Dari Benci Mengajar Anak Sampai Menjadi Cinta Mengajarkan Anak Al-Qur’an

Saya Muhammad hanif islamul haq putra ke dua dari enam bersaudara di tahun 2002 lulus SD ingin sekali masuk pesantren belajar imu agama islam lebih intens, tapi apadaya keluarga kami yang penuh keterbatasan ekonomi, akhirnya masuklah saya ke smp formal di kota Solo, belajar ilmu umum yang lebih daripada ilmu agamanya, dimana anak perempuan dan laki laki campur dalam satu kelas, disitulah hati saya agak harap harap cemas karena sedari kecil saya diajarkan oleh abah umi saya pendidikan agama islam tentang ghaddul bashar (menahan pandangan terhadap lawan jenis).

Tiga tahun berlalu di SMP formal akhirnya saya lulus dan ingin melanjutkan lagi ke pesantren, tapi lagi dan lagi karena keterbatasan ekonomi di keluarga kami. Akhirnya saya masuk di sekolah kejuruan yaitu SMK mengambil ilmu elektronika, mengapa di SMK? Karena disana sekolahnya 99% laki-laki, agar saya bisa ghaddul bashar.

Tiga tahun di SMK akhirnya saya lulus, dalam hati saya merasa kurang karena ilmu dunia  sudah saya dapatkan dan ilmu agama saya kurang, kadang disaat saya sholat saya merasa hanya melakukan gerakan yang mana saya belum faham arti bacaan dalam sholat. Saya putuskan untuk kuliah di UMS mengambil mata kuliah Bahasa arab, sambil kuliah saya bekerja karena untuk membiayai kuliah.

Waktu saya kuliah itulah,  saya bisa belajar memahami bacaan sholat, bacaan Al Quranul karim, fiqih, tauhid, tarikh, dll. Semester 3 saat bulan romadhon di kampus kami ada safari dakwah, dimana saya didelegasikan di daerah pelosok kabupaten magelang di lereng gunung Merapi bagian utara daerah istimewa Yogyakarta.

Kisah dimana saya pertama kali datang di daerah dakwah ini,  yang menjadikan judul saya “benci mengajar menjadi sangat cinta sekali mengajarkan Al Quran”, karena 6 tahun sekolah di umum dan pergaulan dengan orang- orang umum menjadikan seperti saya orang umum, saya pernah batin didalam hati saya tidak mau mengajar TPA, karena mengajar anak anak sungguh membuat pusing kepala, dimana saya menjumpai TPA di daerah saya banyak anak yang gojek, lari-larian tidak mendengarkan guru gurunya, disitulah saya pernah mengucapkan nggak akan mau ngajar anak-anak.

Tetapi berbeda di daerah magelang ini jam 14.00 (jam 2 siang) saat saya mau istirahat, tiba-tiba ada suara panggilan ‘’mas-mas ayo ngaji, ayo ngaji’’ kaget saya mendengarnya, dimana kebiasaan di daerah Solo kalau TPA jam 16.00 (jam 4 sore). Seketika itu saya bangun dan keluar ada belasan anak-anak yang sudah menunggu untuk belajar ngaji.

Pertama kali mengajar saya masih canggung malu membuka dan mengawali untuk doa, karena saya belum pernah mengajar anak-anak, tetapi berbeda dengan anak-anak ini, mereka santun,tidak gojek, tidak lari-larian bahkan antusias sekali, disinilah saya merasa timbul rasa cinta.

20 hari berdakwah di Magelang, saya belajar tentang makna hidup yang sesungguhnya, arti dari pentingnya dakwah islam, saya belajar memahami adab, muamalah dengan warga yang ingin mendalami dienul islam ini. Saya terus belajar dan belajar mencintai anak-anak, karena anak-anak begitu polos, bersih dan rasa keingin tahuannya tinggi setelah saya ceritakan kisah-kisah 25 nabi, hafalan surat surat pendek dan ilmu agama islam.

Saya putuskan kembali dari safari dakwah ingin belajar ilmu agama islam lebih luas, akhirnya setelah lulus dari UMS, saya mendengar ada ma’had ‘aly tahfizhul quran bebas biaya seperti pesantren selama dua tahun, segera mungkin saya mendaftar dan masuk pesantren untuk menghafalkan Al Quran dengan target hafalan 30 JUZ.

Setiap hari menghafalkan Al Quran, saya baca dulu arti makna ayat yang terkandung didalamnya sebelum dihafalkan, alhamdulillah menambah rasa kecintaan saya dengan Al Quran. Di sela-sela waktu sore hari, saya putuskan untuk tetap mendakwahkan ilmu saya dengan  mengajar anak-anak TPA, ketika berjumpa wajah anak-anak yang ceria menjadi obat rindu dan cinta saya mengajarkan Al Quran.

Dua tahun saya di ma’had ‘aly tahfizhul quran alhamdulillah bisa menyelesaikan 30 JUZ, setelah lulus dari ma’had ‘aly tahfizhul quran saya mengajar di SDIT TAQIYYA ROSYIDA Kartasura Sukoharjo Jawa Tengah sebagai guru quran, disinilah saya mengenal WAFA belajar Al Quran metode otak kanan, cara belajar yang sangat unik dengan memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah dengan kata dan Bahasa yang unik, ada di buku 1 materi pertama ‘’ MA TA SA YA KA YA RO DA’’ disertai gambar mata anak digabungkan roda mobil beserta kisahnya.

7 tahun saya di SDIT TAQIYYA ROSYIDA Kartasura saya merasakan kemudahan dalam mengajarkan, memulai, membuka pembelajaran dengan asik memakai ice breaking yang luar biasa yang pernah diajarkan oleh para trainer pengajar ‘’metode WAFA’’ dari Surabaya, ada Ust Masyhuda dengan suara indah di murottalnya, ada juga ust didik yang lucu, dalam mengajarkan dan mengenalkan huruf-huruf hijaiyah.

Alhamdulillah sekarang saya menjabat sebagai coordinator Al Quran di SDIT TAQIYYA ROSYIDA, membersamai 20 guru quran di sekolah ini. Inilah kisah saya yang menjadikan inspirasi kepada diri ini, bahwa mengajarkan Al Quran begitu indah dan membahagiakan agar mendatangkan keceriaan anak-anak untul lebih mencintai Al Quran dan lebih mencintai Allah SWT.

_
Penulis : Muhammad Hanif – SDIT Taqiyya Rosyida

Tea(lawah)cher

Mengaji dengan tajwid sesuai kaidah benar-benar baru menjadi perhatianku saat hendak mempersiapkan pernikahan. Pernah sekali mengajukan diri untuk mengikuti privat tahsin di sebuah lembaga yang cukup terkemuka di Kota Palu, namun tidak beranjut. Bukan karena pengajar yang kurang baik, tapi niatku yang belum benar-benar utuh untuk mencari ridho Allah SWT saat itu. Sampailah pada suatu hari, setelah usia pernikahanku hampir genap 4 tahun, aku diperhadapkan dengan sebuah keadaan yang begitu sulit. Mulai dari keuangan hingga persoalan rumah tangga. Aku merasa bahwa saat itu Allah memang mau aku kembali di jalanNya. Aku begitu bersyukur atas hidayah yang menggiringku untuk kembali menge-set niat dan tujuan hidupku sebagai seorang istri sekaligus ibu dari dua anak. Sejak menikah, aku memutuskan untuk tidak bekerja dan memilih menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Setelah hampir 4 tahun menjalani profesi sebagai ibu rumah tangga, ketakutanku kembali muncul saat anak-anakku mulai terpapar efek buruk telepon pintar. Ada ketakutan dalam hatiku akan masa depan mereka. Aku merasa tidak punya apa-apa untuk aku berikan sebagai bekal hidup seorang muslim yang utuh kepada mereka.

Hari berlalu, kondisi kehidupan di tengah pandemi covid-19 kian memburuk, pun dengan keadaan ekonomi. Hingga suatu hari, saat aku tengah jenuh dengan aktifitasku yang monoton, sebuah status whatsapp milik salah seorang teman menginformasikan lowongan kerja sebagai guru di salah satu sekolah Islam di kotaku. Mataku berbinar, “mungkin ini rezeki untuk anak-anakku,” kataku dalam hati penuh semangat. Segera setelah kucatat semua persyaratannya, pergilah aku ke tempat jasa pengetikan komputer. Setelah semua dokumen siap, aku kembali kerumah dan mengajak suamiku untuk diskusi. Sebenarnya aku sudah salah memulai, seharusnya aku meminta izinnya dahulu sebelum menyelesaikan berkas lamaran ke sekolah itu. “Ah, pasti suamiku akan menolaknya,” pikirku pesimis. Rupanya suamiku sudah melihat berkas lamaranku, dan dia mengatakan, “beberapa lamaran yang sudah ku kirim belum ada satupun yang berhasil, mungkin kali ini giliranmu kembali bekerja. Mau ku temani mengantar berkasnya?” Pertanyaan suamiku begitu membahagiakan, takku sangka ternyata dia mengizinkan aku kembali bekerja. Saban waktu sholat ku panjatkan doa agar aku bisa diterima di sekolah tersebut, aku ingin ada ditengah-tengah lingkungan yang mendukung hijrahku kearah hidup yang lebih baik sebagai seorang muslim. 4 bulan berlalu, panggilan wawancara atau apapun tak kunjung kuterima.

Setelah hampir putus asa, akhirnya masuklah panggilan telepon dari sekolah yang mengabarkan bahwa aku masuk ke tahap tes tertulis sekaligus tes mengaji. Irama jantung tak lagi teratur sejak hari panggilan telepon itu. Aku sibuk mengkhawatirkan bagaimana nanti tes mengaji di yayasan tersebut. Jujur saja frekuensi interaksi dengan Al-Qur’anku begitu kurang sejak memiliki bayi. Masa-masa paling banyak kuhabiskan dengan Al-Qur’an adalah saat aku duduk di Sekolah Dasar dan cara membaca Al-Qur’an saat itu pun dengan ejaan bugis. Di masa remaja, pernah sekali ada seorang Qori daerah yang hendak berbagi ilmu tajwid, sayangnya pertemuannya hanya sekali dan tak berlanjut lagi.

Tibalah hari yang dinantikan, jantungku seakan terhenti saat namaku di panggil untuk tes mengaji oleh salah seorang Ustadz di sekolah tersebut. Malu rasanya mengaji dengan terbata-bata meski posisi yang kulamar adalah guru Bahasa Inggris sesuai dengan latar belakang pendidikanku. Saat itu aku diminta untuk mengaji di surah Maryam dan sama persis dengan yang kupikirkan, aku mengaji dengan begitu terbata-bata. Menyadari begitu mengerikannya tilawahku, aku berjanji dalam hati untuk melanjutkan belajar tajwid, lulus atau tidaknya aku ditempat ini.

Selepas sholat dzuhur, kubaringkan diriku sejenak di atas kasur di samping anak-anakku yang tengah terlelap. Sambil berbaring, kuambil gawaiku untuk sekadar mengecek chat yang masuk. Gembira dan begitu kagetnya aku melihat pengumuman, AKU LULUS! Alhamdulillah. Jujur saja, ada pertanyaan besar dalam hati, “berapakah nilai tahsinku saat tes?” Aku sangat tahu bahwa kualitas tilawahku saat itu sungguh pas-pasan. “Apa janjiku untuk belajar tahsin menjadi nazarku saat itu?” tanyaku lagi pada diri sendiri.

Setelah menjalani proses panjang, akhirnya aku sampai di hari pertama bekerja dengan status training. Ustadz yang mengetesku mengaji saat itu ternyata adalah Kepala Sekolah. Dari beliaulah aku tahu bahwa kami akan dibimbing kembali dari awal untuk mempelajari ilmu tajwid lewat WAFA Indonesia. Tidak hanya itu, aku begitu gembira dan bersyukur karena akhirnya setelah hampir 28 tahun, aku akan memiliki nada dalam tilawah yaitu nada hijaz yang memang aku senangi iramanya, MasyaAllah. Setelah sebulan mempelajari buku Tilawah, Tajwid dan Ghorib WAFA, kami diinstruksikan untuk mengikuti Pelatihan Guru Al-Qur’an oleh lembaga WAFA. Itu benar-benar merupakan pengalaman yang baik, aku manfaatkan pelatihannya sebaik-baiknya untuk menimba ilmu baru. “Aku akan jadi guru Al-Qur’an!” Kataku penuh haru dan semangat.

Rangkaian demi rangkaian kegiatan WAFA telah usai dan akupun sudah menerima hasil pemetaan level berdasarkan tilawahku yang diuji saat pelatihan. Tidak ada perasaan malu disana saat melihat level tilawahku yang masih dibawah diantara rekan kerjaku, aku hanya ingin bisa mengaji sesuai dengan ilmu tajwid dan ini usahaku ini kuhadiahkan untuk Ayah rahimahullah yang selalu memimpikan aku bisa menjadi qori’ah saat remaja dulu.

Hari itu adalah salah satu hari terbaik dan terindah dalam hidupku, senyumku merekah hatiku dipenuhi rasa haru, hari itu baru saja usai jam pelajaran tahsin, itu adalah hari pertamaku mengajar materi Makhorijul Huruf. Selama ini aku terlalu fokus menambah kosakata Bahasa Inggrisku dan membanggakan perjalanan-perjalanan pertukaran pelajar di Luar Negeri saat kuliah dulu, aku terlupa bahwa sebaik-baik muslim adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Sungguh hikmah yang sangat besar yang Allah SWT berikan hingga aku bisa mendapatkan nikmat ini yaitu bertemu dengan lembaga yang begitu perhatian dengan ummat lewat dakwah Al-Qur’an mereka.

Fiqih Aprilya, lahir 28 tahun lalu tanggal 2 April di Kota Palu. Memiliki hobi menyenangkan orang dekatnya lewat masakan dan bercita-cita jadi guru Bahasa Inggris yang Hafal 30 Juz. Saat ini sedang menjalankan amanah sebagai seorang Istri, Ibu dari Hanna dan Ahmad, serta guru di SMP Islam Terpadu Bina Insan Palu, yang ingin suatu hari melanjutkan pendidikan master dibidang Pengajaran Bahasa Inggris Bagi Penutur Asing di Universitas Queensland, Australia sekaligus guru Al-Qur’an bagi anak-anak muslim di Australia.

Senang membaca kisah tentang kehidupan serta sering menulis cerpen namun tidak pernah di publikasi. Tulisan ini adalah kisah hidup pribadi kedua yang dipublikasi dalam perlombaan setelah pertama kalinya saat penulis duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar.

_
Penulis : Fiqih Aprilya – SMPIT Bina Insan Palu

Perjuangan Para Generasi Qur’ani di Masa Pandemi

Suatu ketika saat awal ku di terima di salah satu Sekolah Islam Terpadu (SIT) yakni di SMKIT Khoiru Ummah Rejang Lebong, Bengkulu.  Bergabung pada tahun 2017, tepat pada waktu sekolah ini baru berdiri dan menerima perserta didik baru. Sekolah yang ku anggap ini adalah sebuah instansi yang mencetak generasi Qur’ani dan menjadi generasi rahmatan lil ‘alamiin sesuai yang ada di visi sekolah ini. Tentu ini suatu hal yang baru bagiku. Karena sepengetahuanku bahwa Sekolah Islam Terpadu jauh berkembang pesat manakala dengan memprioritaskan Al-Qur’an di dalamnya. Sehingga sekolah-sekolah ini banyak di minati di khalayak masyarakat luas untuk memasukan akannya di sekolah berbasis keislaman.

Saat bergabung di SMKIT Khoiru Ummah merupakan sesuatu yang luar biasa bagiku. Kenapa? Ada hal yang menarik bisa belajar bersama di sini juga berbagi pengalaman. Saat mendapat panggilan untuk bergabung di sekolah, sontak aku sangat senang dan berbahagia, walau profesiku bukan seorang guru kelas, bukan juga lulusan pondok pesantren bahkan juga bukan seorang hafidz qur’an. Akan tetapi, semua di luar pikiranku saat di terima di sekolah ini. Ternyata di amanahkan sebagai guru Qur’an saat itu mernjafi koordinator Tahsin. Tentu ini sesuatu yang baru bagiku, apalagi dari pribadi sendiri rasanya tidak pantas ku di tempatkan dalam posisi ini. Karena amanah yang telah di percayakan kepadaku, akhirnya aku pun mencoba berikan yang terbaik untuk menerapkan ilmu dalam memperbaiki cara membaca Al-Qur’an.

Mulailah perdana mengajar setelah berbagai persiapan matang telah terjadwalkan. Aku berpatner dengan koordinator Tahfidz yang juga sama telah membagikan sesuai dengan kelompok masing-masing. Mengingat sekolah ini masih baru akhirnya kami melibatkan guru-guru lain untuk ikut serta membimbing santri yang ada. Kala itu kami masih menggunakan belajar Tahsin dengan metode Utsmani. Di awal masih bingung akan menggunakan metode apa yang akan di terapkan kepada santri-santrinya. Bagiku ini agak asing, takut jangan sampai salah dalam penyampaian. Mengingat belajar membaca Al-Qur’an ini bukan asal-asalan dan harus memiliki kemampuan dan fasih dalam melafalkan bahkan menghafalnya sesuai dengan kaidah hukum tajwid. 

Waktu terus berganti, metode ini masih kami gunakan sampai santri kenaikan kelas. Lebih kurang satu tahun belajar Al-Qur’an dengan menerapkan metode Utsmani saat itu. Walau setiap pagi seluruh santri mendapat hafalan baru baik dengan cara mentalaqqikan ataupun muraja’ah di setiap pertemuan pelajaran Tahsin dan Tahfidz Al-Qur’an. Perkembangan dari segi Tahfidz pesat naiknya. Akan tetap para santri masih berkendala dari segi Tahsin yang masih banyak harus di perbaiki. Sehingga saat di evaluasi dari dua semseter yang telah di terapkan metode utsmani ternyata masih banyak santri yang masih perlu di bimbing dalam belajar tahsin Al-Qur’an. 

Pada tahun 2018 ketika angkatan pertama sudah naik kelas XI juga pada waktu itu penerimaan peserta didik baru begitu juga dengan seluruh dewan guru yang telah menyiapkan bahan pembelajaran dalam menyambut ajaran baru tahun ini.  Setelah masuk ajaran baru, intruksi dalam sebuah apel oleh pembina, saat itu kepala sekolah yang memberikan arahan untuk semua dewan guru yang ada. “Kepada seluruh ustadz/ustadzah sekalian, mari kita awali di tahun ini dengan penuh perjuangan, kita perbaiki lagi mana yang belum maksimal dan belum terjalankan selama ini sebagai evaluasi kita bersama. Terutama dalam meningkatkan hafalan Al-Qur’an para santri juga pada pelajaran umum yang di kelas dan jurusannya masing-masing. Kita targetkan sesuai dengan harapan sekolah yang sesuai dengan visi dan misi sekolah, terutama anak-anak yang memiliki kompetensi keahlian dan capaian  terget hafalan minimal 3 juz sampai peserta didik kita tamat dari sekolah ini. Itu minimal, bagi ada yang lebih itu jauh lebih baik dan kita harapkan”. Ujarnya panjang menyampakan. 

Tentu ini membuat kami di tim T2Q saat itu menyusun strategi beserta program kerja supaya peserta didik juga akan memudahkan dalam pembelajaran T2Q di setiap pertemuannya. Tiba-tiba suatu saat, ketika di awal-awal masuk dalam belajar T2Q. Kami tim di intruksikan untuk untuk berkumpul di aula. Ternyata ada perwakilan yayasan yang hadir ingin menyampaikan beberapa hal berkenaan dengan pembelajaran yang ada di T2Q SMKIT Khoiru Ummah. Di sana di jelaskan kepada kami semua yang ada di tim, bahwa ke depan kita akan menggunakan metode Wafa (Metode Otak Kanan) dalam pembelajaran T2Q. Sesuatu yang baru terdengar bagiku dan pembimbing lainnya. Mengingat ini belum pernah di gunakan sebelumnya di Sekolah Islam Terpadu, khususnya di kabupaten Rejang Lebong. “Jadi, ustadz/ustadzah nanti kita akan menggunakan metode WAFA ini dalam mengajar anak-anak di kelas. Bagi untuk yang belum tahu akan metode ini nanti akan di buatkan pelatihan guru-guru T2Q untuk mengikuti agendanya yang akan di wacanakan oleh yayasan”. Ujar dari pihak yayasan.

Pelatihan pun di ikut setakan seluruh dewan guru yang ada di Yayasan Al-Amin Curup dalam mengkuti pelatihan belajar Wafa ini selama 3 hari lamanya. Saat itu yang menjadi trainernya adalah Ustadz Dody Tisna Amijaya dan Ustadz Wawan dari Wafa Indonesia. Ternyata sangat terkesan dan mengasyikkan bagiku belajar Wafa ini. Mudah di pahami dan menarik untuk di pelajari dengan metode yang praktis dengan buku panduan Tilawah, Tajwid & Ghorib yang sangat sesuai untuk di terapkan nantinya. Akhirnya di sana kami semua di latih dan di bekali berbagai ilmu yang bermanfaat untuk dapat di sosialisasikan ke unit sekolahnya masing-masing. Yang terkesan bagiku saat ustadz Dody menyampaikan; “Jadilah guru yang asyik dalam mengajar”. Pesan yang membuat hati menjadi ceria dan bersemangat untuk mengajar. Begitu juga banyak hal yang beliau sampaikan dalam motivasinya untuk kami semua.

Aku pun tetap belajar dengaan mempelajari Tahsin WAFA ini, mengingat karena belum di tasnifkan dan juga belum di ujian Munaqasyah. Sambil mengajar, aku pun tetap mengikuti kegiatan rutin untuk menyelesaikan Wafa sampai pada bab terakhir. Akhirnya saat ujian Munaqasyah, aku dan teman-teman guru lain yang sudah layak ujian kala itu di nyatakan lulus semua. Sebuah hal luar biasa bagiku. Inilah proses, setidaknya telah berjuang untuk menerapkan ilmu kepada para peserta didik. Proses belajar bersama para siswa di sekolah pun berjalan rutin di setiap harinya, baik pada pagi hari atau saat jadwal T2Q yang telah di sesuaikan.

Waktu terus bergulir, aku pun mendapat sebuah kelompok anak yang di kategorikan sudah fasih dalam bertilawah dan tidak lama lagi akan menyelesaikan di buku Tilawah, Tajwid & Ghorib. Sebuah progres yang termasuk cepat para santri ini dalam menyelesaikannya. Tentu ini merupakan hal yang di harapkan pihak sekolah, mengingat perjuangan mereka dalam satu semester belajar Wafa mendapatkan hasil maksimal dalam proses dan pertemuannya. Walau bagi kebanyakan santri menganggap nada Hijaz dalam Wafa ini sesuatu yang baru. Tapi mereka dapat menyesuaikan dan menyelesaikan dengan nada Hijaz dalam irama yang ada di dalamnya.

Proses pra Munaqasyah pun berlangsung di sekolah, ada Munakish dari luar yang siap menyeleksi para santri yang nantinya layak atau tidak akan mengikuti ujian Munaqasyah dalam waktu yang tidak lama lagi. Dari 20 santri, di antaranya ada 15 orang yang di ujiankan tahsin Wafa dan 5 santri yang di ujiankan dari segi Tahfidznya. Seleksi pun di selesaikan dalam satu hari penuh. Berselang beberapa waktu, akhirnya pengumuman tiba, dari utusan yang telah diberikan kesempatan ikut pra Munaqasyah, alhamdulillah semuanya lulus dengan baik dan layak di ujian Munaqasyahkan oleh Wafa Indonesia. 

Kemudian tibalah bagi para utusan SMKIT Khoiru Ummah dalam menghadapi ujian Munaqasyah. Dengan rasa tegang dan gugup, karena para santri ini tahu pasti akan beda lagi kalau yang menguji dari Wafa Indonesia kala itu. Ujian pun berlangsung dari tes tertulis sampai pada proses tilawah dan pertanyaan yang telah di persiapkan trainer Wafa Indonesia. Ujian berlangsung tenang, tentram dan penuh konsentrasi dan berjalan lancar. Terlihat wajah-wajah tegang, cemas dan legah bagi santri yang telah melewati dari proses ujian Munaqasyah ini. Dua minggu berselang, mendapat informasi dari Wafa Indonesia dalam pengumuman dan hasil dari ujian Munaqasyah. Dari hasil itu, semua dari utusan SMKIT Khoiru Ummah dinyatakan lulus dengan predikat yang berbeda. Suatu hal yang sangat kami syukuri selaku pembimbing mereka. Kebanggan tersendiri dapat memberikan yang terbaik sampai pada tingkat mereka meraih hasil maksimal dalam belajar dan ujian kala itu.

Perjuangan yang tidak mengkhianati hasil manakala kita menghidupkan Al-Qur’an dan mengamalkannya pasti akan di permudah oleh Allah. Apalagi yang dipelajari ini adalah mulia. Begitulah kami berpikir, ini generasi yang harus tetap berkembang dan maju untuk di masa  mendatang. Kalau tidak hari ini kapan lagi, inilah kesempatan yang jarang terjadi. Rutinitas pun tetap terjalankan dengan semestinya, walau masih banyak pekerjaan rumah yang harus di selesaikan ke depan dengan yang masih belum lancar dalam membaca Al-Qur’an, baik dari segi tahsin dan tahfidznya.

Lalu di kemudian hari, suatu hal yang tidak pernah terpikirkan akan terjadi melanda dunia. Saat masuknya sebuah wabah ke Indonesia, iya itulah sebuah virus Corona, menular dan membahayakan orang lain. Kala itu sekolah masih tetap aktif melaksanakan aktivitas pembelajaran di sekolah. Akan tetapi semakin hari ternyata semakin meluasnya wabah ini. Dan daerah kami pun mulai banyak yang terpapar akan virus ini. Sungguh ini di luar dugaan kami semua. Sampai-sampai daerah ini pun di katergorikan sebagai zona merah akibat yang terjangkit virus ini semakin meluas. Semua aktivitas di tiadakan untuk tatap muka, dan di batasi sampai pada akhirnya semua harus lockdown. Semua tidak beraturan dengan jadwal dan membuat sekolah mensiasati belajar dengan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) saat itu. 

Suatu hal yang tidak biasa, tapi ini harus di jalankan sesuai dengan anjuran pemerintah. Jadwal mengajar pun di sekolah berubah menjadi “Daring” (dalam jaringan). Tentu ini menjadi dilema bagi kami guru Qur’an. Mengingat pasti banyak kendala dalam melaksanakan pembelajaran dengan seperti ini. Di lihat dari sisi lain, pasti ada keterbatasan dalam menyampaikan terutama dalam belajar online yang belum tentu semua akan lebih cepat memahaminya. Kala itu, aku mendampingi para santri dalam kelompok khusus yang masih belajar, bisa di katakan dimasukan ke dalam kelas bengkel dari segi tahsinnya. 

Pembelajaran pun terbiasa dengan kondisi daring. Dengan adanya grup Whatsapp masing-masing di setiap kelompok memudahkan dalam proses belajar tahsin Wafa kala itu. Dengan berbagai metode di terapkan dalam pembelajaran daring ini. Ada yang menggunakan dengan berbagai aplikasi, baik dari via Voice Note, grup WA, Zoom Meeting, Google Meet, Video Call, dan lain sebagainya menjadi penunjang dan semangat para santri untuk tetap belajar T2Q walau dalam kondisi pandemi seperti ini. Terkadang dalam proses pembelajaran pun masih banyak terdapat santri yang tidak setoran atau tidak muncul dalam proses belajar daring.

Ternyata bukan aku saja yang seperti itu walau mengampuh santri khusus untuk belajar tahsin Wafa. Begitu juga dengan pembimbing yang lain, masih kesulitan juga dalam menyampaikan materi karena keterbatasan waktu dan kondisi. Baik kurangnya respon para santri atau minimnya kontribusi santri dalam belajar saat kondisi yang tidak biasa di lakukan sebelumnya. Satu bulan berlangsung dalam proses jarak jauh. Akhirnya pihak sekolah mengambil inisiatif untuk melakukan pembelajaran luring (luar jaringan) saat itu dengan menerapkan setiap angkatan yang masuk datang ke sekolah untuk melaksanakan proses belajar mengajar dengan di batasinya dan tidak seluruh santri yang datang ke sekolah mengingat masih dalam kondisi pandemi Covid-19. Di sanalah kami mengambil momentum belajar T2Q dengan maksimal saat tatap muka walau selebihnya itu dalam masih dalam belajar daring.

Saat pelajaran luring di gunakan sebaik mungkin bagi para pementor T2Q dalam mengukur ketercapaian baik tahsin maupun tahfidznya. Berjalan dalam kondisi sulit, dalam keterbatasannya pertemuan dan kelemahan saat belajar daring. Tentu memiliki semangat tersendiri, melihat motivasi yang terus menerus dari para pembimbing yang senantiasa kepada para santrinya. Sampai pada akhirnya para santri pun berjuang menyelesaikan tahsin Wafa dan hafalannya masing-masing menjelang akan di ujian Munaqasyah yang akan telah terjadwalkan. Ada hal yang menarik saat ku perhatikan di kebanyakan santrinya. Motivasinya ingin maju dan memiliki tekad menyelesaikan Wafa dan mengejar target itu sangat di apresiasi. Walau di kondisi pandemi seperti ini, mereka dapat mengejar targetnya. Kami pun para pembimbing merasa sangat terbantukan dengan semangat mereka untuk menyelesaikannya.

Akhirnya yang terpilih dan layak di ujian Munaqasyahkan pun mengkuti ujian dengan sistem online dalam pelaksanaannya. Walau belum bisa menghadirkan langsung penguji ujian Munaqasyah dari Wafa Indonesia, para santri juga terlihat sangat senang bisa ikut serta jadi salah satu peserta saat itu. Sampai pada tahap terakhir, para santri dapat menyelesaikan dan dinyatakan lulus semua utusan dari sekolah yang telah menjadi delegasi terbaik untuk di tahsin Wafa atau tahfidz Al-Qur’an. Suatu hal yang menjadi kebanggaan, inilah generasi yang selalu menghidupkan nuansa Al-Qur’an di sekolah. Para penghafal Al-Qur’an yang senantiasa berjuang bersama satu sama lainnya. Walau suka dan duka pasti menyelimuti semua perjalanan sampai pada tercapainya target yang diharapkan. Walau yang lain masih menjadi evaluasi dan pekerjaan rumah sebagai perbaikan ke depan bagi santri yang belum menyelesaikan targetnya, terutama membaca di tahsin dan tahfidz.

Tentu semua ini adalah sebuah masa perjuangan yang melelahkan. Akan tetapi menjadi lillah di kala kita menjalankannya dengan penuh keikhlasan. Dari ini semua menjadi pelajaran yang berarti untuk sekolah-sekolah Islam terpadu yang ada dimana pun saat ini bergerak dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Apalagi didalamnya selalu di hidupkan nilai-nilai Al-Qur’an. Berkahnya sekolah, karena hidupnya Al-Qur’an dan membumikannya. Tentu proses tidak semudah yang kita pikirkan, yang terpenting tetaplah bersemangat membumikan Al-Qur’an dan mengamalkannya. “Sebaik-baik kalian adalah belajar dan mengajarkannya kepada orang lain”. Begitu juga yang telah Allah jelaskan dengan banyaknya dalam ayat Al-Qur’an. “Dan sungguh, Kami telah mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran”. (QS. Al-Qamar:17). Pelajaran yang sangat berharga, begitu Allah menjelaskan dengan firman_nya supaya kita selalu berikhtiar dan tetap berjuang dalam membangun generasi Qur’ani walaupun dimasa pandemi seperti ini, tidak melunturkan semangat kita untuk menebarkan kebaikan dengan mengamalkan Al-Qur’an. Wallahu’alam bissawab.

_
Penulis : Fidriyanto Cahyono – SMKIT Khoiru Ummah

Spirit Qur’ani Saat Pandemi

Virus corona mungkin salah satu virus yang sangat kondang nan tenar di dunia pervirusan bahkan mungkin dia menyandang makhluk terviral di langit dan di bumi selama 3 tahun terakhir ini. Hahaha….

       Virus yang satu ini mulai menggegerkan dan menggemparkan dunia sejak tahun 2019, sesuai namanya dong, coba munculnya tahun 2017, virus corona bakalan makin sweet (Sweet Seventeen) dan bisa bisa releas album, karena namanya pasti covid seventeen (covid 17) seperti grup band waktu itu. Hehehe. Sejak kemunculannya banyak sekali perubahan yang terjadi dalam kehidupan kita ini, mulai dari aturan, kebijakan, kebudayaan, kebiasaan serta gaya hidup dan lain lain. Dalam mengajar Al Qur’an pun juga mengalami perubahan sistem dan cara mengajar. Mengajar AlQur’an yang dari zaman Rosulullah menerima wahyu dari malaikat Jibril hingga sebelum covid 19 datang, guru dan siswa selalu bertatap muka atau berhadapan, namun sejak pemerintah memutuskan lock down, PSBB (sekarang istilahnya sudah ganti PPKM), karena corona dianggap mematikan, semua aktivitas masyarakat dihentikan, kemudian perlahan diperbolehkan tetapi dibatasi dan via online (dalam jaringan) atau secara virtual. Tidak terkecuali KBM di sekolah juga demikian. 

       Saat itu di lembaga kami, pembelajaran Al Qur’an yang tahsin melalui video call whatsapp secara privat. Setiap harinya guru memvideo call 10-13 siswa dengan estimasi durasi waktu per siswa kurang lebih 10-15 menit, jadi kalau diakumulasikan setiap harinya guru memvideo call siswa selama kurang lebih 130 menit. Bisa dibayangkan? Tentu saja itu bukan waktu yang sebentar, karena selama itu mata kita aktif dengan layar hand phone. Namun cara mengajar tersebut akhirnya dirubah, separuh siswa via pesan suara atau voice note dan guru mengoreksi bacaan siswa, sebagian lagi tetap via video call whatsapp privat. Sehingga guru tidak terlalu lama berinteraksi dengan handphone atau komputer.  Karena kesehatan guru juga harus diprioritaskan, disamping sebagai salah satu stakeholder pendidikan,  guru juga manusia yang sangat biasa. Hahaha…

      Sedangkan pembelajaran tahfidz melalui voice notes atau pesan suara whatsapp. Jadi ada 6 guru sebagai penanggung jawab (PJ) Rekam Suara Tahfidz sesuai kelas masing masing, kelas 1-6. Guru tersebut memberikan contoh lafadz ayat sesuai jadwal setiap harinya melalui rekam suara yang dikirimkan ke grup Guru PJ Tahfidz dengan batas pengiriman sore hari antara ba’da ashar sampai ba’da maghrib, lalu Guru PJ Tahfidz membagikannya ke masing-masing kelas. Kemudian siswa mengirim pesan suara atau voice note seperti yang dicontohkan guru pada keesokan harinya antara jam 07.00 WIB hingga jam 15.00 WIB dan guru mengoreksi hafalan siswa dengan menyebutkan maksimal 2 kesalahan bacaan, siswa mengirimkan lagi revisi bacaan yang salah. Alur yang cukup panjang bukan? Hahaha. 

       Awal mengajar saat pandemi saya yang notabene sebagai IRT (ibu rumah tangga) terasa sangat berat atau aneh, seperti merasa tidak sanggup karena bisa dibilang bahasa Bojonegoronya ora iso kobet blas atau tidak bisa berkutik sama sekali. Mungkin tidak saya saja, hampir seluruh IRT ya, hahaha, karena sehari-hari harus berkutat dengan aktivitas gadget; video call, rekaman, ngoreksi rekaman, video call, rekaman, ngoreksi rekaman, membuat video pembelajaran wafa juga, begitu seterusnya. Kala itu kita memang masih masa adaptasi dengan keadaan, jadi hampir semua guru Al Qur’an di lembaga kami, seperti terkena radiasi handphone, kita merasa pusing, mual, kudu muntah merasa eneg kalau lihat hp, sehingga pembelajaran tahsin yang sebelumnya video call whatsapp secara privat 10-13 siswa/hari, durasi video call 10-15 menit/siswa diganti separuh siswa video call, sebagian lagi siswa mengajinya kirim rekam suara atau pesan suara dan guru mengoreksi by voice note juga. Belum menyelesaikan pekerjaan rumah; nyuci baju, nyuci piring, masak, nyetrika, lipat baju, ngepel dll, nginemlah pokoknya, hahaha. Yang utama lagi mengurus anak sendiri, melayani pak suami dsb, rasanya amazing banget deh, terasa abot namun kita mencoba untuk tetap rapopo, mau abot ataupun enteng, kita harus tetap semangat menumbuhkan spirit qur’ani disaat pandemi. Hahaha. 

       Selain masalah tersebut, masalah yang lainnya adalah dari gadget itu sendiri, iya dari handphonenya, waktu itu saya harus membeli hp baru, gegara hp saya hank karena overload mungkin juga hp saya capek minta dilembiru (lempar beli yang baru),  hehehe. Hp juga butuh nutrisi dan suplemen, hp serasa tidak fungsi dengan baik, apalagi musim daring seperti saat ini kalau tidak ada pulsa dan paket data atau kuota internetnya. Paket data atau kuota internet saat ini merupakan salah satu hal yang sangat mempengaruhi keefektivan KBM, sebab jikalau guru atau siswa tidak memiliki kuota internet, auto KBM tidak bisa terlaksana, ada kuota namun jaringan internet tidak stabil KBM juga kurang maksimal, so terkadang juga ada kendala bagi guru ataupun siswa karena harus selalu mempunyai paket data setiap hari, setiap waktu, walaupun ada sih bantuan kuota dari pemerintah  saat awal pandemic. Alhamdulillah itu juga sangat membantu, namun karena realitanya pandemi sampai sekarang belum berlalu, kebutuhan kuota internet menjadi kebutuhan primer sehingga bisa membuat anggaran rumah tangga membengkak. Oleh Karena itu saya dan guru Al Qur’an lainnya  berusaha ke sekolah setiap hari, tidak seperti guru mata pelajaran lainnya yang masuk hanya saat jadwal piket saja. Ya, karena mengajar Al Qur’an memang tak kenal waktu, tidak sekedar menyelasaikan beban jam tugas mengajar, mengajar membaca Al Qur’an fondasi untuk pembentukan adab anak, tetap menumbuhkan spirit qurani kepada siswa disaat banyak anak-anak yang kecanduan game online insyaAllah tujuan yang mulia. Di lembaga kami sama dengan lembaga lainnya, sejak pandemi covid 19, ada pembatasan masuk sekolah untuk menghindari kerumunan atau social distancing, sehingga guru dijadwalkan ada yang sebagian masuk atau piket, ada yang WFH. Kalau saya mengajar di sekolah, saya sangat merasa lebih nyaman, lebih ringan, lebih mudah, sebab adanya jaringan free wifi yang sangat bisa dimanfaatkan, terlebih lagi rumah saya yang berada di pelosok desa jauh dari kota Bojonegoro, jaringan internetnya belum begitu lancar dan kuat. 

       Kendala selanjutnya adalah ketika kita sudah membuat, menyusun dan menentukan  jadwal video call dengan siswa, kita sudah share di grup whatsapp, subhanallah ternyata saat jamnya tiba, siswa belum siap karena hp nya masih dipakai orang tua bekerja, hp nya masih dipakai kakak yang juga sekolah daring, ada yang orangtua lupa, karena siswa masih tidur, masih sarapan, masih mandi, masih bermain di luar,  ada yang cari mood booster dulu karena masih dirayu nunggu moodnya membaik, sehingga minta divideo call sore, agak siangan dikit, bahkan menjelang maghrib karena orangtua atau wali murid yang baru pulang bekerja juga ada. Pada akhirnya jadwal yang seharusnya selesai tepat waktu sesuai rencana kita, harus molor lagi. Walaupun demikian, guru, siswa dan orangtua tidak boleh menyerah begitu saja dengan keadaan, orangtua dan guru memiliki tujuan yang selaras yaitu menumbuhkan generasi yang qur’ani. Guru dan orangtua harus tetap berjuang bersama-sama, insyaaAllah sekolah selalu berusaha memberikan solusi dengan menentukan kebijakan atau aturan yang tidak memberatkan guru, siswa, wali murid sehingga pembelajaran Al Qur’an tetap berjalan supaya anak-anak tetap dekat dengan Al Qur’an. Itulah pengalaman yang umum dialami bagi guru Al Qur’an  di lembaga kami, saya sendiri mempunyai cerita menarik saat mengajar Al Qur’an di era pandemi yang akan saya bagikan pada paragrap berikutnya. 

       Karena rumah saya yang cukup jauh dengan sekolah, jarak tempuh dari rumah ke sekolah sekitar 45 menit. Mengurus serta mengkondisikan anak saya terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah, terkadang menyebabkan saya terlambat mengajar atau memvideo call anak-anak/siswa, tidak mungkin saya merubah jadwal video call karena mereka dan wali murid pasti sudah menunggu mau mengaji wafa, sehingga saya putuskan untuk mengajar diatas motor sambil dibonceng pak suami, mengajar diatas motor adalah hal yang sudah terbiasa saya lakukan saat pandemi covid ini,  sepanjang jalan saya mengajar wafa dengan menggunakan headset supaya suara bisa terdengar jelas, nah serunya saat motor memasuki kawasan kota, ada rambu lalu lintas, waktu itu  lampu merah menyala, sehingga motor yang saya naiki juga ikut berhenti, di situ saya masih mengajar dengan suara yang tidak pelan, apalagi ditambah kebisingan kendaraan yang lalu lalang, sambil mata saya melirik, sesekali saya melihat keadaan sekitar, spontan kendaraan disamping saya, di sekitar saya pada menatap atau menoleh ke arah saya dengan tatapan yang aneh, entah apa yang ada dalam pikiran mereka, Allahu a’lam, tetapi saya berusaha bersikap biasa dan cuek karena show must go on guys, saya hanya berpikir mengajar ngaji sebagai tanggung jawab saya adalah hal yang lebih utama saya lakukan. 

      Ketika saya harus mengajar di pinggir jalan raya, tepatnya di depan warung makan, kebetulan didepan warung makan tersebut ada kursi panjang yang biasa dijadikan berteduh atau jagong bapak bapak untuk cangkruk. Untungnya saat itu warung makannya masih sepi karena baru buka, coba kalau pas ramai, saya malah mengganggu orang lain yang makan di warung, dan membuat ketidak nyamanan. Di situ saya mengajar sambil menunggu teman saya namanya ustadzah Ida datang, waktu itu saya memang tidak berangkat dengan suami saya karena pak suami sibuk dengan acara kerjaan, akhirnya saya ikut ustadzah Ida untuk berangkat bareng ke sekolah dan kita janjian di daerah Sumberrejo, saya memvideo call anak-anak sampai dapat 3 siswa, ustadzah Ida tak kunjung datang juga. Saya mengajar dengan merasa sungkan, pakewuh karena pemilik warung beberapa kali keluar terlihat masih repot menyiapkan warung makannya buka. Alhamdulillah pemilik warungnya ramah, saya diperbolehkan menunggu dan mengajar di situ sampai akhirnya teman saya datang. 

       Pengalaman saya berikutnya yaitu saat saya di rumah mertua, disaat asyik-asyiknya memvideo call tetiba terputus karena ternyata kuota internet saya habis, karena di rumah hanya ada saya dan mertua saja, saya lari kerumah tetangga,  dan ternyata tetangga saya juga tidak punya kuota internet, saya kebingungan karena pasti siswa yang saya video call tadi juga mencari cari saya, menunggu kok tetiba hilang tidak bisa dihubungi, akhirnya tetangga saya memberikan informasi kalau disebrang jalan raya ada warkop atau warung kopi yang ada jaringan free wifinya, hp saya koneksikan dengan wifi warkop tersebut, alhamdulillah bisa, saya manfaatkan untuk menghubungi teman saya yang jualan pulsa terlebih dahulu, dan saya lihat ada panggilan video call masuk dari siswa yang video callnya terputus tadi, saya terima dan putus lagi karena jaringan wifinya yang low, tetapi Alhamdulillah sekali teman saya yang jualan pulsa tadi sudah berhasil mengisi pulsa ke hp saya, akhirnya saya bisa melanjutkan mengajar lagi dengan lancar hingga selesai.

     Masih ingat saat itu saya mengajar/memvideo call siswa di tepi bengawan solo, Karena rumah saya berada di daerah pinggiran bengawan solo, perbatasan Tuban dan Bojonegoro, kalau mau ke sekolah ada dua akses jalan, bisa lewat menyebrang bengawan solo tembus daerah Sumberrejo atau lewat daerah Soko tanpa menyebrang bengawan solo, saat itu pak suami sedang berada dirumah, jadi saya memilih lewat tambangan menyebrang bengawan solo, kemudian naik ojek dan bareng ke sekolah dengan ustadzah Ida yang rumahnya Baureno, saat itu jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih, perahu yang bawa penumpang juga masih berada di ujung sebrang, terpaksa saya mengajar sambil menunggu perahu datang, saya duduk sendirian di pinggir bengawan, setelah saya memvideo call dapat 2 siswa, perahunya tiba. 

Bapaknya yang menjalankan perahu melihat saya, kemudian bertanya kepada saya; “ lha ewoh opo mbak? ” (lha ngapain mbak?)

Saya jawab; “ ngucal mbah “ (ngajar mbah),

kemudian bapaknya bilang sambil tersenyum; “ tak kiro to ewoh opo “, (saya kira ngapain) Kok omong-omongan nok hp?(kok berbicara lewat hp?), “ woalah tibake ngulang, ngulang jaman sak iki, teko hape, “ (woalah ternyata ngajar, ngajar jaman sekarang dari hp).

Saya tertawa sambil mengakhiri video call dan bergegas naik perahu, penumpang yang lain juga ikut menimpali obrolan saya dengan bapaknya tadi. Saya pikir kali ini, sesekali saya bolehlah menunda jadwal video call, karena wali murid juga sering melakukannya, (bukan balas dendam ya) hehehe, akhirnya saya hubungi siswa berikutnya kalau jam video callnya mundur, karena ustadzah masih perjalanan ke sekolah. Alhamdulillah wali murid menyepakati dan bilang “tidak apa apa ustadzah”, saya senang sekali, karena saya tidak mengajar dijalan raya.

       Pengalaman saya selanjutnya yang ingin saya bagikan yaitu ketika saya mau mengirim rekaman tahfidz. Perlu diketahui pembelajaran tahfidz di lembaga kami yaitu guru PJ Rekaman Tahfidz memberikan contoh lafadz ayat sesuai jadwal setiap harinya melalui rekam suara atau pesan suara dengan batas pengiriman sore hari antara ba’da ashar sampai ba’da maghrib yang dibagikan ke grup Guru PJ Tahfidz, kemudian guru PJ Tahfidz masing masing kelompok/kelas membagikannya ke grup siswa, karena saat itu semua guru PJ Rekaman Tahfidz sudah mengirim semua, tinggal saya yang belum mengirim, teman teman sudah mencari cari saya digrup WA, karena waktu itu saya pulang kesorean ada keperluan yang urgent, ditambah ban motor ustadzah Ida bocor, kehujanan pula, lengkap sudahlah pokoknya, jadi saat itu ba’da maghrib masih rintik rintik hujan, saya basah kuyup karena tidak pakai jas hujan, posisi masih on the way pulang ke rumah, tepatnya di tepi bengawan menunggu perahu datang yang masih lama dan belum ada tanda tanda sama sekali, ditambah suasana tepi bengawan yang sepi, otomatis saya rekaman di TKP itu juga, hahaha, kalau tidak salah surat Al Haqqah, biasanya saya rekaman sambil ngecek di Al Quran dulu, karena saat itu saya gugup, rekaman selesai auto saya kirim ke grup PJ Tahfidz, Alhamdulillah saya merasa lega dan plong sudah menjalankan tanggung jawab saya, eeee….astaghfirullah, sampai rumah salah seorang ustadzah namanya ustadzah Dhea menelepon saya, memberitahu kalau rekamannya tadi ada yang kurang, saya kaget dan langsung cek di Al Qur’an, ternyata memang benar, saya yang salah dan harus rekaman lagi. Alhamdulillah ada yang mengingatkan. 

      Demikianlah beberapa moment yang tidak terlupakan saat saya mengajar Al Qur’an selama pandemic. Bagi kami, pembelajaran Al Qur’an selama pandemic ini dirasa kurang maksimal, karena mengajar dan belajar Al Qur’an tidak mudah dilaksanakan secara online, hari-hari yang kita lalui memang terasa berat, mengajar lebih ngoyo dari hari-hari sebelum pandemi, karena tidak sedikit siswa yang di rumah sulit dikondisikan untuk selalu istiqomah membaca / belajar Al Qur’an, belum lagi kesibukan orangtua yang bekerja sehingga tidak bisa mendampingi siswa dengan maksimal. Padahal orangtua dan sekolah harus sinkron berjalan bersama-sama menciptakan generasi qur’ani, generasi yang dekat dengan Al Qur’an, generasi yang selalu istiqomah belajar dan membaca Al Qur’an. Itu semua butuh kegigihan dan perjuangan, tidak semudah membalikkan telapak tangan ya guys, setiap perjuangan pasti ada ujian, semoga Allah swt mempermudah urusan kita semua dan pandemic covid 19 cepat berlalu, dilenyapkan dari bumi. Aamiin. Karena tehnik dan cara mengajar virtual yang canggih sekalipun dirasa belum mampu menandingi belajar Al Qur’an secara tatap muka. 

_
Penulis : Nurul Khotimah – SDIT Insan Permata Bojonegoro

Semua Bisa Menjadi Pendidik Al-Qur’an yang Profesional

Semua kisah ini berawal dari pulau Indah nan mempesona ini iya benar sekali Pulau Bali. Pulau Bali atau biasa dikenal sebagai Pulau Dewata merupakan pulau dengan tujuan destinasi pariwisata Dunia yang ada di Indonesia. Pulau Bali dikenal sebagai pulau yang Indah dan mempesona di mata wisatawan local ataupun mancanegara. Tidak terasa sudah hampir satu dasawarsa saya menetap di Pulau impian banyak orang ini, tentunya banyak sekali pengalaman yang sangat luar biasa selama perjalanan saya di Pulau Bali ini. Di balik keindahan dan surga pariwisata di Pulau Bali ini saya menemukan sisi lain dan tentunya membuat saya jatuh hati dan akhirnya memutuskan menetap di pulau Indah dan Mempesona ini.
Banyak orang yang berstigma negative tentang Bali namun, di hati kecil ini selalu memberontak ingin menjawab stigma-stigma negative tersebut. Karena mungkin semuanya tidak mengetahui fakta yang terjadi sebenarnya di Pulau Bali ini. 

Saat ini saya tinggal di Jantung Pariwisata Pulau Dewata Bali, iya benar sekali lebih tepatnya di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Saya berasal dari Desa kecil yang berada di Kabupaten paling timur di pulau Jawa. Saya menyelesaikan masa kecil hingga Remaja di Desa tersebut, dengan kebiasaan yang mungkin Sebagian orang jawa laksanakan pagi sekolah formal dan dilanjutkan dengan mengaji di waktu sore hari. Semua itu saya alami dari usia 4 tahun sampai dengan usia remaja saya 18 tahun. Kebiasaan tersebut menjadikan tumbuh passion yang ada di dalam diri ini yaitu mengajar, sejak saya berusia 12 tahun saya sudah terbiasa membantu mengajar mengaji di musala kecil tepat dekat rumah saya. Sampai saat ini saya semakin yakin memang Passion saya yaitu menjadi orang yang gemar mengajar.

Semuanya berasal dari sini  dimana saya harus melanjutkan Pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, yang bertempat di Pulau Dewata ini. Sejak tahun 2014 saya menjalani Pendidikan di perguruan tinggi negeri terbesar yang ada di Bali hingga bertemu dan jatuh hati dengan kelompok yang menjadikan saya seperti tinggal di kampung halaman, yang semua itu memaksa saya untuk menetap di Pulau Indah dan mempesona ini. Hal inilah yang membuat saya ingin mematahkan stigma negative yang berkembang di masyarkat saat ini, karena memang semua itu tidak sesuai dengan yang terjadi saat ini. Di tengah-tengah kesibukan menjadi seorang Mahasiswa saya menawarkan diri sebagai guru ngaji di salah satu Masjid yang terkenal besar di Kuta Selatan ini, disini saya memulai mengasah passion yang saya miliiki tentunya berbeda kondisi antara di Kampung Halaman dan di Kampung rantau ini, dimana harus bertemu dengan banyak murid atau santri dari banyak daerah yang memiliki kebiasaan berbeda-beda pula tentunya. Menjadi sebuah tantangan untuk mengasah passion yang saya miliki saat itu. Tentunya tidak mengandalkan passion yang saya miliki nasehat-nasehat guru yang kuat selalu mendorong saya untuk selalu belajar dan mengajar AL Quran di Masjid tersebut. “Memang jika dihitung tidak seberapa bayarnya, namun keberkahan dari mengajar nanti kamu akan dapatkan”, pesan itu yang selalu teringat dan menguatkan saya menjadi seorang pengajar. Dari situlah saya selalu merasa cukup denga apa yang saya miliki dan hati selalu tenang karena selalu banyak yang mendoakan dan dipermudah untuk selalu melaksanakan Ibadah. 

Seperti yang banyak orang tahu Ketika belajar mengaji di Masjid memiliki pola yang begitu-begitu saja Guru di depan dengan tongkat bambu/ rotan yang selalu terdengar sabetannya di atas meja untuk memberikan efek jera pada murid/ santri. Dalam lubuk hati ini sebanarnya sudah berkata “semua ini sudah tidak sepatutnya dilakukan lagi lo, karena murid/ santri hanya jera beberapa saat saja, sudah saatnya merubah pola pengajaran seperti ini”. Namun, itu semua hanya gumaman dari dalam diri saja masih belum tahu bagaimana cara merubahnya, karena memang semua pengajarnya masih menggunakan pola yang seperti itu. 

Lagi-lagi saya dibuat jatuh hati di pulau dewata ini, tepat di akhir tahun saya bertemu dengan Lembaga Pendidikan Islam baru yang ada di Kuta Selatan ini. Menjadi angin segar tentunya jika saya dapat bergabung di Lembaga yang sampai saat ini menjadi Lembaga terbaik dan menjadi trend setter di Kuta Selatan ini. Tepat dipenghujung tahun 2018 atas izin Allah SWT saya dapat bergabung di Lembaga Pendidikan ini iya benar Sekolah Mutiara Jimbaran, saat itu lagi-lagi saya masih tetap mengandalkan passion saya menjadi seorang pengajar Al Quran disana. Lagi dan lagi harus beradaptasi untuk menghadapi Siswa siswi yang berasal dari suku, lingkungan, dan latar belakang keluarga yang berbeda. diawal masuk tersebut saya diberi kesempatan untuk mengajar PAUD Mutiara, satu hari dilakukan percobaan mengajar, hati ini sudah mulai goyang, dan mengatakan dalam hati, sepertinya saat ini Passion saya bukan mengajar. Mengelola kelas anak PAUD yang luar biasa aktif dan beragam menjadikan saya selalu melihat jam saat mengajar seolah-olah 30 menit sangat lama sekali untuk dilewati. Sampai akhirnya dipanggillah saya untuk menjawab beberapa pertanyaan apakah masih sanggup atau tidak? Tentu secara tegas menjawab masih sanggup walau dalam hati kecil masih bimbang untuk menjawabnya.

Seiring berjalannya waktu tidak terasa saya sudah merasa nyaman dan dalam hati mengatakan secara lantang passion saya adalah pengajar. Banyak hal yang saya dapatkan di Sekolah Mutiara ini tentunya sedikit demi sedikit saya terapkan di Masjd yang natabene masih menggunakan sistem konvensional tersebut. Begitu pula di Sekolah Mutiara saya juga sedikit menggunakan sistem konvemsinal yang ada di Masjid pada umumnya. Namun semua pola pikir menjadi pendidik konvensional tersebut terpatahkan semuanya karena di Sekolah Mutiara harus menjadi pendidik professional. Tentunya semua itu ada prosesnya dan saya telah mengikuti proses tersebut dan akhirnya saya memutuskan untuk focus hanya menjadi pendidik di Sekolah Mutiara, tentunya banyak sekali hal yang saya dapatkan pula di Masjid tempat saya mengajar Al Quran pertama di Pulau Bali.

Semakin focus di Sekolah Mutiara banyak sekali cerita menarik, karena dari tahun-tahun awal saya masuk dan bergabung menjadi seorang pendidik di Sekolah Mutiara. Mulai dari PAUD hingga bertemu di SD banyak sekali perubahan yang saya dapatkan untuk diri saya dan terutama pada peserta didik saya. Dan semakin kesini saya sudah tidak melabeli diri sebagai guru quran konvensional melainkan guru quran yang professional. Semuanya dapat diselesaikan dan dididik dengan tangan kosong tanpa lagi menggunakan benda Panjang yang menimbulkan efek jera sementara. 

Saya sangat menikmati semua proses ini dan dengan menjadi guru professional inin saya merasa menjadi lebih terkenal dan dikenal banyak siswa di Sekolah Mutiara. Dengan kelembutan dan penanaman nilai-nilai tentang quran menjadikan saya dan seluruh peserta didik lembut hatinya dan dengan senang hati mengikuti pembelajaran Al Quran. Hadits sederhana yang bermakna luar biasa selalu saya tanamkan pada semua peserta didik yang berbunyi “Khairukum man ta’allamal Qur’aana wa ‘allamahu (HR Bukhari)”. Diakhir pembelajaran selalu terkumandang sejak usia dini semoga mampu tertempel di alam bawah sadar peserta didik untuk selalu Bahagia dan semangat belajar Al Quran. Mungkin tidak dalam waktu dekat saya akan memeroleh hasil dari Pendidikan yang saat ini diberikan namun, saya yakin suatu saat nanti mereka akan selalu mengingat dan menjadikan mereka tersadar pembelajaran yang sangat menyenangkan adalah pembelajaran Al Quran. 

Semua itu terjadi di pulau dewata yang bisa dibilang pulau yang memiliki jumlah penduduk muslim minoritas. Saya semakin yakin kelak dari Sekolah Mutiara akan melahirkan generasi-generasi qurani dari pulau dewata untuk memimpin Indonesia. Sesuai dengan visi besar Sekolah Mutiara yang sudah terinternalisasi di dalam diri ini yaitu membentuk Generasi yang cerdas, berbudi luhur, dan berwawasan global. Saya yakin visi besar tersebut dapat kita realisasikan Bersama diawalai dengan Pendidikan Al Quran. Saya bangga sampai saat ini bisa menjadi guru Al Quran yang Profesinal tidak lagi konvensional.

Suatu percakapan yang sempat terjadi Bersama salah satu peserta didik saya pada saat itu. Sungguh saya tidak terbayang sebelumnya peserta didik ini menjawab hal tersebut, sebagaimana kita tahu jika ditanya tentang cita-cita Siswa SD selalu menjawab dengan jawaban aman cita-cita sebagai dokter, pilot, koki, dan pofesi-profesi konvensional pada umumnya. Namun berbebeda dengan peserta didik saya ini, secara lantang dia menjawab secara spesifik bahwa dia ingin menjadi Guru Wafa. Dalam hati kecil saya Bahagia ternyata menjadi guru Al Quran itu masih ada peminatnya, sejak saat itu sampai saat ini apapun pekerjaannya, jabatannya, dan kerja sampingannya secara percaya diri saya selalu menyampaikan saya adalah Guru Al Quran. Semoga semua guru-guru Al Quran selalu semangat untuk menjadi guru menjadikan generasi-generasi Qurani calon pemimpin Indonesia.

Itulah kisah sisi lain dari Pulau Dewata Pulau yang memiliki tujuan destinasi pariwista domestic ataupun mancanegara yang  sangat melimpah yang berhasil membuat saya jatuh hati berkali-kali untuk menjadi seorang pendidik Al Quran yang professional. Semoga semakin banyak Pendidik Al Quran Profesional yang yang terlahir dari Lembaga Pendidikan AL Quran di seluruh Indonesia yang bermitra dengan Wafa.

Nama saya Bagas Setiawan, dilahirkan di Kota Banyuwangi, 24 Juni 1996 lebih tepatnya berasal dari Desa Jajag. Saya merupakan Anak kedua dari Pasangan Ayah Miswandi dan Ibu Suprihatin. Tumbuh kecil hingga remaja di Desa Jajag. Hingga saat ini sudah menetap dan memiliki kartu tanda penduduk di Pulau Bali. Saat ini saya sebagai seorang pendidik di Sekolah Dasar Mutiara, lebih tepatnya mengajar Al Quran metode Wafa. Semoga tulisan ini mampu menginspirasi semuanya dan meyakinkan kepada seluruh Guru Al Quran mampu menjadi Guru Al Quran yang professional.

_
Penulis : Bagas Setiawan – Sekolah Mutiara Bali

Aku Menyerah dengan Muridku

Setelah keluar dari pesantren I’dad Bahasa Arab untuk persiapan perkuliahan ke timur tengah, aku menunggu keberangkatanku untuk menuju perkuliahan ke Madinah. Qodrullah, pandemi ini belum menakdirkanku untuk berangkat. Saat menunggu yang tak pasti ini, aku putuskan untuk mendaftar sebagai pendidik di Sekolah Mutiara Bali sebagai pengajar qur’an. Singkatnya, pengalamanku dalam mengajar tidak pernah dengan metode-metode tertentu namun, kali ini aku harus berkenalan dengan metode pengajara qur’an Bernama WAFA. Tentu ini hal baru untukku, meskipun aku pernah tahu beberapa metode lainya dalam pelajaran qur’an tapi yang kali ini benar-benar baru, dengan metode “otak kanan”.

Pada hari pertama mengajar, tentunya secara daring dan kali pertama dalam hidupku mengajar via online (jarak jauh) sungguh sangat menyulitkan ditambah ini mengajar mengaji, apakah mengajar makhorijul huruf sungguh dapat terdengar jelas dengan cara ini? “huh…” pikirku mengeluh. Namun, aku sangat bersemangat mendapati murid pertamaku, mereka semua unik dengan keberagaman sifat dan karakternya masing-masing. Mengajar bukanlah semudah meminta mereka untuk duduk lalu mereka mau duduk, tentu musti banyak trik untuk meminta murid melakukan suatu hal dan tentunya juga ada beberapa murid (tidak banyak) yang mau melakukan suatu hal yang kita minta.

Tibalah kesabaranku diuji pertama kali, aku mendapati murid yang sangat pemalu (semoga kakak yang membaca ini tidak tersinggung ya kak, ustadz sayang kakak ) ia tidak mau membaca, audio dari zoom ia mute meski sudahku pinta untuk di-unmute. “ya Allah….kok susah sekali ya ini anak?” keluhku dalam hati. Hari pertama, kedua, ketiga hingga akhirnya hampir sebulan sudah aku harus berhadapan dengan murid yang akupun tidak tahu maunya apa. Berbicara juga tidak mau, “inilah akibat belajar via daring…” lagi-lagi aku mengeluh dalam hati. Apalah daya mengeluh, ternyata tidak memberi jawaban dan solusi apapun.

 Pada titik ini aku bermuhasabah, mengevaluasi diri. Apa dari sisi mengajarku? Padahal tentu dalam metode WAFA kami sudah sangat jelas dalam perencanaan mengajar, dimulai dari P1 sampai P5 sudah aku lakukan. Tapi,  mengajar bukan hanya sebatas perencanaan saja dan benarlah Allah yang menentukan, ini seperti mengisyaratkan kita sebagai manusia harus terus berusaha dengan membuat rencana sebaik mungkin tidak hanya dengan satu cara saja namun, hingga akhirnya cara dan rencana yang kita lakukan layak disebut ikhtiar yaitu usaha terbaik.

Setelah hari-hari dan cara-cara berikutnya, aku menyerah… aku benar menyerah pada muridku. Tidak, tidak seperti yang kalian pikirkan tentang bagaimana aku menyerah pada muridku tetapi, aku menyerah dengan bagaimana aku memaksakan muridku untuk berubah, aku menyerah dengan bagaimana aku selalu mengeluh terhadap muridku dan semua keadaan yang ada di sekelilingku. Seorang bijak pernah berkata “mereka adalah cerminan diri kita” aku mencocokkan kalimat bijak itu dengan “innallaha laa yughoyyiruma bi qoumin hatta yughoyyiruma bi anfusihim” sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum sebelum ia mengubah diri ya sendiri. Tentu kita tidak asing dengan ayat tadi, akupun seakan terbangun dari mimpi yang melarut , aku hanya mengeluh dan berandai memiliki murid sempurna. Penurut. aku menyerah dengan memaksa sesuatu harus baik, padahal dampaknya itu malah membuatku tidak berusaha maksimal, ingin yang cepat saji. aku menyerah kepada muridku yang aku harapkan harus sempurna. Kapan aku mau belajar jadinya?

aku menemukan cara yang mungkin terdengar biasa dalam dunia ngajar-mengajar, “ambil hatinya, maka kau dapatkan segalanya” hihihi terdengar romantis bukan? Tentu itu akan berhasil pada pasangan yang halal ya! Baiklah, kembali dengan teknik mengambil hati. aku mengajak bicara temanya hendak ingin tahu apa yang sebenarnya ia suka lakukan di kelas. Apakah itu topic pembicaraanya, mainan kesukaan, hingga pelajaran yang ia suka. Tak hanya dengan temanya, akupun mencoba untuk bersilaturahmi ke Rumah muridku ini, tentu saja ia malu tak mau keluar Rumah, yang aku dapatkan adalah bagaimana bundanya bercerita bahwa ia sangat suka sekali berbicara, lebih ke cerewet. “Hah?..” kaget sekali aku mendengar itu dari Bundanya. “Ia sangat suka tebak2an ustadz…” tutur bundanya memberi saran. Baiklah kalau begitu, akan aku buat tebak-tebakan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.

Tibalah esok harinya, saat sesi online dimulai dan semuanya sudah masuk ke dalam kelas online. “Hari ini kita akan tebak2an!”  Dengan tiba-tiba aku ucapkan bahkan sebelum mulai berdoa, murid-muridku serentak kaget bergembira. Saatku lihat layar muridku yang satu ini, biasanya hanya dahinya saja yang muncul namun, tiba tiba mukanya seakan menyambut samtapan yang enak. “Hah, terpancing dia!” Ucapku dalam hati. “Kali ini ustadz akan perlihatkan gambar, tapi kakak2 semuanya tebak gambar itu akan menjadi sebuah kalimat apa nantinya.” Matanya terlihat antusias. Saat aku tunjukkan tebak gambar yang aku buat, benarlah semuanya terlihat bingung dan berfikir keras tak terkecuali muridku yang ini, setelah beberapa saat ia mengangkay tangan, dengan suara yang agak berbisik ia berkata “nenek pergi ke bogor dengan jongkok” pecahlah suasana kelas penuh dengan tawa, akupun tertawa lepas dan puas bercampur heran, karena baru pertama kali ia berbicara dan itu sangat lucu, temanyapun terheran-heran sembari tertawa dengan jawabnya yang benar dan lucu.

Akhirnya dimulai dari situlah komunikasi terbangun, bahkan pada sesi yang lain aku memberikan kesempatan kepada murid2ku untuk membuat pertanyaan dan dialah yang paling sering melontarkan soal tebak2an. Dan kalian tahu saat ini? Ia menjadi murid terbaik di kelompoknya dengan menyandang pelafalan makhorijul huruf terbaik, hafalanya kuat, dan sangat cerdas dalam menganalisis tajwid dalam ayat.

Begitulah, dan kini aku jadi tidak ingin menyerah dalam mengajar, aku terus berusaha memberikan yang terbaik untuknya dan semua muridku. Satu pelajaran berharga dari perjalanan ini bahwa, yang belajar itu tak hanya murid. Tapi, guru adalah sebenar-benar murid dalam sekolah kehidupan yang nantinya akan dipetik ilmunya oleh sang murid di kelasnya. Jangan berhenti belajar dan mau bercermin diri.

_
Penulis : Alam Prabowo – Sekolah Mutiara Bali

Menjadi Pendidik Alquran dari Pulau Dewata

Tiga tahun yang lalu tepatnya di bulan Juli tahun 2018, seorang teman mengajak saya untuk bergabung bersama di Sekolah Mutiara Bali untuk menjadi salah satu pendidik Alquran di sekolah tersebut. Atas dasar panggilan hati untuk menjadi pendidik Alquran dan sedikit bekal ilmu yang saya punya, saya menerima tawaran tersebut dan bergabung bersama Sekolah mutiara Bali hingga saat ini.

Awalnya Sekolah Mutiara Bali menggunakan metode pembelajaran Alquran yang lain sebelum mengenal metode Wafa hingga akhirnya Sekolah Mutiara Bali menjadi mitra Wafa untuk membentuk generasi Qurani. Dari sinilah saya mulai mengenal pembelajaran Alquran yang mudah dan menyenangkan dengan otak kanan, terutama untuk anak-anak usia dini. Dengan berbekal pengetahuan dari para trainer Wafa, saya sebagai pendidik Alquran di Sekolah Mutiara Bali mulai berbenah memperbaiki sistem dan kualitas bacaan Alquran yang saya miliki, salah satunya melalui kegiatan tahsin yang diadakan oleh pihak sekolah.

Dalam perjalanan saya sebagai pendidik Alquran, banyak suka duka yang saya alami, tetapi lebih banyak hal menyenangkan yang terjadi. Salah satunya ketika saya melihat anak-anak didik saya memahami pembelajaran dan dapat membaca Alquran (buku Wafa) dengan baik. Hal itu merupakan kebahagiaan tersendiri untuk saya, sebab apa yang saya sampaikan dapat dipahami siswa dengan baik.

Dukanya, ketika anak-anak didik saya belum bisa memahami pelajarannya dengan baik, dan saya harus memutar otak untuk mencari strategi yang tepat guna menjadikan siswa memahami pelajarannya. Salah satu cara yang saya gunakan adalah memberi stimulus berupa flashcard dari kertas origami yang berwarna-warni bertuliskan konsep materi yang sedang dipelajari dan terus menerus diulang-ulang supaya siswa semakin memahami konsep, dan juga menjadikan card tersebut sebagai media yang menyenangkan untuk belajar.

Salah satu yang saya sukai dari 5P yang diterapkan oleh metode Wafa adalah P3 (Baca Tiru) sebab di sinilah siswa belajar dengan sungguh-sungguh untuk memperbaiki bacaannya, sebelum dilakukan penilaian. Dan dari proses Baca Tiru inilah guru mampu menilai kualitas bacaan anak-anak didiknya. Metode Wafa sangat membantu saya mengatur pembelajaran Alquran di Sekolah Mutiara Bali.

Harapan saya sebagai pendidik Alquran adalah semakin banyaknya generasi muda yang mau belajar dan memahami kitabullah, sebagai pedoman hidup mereka di dunia dan akhirat. Dengan itu, semakin banyak pula para generasi muda yang nantinya akan menjadi guru-guru Alquran yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Untuk para pendidik Alquran saat ini, teruslah belajar memperbaiki dan mempertahankan kualitas bacaan tilawah, agar kita dapat mencetak generasi masa depan yang memiliki kualitas bacaan tilawah lebih baik daripada pendidiknya.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini selain Allah. Karena itulah setiap metode pembalajaran tetap memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-maisng. Tugas kita sebagai pendidik adalah terus berkreasi agar pembelajaran sampai dengan baik dan dipahami siswa. Sebuah metode pembelajaran adalah sarana seorang guru untuk menyampaikan pesan pembelajaran kepada siswanya, akan tetapi yang memahamkan ilmu adalah Sang Pemiliki Ilmu, yakni Allah SWT. Doa yang tulus dari seorang guru untuk siswanya kepada Allah, Insyaa Allah mampu mengatasi berbagai kesulitan dalam memahamkan Alquran, karena sejatinya Allah-lah yang memahamkan ilmu kepada siswa kita, dan kita hanya sebgaai mediator.

خَيْرُ كُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (Hadits Riwayat Bukhori)

Hadits tersebut adalah motivasi saya hingga saat ini, untuk terus mengajarkan Alquran. Semoga Allah memberikan keistiqomahan kepada saya hingga akhir hayat saya.

Tidak ada kemewahan atau pun gaji yang sangat besar dari seorang guru Alquran. Akan tetapi keberkahan akan selalu menyelimuti hidup kita. Janji Allah adalah pasti sebagaimana firman-Nya, “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik. (QS. Al Isra: 18-19)

Menjadi guru Alquran adalah investasi masa depan, di mana kita akan memiliki peluang untuk mendapatkan kebaikan di masa depan kita menghadap Allah dengan pahal jariyah.

Terima kasih saya ucapkan kepada orang tua saya, para guru, teman, para trainer Wafa atas semua ilmu yang diberikan. Suatu nikmat Allah yang besar yang perlu kita syukuri adalah Allah menjadikan hidup kita disibukkan dengan mengajar Alquran, sementara di luar sana banyak orang yang disibukkan dengan hal-hal yang sia-sia. Semoga Allah terus menguatkan pundak para guru Alquran di mana saja berasa untuk terus mengajarkan Alquran hingga akhir hayatnya.

Sekian dari saya, sebuah pengalaman dari pulau dewata, di mana warga muslim masih minoritas di sebagian besar wilayahnya, akan tetapi semangat untuk belajar Alquran insyaa Allah akan terus menyala. Salam Cerdas, berbudi, Visioner, dari seorang Imaliyah, salah satu guru Alquran di Sekolah Mutiara Bali.

_
Penulis : Imaliyah – Sekolah Mutiara Bali

Darimu Kami Belajar Menjadi Guru yang Hebat

Saat pertama mengabdikan diri untuk menjadi seorang guru, saya diberikan kelompok yang terbilang aktif dalam segi argumen maupun perilaku. Kelompok yang didalamnya memiliki anak anaknya luar biasa cerdas. Saya diberikan tempat yang sangat strategis pada saat itu, kami mengaji di area playground, area yang sangat strategis untuk bermain sambil belajar. Sulit ? tidak juga. Area tersebut, area yang terbilang sangat bagus untuk anak-anak kinestetik. Kami memberikan peraturan yang mampu memberikan mereka ruang untuk berekspresi dan duduk dengan baik ketika mengaji. Anak kinestetik tidak perlu diberikan peraturan yang mengekang mereka tetapi memberikan ruang untuk berekspresi tetapi tetap pada adab ketika mengaji. Salah satu peraturan saat itu adalah, duduk dengan baik dan tirukan teman teman ketika membaca setelah itu diberikan jeda 2-3 menit mereka bermain dan beralri di area, setelah itu mereka akan duduk kembali ketika diberikan kode untuk duduk dan melanjutkan mengaji. Inilah awal mereka mengaji dengan baik untu mereka. Menguatamakan kejujuran serta adab yang baik ketika mengaji. Kejujuran ketika kita berjanji kepada mereka dan adab ketika mengaji dengan baik. 

Banyak cerita dari mereka masing-masing, dari hal yang membahagiakan, sedih hingga kesal. Kilas balik dari semua itu adalah sangat membahagiakan ketika bercerita hari ini. Bagaimana mereka hari ini, bagaimana mereka mencintai satu sama lain. Sebut saja dia A yang salah satu siswa yang kinestetik tersebut. Dia A adalah salah satu siswa yang menjadi pemicu hiperaktif dalam kelompok saat itu. Hampir setiap hari dia A selalu memberikan warna setiap harinya. Salah satu contohnya seperti ini ke kamar mandi tetapi ketika ingin ke kamar mandi dia A tidak melewati pagar playground dengan berteriak-teriak.   

Memberikan nasihat tidak bisa kita lakukan hanya satu atau dua kali saja, melainkan ribuan maupun hingga ratusan kali pun perlu kita sampaikan. Begitu juga dengan dia A, yang setiap mengaji setiap hari usil, tidak bisa duduk dengan baik hingga membuat temannya menangis. Sampai harus ditahan juga untuk mengaji setelah teman-temannya selesai mengaji. Hingga suatu hari saya pun tak kuasa menahan amarah saya kita saya marah saat itu, iya… saya juga merasa sedih saat itu. Saat dimana saya marah kepadanya. Setelah saya tersadar, saya meminta maaf kepada si A. Darinya saya belajar ketulusan, sorot mata dia yang begitu tulus saat itu membuat saya terenyuh seketika melihatnya.

Hari berganti har, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Akhirnya setelah kurang lebih dua tahun tidak mengajarnya mengaji, akhirnya datanglah hari divana saya mengajarnya kembali. Iya… saya vengajar dia si A saat dia masih TK B. Saat saya mengajarnya kembali, disinilah saya mengetahui anak yang dulunya sulit ketika diberitahu sekarang menjadi siswa yang begitu santun dan selalu tertib ketika mengaji. MasyaAllah… Melihatnya kini berbeda jauh ketika dia masa-masa dulu dan sekarang. Kini dia selalu tertib mengaji dan selalu bersemangat ketika dia mengaji. Pada saat itu dia telat masuk zoom, iya pembelajaran kita pada masa pandemi ini menggunakan aplikasi zoom. Saat dia telat, Dia meminta maaf karena telat masuk dan meminta tambahan untuk mengaji karena tadi telat masuk. Dan ada kata yang membuat hati saya saat itu begitu bahagia, dia si A berkata seperti ini “ustdzah, ustdzah tahu ga?  hari ini aku sangat bersemnagat sekali untuk mengaji dan aku juga sangat senang mengaji bisa bertemu dengan teman teman dan ustdzah juga”. Disitu saya tersenyum penuh gembira. MasyaAllah… inilah salah satu nikmat mengajar yang luar biasa yang saya rasakan.  

 Dia A memberikan banyak pengalaman bagi saya dalam bagaimana memahami setiap karakter dalam diri siswa kami, tidak ada siswa yang tidak mampu menyerap apa yang kita sampaikan tetapi siswa hanya membutuhkan waktu yang berbeda untuk menyerap apa yang kita sampikan. Ada teman saya berkata bahwa tidak ada siswa yang bodoh dan tidak ada kata sia sia dalam memberika mereka materi kemudian mereka belum bisa menyerapnya, karena mencari ilmu bukan hanya sekedar hasilnya tetapi proses membentuk pribadi mereka untuk menjadi lebih baik.

Begitulah teman saya saat itu berkata, saya teringat dia si A. ya… begitulah adanya. Kita tidak mampu merubah siapapun karena kita ingin saja, melainkan kita hanya mampu berikhtiar untuk merubahnya dan dalam setiap perubahan adalah hak mutklak Allah SWT yang berikan. 

Darinya saya juga belajar menjadi guru yang hebat yang tidak mengeluh dengan semua yang terjadi untuk menghadapi siswa-siswi lainnya. Semua hanya membutuhkan waktu yang tepat untuk memahami dan menyerap kata dan harapan yang diinginkan kita sebagai seorang pendidik pada setiap siswa-siswi kita. Kita sebagai guru jangan pernah bosan untuk mengingatkan siswa kita, jika tidak hari ini maka masih ada hari esok…

_
Penulis : Lucky Lufita Fitriani – Sekolah Mutiara Bali

Siapa yang Cinta, Ia akan Dicinta

Dua kisah ini tidak saling terhubung, namun memiliki kesamaan di dalamnya. Semoga dapat menjadi hikmah bagi siapa pun yang membacanya.

Cerita #1

Iky (bukan nama sebenarnya) kami memanggilnya, salah satu anak yang masih saya ingat hingga saat ini, walaupun pertemuan kami hanya terjadi sekitar 2 bulan saja. Ia saat itu masih berstatus siswa kelas V di sebuah sekolah negeri yang berada dekat dengan area bedeng yang menjadi tempat tinggalnya, alias daerah yang kebanyakan dihuni oleh orang-orang yang sebagian besar bekerja sebagai pemulung, pengepul barang bekas, dan pekerjaan sejenisnya. Lokasinya berada persis di pinggir pagar pembatas area Bandara Ngurah Rai Bali, dan berjarak lima menit dari tempat tinggal saya. Saat itu, saya tergabung sebagai relawan salah satu komunitas yang menggarap daerah tersebut sebagai bagian dari proyek social dan memberikan program berupa “mini-TPQ”, yang mengajarkan sholat dan membaca Alquran. Tidak banyak yang saya ingat dari Iky. Namun, yang masih membekas hingga saat ini adalah antusiasmenya saat kami dating, dan kerelaannya untuk menjemput satu per satu teman-temannya, yang kadang karena banyaknya alasan menjadikan mereka malas-malasan untuk bergabung. Iky juga yang menjadi ikon “meriahnya” pembelajaran kami, sebab memang dia adalah salah satu anak yang disegani di sekitar sana oleh teman-temannya yang kebanyakan berumur lebih muda daripadanya, sehingga mudah saja baginya untuk membantu kami mengkondisikan teman-temannya yang terkadang usil dan jahil untuk kabur saat belajar.

Hal lain yang membuatnya masih lekat di ingatan saya adalah justru ketika saya sudah tidak berstatus sebagai relawan di komunitas tersebut, dan otomatis kontak dengan Iky dan kawan-kawannya juga ikut terhenti. Sekitar satu setengah tahun berikutnya, ketika dalam suatu kesempatan tidak sengaja menemukan foto-foto lama program tersebut di sebuah akun social media teman di komunitas yang sama, saya menemukan salah satu foto seorang santri berusia sekitar 11-12 tahun, dengan gamis dan peci putih. Wajahnya nampak sederhana, namun senyumnya memancarkan bahagia. Sekilas tidak saya kenali foto tersebut, namun semakin diperhatikan sepertinya wajah tersebut terasa familiar, namun belum bisa saya tebak siapa. Pada caption foto tidak ada keterangan siapa anak tersebut, dan akhirnya saya periksa di kolom komentar. Dan akhirnya, agak shock dan bercampur haru saya kenali anak tersebut, “Masyaa Allah… Iky…”

Dia yang dahulu kadang dengan gaya premannya memanggil dan menjemput paksa teman-temannya untuk mengaji, dan bahkan kadang dengan suara keras memarahi teman-temannya yang salah saat membaca, atau dia yang akhirnya kembali dengan wajah ditekuk karena teman-temannya yang dijemput hilang bahkan sebelum Iky sampai pintu rumahnya. Masyaa Allah, dia yang kini diberikan kesempatan sebagai seorang santri di sebuah pondok pesantren di sebuah wilayah yang terbilang jauh dari rumahnya, dan dia yang selalu berkata, “Cita-citaku jadi ustadz kak!”


Cerita #2

Ilan, adalah salah satu siswa yang saat awal lembaga kami menggunakan metode Wafa, masuk ke dalam kategori kelompok “spesial”, baik dari segi kemampuan menyerap materi maupun dari segi “keaktifan”. Maksud keaktifan di sini adalah kebanyakan siswa yang dikategorikan ke dalam kelompok ini adalah siswa dengan potensi kinestetik yang lebih besar. Saat itu ia duduk di kelas II, memulai pembelajaran kembali dari Buku 1, dan menyelesaikan 1 buku tersebut dalam waktu 1 tahun. Buku berikutnya ia tempuh dengan penuh drama. Qodarullah, seperempat sisa semester akhirnya di kelas II ia ikuti melalui pembelajaran online akibat Pandemi Covid-19 sejak Maret 2020 lalu. Saat itu, ia dalam posisi sudah menyelesaikan buku Wafa 2, namun berubahnya sistem belajar dari offline menjadi online membuat banyak pihak tergagap, tidak terkecuali lembaga dan siswa kami. Ilan yang tadinya direncanakan bisa mengikuti ujian sebelum pelaksanaan Penilaian Tengah Semester (PTS), terpaksa mundur dari rencana awal sebab pembelajaran online yang dilakukan dinilai masih banyak bias dan tidak mencerminkan kualitas sebenarnya dari siswa. Namun, seiring waktu berjalan pada akhirnya Ilan diajukan untuk mengikuti ujian kenaikan buku 2 yang dilaksanakan secara online. Di sinilah momen itu terjadi. Pada waktu ujian, banyak kendala yang terjadi, salah satunya adalah kualitas sinyal yang tidak memadai sehingga cukup menyita banyak waktu. Kedua, ternyata penguji menemukan bahwa kualitas bacaan Ilan masih jauh dari baik untuk mengikuti ujian kenaikan buku sehingga penguji menyampaikan pada Ilan bahwa ia masih harus melakukan perbaikan. Beberapa waktu kemudian, Ilan diajukan kembali untuk mengikuti ujian namun hasil yang didapat masih sama, bahkan saat ujian berlangsung, penguji sempat menegur orangtua Ilan yang ternyata membantunya dengan cara berbisik-bisik. Akhirnya, penguji memutuskan agar ujian dilaksanakan secara offline dengan bertemu langsung antar penguji dan Ilan, walaupun saat itu ada kekhawatiran yang muncul mengingat saat itu adalah saat-saat kritis pandemi terjadi. Dan pada ujian ketiga tersebut, walaupun dengan durasi yang cukup panjang, bahkan melebihi saat sesi ujian online, Ilan akhirnya dinyatakan lulus dengan nilai KKM dan cukup banyak catatan, terutama dalam segi pemahaman konsep.

Berselang sekitar 5 bulan kemudian, penguji tersebut mendapat kabar bahwa Ilan yang sedang di Buku 3 sudah siap untuk mengikuti ujian. Antara percaya dan tidak, penguji tadi yang mendapat kabar bahwa Ilan mengikuti ujian buku 3 pun menanyakan hasil ujian tersebut dan ternyata Ilan bahkan lulus dengan predikat A. Masyaa Allah. Bahkan saat dilakukan pendampingan rutin kepada setiap kelompok mengaji, Ilan yang saat itu tengah berada di kelompok tersebut mengalami peningkatan yang jauh signifikan, terutama dari sikap saat mengikuti pembelajaran maupun kualitas bacaan. Ilan tidak hanya mengalami peningkatan pesat dari perbaikan bacaan, namun ia menjadi jauh lebih santun saat mengikuti proses pembelajaran. Masyaa Allah.

****

Iky dan Ilan, dari mereka saya mengambil pelajaran. Iky yang perlahan terbuka jalannya untuk meneruskan cita-cita mulianya guna menjadi penerus ilmu yang dimilikinya, dengan semangatnya untuk belajar dan mengajak pada kebaikan, juga Ilan yang semakin terang serta semakin baik pribadinya walaupun awalnya sungguh terseok-seok perjalanannya.

Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil, dan barangsiapa teguh bersama Alquran, dia akan bahagia. Sebab Alquran adalah milik Allah, maka sesiapa yang menjaganya akan dijaga-Nya, siapa yang mencintainya maka akan dicintai-Nya.

_
Penulis : Eka Jana Walianingsih – Sekolah Mutiara Bali

Tetap Berinovasi di Tengah Pembelajaran Berbasis Daring

Sejak bulan maret tahun 2020, sudah setahun lebih pembelajaran sistem daring diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia, Meskipun sebulan yang lalu sekolah sempat dibuka untuk tatap muka secara offline, namun kini harus kembali lagi pada situasi sebelumnya yakni daring akibat dari melonjaknya korban Covid-19 di Indonesia. Dan kini dunia pendidikan telah memasuki tahun ajaran baru. Pada tahun ajaran baru ini, saya sebagai guru al qur’an diberikan amanah untuk mengajar Wafa di 3 kelompok yakni kelas 1, kelas 4 dan 5 kelompok persiapan munaqosyah tilawah, dengan jumlah masing-masing kelompok 17 siswa, 15 siswa dan 14 siswa. Bagi saya, jumlah ini lumayan banyak. Karna semester sebelumnya saya hanya mengajar 2 kelompok dengan total jumlah siswa sebanyak 31 anak saja. Sedangkan untuk semester ini saya harus mengajar 46 siswa.

Koordinator al qur’an di sekolah kami mengharuskan kepada semua guru al qur’an untuk menyapa atau memberikan pembelajaran kepada siswa dengan tatap muka secara virtual minimal sekali dalam sepekan. Berkaca dari semester sebelumnya, itu artinya kami harus melakukan videocall dengan siswa, terutama untuk peserta didik baru kelas 1 yang sangat membutuhkan pembelajaran dengan tatap muka virtual dalam memberikan konsep dan pengenalan metode Wafa. Dari sini ada tantangan tersendiri bagi saya, pasalnya saya harus menghubungi 46 siswa dalam waktu empat hari, dari hari senin sampai kamis karna untuk hari jum’at kami biasanya mengadakan rapat evaluasi sehingga tidak bisa ada agenda videocall dengan siswa. Durasi untuk sekali videocall saya minimal satu jam dengan tetap harus menyesuaikan kondisi wali murid dan siswa, sehingga waktunya pun tidak bisa saya tentukan sendiri. Karna bagaimanapun, kami sebagai guru harus mengerti dengan kesibukan wali murid.

Saya  sempat merenung, videocall dengan 46 siswa dalam kurun waktu empat hari dengan waktu yang tidak bisa saya tentukan sendiri. Sedangkan pembelajaran setiap hari melalui group whatsapp juga tetap harus berjalan. Menyiapkan materi, membuat video pembelajaran, membuat modul untuk tugas siswa, memberikan talaqi tilawah, mengoreksi tugas siswa, memberikan feedback dari masing-masing tugas siswa, belum lagi administrasi guru yang harus disiapkan, seperti promes dan RPP. Apakah bisa ???

Saya teringat katika awal mulai memasuki tahun ajaran baru, di hari pertama dan terakhir Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di sekolah kami dilaksanakan secara virtual dengan zoom meeting. Saya pun akhirnya berfikir untuk menggunakan zoom meeting juga  sebagai pengganti videocall, namun sepertinya hanya bisa digunakan selama 40 menit saja untuk zoom meeting yang gratis. 40 menit tidak cukup untuk proses pembelajaran, belum lagi diawal pasti masih harus menunggu siswa yang tidak bisa tepat waktu dalam bergabung. Kemudian saya mulai berfikir lagi, kira-kira aplikasi apa yang memiliki fungsi yang sama seperti zoom meeting yang bisa dimanfaatkan untuk proses pembelajaran Wafa. Lalu Allah SWT memberikan petunjuk kepada saya, terlintas dipikiran saya untuk menggunakan media yang serupa dengan zoom meeting yakni google meet. Mulailah saya mencari tahu tentang si google meet ini. Dan ternyata bisa digunakan tanpa ada batasan waktu juga gratis.

Tanpa berpikir panjang, di pekan pertama saya mulai mencoba menggunakan google meet, pertama kali menggunakan google meet saya aplikasikan pada kelompok Wafa saya kelas 1. Alhamdulillah, antusias wali murid kelas 1 sangat baik, 80% siswa bisa bergabung di ruang pertemuan google meet, Sedangkan 20% siswa yang belum bisa bergabung di google meet bisa saya hubungi melalui videocall. Proses pembelajaran berjalan dengan lancar, meskipun masih ada beberapa hal yang dinilai kurang efektif saat itu, seperti saya yang belum berhasil untuk share video karena keterbatasan diri saya, juga suara antar siswa kelas satu yang masih belum terkontrol sehingga penyampaian materi saya kurang optimal. Namun, permasalahan ini pasti bisa diatasi seiring dengan berjalannya waktu. Karna menurut saya, dengan menggunakan media daring google meet seperti ini, siswa akan merasakan tatap muka walaupun dalam dunia maya, kita bisa berinteraksi secara langsung dengan mereka sehingga siswa dapat bertanya langsung mengenai materi atau hal-hal yang mungkin belum mereka pahami. Dan sampai saat ini, google meet masih menjadi pilihan saya sebagai media yang saya gunakan untuk proses pembelajaran wafa.

Segala sesuatu pasti ada kelebihan dan kekurangan, termasuk juga penggunaan google meet ini, namun setidaknya bisa memberikan keringanan kepada saya. Bisa dibayangkan, seandainya saya harus videocall dengan 46 siswa dari 3 kelompok di setiap pemberian konsep materi, sedangkan satu kelompok bisa menjadi 3-5 kali videocall. Menurut saya ini sangat membuang waktu dan tenaga, karna dalam situasi pandemi seperti ini kita juga harus adil dengan tubuh kita sendiri, menjaga pola makan dan memberikan istirahat yang cukup.

Saya akan terus belajar dan mencari fitur-fitur baru yang bisa dimanfaatkan untuk proses pembelajaran agar tercipta pembelajaran yang maksimal, termasuk bagaimana agar bisa share video di google meet, bagaimana agar bisa melihat audiens (siswa) saat kita sedang mempresentasikan materi ke siswa, dan hal lain yang belum saya ketahui. Satu hal yang harus kita ingat, bahwa Allah SWT pasti memberikan jalan keluar dari setiap masalah hambanya. Tugas kita hanya patuh dan ikhtiar semampu kita, terus belajar dan jangan membatasi diri. Semoga pendemi ini segera berakhir, Allah angkat virus Covid-19 ini dari muka bumi dan pendidikan bisa berjalan dengan normal kembali. Aamiin..

_
Penulis : Siti Kurnia – SDIT Ar Ruhul Jadid