Bersama Wafa, Membangun Moderasi Qurani

Tak mudah menerima suatu kebaruan dalam pranata yang telah berjalan lama. Demikian pula menerima WAFA di tengah masyarakat Madura yang telah terbiasa dengan metode Bagdadi yang melegenda. Tapi sungguh, WAFA menjadikan kami harus belajar mengimplementasikan moderasi dalam sisi yang berbeda. Yah,  moderasi Qurani. Moderasi dalam mengaji.

Gaung moderasi di Kementerian Agama  menjadi sumber inspirasi agar tidak menjadikan metode mengaji yang bervariasi sebagai sarana pemecah belah umat. Toh tujuan yang ingin digapai sebenarnya sama yakni rido ilahi. Bukan rahasia umum jika beberapa oknum masih saja suka mengait-ngaitkan perbedaan metode terkait paham keagamaan yang berbeda. Mereka dengan mudah mengklaim metode yang mereka gunakan sebagai metode paling benar, paling fasih dan paling-paling lainnya. Tak mudah memberikan masukan berupa pendapat obyektif pada orang yang sudah telanjur menananamkan klaim di pikirannya. Oleh karena itu, dengan metode WAFA yang menerapkan prinsip Quantum Teaching dalam prosesnya diharapkan bisa menjadi metode baru yang aplikatif dan moderat. Menjadi hal yang niscaya bagi para guru al-Quran  untuk mengawali niat belajar al-Quran dengan ketulusan hati demi mengagungkan kalam Ilahi. Hal penting lain yang harus dipersiapkan adalah mempersiapkan siswa sebagai para pembelajar al-Quran untuk memulai hal yang sama. Tujuan utamanya tentu agar pembelajaran al-Quran tak hanya menjadi sebuah pembelajaran ansich, namun menjadi sebuah kegiatan menyenangkan yang bernilai ibadah.

Penghujung tahun 2017, sebagai koordinator bidang kurikukum di MIN 1 Bangkalan, saya dibuat pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, hasil survey Kualita Pendidikan Islam (KPI) terhadap beberapa sekolah Islam di Jawa Timur, menunjukkan bahwa beberapa sekolah termasuk sekolah kami merupakan lembaga pendidikan Islam yang belum menggunakan metode mengaji yang terstandart. Artinya validitas kualitas baca al-Quran siswa juga diragukan. Kami memang belum menerapkan satu metode tertentu sebagai tolok ukur keberhasilan siswa dalam membaca al-Quran. Sehingga standart BAIK siswa kami dalam membaca al-Quran menjadi tidak obyektif dan tidak valid karena tidak ada alat pengukur standart. Masih terngiang ketika trainer KPI kala itu mengingatkan : “jangan-jangan baik menurut gurunya saja”. Seketika itulah kami menyadari urgensi penetapan sebuah metode dalam lembaga resmi tidak hanya sebagai pelengkap, tapi bahkan merupakan suatu kewajiban. Terlebih visi madrasah kami adalah mencetak generasi yang Islami dan Qurani. Sebuah ironi yang membuat kami terlecut untuk berbenah diri dan segera menentukan metode mengaji yang terstandar.

Akhirnya, hasil musyawarah dengan kepala madrasah dan saran dari tim mitra di KPI Surabaya, kami memberanikan diri menggunakan platform WAFA. Pada awalnya banyak yang tidak menyetujuinya. Selain belum familiar di wilayah Madura, beberapa orang tak sependapat dan memberikan alternatif metode mengaji lain yang memang sangat variatif. Saat itu yang banyak digunakan di daerah kami adalah metode Qiroati, Tilawati, Ummi, dan Baghdadi. Meski WAFA sudah didirikan oleh YAQIN dari tahun 2012, tapi kami sama sekali belum familiar saat itu. Kami mempelajari kelebihan metode WAFA dari beberapa sumber. Hal positif yang bisa kami rangkum  diantaranya  bahwa metode WAFA menghadirkan sebuah proses pembelajaran al-Quran yang sistemik, integratif dan komperhensif. Metode WAFA mencakup 5 T yang terintegrasi dalam proses pembelajaran yakni Tilawah, Tahfiz, Tarjamah, Tafhim dan Tafsir. Metode WAFA juga mengggunakan aspek multisensorik serta optimalisasi otak kanan yang mampu mengendapkan memori jangka panjang (long term memory). Berdasarkan banyak hal positif tersebut, akhirnya kami meputuskan untuk menggunakan metode WAFA sebagai metode mengaji di MIN 1 Bangkalan. Dukungan kepala madrasah yang luar biasa sangat membantu kelancaran implementasinya, sehingga kami seluruh guru MIN 1 Bangkalan –saat itu masih bernama MIN Kamal- mendapatkan pelatihan intensif guru al-Quran WAFA. Implementasi tak semudah ekspektasi. Dalam perjalanannya, tentu banyak sekali kendala yang kami temui di lapangan. Setahap demi setahap kami melaluinya dengan tekun. Dengan jumlah murid yang lumayan banyak, saat itu kurang lebih 569 murid beserta 25 guru,  kami harus memetakan kemampuan mengaji mereka. Berkat bimbingan dari tim WAFA, kala itu ada Ustadz Adhan Sanusi dan Ustadz Wawan Fitriono, kami memulai inisiasi implementasi metode WAFA di lembaga kami. Hampir seminggu lebih kami menata kelas berikut administrasi persiapan WAFA melalui placement test menggunakan lembar uji khas WaFA. Tim khusus guru Tahsin dilibatkan untuk melakukan uji kemampuan membaca al-Quran dari siswa kelas 1 hingga kelas 6 yang berjumlah kurang lebih 20 rombel. Alhamdulillah biaunillah kami berhasil memetakan siswa dalam kelas-kelas WAFA sesuai dengan kemampuan baca al-Quran mereka. Hal ini ternyata juga sangat membantu guru mapel al-Quran Hadis dalam pembelajaran mereka di kelas. 

Setelah terpetakan dengan rapi, kemudian kami menentukan tim guru al-Quran yang mendampingi kelas-kelas tersebut berdasarkan hasil pemetaan TIM WAFA. Ya, sebelumnya dalam pelatihan WAFA kami para guru sudah dipetakan berdasarkan kemampuan membaca al-Quran. Jujur, saat itu hanya satu orang teman guru yang lulus dan mendapatkan sertifikat mengajar WAFA. Sebagian besar lulus di buku lima, buku empat dan sedikit di buku dua. Dalam prakteknya, kami hanya tinggal menyempurnakan kualitas bacaan saja dari segi fasahah dan sifat-sifat huruf.  Untuk yang sangat urgen seperti panjang pendek bacaan dan hukum Tajwid, para guru dinyatakan lulus. Menurut beliau para trainer WAFA yang membimbing kami, untuk sementara kami diperbolehkan mengajar sesuai dengan taraf kemampuan hasil pemetaan. Umpamanya guru yang lulus di buku tiga,  diperbolehkan mengajar hanya sampai buku tiga. Demikian seterusnya, sehingga kami bisa menjalankan metode ini bersama seluruh tim kami. Untuk menyempurnakan kualitas guru, kami akan diupgrade lagi nantinya.

Akhirnya tibalah hari H kami memperkenalkan metode WAFA kepada siswa-siswa kami. 
Sambutan mereka antusias luar biasa terasa. Mata saya kaya roda menggema di setiap agenda. Alhamdulilah, agenda utama kami untuk menjadikan metode WAFA sebagai metode baca al-Quran di lembaga kami berjalan lancar. Senang sekali rasanya mengaji dengan ceria dan bahagia. Tentu banyak hal yang harus kami kaji dan perbaiki. Dua tahun pertama kami menemukan banyak kendala. Madrasah Negeri seperti lembaga kami memang memerlukan evaluasi dan perbaikan yang terus menerus. Diantara kendala yang paling nyata adalah sulitnya mencari waktu khusus agar kualitas mengaji para siswa tetap terjaga. Intensitas pertemuan juga harus rutin. Padatnya jadwal dan tuntutan kurikulum madrasah menjadikan kami harus mereschedule agar WAFA bisa berjalan optimal. Pada awalnya kami hanya menjadwalkan di hari Sabtu, hingga akhirnya kami jadwal ulang setiap hari sebelum pembelajaran resmi dimulai. Jadi setelah shalat Dhuha, anak-anak akan belajar sesuai kelas WAFA di tempat-tempat yang telah ditentukan. Kendala lainnya adalah beberapa siswa banyak yang mengaji diniyah sore di TPA masjid atau madrasah di luar sekolah.  Ternyata di tempat mengaji, anak-anak mendapatkan metode yang berbeda. Hal yang terdeteksi pada awalnya adalah nada baca Hijaz  yang terkontaminasi dengan dengan nada-nada metode mengaji yang lain. Pada dasarnya hal itu tidak kami permasalahkan karena yang penting kualitas mengajinya yang kami perhatikan. Disinilah, kami memegang erat konsep dasar moderasi. Tentu menjadi ganjil, jika kami melarang para siswa mengaji dengan metode yang lain. Justru, dengan demikian, mereka menjadi lebih memahami variasi metode baca al-Quran. Namun, konsekuensi logis tentu ada. Ternyata tidak mudah bagi kami untuk meluruskan kembali agar kembali pada pakem Hijaz WAFA. Intensitas mereka yang tentunya lebih banyak di TPA atau diniyah, tentu membuat kami jungkir balik memperbaiki nada Hijaz WAFA yang menjadi ciri khas yang tentu tak boleh lepas. Inilah bentuk nyata moderasi Qurani. Kita harus tetap memegang teguh ciri khas, namun tak perlu menafikan yang lainnya. Toh kami bersyukur karena nada Hijaz yang easy hearing sangat mudah diingat oleh anak-anak.

Hal utama yang belum juga berhasil kami implementasikan hingga hari ini adalah Munaqasyah langsung dari TIM inti WAFA. Perbaikan terus kami upayakan, namun masih banyak hal yang menghalanginya. Saat pandemi melanda, kami sempat vakum karena pemberlakuan kurikulum darurat dengan jam belajar minimalis. Tahun ini kami mulai mengintensifkan mengaji online, terlebih WAFA juga sudah menyediakan aplikasi online yang sangat membantu kami.  Memang, tak mudah merealisasikan idealitas di tengah heterogenitas. Bukan tak bisa, tapi memang butuh waktu yang tidak sebentar dan terkesan stgnan di tempat. Lembaga negeri dengan berbagai keterbatasan kendala aturan kurikulum, menjadi kesulitan tersendiri yang sampai hari ini seolah tak teratasi. Namun, semangat kami untuk tetap mengusung WAFA sebagai standar keberhasilan baca al-Quran tetap kami upayakan. Tahun 2020 kemarin, para guru MIN 1 Bangkalan kembali mendapat Upgrading ilmu al-Quran dari Tim WAFA. Beberapa perbaikan kami lakukan di banyak lini meski berada dalam kondisi pandemi. Semoga niat kami untuk mengawal generasi Qurani dalam iklim moderasi tetap membara. Mewujudkan impian bersama WAFA, membangun generasi mulia selamanya. Aamin.

_
Penulis : Rurin Elfi Farida, SHI., M.PdI, M. Pd. – MIN 1 Bangkalan

Usaha dan Do’a akan Membuahkan Hasil

Berbagai kafilah datang dengan robongannya masing-masing. Hanya saja kafialah-kafilah itu tidak datang dengan mengendarai unta, karena tempat ini memang bukan padang pasir. Melainkan sebuah tempat yang katanya, sama dengan mempermudah jalan menuju surga. Tuhanku sendiri mengatakan seperti itu. Sebgaimana potongan hadits yang diriwayatakan oleh Abu Hurairah Ra, Rasullulah Saw bersabda:

“Man salaka thariqan yaltamisu fiihi I’lman sahhalallahu lahuu bihi thariqan ilaljannah”

“Barang siapa menemuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya.” (HR. Muslim).

Dari yang keluaran paling terbaru, motor yang bodinya buncit-buncit, hingga motor dan mobil sejuta umat, silih bergantian memasuki sebuah tempat yang asal muasalnya dicetuskan oleh Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau dalam buku sejarah lebih sering kita kenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Ya, sekolah. Tempat yang seharusnya menjadi tujuan mempercepat langkah menuju surga.

Namun tidak semua hamba-hamba yang datang ketempat ini berniat untuk menuntut ilmu. Ada yang datang menjadi Firaun, memamerkan segala benda mahal yang dimilikinya. Ada yang datang untuk bersaing dengan istrinya Abu Lahab, dari awal menginjakkan langkah pertama di gebang masuk, mulutnya bebuih membicarakan keburukan guru atau siswa lainnya hingga pulang. Namun tidak sedikit juga yang memiliki keseriusan belajar laksana Abu Hurairah.

Kulangkahkan kakiku dengan penuh ketakziman, kuluruskan niatku untuk mengajar anak-anak di kelas, agar anak-anakku meraih kemudahan dan kefahaman dalam belajara dan menghafal al-qur’annya, dihari pertama ngajar, saya hanya mengamati bagaimana karekter setiap anak didik yang akan saya hendel dan saya ajari. Karena saya ngajarnya dirumah tahfidz maka banyak anak-anak dari kalanagan umum yang masuk di sekolah tersebut. Tertanya didalam keles ada satu anak yang berumur 3,5 tahun karena iya berasal dari TK umum bukan TK dari tempat saya ngajar maka butuh bimbingan khusus untuk anak ini, karena dia belum terbiasa dengan menghafal al-qur’an. Suatu hari anak ini berulah masalah kebetulan saya yang bertugas untuk mengkondisikan anak-anak didalam kelas tersebut, setelah melaksanakan sholat ashor anak ini ingin keluar dari kelas karena saya tidak mengejinkan keluar maka dia tidak berani keluar, akan tetapi dia malah mencopot  gambar tulisan huruf hijaiyah yang dikasih warna oleh temen-temennya yang ditempel didinding kelas,saya tegur dia, dia malah mengeluarkan jurus handalnya yaitu dengan cara menangis, melihat anak tersebut menangis saya merasa iba dan kasihan jadi saya biarkan saja dia mencopot gambar-gambar tersebut, dan teman patner kerja yang didalam kelas pun tidak menghirau kan saya yang lagi kesusahan mengatasi anak tersebut, belum berakhir pelajaran ketua yayasan sekolah pun masuk mengontrol setiap keadaan kelas, setelah sampai ketua yayasan di kelas yang saya hendel, betapa terkejutnya beliu melihat anak yang lagi asyik main merobek-rebek ketas yang dia copot tadi. Pelajaranpun berakher, setelah semua anak-anak pulang dijemput oleh orang tuanya masing-masing, rapat dengan ketua yaysan pun dimulai, nah disini lah saya dimarahi oleh ketua yayasan karena membiarkan anak mencopot gambar-gamabr yang ada didinding, singkat cerita sayapun ingin dipidahkan oleh ketua yaysan di kelas level 2 dimana anak-anak tersebut hafalannya sudah selesai juz 30 dilanjutkan dengan hafalan juz 29, tapi kerana patner kerja dilevel 2 tersebut laki-laki dan belum menikah, seketika rawut mukaku berubah menjadi pucat, tanganpun gemeter, sayapun terdiam tidak menanggapi perkataan beliu, Cuma dengan gerakan tubuh saya menolak dipasangkan dengan laki-laki tersebut, akhirnya saya tidak jadi dipasangkan patner kerja dengan laki-laki tersebut. Saya bertekat bahwa dalam 1 minggu saya bisa menghendel kelas dan menghendel anak-anak. Akan tetapi kisah yang saya tuangkan bukan dari anak ini melainkan dari seorang anak yang ibunya bekerja serabutan dan ayahnya bekerja di tempat perantauan, sekali sebulan baru pulang kerumah. Sebut saja namanya Ilmi

Minggu kedua masuk sekolah, anak-anak sudah aktif pembelajaran dalam menghafal, ketika itu Ilmi setoran hafalan dengan ustadzah atun dia terhenti di surah an-Naba, saya lupa ayat berapa, dikarnakan anada ilmi keliru dalam pelafalan huruf ز , jadi ustadzah atun tergur dia utuk memperbaikinya, sudah beberapa kali mencoba melfalkan huruf tersebut akan tetapi tidak berhasil, akhirny dia berhenti diayat tersebut. Besoknya bundanya datang bercerita kepada kami bahwa ananda ilmi kemarin selesai ngaji datng kerumah langsung menangis, bundany pun bertanya kepada ilmi “kenapa kamu menangis, apakah di sekolah ada yang mengganggu”, dia pun menjawab dengan air mata berlinang “aku kasihan dengan ustadzah yang mengajariku membaca dan menghafal al-qur’an karena aku tidak bisa-bisa melafalkan huruf hijaiyah dan panjang, pendeknya pun masih banyak yang keliru, aku sudah mencobanya tapi aku tetap tidak bisa, makanya aku menangis karena kasian dengan ustadzah yang susah payah mengajariku”. Masya allah betapa mulianya hati ananda ilmi ini kami sebagai gurunya menjadi terharu setelah mendengar cerita bundanya, bundanya berpesan kapada kami tolong jangaan busen mengajari anak kami karena kami sebagai orang tuanya tidak bisa mengajarinya hanya dia yang bisa kamiharapkan bisa mengaji disekolah ini, selesei berbincang-bincang dengan bundanya ilmi kamipun mengucapakn terimakasiih sudah mempercai anak beliu sekolah ditempat kami dan meminta do’a agar ananda ilmi diberi kemudah dan kepahaman dalam belajar dan menghafal al-qur’an.

Keesokan harinya saya dan temen-temen yang mengajar disana selalu memberi bibingan kepada anada ilmi dan memberikan semangat agar tidak busen-usennya belajar, kata saya “jangan bersedih karena kita ngajinya masih terbata-bata, sesungguhnya allah itu sayang dengan kita, dengan terbata-bataanya bacaan kita maka kita buh berulang-ulang kal untuk membenaarkan bacaan kita, satu huruf allah ganjarkan dengan pahala sepuluh kali lipat bayang kita membacanya berulang-ulang maka pahala kitapun banyak”.

Hari berganti hari, minggu pun berganti minggu seirinya waktu berjalan ananda ilmi pun lebih giat belajar ketika dia salah mengahafal kami betulakan besoknya dia stor ulang  hafalnya lebih baik hafalannya dari pada kemarin, alhamduliilah bulan aprel tahun 2020 kemarin dia ikut lommba tahfidz tinggkat kabupaten dia merayih juara 3, dan hafalnya di bulan aprel tahun 2020 sudah mencapai 3 juz.

Allah tidak akan merubah nasib hambanyaa kecuali hambanya itu sendiri yang merubahnya. Berusahalah yang giat selagi itu dijalan kebenaran, dan bersabarlah, ikhlas dan tawakkal kepada allah segala apa yang kita usahakan, dan jang lupa berdo’a kepada allah apa yang kita usahakan, seandainya allahpun belum manggabulakan setidaknya kita dapat pahala atas do’a kita. 

Dilain temapat, ini cerita penagalam dari teman saya yang bernama Siti Rahmida.

Diawal tahun 2020 merebaknya virus covid-19 atau bisa disebut virus corona yang menjadi catatan sejarah dunia. Bermula dari negara cina sampai menyebar ke negara indonesia. Selain hanya memakan korban jiwa, covid-19 juga mengancam adanya krisis ekonomi global.

Di indonesia jutaan orang terancam kehilangan pekerjaan merika ditengan penerapan pembatasan sosial berskala besar ( PSBB) demi memutus rantai penyebaran virus corona. Kerugian yang dialami , misalnya pengahasilan para pedagang yang drastis menurun, para buruh serta guru yang hampir kehilangan pekerjaannya karena diistirahatkan untuk sementara berhubung dana untuk menggaajih para buruh dan guru tidak mencukupi. Virus corona ini menyebabkan hampir seluruh dunia lembaga pendidikan diliburkan oleh pihak pemerintah agar mengurangi menyebaran virus yang sangat membahayakan.

Siti Rahmida sebagai pengajar juga merasakan kegelisahan yang mendalam terhadap apa yang menimpa negeri ini. Sekolah diliburkan untuk belajar tatap muka dalam jangka waktu yang panjang. Waktu demi waktu berlalu, mulailah rasa kebusanan itu muncul dihaati Siti Rahmida. Berbagai macam kegiatan-kegiatan yang penah dijalani, kini telah tetunda. Karena sebelum terjadinya pandemi ini, di sekolah sangat ramai anak-anak belajar di dalam kelas. Selain kegiatan belajar, mengajar anak-anak juga sering pergi mengunjungi pepustakaan untuk membaca buku disana. Pada saat jam istiraha halaman sekolah dipenuhi oleh anak-anak yang bermain. Misalnya bermain sepak bola, lopat tali, bulu tangkis, engklek, asinan dan lain-lain.

Saat pembelajaran dimulai, sekolahpun bergemuruh dengan suara anak-anak yang sedang belajar, mengaji, menghafal surah serta hadits, bernyanyi, bercanda ria dengan tema-temannya, dengan guru makan bersama sambil menonton video tentang kisah nabi dan kisah-kisah islami lainnya, sholat berjama’ah yang dipimpin oleh salah stu siswa,qailullah bersama di dalam kelas, mabit, kegiatan pramuka, outbound, market day (belajar jual beli menurut islam) yang dipenuhi anak-anak dan para orang tua. Semua aktivitas yang dijalani di sekolah telah menjadi kenangan oleh semua ustadz-ustadzah dan juag anak-anak didik. Oleh karena itu kenagan yang lalu bisa mengobati rasa sedih dan rindu yang berkecamuk didalam hati.

Sebelum pandemi, diawal tahun ajaran baru anak-anak bersemangat sekali masuk sekolah dengan harapan bisa pergi kesekolah yang baru untuk bertemu dengan ustadz-ustadzah yang belum dikenal, teman-teman yang baru, kelas baru, dan memakai seragam baru, serta membawa peralatan sekolah yang lengkap. Semua itu terliahat dari wajahnya yang ceria dan bahagia saat memasuki sekolahnya. Saat pengenalan lingkungan sekolah mereka mengikuti semua aktivitas yang diarahkan oleh ustadz-ustadzahnya dengan baik .

Namu sekarang jauh berbanding terbalik, koma dimana masa pengenalan sekolah disaat pandemi hanya diaadakan secara online yang diambil video oleh ustadz-ustadzah kemudian dikirim melalui grup whatsapp. Pada pembelajaran wafa biasa dilaksakan didalam kelas atau diluar kelas yang suasananya seju, indah, dan tenang yang bertempat disaung-saung atau dirumahan kecil yang sangat cocok untuk dijadikan tempat pembelajaran wafa. Sekarang pembelajaran wafa hanya bisa dilakukan dipalikasi zoom meeting dengan waktu yang terbatas, orang yang terbatas, dan tidak bisa memberikan pembelajaran secara efektif.

Saat melakukan pembelajaran online, Siti Rahmida tidak dapat membuat chemistry (hubungan bati) terhadap anak didik, yang hanya saya dapat ketika pembelajaran tatap muka. Saat pandemi ini para ustadz-ustadzah dipaksa untuk menguasai ilmu teknologi yang dimanfaatkan untuk proses belajar mengajara yang lebih optimal. Beruntungnya saat ini teknologi berkembang semakin maju. Karena mampu meberikan solosi untuk berbagai kebutuhan hidup. Salah satunya kemajuan teknologi adalah dalam bentuk sekolah online. Dengan diadakannya sekolah online dunia pendididkan pun bisa terjalani.

Dengan berjalannya waktu keluhan demi keluhan dari orang tua anak didik bermunculan, karena proses belajar menagajar yang sudah lama diliburkan, kini kebijakan dari pemerintah melakukan proses belajar mengajar dengan cara BDR (belajar dari rumah). Adapun aplikasi yang digunakan ketika pembelajaran seperti whasapp, zoom meeting, youtobe, dan lain-lain. Namun tidak semua orang tua anak didik siap menjalani pembelajaran dengan cara yang baru. Karena sebagian orang tuanya tidak menguasai dengan dunia teknologi. Dengan demikian pendidik dituntut untuk menghasilkan ide-ide kriatif agar tercipta proses yaang interaktif dapat dipahami, dan diterima oleh anak didik dan orang tuanya.

_
Penulis : Husnaniah – SDIT Ihsanul Amal Alabio

Pengalaman Dari Kuliah Sampai Mengajar

Menjadi penghapal Al-Qur’an memang sangat membahagiakan bagi kita semua karena akan menjadi hujjah kelak nanti di hadapan Allah SWT dan dengan menghapal Al-Qur’an semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. 

Awal mula, menghafal Al-Qur’an adalan saat memasuki dunia perkuliahan di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an. Sebelumnya, saya berpikir menghafal Al-Qur’an itu sulit dan begitu terasa melelahkan saat melihat betapa tebal pedoman umat Islam ini.  

Keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih berkualitas lagi tatkala mengikuti jejak adik saya memutuskan berkuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai. Ia baru menyelesaikan pendidikannya di jenjang Madrasah Aliyah. Dan, Berkat dorongan orangtua yang menyanggupi membiayai kuliah, berani melangkah masuk ke masa perkuliahan. Dalam bayangan saya banyak rencana tersusun rapi guna tidak ingin mengecewakan kerja keras orangtua. Salah satunya menghafal 2 ayat atau lebih sehari untuk mengejar target minimal yang telah disyaratkan oleh pihak kampus.   

Awal-awal menghafal di masa perkuliah di mulai dari juz 30 dari surah-surah yang pendek, lalu ke juz 29 yang sudah mulai surah panjang-panjang, tapi alhamdulillah saya bisa menghafalnya. Berlanjut ke surah pilihan seperti surah Sajadah, Al-Waqi’ah, Yasin, dan Ad-Dukhan karena surah-surah amalan rutinan di setiap malam. Jika sudah melalui juz 30, 29 dan surah pilihan akan diperbolehkan menghafal dari juz 1 sampai seterusnya. 

Teman seperjuangan merupakan orang-orang yang paling mempemgaruhi saya dalam menghafal Al-Qur’an. Saya dan beberapa teman-teman penghafal Al-Qur’an memulai dari nol. Tekad saya membara saat teman seperjuangan menyetorkan hafalannya dua halaman dalam sekali stor bahkan lebih dari itu. Saya melakukan intropeksi diri dan berkata dalam hati, “Dia bisa stor hafalan sampai lebih dari 2 halaman, kenapa saya tidak?”

Maka, di sinilah saya giat menghafal. Menurut pendapat kebanyakan orang waktu paling ampuh dalam menghafal pada waktu Magrib dan Subuh. saya coba menghafal pada masa yang dianjurkan dengan membiasakan satu halaman setelah shalat subuh, lalu jam 9 atau jam 10 pagi mengulang hafalan. Begitu juga, setelah shalat magrib menghapal satu halaman, lalu selesai shalat isya mengulang kembali agar lebih kuat hafalannya. Menurut pengalaman saya dalam menghafal satu halaman jika tidak ada pengulangan maka hafalan akan hilang dan tidak bisa distorkan ke Instruktur Tahfiz.

Lingkungan dan teman yang baik sangat mempengaruhi segala aspek kehidupan. Termasuk berada diantara ahli Qur’an yang sangat mendukung perjuangan saya sebagai penghafal Al-Qur’an dan menjadi jalan motovasi saya menghadapi berbagai kesulitan yang melanda.

Saya bergabung dalam lembaga Sekolah Islam Terpadu Ihsanul Amal dipertengahan bulan september kala sidang skripsi telah sukses dilewati dan menunggu untuk merayakan perjuangan perkuliahan. Satu minggu pertama masuk ke sekolah ini hanya melihat proses ustadz dan ustadzah mengajar. Dan, belajar bagaimana cara mengajar yang baik dan menkondisikan kelas agar para siswa bisa fokus untuk menyimak materi yang di sampaikan ustadz dan ustadzah.

Dalam melakukan pembelajaran kita harus dari awal bersikap tegas, bukan berarti marah-marah. Dengan ketegasan agar anak-anak  segan pada kita dan mereka akan patuh pada teguran jika mereka melakukan kesalahan yang tidak wajar. Anak-anak akan semaunya ketika ketika ketegasan tidak dilakukan diawal pertemuan. Mereka juga akan menutup telinga segala masukan dan teguran yang diberikan. 

Dalam proses mengajar kita harus selalu belajar kepada yang lebih ahli dan lebih berpengalaman, karena yang lebih ahli dan berpengalaman ini lebih banyak mempunyai jurus jitu dalam mengkondisikan kelas. Oleh karena itu, satu tahun pertama saya memang agak kesulitan dalam mengkondisikan kelas dan saya juga berusaha terus belajar, seperti bagaimana melihat wali kelas mengajar, dan tepuk-tepukannya bagaimana wali kelas itu saat mengajar. Guru-guru baru pun terus diberi pelatihan agar bisa mengajar dengan baik sesuai standar.

Alhamdulillah, di tahun kedua mengajar ditempatkan masih di kelas 1. Saya sudah lebih percaya diri dalam mengajar dan lebih bisa mengkondisikan kelas agar tetap fokus dan menyenangkan dalam mengajar. Pada masa musim pandemi ini, segala kreatifitas kita harus dikeluarkan agar pelajaran Al-Qur’an tetap asik dan menyenangkan bagi siswa walaupun secara online.

Dan pada tahun ini tahun ketiga saya mengajar pada ajaran 2021-2022, adalah sebuah tantangan untuku karena di tempatkan menjadi guru Al-Qur’an di kelas 6 yang karakteristik siswanya berbeda dari kelas 1 dan cara mengajarnya pun sangat jauh berbeda. Asalkan mau belajar dan terus belajar insya Allah akan dimudahkan segala urusan oleh Allah dan tetap selalu melakukan yang terbaik serta semaksimal mungkin agar mendapatkan hasil yang baik dan maksimal juga.

_
Penulis : Syahid – SDIT Ihsanul Amal

Al-Qur’an Pegangan Hidupku

Saya termotivasi mendidik anak-anak untuk belajar Al-Qur’an ketika saya mengingat masa lalu yang belum bisa membaca Al-Qur’an. Saat itu usia saya berumur 12 tahun. Saya ingin sekali sekolah ke pondok pesantren Rasyidiah Khalidiah (RAKHA) yang ada di Amuntai. Namun syarat tes yang harus di ikuti adalah bisa membaca Al-Qur’an dengan benar. Saya pun berpikir bagaimana caranya agar bisa membaca Al-Qur’an dengan benar, minimal mengetahui makhraj huruf dan panjang pendeknya dulu menurut saya. Saya pun belajar dengan saudara perempuan saya yang bernama Siti Bulkis, dan dilanjutkan belajar dengan kakak saya yang bernama Ahmad Muzakir. Akhirnya saya pun sedikit demi sedikit mampu mengingat dan melafadzkan huruf-huruf hijaiyah walaupun belum begitu fasih, namun dengan semangat yang besar serta dorongan dari orang tua, saya pun bisa membaca Al-Qur’an. Hari-hari pun dilalui, kemudian saya mengikuti tes di pondok, dan akhirnya saya dinyatakan lulus oleh pondok pesantren Rasyidiah Khalidiah (RAKHA) bahwa saya boleh sekolah dan belajar disana.

Hal yang membuat saya termotivasi untuk mengajarkan Al-Qur’an adalah mengingat masa lalu saya yang sudah lulus kelas 6 belum juga bisa membaca Al-Qur’an, dan bagi saya anak-anak sekarang sangat beruntung sekali, baru duduk di kelas 1 SD sudah bisa membaca Iqra, atau wafa, bahkan dari PAUD sudah dikenalkan tentang huruf-huruf hijaiyah. Betapa beruntungnya mereka, namun bagi saya yang sudah saya lalui itu adalah masa lalu, saya harus bisa ikut andil dalam perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW, karena teringat apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW sampaikanlah olehmu walaupun hanya 1 ayat. 

Awal mula saya mengajar Al-Qur’an hanya ikut membantu saudara saya, karena anak-anak yang belajar Al-Qur’an cukup banyak. Buku yang kami pakai adalah buku Iqra yang dikarang oleh KH. As’ad Humam, buku beliau terdiri dari 6 jilid. Anak-anak belajar iqra setelah melaksanakan shalat magrib. Diantara mereka ada yang sudah menyelesaikan buku 6 jilid tersebut, kemudian mereka melanjutkan ke kitab Al-Qur’an. Tempat mereka belajar terkadang di rumah, dan terkadang di mushalla. Kegiatan belajar mengajar Al-Qur’an cukup lama. Akhirnya kami berinisiatif untuk membangun Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di desa kami. Saya dan kakak saya mengajak teman dekat untuk ikut membantu demi tercapainya pembangunan TPA. Kami berdua meminta izin ke kepala desa untuk mengadakan rapat. Setelah beberapa hari kemudian kami mendapat izin dari kepala desa. Kami seluruh guru dan masyarakat yang diundang mengadakan rapat di kantor kepala desa. Alhamdulillah kepala desa juga mendukung kegiatan tersebut. Kata beliau, itu ada bangunan TPA yang sudah lama tidak terpakai, dan itu bisa dijadikan tempat untuk belajar anak-anak. Berdasarkan hasil rapat nama TPA nya adalah TPA Al-Ikhlas, kenapa kami mengambil nama tersebut ? Karena awal dari pembangunan TPA adalah keikhlasan guru dalam mengajar. Bermula dari hal ini kami mengajukan TPA ke Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Taman Pendidikan Al-Qur’an (LPPTKA) beserta Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia (BKPRMI) agar TPA yang kami bangun menjadi resmi seperti TPA lainnya yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kami pun berdiskusi siapa yang menjadi kepala TPA, dan yang terpilih adalah kakak saya Ahmad Muzakir, sedangkan saya menjabat sebagai guru dan bendahara. Disamping itu pula kami membuat proposal renovasi TPA dan buku Emas untuk mencatat para donator yang membantu renovasi TPA dan gajih guru. Kami juga menarik iuran perbulan Rp. 3000,- per-anak, yang mana uang tersebut kami gunakan untuk menggajih guru. Selang waktu beberapa bulan kemudian TPA Al-Ikhlas dapat mengumpulkan uang sebesar Rp. 4.000.000,- yang didapatkan dari proposal yang kami sampaikan kepada para donator. Tak lama setelah uang terkumpul kami pun melaporkan ke kepala desa, dan dari kepala desa menganjurkan agar disimpan dulu uangnya. Kepala desa pun mencarikan dana yang berpeluang besar dari pemerintah bisa dialokasikan untuk pembangunan Taman Pendidikan Al-Qur’an. Setelah beberapa bulan kemudian TPA Al-Ikhlas pun di renovasi dengan bantuan kepala desa dan masyarakat setempat. Kami pun juga mengecek dan menghubungi LPPTKA,BKRMI agar TPA kami dapat diresmikan. Selang beberapa hari kemudian kepala BKPRMI pun dapat meluangkan waktu untuk meresmikan TPA Al-Ikhlas yang kami renovasi. Kami sebagai guru merasakan bahagia, karena TPA menjadi baru, dan kami bisa mempunyai TPA yang resmi dari Pemerintah Daerah setempat. Setiap pertiga bulan dari Pemerintah Daerah memberikan honor untuk para guru yang terdaftar. Guru-guru pun merasa senang dan gembira atas gajih yang diberikan.

Setelah lulus dari Madrasah Aliyah Rakha saya melanjutkan pendidikan untuk kuliah ke Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ), disana saya banyak belajar tentang ilmu Al-Qur’an. Banyak keutamaan-keutamaan tentang belajar Al-Qur’an dan cara mengajarkannya. Dari kesekian banyaknya yang saya dapat pegangi tentang hadits Nabi Muhammad SAW, dalam hal ini untuk memotivasi saya dalam belajar dan mengajarkan Al-Qur’an adalah Al-Qur’an nantinya akan memberikan syafa’at pada hari kiamat, kemudian sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Dari hadits ini saya sangat termotivasi sekali untuk lebih giat dalam belajar Al-Qur’an, dan ingin sekali mengajarkan lebih banyak tentang al-Qur’an kepada orang lain. Pada semester ketiga saat kuliah saya juga diberikan tawaran oleh teman saya untuk mengajar TPA di Bihman Villa yang letaknya tidak jauh dari Mesjid Raya At-Taqwa Amuntai. Saya pun akhirnya menerima tawaran tersebut, karena jadwal mengajarnya setelah shalat zuhur, saya pun juga bisa kuliah, dan mengajar di TPA yang ada di desa. Bermacam-macam tingkah laku anak didik,  bermacam-macam pula bagaimana cara menghadapinya. Dan yang terpenting bagi saya adalah mereka bisa membaca Al-qur’an dengan benar. Disamping itu pula guru-guru juga dilatih bagaimana cara mengajarkan Al-Qur’an dengan benar kepada murid, bagaimana cara menghadapi mereka dengan sabar, bagaimana cara menanamkan karakter sholeh, dan menanamkan adab-adab islami kepada murid. Banyak situasi yang tak terduga, ada anak yang tidak mau mengaji selama beberapa minggu, saya sebagai guru melakukan pendekatan ke orang tua murid dan bertanya apa sebab ia tidak lagi datang ke TPA untuk mengaji, ternyata sebabnya adalah dia digangu sama temannya. Saya pun memberikan penguatan dan solusi kepada orang tua, serta memberikan dorongan agar anak beliau tetap sekolah di TPA. Selama enam tahun berjalan saya pun diberikan tawaran oleh Sekolah Islam Terpadu Ihsanul Amal (SDIT), dan orang yang memberikan tawaran tersebut tak lain adalah kakak saya sendiri yaitu Ahmad Muzakir, kebetulan sekali kakak saya juga sudah lama ikut mengajar di SDIT.

Pada bulan November tahun 2011 saya diterima oleh Yayasan SIT Ihsanul Amal untuk mengajar disana. Selama 3 pekan saya sebagai guru baru hampir berhenti untuk mengajar, namun karena keyakinan yang kuat akhirnya saya mampu bertahan untuk mengajar di SDIT. Banyak pengalaman yang saya dapatkan dari mengajar di SDIT. Diantaranya saya juga dikirim oleh Yayasan SIT Ihsanul Amal untuk mengikuti pelatihan Al-Qur’an metode Ummi, metode Tiqrar, metode Tilawati, Story Telling dan yang sekarang adalah metode Wafa. Semakin banyak ilmu yang didapat maka semakin banyak pula potensi yang bisa dikembangkan demi menjadi guru yang professional. Menjadi guru yang profesional dibidang Al-Qur’an merupakan pondasi agar mengajarkan Al-Qur’an lebih maksimal. Kita sebagai karyawannya Allah SWT harus selalu melejitkan potensi kita, agar mengajar selalu yang terbaik, kita pun harus menjaga Kitab suci Al-Qur’an dan mengajarkan kepada anak didik kita. 

Saya di SDIT diberikan amanah mengajar wafa dan sebagai Pembina musholla. Pernah suatu ketika ada anak yang belajar mengaji dengan saya meletakkan buku wafanya dibawah lantai, saya pun memberikan pemahaman kepada murid tentang adab-adab yang harus dilakukan pada saat belajar Al-Qur’an, diantaranya dengan berwudhu terlebih dahulu, meletakkan buku atau kitab Al-Qur’an di atas meja yang agak tinggi dari lututnya. Sehingga murid tersebut pun sadar dengan apa yang saya nasehatkan. Setelah beberapa tahun saya mengajar Al-Qur’an di SDIT, saya pun mendapatkan kesempatan besar mengikuti tahsin atau memperbaiki bacaan Al-Qur’an ke Jawa Timur, tempatnya berada di Lumajang, disana ada program tahsin yang diselenggarakan oleh Pondok Tahfizh Bahrussyifa yang dipimpin oleh Ustadz Imron Rosyadi Al Hafiz (Alm). Alhamdulillah saya sempat bertemu, belajar dengan beliau dan langsung mengikuti program tahsin selama satu bulan. Banyak ilmu yang diajarkan beliau, diantaranya cara melafadzkan setiap huruf harus sesuai dengan tempat keluar hurufnya, vocal A harus sesuai dengan tahsin, seperti bunyi A harus jelas dan tidakterpengaruh bunyi E, begitulah cara beliau mengajari saya. Membaca Al-Qur’an harus dengan tartil dan sesuai dengan kaedah tajwidnya. Alhamdulillah selama satu bulan saya dapat menghafal Al-Qur’an 3 Juz dengan Tahsin. Juz yang dicapai yaitu juz 28, 29, dan 30. Saya sangat beruntung sekali mendapatkan ilmu dari beliau. Semoga Ustadz Imron Rosyadi Al Hafiz (Alm) mendapatkan surga yang terbaik. Aamiin

Sepulangnya dari Jawa Timur saya diberikan amanah sebagai Koordinator Al-Qur’an di SDIT. Semoga dengan amanah ini saya mampu menjalankannya. Banyak pengetahuan dan pengalaman yang saya dapatkan selama menjabat sebagai Koordinator Al-Qur’an di SDIT. Diantaranya saya mengetahui bagaimana menjadi leader atau pemimpin yang mampu menggerakkan tim Al-Qur’an di SDIT. Setelah beberapa tahun saya mengajar di SDIT, kemudian saya pun di pindah tugas untuk mengajar di PAUDIT. Menurut saya mau di pindah atau tidak tetap harus memberikan yang terbaik. Karena tujuan saya mengajar adalah mencari keridhaan Allah SWT, selalu berbuat baik dimanapun berada. Di PAUDIT saya diberikan amanah sebagai wali kelas dan koordinator Al-Qur’an. Berbagai informasi saya dapatkan agar PAUDIT dapat berkembang dan mendapatkan prestasi. Pada tahun ini PAUDIT mendapatkan prestasi juara III yang diselenggarakan oleh Kafa (Kontes Al-Qur’an Wafa) dengan menampilkan lagu kreatif wafa pada tanggal 24 April 2021. Alhamdulillah saya berbahagia sekali, karena yang membuat teks lagu tersebut adalah saya dan ustadz Muhammad Noor. Senangnya menjadi guru Al-Qur’an tak terhingga balasan pahalanya, jika kita niatkan kesemua ini karena Allah SWT.

Untuk kedepannya saya akan membuat karya yang lebih baik lagi agar orang-orang yang belajar Al-Qur’an, baik itu anak-anak, dewasa, maupun orang tua lebih mudah mempelajari ilmu Al-Qur’an. Belajar Al-Qur’an adalah ilmu pasti, artinya pasti menghantarkan kita kepada jalan kebaikan. Orang yang belajar satu huruf dari Al-Qur’an akan mendapatkan sepuluh kebaikan, maka semakin banyak orang yang membaca Al-Qur’an maka semakin banyak juga pahala yang didapatnya. Begitu pula kita sebagai guru, semakin banyak kita menanam kebaikan, maka semakin banyak pula kita memperolehnya. Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan, maka pahalanya sama seperti orang yang berbuat baik kebaikan itu.

_
Penulis : Ramadhan, S.Pd.I. – PAUD IT Ihsanul Amal

Mengaji Online, Siapa Takut???

Orang tua yang dikaruniai anak, sesungguhnya merekalah yang memiliki investasi terbesar untuk kehidupan dunia dan ahiratnya.  Mereka yang mengenalkan Sang Khaliq sejak dalam kandungan. Sang ayah yang selalu memberikan doa-doa indahnya setiap usai sholat kemudian ditiupkan ke perut ibu. Ibu yang setiap saat mengelus-elus perutnya yang setiap hari, setiap bulan semakin membesar. Hingga saat hari yang ditunggu-tunggu datang, hari kelahiran.  Doa dan kasih sayang mereka tetap tercurahkan kepada anak-anaknya bahkan ketika sang anak sudah dewasa. 

 

Begitu besar rasa cinta orang tua kepada anak, sampai mereka rela bersusah payah memberikan pendidikan terbaik untuk putra putrinya. Terutama dalam mempelajari dan mengajarkan Al Quran. Pertama kali yang berkewajiban mengenalkan anak dengan Rabb-nya adalah orang tua. Orang tua akan dimintai pertanggung jawaban atas didikannya kepada putra putrinya. Nabi saw bersabda, “Siapa yang mengajarkan membaca Al Quran kepada anaknya akan diampuni dosanya, dan barang siapa  yang mengajarkannya dengan hafalan di luar kepala, maka Allah akan membangkitkannya kelak di hari kiamat dengan wajah seperti bulan purnama,” (HR. Thabrani, Anas).

 

Anak-anak yang mengenal Al Quran sejak dini, diharapkan tumbuh kepercayaan terhadap Allah sebagai Tuhannya dan Al Quran sebagai firman-Nya. Keyakinan yang tertanam sejak kecil akan membekas tajam dalam hatinya hingga remaja dan dewasa. Kecintaan pada Al Quran bisa membuat akhlak menjadi lebih baik dan menjadikan anak generasi yang berakhlak Qurani. 

 

Itulah yang selalu ditanamkan pada anak-anak TK Nufi Sidoarjo. Tidak hanya memberikan pengajaran Al Quran tetapi akhlak pun juga diutamakan dalam belajar. Lewat kisah-kisah islami dari WAFA, membuat pembelajaran Al Quran semakin menarik dengan menanamkan akhlak pada anak.

 

Suatu hari dalam kelas terdengar suara nyanyian :

Mata saya kaya roda

Bentuknya bulat jumlahnya dua

Karunia yang indah dari Allah 

Harus selalu kita jaga

 

Lagu itu terdengar beberapa kali dinyanyikan. Sambil menggerakkan tangan mengikuti lirik yang dibunyikan. Anak-anak terlihat sangat senang dan antusias menyanyi dan bergerak. Usai menarik perhatian anak-anak dengan lagu tersebut, ustadzah pun melanjutkan dengan doa bersama.  

 

Belajar virtual memang memerlukan effort yang lebih. Meski sudah satu tahun lebih pandemi yang mengharuskan untuk online, tetapi cara-cara baru selalu digali supaya anak-anak nyaman dan semangat belajar.  Apalagi tipe setiap anak yang berbeda-beda. 

 

Ustadzah mengeluarkan kartu gambar mata kemudian bertanya pada anak-anak. ”Ini gambar apa?” ”Mata”, jawab mereka serempak. Kemudian tanya jawab pun terjadi. Mereka tampak senang bila merasa bisa menjawab pertanyaan ustadzah. Kemudian ustadzah menjelaskan kegunaan mata dan menyelipkan kisah sahabat Rasulullah Abdullah bin Ummi Maktum. 

 

Dimana dalam kisah tersebut menceritakan Ummi Maktum yang buta. Akan tetapi meski tidak bisa melihat, ia tetap rajin beribadah pada Allah. Ia tidak merasa sedih dan putus asa. Bahkan ia menjadi muadzin yang bergantian dengan Bilal bin Rabbah. Setiap hari Ummi Maktum selalu berangkat ke masjid menggunakan tongkatnya. Terkadang Ummi Maktum digandeng oleh sahabatnya menuju masjid. 

”Wah … hebat ya. Meski tidak bisa melihat, Ummi Maktum tidak pernah ketinggalan pergi ke masjid”, kata ustadzah. 

”Siapa yang suka pergi ke masjid?”

”Saya…”, jawab anak-anak bersemangat.

 

Begitulah ustadzah menumbuhkan semangat anak-anak dalam belajar. Secara tidak langsung anak-anak juga belajar untuk rajin pergi ke masjid. Setelah sedikit bercerita dan memotivasi anak-anak, ustadzah melanjutkan dengan belajar huruf hijaiyyah. Dengan kartu peraga WAFA, ustadzah mengenalkan huruf hijaiyyah. Ustadzah mengeluarkan kartu bertuliskan huruf ”ma”. Ustadzah menunjukkan bentuk huruf ”ma” dan membacanya, anak-anak ikut menirukan. Setelah membaca bersama-sama, kemudian ustadzah bertanya satu-satu. Ada yang langsung bisa, ada yang masih perlu diajari lagi ada yang lupa. Bagi anak yang belum familiar memang tidak mudah jika hanya satu kali. Mereka perlu beberapa kali pengulangan. 

 

Setelah huruf ”ma” lancar berganti dengan huruf ”ta”. Seperti mangkok ada titiknya dua, begitu ustadzah mengimajinasikan pada anak-anak. Setelah lancar mereka belajar menggandeng dua huruf tersebut. Ma ma, ta ta, ma ta, ta ma, kartu huruf tersebut digandeng dan anak-anak membacanya. Mereka yang lancar bisa mengikutinya. Ada juga yang perlu bimbingan khusus. Begitu seterusnya hingga sesi kedua. Anak-anak melakukan pembelajaran mengaji  melalui video call dengan dua sesi.

 

Begitulah hiruk pikuk belajar online. Apalagi tahun ajaran baru dengan anak baru. Dimana masih mengenalkan dari awal tentang aturan bermain dan belajar virtual. Anak-anak ada yang bisa mengikuti dengan lancar, ada yang senang bergerak, ada yang suka bicara ada juga yang tertib sekali. MasyaAllah … lucu sekali mereka dengan tipenya masing-masing. Ketika sedang serius mengaji tiba-tiba terpotong karena harus mendengar ceritanya. Ketika mendampingi anak yang mana perlu pengulangan lebih banyak, akan ada rasa wah … ada rasa haru tak terhingga ketika anak-anak itu menjadi bisa. 

 

Kesabaran pun sangat diperlukan untuk mendampingi anak usia dini ini belajar Al Quran. Tidak hanya mengajarkan Al Quran, namun orang tua dan ustadzah pun juga mengenalkan mereka dengan hal-hal yang baru. Belajar berbicara,belajar mengenal temannya juga belajar adab sehari-hari. Pernah suatu ketika video call ada anak yang menguap, disitulah peran orang tua dan ustadzah mengajarkan adab. Bahwa ketika menguap harus menutup mulutnya kemudian menjelaskan alasannya.  

 

Pasti ada saja positif negatif dalam semua situasi. Meski belajar jarak jauh, pencapaian mengaji anak-anak sangat bagus, diatas standart yang telah ditentukan. Itu karena jerih payah orang tua dalam mendampingi putra putrinya. Yang mana dulu ketika sekolah tatap muka mungkin sebagian besar orang tua mengandalkan pihak sekolah. Namun kini banyak sekali orang tua yang ikut terjun secara langsung mendampingi putra putrinya. Orang tua juga banyak belajar bagaimana cara mengajar dan mengajarkan kembali pada putra putrinya. 

 

Itulah salah satu hikmah dari pandemi ini. Meski banyak sekali sisi negatifnya, namun ada juga nilai dari sisi positifnya. Segala upaya semaksimal mungkin dilakukan supaya belajar tetap menarik meski virtual. Yang tak lupa juga adalah doa yang selalu dipanjatkan pada-Nya Sang Pemilik Hati, agar Allah menjaga hati untuk tetap dalam kebaikan. Hati yang tenang yang selalu berharap pada-Nya akan memudahkan langkah menuju kebaikan. Dengan kebaikan-kebaikan itu semoga Allah mudahkan untuk mendapatkan ilmu yang mudah ditransfer kepada anak-anak. 

_
Penulis : Dewi Marurroh – TKIT Nurul Fikri Sidoarjo

Semesta Berbicara

Semburat merah matahari sudah terlihat. Langkah kaki gerak iramanya berisyarat semangat. Perempuan itu nampaknya sudah siap untuk melaju kencang. Dimulainya dari dia menata tas ransel dan beberapa bingkisan yang telah disiapkan oleh ibunya, untuk bergegas kembali ke kota rantauan. Panggil saja perempuan itu dengan sebutan Nur. Aktivitasnya saat itu adalah mahasiswa semester akhir di salah satu Kampus di Karesidenan Surakarta. Dia tinggal di salah satu asrama milik Yayasan pengafal Al-Qur’an. Nur ingin sekali mengambil jurusan pendidikan. Namun, karena berbagai pertimbagan dan suatu hal, pada akhirnya Nur tidak mengambil jurusan pendidikan. Sejak kecil Nur selalu diajarkan oleh orang tuanya dan gurunya untuk mencintai Al-Qur’an, untuk terus belajar dan bisa mengajarkan Al-Qur’an. Berbagai motivasi dan pembelajaran yang diberikan oleh gurunya di saat Nur masih kecil sangatlah membekas. Hingga sampai ke titik dia harus bisa mengamalkan apa yang telah di ajarkan oleh gurunya ke orang lain. Dari situlah Nur memiliki keinginan untuk menjadi seorang pendidik. Walau ia sadar, bahwa jurusan yang kini diambil tidak sejalur dengan apa yang dia inginkan.

Suatu ketika di pagi hari pada akhir tahun 2017, ia mengantar temanya yang bekerja di Sekolah Dasar Islam Terpadu. Dalam benak hatinya, Nur bergumam “Kapan ya aku bisa sepertinya, bisa beraktivitas ditempat yang bisa terjaga Al-Qur’annya juga. Tetapi yasudahlah. Jika memang nanti jalurnya pasti Allah akan menunjukan jalannya kesana. ” 

Usai mengantarkan temannya, sampai di depan gerbang Sekolah, ada seorang laki-laki memanggil Nur dengan isyarat meminta untuk menemuinya. Beliau adalah Bapak Kepala Sekolah yang juga alumni dari kampus yang sama dan sebelumnya sudah pernah bertemu di salah satu forum lembaga kampus disaat awal mahasiswa baru. 

“Pagi ini longgar Ust?” Tanya beliau.

“Mau ke kampus Ustadz, ada apa?” Jawab Nur.

“Mau tidak mendampingi anak-anak itu?” Sambil menujuk ke arah teras yang sudah rapi dengan lingkaran mungilnya.

“Anak-anak itu sedang apa Ustadz?

“Mereka anak-anak program khusus yang sedang mengafal Al-Qu’an. Qodarullah Ustadz yang mendampingiya kecelakaan dan harus istirahat total. Saat ini belum mendapat guru pengganti. Dan anak-anak itu belum ada yang mendampingi. Programnya hanya berlangsung 1 jam saja sebelum pembelajaran kelas dimulai.” Jelasnya.

Tidak berpikir panjang, saat itu yang ada dalam pikiran Nur adalah hanya sekedar dimintai tolong di hari itu saja. “Iya Ustadz, bisa.”

“Tetapi saya tidak faham metode yang digunakan.” Lanjut Nur ragu.

 “Setelah ini Ustadzah bisa menemui Koordinator AQT. Nanti akan dijelaskan oleh beliau.” Sambil menunjuk kearah salah satu Ustadz yang sedang berdiri di lorong gerbang.

 AQT adalah sebutan untuk mata pelajaran Al-Qur’an dan Tahfidz. Singkat waktu, Nur mulai memahami metode yang digunakan di sekolah tersebut. Metode yang digunakan adalah metode Wafa, metode belajar Al-Qur’an dengan mengaktifkan pembelajaran otak kanan yang berifat komperhensif dan integratif dengan metodologi terkini yang dikemas dengan mudah dan menyenangkan.

Setelah kurang lebih sepuluh menit dijelaskan, Nur diantarkan ke anak-anak yang sudah duduk rapi membuat lingkaran. Dimulai dari dia menyapa, berkenalan dan sampai ke pertanyaan apa yang mereka dapatkan saat pembelajaran AQT. Dari situlah Nur memahami ritme dari pembelajaran Wafa. 

Konsep pembelajaran untuk menumbuhkan rasa cinta pada Al-Qur’an memang haruslah menghadirkan pembelajaran yang menggairahkan, tidak membosankan, bahkan membuat peserta didik ketagihan untuk terus belajar Al-Qur’an. Salah satunya adalah dengan menggunkan metode Wafa.

Satu jam telah berlalu, saatnya pamit dan meninggalkan sekolah. Tidak disangka Bapak Kepala Sekolah, menemui Nur dan meminta untuk kembali lagi esok hari. Sejak hari itu, aktivitas pendampingan program khusus berlangsung hingga enam bulan. Pada suatu waktu, Sekolah membuka penerimaan guru baru dan pada saat itu Nur diminta untuk bergabung. 

Sangatlah tidak mudah, proses awal Nur dalam menjalani pekerjaan itu. Berhadapaan dengan orang tua yang awalnya tidak menyetujuinya jika dia bekerja bukan di bidang program studi Hukum Ekonomi Syariah dan juga Nur belum menyelesaikan kuliah di strata satunya. 

Jalan yang dia pilih saat itu adalah dengan bermusyawarah. Pada akhinya orang tuanya ridha dan disetujui dengan berbagai syarat. Salah satu diantaranya adalah di waktu terdekat harus segera wisuda. Dan dari sisitulah dimulainya perjuangan Nur menjadi seorang pejuang dan seorang pendidik. Tidak disangka impian Nur menjadi seorang pendidik terwujudkan di salah satu Sekolah Dasar Islam Terpadu dengan cara yang luar biasa uniknya. Begitulah sekenario Allah yang memang terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Diawal menjadi seorang pendidik secara resmi, Nur merasa mentalnya mengkerdil karena masih belum bisa menerima jalur kuliah dengan realita yang ada. Namun, ada hal yang membesarkan hatinya Nur saat itu bahwa rencana Allah jauh lebih indah dan itu pasti. Boleh jadi potensi yang dia miliki di bidang Al-Qur’an adalah yang lebih utama dan maslahat untuk dia jalani. Waktu terus berjalan, Nur menemukan hal baru. Sebuah kenyamanan dan kesederhanan dalam proses mendidik seorang anak dengan berbagai karakter. 

Ada suatu cerita ketika Nur  mengajar seorang laki-laki anak didiknya, Hirman. Hampir setiap pembelajaran AQT, Hirman selalu berlarian kesana kemari dengan permainan asyiknya. Akhirmya membuat Nur berfikir hal apa yang bisa menjadikan anak itu lebih tertarik dan mau belajar lebih serius yaitu mencoba untuk mengajarkan metode Wafa dengan lebih kreatif dan mengasyikkan. Disaat bersamaan, Nur mencoba mengajak bicara dengan sangat lembut layaknya seorang ibu kepada anaknya. Layaknya seorang kakak yang berbiara kepada adiknya. Layaknya seorang dokter yang sedang berbicara dengan pasiennya. Nur juga memberikan sebuah barang yang sederhana dibalut gulungan kertas berisikan tulisan singkat “Nak, bersungguh-sungguh adalah kuncinya. Dan Ustadzah yakin, Mas Hirman bisa. Pasti bisa. Semangat!” Dengan harapan kalimat itu bisa menjadi motivasi untuk Hirman. Ternyata benar, esok harinya anak laki-laki itu jauh lebih bersemangat untuk mengikuti pembelajaran Al-Qur’an. Disamping dengan metode Wafa yang telah diterapkan, cara memberikan sentuhan khusus kepada anak adalah salah satu resep yang manjur. Hingga saat ini konsep itu selalu digunkan untuk menghadapi anak yang membutuhkan perhatian lebih. Ini adalah soal mendidik. Bahwa mendidik adalah dengan hati. Segalanya begitu nampak sempurna jika dilakukan dengan cinta. Dan cinta selalu datang dari hati yang mau menerima segala kondisi dari obyek yang kita hadapi.

Hari-hari telah membuktikan bahwa berjalan dengan kesadaran ruh dan jiwa mampu menemukan tujuan dari setiap harapan yang membuat Nur harus selalu berjuang. Tidak hanya untuk membuktikan Nur bisa, tetapi juga untuk menumbuhkan kepercayaan kepada orang-orang di sekeliling Nur bahwa apa yang ia pilih adalah sebuah kebaikan. Kesempatan adalah karunia Allah dalam usia yang terbatas. Maka yang harus Nur pilih adalah skala prioritas dalam memilih urusan dengan terus melatih potensi yang ia miliki. Ketika Nur diminta untuk mebersamai anak-anak belajar Al-Qur’an oleh Kepala Sekolah SDIT Taqiyya Rosyida, pada saat itu juga amanah dari orang tuanya untuk menyelesaikan studi pun harus diselesaikan. 

Begitulah perjalanan Nur dalam mendidik dan terus membuatnya terdidik dalam setiap proses yang dijalani. Sesuatu yang pasti adalah Al-Qur’an memang jalan penerang. Allah mudahkan dalam studi strata satu dan bisa wisuda. Allah berikan rezeki dengan berbagai macam rupa. Allah berikan kenikmatan untuk selalu dekat dengan lingkungan yang tidak terlepas dari Al-Qur’an. Jika ada kesempatan waktu, tenaga dan sangu, Nur masih ingin melanjutan perjuangan belajar lagi di bidang pendidikan agar lebih mendalami metode pembelajaran khususnya anak-anak.

_
Penulis : Febri Iswara Nur F – SDIT Taqiyya Rosyida

Dari Benci Mengajar Anak Sampai Menjadi Cinta Mengajarkan Anak Al-Qur’an

Saya Muhammad hanif islamul haq putra ke dua dari enam bersaudara di tahun 2002 lulus SD ingin sekali masuk pesantren belajar imu agama islam lebih intens, tapi apadaya keluarga kami yang penuh keterbatasan ekonomi, akhirnya masuklah saya ke smp formal di kota Solo, belajar ilmu umum yang lebih daripada ilmu agamanya, dimana anak perempuan dan laki laki campur dalam satu kelas, disitulah hati saya agak harap harap cemas karena sedari kecil saya diajarkan oleh abah umi saya pendidikan agama islam tentang ghaddul bashar (menahan pandangan terhadap lawan jenis).

Tiga tahun berlalu di SMP formal akhirnya saya lulus dan ingin melanjutkan lagi ke pesantren, tapi lagi dan lagi karena keterbatasan ekonomi di keluarga kami. Akhirnya saya masuk di sekolah kejuruan yaitu SMK mengambil ilmu elektronika, mengapa di SMK? Karena disana sekolahnya 99% laki-laki, agar saya bisa ghaddul bashar.

Tiga tahun di SMK akhirnya saya lulus, dalam hati saya merasa kurang karena ilmu dunia  sudah saya dapatkan dan ilmu agama saya kurang, kadang disaat saya sholat saya merasa hanya melakukan gerakan yang mana saya belum faham arti bacaan dalam sholat. Saya putuskan untuk kuliah di UMS mengambil mata kuliah Bahasa arab, sambil kuliah saya bekerja karena untuk membiayai kuliah.

Waktu saya kuliah itulah,  saya bisa belajar memahami bacaan sholat, bacaan Al Quranul karim, fiqih, tauhid, tarikh, dll. Semester 3 saat bulan romadhon di kampus kami ada safari dakwah, dimana saya didelegasikan di daerah pelosok kabupaten magelang di lereng gunung Merapi bagian utara daerah istimewa Yogyakarta.

Kisah dimana saya pertama kali datang di daerah dakwah ini,  yang menjadikan judul saya “benci mengajar menjadi sangat cinta sekali mengajarkan Al Quran”, karena 6 tahun sekolah di umum dan pergaulan dengan orang- orang umum menjadikan seperti saya orang umum, saya pernah batin didalam hati saya tidak mau mengajar TPA, karena mengajar anak anak sungguh membuat pusing kepala, dimana saya menjumpai TPA di daerah saya banyak anak yang gojek, lari-larian tidak mendengarkan guru gurunya, disitulah saya pernah mengucapkan nggak akan mau ngajar anak-anak.

Tetapi berbeda di daerah magelang ini jam 14.00 (jam 2 siang) saat saya mau istirahat, tiba-tiba ada suara panggilan ‘’mas-mas ayo ngaji, ayo ngaji’’ kaget saya mendengarnya, dimana kebiasaan di daerah Solo kalau TPA jam 16.00 (jam 4 sore). Seketika itu saya bangun dan keluar ada belasan anak-anak yang sudah menunggu untuk belajar ngaji.

Pertama kali mengajar saya masih canggung malu membuka dan mengawali untuk doa, karena saya belum pernah mengajar anak-anak, tetapi berbeda dengan anak-anak ini, mereka santun,tidak gojek, tidak lari-larian bahkan antusias sekali, disinilah saya merasa timbul rasa cinta.

20 hari berdakwah di Magelang, saya belajar tentang makna hidup yang sesungguhnya, arti dari pentingnya dakwah islam, saya belajar memahami adab, muamalah dengan warga yang ingin mendalami dienul islam ini. Saya terus belajar dan belajar mencintai anak-anak, karena anak-anak begitu polos, bersih dan rasa keingin tahuannya tinggi setelah saya ceritakan kisah-kisah 25 nabi, hafalan surat surat pendek dan ilmu agama islam.

Saya putuskan kembali dari safari dakwah ingin belajar ilmu agama islam lebih luas, akhirnya setelah lulus dari UMS, saya mendengar ada ma’had ‘aly tahfizhul quran bebas biaya seperti pesantren selama dua tahun, segera mungkin saya mendaftar dan masuk pesantren untuk menghafalkan Al Quran dengan target hafalan 30 JUZ.

Setiap hari menghafalkan Al Quran, saya baca dulu arti makna ayat yang terkandung didalamnya sebelum dihafalkan, alhamdulillah menambah rasa kecintaan saya dengan Al Quran. Di sela-sela waktu sore hari, saya putuskan untuk tetap mendakwahkan ilmu saya dengan  mengajar anak-anak TPA, ketika berjumpa wajah anak-anak yang ceria menjadi obat rindu dan cinta saya mengajarkan Al Quran.

Dua tahun saya di ma’had ‘aly tahfizhul quran alhamdulillah bisa menyelesaikan 30 JUZ, setelah lulus dari ma’had ‘aly tahfizhul quran saya mengajar di SDIT TAQIYYA ROSYIDA Kartasura Sukoharjo Jawa Tengah sebagai guru quran, disinilah saya mengenal WAFA belajar Al Quran metode otak kanan, cara belajar yang sangat unik dengan memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah dengan kata dan Bahasa yang unik, ada di buku 1 materi pertama ‘’ MA TA SA YA KA YA RO DA’’ disertai gambar mata anak digabungkan roda mobil beserta kisahnya.

7 tahun saya di SDIT TAQIYYA ROSYIDA Kartasura saya merasakan kemudahan dalam mengajarkan, memulai, membuka pembelajaran dengan asik memakai ice breaking yang luar biasa yang pernah diajarkan oleh para trainer pengajar ‘’metode WAFA’’ dari Surabaya, ada Ust Masyhuda dengan suara indah di murottalnya, ada juga ust didik yang lucu, dalam mengajarkan dan mengenalkan huruf-huruf hijaiyah.

Alhamdulillah sekarang saya menjabat sebagai coordinator Al Quran di SDIT TAQIYYA ROSYIDA, membersamai 20 guru quran di sekolah ini. Inilah kisah saya yang menjadikan inspirasi kepada diri ini, bahwa mengajarkan Al Quran begitu indah dan membahagiakan agar mendatangkan keceriaan anak-anak untul lebih mencintai Al Quran dan lebih mencintai Allah SWT.

_
Penulis : Muhammad Hanif – SDIT Taqiyya Rosyida

Tea(lawah)cher

Mengaji dengan tajwid sesuai kaidah benar-benar baru menjadi perhatianku saat hendak mempersiapkan pernikahan. Pernah sekali mengajukan diri untuk mengikuti privat tahsin di sebuah lembaga yang cukup terkemuka di Kota Palu, namun tidak beranjut. Bukan karena pengajar yang kurang baik, tapi niatku yang belum benar-benar utuh untuk mencari ridho Allah SWT saat itu. Sampailah pada suatu hari, setelah usia pernikahanku hampir genap 4 tahun, aku diperhadapkan dengan sebuah keadaan yang begitu sulit. Mulai dari keuangan hingga persoalan rumah tangga. Aku merasa bahwa saat itu Allah memang mau aku kembali di jalanNya. Aku begitu bersyukur atas hidayah yang menggiringku untuk kembali menge-set niat dan tujuan hidupku sebagai seorang istri sekaligus ibu dari dua anak. Sejak menikah, aku memutuskan untuk tidak bekerja dan memilih menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Setelah hampir 4 tahun menjalani profesi sebagai ibu rumah tangga, ketakutanku kembali muncul saat anak-anakku mulai terpapar efek buruk telepon pintar. Ada ketakutan dalam hatiku akan masa depan mereka. Aku merasa tidak punya apa-apa untuk aku berikan sebagai bekal hidup seorang muslim yang utuh kepada mereka.

Hari berlalu, kondisi kehidupan di tengah pandemi covid-19 kian memburuk, pun dengan keadaan ekonomi. Hingga suatu hari, saat aku tengah jenuh dengan aktifitasku yang monoton, sebuah status whatsapp milik salah seorang teman menginformasikan lowongan kerja sebagai guru di salah satu sekolah Islam di kotaku. Mataku berbinar, “mungkin ini rezeki untuk anak-anakku,” kataku dalam hati penuh semangat. Segera setelah kucatat semua persyaratannya, pergilah aku ke tempat jasa pengetikan komputer. Setelah semua dokumen siap, aku kembali kerumah dan mengajak suamiku untuk diskusi. Sebenarnya aku sudah salah memulai, seharusnya aku meminta izinnya dahulu sebelum menyelesaikan berkas lamaran ke sekolah itu. “Ah, pasti suamiku akan menolaknya,” pikirku pesimis. Rupanya suamiku sudah melihat berkas lamaranku, dan dia mengatakan, “beberapa lamaran yang sudah ku kirim belum ada satupun yang berhasil, mungkin kali ini giliranmu kembali bekerja. Mau ku temani mengantar berkasnya?” Pertanyaan suamiku begitu membahagiakan, takku sangka ternyata dia mengizinkan aku kembali bekerja. Saban waktu sholat ku panjatkan doa agar aku bisa diterima di sekolah tersebut, aku ingin ada ditengah-tengah lingkungan yang mendukung hijrahku kearah hidup yang lebih baik sebagai seorang muslim. 4 bulan berlalu, panggilan wawancara atau apapun tak kunjung kuterima.

Setelah hampir putus asa, akhirnya masuklah panggilan telepon dari sekolah yang mengabarkan bahwa aku masuk ke tahap tes tertulis sekaligus tes mengaji. Irama jantung tak lagi teratur sejak hari panggilan telepon itu. Aku sibuk mengkhawatirkan bagaimana nanti tes mengaji di yayasan tersebut. Jujur saja frekuensi interaksi dengan Al-Qur’anku begitu kurang sejak memiliki bayi. Masa-masa paling banyak kuhabiskan dengan Al-Qur’an adalah saat aku duduk di Sekolah Dasar dan cara membaca Al-Qur’an saat itu pun dengan ejaan bugis. Di masa remaja, pernah sekali ada seorang Qori daerah yang hendak berbagi ilmu tajwid, sayangnya pertemuannya hanya sekali dan tak berlanjut lagi.

Tibalah hari yang dinantikan, jantungku seakan terhenti saat namaku di panggil untuk tes mengaji oleh salah seorang Ustadz di sekolah tersebut. Malu rasanya mengaji dengan terbata-bata meski posisi yang kulamar adalah guru Bahasa Inggris sesuai dengan latar belakang pendidikanku. Saat itu aku diminta untuk mengaji di surah Maryam dan sama persis dengan yang kupikirkan, aku mengaji dengan begitu terbata-bata. Menyadari begitu mengerikannya tilawahku, aku berjanji dalam hati untuk melanjutkan belajar tajwid, lulus atau tidaknya aku ditempat ini.

Selepas sholat dzuhur, kubaringkan diriku sejenak di atas kasur di samping anak-anakku yang tengah terlelap. Sambil berbaring, kuambil gawaiku untuk sekadar mengecek chat yang masuk. Gembira dan begitu kagetnya aku melihat pengumuman, AKU LULUS! Alhamdulillah. Jujur saja, ada pertanyaan besar dalam hati, “berapakah nilai tahsinku saat tes?” Aku sangat tahu bahwa kualitas tilawahku saat itu sungguh pas-pasan. “Apa janjiku untuk belajar tahsin menjadi nazarku saat itu?” tanyaku lagi pada diri sendiri.

Setelah menjalani proses panjang, akhirnya aku sampai di hari pertama bekerja dengan status training. Ustadz yang mengetesku mengaji saat itu ternyata adalah Kepala Sekolah. Dari beliaulah aku tahu bahwa kami akan dibimbing kembali dari awal untuk mempelajari ilmu tajwid lewat WAFA Indonesia. Tidak hanya itu, aku begitu gembira dan bersyukur karena akhirnya setelah hampir 28 tahun, aku akan memiliki nada dalam tilawah yaitu nada hijaz yang memang aku senangi iramanya, MasyaAllah. Setelah sebulan mempelajari buku Tilawah, Tajwid dan Ghorib WAFA, kami diinstruksikan untuk mengikuti Pelatihan Guru Al-Qur’an oleh lembaga WAFA. Itu benar-benar merupakan pengalaman yang baik, aku manfaatkan pelatihannya sebaik-baiknya untuk menimba ilmu baru. “Aku akan jadi guru Al-Qur’an!” Kataku penuh haru dan semangat.

Rangkaian demi rangkaian kegiatan WAFA telah usai dan akupun sudah menerima hasil pemetaan level berdasarkan tilawahku yang diuji saat pelatihan. Tidak ada perasaan malu disana saat melihat level tilawahku yang masih dibawah diantara rekan kerjaku, aku hanya ingin bisa mengaji sesuai dengan ilmu tajwid dan ini usahaku ini kuhadiahkan untuk Ayah rahimahullah yang selalu memimpikan aku bisa menjadi qori’ah saat remaja dulu.

Hari itu adalah salah satu hari terbaik dan terindah dalam hidupku, senyumku merekah hatiku dipenuhi rasa haru, hari itu baru saja usai jam pelajaran tahsin, itu adalah hari pertamaku mengajar materi Makhorijul Huruf. Selama ini aku terlalu fokus menambah kosakata Bahasa Inggrisku dan membanggakan perjalanan-perjalanan pertukaran pelajar di Luar Negeri saat kuliah dulu, aku terlupa bahwa sebaik-baik muslim adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Sungguh hikmah yang sangat besar yang Allah SWT berikan hingga aku bisa mendapatkan nikmat ini yaitu bertemu dengan lembaga yang begitu perhatian dengan ummat lewat dakwah Al-Qur’an mereka.

Fiqih Aprilya, lahir 28 tahun lalu tanggal 2 April di Kota Palu. Memiliki hobi menyenangkan orang dekatnya lewat masakan dan bercita-cita jadi guru Bahasa Inggris yang Hafal 30 Juz. Saat ini sedang menjalankan amanah sebagai seorang Istri, Ibu dari Hanna dan Ahmad, serta guru di SMP Islam Terpadu Bina Insan Palu, yang ingin suatu hari melanjutkan pendidikan master dibidang Pengajaran Bahasa Inggris Bagi Penutur Asing di Universitas Queensland, Australia sekaligus guru Al-Qur’an bagi anak-anak muslim di Australia.

Senang membaca kisah tentang kehidupan serta sering menulis cerpen namun tidak pernah di publikasi. Tulisan ini adalah kisah hidup pribadi kedua yang dipublikasi dalam perlombaan setelah pertama kalinya saat penulis duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar.

_
Penulis : Fiqih Aprilya – SMPIT Bina Insan Palu

Perjuangan Para Generasi Qur’ani di Masa Pandemi

Suatu ketika saat awal ku di terima di salah satu Sekolah Islam Terpadu (SIT) yakni di SMKIT Khoiru Ummah Rejang Lebong, Bengkulu.  Bergabung pada tahun 2017, tepat pada waktu sekolah ini baru berdiri dan menerima perserta didik baru. Sekolah yang ku anggap ini adalah sebuah instansi yang mencetak generasi Qur’ani dan menjadi generasi rahmatan lil ‘alamiin sesuai yang ada di visi sekolah ini. Tentu ini suatu hal yang baru bagiku. Karena sepengetahuanku bahwa Sekolah Islam Terpadu jauh berkembang pesat manakala dengan memprioritaskan Al-Qur’an di dalamnya. Sehingga sekolah-sekolah ini banyak di minati di khalayak masyarakat luas untuk memasukan akannya di sekolah berbasis keislaman.

Saat bergabung di SMKIT Khoiru Ummah merupakan sesuatu yang luar biasa bagiku. Kenapa? Ada hal yang menarik bisa belajar bersama di sini juga berbagi pengalaman. Saat mendapat panggilan untuk bergabung di sekolah, sontak aku sangat senang dan berbahagia, walau profesiku bukan seorang guru kelas, bukan juga lulusan pondok pesantren bahkan juga bukan seorang hafidz qur’an. Akan tetapi, semua di luar pikiranku saat di terima di sekolah ini. Ternyata di amanahkan sebagai guru Qur’an saat itu mernjafi koordinator Tahsin. Tentu ini sesuatu yang baru bagiku, apalagi dari pribadi sendiri rasanya tidak pantas ku di tempatkan dalam posisi ini. Karena amanah yang telah di percayakan kepadaku, akhirnya aku pun mencoba berikan yang terbaik untuk menerapkan ilmu dalam memperbaiki cara membaca Al-Qur’an.

Mulailah perdana mengajar setelah berbagai persiapan matang telah terjadwalkan. Aku berpatner dengan koordinator Tahfidz yang juga sama telah membagikan sesuai dengan kelompok masing-masing. Mengingat sekolah ini masih baru akhirnya kami melibatkan guru-guru lain untuk ikut serta membimbing santri yang ada. Kala itu kami masih menggunakan belajar Tahsin dengan metode Utsmani. Di awal masih bingung akan menggunakan metode apa yang akan di terapkan kepada santri-santrinya. Bagiku ini agak asing, takut jangan sampai salah dalam penyampaian. Mengingat belajar membaca Al-Qur’an ini bukan asal-asalan dan harus memiliki kemampuan dan fasih dalam melafalkan bahkan menghafalnya sesuai dengan kaidah hukum tajwid. 

Waktu terus berganti, metode ini masih kami gunakan sampai santri kenaikan kelas. Lebih kurang satu tahun belajar Al-Qur’an dengan menerapkan metode Utsmani saat itu. Walau setiap pagi seluruh santri mendapat hafalan baru baik dengan cara mentalaqqikan ataupun muraja’ah di setiap pertemuan pelajaran Tahsin dan Tahfidz Al-Qur’an. Perkembangan dari segi Tahfidz pesat naiknya. Akan tetap para santri masih berkendala dari segi Tahsin yang masih banyak harus di perbaiki. Sehingga saat di evaluasi dari dua semseter yang telah di terapkan metode utsmani ternyata masih banyak santri yang masih perlu di bimbing dalam belajar tahsin Al-Qur’an. 

Pada tahun 2018 ketika angkatan pertama sudah naik kelas XI juga pada waktu itu penerimaan peserta didik baru begitu juga dengan seluruh dewan guru yang telah menyiapkan bahan pembelajaran dalam menyambut ajaran baru tahun ini.  Setelah masuk ajaran baru, intruksi dalam sebuah apel oleh pembina, saat itu kepala sekolah yang memberikan arahan untuk semua dewan guru yang ada. “Kepada seluruh ustadz/ustadzah sekalian, mari kita awali di tahun ini dengan penuh perjuangan, kita perbaiki lagi mana yang belum maksimal dan belum terjalankan selama ini sebagai evaluasi kita bersama. Terutama dalam meningkatkan hafalan Al-Qur’an para santri juga pada pelajaran umum yang di kelas dan jurusannya masing-masing. Kita targetkan sesuai dengan harapan sekolah yang sesuai dengan visi dan misi sekolah, terutama anak-anak yang memiliki kompetensi keahlian dan capaian  terget hafalan minimal 3 juz sampai peserta didik kita tamat dari sekolah ini. Itu minimal, bagi ada yang lebih itu jauh lebih baik dan kita harapkan”. Ujarnya panjang menyampakan. 

Tentu ini membuat kami di tim T2Q saat itu menyusun strategi beserta program kerja supaya peserta didik juga akan memudahkan dalam pembelajaran T2Q di setiap pertemuannya. Tiba-tiba suatu saat, ketika di awal-awal masuk dalam belajar T2Q. Kami tim di intruksikan untuk untuk berkumpul di aula. Ternyata ada perwakilan yayasan yang hadir ingin menyampaikan beberapa hal berkenaan dengan pembelajaran yang ada di T2Q SMKIT Khoiru Ummah. Di sana di jelaskan kepada kami semua yang ada di tim, bahwa ke depan kita akan menggunakan metode Wafa (Metode Otak Kanan) dalam pembelajaran T2Q. Sesuatu yang baru terdengar bagiku dan pembimbing lainnya. Mengingat ini belum pernah di gunakan sebelumnya di Sekolah Islam Terpadu, khususnya di kabupaten Rejang Lebong. “Jadi, ustadz/ustadzah nanti kita akan menggunakan metode WAFA ini dalam mengajar anak-anak di kelas. Bagi untuk yang belum tahu akan metode ini nanti akan di buatkan pelatihan guru-guru T2Q untuk mengikuti agendanya yang akan di wacanakan oleh yayasan”. Ujar dari pihak yayasan.

Pelatihan pun di ikut setakan seluruh dewan guru yang ada di Yayasan Al-Amin Curup dalam mengkuti pelatihan belajar Wafa ini selama 3 hari lamanya. Saat itu yang menjadi trainernya adalah Ustadz Dody Tisna Amijaya dan Ustadz Wawan dari Wafa Indonesia. Ternyata sangat terkesan dan mengasyikkan bagiku belajar Wafa ini. Mudah di pahami dan menarik untuk di pelajari dengan metode yang praktis dengan buku panduan Tilawah, Tajwid & Ghorib yang sangat sesuai untuk di terapkan nantinya. Akhirnya di sana kami semua di latih dan di bekali berbagai ilmu yang bermanfaat untuk dapat di sosialisasikan ke unit sekolahnya masing-masing. Yang terkesan bagiku saat ustadz Dody menyampaikan; “Jadilah guru yang asyik dalam mengajar”. Pesan yang membuat hati menjadi ceria dan bersemangat untuk mengajar. Begitu juga banyak hal yang beliau sampaikan dalam motivasinya untuk kami semua.

Aku pun tetap belajar dengaan mempelajari Tahsin WAFA ini, mengingat karena belum di tasnifkan dan juga belum di ujian Munaqasyah. Sambil mengajar, aku pun tetap mengikuti kegiatan rutin untuk menyelesaikan Wafa sampai pada bab terakhir. Akhirnya saat ujian Munaqasyah, aku dan teman-teman guru lain yang sudah layak ujian kala itu di nyatakan lulus semua. Sebuah hal luar biasa bagiku. Inilah proses, setidaknya telah berjuang untuk menerapkan ilmu kepada para peserta didik. Proses belajar bersama para siswa di sekolah pun berjalan rutin di setiap harinya, baik pada pagi hari atau saat jadwal T2Q yang telah di sesuaikan.

Waktu terus bergulir, aku pun mendapat sebuah kelompok anak yang di kategorikan sudah fasih dalam bertilawah dan tidak lama lagi akan menyelesaikan di buku Tilawah, Tajwid & Ghorib. Sebuah progres yang termasuk cepat para santri ini dalam menyelesaikannya. Tentu ini merupakan hal yang di harapkan pihak sekolah, mengingat perjuangan mereka dalam satu semester belajar Wafa mendapatkan hasil maksimal dalam proses dan pertemuannya. Walau bagi kebanyakan santri menganggap nada Hijaz dalam Wafa ini sesuatu yang baru. Tapi mereka dapat menyesuaikan dan menyelesaikan dengan nada Hijaz dalam irama yang ada di dalamnya.

Proses pra Munaqasyah pun berlangsung di sekolah, ada Munakish dari luar yang siap menyeleksi para santri yang nantinya layak atau tidak akan mengikuti ujian Munaqasyah dalam waktu yang tidak lama lagi. Dari 20 santri, di antaranya ada 15 orang yang di ujiankan tahsin Wafa dan 5 santri yang di ujiankan dari segi Tahfidznya. Seleksi pun di selesaikan dalam satu hari penuh. Berselang beberapa waktu, akhirnya pengumuman tiba, dari utusan yang telah diberikan kesempatan ikut pra Munaqasyah, alhamdulillah semuanya lulus dengan baik dan layak di ujian Munaqasyahkan oleh Wafa Indonesia. 

Kemudian tibalah bagi para utusan SMKIT Khoiru Ummah dalam menghadapi ujian Munaqasyah. Dengan rasa tegang dan gugup, karena para santri ini tahu pasti akan beda lagi kalau yang menguji dari Wafa Indonesia kala itu. Ujian pun berlangsung dari tes tertulis sampai pada proses tilawah dan pertanyaan yang telah di persiapkan trainer Wafa Indonesia. Ujian berlangsung tenang, tentram dan penuh konsentrasi dan berjalan lancar. Terlihat wajah-wajah tegang, cemas dan legah bagi santri yang telah melewati dari proses ujian Munaqasyah ini. Dua minggu berselang, mendapat informasi dari Wafa Indonesia dalam pengumuman dan hasil dari ujian Munaqasyah. Dari hasil itu, semua dari utusan SMKIT Khoiru Ummah dinyatakan lulus dengan predikat yang berbeda. Suatu hal yang sangat kami syukuri selaku pembimbing mereka. Kebanggan tersendiri dapat memberikan yang terbaik sampai pada tingkat mereka meraih hasil maksimal dalam belajar dan ujian kala itu.

Perjuangan yang tidak mengkhianati hasil manakala kita menghidupkan Al-Qur’an dan mengamalkannya pasti akan di permudah oleh Allah. Apalagi yang dipelajari ini adalah mulia. Begitulah kami berpikir, ini generasi yang harus tetap berkembang dan maju untuk di masa  mendatang. Kalau tidak hari ini kapan lagi, inilah kesempatan yang jarang terjadi. Rutinitas pun tetap terjalankan dengan semestinya, walau masih banyak pekerjaan rumah yang harus di selesaikan ke depan dengan yang masih belum lancar dalam membaca Al-Qur’an, baik dari segi tahsin dan tahfidznya.

Lalu di kemudian hari, suatu hal yang tidak pernah terpikirkan akan terjadi melanda dunia. Saat masuknya sebuah wabah ke Indonesia, iya itulah sebuah virus Corona, menular dan membahayakan orang lain. Kala itu sekolah masih tetap aktif melaksanakan aktivitas pembelajaran di sekolah. Akan tetapi semakin hari ternyata semakin meluasnya wabah ini. Dan daerah kami pun mulai banyak yang terpapar akan virus ini. Sungguh ini di luar dugaan kami semua. Sampai-sampai daerah ini pun di katergorikan sebagai zona merah akibat yang terjangkit virus ini semakin meluas. Semua aktivitas di tiadakan untuk tatap muka, dan di batasi sampai pada akhirnya semua harus lockdown. Semua tidak beraturan dengan jadwal dan membuat sekolah mensiasati belajar dengan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) saat itu. 

Suatu hal yang tidak biasa, tapi ini harus di jalankan sesuai dengan anjuran pemerintah. Jadwal mengajar pun di sekolah berubah menjadi “Daring” (dalam jaringan). Tentu ini menjadi dilema bagi kami guru Qur’an. Mengingat pasti banyak kendala dalam melaksanakan pembelajaran dengan seperti ini. Di lihat dari sisi lain, pasti ada keterbatasan dalam menyampaikan terutama dalam belajar online yang belum tentu semua akan lebih cepat memahaminya. Kala itu, aku mendampingi para santri dalam kelompok khusus yang masih belajar, bisa di katakan dimasukan ke dalam kelas bengkel dari segi tahsinnya. 

Pembelajaran pun terbiasa dengan kondisi daring. Dengan adanya grup Whatsapp masing-masing di setiap kelompok memudahkan dalam proses belajar tahsin Wafa kala itu. Dengan berbagai metode di terapkan dalam pembelajaran daring ini. Ada yang menggunakan dengan berbagai aplikasi, baik dari via Voice Note, grup WA, Zoom Meeting, Google Meet, Video Call, dan lain sebagainya menjadi penunjang dan semangat para santri untuk tetap belajar T2Q walau dalam kondisi pandemi seperti ini. Terkadang dalam proses pembelajaran pun masih banyak terdapat santri yang tidak setoran atau tidak muncul dalam proses belajar daring.

Ternyata bukan aku saja yang seperti itu walau mengampuh santri khusus untuk belajar tahsin Wafa. Begitu juga dengan pembimbing yang lain, masih kesulitan juga dalam menyampaikan materi karena keterbatasan waktu dan kondisi. Baik kurangnya respon para santri atau minimnya kontribusi santri dalam belajar saat kondisi yang tidak biasa di lakukan sebelumnya. Satu bulan berlangsung dalam proses jarak jauh. Akhirnya pihak sekolah mengambil inisiatif untuk melakukan pembelajaran luring (luar jaringan) saat itu dengan menerapkan setiap angkatan yang masuk datang ke sekolah untuk melaksanakan proses belajar mengajar dengan di batasinya dan tidak seluruh santri yang datang ke sekolah mengingat masih dalam kondisi pandemi Covid-19. Di sanalah kami mengambil momentum belajar T2Q dengan maksimal saat tatap muka walau selebihnya itu dalam masih dalam belajar daring.

Saat pelajaran luring di gunakan sebaik mungkin bagi para pementor T2Q dalam mengukur ketercapaian baik tahsin maupun tahfidznya. Berjalan dalam kondisi sulit, dalam keterbatasannya pertemuan dan kelemahan saat belajar daring. Tentu memiliki semangat tersendiri, melihat motivasi yang terus menerus dari para pembimbing yang senantiasa kepada para santrinya. Sampai pada akhirnya para santri pun berjuang menyelesaikan tahsin Wafa dan hafalannya masing-masing menjelang akan di ujian Munaqasyah yang akan telah terjadwalkan. Ada hal yang menarik saat ku perhatikan di kebanyakan santrinya. Motivasinya ingin maju dan memiliki tekad menyelesaikan Wafa dan mengejar target itu sangat di apresiasi. Walau di kondisi pandemi seperti ini, mereka dapat mengejar targetnya. Kami pun para pembimbing merasa sangat terbantukan dengan semangat mereka untuk menyelesaikannya.

Akhirnya yang terpilih dan layak di ujian Munaqasyahkan pun mengkuti ujian dengan sistem online dalam pelaksanaannya. Walau belum bisa menghadirkan langsung penguji ujian Munaqasyah dari Wafa Indonesia, para santri juga terlihat sangat senang bisa ikut serta jadi salah satu peserta saat itu. Sampai pada tahap terakhir, para santri dapat menyelesaikan dan dinyatakan lulus semua utusan dari sekolah yang telah menjadi delegasi terbaik untuk di tahsin Wafa atau tahfidz Al-Qur’an. Suatu hal yang menjadi kebanggaan, inilah generasi yang selalu menghidupkan nuansa Al-Qur’an di sekolah. Para penghafal Al-Qur’an yang senantiasa berjuang bersama satu sama lainnya. Walau suka dan duka pasti menyelimuti semua perjalanan sampai pada tercapainya target yang diharapkan. Walau yang lain masih menjadi evaluasi dan pekerjaan rumah sebagai perbaikan ke depan bagi santri yang belum menyelesaikan targetnya, terutama membaca di tahsin dan tahfidz.

Tentu semua ini adalah sebuah masa perjuangan yang melelahkan. Akan tetapi menjadi lillah di kala kita menjalankannya dengan penuh keikhlasan. Dari ini semua menjadi pelajaran yang berarti untuk sekolah-sekolah Islam terpadu yang ada dimana pun saat ini bergerak dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Apalagi didalamnya selalu di hidupkan nilai-nilai Al-Qur’an. Berkahnya sekolah, karena hidupnya Al-Qur’an dan membumikannya. Tentu proses tidak semudah yang kita pikirkan, yang terpenting tetaplah bersemangat membumikan Al-Qur’an dan mengamalkannya. “Sebaik-baik kalian adalah belajar dan mengajarkannya kepada orang lain”. Begitu juga yang telah Allah jelaskan dengan banyaknya dalam ayat Al-Qur’an. “Dan sungguh, Kami telah mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran”. (QS. Al-Qamar:17). Pelajaran yang sangat berharga, begitu Allah menjelaskan dengan firman_nya supaya kita selalu berikhtiar dan tetap berjuang dalam membangun generasi Qur’ani walaupun dimasa pandemi seperti ini, tidak melunturkan semangat kita untuk menebarkan kebaikan dengan mengamalkan Al-Qur’an. Wallahu’alam bissawab.

_
Penulis : Fidriyanto Cahyono – SMKIT Khoiru Ummah

Spirit Qur’ani Saat Pandemi

Virus corona mungkin salah satu virus yang sangat kondang nan tenar di dunia pervirusan bahkan mungkin dia menyandang makhluk terviral di langit dan di bumi selama 3 tahun terakhir ini. Hahaha….

       Virus yang satu ini mulai menggegerkan dan menggemparkan dunia sejak tahun 2019, sesuai namanya dong, coba munculnya tahun 2017, virus corona bakalan makin sweet (Sweet Seventeen) dan bisa bisa releas album, karena namanya pasti covid seventeen (covid 17) seperti grup band waktu itu. Hehehe. Sejak kemunculannya banyak sekali perubahan yang terjadi dalam kehidupan kita ini, mulai dari aturan, kebijakan, kebudayaan, kebiasaan serta gaya hidup dan lain lain. Dalam mengajar Al Qur’an pun juga mengalami perubahan sistem dan cara mengajar. Mengajar AlQur’an yang dari zaman Rosulullah menerima wahyu dari malaikat Jibril hingga sebelum covid 19 datang, guru dan siswa selalu bertatap muka atau berhadapan, namun sejak pemerintah memutuskan lock down, PSBB (sekarang istilahnya sudah ganti PPKM), karena corona dianggap mematikan, semua aktivitas masyarakat dihentikan, kemudian perlahan diperbolehkan tetapi dibatasi dan via online (dalam jaringan) atau secara virtual. Tidak terkecuali KBM di sekolah juga demikian. 

       Saat itu di lembaga kami, pembelajaran Al Qur’an yang tahsin melalui video call whatsapp secara privat. Setiap harinya guru memvideo call 10-13 siswa dengan estimasi durasi waktu per siswa kurang lebih 10-15 menit, jadi kalau diakumulasikan setiap harinya guru memvideo call siswa selama kurang lebih 130 menit. Bisa dibayangkan? Tentu saja itu bukan waktu yang sebentar, karena selama itu mata kita aktif dengan layar hand phone. Namun cara mengajar tersebut akhirnya dirubah, separuh siswa via pesan suara atau voice note dan guru mengoreksi bacaan siswa, sebagian lagi tetap via video call whatsapp privat. Sehingga guru tidak terlalu lama berinteraksi dengan handphone atau komputer.  Karena kesehatan guru juga harus diprioritaskan, disamping sebagai salah satu stakeholder pendidikan,  guru juga manusia yang sangat biasa. Hahaha…

      Sedangkan pembelajaran tahfidz melalui voice notes atau pesan suara whatsapp. Jadi ada 6 guru sebagai penanggung jawab (PJ) Rekam Suara Tahfidz sesuai kelas masing masing, kelas 1-6. Guru tersebut memberikan contoh lafadz ayat sesuai jadwal setiap harinya melalui rekam suara yang dikirimkan ke grup Guru PJ Tahfidz dengan batas pengiriman sore hari antara ba’da ashar sampai ba’da maghrib, lalu Guru PJ Tahfidz membagikannya ke masing-masing kelas. Kemudian siswa mengirim pesan suara atau voice note seperti yang dicontohkan guru pada keesokan harinya antara jam 07.00 WIB hingga jam 15.00 WIB dan guru mengoreksi hafalan siswa dengan menyebutkan maksimal 2 kesalahan bacaan, siswa mengirimkan lagi revisi bacaan yang salah. Alur yang cukup panjang bukan? Hahaha. 

       Awal mengajar saat pandemi saya yang notabene sebagai IRT (ibu rumah tangga) terasa sangat berat atau aneh, seperti merasa tidak sanggup karena bisa dibilang bahasa Bojonegoronya ora iso kobet blas atau tidak bisa berkutik sama sekali. Mungkin tidak saya saja, hampir seluruh IRT ya, hahaha, karena sehari-hari harus berkutat dengan aktivitas gadget; video call, rekaman, ngoreksi rekaman, video call, rekaman, ngoreksi rekaman, membuat video pembelajaran wafa juga, begitu seterusnya. Kala itu kita memang masih masa adaptasi dengan keadaan, jadi hampir semua guru Al Qur’an di lembaga kami, seperti terkena radiasi handphone, kita merasa pusing, mual, kudu muntah merasa eneg kalau lihat hp, sehingga pembelajaran tahsin yang sebelumnya video call whatsapp secara privat 10-13 siswa/hari, durasi video call 10-15 menit/siswa diganti separuh siswa video call, sebagian lagi siswa mengajinya kirim rekam suara atau pesan suara dan guru mengoreksi by voice note juga. Belum menyelesaikan pekerjaan rumah; nyuci baju, nyuci piring, masak, nyetrika, lipat baju, ngepel dll, nginemlah pokoknya, hahaha. Yang utama lagi mengurus anak sendiri, melayani pak suami dsb, rasanya amazing banget deh, terasa abot namun kita mencoba untuk tetap rapopo, mau abot ataupun enteng, kita harus tetap semangat menumbuhkan spirit qur’ani disaat pandemi. Hahaha. 

       Selain masalah tersebut, masalah yang lainnya adalah dari gadget itu sendiri, iya dari handphonenya, waktu itu saya harus membeli hp baru, gegara hp saya hank karena overload mungkin juga hp saya capek minta dilembiru (lempar beli yang baru),  hehehe. Hp juga butuh nutrisi dan suplemen, hp serasa tidak fungsi dengan baik, apalagi musim daring seperti saat ini kalau tidak ada pulsa dan paket data atau kuota internetnya. Paket data atau kuota internet saat ini merupakan salah satu hal yang sangat mempengaruhi keefektivan KBM, sebab jikalau guru atau siswa tidak memiliki kuota internet, auto KBM tidak bisa terlaksana, ada kuota namun jaringan internet tidak stabil KBM juga kurang maksimal, so terkadang juga ada kendala bagi guru ataupun siswa karena harus selalu mempunyai paket data setiap hari, setiap waktu, walaupun ada sih bantuan kuota dari pemerintah  saat awal pandemic. Alhamdulillah itu juga sangat membantu, namun karena realitanya pandemi sampai sekarang belum berlalu, kebutuhan kuota internet menjadi kebutuhan primer sehingga bisa membuat anggaran rumah tangga membengkak. Oleh Karena itu saya dan guru Al Qur’an lainnya  berusaha ke sekolah setiap hari, tidak seperti guru mata pelajaran lainnya yang masuk hanya saat jadwal piket saja. Ya, karena mengajar Al Qur’an memang tak kenal waktu, tidak sekedar menyelasaikan beban jam tugas mengajar, mengajar membaca Al Qur’an fondasi untuk pembentukan adab anak, tetap menumbuhkan spirit qurani kepada siswa disaat banyak anak-anak yang kecanduan game online insyaAllah tujuan yang mulia. Di lembaga kami sama dengan lembaga lainnya, sejak pandemi covid 19, ada pembatasan masuk sekolah untuk menghindari kerumunan atau social distancing, sehingga guru dijadwalkan ada yang sebagian masuk atau piket, ada yang WFH. Kalau saya mengajar di sekolah, saya sangat merasa lebih nyaman, lebih ringan, lebih mudah, sebab adanya jaringan free wifi yang sangat bisa dimanfaatkan, terlebih lagi rumah saya yang berada di pelosok desa jauh dari kota Bojonegoro, jaringan internetnya belum begitu lancar dan kuat. 

       Kendala selanjutnya adalah ketika kita sudah membuat, menyusun dan menentukan  jadwal video call dengan siswa, kita sudah share di grup whatsapp, subhanallah ternyata saat jamnya tiba, siswa belum siap karena hp nya masih dipakai orang tua bekerja, hp nya masih dipakai kakak yang juga sekolah daring, ada yang orangtua lupa, karena siswa masih tidur, masih sarapan, masih mandi, masih bermain di luar,  ada yang cari mood booster dulu karena masih dirayu nunggu moodnya membaik, sehingga minta divideo call sore, agak siangan dikit, bahkan menjelang maghrib karena orangtua atau wali murid yang baru pulang bekerja juga ada. Pada akhirnya jadwal yang seharusnya selesai tepat waktu sesuai rencana kita, harus molor lagi. Walaupun demikian, guru, siswa dan orangtua tidak boleh menyerah begitu saja dengan keadaan, orangtua dan guru memiliki tujuan yang selaras yaitu menumbuhkan generasi yang qur’ani. Guru dan orangtua harus tetap berjuang bersama-sama, insyaaAllah sekolah selalu berusaha memberikan solusi dengan menentukan kebijakan atau aturan yang tidak memberatkan guru, siswa, wali murid sehingga pembelajaran Al Qur’an tetap berjalan supaya anak-anak tetap dekat dengan Al Qur’an. Itulah pengalaman yang umum dialami bagi guru Al Qur’an  di lembaga kami, saya sendiri mempunyai cerita menarik saat mengajar Al Qur’an di era pandemi yang akan saya bagikan pada paragrap berikutnya. 

       Karena rumah saya yang cukup jauh dengan sekolah, jarak tempuh dari rumah ke sekolah sekitar 45 menit. Mengurus serta mengkondisikan anak saya terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah, terkadang menyebabkan saya terlambat mengajar atau memvideo call anak-anak/siswa, tidak mungkin saya merubah jadwal video call karena mereka dan wali murid pasti sudah menunggu mau mengaji wafa, sehingga saya putuskan untuk mengajar diatas motor sambil dibonceng pak suami, mengajar diatas motor adalah hal yang sudah terbiasa saya lakukan saat pandemi covid ini,  sepanjang jalan saya mengajar wafa dengan menggunakan headset supaya suara bisa terdengar jelas, nah serunya saat motor memasuki kawasan kota, ada rambu lalu lintas, waktu itu  lampu merah menyala, sehingga motor yang saya naiki juga ikut berhenti, di situ saya masih mengajar dengan suara yang tidak pelan, apalagi ditambah kebisingan kendaraan yang lalu lalang, sambil mata saya melirik, sesekali saya melihat keadaan sekitar, spontan kendaraan disamping saya, di sekitar saya pada menatap atau menoleh ke arah saya dengan tatapan yang aneh, entah apa yang ada dalam pikiran mereka, Allahu a’lam, tetapi saya berusaha bersikap biasa dan cuek karena show must go on guys, saya hanya berpikir mengajar ngaji sebagai tanggung jawab saya adalah hal yang lebih utama saya lakukan. 

      Ketika saya harus mengajar di pinggir jalan raya, tepatnya di depan warung makan, kebetulan didepan warung makan tersebut ada kursi panjang yang biasa dijadikan berteduh atau jagong bapak bapak untuk cangkruk. Untungnya saat itu warung makannya masih sepi karena baru buka, coba kalau pas ramai, saya malah mengganggu orang lain yang makan di warung, dan membuat ketidak nyamanan. Di situ saya mengajar sambil menunggu teman saya namanya ustadzah Ida datang, waktu itu saya memang tidak berangkat dengan suami saya karena pak suami sibuk dengan acara kerjaan, akhirnya saya ikut ustadzah Ida untuk berangkat bareng ke sekolah dan kita janjian di daerah Sumberrejo, saya memvideo call anak-anak sampai dapat 3 siswa, ustadzah Ida tak kunjung datang juga. Saya mengajar dengan merasa sungkan, pakewuh karena pemilik warung beberapa kali keluar terlihat masih repot menyiapkan warung makannya buka. Alhamdulillah pemilik warungnya ramah, saya diperbolehkan menunggu dan mengajar di situ sampai akhirnya teman saya datang. 

       Pengalaman saya berikutnya yaitu saat saya di rumah mertua, disaat asyik-asyiknya memvideo call tetiba terputus karena ternyata kuota internet saya habis, karena di rumah hanya ada saya dan mertua saja, saya lari kerumah tetangga,  dan ternyata tetangga saya juga tidak punya kuota internet, saya kebingungan karena pasti siswa yang saya video call tadi juga mencari cari saya, menunggu kok tetiba hilang tidak bisa dihubungi, akhirnya tetangga saya memberikan informasi kalau disebrang jalan raya ada warkop atau warung kopi yang ada jaringan free wifinya, hp saya koneksikan dengan wifi warkop tersebut, alhamdulillah bisa, saya manfaatkan untuk menghubungi teman saya yang jualan pulsa terlebih dahulu, dan saya lihat ada panggilan video call masuk dari siswa yang video callnya terputus tadi, saya terima dan putus lagi karena jaringan wifinya yang low, tetapi Alhamdulillah sekali teman saya yang jualan pulsa tadi sudah berhasil mengisi pulsa ke hp saya, akhirnya saya bisa melanjutkan mengajar lagi dengan lancar hingga selesai.

     Masih ingat saat itu saya mengajar/memvideo call siswa di tepi bengawan solo, Karena rumah saya berada di daerah pinggiran bengawan solo, perbatasan Tuban dan Bojonegoro, kalau mau ke sekolah ada dua akses jalan, bisa lewat menyebrang bengawan solo tembus daerah Sumberrejo atau lewat daerah Soko tanpa menyebrang bengawan solo, saat itu pak suami sedang berada dirumah, jadi saya memilih lewat tambangan menyebrang bengawan solo, kemudian naik ojek dan bareng ke sekolah dengan ustadzah Ida yang rumahnya Baureno, saat itu jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih, perahu yang bawa penumpang juga masih berada di ujung sebrang, terpaksa saya mengajar sambil menunggu perahu datang, saya duduk sendirian di pinggir bengawan, setelah saya memvideo call dapat 2 siswa, perahunya tiba. 

Bapaknya yang menjalankan perahu melihat saya, kemudian bertanya kepada saya; “ lha ewoh opo mbak? ” (lha ngapain mbak?)

Saya jawab; “ ngucal mbah “ (ngajar mbah),

kemudian bapaknya bilang sambil tersenyum; “ tak kiro to ewoh opo “, (saya kira ngapain) Kok omong-omongan nok hp?(kok berbicara lewat hp?), “ woalah tibake ngulang, ngulang jaman sak iki, teko hape, “ (woalah ternyata ngajar, ngajar jaman sekarang dari hp).

Saya tertawa sambil mengakhiri video call dan bergegas naik perahu, penumpang yang lain juga ikut menimpali obrolan saya dengan bapaknya tadi. Saya pikir kali ini, sesekali saya bolehlah menunda jadwal video call, karena wali murid juga sering melakukannya, (bukan balas dendam ya) hehehe, akhirnya saya hubungi siswa berikutnya kalau jam video callnya mundur, karena ustadzah masih perjalanan ke sekolah. Alhamdulillah wali murid menyepakati dan bilang “tidak apa apa ustadzah”, saya senang sekali, karena saya tidak mengajar dijalan raya.

       Pengalaman saya selanjutnya yang ingin saya bagikan yaitu ketika saya mau mengirim rekaman tahfidz. Perlu diketahui pembelajaran tahfidz di lembaga kami yaitu guru PJ Rekaman Tahfidz memberikan contoh lafadz ayat sesuai jadwal setiap harinya melalui rekam suara atau pesan suara dengan batas pengiriman sore hari antara ba’da ashar sampai ba’da maghrib yang dibagikan ke grup Guru PJ Tahfidz, kemudian guru PJ Tahfidz masing masing kelompok/kelas membagikannya ke grup siswa, karena saat itu semua guru PJ Rekaman Tahfidz sudah mengirim semua, tinggal saya yang belum mengirim, teman teman sudah mencari cari saya digrup WA, karena waktu itu saya pulang kesorean ada keperluan yang urgent, ditambah ban motor ustadzah Ida bocor, kehujanan pula, lengkap sudahlah pokoknya, jadi saat itu ba’da maghrib masih rintik rintik hujan, saya basah kuyup karena tidak pakai jas hujan, posisi masih on the way pulang ke rumah, tepatnya di tepi bengawan menunggu perahu datang yang masih lama dan belum ada tanda tanda sama sekali, ditambah suasana tepi bengawan yang sepi, otomatis saya rekaman di TKP itu juga, hahaha, kalau tidak salah surat Al Haqqah, biasanya saya rekaman sambil ngecek di Al Quran dulu, karena saat itu saya gugup, rekaman selesai auto saya kirim ke grup PJ Tahfidz, Alhamdulillah saya merasa lega dan plong sudah menjalankan tanggung jawab saya, eeee….astaghfirullah, sampai rumah salah seorang ustadzah namanya ustadzah Dhea menelepon saya, memberitahu kalau rekamannya tadi ada yang kurang, saya kaget dan langsung cek di Al Qur’an, ternyata memang benar, saya yang salah dan harus rekaman lagi. Alhamdulillah ada yang mengingatkan. 

      Demikianlah beberapa moment yang tidak terlupakan saat saya mengajar Al Qur’an selama pandemic. Bagi kami, pembelajaran Al Qur’an selama pandemic ini dirasa kurang maksimal, karena mengajar dan belajar Al Qur’an tidak mudah dilaksanakan secara online, hari-hari yang kita lalui memang terasa berat, mengajar lebih ngoyo dari hari-hari sebelum pandemi, karena tidak sedikit siswa yang di rumah sulit dikondisikan untuk selalu istiqomah membaca / belajar Al Qur’an, belum lagi kesibukan orangtua yang bekerja sehingga tidak bisa mendampingi siswa dengan maksimal. Padahal orangtua dan sekolah harus sinkron berjalan bersama-sama menciptakan generasi qur’ani, generasi yang dekat dengan Al Qur’an, generasi yang selalu istiqomah belajar dan membaca Al Qur’an. Itu semua butuh kegigihan dan perjuangan, tidak semudah membalikkan telapak tangan ya guys, setiap perjuangan pasti ada ujian, semoga Allah swt mempermudah urusan kita semua dan pandemic covid 19 cepat berlalu, dilenyapkan dari bumi. Aamiin. Karena tehnik dan cara mengajar virtual yang canggih sekalipun dirasa belum mampu menandingi belajar Al Qur’an secara tatap muka. 

_
Penulis : Nurul Khotimah – SDIT Insan Permata Bojonegoro