Aku dan Pengalamanku

Ramai riuh terdengar menggema saling bersahutan, 

Yaaaa……. Suara anak-anak yang berdatangan ke masjid untuk mengaji. Sambil menunggu bel berbunyi untuk berbaris bersama, anak-anak bermain, berlari, kejar-kerjaran dengan teman-temannya. 

Wajah-wajah yang polos nan suci menghias penuh arti. Semangat yang membara sangat nampak terlihat dari anak-anak, dan dari semangat merekalah yang memotivasi kami para guru untuk mengajar dengan penuh semangat pula. Agar materi yang disampaikan nantinya juga tersampaikan sehingga anak-anak dapat mengerti dan memahaminya.

Kriiiiiiiiinggggggggg…….. bel masuk telah berbunyi. Dan seperti biasa salah satu  guru atau ustadzah  memimpin barisan untuk merapikan anak-anak. Dan mulai menyiapkan barisannya agar rapi. Anak-anak berdiri tegak dan berbaris rapi sesuai jilid ngajinya masing-masing.

Namun, pada hari itu, ada salah satu anak dari kelompok jilid tinggi terlihat membuat gaduh, dan membuat adik-adik jilid bawah pun belum dapat di kendalikan untuk rapi barisannya. Dengan nada tinggi, guru tadi memanggil salah satu nama, yang terlihat menjadi sumber kegaduhan dan menanyakan penyebab terjadinya kegaduhan. Sepertinya si anak kurang suka dengan panggilan guru yang memimpin barisan karena merasa tidak bersalah. Padahal setelah ditanyakan pada teman-temannya dialah yang membuat gaduh dan mengajak teman-teman lain ngobrol sehingga sampai intruksi untuk berbaris rapi tidak terdengar oleh teman lainnya. 

 Dan akhirnya guru yang memimpin barisan tadi mengeluarkan si pembuat gaduh, yang membuat anak tersebut tertunduk malu dan marah di depan teman-temannya karna di keluarkan dari barisan. 

Beberapa menit kemudian, Setelah semua rapi, selanjutnya bersama-sama melanjutkan  membaca doa pembuka,kemudian membaca salah satu bacaan sholat, dan untuk menambah semangat anak-anak kita biasanya memberikan satu lagu yang berbeda setiap harinya tentang nama bulan, anggota tubuh, macam-macam warna dalam Bahasa arab, dan nama surat di dalam al qur’an. 

Setelah selesai berbaris, pemimpin barisan membubarkan barisan. Anak-anak maju ke depan sesuai dengan jilidnya, bersalaman dengan semua guru sambal membaca sholawat  lalu masuk ke dalam kelas untuk menerima materi berikutnya. 

Setelah semua masuk, koordinator TPQ  memanggil guru yang memimpin barisan tadi. Ternyata adegan kegaduhan yang membuat salah satu murid keluar dari barisan tadi membuat guru yang memimpin barisan mendapat satu teguran. 

Karena TPQ kami bergabung dengan masjid, maka saat baris berbaris pun akan terlihat banyak orang yang lalu Lalang, ada jamaah yang selesai dari sholatnya, dan beberapa anak-anak luar TPQ yang bermain di masjid,  ada juga beberapa wali santri yang menunggu sedang putra-putrinya sampai  masuk ke dalam kelas. Tentu yang lalu Lalang akan sembari melihat barisan anak-anak TPQ dengan suara merdu melantangkan hafalan dan bacaan lainnyanya . 

Pada saat itu, ada salah satu jamaah melihat guru yang tadi mengeluarkan salah satu santrinya dari barisan. Sepertinya kurang suka dengan tindakan guru tersebut. Karena memang terlihat kurang baik, ketika mengeluarkan anak-anak dari barisan sehingga terlihat malu di depan teman-temannnya bahkan adik di jilid bawahnya. 

Dari wajah jamaah tadi, Koordinator TPQ menyimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan pemimpin barisan tadi kurang baik. Jadi coordinator berharap, tidakan yang seperti ini tidak terualang lagi. Karna selain menjatuhkan mental si anak di depan teman-teman lainnya, juga akan berdampak pada nama baik si guru dan lembaga tempat dimana mengajar. Dengan penuh kesadaran dan rasa hormat si guru menerima kritik dan saran dari koordinator.

 Akhirnya kemudian semua guru masuk kelas masing-masing untuk memberikan materi pembelajaran al qur’an. Suasana masing-masing kelas terlihat pun ramai bersahutan, anak-anak memulai berdo’a, muroja’ah hafalan dan selanjutnya memulai kegiatan belajar mengajar di kelas. 

Setelah mendapat teguran di koordinator TPQ, guru menyadari bahwa kita tidak bisa mengambil keputusan dalam keaadaan emosi, tidak boleh menghakimi anak-anak ketika anak berbuat kesalahan dalam keadaan emosi, tidak boleh mempermalukan anak-anak di depan anak lain, bisa jadi tindakan yang dilakukan guru tadi akan menjadi contoh yang kurang baik pada anak-anak, sehingga anak dapat menirukannya. 

Dari kejadian itu, pelan-pelan guru tersebut juga menyadari dan akhirnya membuat dia berfikir bahwa tindakan yang dilakukan saat itu memanglah kurang pantas dan belajar tidak akan mengulangi lagi. Dan perlahan setiap kali mau memberi nasehat atau ketika ada santri yang bermasalah, sudah tidak lagi mengedepankan emosi.

Menasehati anak-anak dalam keadaan emosi ketika anak berbuat salah sangatlah tidak baik, nasehat yang kita berikan pun tidak akan dapat di cerna dengan baik oleh si anak. Sehingga harapan untuk guru merubah anak-anak untuk manjadi baik pun hanya di angan saja. Sebaliknya, sebagai guru, kita adalah panutan untuk mereka, baik dari tindakan , perilaku, kata-kata dan segala gerak gerik kita. Untuk itu perlu sekali kita banyak membaca dan terus belajar bagaimana menjadi guru yang baik untuk anak-anak kita, santri kita, dan umumnya lingkungan terdekat kita. Sehingga kita akan melahirkan generasi qur’ani yang tangguh, berilmu, dan ber adab serta menjadi calon pemimpin bangsa yang menginspirasi banyak orang. 

Apalagi di kondisi yang saat ini, yang semua serba online. Salah satunya adalah pembelajaran qur’an. Yang tidak bisa memaksa untuk belajar bertatap muka secara langsung. Namun, kita sebagai guru pun tidak boleh putus harapan dan berhenti ber inovasi dalam memberikan pengajaran kepada anak didik dan santri kita. Walapun dalam kondisi daring dan virtual kita masih bisa mengajar kepada santri kita dengan banyak media, contohnya zoom, video call, google meet. Dan anak-anak juga dapat melihat video pembelajaran, kisah kenabian, dan kisah lainnya dengan salah satunya aplikasi yaitu youtube.

Di era ini kita sangat di tuntut untuk melek digital. Artinya, kita harus terus menggali ilmu-ilmu yang ter update dari media digital. Agar guru dan santri atau anak didik  tidak tertinggal dengan perkembangan zaman dan perubahan digital. 

Teriring do’a untuk keluarga,murid/ santri, dan negara kita terutama dan yang terkhusus untuk pembaca yang Budiman. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Kesehatan untuk kita, melapangkan rezeki serta dijauhkan dari wabah dan bencana, terutama wabah covid ini. Sehingga para guru dimanapun berada, bisa mengajar Kembali dengan normal, bisa bertatap muka langsung dengan anak didik dan santri-santrinya serta dapat terus berkreasi, ber inovasi untuk masa depan anak negeri yang qurani.

_
Penulsi : Nur Inaroin Sawitri – PAUD Albanna

Huruf-Huruf yang Tumbuh

Pada  pertengahan mei 2017, kulihat awan bulan mei begitu pandai menyimpan mendung. Aku mengemasi barang-barang pada  sebuah koper, dan sepuluh kotak kardus berisi buku-buku koleksiku, kususun di bagian belakang mobil sekolah yang akan mengantarkanku menuju pelabuhan. 

Aku harus pulang atas permintaan ibuku yang saat ini sendirian meniti hari tuanya di desa. Banyak hal yang harus aku lepas begitu saja dari kota Tanjungpinang, kota yang telah mengambil separuh hidupku, begitu berat meninggalkan kota ini. Mobil pun melaju dengan lengang, bagai nada-nada piano yang disusun sendu, dari hati yang memendam gemuruh, kutuliskan sebuah puisi penanda hidup.

LENGAN GURITA

Tidak semua ingatan, bisa kita bawa pulang

Tapi semuanya bisa kita simpan jadi kenangan.

Andai saja boleh berandai-andai

Maka akan kumiliki lengan gurita

Untuk memeluk hatimu yang seluas bentangan langit

Tapi aduhai betapa panjang angan-angan

Dilarang kanjeng Nabi

Puisi itu jadi caption sebuah gambar  tumpukan kotak berisi buku-buku koleksiku, dan kuunggah di instagram,  ada tiga  komentar tentang postingan ini, dan hanya dua puluh tiga akun yang menyukainya. Aku pulang, dan tak ada kata perpisahan yang spesial, entah apa yang bakal aku lakukan di desa, desa yang banyak ditinggalkan para pemudanya, mereka mencari peluang ke kota, sedang aku harus kembali di saat karir sedang bagus-bagusnya.

Setibanya di desa, kelebat bayang orang-orang pasar menyapaku, gedung-gedung muram menatapku, tak banyak yang berubah, jalanan tidak semacet di kota, di sini orang mengendarai motor seolah tanpa ambisi, kecuali beberapa orang yang memang punya semacam target setoran harian, dan sebuah tugu jam yang mati pada pukul 9, itulah waktu apabila kiamat terjadi. 

Lalu aku melewati deretan pohon karet yang berjajar rapi, sabar menanti hari saat getah siap untuk ditoreh, seolah mereka memberi pesan isyarat bahwa yang menetap dalam kebaikan akan tumbuh dan memberi manfaat. Terkenang aku sepotong mahfudzhoh tatkala dahulu pernah diajarkan, Man Tsabata Nabata,  barangsiapa yang menetap (istiqomah) maka ia akan tumbuh.

***

Tak terasa sudah sebulan pula aku berada di desa, bingung mau buat apa, buat kerja-kerja kampung tidak terbiasa. Aku kehilangan teman-teman, sebab sudah lama tidak berjumpa mereka, maka jelas terasa kesenjangan antara aku dan teman-teman masa  kecil, banyak diantara mereka yang berubah, menikah, dan kabar-kabar mengejutkan lainnya.

Ibuku seolah tahu isi hatiku, ia memberi ide supaya aku mengajar ngaji saja, agar rumah terasa sejuk karena bacaan Al-Quran, tanpa banyak debat, aku pun menyetujui usulan ibu. Berbekal pernah mengajar Wafa di SDIT As-Sakinah Tanjungpinang, maka aku pun mencoba berbagi sedikit ilmu.

Ada tiga jilid buku wafa yang kubawa dari Tanjungpinang, kurasa cukuplah untuk ngajar ngaji lima anak-anak desa setempat, tapi lama kelamaan anak-anak desa semakin banyak, bertambah sepuluh, lima belas, hingga dua puluh santri, berjubel di ruang tamu rumah ibuku. Sebab semakin ramai, maka aku memesan beberapa jilid buku wafa untuk dbagikan ke anak-anak secara gratis.

Tersebab dari mulut ke mulut, maka program ngajar ngaji dari rumah yang aku gelar, ternyata mengundang teman-teman dari anak-anak desa lain, ruangan semakin tidak memadai, maka berbekal keyakinan “Intansurullaha Yanshurkum Wayutsabbit Aqdaamakum” maka kutempel sebuah gambar saung yang kucetak dari google, lalu gambar itu, aku tempel di depan tembok tempat biasa aku dan anak-anak menghadap untuk shalat, 

“Nak, sebab semakin banyak kita hari ini, maka mari kita doakan supaya Saung seperti di gambar ini bisa kita bangun, jadi nanti kalian bisa ngaji tanpa harus berdesak-desakan dan kepanasan lagi,” maka kami pun larut dalam doa-doa sederhana, doa yang entah bila dapat Allah kabulkan.

 

*** 

Hari begitu cepat berlalu, tak terasa umurku sudah masuk 26 tahun, dorongan batin untuk menikah terasa begitu kuat memanggil-manggil. Setelah melewati tahapan ta’aruf, maka terpilihlah satu nama untuk kupersunting. Tantangan selanjutnya tentu muncul, uang dari mana harus kuambil untuk memberi hantaran dan membeli mahar? Sedangkan ngajar ngaji tidak bergaji.

Kupilih menjadi guru honorer tanpa kuketahui sebelumnya ternyata memang sangat jauh dari cukup untuk oprasional sebulan. Aku harus mencari sumber lain, maka aku menulis buku, dan buku itu terbit menjadi pemenang utama sebuah sayembara lomba naskah buku, dan sebuah instansi pemerintahan yang cukup ternama, entah dari mana jalur komunikasinya, seseorang asing di balik perangkat bicara, menguhubungiku untuk dapat mengisi acara kepenulisan, padahal ilmu kepenulisanku, masih perlu banyak yang harus diasah lagi.

The Power Of Kepepet, kuiyakan saja tawaran itu, setelah selesai mengajar ngaji, aku membaca lagi, dan mempersiapkan diri untuk mengisi acara tersebut. Alhamdulillah tiba di hari H aku lumayan lancar dan interaktif memimpin sharing pengalaman kepenulisan kepada pegawai Bea Cukai Karimun, dan tak kusangka sebelumnya, ternyata honor menjadi pemateri di sana lumayan besar, uang tesebut kusimpan untuk membeli mahar. Berbekal nekat dan sepotong ayat Jika Engkau Nikah Akan Aku Kayakan, maka aku pun mencoba beberapa peluang, seperti menjual beras, menjual pulsa, menjual cabe keliling ke rumah-rumah warga. Aku ingat betul saat membawa karung beras dalam gerobak motor, sore itu beras dan becak motor yang membawa beras masuk ke dalam selokan jalan, untungnya tidak ada yang terluka parah, hanya beras saja yang terburai beberapa karung. Aku seolah sedang Allah arahkan menuju jalan yang tak disangka-sangka, aku mulai berdamai dengan diri sendiri, ternyata di desa banyak menyimpan hal yang belum kusibak menjadi peluang.  singkat cerita kami pun menikah pada 12 Januari 2018, mengusung mimpi-mimpi Khoirunnas ‘Anfauhum Linnas.

Lalu apa yang terjadi selanjutnya?  Pada Ramadhan tahun 2018, sebuah saung berukuran 6×7 meter dengan atap limas dua undakan terbangun, nah prosesnya gak ujug-ujug sih, beberapa donatur dan teman dekat mempercayakan donasinya untuk kegiatan kami sehingga terkumpul sekitar seratus juta rupiah, sehingga kami bisa bangun pustaka juga ruangan MCK, program ini murni swadaya dari masyarakat, yang turut kami libatkan, ada yang memasang tiang, ada yang menyiapkan makanan tukang, ada yang mengaduk semen, ada yang menyumbang bata, semua saling mendukung meramaikan desa ini, desa yang semula sepi, perlahan-lahan mulai dilalui banyak roda kendaraan, mulai dari roda dua hingga roda empat.

Ada perasaan yang tak terukur dengan uang, tatkala melihat senyum anak-anak desa terlukis di wajah indah saat pertama kalinya mereka menggunakan saung yang baru dibangun. Allah Maha Baik untuk seorang Rendra yang penuh dengan dosa, diberi kesempatan memperbaiki diri dari jalan ini, jalan Al-Quran. 

Semakin hari tuntutan semakin besar, kami mulai merancang-rancang sebuah logo dan nama gerakan. Kundur Kampung Al Quran menjadi Brand gerakan ini, mulai didatangi banyak orang, bukan karena aku hebat, malah jauh dari kata hebat, tapi Allah punya kuasa menghimpun hati-hati manusia untuk condong kepada kebaikan.

Aku tak pernah bercita-cita ingin mendirikan lembaga pendidikan, sebab aku pernah merasakan begitu ribetnya birokrasi kepengurusan legalitas sebuah lembaga pendidikan, namun dorongan orang-orang sekitar ‘menjerumuskanku’ untuk melebarkan sentuhan gerakan. Tercetuslah sebuah ide dari para komporer  untuk membeli lahan wakaf, oke aku coba saja tanpa rasa ngotot atau ambisius, perlahan-lahan menetes, akhirnya berlubanglah batu yang keras itu! Pada tahun 2020, kami mampu membeli sebuah lahan untuk dijadikan wakaf pembangunan fasilitas pendidikan Al Quran. 

Aset demi aset wakaf terus kami usahakan untuk menunjang gerakan dakwah Kundur Kampung Al Quran. Tibalah saatnya kami harus menentukan kurikulum apa yang akan kita terapkan di lembaga ini? Setelah membandingkan beberapa kurikulum, maka aku beranikan diri untuk ke Depok menuju Kuttab Al Fatih. Sesampainya di sana, aku diminta untuk pulang dan memepersiapkan persyaratannya yang cukup berat, yaitu harus ada penanggung jawab yang minimal punya gelar Lc, harus ada bangunan dan lahan wakaf, dan harus ada wakaf produktif untuk menopang izzah gerakan pendidikan iman dan Al-Quran. 

Aku pun pulang. Merapikan kembali niat dalam hati. Tibalah kita masuk di tahun 2021. Pandemi masih saja menjadi sorotan mata publik. Tapi kami pun terus begerak walau dalam keterbatasan, sebab dalam gerakan ada banyak keberkahan, maka kami bergerak walau selangkah demi selangkah memaksimalkan potensi yang ada.

Lagi-lagi kami menghadapi peluang yang paling menantang, yaitu siapa yang harus menjadi guru Al Quran, di tengah-tengah mahalnya biaya oprasional bila menghadirkan guru Al Quran dari luar pulau. Jika ada kemauan pasti ada jalan, maka ada tiga siswa lulusan SMA  yang kami rekrut untuk jadi pembina Al Quran, awalnya mereka juga punya bacaan yang belum layak. Kami mencari solusi, tiga lulusan SMA ini harus kami bina, untungnya ada seorang teman yang sedang kuliah di Sudan mengambil jurusan Qiroah, Ustadz Khalid namanya. Sehabis zuhur atau sekitar jam delapan pagi di Sudan kami dibina oleh ustadz Khalid melalui Whatsapp, berkah doa dan kesabarannya membina kami, perlahan-lahan bacaan kami mulai bisa ia garansi. 

Peluang terus tersibak, semakin maju kita melangkah, semakin nampak tujuannya, walau kita tak tahu harus memijak sesuatu yang berbahaya untuk menujunya. Ada kabar gembira dan kabar tak sedapnya, mana satu yang mau kamu dengar duluan? 

Karena aku tak bisa mendengar jawabanmu, maka kuputuskan untuk memberi tahumu dari kabar baiknya dahulu, bahwa pada tanggal 31 juli 2021, kami telah mendirikan Yayasan Kundur Kampung Al Quran, sekaligus mengurus Sertifikat Lahan Wakaf di BPN. Pendirian lembaga ini diharapkan menjadi payung hukum bagi gerakan-gerakan sosial yang kami selenggarakan.

Selain kabar baik, tentu tak lepas pula dari kabar tak sedapnya, bahwa gerakan kami pernah dianggap radikal, pernah dicap ustadz jadi-jadian dan mulai dibanding-bandingkan dengan pesantren lain, aku tetap seperti yang dulu sejak awal hingga hari ini, tak punya rumah, tak punya aset bahkan tak punya kendaraan pribadi, beberapa kali sempat mengeluh ke istri, “Udah ya Nda, Ayah berhenti saja, aset wakaf ini kita serahkan ke orang lain saja, ayah cari kerja yang ada gajinya,” tapi istriku tak banyak menuntut dan ia membesarkan hatiku untuk sabar, menetap mantap untuk kembali ke niatan awal.

“Lalu tanah wakaf kita mau dijadikan apa pak Ustadz?” tanya salah seorang warga.

“InshAllah kita mau bangun masjid dulu pak sebagai pusat kegiatan dan dakwah KKQ, sebab membangun masjid adalah sunnah yang Rasulullah ajarkan dalam gerakan dakwahnya, dan kita meniru langkah agung itu, dari masjid kita tata masyarakat, kita makmurkan, kita bantu dari masjid” jawabku mantap.

“Uangnya dari mana pak Ustadz, nanti mangkrak gimana?” 

“InshAllah ada jalan pak, bukan sekali dua kami hadapi tantangan seperti ini, dan alhamdulillah bisa kita lalui,”

 

*** 

Beberapa dialog penyegar gerakan pun kerap masuk ke membran timpani kami.

“Alhamdulillah pak Ustadz, dulu di depan rumah pak Fulan sering orang-orang kumpul minum tuak dan main judi, tapi semenjak anak-anak mereka ngaji di sini, terdengar suara azan dan suara kajian, mereka sudah tak nampak lagi, barangkali malu sama anak-anak sebab tak memberi contoh yang baik,”

Ada lagi ungkapan perasaan seorang ibu yang pernah kami dengar, 

“Si Jayo anak kami yang spesial ini pak, alhamdulillah heran saya kok bisa ya ngafal An-Naba sampai selesai? Padahal ngaji di tempat lain tak diajarkan hafalan ayat, “

“Iya bu Alhamdulillah, itu Allah yang titipkan hafalan ke anak ibu, “ jawabku.

 

***

Diantara pejam dan jaganya mata. Orang silih berganti datang dan pergi. Saat ini ada sekitar 110 santri yang mengaji bersama kami, ada doa yang akan terus kami pinta bersama para santri. Ibarat menanam benih, tahun-tahun awal adalah menyemai, selanjutnya di tahun-tahun berikutnya akan ada diantara mereka yang kembali dan turut membangun gerakan ini, tiadalah yang mampu menggerakkan hati mereka untuk menebar manfaat kecuali Allah yang Maha Merajai.

***

Beberapa buku Wafa mulai robek di sana-sini, menandai usia gerakan ini sudah berlangsung 4 tahun. kami tampal dan kami sampul, tak mengapa kiranya buku-buku itu rusak asalkan mereka gunakan untuk mengaji. Kita bimbing mereka untuk merawat titipan para Muhsinin, agar bisa diwariskan bagi adik-adik yang datang kemudian, kepada Wafa Indonesia, walau belum pernah berjumpa dengan kami, kami ingin ucapkan Jazakumullah atas ilmu yang membuka banyak kebaikan di desa kami. Huruf-huruf yang keluar dari lisan guru-guru Wafa menumbuhkan harapan suci kemudian hari, semoga menjadi amal  jariyah yang bernilai pahala tak putus-putusnya.

Peluang selalu ada bagi mereka yang mau bergerak, bila tak ia temukan maka ia harus ambil bagian untuk menciptakan. Tanjung Batu Kundur, Kab. Karimun Kepulauan Riau, tempat aku kini mengabdikan diri entah sampai kapan. Membersamai anak-anak mengaji, mengajak pemuda-pemudi setempat menyelenggarakan kegiatan sosial,dari desa untuk Indonesia.  

Kini, saung berukuran enam kali tujuh meter itu sudah kembali sesak. Terdengar riuh suara 110 santri melantunkan juz ‘Amma, juga suara azan mereka masuk ke rumah-rumah warga, melewati celah-celah fentilasi dan jendela, mengetuk pintu paling jujur dalam lubuk hati manusia dan mulai memberi tanda awal kebangkitan di desa ini. Semoga Allah mampukan kami untuk mendirikan Masjid ramah anak sebagai pusat pendidikan, pendidikan berbasis masjid, mendatangkan para guru yang memiliki kualitas. Sehingga anak-anak, dan pemuda kembali ke masjid untuk menggapai gemilangnya.

Kini agustus 2021 yang benar-benar basah, tak menyurutkan langkah para orangtua mengantarkan anak-anak mereka ke rumah ngaji Kundur Kampung Al Quran, padahal jalan yang mereka tempuh belum beraspal, jalanan membentuk kubangan air yang licin, kalaulah tak kuat niat, tentu tak akan mampu mereka bertahan hingga detik ini. Itulah yang membuat kami masih bertahan menggerakan program KKQ.

Aku pun mulai bingung untuk menutup kisah ini, tapi aku terus berharap kelak masih dapat menyaksikan sebuah peradaban madani, minimal terbentuk dari desa ini, setiap rumah warganya memiliki minimal seorang hafidz Al Quran, menjadi tren dan aib pula bila di rumah mereka tidak ada seorang pun anak mereka yang hafidz Al Quran. Semoga ya, ini adalah cita-cita kita semua, aku dan kamu bersama Al Quran. Semoga kita berakhir bahagia bertemu kembali Allah jamu di surga, setelah sekian lelah meniti lelah di dunia. 

 

Di Ketik di Pulau Kundur, pada Agustus yang basah.

25 Agustus 2021

_
Penulis : Rudi Rendra – Kundur Kampung Al-Qur’an

Bersama Wafa, Membangun Moderasi Qurani

Tak mudah menerima suatu kebaruan dalam pranata yang telah berjalan lama. Demikian pula menerima WAFA di tengah masyarakat Madura yang telah terbiasa dengan metode Bagdadi yang melegenda. Tapi sungguh, WAFA menjadikan kami harus belajar mengimplementasikan moderasi dalam sisi yang berbeda. Yah,  moderasi Qurani. Moderasi dalam mengaji.

Gaung moderasi di Kementerian Agama  menjadi sumber inspirasi agar tidak menjadikan metode mengaji yang bervariasi sebagai sarana pemecah belah umat. Toh tujuan yang ingin digapai sebenarnya sama yakni rido ilahi. Bukan rahasia umum jika beberapa oknum masih saja suka mengait-ngaitkan perbedaan metode terkait paham keagamaan yang berbeda. Mereka dengan mudah mengklaim metode yang mereka gunakan sebagai metode paling benar, paling fasih dan paling-paling lainnya. Tak mudah memberikan masukan berupa pendapat obyektif pada orang yang sudah telanjur menananamkan klaim di pikirannya. Oleh karena itu, dengan metode WAFA yang menerapkan prinsip Quantum Teaching dalam prosesnya diharapkan bisa menjadi metode baru yang aplikatif dan moderat. Menjadi hal yang niscaya bagi para guru al-Quran  untuk mengawali niat belajar al-Quran dengan ketulusan hati demi mengagungkan kalam Ilahi. Hal penting lain yang harus dipersiapkan adalah mempersiapkan siswa sebagai para pembelajar al-Quran untuk memulai hal yang sama. Tujuan utamanya tentu agar pembelajaran al-Quran tak hanya menjadi sebuah pembelajaran ansich, namun menjadi sebuah kegiatan menyenangkan yang bernilai ibadah.

Penghujung tahun 2017, sebagai koordinator bidang kurikukum di MIN 1 Bangkalan, saya dibuat pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, hasil survey Kualita Pendidikan Islam (KPI) terhadap beberapa sekolah Islam di Jawa Timur, menunjukkan bahwa beberapa sekolah termasuk sekolah kami merupakan lembaga pendidikan Islam yang belum menggunakan metode mengaji yang terstandart. Artinya validitas kualitas baca al-Quran siswa juga diragukan. Kami memang belum menerapkan satu metode tertentu sebagai tolok ukur keberhasilan siswa dalam membaca al-Quran. Sehingga standart BAIK siswa kami dalam membaca al-Quran menjadi tidak obyektif dan tidak valid karena tidak ada alat pengukur standart. Masih terngiang ketika trainer KPI kala itu mengingatkan : “jangan-jangan baik menurut gurunya saja”. Seketika itulah kami menyadari urgensi penetapan sebuah metode dalam lembaga resmi tidak hanya sebagai pelengkap, tapi bahkan merupakan suatu kewajiban. Terlebih visi madrasah kami adalah mencetak generasi yang Islami dan Qurani. Sebuah ironi yang membuat kami terlecut untuk berbenah diri dan segera menentukan metode mengaji yang terstandar.

Akhirnya, hasil musyawarah dengan kepala madrasah dan saran dari tim mitra di KPI Surabaya, kami memberanikan diri menggunakan platform WAFA. Pada awalnya banyak yang tidak menyetujuinya. Selain belum familiar di wilayah Madura, beberapa orang tak sependapat dan memberikan alternatif metode mengaji lain yang memang sangat variatif. Saat itu yang banyak digunakan di daerah kami adalah metode Qiroati, Tilawati, Ummi, dan Baghdadi. Meski WAFA sudah didirikan oleh YAQIN dari tahun 2012, tapi kami sama sekali belum familiar saat itu. Kami mempelajari kelebihan metode WAFA dari beberapa sumber. Hal positif yang bisa kami rangkum  diantaranya  bahwa metode WAFA menghadirkan sebuah proses pembelajaran al-Quran yang sistemik, integratif dan komperhensif. Metode WAFA mencakup 5 T yang terintegrasi dalam proses pembelajaran yakni Tilawah, Tahfiz, Tarjamah, Tafhim dan Tafsir. Metode WAFA juga mengggunakan aspek multisensorik serta optimalisasi otak kanan yang mampu mengendapkan memori jangka panjang (long term memory). Berdasarkan banyak hal positif tersebut, akhirnya kami meputuskan untuk menggunakan metode WAFA sebagai metode mengaji di MIN 1 Bangkalan. Dukungan kepala madrasah yang luar biasa sangat membantu kelancaran implementasinya, sehingga kami seluruh guru MIN 1 Bangkalan –saat itu masih bernama MIN Kamal- mendapatkan pelatihan intensif guru al-Quran WAFA. Implementasi tak semudah ekspektasi. Dalam perjalanannya, tentu banyak sekali kendala yang kami temui di lapangan. Setahap demi setahap kami melaluinya dengan tekun. Dengan jumlah murid yang lumayan banyak, saat itu kurang lebih 569 murid beserta 25 guru,  kami harus memetakan kemampuan mengaji mereka. Berkat bimbingan dari tim WAFA, kala itu ada Ustadz Adhan Sanusi dan Ustadz Wawan Fitriono, kami memulai inisiasi implementasi metode WAFA di lembaga kami. Hampir seminggu lebih kami menata kelas berikut administrasi persiapan WAFA melalui placement test menggunakan lembar uji khas WaFA. Tim khusus guru Tahsin dilibatkan untuk melakukan uji kemampuan membaca al-Quran dari siswa kelas 1 hingga kelas 6 yang berjumlah kurang lebih 20 rombel. Alhamdulillah biaunillah kami berhasil memetakan siswa dalam kelas-kelas WAFA sesuai dengan kemampuan baca al-Quran mereka. Hal ini ternyata juga sangat membantu guru mapel al-Quran Hadis dalam pembelajaran mereka di kelas. 

Setelah terpetakan dengan rapi, kemudian kami menentukan tim guru al-Quran yang mendampingi kelas-kelas tersebut berdasarkan hasil pemetaan TIM WAFA. Ya, sebelumnya dalam pelatihan WAFA kami para guru sudah dipetakan berdasarkan kemampuan membaca al-Quran. Jujur, saat itu hanya satu orang teman guru yang lulus dan mendapatkan sertifikat mengajar WAFA. Sebagian besar lulus di buku lima, buku empat dan sedikit di buku dua. Dalam prakteknya, kami hanya tinggal menyempurnakan kualitas bacaan saja dari segi fasahah dan sifat-sifat huruf.  Untuk yang sangat urgen seperti panjang pendek bacaan dan hukum Tajwid, para guru dinyatakan lulus. Menurut beliau para trainer WAFA yang membimbing kami, untuk sementara kami diperbolehkan mengajar sesuai dengan taraf kemampuan hasil pemetaan. Umpamanya guru yang lulus di buku tiga,  diperbolehkan mengajar hanya sampai buku tiga. Demikian seterusnya, sehingga kami bisa menjalankan metode ini bersama seluruh tim kami. Untuk menyempurnakan kualitas guru, kami akan diupgrade lagi nantinya.

Akhirnya tibalah hari H kami memperkenalkan metode WAFA kepada siswa-siswa kami. 
Sambutan mereka antusias luar biasa terasa. Mata saya kaya roda menggema di setiap agenda. Alhamdulilah, agenda utama kami untuk menjadikan metode WAFA sebagai metode baca al-Quran di lembaga kami berjalan lancar. Senang sekali rasanya mengaji dengan ceria dan bahagia. Tentu banyak hal yang harus kami kaji dan perbaiki. Dua tahun pertama kami menemukan banyak kendala. Madrasah Negeri seperti lembaga kami memang memerlukan evaluasi dan perbaikan yang terus menerus. Diantara kendala yang paling nyata adalah sulitnya mencari waktu khusus agar kualitas mengaji para siswa tetap terjaga. Intensitas pertemuan juga harus rutin. Padatnya jadwal dan tuntutan kurikulum madrasah menjadikan kami harus mereschedule agar WAFA bisa berjalan optimal. Pada awalnya kami hanya menjadwalkan di hari Sabtu, hingga akhirnya kami jadwal ulang setiap hari sebelum pembelajaran resmi dimulai. Jadi setelah shalat Dhuha, anak-anak akan belajar sesuai kelas WAFA di tempat-tempat yang telah ditentukan. Kendala lainnya adalah beberapa siswa banyak yang mengaji diniyah sore di TPA masjid atau madrasah di luar sekolah.  Ternyata di tempat mengaji, anak-anak mendapatkan metode yang berbeda. Hal yang terdeteksi pada awalnya adalah nada baca Hijaz  yang terkontaminasi dengan dengan nada-nada metode mengaji yang lain. Pada dasarnya hal itu tidak kami permasalahkan karena yang penting kualitas mengajinya yang kami perhatikan. Disinilah, kami memegang erat konsep dasar moderasi. Tentu menjadi ganjil, jika kami melarang para siswa mengaji dengan metode yang lain. Justru, dengan demikian, mereka menjadi lebih memahami variasi metode baca al-Quran. Namun, konsekuensi logis tentu ada. Ternyata tidak mudah bagi kami untuk meluruskan kembali agar kembali pada pakem Hijaz WAFA. Intensitas mereka yang tentunya lebih banyak di TPA atau diniyah, tentu membuat kami jungkir balik memperbaiki nada Hijaz WAFA yang menjadi ciri khas yang tentu tak boleh lepas. Inilah bentuk nyata moderasi Qurani. Kita harus tetap memegang teguh ciri khas, namun tak perlu menafikan yang lainnya. Toh kami bersyukur karena nada Hijaz yang easy hearing sangat mudah diingat oleh anak-anak.

Hal utama yang belum juga berhasil kami implementasikan hingga hari ini adalah Munaqasyah langsung dari TIM inti WAFA. Perbaikan terus kami upayakan, namun masih banyak hal yang menghalanginya. Saat pandemi melanda, kami sempat vakum karena pemberlakuan kurikulum darurat dengan jam belajar minimalis. Tahun ini kami mulai mengintensifkan mengaji online, terlebih WAFA juga sudah menyediakan aplikasi online yang sangat membantu kami.  Memang, tak mudah merealisasikan idealitas di tengah heterogenitas. Bukan tak bisa, tapi memang butuh waktu yang tidak sebentar dan terkesan stgnan di tempat. Lembaga negeri dengan berbagai keterbatasan kendala aturan kurikulum, menjadi kesulitan tersendiri yang sampai hari ini seolah tak teratasi. Namun, semangat kami untuk tetap mengusung WAFA sebagai standar keberhasilan baca al-Quran tetap kami upayakan. Tahun 2020 kemarin, para guru MIN 1 Bangkalan kembali mendapat Upgrading ilmu al-Quran dari Tim WAFA. Beberapa perbaikan kami lakukan di banyak lini meski berada dalam kondisi pandemi. Semoga niat kami untuk mengawal generasi Qurani dalam iklim moderasi tetap membara. Mewujudkan impian bersama WAFA, membangun generasi mulia selamanya. Aamin.

_
Penulis : Rurin Elfi Farida, SHI., M.PdI, M. Pd. – MIN 1 Bangkalan

Usaha dan Do’a akan Membuahkan Hasil

Berbagai kafilah datang dengan robongannya masing-masing. Hanya saja kafialah-kafilah itu tidak datang dengan mengendarai unta, karena tempat ini memang bukan padang pasir. Melainkan sebuah tempat yang katanya, sama dengan mempermudah jalan menuju surga. Tuhanku sendiri mengatakan seperti itu. Sebgaimana potongan hadits yang diriwayatakan oleh Abu Hurairah Ra, Rasullulah Saw bersabda:

“Man salaka thariqan yaltamisu fiihi I’lman sahhalallahu lahuu bihi thariqan ilaljannah”

“Barang siapa menemuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya.” (HR. Muslim).

Dari yang keluaran paling terbaru, motor yang bodinya buncit-buncit, hingga motor dan mobil sejuta umat, silih bergantian memasuki sebuah tempat yang asal muasalnya dicetuskan oleh Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau dalam buku sejarah lebih sering kita kenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Ya, sekolah. Tempat yang seharusnya menjadi tujuan mempercepat langkah menuju surga.

Namun tidak semua hamba-hamba yang datang ketempat ini berniat untuk menuntut ilmu. Ada yang datang menjadi Firaun, memamerkan segala benda mahal yang dimilikinya. Ada yang datang untuk bersaing dengan istrinya Abu Lahab, dari awal menginjakkan langkah pertama di gebang masuk, mulutnya bebuih membicarakan keburukan guru atau siswa lainnya hingga pulang. Namun tidak sedikit juga yang memiliki keseriusan belajar laksana Abu Hurairah.

Kulangkahkan kakiku dengan penuh ketakziman, kuluruskan niatku untuk mengajar anak-anak di kelas, agar anak-anakku meraih kemudahan dan kefahaman dalam belajara dan menghafal al-qur’annya, dihari pertama ngajar, saya hanya mengamati bagaimana karekter setiap anak didik yang akan saya hendel dan saya ajari. Karena saya ngajarnya dirumah tahfidz maka banyak anak-anak dari kalanagan umum yang masuk di sekolah tersebut. Tertanya didalam keles ada satu anak yang berumur 3,5 tahun karena iya berasal dari TK umum bukan TK dari tempat saya ngajar maka butuh bimbingan khusus untuk anak ini, karena dia belum terbiasa dengan menghafal al-qur’an. Suatu hari anak ini berulah masalah kebetulan saya yang bertugas untuk mengkondisikan anak-anak didalam kelas tersebut, setelah melaksanakan sholat ashor anak ini ingin keluar dari kelas karena saya tidak mengejinkan keluar maka dia tidak berani keluar, akan tetapi dia malah mencopot  gambar tulisan huruf hijaiyah yang dikasih warna oleh temen-temennya yang ditempel didinding kelas,saya tegur dia, dia malah mengeluarkan jurus handalnya yaitu dengan cara menangis, melihat anak tersebut menangis saya merasa iba dan kasihan jadi saya biarkan saja dia mencopot gambar-gambar tersebut, dan teman patner kerja yang didalam kelas pun tidak menghirau kan saya yang lagi kesusahan mengatasi anak tersebut, belum berakhir pelajaran ketua yayasan sekolah pun masuk mengontrol setiap keadaan kelas, setelah sampai ketua yayasan di kelas yang saya hendel, betapa terkejutnya beliu melihat anak yang lagi asyik main merobek-rebek ketas yang dia copot tadi. Pelajaranpun berakher, setelah semua anak-anak pulang dijemput oleh orang tuanya masing-masing, rapat dengan ketua yaysan pun dimulai, nah disini lah saya dimarahi oleh ketua yayasan karena membiarkan anak mencopot gambar-gamabr yang ada didinding, singkat cerita sayapun ingin dipidahkan oleh ketua yaysan di kelas level 2 dimana anak-anak tersebut hafalannya sudah selesai juz 30 dilanjutkan dengan hafalan juz 29, tapi kerana patner kerja dilevel 2 tersebut laki-laki dan belum menikah, seketika rawut mukaku berubah menjadi pucat, tanganpun gemeter, sayapun terdiam tidak menanggapi perkataan beliu, Cuma dengan gerakan tubuh saya menolak dipasangkan dengan laki-laki tersebut, akhirnya saya tidak jadi dipasangkan patner kerja dengan laki-laki tersebut. Saya bertekat bahwa dalam 1 minggu saya bisa menghendel kelas dan menghendel anak-anak. Akan tetapi kisah yang saya tuangkan bukan dari anak ini melainkan dari seorang anak yang ibunya bekerja serabutan dan ayahnya bekerja di tempat perantauan, sekali sebulan baru pulang kerumah. Sebut saja namanya Ilmi

Minggu kedua masuk sekolah, anak-anak sudah aktif pembelajaran dalam menghafal, ketika itu Ilmi setoran hafalan dengan ustadzah atun dia terhenti di surah an-Naba, saya lupa ayat berapa, dikarnakan anada ilmi keliru dalam pelafalan huruf ز , jadi ustadzah atun tergur dia utuk memperbaikinya, sudah beberapa kali mencoba melfalkan huruf tersebut akan tetapi tidak berhasil, akhirny dia berhenti diayat tersebut. Besoknya bundanya datang bercerita kepada kami bahwa ananda ilmi kemarin selesai ngaji datng kerumah langsung menangis, bundany pun bertanya kepada ilmi “kenapa kamu menangis, apakah di sekolah ada yang mengganggu”, dia pun menjawab dengan air mata berlinang “aku kasihan dengan ustadzah yang mengajariku membaca dan menghafal al-qur’an karena aku tidak bisa-bisa melafalkan huruf hijaiyah dan panjang, pendeknya pun masih banyak yang keliru, aku sudah mencobanya tapi aku tetap tidak bisa, makanya aku menangis karena kasian dengan ustadzah yang susah payah mengajariku”. Masya allah betapa mulianya hati ananda ilmi ini kami sebagai gurunya menjadi terharu setelah mendengar cerita bundanya, bundanya berpesan kapada kami tolong jangaan busen mengajari anak kami karena kami sebagai orang tuanya tidak bisa mengajarinya hanya dia yang bisa kamiharapkan bisa mengaji disekolah ini, selesei berbincang-bincang dengan bundanya ilmi kamipun mengucapakn terimakasiih sudah mempercai anak beliu sekolah ditempat kami dan meminta do’a agar ananda ilmi diberi kemudah dan kepahaman dalam belajar dan menghafal al-qur’an.

Keesokan harinya saya dan temen-temen yang mengajar disana selalu memberi bibingan kepada anada ilmi dan memberikan semangat agar tidak busen-usennya belajar, kata saya “jangan bersedih karena kita ngajinya masih terbata-bata, sesungguhnya allah itu sayang dengan kita, dengan terbata-bataanya bacaan kita maka kita buh berulang-ulang kal untuk membenaarkan bacaan kita, satu huruf allah ganjarkan dengan pahala sepuluh kali lipat bayang kita membacanya berulang-ulang maka pahala kitapun banyak”.

Hari berganti hari, minggu pun berganti minggu seirinya waktu berjalan ananda ilmi pun lebih giat belajar ketika dia salah mengahafal kami betulakan besoknya dia stor ulang  hafalnya lebih baik hafalannya dari pada kemarin, alhamduliilah bulan aprel tahun 2020 kemarin dia ikut lommba tahfidz tinggkat kabupaten dia merayih juara 3, dan hafalnya di bulan aprel tahun 2020 sudah mencapai 3 juz.

Allah tidak akan merubah nasib hambanyaa kecuali hambanya itu sendiri yang merubahnya. Berusahalah yang giat selagi itu dijalan kebenaran, dan bersabarlah, ikhlas dan tawakkal kepada allah segala apa yang kita usahakan, dan jang lupa berdo’a kepada allah apa yang kita usahakan, seandainya allahpun belum manggabulakan setidaknya kita dapat pahala atas do’a kita. 

Dilain temapat, ini cerita penagalam dari teman saya yang bernama Siti Rahmida.

Diawal tahun 2020 merebaknya virus covid-19 atau bisa disebut virus corona yang menjadi catatan sejarah dunia. Bermula dari negara cina sampai menyebar ke negara indonesia. Selain hanya memakan korban jiwa, covid-19 juga mengancam adanya krisis ekonomi global.

Di indonesia jutaan orang terancam kehilangan pekerjaan merika ditengan penerapan pembatasan sosial berskala besar ( PSBB) demi memutus rantai penyebaran virus corona. Kerugian yang dialami , misalnya pengahasilan para pedagang yang drastis menurun, para buruh serta guru yang hampir kehilangan pekerjaannya karena diistirahatkan untuk sementara berhubung dana untuk menggaajih para buruh dan guru tidak mencukupi. Virus corona ini menyebabkan hampir seluruh dunia lembaga pendidikan diliburkan oleh pihak pemerintah agar mengurangi menyebaran virus yang sangat membahayakan.

Siti Rahmida sebagai pengajar juga merasakan kegelisahan yang mendalam terhadap apa yang menimpa negeri ini. Sekolah diliburkan untuk belajar tatap muka dalam jangka waktu yang panjang. Waktu demi waktu berlalu, mulailah rasa kebusanan itu muncul dihaati Siti Rahmida. Berbagai macam kegiatan-kegiatan yang penah dijalani, kini telah tetunda. Karena sebelum terjadinya pandemi ini, di sekolah sangat ramai anak-anak belajar di dalam kelas. Selain kegiatan belajar, mengajar anak-anak juga sering pergi mengunjungi pepustakaan untuk membaca buku disana. Pada saat jam istiraha halaman sekolah dipenuhi oleh anak-anak yang bermain. Misalnya bermain sepak bola, lopat tali, bulu tangkis, engklek, asinan dan lain-lain.

Saat pembelajaran dimulai, sekolahpun bergemuruh dengan suara anak-anak yang sedang belajar, mengaji, menghafal surah serta hadits, bernyanyi, bercanda ria dengan tema-temannya, dengan guru makan bersama sambil menonton video tentang kisah nabi dan kisah-kisah islami lainnya, sholat berjama’ah yang dipimpin oleh salah stu siswa,qailullah bersama di dalam kelas, mabit, kegiatan pramuka, outbound, market day (belajar jual beli menurut islam) yang dipenuhi anak-anak dan para orang tua. Semua aktivitas yang dijalani di sekolah telah menjadi kenangan oleh semua ustadz-ustadzah dan juag anak-anak didik. Oleh karena itu kenagan yang lalu bisa mengobati rasa sedih dan rindu yang berkecamuk didalam hati.

Sebelum pandemi, diawal tahun ajaran baru anak-anak bersemangat sekali masuk sekolah dengan harapan bisa pergi kesekolah yang baru untuk bertemu dengan ustadz-ustadzah yang belum dikenal, teman-teman yang baru, kelas baru, dan memakai seragam baru, serta membawa peralatan sekolah yang lengkap. Semua itu terliahat dari wajahnya yang ceria dan bahagia saat memasuki sekolahnya. Saat pengenalan lingkungan sekolah mereka mengikuti semua aktivitas yang diarahkan oleh ustadz-ustadzahnya dengan baik .

Namu sekarang jauh berbanding terbalik, koma dimana masa pengenalan sekolah disaat pandemi hanya diaadakan secara online yang diambil video oleh ustadz-ustadzah kemudian dikirim melalui grup whatsapp. Pada pembelajaran wafa biasa dilaksakan didalam kelas atau diluar kelas yang suasananya seju, indah, dan tenang yang bertempat disaung-saung atau dirumahan kecil yang sangat cocok untuk dijadikan tempat pembelajaran wafa. Sekarang pembelajaran wafa hanya bisa dilakukan dipalikasi zoom meeting dengan waktu yang terbatas, orang yang terbatas, dan tidak bisa memberikan pembelajaran secara efektif.

Saat melakukan pembelajaran online, Siti Rahmida tidak dapat membuat chemistry (hubungan bati) terhadap anak didik, yang hanya saya dapat ketika pembelajaran tatap muka. Saat pandemi ini para ustadz-ustadzah dipaksa untuk menguasai ilmu teknologi yang dimanfaatkan untuk proses belajar mengajara yang lebih optimal. Beruntungnya saat ini teknologi berkembang semakin maju. Karena mampu meberikan solosi untuk berbagai kebutuhan hidup. Salah satunya kemajuan teknologi adalah dalam bentuk sekolah online. Dengan diadakannya sekolah online dunia pendididkan pun bisa terjalani.

Dengan berjalannya waktu keluhan demi keluhan dari orang tua anak didik bermunculan, karena proses belajar menagajar yang sudah lama diliburkan, kini kebijakan dari pemerintah melakukan proses belajar mengajar dengan cara BDR (belajar dari rumah). Adapun aplikasi yang digunakan ketika pembelajaran seperti whasapp, zoom meeting, youtobe, dan lain-lain. Namun tidak semua orang tua anak didik siap menjalani pembelajaran dengan cara yang baru. Karena sebagian orang tuanya tidak menguasai dengan dunia teknologi. Dengan demikian pendidik dituntut untuk menghasilkan ide-ide kriatif agar tercipta proses yaang interaktif dapat dipahami, dan diterima oleh anak didik dan orang tuanya.

_
Penulis : Husnaniah – SDIT Ihsanul Amal Alabio

Pengalaman Dari Kuliah Sampai Mengajar

Menjadi penghapal Al-Qur’an memang sangat membahagiakan bagi kita semua karena akan menjadi hujjah kelak nanti di hadapan Allah SWT dan dengan menghapal Al-Qur’an semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. 

Awal mula, menghafal Al-Qur’an adalan saat memasuki dunia perkuliahan di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an. Sebelumnya, saya berpikir menghafal Al-Qur’an itu sulit dan begitu terasa melelahkan saat melihat betapa tebal pedoman umat Islam ini.  

Keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih berkualitas lagi tatkala mengikuti jejak adik saya memutuskan berkuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai. Ia baru menyelesaikan pendidikannya di jenjang Madrasah Aliyah. Dan, Berkat dorongan orangtua yang menyanggupi membiayai kuliah, berani melangkah masuk ke masa perkuliahan. Dalam bayangan saya banyak rencana tersusun rapi guna tidak ingin mengecewakan kerja keras orangtua. Salah satunya menghafal 2 ayat atau lebih sehari untuk mengejar target minimal yang telah disyaratkan oleh pihak kampus.   

Awal-awal menghafal di masa perkuliah di mulai dari juz 30 dari surah-surah yang pendek, lalu ke juz 29 yang sudah mulai surah panjang-panjang, tapi alhamdulillah saya bisa menghafalnya. Berlanjut ke surah pilihan seperti surah Sajadah, Al-Waqi’ah, Yasin, dan Ad-Dukhan karena surah-surah amalan rutinan di setiap malam. Jika sudah melalui juz 30, 29 dan surah pilihan akan diperbolehkan menghafal dari juz 1 sampai seterusnya. 

Teman seperjuangan merupakan orang-orang yang paling mempemgaruhi saya dalam menghafal Al-Qur’an. Saya dan beberapa teman-teman penghafal Al-Qur’an memulai dari nol. Tekad saya membara saat teman seperjuangan menyetorkan hafalannya dua halaman dalam sekali stor bahkan lebih dari itu. Saya melakukan intropeksi diri dan berkata dalam hati, “Dia bisa stor hafalan sampai lebih dari 2 halaman, kenapa saya tidak?”

Maka, di sinilah saya giat menghafal. Menurut pendapat kebanyakan orang waktu paling ampuh dalam menghafal pada waktu Magrib dan Subuh. saya coba menghafal pada masa yang dianjurkan dengan membiasakan satu halaman setelah shalat subuh, lalu jam 9 atau jam 10 pagi mengulang hafalan. Begitu juga, setelah shalat magrib menghapal satu halaman, lalu selesai shalat isya mengulang kembali agar lebih kuat hafalannya. Menurut pengalaman saya dalam menghafal satu halaman jika tidak ada pengulangan maka hafalan akan hilang dan tidak bisa distorkan ke Instruktur Tahfiz.

Lingkungan dan teman yang baik sangat mempengaruhi segala aspek kehidupan. Termasuk berada diantara ahli Qur’an yang sangat mendukung perjuangan saya sebagai penghafal Al-Qur’an dan menjadi jalan motovasi saya menghadapi berbagai kesulitan yang melanda.

Saya bergabung dalam lembaga Sekolah Islam Terpadu Ihsanul Amal dipertengahan bulan september kala sidang skripsi telah sukses dilewati dan menunggu untuk merayakan perjuangan perkuliahan. Satu minggu pertama masuk ke sekolah ini hanya melihat proses ustadz dan ustadzah mengajar. Dan, belajar bagaimana cara mengajar yang baik dan menkondisikan kelas agar para siswa bisa fokus untuk menyimak materi yang di sampaikan ustadz dan ustadzah.

Dalam melakukan pembelajaran kita harus dari awal bersikap tegas, bukan berarti marah-marah. Dengan ketegasan agar anak-anak  segan pada kita dan mereka akan patuh pada teguran jika mereka melakukan kesalahan yang tidak wajar. Anak-anak akan semaunya ketika ketika ketegasan tidak dilakukan diawal pertemuan. Mereka juga akan menutup telinga segala masukan dan teguran yang diberikan. 

Dalam proses mengajar kita harus selalu belajar kepada yang lebih ahli dan lebih berpengalaman, karena yang lebih ahli dan berpengalaman ini lebih banyak mempunyai jurus jitu dalam mengkondisikan kelas. Oleh karena itu, satu tahun pertama saya memang agak kesulitan dalam mengkondisikan kelas dan saya juga berusaha terus belajar, seperti bagaimana melihat wali kelas mengajar, dan tepuk-tepukannya bagaimana wali kelas itu saat mengajar. Guru-guru baru pun terus diberi pelatihan agar bisa mengajar dengan baik sesuai standar.

Alhamdulillah, di tahun kedua mengajar ditempatkan masih di kelas 1. Saya sudah lebih percaya diri dalam mengajar dan lebih bisa mengkondisikan kelas agar tetap fokus dan menyenangkan dalam mengajar. Pada masa musim pandemi ini, segala kreatifitas kita harus dikeluarkan agar pelajaran Al-Qur’an tetap asik dan menyenangkan bagi siswa walaupun secara online.

Dan pada tahun ini tahun ketiga saya mengajar pada ajaran 2021-2022, adalah sebuah tantangan untuku karena di tempatkan menjadi guru Al-Qur’an di kelas 6 yang karakteristik siswanya berbeda dari kelas 1 dan cara mengajarnya pun sangat jauh berbeda. Asalkan mau belajar dan terus belajar insya Allah akan dimudahkan segala urusan oleh Allah dan tetap selalu melakukan yang terbaik serta semaksimal mungkin agar mendapatkan hasil yang baik dan maksimal juga.

_
Penulis : Syahid – SDIT Ihsanul Amal

Al-Qur’an Pegangan Hidupku

Saya termotivasi mendidik anak-anak untuk belajar Al-Qur’an ketika saya mengingat masa lalu yang belum bisa membaca Al-Qur’an. Saat itu usia saya berumur 12 tahun. Saya ingin sekali sekolah ke pondok pesantren Rasyidiah Khalidiah (RAKHA) yang ada di Amuntai. Namun syarat tes yang harus di ikuti adalah bisa membaca Al-Qur’an dengan benar. Saya pun berpikir bagaimana caranya agar bisa membaca Al-Qur’an dengan benar, minimal mengetahui makhraj huruf dan panjang pendeknya dulu menurut saya. Saya pun belajar dengan saudara perempuan saya yang bernama Siti Bulkis, dan dilanjutkan belajar dengan kakak saya yang bernama Ahmad Muzakir. Akhirnya saya pun sedikit demi sedikit mampu mengingat dan melafadzkan huruf-huruf hijaiyah walaupun belum begitu fasih, namun dengan semangat yang besar serta dorongan dari orang tua, saya pun bisa membaca Al-Qur’an. Hari-hari pun dilalui, kemudian saya mengikuti tes di pondok, dan akhirnya saya dinyatakan lulus oleh pondok pesantren Rasyidiah Khalidiah (RAKHA) bahwa saya boleh sekolah dan belajar disana.

Hal yang membuat saya termotivasi untuk mengajarkan Al-Qur’an adalah mengingat masa lalu saya yang sudah lulus kelas 6 belum juga bisa membaca Al-Qur’an, dan bagi saya anak-anak sekarang sangat beruntung sekali, baru duduk di kelas 1 SD sudah bisa membaca Iqra, atau wafa, bahkan dari PAUD sudah dikenalkan tentang huruf-huruf hijaiyah. Betapa beruntungnya mereka, namun bagi saya yang sudah saya lalui itu adalah masa lalu, saya harus bisa ikut andil dalam perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW, karena teringat apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW sampaikanlah olehmu walaupun hanya 1 ayat. 

Awal mula saya mengajar Al-Qur’an hanya ikut membantu saudara saya, karena anak-anak yang belajar Al-Qur’an cukup banyak. Buku yang kami pakai adalah buku Iqra yang dikarang oleh KH. As’ad Humam, buku beliau terdiri dari 6 jilid. Anak-anak belajar iqra setelah melaksanakan shalat magrib. Diantara mereka ada yang sudah menyelesaikan buku 6 jilid tersebut, kemudian mereka melanjutkan ke kitab Al-Qur’an. Tempat mereka belajar terkadang di rumah, dan terkadang di mushalla. Kegiatan belajar mengajar Al-Qur’an cukup lama. Akhirnya kami berinisiatif untuk membangun Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di desa kami. Saya dan kakak saya mengajak teman dekat untuk ikut membantu demi tercapainya pembangunan TPA. Kami berdua meminta izin ke kepala desa untuk mengadakan rapat. Setelah beberapa hari kemudian kami mendapat izin dari kepala desa. Kami seluruh guru dan masyarakat yang diundang mengadakan rapat di kantor kepala desa. Alhamdulillah kepala desa juga mendukung kegiatan tersebut. Kata beliau, itu ada bangunan TPA yang sudah lama tidak terpakai, dan itu bisa dijadikan tempat untuk belajar anak-anak. Berdasarkan hasil rapat nama TPA nya adalah TPA Al-Ikhlas, kenapa kami mengambil nama tersebut ? Karena awal dari pembangunan TPA adalah keikhlasan guru dalam mengajar. Bermula dari hal ini kami mengajukan TPA ke Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Taman Pendidikan Al-Qur’an (LPPTKA) beserta Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia (BKPRMI) agar TPA yang kami bangun menjadi resmi seperti TPA lainnya yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kami pun berdiskusi siapa yang menjadi kepala TPA, dan yang terpilih adalah kakak saya Ahmad Muzakir, sedangkan saya menjabat sebagai guru dan bendahara. Disamping itu pula kami membuat proposal renovasi TPA dan buku Emas untuk mencatat para donator yang membantu renovasi TPA dan gajih guru. Kami juga menarik iuran perbulan Rp. 3000,- per-anak, yang mana uang tersebut kami gunakan untuk menggajih guru. Selang waktu beberapa bulan kemudian TPA Al-Ikhlas dapat mengumpulkan uang sebesar Rp. 4.000.000,- yang didapatkan dari proposal yang kami sampaikan kepada para donator. Tak lama setelah uang terkumpul kami pun melaporkan ke kepala desa, dan dari kepala desa menganjurkan agar disimpan dulu uangnya. Kepala desa pun mencarikan dana yang berpeluang besar dari pemerintah bisa dialokasikan untuk pembangunan Taman Pendidikan Al-Qur’an. Setelah beberapa bulan kemudian TPA Al-Ikhlas pun di renovasi dengan bantuan kepala desa dan masyarakat setempat. Kami pun juga mengecek dan menghubungi LPPTKA,BKRMI agar TPA kami dapat diresmikan. Selang beberapa hari kemudian kepala BKPRMI pun dapat meluangkan waktu untuk meresmikan TPA Al-Ikhlas yang kami renovasi. Kami sebagai guru merasakan bahagia, karena TPA menjadi baru, dan kami bisa mempunyai TPA yang resmi dari Pemerintah Daerah setempat. Setiap pertiga bulan dari Pemerintah Daerah memberikan honor untuk para guru yang terdaftar. Guru-guru pun merasa senang dan gembira atas gajih yang diberikan.

Setelah lulus dari Madrasah Aliyah Rakha saya melanjutkan pendidikan untuk kuliah ke Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ), disana saya banyak belajar tentang ilmu Al-Qur’an. Banyak keutamaan-keutamaan tentang belajar Al-Qur’an dan cara mengajarkannya. Dari kesekian banyaknya yang saya dapat pegangi tentang hadits Nabi Muhammad SAW, dalam hal ini untuk memotivasi saya dalam belajar dan mengajarkan Al-Qur’an adalah Al-Qur’an nantinya akan memberikan syafa’at pada hari kiamat, kemudian sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Dari hadits ini saya sangat termotivasi sekali untuk lebih giat dalam belajar Al-Qur’an, dan ingin sekali mengajarkan lebih banyak tentang al-Qur’an kepada orang lain. Pada semester ketiga saat kuliah saya juga diberikan tawaran oleh teman saya untuk mengajar TPA di Bihman Villa yang letaknya tidak jauh dari Mesjid Raya At-Taqwa Amuntai. Saya pun akhirnya menerima tawaran tersebut, karena jadwal mengajarnya setelah shalat zuhur, saya pun juga bisa kuliah, dan mengajar di TPA yang ada di desa. Bermacam-macam tingkah laku anak didik,  bermacam-macam pula bagaimana cara menghadapinya. Dan yang terpenting bagi saya adalah mereka bisa membaca Al-qur’an dengan benar. Disamping itu pula guru-guru juga dilatih bagaimana cara mengajarkan Al-Qur’an dengan benar kepada murid, bagaimana cara menghadapi mereka dengan sabar, bagaimana cara menanamkan karakter sholeh, dan menanamkan adab-adab islami kepada murid. Banyak situasi yang tak terduga, ada anak yang tidak mau mengaji selama beberapa minggu, saya sebagai guru melakukan pendekatan ke orang tua murid dan bertanya apa sebab ia tidak lagi datang ke TPA untuk mengaji, ternyata sebabnya adalah dia digangu sama temannya. Saya pun memberikan penguatan dan solusi kepada orang tua, serta memberikan dorongan agar anak beliau tetap sekolah di TPA. Selama enam tahun berjalan saya pun diberikan tawaran oleh Sekolah Islam Terpadu Ihsanul Amal (SDIT), dan orang yang memberikan tawaran tersebut tak lain adalah kakak saya sendiri yaitu Ahmad Muzakir, kebetulan sekali kakak saya juga sudah lama ikut mengajar di SDIT.

Pada bulan November tahun 2011 saya diterima oleh Yayasan SIT Ihsanul Amal untuk mengajar disana. Selama 3 pekan saya sebagai guru baru hampir berhenti untuk mengajar, namun karena keyakinan yang kuat akhirnya saya mampu bertahan untuk mengajar di SDIT. Banyak pengalaman yang saya dapatkan dari mengajar di SDIT. Diantaranya saya juga dikirim oleh Yayasan SIT Ihsanul Amal untuk mengikuti pelatihan Al-Qur’an metode Ummi, metode Tiqrar, metode Tilawati, Story Telling dan yang sekarang adalah metode Wafa. Semakin banyak ilmu yang didapat maka semakin banyak pula potensi yang bisa dikembangkan demi menjadi guru yang professional. Menjadi guru yang profesional dibidang Al-Qur’an merupakan pondasi agar mengajarkan Al-Qur’an lebih maksimal. Kita sebagai karyawannya Allah SWT harus selalu melejitkan potensi kita, agar mengajar selalu yang terbaik, kita pun harus menjaga Kitab suci Al-Qur’an dan mengajarkan kepada anak didik kita. 

Saya di SDIT diberikan amanah mengajar wafa dan sebagai Pembina musholla. Pernah suatu ketika ada anak yang belajar mengaji dengan saya meletakkan buku wafanya dibawah lantai, saya pun memberikan pemahaman kepada murid tentang adab-adab yang harus dilakukan pada saat belajar Al-Qur’an, diantaranya dengan berwudhu terlebih dahulu, meletakkan buku atau kitab Al-Qur’an di atas meja yang agak tinggi dari lututnya. Sehingga murid tersebut pun sadar dengan apa yang saya nasehatkan. Setelah beberapa tahun saya mengajar Al-Qur’an di SDIT, saya pun mendapatkan kesempatan besar mengikuti tahsin atau memperbaiki bacaan Al-Qur’an ke Jawa Timur, tempatnya berada di Lumajang, disana ada program tahsin yang diselenggarakan oleh Pondok Tahfizh Bahrussyifa yang dipimpin oleh Ustadz Imron Rosyadi Al Hafiz (Alm). Alhamdulillah saya sempat bertemu, belajar dengan beliau dan langsung mengikuti program tahsin selama satu bulan. Banyak ilmu yang diajarkan beliau, diantaranya cara melafadzkan setiap huruf harus sesuai dengan tempat keluar hurufnya, vocal A harus sesuai dengan tahsin, seperti bunyi A harus jelas dan tidakterpengaruh bunyi E, begitulah cara beliau mengajari saya. Membaca Al-Qur’an harus dengan tartil dan sesuai dengan kaedah tajwidnya. Alhamdulillah selama satu bulan saya dapat menghafal Al-Qur’an 3 Juz dengan Tahsin. Juz yang dicapai yaitu juz 28, 29, dan 30. Saya sangat beruntung sekali mendapatkan ilmu dari beliau. Semoga Ustadz Imron Rosyadi Al Hafiz (Alm) mendapatkan surga yang terbaik. Aamiin

Sepulangnya dari Jawa Timur saya diberikan amanah sebagai Koordinator Al-Qur’an di SDIT. Semoga dengan amanah ini saya mampu menjalankannya. Banyak pengetahuan dan pengalaman yang saya dapatkan selama menjabat sebagai Koordinator Al-Qur’an di SDIT. Diantaranya saya mengetahui bagaimana menjadi leader atau pemimpin yang mampu menggerakkan tim Al-Qur’an di SDIT. Setelah beberapa tahun saya mengajar di SDIT, kemudian saya pun di pindah tugas untuk mengajar di PAUDIT. Menurut saya mau di pindah atau tidak tetap harus memberikan yang terbaik. Karena tujuan saya mengajar adalah mencari keridhaan Allah SWT, selalu berbuat baik dimanapun berada. Di PAUDIT saya diberikan amanah sebagai wali kelas dan koordinator Al-Qur’an. Berbagai informasi saya dapatkan agar PAUDIT dapat berkembang dan mendapatkan prestasi. Pada tahun ini PAUDIT mendapatkan prestasi juara III yang diselenggarakan oleh Kafa (Kontes Al-Qur’an Wafa) dengan menampilkan lagu kreatif wafa pada tanggal 24 April 2021. Alhamdulillah saya berbahagia sekali, karena yang membuat teks lagu tersebut adalah saya dan ustadz Muhammad Noor. Senangnya menjadi guru Al-Qur’an tak terhingga balasan pahalanya, jika kita niatkan kesemua ini karena Allah SWT.

Untuk kedepannya saya akan membuat karya yang lebih baik lagi agar orang-orang yang belajar Al-Qur’an, baik itu anak-anak, dewasa, maupun orang tua lebih mudah mempelajari ilmu Al-Qur’an. Belajar Al-Qur’an adalah ilmu pasti, artinya pasti menghantarkan kita kepada jalan kebaikan. Orang yang belajar satu huruf dari Al-Qur’an akan mendapatkan sepuluh kebaikan, maka semakin banyak orang yang membaca Al-Qur’an maka semakin banyak juga pahala yang didapatnya. Begitu pula kita sebagai guru, semakin banyak kita menanam kebaikan, maka semakin banyak pula kita memperolehnya. Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan, maka pahalanya sama seperti orang yang berbuat baik kebaikan itu.

_
Penulis : Ramadhan, S.Pd.I. – PAUD IT Ihsanul Amal

Mengaji Online, Siapa Takut???

Orang tua yang dikaruniai anak, sesungguhnya merekalah yang memiliki investasi terbesar untuk kehidupan dunia dan ahiratnya.  Mereka yang mengenalkan Sang Khaliq sejak dalam kandungan. Sang ayah yang selalu memberikan doa-doa indahnya setiap usai sholat kemudian ditiupkan ke perut ibu. Ibu yang setiap saat mengelus-elus perutnya yang setiap hari, setiap bulan semakin membesar. Hingga saat hari yang ditunggu-tunggu datang, hari kelahiran.  Doa dan kasih sayang mereka tetap tercurahkan kepada anak-anaknya bahkan ketika sang anak sudah dewasa. 

 

Begitu besar rasa cinta orang tua kepada anak, sampai mereka rela bersusah payah memberikan pendidikan terbaik untuk putra putrinya. Terutama dalam mempelajari dan mengajarkan Al Quran. Pertama kali yang berkewajiban mengenalkan anak dengan Rabb-nya adalah orang tua. Orang tua akan dimintai pertanggung jawaban atas didikannya kepada putra putrinya. Nabi saw bersabda, “Siapa yang mengajarkan membaca Al Quran kepada anaknya akan diampuni dosanya, dan barang siapa  yang mengajarkannya dengan hafalan di luar kepala, maka Allah akan membangkitkannya kelak di hari kiamat dengan wajah seperti bulan purnama,” (HR. Thabrani, Anas).

 

Anak-anak yang mengenal Al Quran sejak dini, diharapkan tumbuh kepercayaan terhadap Allah sebagai Tuhannya dan Al Quran sebagai firman-Nya. Keyakinan yang tertanam sejak kecil akan membekas tajam dalam hatinya hingga remaja dan dewasa. Kecintaan pada Al Quran bisa membuat akhlak menjadi lebih baik dan menjadikan anak generasi yang berakhlak Qurani. 

 

Itulah yang selalu ditanamkan pada anak-anak TK Nufi Sidoarjo. Tidak hanya memberikan pengajaran Al Quran tetapi akhlak pun juga diutamakan dalam belajar. Lewat kisah-kisah islami dari WAFA, membuat pembelajaran Al Quran semakin menarik dengan menanamkan akhlak pada anak.

 

Suatu hari dalam kelas terdengar suara nyanyian :

Mata saya kaya roda

Bentuknya bulat jumlahnya dua

Karunia yang indah dari Allah 

Harus selalu kita jaga

 

Lagu itu terdengar beberapa kali dinyanyikan. Sambil menggerakkan tangan mengikuti lirik yang dibunyikan. Anak-anak terlihat sangat senang dan antusias menyanyi dan bergerak. Usai menarik perhatian anak-anak dengan lagu tersebut, ustadzah pun melanjutkan dengan doa bersama.  

 

Belajar virtual memang memerlukan effort yang lebih. Meski sudah satu tahun lebih pandemi yang mengharuskan untuk online, tetapi cara-cara baru selalu digali supaya anak-anak nyaman dan semangat belajar.  Apalagi tipe setiap anak yang berbeda-beda. 

 

Ustadzah mengeluarkan kartu gambar mata kemudian bertanya pada anak-anak. ”Ini gambar apa?” ”Mata”, jawab mereka serempak. Kemudian tanya jawab pun terjadi. Mereka tampak senang bila merasa bisa menjawab pertanyaan ustadzah. Kemudian ustadzah menjelaskan kegunaan mata dan menyelipkan kisah sahabat Rasulullah Abdullah bin Ummi Maktum. 

 

Dimana dalam kisah tersebut menceritakan Ummi Maktum yang buta. Akan tetapi meski tidak bisa melihat, ia tetap rajin beribadah pada Allah. Ia tidak merasa sedih dan putus asa. Bahkan ia menjadi muadzin yang bergantian dengan Bilal bin Rabbah. Setiap hari Ummi Maktum selalu berangkat ke masjid menggunakan tongkatnya. Terkadang Ummi Maktum digandeng oleh sahabatnya menuju masjid. 

”Wah … hebat ya. Meski tidak bisa melihat, Ummi Maktum tidak pernah ketinggalan pergi ke masjid”, kata ustadzah. 

”Siapa yang suka pergi ke masjid?”

”Saya…”, jawab anak-anak bersemangat.

 

Begitulah ustadzah menumbuhkan semangat anak-anak dalam belajar. Secara tidak langsung anak-anak juga belajar untuk rajin pergi ke masjid. Setelah sedikit bercerita dan memotivasi anak-anak, ustadzah melanjutkan dengan belajar huruf hijaiyyah. Dengan kartu peraga WAFA, ustadzah mengenalkan huruf hijaiyyah. Ustadzah mengeluarkan kartu bertuliskan huruf ”ma”. Ustadzah menunjukkan bentuk huruf ”ma” dan membacanya, anak-anak ikut menirukan. Setelah membaca bersama-sama, kemudian ustadzah bertanya satu-satu. Ada yang langsung bisa, ada yang masih perlu diajari lagi ada yang lupa. Bagi anak yang belum familiar memang tidak mudah jika hanya satu kali. Mereka perlu beberapa kali pengulangan. 

 

Setelah huruf ”ma” lancar berganti dengan huruf ”ta”. Seperti mangkok ada titiknya dua, begitu ustadzah mengimajinasikan pada anak-anak. Setelah lancar mereka belajar menggandeng dua huruf tersebut. Ma ma, ta ta, ma ta, ta ma, kartu huruf tersebut digandeng dan anak-anak membacanya. Mereka yang lancar bisa mengikutinya. Ada juga yang perlu bimbingan khusus. Begitu seterusnya hingga sesi kedua. Anak-anak melakukan pembelajaran mengaji  melalui video call dengan dua sesi.

 

Begitulah hiruk pikuk belajar online. Apalagi tahun ajaran baru dengan anak baru. Dimana masih mengenalkan dari awal tentang aturan bermain dan belajar virtual. Anak-anak ada yang bisa mengikuti dengan lancar, ada yang senang bergerak, ada yang suka bicara ada juga yang tertib sekali. MasyaAllah … lucu sekali mereka dengan tipenya masing-masing. Ketika sedang serius mengaji tiba-tiba terpotong karena harus mendengar ceritanya. Ketika mendampingi anak yang mana perlu pengulangan lebih banyak, akan ada rasa wah … ada rasa haru tak terhingga ketika anak-anak itu menjadi bisa. 

 

Kesabaran pun sangat diperlukan untuk mendampingi anak usia dini ini belajar Al Quran. Tidak hanya mengajarkan Al Quran, namun orang tua dan ustadzah pun juga mengenalkan mereka dengan hal-hal yang baru. Belajar berbicara,belajar mengenal temannya juga belajar adab sehari-hari. Pernah suatu ketika video call ada anak yang menguap, disitulah peran orang tua dan ustadzah mengajarkan adab. Bahwa ketika menguap harus menutup mulutnya kemudian menjelaskan alasannya.  

 

Pasti ada saja positif negatif dalam semua situasi. Meski belajar jarak jauh, pencapaian mengaji anak-anak sangat bagus, diatas standart yang telah ditentukan. Itu karena jerih payah orang tua dalam mendampingi putra putrinya. Yang mana dulu ketika sekolah tatap muka mungkin sebagian besar orang tua mengandalkan pihak sekolah. Namun kini banyak sekali orang tua yang ikut terjun secara langsung mendampingi putra putrinya. Orang tua juga banyak belajar bagaimana cara mengajar dan mengajarkan kembali pada putra putrinya. 

 

Itulah salah satu hikmah dari pandemi ini. Meski banyak sekali sisi negatifnya, namun ada juga nilai dari sisi positifnya. Segala upaya semaksimal mungkin dilakukan supaya belajar tetap menarik meski virtual. Yang tak lupa juga adalah doa yang selalu dipanjatkan pada-Nya Sang Pemilik Hati, agar Allah menjaga hati untuk tetap dalam kebaikan. Hati yang tenang yang selalu berharap pada-Nya akan memudahkan langkah menuju kebaikan. Dengan kebaikan-kebaikan itu semoga Allah mudahkan untuk mendapatkan ilmu yang mudah ditransfer kepada anak-anak. 

_
Penulis : Dewi Marurroh – TKIT Nurul Fikri Sidoarjo

Semesta Berbicara

Semburat merah matahari sudah terlihat. Langkah kaki gerak iramanya berisyarat semangat. Perempuan itu nampaknya sudah siap untuk melaju kencang. Dimulainya dari dia menata tas ransel dan beberapa bingkisan yang telah disiapkan oleh ibunya, untuk bergegas kembali ke kota rantauan. Panggil saja perempuan itu dengan sebutan Nur. Aktivitasnya saat itu adalah mahasiswa semester akhir di salah satu Kampus di Karesidenan Surakarta. Dia tinggal di salah satu asrama milik Yayasan pengafal Al-Qur’an. Nur ingin sekali mengambil jurusan pendidikan. Namun, karena berbagai pertimbagan dan suatu hal, pada akhirnya Nur tidak mengambil jurusan pendidikan. Sejak kecil Nur selalu diajarkan oleh orang tuanya dan gurunya untuk mencintai Al-Qur’an, untuk terus belajar dan bisa mengajarkan Al-Qur’an. Berbagai motivasi dan pembelajaran yang diberikan oleh gurunya di saat Nur masih kecil sangatlah membekas. Hingga sampai ke titik dia harus bisa mengamalkan apa yang telah di ajarkan oleh gurunya ke orang lain. Dari situlah Nur memiliki keinginan untuk menjadi seorang pendidik. Walau ia sadar, bahwa jurusan yang kini diambil tidak sejalur dengan apa yang dia inginkan.

Suatu ketika di pagi hari pada akhir tahun 2017, ia mengantar temanya yang bekerja di Sekolah Dasar Islam Terpadu. Dalam benak hatinya, Nur bergumam “Kapan ya aku bisa sepertinya, bisa beraktivitas ditempat yang bisa terjaga Al-Qur’annya juga. Tetapi yasudahlah. Jika memang nanti jalurnya pasti Allah akan menunjukan jalannya kesana. ” 

Usai mengantarkan temannya, sampai di depan gerbang Sekolah, ada seorang laki-laki memanggil Nur dengan isyarat meminta untuk menemuinya. Beliau adalah Bapak Kepala Sekolah yang juga alumni dari kampus yang sama dan sebelumnya sudah pernah bertemu di salah satu forum lembaga kampus disaat awal mahasiswa baru. 

“Pagi ini longgar Ust?” Tanya beliau.

“Mau ke kampus Ustadz, ada apa?” Jawab Nur.

“Mau tidak mendampingi anak-anak itu?” Sambil menujuk ke arah teras yang sudah rapi dengan lingkaran mungilnya.

“Anak-anak itu sedang apa Ustadz?

“Mereka anak-anak program khusus yang sedang mengafal Al-Qu’an. Qodarullah Ustadz yang mendampingiya kecelakaan dan harus istirahat total. Saat ini belum mendapat guru pengganti. Dan anak-anak itu belum ada yang mendampingi. Programnya hanya berlangsung 1 jam saja sebelum pembelajaran kelas dimulai.” Jelasnya.

Tidak berpikir panjang, saat itu yang ada dalam pikiran Nur adalah hanya sekedar dimintai tolong di hari itu saja. “Iya Ustadz, bisa.”

“Tetapi saya tidak faham metode yang digunakan.” Lanjut Nur ragu.

 “Setelah ini Ustadzah bisa menemui Koordinator AQT. Nanti akan dijelaskan oleh beliau.” Sambil menunjuk kearah salah satu Ustadz yang sedang berdiri di lorong gerbang.

 AQT adalah sebutan untuk mata pelajaran Al-Qur’an dan Tahfidz. Singkat waktu, Nur mulai memahami metode yang digunakan di sekolah tersebut. Metode yang digunakan adalah metode Wafa, metode belajar Al-Qur’an dengan mengaktifkan pembelajaran otak kanan yang berifat komperhensif dan integratif dengan metodologi terkini yang dikemas dengan mudah dan menyenangkan.

Setelah kurang lebih sepuluh menit dijelaskan, Nur diantarkan ke anak-anak yang sudah duduk rapi membuat lingkaran. Dimulai dari dia menyapa, berkenalan dan sampai ke pertanyaan apa yang mereka dapatkan saat pembelajaran AQT. Dari situlah Nur memahami ritme dari pembelajaran Wafa. 

Konsep pembelajaran untuk menumbuhkan rasa cinta pada Al-Qur’an memang haruslah menghadirkan pembelajaran yang menggairahkan, tidak membosankan, bahkan membuat peserta didik ketagihan untuk terus belajar Al-Qur’an. Salah satunya adalah dengan menggunkan metode Wafa.

Satu jam telah berlalu, saatnya pamit dan meninggalkan sekolah. Tidak disangka Bapak Kepala Sekolah, menemui Nur dan meminta untuk kembali lagi esok hari. Sejak hari itu, aktivitas pendampingan program khusus berlangsung hingga enam bulan. Pada suatu waktu, Sekolah membuka penerimaan guru baru dan pada saat itu Nur diminta untuk bergabung. 

Sangatlah tidak mudah, proses awal Nur dalam menjalani pekerjaan itu. Berhadapaan dengan orang tua yang awalnya tidak menyetujuinya jika dia bekerja bukan di bidang program studi Hukum Ekonomi Syariah dan juga Nur belum menyelesaikan kuliah di strata satunya. 

Jalan yang dia pilih saat itu adalah dengan bermusyawarah. Pada akhinya orang tuanya ridha dan disetujui dengan berbagai syarat. Salah satu diantaranya adalah di waktu terdekat harus segera wisuda. Dan dari sisitulah dimulainya perjuangan Nur menjadi seorang pejuang dan seorang pendidik. Tidak disangka impian Nur menjadi seorang pendidik terwujudkan di salah satu Sekolah Dasar Islam Terpadu dengan cara yang luar biasa uniknya. Begitulah sekenario Allah yang memang terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Diawal menjadi seorang pendidik secara resmi, Nur merasa mentalnya mengkerdil karena masih belum bisa menerima jalur kuliah dengan realita yang ada. Namun, ada hal yang membesarkan hatinya Nur saat itu bahwa rencana Allah jauh lebih indah dan itu pasti. Boleh jadi potensi yang dia miliki di bidang Al-Qur’an adalah yang lebih utama dan maslahat untuk dia jalani. Waktu terus berjalan, Nur menemukan hal baru. Sebuah kenyamanan dan kesederhanan dalam proses mendidik seorang anak dengan berbagai karakter. 

Ada suatu cerita ketika Nur  mengajar seorang laki-laki anak didiknya, Hirman. Hampir setiap pembelajaran AQT, Hirman selalu berlarian kesana kemari dengan permainan asyiknya. Akhirmya membuat Nur berfikir hal apa yang bisa menjadikan anak itu lebih tertarik dan mau belajar lebih serius yaitu mencoba untuk mengajarkan metode Wafa dengan lebih kreatif dan mengasyikkan. Disaat bersamaan, Nur mencoba mengajak bicara dengan sangat lembut layaknya seorang ibu kepada anaknya. Layaknya seorang kakak yang berbiara kepada adiknya. Layaknya seorang dokter yang sedang berbicara dengan pasiennya. Nur juga memberikan sebuah barang yang sederhana dibalut gulungan kertas berisikan tulisan singkat “Nak, bersungguh-sungguh adalah kuncinya. Dan Ustadzah yakin, Mas Hirman bisa. Pasti bisa. Semangat!” Dengan harapan kalimat itu bisa menjadi motivasi untuk Hirman. Ternyata benar, esok harinya anak laki-laki itu jauh lebih bersemangat untuk mengikuti pembelajaran Al-Qur’an. Disamping dengan metode Wafa yang telah diterapkan, cara memberikan sentuhan khusus kepada anak adalah salah satu resep yang manjur. Hingga saat ini konsep itu selalu digunkan untuk menghadapi anak yang membutuhkan perhatian lebih. Ini adalah soal mendidik. Bahwa mendidik adalah dengan hati. Segalanya begitu nampak sempurna jika dilakukan dengan cinta. Dan cinta selalu datang dari hati yang mau menerima segala kondisi dari obyek yang kita hadapi.

Hari-hari telah membuktikan bahwa berjalan dengan kesadaran ruh dan jiwa mampu menemukan tujuan dari setiap harapan yang membuat Nur harus selalu berjuang. Tidak hanya untuk membuktikan Nur bisa, tetapi juga untuk menumbuhkan kepercayaan kepada orang-orang di sekeliling Nur bahwa apa yang ia pilih adalah sebuah kebaikan. Kesempatan adalah karunia Allah dalam usia yang terbatas. Maka yang harus Nur pilih adalah skala prioritas dalam memilih urusan dengan terus melatih potensi yang ia miliki. Ketika Nur diminta untuk mebersamai anak-anak belajar Al-Qur’an oleh Kepala Sekolah SDIT Taqiyya Rosyida, pada saat itu juga amanah dari orang tuanya untuk menyelesaikan studi pun harus diselesaikan. 

Begitulah perjalanan Nur dalam mendidik dan terus membuatnya terdidik dalam setiap proses yang dijalani. Sesuatu yang pasti adalah Al-Qur’an memang jalan penerang. Allah mudahkan dalam studi strata satu dan bisa wisuda. Allah berikan rezeki dengan berbagai macam rupa. Allah berikan kenikmatan untuk selalu dekat dengan lingkungan yang tidak terlepas dari Al-Qur’an. Jika ada kesempatan waktu, tenaga dan sangu, Nur masih ingin melanjutan perjuangan belajar lagi di bidang pendidikan agar lebih mendalami metode pembelajaran khususnya anak-anak.

_
Penulis : Febri Iswara Nur F – SDIT Taqiyya Rosyida

Dari Benci Mengajar Anak Sampai Menjadi Cinta Mengajarkan Anak Al-Qur’an

Saya Muhammad hanif islamul haq putra ke dua dari enam bersaudara di tahun 2002 lulus SD ingin sekali masuk pesantren belajar imu agama islam lebih intens, tapi apadaya keluarga kami yang penuh keterbatasan ekonomi, akhirnya masuklah saya ke smp formal di kota Solo, belajar ilmu umum yang lebih daripada ilmu agamanya, dimana anak perempuan dan laki laki campur dalam satu kelas, disitulah hati saya agak harap harap cemas karena sedari kecil saya diajarkan oleh abah umi saya pendidikan agama islam tentang ghaddul bashar (menahan pandangan terhadap lawan jenis).

Tiga tahun berlalu di SMP formal akhirnya saya lulus dan ingin melanjutkan lagi ke pesantren, tapi lagi dan lagi karena keterbatasan ekonomi di keluarga kami. Akhirnya saya masuk di sekolah kejuruan yaitu SMK mengambil ilmu elektronika, mengapa di SMK? Karena disana sekolahnya 99% laki-laki, agar saya bisa ghaddul bashar.

Tiga tahun di SMK akhirnya saya lulus, dalam hati saya merasa kurang karena ilmu dunia  sudah saya dapatkan dan ilmu agama saya kurang, kadang disaat saya sholat saya merasa hanya melakukan gerakan yang mana saya belum faham arti bacaan dalam sholat. Saya putuskan untuk kuliah di UMS mengambil mata kuliah Bahasa arab, sambil kuliah saya bekerja karena untuk membiayai kuliah.

Waktu saya kuliah itulah,  saya bisa belajar memahami bacaan sholat, bacaan Al Quranul karim, fiqih, tauhid, tarikh, dll. Semester 3 saat bulan romadhon di kampus kami ada safari dakwah, dimana saya didelegasikan di daerah pelosok kabupaten magelang di lereng gunung Merapi bagian utara daerah istimewa Yogyakarta.

Kisah dimana saya pertama kali datang di daerah dakwah ini,  yang menjadikan judul saya “benci mengajar menjadi sangat cinta sekali mengajarkan Al Quran”, karena 6 tahun sekolah di umum dan pergaulan dengan orang- orang umum menjadikan seperti saya orang umum, saya pernah batin didalam hati saya tidak mau mengajar TPA, karena mengajar anak anak sungguh membuat pusing kepala, dimana saya menjumpai TPA di daerah saya banyak anak yang gojek, lari-larian tidak mendengarkan guru gurunya, disitulah saya pernah mengucapkan nggak akan mau ngajar anak-anak.

Tetapi berbeda di daerah magelang ini jam 14.00 (jam 2 siang) saat saya mau istirahat, tiba-tiba ada suara panggilan ‘’mas-mas ayo ngaji, ayo ngaji’’ kaget saya mendengarnya, dimana kebiasaan di daerah Solo kalau TPA jam 16.00 (jam 4 sore). Seketika itu saya bangun dan keluar ada belasan anak-anak yang sudah menunggu untuk belajar ngaji.

Pertama kali mengajar saya masih canggung malu membuka dan mengawali untuk doa, karena saya belum pernah mengajar anak-anak, tetapi berbeda dengan anak-anak ini, mereka santun,tidak gojek, tidak lari-larian bahkan antusias sekali, disinilah saya merasa timbul rasa cinta.

20 hari berdakwah di Magelang, saya belajar tentang makna hidup yang sesungguhnya, arti dari pentingnya dakwah islam, saya belajar memahami adab, muamalah dengan warga yang ingin mendalami dienul islam ini. Saya terus belajar dan belajar mencintai anak-anak, karena anak-anak begitu polos, bersih dan rasa keingin tahuannya tinggi setelah saya ceritakan kisah-kisah 25 nabi, hafalan surat surat pendek dan ilmu agama islam.

Saya putuskan kembali dari safari dakwah ingin belajar ilmu agama islam lebih luas, akhirnya setelah lulus dari UMS, saya mendengar ada ma’had ‘aly tahfizhul quran bebas biaya seperti pesantren selama dua tahun, segera mungkin saya mendaftar dan masuk pesantren untuk menghafalkan Al Quran dengan target hafalan 30 JUZ.

Setiap hari menghafalkan Al Quran, saya baca dulu arti makna ayat yang terkandung didalamnya sebelum dihafalkan, alhamdulillah menambah rasa kecintaan saya dengan Al Quran. Di sela-sela waktu sore hari, saya putuskan untuk tetap mendakwahkan ilmu saya dengan  mengajar anak-anak TPA, ketika berjumpa wajah anak-anak yang ceria menjadi obat rindu dan cinta saya mengajarkan Al Quran.

Dua tahun saya di ma’had ‘aly tahfizhul quran alhamdulillah bisa menyelesaikan 30 JUZ, setelah lulus dari ma’had ‘aly tahfizhul quran saya mengajar di SDIT TAQIYYA ROSYIDA Kartasura Sukoharjo Jawa Tengah sebagai guru quran, disinilah saya mengenal WAFA belajar Al Quran metode otak kanan, cara belajar yang sangat unik dengan memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah dengan kata dan Bahasa yang unik, ada di buku 1 materi pertama ‘’ MA TA SA YA KA YA RO DA’’ disertai gambar mata anak digabungkan roda mobil beserta kisahnya.

7 tahun saya di SDIT TAQIYYA ROSYIDA Kartasura saya merasakan kemudahan dalam mengajarkan, memulai, membuka pembelajaran dengan asik memakai ice breaking yang luar biasa yang pernah diajarkan oleh para trainer pengajar ‘’metode WAFA’’ dari Surabaya, ada Ust Masyhuda dengan suara indah di murottalnya, ada juga ust didik yang lucu, dalam mengajarkan dan mengenalkan huruf-huruf hijaiyah.

Alhamdulillah sekarang saya menjabat sebagai coordinator Al Quran di SDIT TAQIYYA ROSYIDA, membersamai 20 guru quran di sekolah ini. Inilah kisah saya yang menjadikan inspirasi kepada diri ini, bahwa mengajarkan Al Quran begitu indah dan membahagiakan agar mendatangkan keceriaan anak-anak untul lebih mencintai Al Quran dan lebih mencintai Allah SWT.

_
Penulis : Muhammad Hanif – SDIT Taqiyya Rosyida

Tea(lawah)cher

Mengaji dengan tajwid sesuai kaidah benar-benar baru menjadi perhatianku saat hendak mempersiapkan pernikahan. Pernah sekali mengajukan diri untuk mengikuti privat tahsin di sebuah lembaga yang cukup terkemuka di Kota Palu, namun tidak beranjut. Bukan karena pengajar yang kurang baik, tapi niatku yang belum benar-benar utuh untuk mencari ridho Allah SWT saat itu. Sampailah pada suatu hari, setelah usia pernikahanku hampir genap 4 tahun, aku diperhadapkan dengan sebuah keadaan yang begitu sulit. Mulai dari keuangan hingga persoalan rumah tangga. Aku merasa bahwa saat itu Allah memang mau aku kembali di jalanNya. Aku begitu bersyukur atas hidayah yang menggiringku untuk kembali menge-set niat dan tujuan hidupku sebagai seorang istri sekaligus ibu dari dua anak. Sejak menikah, aku memutuskan untuk tidak bekerja dan memilih menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Setelah hampir 4 tahun menjalani profesi sebagai ibu rumah tangga, ketakutanku kembali muncul saat anak-anakku mulai terpapar efek buruk telepon pintar. Ada ketakutan dalam hatiku akan masa depan mereka. Aku merasa tidak punya apa-apa untuk aku berikan sebagai bekal hidup seorang muslim yang utuh kepada mereka.

Hari berlalu, kondisi kehidupan di tengah pandemi covid-19 kian memburuk, pun dengan keadaan ekonomi. Hingga suatu hari, saat aku tengah jenuh dengan aktifitasku yang monoton, sebuah status whatsapp milik salah seorang teman menginformasikan lowongan kerja sebagai guru di salah satu sekolah Islam di kotaku. Mataku berbinar, “mungkin ini rezeki untuk anak-anakku,” kataku dalam hati penuh semangat. Segera setelah kucatat semua persyaratannya, pergilah aku ke tempat jasa pengetikan komputer. Setelah semua dokumen siap, aku kembali kerumah dan mengajak suamiku untuk diskusi. Sebenarnya aku sudah salah memulai, seharusnya aku meminta izinnya dahulu sebelum menyelesaikan berkas lamaran ke sekolah itu. “Ah, pasti suamiku akan menolaknya,” pikirku pesimis. Rupanya suamiku sudah melihat berkas lamaranku, dan dia mengatakan, “beberapa lamaran yang sudah ku kirim belum ada satupun yang berhasil, mungkin kali ini giliranmu kembali bekerja. Mau ku temani mengantar berkasnya?” Pertanyaan suamiku begitu membahagiakan, takku sangka ternyata dia mengizinkan aku kembali bekerja. Saban waktu sholat ku panjatkan doa agar aku bisa diterima di sekolah tersebut, aku ingin ada ditengah-tengah lingkungan yang mendukung hijrahku kearah hidup yang lebih baik sebagai seorang muslim. 4 bulan berlalu, panggilan wawancara atau apapun tak kunjung kuterima.

Setelah hampir putus asa, akhirnya masuklah panggilan telepon dari sekolah yang mengabarkan bahwa aku masuk ke tahap tes tertulis sekaligus tes mengaji. Irama jantung tak lagi teratur sejak hari panggilan telepon itu. Aku sibuk mengkhawatirkan bagaimana nanti tes mengaji di yayasan tersebut. Jujur saja frekuensi interaksi dengan Al-Qur’anku begitu kurang sejak memiliki bayi. Masa-masa paling banyak kuhabiskan dengan Al-Qur’an adalah saat aku duduk di Sekolah Dasar dan cara membaca Al-Qur’an saat itu pun dengan ejaan bugis. Di masa remaja, pernah sekali ada seorang Qori daerah yang hendak berbagi ilmu tajwid, sayangnya pertemuannya hanya sekali dan tak berlanjut lagi.

Tibalah hari yang dinantikan, jantungku seakan terhenti saat namaku di panggil untuk tes mengaji oleh salah seorang Ustadz di sekolah tersebut. Malu rasanya mengaji dengan terbata-bata meski posisi yang kulamar adalah guru Bahasa Inggris sesuai dengan latar belakang pendidikanku. Saat itu aku diminta untuk mengaji di surah Maryam dan sama persis dengan yang kupikirkan, aku mengaji dengan begitu terbata-bata. Menyadari begitu mengerikannya tilawahku, aku berjanji dalam hati untuk melanjutkan belajar tajwid, lulus atau tidaknya aku ditempat ini.

Selepas sholat dzuhur, kubaringkan diriku sejenak di atas kasur di samping anak-anakku yang tengah terlelap. Sambil berbaring, kuambil gawaiku untuk sekadar mengecek chat yang masuk. Gembira dan begitu kagetnya aku melihat pengumuman, AKU LULUS! Alhamdulillah. Jujur saja, ada pertanyaan besar dalam hati, “berapakah nilai tahsinku saat tes?” Aku sangat tahu bahwa kualitas tilawahku saat itu sungguh pas-pasan. “Apa janjiku untuk belajar tahsin menjadi nazarku saat itu?” tanyaku lagi pada diri sendiri.

Setelah menjalani proses panjang, akhirnya aku sampai di hari pertama bekerja dengan status training. Ustadz yang mengetesku mengaji saat itu ternyata adalah Kepala Sekolah. Dari beliaulah aku tahu bahwa kami akan dibimbing kembali dari awal untuk mempelajari ilmu tajwid lewat WAFA Indonesia. Tidak hanya itu, aku begitu gembira dan bersyukur karena akhirnya setelah hampir 28 tahun, aku akan memiliki nada dalam tilawah yaitu nada hijaz yang memang aku senangi iramanya, MasyaAllah. Setelah sebulan mempelajari buku Tilawah, Tajwid dan Ghorib WAFA, kami diinstruksikan untuk mengikuti Pelatihan Guru Al-Qur’an oleh lembaga WAFA. Itu benar-benar merupakan pengalaman yang baik, aku manfaatkan pelatihannya sebaik-baiknya untuk menimba ilmu baru. “Aku akan jadi guru Al-Qur’an!” Kataku penuh haru dan semangat.

Rangkaian demi rangkaian kegiatan WAFA telah usai dan akupun sudah menerima hasil pemetaan level berdasarkan tilawahku yang diuji saat pelatihan. Tidak ada perasaan malu disana saat melihat level tilawahku yang masih dibawah diantara rekan kerjaku, aku hanya ingin bisa mengaji sesuai dengan ilmu tajwid dan ini usahaku ini kuhadiahkan untuk Ayah rahimahullah yang selalu memimpikan aku bisa menjadi qori’ah saat remaja dulu.

Hari itu adalah salah satu hari terbaik dan terindah dalam hidupku, senyumku merekah hatiku dipenuhi rasa haru, hari itu baru saja usai jam pelajaran tahsin, itu adalah hari pertamaku mengajar materi Makhorijul Huruf. Selama ini aku terlalu fokus menambah kosakata Bahasa Inggrisku dan membanggakan perjalanan-perjalanan pertukaran pelajar di Luar Negeri saat kuliah dulu, aku terlupa bahwa sebaik-baik muslim adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Sungguh hikmah yang sangat besar yang Allah SWT berikan hingga aku bisa mendapatkan nikmat ini yaitu bertemu dengan lembaga yang begitu perhatian dengan ummat lewat dakwah Al-Qur’an mereka.

Fiqih Aprilya, lahir 28 tahun lalu tanggal 2 April di Kota Palu. Memiliki hobi menyenangkan orang dekatnya lewat masakan dan bercita-cita jadi guru Bahasa Inggris yang Hafal 30 Juz. Saat ini sedang menjalankan amanah sebagai seorang Istri, Ibu dari Hanna dan Ahmad, serta guru di SMP Islam Terpadu Bina Insan Palu, yang ingin suatu hari melanjutkan pendidikan master dibidang Pengajaran Bahasa Inggris Bagi Penutur Asing di Universitas Queensland, Australia sekaligus guru Al-Qur’an bagi anak-anak muslim di Australia.

Senang membaca kisah tentang kehidupan serta sering menulis cerpen namun tidak pernah di publikasi. Tulisan ini adalah kisah hidup pribadi kedua yang dipublikasi dalam perlombaan setelah pertama kalinya saat penulis duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar.

_
Penulis : Fiqih Aprilya – SMPIT Bina Insan Palu