK akhirnnya saya melamar di SD tersebut. Beberapa test saya lalui dan akhirnya saya diterima. 

Ketika saat itu baru berusia 18 tahun. Saya tekatkan untuk menjadi guru Al-Qur’an di SDIT Luqman Al Hakim. Sekolah swasta di daerah Sukodono, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah.  Tahun 2014 inilah cerita menjadi seorang pendidik saya mulai. Dengan pendampingan dan bimbingan  ustadz-ustadzah sayapun mulai menerapkan pembelajaran yang lebh baik. Dengan Kegiatan Belajar Mengajar didampingi salah satun ustadzah, akhirnya kami berdua mengajar Iqra.  Sebelum mengenal wafa, kurikulum Qur’an  di SDIT Luqman Al Hakim hampir sama dengan metode yang diterapkan di madrasah saya sebelumnya. Sehingga belum terstandart dari aspek perencanaan, proses, penilaian maupun evaluasi. 

Pada Juli tahun 2015 saya dan rekan mengajar dipanggil bapak Kepala sekolah, bahwasanya ada seminar guru mitra wafa di TKIT Az Zahra Sragen selama tiga hari. Tanpa pikir panjang kamipun langsung bersedia dengan kesempatan tersebut.  Kesan hari pertama mengenal metode wafa sangat antusias dan dalam hati berkata “ini cocok diterapkan disekolah saya”. Apalagi ketika itu langsung belajar bersama Ustadz Mashuda yang sampai sekarang audio murotal wafa setiap hari kami putar disekolahan. Dalam penyampaian yang jelas dan mudah diterima semakin menambah untuk mengikuti seminar di hari berikutnya. Selama tiga hari tersebut kami diajarkan untuk menyampaiakan cara menegenal makharijul huruf dengan kartu dan dengan nada wafa beserta gerakannya. Tanpa saya sadari bahwa cara tersebut membuuat otak kanan anak berfikir. Dalam seminar tesrsebut saya dan rekan mengajar di test baca wafa langsung agar terstandart. Meskipun hasilnya predikat Cukup Baik (Level 3), tidak menyurutkan semangat kami untuk terus belajar.

Singkat cerita dengan berbagai pertimbangan dan persetujuan di tahun 2018 sekolah kami menggunakan metode wafa dengan menjadi salah satu lembaga mitra wafa. Dengan berbagai pelatihan, seminar serta munaqosyah akhinya kamipun terstandart sebagai guru wafa. Dalam mendidik waktu itu sangat mudah dsan terstruktur. Karean sebelum kami mengajar kami buat terlebih dulu rancangan pembelajaran dengan metode TANDUR yaitu Tumbuhkan Alami Namai Demonstrasikan Ulangi Rayakan. Kemudian dari segi proses dan evalusai lebih terarah karena kami dibekali dengan contoh format yang sesuai dan terstandart. Baik dalam pembelajaran sebelum pandemi atau saat pandemi. Wafa sangan berperan penting dalam proses KBM kami.

Akhirnya setelah 3 tahun berjalan, tepatnmya tahun 2021 lembaga kami memutuskan untuk mempunyai program unggulan kelas akselerasi tahfidz dengan target lulus hafal minimal 3 Juz.  Dengan metode wafa saat ini yang membekali buku dan audio wafa juz 26-30 baik per ayat maupun setengah halaman, sangat memudahkan kami dan orang tua dalam mendampingi santri baik disekolah maupun dirumah. 

Terakhir harapan kami pembelajaran di masa yang akan datang terus untuk di upgrade. Baik dari segi program maupun ustadz-ustadzah. sealalu siap dalam kondisi apapun. Semoga cerita singkat ini bisa memberikan motivasi dan semnagat untuk pembaca.

_
Penulis : Ali Mustofa – SDIT Luqman Al Hakim Sukodono Sragen

Dalam Dakwah Aku Membumikan Al-Qur’an

Pendidikan adalah ladang dalam menginvestasikan amal, sehingga perlu adanya tauladan yang tidak hanya menggurui tapi juga menginspirasi. Begitu juga apa yang telah dilakukan oleh Ustad.Muhammad fadholi, beliau adalah seorang imam masjid disuatu kampung tempat dimana saya dibesarkan. Melalui dakwahnya saya bisa mengenal lebih jauh mengenai ilmu keagamaan mulai dari belajar tata cara berwudhu,sholat,dan juga membaca Al-Qur’an.

Berawal dari sebuah rumah sederhana, beliau mengajak generasi anak-anak untuk belajar Al-Qur’an. Karena dulu pada waktu itu belum ada fasilitas yang memadai seperti sekarang. Disitulah beliau membangun dan mengembangkan TPA yang diberi nama TPA AL-ISHLAH. Dari TPA ini  banyak generasi yang menimba ilmu membaca Al-Qur’an,mulai dari generasi tahun 1980an , 1990an, 2000an hingga sekarang.

Untuk generasi 1980an dan 1990an  walupun dulu ngajinya hanya lesehan dengan beralasnkan tikar dan tanpa ada meja buat landasan untuk menulis, tapi semangat serta antusias dalam mengaji sangat luar biasa adanya. Begitu juga antusias orang tua dalam mendorong anak-anaknya untuk belajar Al-Qur’an di TPA tersebut sangat tinggi,sehingga banyak santri yang belajar dengan beliau. Begitu juga saya, yang dulu begitu semangat apabila disuruh ngaji. Saya merasa ngaji dengan beliau itu seperti mendapatkan kemantapan terhadap ilmu yang saya dapat. Pada era 90an banyak Santri beliau seangkatan saya, sehingga disitulah yang menjadikan salah satu semangat  dalam belajar dengan beliau.

Ustad. Muhammad Fadholi adalah seorang pengajar yang Sederhana, tegas dan menyenangkan. Mungkin karena itulah yang membuat santri beliau semangat dan senang dalam mempelajari Al-Qur’an. Disamping belajar Al-Qur’an  banyak juga kegiatan yang lain yang menjadikan citra dari TPA yang dibangun belaiu tersebut menjadi lebih disukai di kalangan masyarakat baik masyarakat yang dekat dekat dengan TPA tersebut maupun masyarakat dari desa yang lain.

Dalam pembelajaran Al-Quran beliu menggunakan metode belajar dengan IQRO’, mulai dari tingkatan IQRO’ 1 , IQRO’ 2, IQRO’ 3, IQRO’ 4, IQRO’ 5, IQRO’ 6, Juz ama dan terahir apabila semua sudah dirasa cukup lancar dan bisa baru kemudian ke Al-Qur’an.

Pada waktu angkatan saya, untuk pembelajaran Al-Qur’annya  dibagi menjadi 3 golongan kelas,golongan 1 adalah kelas dengan tingkatan IQRO’1,IQRO’2,IQRO’3 ini masuk kedalam golongan kelas 1. Kemudian golongan 2 adalah tingkatan IQRO’4,IQRO’ 5,IQRO’6 ini masuk kedalam golongan kelas 2. Dan yang terahir adalah golongan 3 yaitu dengan tingkatan  Juz Ama dan Al-Qur’an ini masuk kedalam golongan kelas 3. Karena saking banyaknya santri yang tergabung dalam TPA tersebut dan minimnya tenaga pengajar maka dulu apabila yang sudah belajar berada pada golongan 3 atau kelas 3 kadang diberikan amanah buat membantu mengajar digolongan kelas 1 dan golongan kelas 2.

Dalam meningkatakan antusias santrinya untuk membaca quran selain semaan antar santri setiap bagda magrib beliau juga membiasakan untuk membaca quran selepas subuh menggunakan speaker masjid,selain itu setiap ada hari besar islam belaiu juga memprogramkan untuk khataman quran.

Kini setelah sekian lama berjalannya waktu,semua masih berjalan dengan dakwah yang dikemas oleh beliau. Bahkan kini tidak hanya mengurus TPA, ustad. Muhammmad Fadholi  juga membuat kajian untuk bapak-bapak  maupun ibu-ibu untuk sama-sama balajar membaca Al-Qur’an. Dalam membimbing  bapak-bapak  maupun ibu-ibu tersebut beliau menggunanakan metode Quantum Reading Quran. Ternyata hal tersebut bisa memotivasi para orang tua yang belum bisa membaca Al-Qur’an untuk semangat belajar dalam mempelajari Al-Qur’an. Bahkan hampir setiap hari kegiatan belaiu benar-benar di curahkan dalam dakwah untuk membentuk baik genarasi anak-anak sampai generasi orang tua yang bersemangat mempelajari Al-Qur’an.

Alhamdulillah karena semakin semangatnya masyarakat dalam mengaji maka tempat ibadah atau tempat untuk mengkaji Al-Qur’an kini juga mulai dupugar lebih luas dan dikasih fasilitas yang lebih modern, seperti dipasang AC dan lain sebagainya. Dengan adanya perubahan tersebut semakin membuat antusias dan semangat dalam mengaji Al-Qur’an, bahakan kini tempat tersebut menjadi center kegiatan masyarakat.

Besar harapan saya semoga nanti tempat tersebut bisa  terus berkembang dan senantiasa menebarkan manfaat terhadap dunia, Negara dan masyarakat sekitar khususnya. Semoga nanti pembelajaran dengan metode wafa ini bisa diaplikasikan dalam TPA maupun kajian bapak-bapak dan juga kajian ibu-ibu tersebut dalam mempejari Al-Qur’an dan juga menghafalkannya.

Menurut saya yang baru mengenal,mempelajari serta mengamalkan pembelajaran dengan metode wafa, metode ini sangat bagus serta memudahkan peserta didik dalam mempelajari serta menghafalkan Al-Qur’an,dengan adanya gerakan dan alunan nada yang sangat singkron itulah yg membuat kita bisa lebih mudah dalam mengingat apa yang telah tersampaikan.

Dalam hal ini sangat sesuai dengan kondisi masyarakat yang lebih menginginkan cara simple serta mudah dalam belajar. Apa lagi anak-anak di TPA tersebut pasti juga akan lebih senang apa bila belajar sambil mengunakan gerakan dan juga alunan nada yang bisa membuat nyaman dan mudah untuk mengingatnya.

Terima kasih, semoga kedepan Metode pembelajaran dengan metode wafa ini semakin digemari masyarakat dan semoga bisa terus exis.

_
Penulis : Basuki Andri Susanto – SDIT Luqman Al Hakim Sukodono Sragen

Akhlak

Wilayah sekolah saya mengajar adalah pedesaan dan pedalaman yg tentunya lingkungannya terlalu minim pendidikannya dan bahasanya yang tidak tertata, logat bicaranya menirukan guyonan orang dewasa yang jorok, cara bergaul dengan teman bermainnya yang kasar, Ahlaknya yang kurang sopan terutama kepada orang yang lebih tua. “Mheee…Astaugfirullahilazdim…”.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di sekolah RA Tania ini agak kaget dengan tingkah murid yang kurang nyaman di pandang mata dan kurang enak di dengar telinga sehingga sempat tersirat di hati ini, “Apakah saya bisa betah dan bertahan menghadapi anak-anak ini…! dan apakah saya bisa mendidik dan merubah anak-anak ini dengan baik…”!!!

Tapi saya harus bisa merubah semuanya karena status saya di sini sebagai pembimbing, pengayom dan sebagai teman mereka.

“Aku harus bisa…aku harus bisa.. dan harus semangat”…hentakanku menyemangati diriku sendiri.

“Tet..tet..tet…”suara bel sekolah berdering tanda menunjukkan jam pelajaran pertama segera di mulai. “Gebraak…gebruuk…kedabak…kedabuk…” Suara sepatu anak- anak di hentakkan ke tanah sambil berlari berebut saling dorong dan berebut antrian terdepan dan suara ngoceh teriakan terdengar ramai di teling, “aku duluan, kamu minggir” ada yang kakinya kena injak dan menangis ” eeemmm…aaa…”.

“Haaiii…Hallooo…bagaimana kabarnya anak- anakku…” Suara saya serukan untuk mengalihkan perhatian anak-anak pada saya, dan merekapun menjawab “Alhamdulillah…luar biasa…Allahu Akbar…Aku Pasti Biasa…Yess…”

Alhamdulillah anak-anak terdiam sunyi pandangan tertuju pada saya dan mereka menunggu suara saya selanjutnya. Lalu saya bernyanyi dan bergaya di depan anak-anak semampu saya untuk membuat anak-anak senang, tertawa dan riang gembira juga mengikuti nyanyian dan gerakan yang saya contohkan ” lonceng berbunyi baris di halaman…bersiap kaki rapat…pegang pundak teman…” . 

Begitulah setiap hari saya lakukan dengan jurus lagu-lagu, cerita dengan berakting di depan anak-anak se mampu saya. 

Dan setiap kali ada tingkah anak-anak yang tidak wajar saya selalu menasehati dengan halus lembut penuh kasih sayang dan saya bimbing dengan semanis mungkin agar anak-anak tidak gaduh, rame tetapi anak-anak  tetap senyum manis di bibirnya. Dan apabila salah satu temannya ada yang bersalah di sengaja atau tidak di sengaja harus meminta ma’af dan harus berjanji tidak mengulangi lagi.

 

            Pada akhirnya sekarang anak-anakku RA Tania berubah menjadi sopan, penurut, periang, penyayang dan berakhlakul karimah…”Alhamdulillah…ternyata saya bisa merubah mereka”.

Tapi sekarang dengan adanya bencana covid’19 sekolah di liburkan suasana sekolah itu saya rindukan suara bising anak-anak, keramaian, celoteh mereka semuanya tinggal kenangan saja.

Sabar dan berdo’a yang bisa saya lakukan sekarang ini semoga semuanya cepat berlalu agar kembali normal, “amin yarobbal alamin…”.

_
Penulis : Rusmiyati – RA Tania Sumberanyar, Paiton, Probolinggo

Man Siapa Kamu, Jadda Bersungguh-sungguh, Wajada Akan Mendapatkan

Sekolah Mutiara Rabu, 19 Oktober 2020

Seketika terdengar ramai setelah beberapa menit senyap tersumpal oleh pengumuman pembagian murid binaan. Ruang kelas bermain, kelas paling ujung yang biasa kami tempati menjadi ruang dimana harapan dan keputusan berebut kuasa, disanalah lahir keputusan-keputusan yang membahagiakan juga terkadang membuat bimbang. 

“Hmmm, bagaimana Ustadzah Zee, agaknya memang berat karena anak ini memang memiliki keistimewaan dalam  belajar Al-Quran. Ia tertinggal jauh dari teman-temannya. Seharusnya sudah buku 1 tapi sampai saat ini masih bertahan dibuku TK, keluhan dari pengampu sebelumnya anak ini sering lupa bacaan yang telah diajarkan dan candu permainan game dirumahnya, belum ada kontrol serius dari orang tuanya ”. Ustadzah Jen menatapku dengan serius

“Kenapa harus saya Ustadzah Jen, bukankah banyak Ustad atau Ustadzah yang lebih senior dan berkompeten untuk menangani anak tersebut? Aku menimpali dengan segera keputusan dan omongan manager Al-Quran tersebut yang terlihat memainkan pulpen ditangannya, dan Nampak jelas kegelisahan yang penuh harap diwajahnya, akupun tidak memperpanjang alasan penolakanku, karena aku tahu seberapa keras aku menolak keputusan adalah tetap keputusan.

“InsyaAllah bisa, semoga Ustadzah bisa menerima dengan lapang dada”.

Semalaman suntuk, diatas kasur otakku masih dikoyak oleh ketakutan-ketakutan “Kiko Si Pelupa” aku ingat betul keluhan beberapa Ustadzah dalam kegiatan evaluasi mengaji yang dilaksanakan satu pekan sekali terhadap sosok Kiko kecil yang duduk dikelas TK B, beberapa diantaranya telah putus asa dengan habit Kiko sebagai pecandu game dirumahnya sehingga menghambat kemampuan mengaji Al-Quran disekolah, aku beranjak dari kasurku dan membuka Riwayat laporan mengaji milik Kiko di Laptop, kebetulan siang itu manager Al-Quran mengirimkan link untuk mengakses laporan mengaji Kiko

“Ya Tuhan, banyak sekali absen (keterangan Alpha)nya, nilai harian juga rata-rata C artinya dia sering melakukan kesalahan lebih dari tiga kali sehingga harus mengulang dihalaman yang sama, huuffffftttt”

Aku langsung menutup Laptopku, menghempaskan badan keranjang dan mengubur dalam-dalam kekecewaan itu dalam lelap tidur yang sebenarnya masih sesak dengan tanda tanya

Pagi ini adalah hari pertama pertemuanku dengan Kiko dan keempat anak laiinya, seperti biasa pembelajaran masih dilakukan  secara daring, lagi-lagi karena Pandemi dan benar saja PJJ(pembelajaran jarak jauh) inilah yang membuat aku kurang yakin dapat menjadi pengampu yang mampu mengubuh Kiko menjadi lebih baik dalam pembelajaran Al-Quran 

“Assalamualaikum, bagaimana kabarnya anak-anak. Alhamdulillah semuanya masih Allah berikan Kesehatan. Perkenalkan nama Ustadzah adalah Zee kalian bisa memanggil ustdzah dengan sebutan Ustadzah Zee” setelah melaksanakan pembukaan dan lain-lain aku masuk tahap baca simak dan sengaja menunjuk Kiko sebagai siswa pertama yang aku ajar, tidak sabar rasanya seperti apa kemampuannya dalam Al-Quran benarkah seperti yang diadukan oleh kebanyakan guru atau hanya karena ketakutan yang terlalu berlebihan, dan…benar! Kiko persis seperti sosok yang ada dalam forum diskusi itu, bacaannya tersendat-sendat, jeda bacanya lama, hurufnya seringkali tertukar, artikulasi yang tidak jelas, bayangkan saja beberapa baris yang dia baca bunyi pelafalannya terdengar sama.

Tiga minggu berjalan, belum juga ada perubahan. Sebagai guru tentu hal itu adalah beban! Ketidakmampuan atau keterbelakangan yang dialami Kiko menjadi hal wajar yang setiap hari aku ratapi sehingga Kiko menjadi palu yang memukul otakku setiap saat untuk bekerja keras mencari-cari formula yang tepat agar Ia bisa mengejar ketertinggalannya. 

***

Teras Kost Bali, November 2020

“Assalmualaikum, hallo Ma ada apa”
“sedang apa, libur kan hari ini sudah jam 08.00 di Jawa, kamu sudah sarapan?”
“Sedang duduk santai baca buku. Belum makan si Ma, tapi ini aku udah buat Roti isi selai dan kopi dimeja, ma aku mau cerita tentang pekerjaan boleh?”
“Boleh” mama menimpali dengan nada lirih, aku luapkan semua perasaanku kepada mama, tentang kekecewaan dan ketakutan tidak bisa menjalankan Amanah dari manager Al-Quran, tapi lagi-lagi mana menenangkanku dengan kata motifasinya
“Yowes (yasudah), man jadda wa jada, kalau kamu bersungguh-sungguh InsyaAllah bisa kok melalui Amanah itu dengan baik! habis ini beli makan ya. Jaga Kesehatan! semangat selalu kerjanya ya Ka, Assalamualaikum”

“InsyaAllah Ma, jaga Kesehatan juga, waalaikum salaam

Tuuuut…tuuutttt. 

mama menguatkanku, dengan kalimat motivasinya, obrolan ditelepon itu sangat berharga untukku, bagaimana bisa aku patah semangat untuk menghadapai hari-hari ini. Aku mengambil sepotong roti isi selai coklat diatas meja yang berdempet dengan kursi kayu yang terlihat usang dan ringkih karena usianya, lalu melahap roti itu, “insyaAllah tetap semangat Ma” batinku sambil tersenyum tipis disela-sela kunyahanku dan melanjutkan Kembali membaca buku, seketika mataku terjebak dibeberapa kalimat dihalaman buku itu, aku mencoba mengulang-ulang isi kalimatnya memastikan bahwa aku benar-benar paham.

“Tidak ada anak-anak bodoh, mereka hanya belum bertemu dengan guru yang tepat”

Kalimat ini membuatku berpikir dua kali, benarkah ini sebuah kebenaran atau hanya bualan teori. Beberapa kalimat penjelas yang menguraikan tentang hal ini terus aku baca sampai tuntas, tidak jarang selepas mengajar, aku sempatkan untuk melahap banyak artikel “kiat-kiat menumbuhkan semangat belajar dalam diri anak” sampai pada akhirnya dibulan kedua aku memukan sebuah formula yang aku percaya mampu merubah kebiasaan Kiko dalam belajar terutama dalam pembelajaran AL-Quran metode WAFA.

Sekolah Mutiara merupakan sekolah Islam terpadu yang cukup bergengsi di Bali, metode yang digunakan dalam belajar Al-Quran adalah metode WAFA (metode otak kanan). Ya sekilas metode ini terlihat mudah diterapkan namun meski demikian tidak sedikit guru mampu menerapkan dengan sempurna, pasalnya ada beberapa guru yang masih terlewat dengan beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam pembelajaran WAFA sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap output yang dihasilkan.

Masih melekat dalam otakku pengalaman saat pertama kali mengikuti training wafa yang dilaksanakan oleh sekolah pada musim kemarau sebelum Pandemi itu. “penanaman dan penguasaan konsep terhadap anak harus benar-benar dipastikan diserap dengan baik oleh anak” kira-kira begitu bunyi kalimat yang disampaikan oleh trainer. Iya inilah formula utama yang harus aku lakukan. Namun meski demikian tentu akan menghadapi beberapa hambatan karena pembelajaran Al-Quran masih dikemas dengan kegiatan daring, yang menjadi pertanyaan selanjutnya, bisakah aku sebagai pengajar menerapkan arahan trainer untuk penanaman konsep tersebut dalam kondisi anak tidak fokus, bosan, tidak bersemangat dan tidak tertarik dengan kita? Hhhmmm inilah pertanyaan kedua yang terus ada dalam benak dan memaksa otak bekerja lebih keras menemukan jawabannya. 

***

Sabtu pagi itu seperti biasa aku senantiasa meluangkan waktu dengan kursi dan meja ringkih diteras kamar kostku, tidak ada hangout, biasanya aku menghabiskan waktu untuk beristirahat diwaktu libur! Pikiranku masih dengan persoalan yang sama, meramu Teknik mengajar untuk Kiko, setelah lama berpikir dan mencoret lembaran yang ada dibuku, akhirnya berhenti pada kalimat “strategi menumbuhkan motifasi intrinsik, Bismillah”.  

 

***

Desember 2020 dengan harapan, doa dan segenap usaha. Aku mulai melakukan uji coba strategi membangun motivasi intrinsik pada diri siswa dalam pembelajaran AL-Quran metode wafa dengan tujuan untuk megatasi Kiko sebagai siswa yang tertinggal. Ada beberapa Langkah pembelajaran yang aku tempuh ditengah pandemic ini yaitu megaplikasikan standar belajar Al-Quran dengan baik dan benar, memaksimalkan media belajar. menerapan komunikasi persuasif untuk memotivasi siswa dan terakhir membangun komunikasi dengan peserta didik diluar jam sekolah. Kiko adalah anak yang introvert, pendiam, pemalu dan tidak mudah bergaul dengan siapapun sehingga wajar jika Kiko tidak ada perkembangan selama belajar Al-Quran. Hal ini menjadi tantangan terbesar bagiku sebagai guru, Iya! aku meluangkan waktu yang lebih untuknya daripada siswa yang lain terutama dibagian membangun komunikasi dan kedekatan dengannya sebagai upaya membangun motivasi intrinsik sehingga Kiko bisa belajar tanpa dipaksa dan tidak menjadi anak tertinggal lagi. Beberapa ahli mengatakan “Motivasi ekstrinsik dapat berubah menjadi intrinsik pada saat siswa menyadari pentingya belajar dan ia belajar sungguh-sungguh tanpa disuruh orang lain”. Akhirnya aku gencar melakukan motivasi ekstrinsik sebagai upaya menumbuhkan motivasi intrinsik dalam diri anak didik. Pasalnya jika motivasi intrinsik ini tercapai dengan baik anak akan mendapatkan sebuah penghargaan dalam dirinya penghargaan dimana seseorang mendapatkan kepuasan, kebahagian atau kebanggaan tersendiri setelah melakukan sesuatu sehingga dapat disimpulkan keberhasilannya motifasi tersebut menjadikan belajar diera pandemi bukanlah beban namun lebih dari itu yaitu menjadi sesuatu yang menyenangkan yang pada gilirannya motivasi ini bisa memobilisasi tindakannya untuk belajar dengan sungguh-sungguh dengan sendirinya tanpa diminta ataupun dipaksa oleh guru atau orang tua dirumah.

Itulah yang aku lakukan selama pelajaran Al-Quran diera pandemi kepada siswa terutama Kiko, setiap minggu video call melalui WA degannya dan melebur kedalam dunia Kiko, bermain, bercerita dan memotifasinya setiap hari, adakalanya aku memancingnya dengan sebuah pertanyaan tentang sebab dan akibat jika tidak belajar Al-Quran dengan rajin baik Bersama guru atau Bersama keluarga dirumah, tidak lupa aku mengapresiasi setiap kemajuan Kiko sekecil apapun dihadapan teman-temannya saat pembelajaran. Ya! Semata-mata untuk membuat Kiko percaya diri dan lebih terbuka Bersama teman-temannya, satu hal yang terus saya afirmasi setiap kali Kiko bisa membaca 1-3 baris dalam buku Wafa saya memuji dan menimpali dengan pertayaan “Wah, kok lancar ngajinya hari ini, apakah Kiko belajar tadi malam?” jika Kiko menjawab iya, maka saya segera menimpali Kembali dengan kalimat kesimpulan yang bisa mempengaruhi otak anak didik dengan mengucapkan “wah, lihat teman-teman kalau setiap malam kita belajar, ternyata membacanya bisa lancar lo, coba deh buktikan, nanti malam kalian semua belajar, besok kita buktikan bersama” sebaliknya saya akan mengatakan kebalikan dari kalimat tersebut saat anak-anak tidak lancar mengaji pada saat pertemuan belajar, aku juga tidak melarang Kiko bermain game karena itu merupakan hobi yang membuat dunianya lebih berharga, aku mulai memodifikasi kalimatku dari “jangan main game terus agar ngajinya lancar ya” dengan kalimat “kalian boleh kok main game, dan main apapun. Tetapi ingat sebelum main game belajar wafa dulu ya, agar kalian bisa menjadi anak yang hebat dalam bermain game dan mengaji wafa”

 

***

Pojok kost Kubung Batu, 6 April 2021

Sejak strategi dilakukan pada bulan Desember, Alhamdulillah Kiko bisa mengejar ketertinggalannya dan bisa menuntaskan satu halaman sekali baca, berbeda dari sebelumnya yang membutuhkan 1-4 hari untuk menuntaskan satu halaman, pada tanggal 6 April 2021 pukul 19.15 aku mengirim sebuah pesan kepada Bunda Kiko menanyakan apakah Kiko sudah memiliki kemauan belajar sendiri dirumah atau tidak. Ya, membangun motifasi intrinsik dalam diri Kiko adalah tujuan utamaku! Selang 23 menit kemudian hpku berdering

 

Ting tong…ting tong

Satu pesan masuk, aku meraih handphone yang terletak bersebelahan diatas meja dekat ranjang yang beberapa saat aku letakkan. Terlihat notifikasi pop up “Bunda Kiko” 

“Alhamdulillah, ternyata usahaku tidak sia-sia. Inilah alasannya mengapa perkembangan Kiko sangat pesat” aku tersenyum dan berkali mengucap rasa syukur kepada Allah Swt. 

***

Pojok kelas Sekolah Mutiara, 9 April 2021

Kelas pojok Mutiara, adalah kelas yang dijadikan ruang evaluasi pembelajaran AL-Quran PAUD Mutiara dan segala pelaksanaan rapat pekanan oleh manager AL-Quran dan tim pengajar. Disinilah awal mula aku diberikan Amanah oleh Allah melalui Ustadza Jan selaku manager Al-Quran dan akhirnya aku berjuang raga dan pikiran untuk menuntaskan Amanah dari-Nya dengan sebaik mungkin untuk mendidik Kiko siswa TK B dimana dulu setiap Ustadzah mengeluhkannya.

“terimakasih, Ustadzah Zee, Alhamdulillah sejauh ini perkembangan Kiko begitu cepat dan semua PR sebelumnya telah teratasi dengan baik, give applause untuk Ustadzah Zee teman-teman!”

Semua tim pengajar bersorak dengan tepuk tangan, mengucapkan selamat 

Aku terdiam dengan senyum tipis, mataku berkaca-kaca dan dengan sekuat tenaga aku menahannya agar tidak mengalir dari ekor mataku dan terlihat oleh guru-guru yang hadir dalam pertemuan itu, sesak bercampur Bahagia, tak henti-hentinya aku berbisik dalam hati

“sesungguhnya aku tidak memiliki kekuatan ya Allah untuk merubah seseorang, ini adalah murni campur tangan engkau melalui usaha, doa dan harapanku yang terus aku sampaikann disepertiga malamku, aku terus meraju agar engkau tak perlu mengambil Amanah yang menurutku sangat sulit aku terima, aku hanya memohon kekuatan dan belas kasihmu untuk menunjukkan jalan dan mewujudkan setiap harapan dalam Amanah yang engkau berikan, dengan keyakinan penuh bahwa dalam kesungguhan ada janji terbaikmu 

MAN JADDA WA JADA”

_
Penulis : Nur Azizah – SDIT Mutiara Bali