Kesan Pertama Mengajar Al-Qur’an

Pagi ini mentari pancarkan sinarnya yang begitu cerah, secerah semangat ku mengawali hari. Tepat pukul 07.30 WITA, aku bergegas menuju sekolah dengan niat menebarkan ilmu Al-Qur’an kepada anak didik ku hari ini. Oh ya, perkenalkan namaku Hilmina, hari ini adalah hari pertama ku mengajar karena aku merupakan guru baru di Sekolah Dasar Islam Terpadu Ihsanul Amal Amuntai. Awalnya aku melamar jadi guru di sekolah ini karena sebuah tuntutan hidupku. Ya biasa, anak kuliah baru lulus pasti bingung mau nyari kerja dimana. Tetapi untungnya Allah beri aku jalan terbaik hingga aku mengenal Sekolah Islam Terpadu Ihsanul Amal. Ada banyak pembelajaran yang aku dapat di sekolah ini, salah satunya adalah belajar menjadi guru terbaik. 

Ternyata menjadi guru itu tidak semudah yang aku bayangkan. Dulu aku berpikir tugas seorang guru hanyalah sebatas menjelaskan materi pembelajaran, memberi tugas dan menilai hasil tugas siswa. Tapi dengan profesi yang aku jalani sekarang pikiran ku jauh berubah. Tugas guru tidak semudah yang aku bayangkan dulu. Seorang guru harus bisa menjadi teladan yang baik, memberikan materi pelajaran tidak serta merta ceramah saja tapi perlu yang namanya pendekatan karakter siswa. Selain itu, menentukan strategi pembelajaran agar siswa mudah memahami pembelajaran dan proses pembelajaran yang menyenangkan. Terlebih aku adalah seorang guru Al-Qur’an yang mengajarkan tahfidz dan baca tulis Al-Qur’an dengan menggunakan metode wafa di kelas 2C SDIT Ihsanul Amal. Di masa pandemi sekarang ini memang cukup sulit, karena pembelajaran tatap muka terbatas sesuai peraturan Pemerintah Kabupaten. Siswa yang datang ke sekolah berjadwal sesuai kelompoknya, dan yang tidak mendapat giliran kelompok ke sekolah harus melaksanakan pembelajaran online di rumah.

Hari ini tanggal 13 Juli 2021, yang mendapatkan jadwal pembelajaran tatap muka terbatas adalah kelompok 1, terdiri dari 10 orang. Di hari pertama masuk sekolah ini, aku mulai melakukan pendekatan karakter dengan anak-anak untuk mengetahui tipe belajar mereka. Pendekatan yang aku lakukan dimulai dengan cara memberi salam, menyapa, tanya kabar dan bertanya kepada mereka: “Siapa yang sudah berwudhu sebelum berangkat sekolah?”. Anak-anakpun menjawab serentak : “Saya sudah berwudhu di rumah” (sambil mengangkat tangan dan semangat). Setelah mendengar jawaban mereka yang sangat antusias, aku pun mengajak mereka shalat dhuha berjamaah di kelas. Dan meminta satu anak laki-laki untuk menjadi imam shalat dhuha, aku pun bertanya : “Ustazah minta satu anak laki-laki jadi imam shalat dhuha hari ini. Siapa yang bersedia akan dapat pahala yang besar dari Allah SWT karena sudah berani memimpin shalat dhuha berjamaah?”. Dengan penuh percaya diri Ananda Aufa Rijal Rais menjawab : “Saya Ustazah, saya mau dapat pahala supaya Allah sayang”. Mendengar jawaban yang luar biasa tersebut aku pun tersenyum dan membalas jawaban Ananda Rais dengan bangga : “Ma Sya Allaah hebat sekali Rais sudah berani dan mau menjadi imam shalat dhuha hari ini”.  Akhirnya anak-anak semua bersiap meratakan shaf untuk melaksanakan shalat dhuha bersama. 

 

Tak terasa waktu berjalan cepat, kami telah melaksanakan shalat dhuha berjamaah. Setelah melaksanakan shalat dhuha, anak-anak duduk rapi di kursinya masing-masing. Aku  meminta mereka untuk memperkenalkan diri di depan kelas satu persatu, mengajak bernyanyi gembira dan muraja’ah hafalan sebelumnya yaitu surah Al Infithar ayat 1 sampai 9. Alhamdulillah pertemuan pertama ini memberi kesan yang sangat baik. Meskipun ada beberapa anak yang masih suka jalan-jalan saat proses pembelajaran. Namun mereka cukup bisa diatur, kalau diminta duduk yang rapi dengan sigap mereka duduk dan diam. Dari sinilah aku mulai mencari cara baru agar semua anak-anak tetap fokus saat menghafal, maka aku meminta semua anak untuk berdiri dan melakukan muraja’ah hafalan sambil menggerakkan tangan mereka. Anak-anak sangat antusias dan memperhatikan ku yang memandu muraja’ah hafalan mereka. 

 

Tahap demi tahap pembelajaran kami lalui. Setelah muraja’ah hafalan selesai, aku pun meminta anak-anak menghafal ayat selanjutnya dari ayat sepuluh dan ayat sebelas surah Al Infithar. Aku menulis surah Al Infithar ayat sepuluh dan sebelas di papan tulis agar lebih mudah proses menghafal. Meskipun beberapa anak belum bisa membaca ayat Al-Qur’an karena mereka masih belajar wafa jilid 2. Tetapi aku tetap menuliskan ayat tersebut dengan tujuan mereka memperhatikan ku saat membacakan hafalan ayat tersebut dan membiasakan mereka melihat ayat Al-Qur’an yang akan mereka hafalkan. Aku pun mulai membaca ta’awudz dan bismillah disambung membaca ayat sepuluh surah Al Infithar dan meminta anak-anak mengikuti bacaan berulang-ulang kali. Setelah cukup lima kali pengulangan membaca ayat sepuluh tersebut, aku meminta anak-anak satu persatu membaca ayat yang sudah dihafal bersama tadi, untuk mengetahui sejauh mana mereka menangkap hafalan ayat tersebut. 

Memang ada beberapa anak yang mudah menghafal, cukup dibacakan tiga sampai lima kali pengulangan ayat, mereka sudah bisa mengingat dan menghafalkannya. Namun ada juga beberapa anak yang harus betul-betul dibimbing perorangan pada saat menghafal. Dari dua sisi ini menjadi tanggung jawab terbesar ku, sebagai guru aku tidak boleh membedakan kasih sayang antara anak yang mudah menghafal dengan anak yang harus dibimbing saat menghafal. Bagiku mereka semua tetap anak-anak yang luar biasa, yang selalu semangat menghafal Al-Qur’an. 

Menjadi seorang guru yang baik perlu banyak belajar. Ketidakseimbangan proses belajar ini, membuat ku terevaluasi kembali cara mengajar ku yang belum optimal. Setelah aku pikir kembali kesalahannya terletak pada cara mengajarku yang terlalu menoton. Aku hanya melakukan pengulangan ayat dan setelahnya meminta mereka untuk membaca ayat yang sudah mereka hafal satu persatu. Tentu cara ini sangat tidak adil bagi anak-anak yang harus dibimbing langsung saat menghafal. Aku pun berusaha mencari solusi terbaik agar proses belajar bisa seimbang dan disukai semua anak. Akhirnya, aku mencoba cara baru pada saat proses menghafal di kelas. Aku meminta anak-anak berdiri dan mengambil posisi ke depan kelas sambil berbaris lima berbanjar ke belakang dengan 2 barisan, serta tetap menjaga jarak. Setelah mereka berbaris rapi, akupun berkata: “Anak-anak Ustazah, kita kembali menghafal bersama ayat sepuluh dan sebelas surah Al-Infithar. Sekarang Ustazah mau tanya, anak-anak Ustazah semuanya sudah siap menghafalnya hari ini?”.  “Siap Ustazah” sahut anak-anak dengan semangat. 

“Baik, karena semuanya sudah siap menghafal, supaya tambah semangat kita tepuk semangat dulu yaa..! ucap ku pada anak-anak sambil mengacungkan kedua jempol. Anak-anakpun menyetujui dan memulai tepuk semangat bersama. Setelah melihat mereka sudah semangat aku pun meminta anak-anak duduk di barisannya masing-masing. Aku masih dengan posisi berdiri tidak jauh dari mereka dan mulai membacakan ayat sepuluh surah Al Infithar. Ku tambahkan sedikit gerakan agar mereka fokus memperhatikan bacaan hafalan yang sedang dibaca. Ketika sudah dibacakan beberapa kali sambil diikuti anak-anak. Kemudian aku meminta anak-anak satu persatu sesuai urutan barisannya maju dan duduk di depan ku untuk membacakan hafalannya sambil ku contohkan gerakan mulutku. Setelah salah satu anak membaca satu kali dengan contoh gerakan mulutku. Lalu aku kembali meminta membacanya ulang tanpa ku contohkan. Ternyata cara ini cukup efektif dan mudah diterima semua anak, mereka sangat senang dengan gaya menghafal seperti ini dan lebih bisa mencontoh bacaan yang keluar dari mulutku karena dibimbing satu persatu. Meskipun cukup memakan waktu, tapi gaya menghafal seperti jauh lebih mudah untuk mereka dalam mengingat hafalan.

 

Sesi menghafal sudah selesai. Aku kembali meminta anak-anak duduk yang rapi agar melanjutkan belajar wafa bersama. Namun ternyata beberapa anak sudah maju ke depan sambil membawa buku wafa dia berkata: “Saya duluan membaca wafanya Ustazah”. Disusul beberapa anak yang lain juga berdiri dan berkata : “Saya yang membaca wafa duluan ya Ustazah” (dengan ekspresi manja dan berebutan mau membaca wafa duluan). Aku pun tercengang dengan kejadian ini, anak-anak jadi ricuh dan tidak duduk di kursinya masing-masing. Akhirnya aku meminta anak-anak duduk di kursinya dengan rapi kalau ingin belajar wafa. Setelah mereka duduk di kursi dengan rapi, Aku mengajak anak-anak hari ini belajar wafa bersama dengan materi “Hasana – Hasani”, wafa jilid 2 halaman 2. Sebelum belajar wafa, aku harus memikirkan cara terlebih dahulu agar suasana kelas tetap menyenangkan. Akhirnya aku teringat dengan kartu kecil huruf hijayah yang ada dalam tas ku. Aku pun mengajak anak-anak main game tebak-tebakan huruf hijayah dengan tujuan agar mereka mengingat kembali huruf-huruf hijayah dan mengenalkan barisnya. Meskipun terkesan sambil bermain tetapi game ini sangat bermanfaat untuk menghilangkan kejenuhan mereka setelah muraja’ah dan menghafal tadi. 

Aku pun memulai game ini dengan bergaya lucu laksana pesulap sambil menenteng tas, dan berkata : “Lihat anak-anak Ustazah, ayo tebak kita-kira dalam tas Ustazah ini ada apa ya?”. Masing-masing mereka menjawab: “Ada buku Ustazah, ada pulpen Ustazah, ada penggaris” (ekspresi mereka yang penasaran).  Melihat ekspresi mereka yang sudah penasaran. Lalu, ku keluarkan kartu kecil huruf hijayah dalam tas ku, sambil berkata: “Dalam tas Ustazah ada kartu huruf hijayah, jadi kita akan bermain mengenal huruf hijayah dengan barisnya”. Setelah melihat kartu kecil yang ku keluarkan, mereka pun penasaran dengan tulisannya, Rayna pun berkata: “Ustazah mau liat hurufnya”. “Baik, Ustazah perlihatkan huruf-hurufnya. Setelah Ustazah perlihatkan dan Ustazah jelaskan cara penyebutannya, nanti Ustazah minta anak-anak semua menebak hurufnya ya..! Yang bisa menebak dapat tiga bintang dari Ustazah. Ananda semua siap?” Pintaku kepada anak-anak dengan nada semangat. “Siap Ustazah”. Jawab anak-anak serentak.

Kemudian, aku memperlihatkan kartu kecil huruf اَ اِ اُ sambil menjelaskan baris fathah, kasroh dan dhommah dengan cara menyebutnya: “Lihat anak-anak disini ada huruf hamzah berbaris fathah dibacanya a, dan ada huruf hamzah berbaris kasroh dibacanya i. Selain itu, ada huruf hamzah berbaris dhommah dibacanya u, dibaca semua menjadi a i u”.  Semua anak mengikuti membaca : “a, i, u”.   “Sekarang ini ada huruf apa ya ?”. Aku sambil menunjukkan kartu huruf بَ بِ بُ. Mereka menjawab bersama: “Huruf Ba Ustazah”. “Ma Sya Allah luar biasa sekali, anak-anak Ustazah semuanya benar menjawabnya. Ini adalah huruf Ba. Kalau yang ditengah ini huruf Ba berbaris kasroh dibaca apa ya? Ada yang tahu?” Tanyaku sambil berjalan-jalan mendekati mereka satu persatu. Fatih pun menjawab: “Huruf bi”. “Waah hebat sekali ananda Fatih, beri tepuk hebat untuk ananda Fatih”. Pintaku pada semua anak-anak. Anak-anak semua bertepuk tangan hebat untuk ananda Fatih. “Alhamdulillah 3 bintang untuk Fatih” ucapku pada Fatih. “Sekarang ini huruf ba berbaris dhommah dibacanya apa ya?” tanyaku lagi pada anak-anak.  “Bu Ustazah”. Sahut Rayna. “Hebat sekali ananda Rayna sudah betul jawabannya, beri tepuk mantap untuk Rayna”. Pintaku pada anak-anak semua. Anak-anakpun bertepuk tangan. “3 bintang untuk Rayna”. Ucapku pada Rayna.

“Sekarang Ustazah minta satu persatu baca بَ بِ بُ.” Pintaku pada semua anak-anak. Setelah semuanya membaca satu persatu, aku meminta anak-anak menebak sekali lagi huruf  نِ نُ نَ, sambil berkata: “Ini huruf apa ya ?”. Beberapa anak menjawab serentak dengan semangat: “Na Ni Nu”.  “Barrakallah hebat sekali anak-anak Ustazah semuanya. Alhamdulillah semuanya sudah mengenal baris fathah dibaca a, baris kasroh dibaca i, dan baris dhommah dibaca u. Semuanya dapat 3 bintang luar biasa.” Ucapku sambil bertepuk tangan dan mengacungkan dua jempol dengan bangga. “Baik, anak-anak hebat sekarang kita belajar wafa jilid 2 halaman 2 ya. Materi hari ini yaitu Hasana-Hasani, silakan buka buku wafanya.” Pintaku pada anak-anak semuanya. Setelah mereka membuka buku wafa masing-masing. Aku pun kembali menjelaskan tentang baris fathah dan baris kasroh pada kalimat Hasana-Hasani serta mencontohkan bacaannya. Setelah mencontohkan, aku meminta anak-anak membaca bersama, setelah 3 baris cukup membaca bersama. Kekurangan dari pembelajaran hari ini adalah anak-anak masih ada membaca dengan nada panjang, seharusnya pada materi hari ini semua huruf masih dibaca pendek satu harokat saja. Akupun kembali mengingatkan bahwa cara membaca hurufnya harus pendek satu harokat saja, sambil mencontohkan bacaan dengan ketukan tiga kali agar anak-anak mudah meniru nada pendeknya. Setelah mencontohkan bacaan yang benar, aku meminta  anak-anak satu persatu membaca 3 baris untuk penilaian.

Alhamdulillah pembelajaran pertama hari ini sangat menyenangkan, anak-anak dengan semangat belajar Al-Qur’annya sehingga pembelajaran dengan mudah dipahami. Setelah penilaian membaca wafa, Aku pun mengingatkan anak-anak tentang materi hari ini yaitu cara membaca baris fathah dibaca a dan baris kasroh dibaca i. Sebelum menutup pembelajaran hari ini, aku meminta anak-anak untuk membaca lafadz hamdallah. Dilanjutkan membaca doa senandung Al-Qur’an bersama-sama. Setelah membaca doa, aku menutup pembelajaran hari ini dengan mengucap salam. 

Sungguh pengalaman yang luar biasa dapat bertemu anak-anak yang sangat semangat belajar Al-Qur’an. Setelah pembelajaran Al-Qur’an selesai ada banyak anak yang berkata padaku :” Ustazah, Rayna mau belajar setiap hari di sekolah supaya bisa belajar dan menghafal bersama teman-teman dan sama Ustazah”. Ucap Rayna. Selain itu, Rais juga mengatakan: “Kapan covid-19 hilang supaya bisa belajar setiap hari di sekolah.” Dan pertanyaan anak-anak yang lain juga sama, maunya mereka belajar bersama setiap hari di sekolah. Tentu pertanyaan dan keinginan mereka ini membuat ku merasakan hal yang sama, terbatasnya pertemuan belajar yang dilaksanakan hanya beberapa kali pertemuan perkelompok saja. Itupun harus menunggu surat edaran persetujuan dari Pemerintah Daerah agar bisa dilaksanakannya pertemuan tatap muka belajar terbatas. Akupun cuma bisa berpesan kepada mereka, sambil berkata: “Ustazah pun juga berharap sekali kita sama-sama belajar Al-Qur’annya setiap hari di sekolah. Tapi karena kondisi sekarang lagi wabah covid-19 kita sama-sama bersabar ya, belajar online di rumah kita masih bisa belajar via zoom bersama Ustazah dan teman-teman. Dan ananda semua juga bisa mengulang pembelajaran wafa dan muraja’ah hafalan di rumah bersama Ayah dan Bunda. Kalau sering membaca Al-Qur’an dan membaca wafa bersama Ayah Bunda di rumah, Insyaallah berkah Al-Qur’an selalu mengalir ke rumah-rumah ananda. Dan di surga nanti Allah kumpulkan bersama Ayah dan Bunda karena sudah rajin belajar dan menghafal Al-Qur’annya. Jadi anak-anak Ustazah semuanya tetap semangat ya, kita semua sama-sama berdoa. Semoga wabah pandemi ini cepat hilang dan kita bisa beraktivitas secara normal lagi. Aamiin.”

_
Penulis : Hilmina – SDIT Ihsanul Amal Amuntai

Perjuangan yang Sesungguhnya

Halo, Semua! Kenalkan, namaku Nita Ulhasanah. 

Sejak di bangku SD aku selalu di panggil dengan sebutan Nita, sedangkan dirumah aku di panggil dengan sebutan Anit. Mengapa Anit? Karena aku merupakan anak kedua dari 3 bersaudara dan adikku lah yang memanggil dengan sebutan A nit yang berarti adalah kakak Nita dan kami juga memiliki seorang kakak yang bernama Laila yang di panggil A Lala yang berarti adalah Kakak Laila, dan aku memiliki seorang adik yang bernama Nida dan dialah yang memberikan panggilan yang unik untuk kakak-kakaknya. 

Aku dan keluargaku tinggal di kalsel, tepatnya di sebuah perkampungan yang indah, yang dikelilingi dengan pohon-pohon. Ini adalah pertama kalinya aku menulis dengan seluruh keterbatasan dan kekakuan yang aku tuangkan dalam sebuah tulisan yang akan menceritakan tentang sebuah perjuanganku memaksakan diri keluar dari zona aman, ditengah kesibukan mengerjakan skripsi dan juga bekerja sebagai guru di SIT Ihsanul Amal Alabio.

Kini aku berprofesi menjadi Guru Al-Qur’an di Sekolah yang bergengsi yaitu SIT Ihsanul Amal Alabio, suatu permulaan yang  aku hadapi ketika harus menjadi seorang guru dan juga berperan sebagai seorang mahasiswa semester akhir yang selalu bercengkrama dan bermain-main dengan banyaknya buku referensi. Bahkan pada saat itu aku tidak membayangkan bagaimana kelanjutan hidupku setelah wisuda! Apakah bekerja atau melanjutkan sekolah pondok pesantren untuk memperkuat hafalan Al-Qur’an dan fokus untuk mengaji ilmu agama dan mempelajari kitab-kitab. Bahkan pada saat itu aku telah membulatkan tekad ku untuk masuk pondok pesantren setelah wisuda bagaimanapun caranya.

Namun, semua itu sirna keinginan untuk melanjutkan sekolah pondok pesantren hanyalah sebuah angan-angan belaka. Takdir berkata lain.  Seiring bertambahnya usia kebutuhan hidup pun semakin tak terkendali banyaknya keinginan dan banyaknya biaya perkuliahan yang bagaikan mimpi buruk yang membuat keinginan untuk sekolah pondok pesantren hilang, karena tidak ingin membebani kedua orang tua lagi. Sampai pada waktu saat skripsi sudah berada di bab IV lalu datanglah seorang wanita yang 3 tahun lebih tua dariku datang menghampiriku yang merupakan kakak sulungku (A Lala) ia datang membangunkan lamunanku yang semenjak tadi hanya termenung di depan laptop dan bermain-main dengan buku referensi dan jurnal-jurnal, ia datang sembari berkata: “Di SIT Ihsanul Amal tempat kakak bekerja membuka lowongan pekerjaan yang membutuhkan Guru Al-Qur’an, dan kakak rasa kamu cocok untuk menjadi Guru Al-Qur’an disana, sambil mencari pengalaman”. Begitulah kira nya kalimat yang memuat sebuah informasi ia sampaikan kepadaku yang menurutnya profesi tersebut  sangat cocok dengan latar belakang perkuliahan tempat aku menimba ilmu (Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Amuntai/STIQ Amuntai). Aku hanya menganggukkan meng iyakan dan menunjukkan rasa tidak ketertarikan ku, pada saat itu aku masih berpikir amat pendek, pikiran ku melayang kemana-mana dan di iringi dengan sebuah pertanyaan dan menjawabnya sendiri. Apakah skripsiku dan kuliahku akan selesai jika aku sambil bekerja? Tidak mungkin pasti akan sulit mengatur waktu antara bekerja dan mengerjakan skripsi, jawabku di dalam hati. 

Keesokan harinya pada sore hari aku mengajar les privat ngaji dengan senang, ber do’a dan bercerita banyak hal, aku menyukai setiap waktu bersama anak-anak ketika ia sudah banyak cerita berarti anak tersebut juga menyukai kita dan mempercayakan segala hal kepada gurunya. Tanpa di sadari, sebuah pikiran positif masuk ke otakku dan aku mulai menemukan titik terangnya, bahwa menjadi Guru les Al-Qur’an dan mengerjakan skripsi bukanlah suatu alasan yang tepat untuk menolak sebuah lowongan pekerjaan, yang kini banyak pengangguran berasal dari S1 dari dunia perkuliahan. Banyak yang kuliah sambil bekerja dan itu bukanlah suatu masalah yang mendasar yang bisa dijadikan alasan untuk tidak bekerja dan hanyalah bermalas-malasan, bahkan mereka bisa menyelesaikan kuliah nya tepat waktu, dan mereka bisa mengapa aku tidak? Semua bisa di raih jika kita menjalani dengan serius dan tetap menjadikan skripsi dan kuliah sebagai prioritas yang utama. 

Keesokan harinya aku memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai Guru Al-Qur’an baru. Pagi-pagi sekali aku bangun menyiapkan segala hal keperluan yang dibutuhkan saat melamar pekerjaan di SIT Ihsanul Amal Alabio termasuk menulis CV Lengkap yang berisi data diri. Setelah mandi dan makan aku berpamitan dengan umma mencium tangan umma bolak-balik, kata umma, “mau kemana nak?”. Mau melamar kerja ma, di SIT Ihsanul Amal Alabio” kata ku. Umma mengukir bibirnya dengan senyuman setelah mendengar perkataanku, aku tahu pasti makna di balik senyuman tersebut dan juga ada doa yang beliau selipkan. Seperti halnya, Alhamdulillah anakku sudah beranjak dewasa, dan mandiri semoga kesuksesan selalu berpihak pada mu. 

Kendaraan beat hitam ku nyalakan dan tak lupa untuk membaca basmallah, tak sempat 10 menit aku sudah berada di parkiran SIT Ihsanul Amal dengan membawa sebuah map yang berisi data diri foto dan ijazah SMA, karena jarak antara rumah dan sekolah tersebut terbilang dekat. Sesampainya di SIT Ihsanul Amal aku tidak langsung mengantarnya ke kantor Manajemen. Namun aku berbelok dulu ke ruang UKS yang merupakan tempat kerjanya kakak ku, kakak ku merupakan lulusan Akbid (Akademi Bidan) yang kini berperan sebagai Humas SIT Ihsanul Amal dan Pembina UKS. Aku ditemani kakak ku untuk mengantar map yang berisikan lengkap dengan data diri dan foto. Sesampainya di ruang manajemen map tersebut langsung ku serahkan kepada ustadzah yang berada di sana, beliau memastikan kembali kelengkapan berkas yang di bawa dan no. tlp nya, agar beliau mudah menghubungi. 

Beberapa hari kemudian masuklah pesan Whatsaap yang mengabarkan tentang rangkaian agenda tes calon guru SIT Ihsanu Amal, dengan perasaan dag dig dug ku terima pesan tersebut. Perasaan haru, senang dan gelisah campur aduk karena nanti akan melakukan berbagai macam tes, sedangkan pada saat itu aku sakit demam yang sangat tinggi hingga membuat pusing. Esok harinya dengan sekuat tenaga ku nyalakan motor beat hitam ku kembali menuju SIT Ihsanul Amal Alabio dengan tepat waktu. Rasa gelisah muncul yang membuatku tidak konsentrasi terhadap apa yang di sampaikan oleh Direktur Operasional SIT Ihsanul Amal yaitu Ustadz Amiruddin, Spd. Esok harinya aku kembali datang ke Sekolah Ihsanul Amal Alabio dan inilah pertempuran awal, disana aku berperang melawan rasa sakit demam yang ada di tubuhku dengan memaksakan mengikuti rangkaian tes yang dilakukan. Pada hari itu ada Tes Tertulis, Tes Mengaji Al-Quran, tes bermain peran dan tes IT (Ilmu Teknologi).  Satu persatu tes pada hari itu telah aku lewati tanpa ada harapan lulus, karena dengan keadaan sakit yang menyebabkan segalanya tidak ter organisir dengan baik. 

Selang 1 minggu kemudian masuk lagi sebuah pesan dari Ustadzah Ni’matul jannah beliau menyampaikan bahwa besok harus tes wawancara langsung dengan ustadz Amiruddin S. Pd. Pada saat wawancara aku masih berada dalam tahap pemulihan, masih dalam keadaan yang kurang vit. Pada saat wawancara di sana Ustadz Amir hanya menanyakan beberapa pertanyaan saja seperti: Jika anda terpilih menjadi Guru di SIT Ihsanul Amal apakah anda bersedia tanda tangan kontrak dan apakan anda sudah tahu konsekuensinya jika anda berhenti di tengah jalan? Dan apa pendapat orang tua mu ketika kamu di nyatakan lulus dan menjadi bagian dari SIT Ihsanul Amal ini? Lalu aku menjawabnya dengan menganggukkan kepala sembari berkata, “Ya ulun mengetahui konsekuensi jika ulun berhenti di tengah jalan, dan kata umma jika sudah menjadi bagian SIT Ihsanul Amal tetaplah fokus di situ karena mungkin rezeki mu memang sudah ada di Ihsanul Amal”. Lalu setelah wawancara beliau juga melakukan tes hafalan kata beliau “sudah berapa juz kamu menghafal Al-Qur’an” dengan tertunduk malu aku menjawab “InsyaaAllah 8 Juz ustadz tapi yang mutqin hanya 1 juz”, “Juz berapa?” kata Ustadz Amir. “Juz 30 Ustadz” lalu ustadz Amir tertawa dan aku pun juga ikut tertawa malu. “ Ya Udah bacakan Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Buruj ayat 1-5 pakai Nada Hijaz Wafa” dengan jantung yang berdetak seolah-olah jantung pun ikut melantunkan ayat suci tersebut. Dengan Nada Hijaz  Wafa aku memulai nya dengan Ta’awudz dan Basmallah Surah Al-Fatihah mulus ku lantunkan dan Surah Al-Buruj pun berhasil di lewati sampai 10 ayat, padahal yang di minta hanya 5 ayat saja. Namun ada koreksi dari beliau kata beliau ada nada yang meleset tapi tak apa, nanti bisa di pelajari dan mendengarkan audionya juga. Dan pada hari itu saya di nyatakan lulus dan resmi menjadi calon guru SIT Ihsanul Amal dan besoknya di minta lagi untuk berhadir ke sekolah untuk tanda tangan kontrak. 

Usai Tanda tangan kontrak pekerjaan dan mengetahui segala peraturan yang ada di SIT Ihsanul Amal Alabio, aku mengikuti pelatihan sebagai peserta guru baru selama 15 hari yang diisi dengan materi-materi yang luas dan disampaikan oleh mentor-mentor SIT Ihsanul Amal yang hebat.  Pada pelatihan Guru Baru banyak motivasi-motivasi yang di dapatkan seperti halnya pada hari ke 13 yang diisi oleh Ustadz Amir yang mana beliau mengatakan bahwa: Biasakanlah untuk berfikir luas, karena dengan itu kita bisa melihat didalam setiap keburukan pasti ada kebaikan, begitupun sebaliknya dalam setiap kebaikan pasti ada keburukan. Seperti halnya kotoran sapi jika kita hanya berpikiran sebatas oh kotoran sapi itu, menjijikkan dan bau jika hanya berpikiran seperti itu kita hanya melihatnya buruk. Namun jika berpikiran luas maka dibalik kotoran sapi yang menjijikkan dan bau itu terdapat suatu kebaikan yang mana kotoran sapi tersebut sangat berguna bagi petani, kotoran sapi yang menjadi pupuk untuk menanam tumbuhan seperti pepaya, pohon mangga dsb. Kalupun kita hanya berpikiran sempit kita tidak akan tahu bahwa dibalik keburukan pasti ada terselip kebaikan. Seperti halnya kotoran sapi yang menjadi pupuk organik. Bahkan didalam kebaikan juga terdapat keburukan seperti halnya makan-makanan yang instan, makan itu memang baik bagi kesehatan dan menunjang kesejahteraan jasmani, namun jika kita terlalu sering menyantapnya dan terlalu banyak dalam makan itu akan berdampak buruk bagi kesehatan. Bukankah Rasulullah mengajarkan agar kita tidak terlalu berlebihan dalam segala sesuatu seperti halnya dalam makanan, bahkan Rasulullah juga bersabda dalam sebuah hadits yang artinya: “cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tubuhnya”. Dan Rasulullah juga membagi pola makannya “1/3 untuk makanan, 1/3 untuk air dan 1/3 untuk udara. Dan hal ini yang membuat Rasulullah menjadi sehat.

Sampai tibanya sekolah sudah kembali turun, namun hanya 3 hari dengan sistem tatap muka terbatas. Pada pukul 07.30 aku berdiri tepatnya didepan kelas untuk menyambut anak-anak yang hadir kesekolah dan menyapa nya dan memeriksa segala protocol kesehatannya memeriksa masker, dan menganjurkan untuk mencuci tangan sebelum masuk kelas. Setelah anak-anak sudah terkumpul aku berdiri di depan kelas untuk menanyakan khabar anak-anak serta sholat dhuha bersama anak-anak dengan di imami oleh salah satu anak laki-laki. 

Setelah sholat dhuha dilanjutkan dengan murajaah dan menghafalkan surah, namun ada seorang anak yang mengeluh bahwa ia tidak mau murajaah, menghafal dan juga belajar. Aku sangat memahami kondisi anak tersebut, karena ini merupakan tatap muka pertama setelah sekian lama libur. Pastilah ia masih terbawa suasana belajar dirumah secara online yang hanya santai. Pada hari pertama ku urungkan niat untuk terlalu serius dalam mengajar di dalam mengajar aku lebih sering bercerita dan bersikap terbuka dengan anak-anak. Pada hari itu anak-anak ku persilahkan untuk maju kedepan dan duduk berjajar disampingku. Ada seorang anak yang menyendiri Karena ia malas belajar, lalu ku hampiri anak tersebut dengan melengkungkan senyuman di wajahku, dan satu persatu pertanyaan ku ajukan kepada anak tersebut, satu pertanyaan yang diawabnya sangat antusias  yaitu “nak, apa hobi kamu dan apa yang kamu lakukan selama dirumah?” bermain game naruto, kata anak tersebut, lalu dengan pelan disana ku masukkan kata-kata bahwa aku juga menyukai naruto dan sejak kecil sering menontonnya, namun sejak saat ini aku tidak pernah lagi menonton naruto, lalu disana aku minta ceritakan kembali semuanya tentang naruto yang merupakan tokoh kartun kesukaan anak tersebut, disana ia sangat banyak bercerita dan sangat ceria sekali. Disana ku temukan satu pelajaran bahwa seorang pendidik harus menjadi pribadi yang terbuka dan ramah pada anak agar anak-anak merasa nyaman dan merasa diperhatikan. anak-anak akan bercerita banyak terkait dengan segala hobinya, sejak saat itu anak tersebut sangat bersemangat belajar, dan ceria. Tidak hanya kepada anak tersebut namun kepada anak-anak yang lain juga. Kegiatan sekolah lancar di jalani tanpa adanya suatu hambatan. 

Untuk memotivasi anak-anak, aku sedikit bercerita bahwa aku juga masih merupakan seorang mahasiswa, lalu anak-anak sangat antusias mendengarkan ceritaku. Mereka berkata: ustadzah kita ternyata masih sekolah seperti kita dengan diiringi tawa, dan juga bertanya apakah ustadzah juga memiliki banyak tugas? Jawabku ya ada banyak, karena ustadzah juga menghafal seperti kalian dan juga mengerjakan tugas agar bisa lulus kuliah, dengan kepolosan anak-anak tersebut yang megajukan pertanyaan satu persatu. Dan anak-anak tersebut menjawab aku juga ingin seperti ustadzah, aku juga ingin sekolah dan lulus lalu sampai kuliah. Di sana ku jelaskan dan berikan pengertian bahwa tidak hanya anak-anak saja yang di tuntut untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah namun seorang guru juga masih harus belajar dan mengerjakan tugas. Sama sepertinya aku yang masih harus belajar menjadi seorang guru yang baik dan diiringi dengan mengerjakan tugas kuliah, karena pada dasarnya, seorang guru harus belajar, belajar, belajar dan mengajar agar mendapatkan hasil yang maksimal sehingga apa yang akan di ajarkan akan menuai hasil, akan mudah dipahami oleh anak-anak. 

Setelah mengajar aku langsung bergegas pulang dan mengerjakan skripsi karena besoknya aku akan bimbingan dan mengikuti sidang terbuka/Munaqasyah skripsi dan mendapatkan acc dari dosen pembimbing. Segala lika-liku ujian skripsi telah berhasil ku lewati sampai kini aku berada di tahap akhir. 

Setelah pulang sekolah aku langsung mencetak skripsi dan langsung mengumpulnya kepada biro skripsi, perjuanganku tidak hanya sampai situ, bahkan aku selalu bolak-balik untuk mencetak skripsi yang masih terdapat kesalahan dalam mencetak dan selalu pulang pada sore hari. Akhir nya pada hari ahad, aku mengikuti sidang terbuka dan menjawab segala pertanyaan dosen penguji satu persatu. Dengan judul skripsi mengenai Kendala Mahasiswa dalam menyelesaikan target hafalan Al-Qur’an yang ada di STIQ Amuntai. Ada salah satu dosen yang bertanya, beliau menanyakan “terkait dengan judul kamu, apakah kamu sendiri memiliki kendala dalam menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mengerjakan skripsi tersebut, apalagi sekarang kamu sudah bekerja”. Aku menjawab dengan tegas, bahwa aku pribadi tidak memiliki kendala dalam menghafal dan mengerjakan skripsi. Bagiku pekerjaan dan tugas adalah suatu kewajiban yang sangat berkaitan satu sama lain dan selama bekerja aku tetap mem prioritaskan hafalan dan juga skripsi. Setelah satu jam lebih aku di sidang dengan beberapa pertanyaan yang mengasah kemampuan untuk berfikir lebih luas.

 Setelah sidang aku langsung kembali pulang kerumah, dari seminar proposal sampai sidang terbuka aku hanya melakukannya sendiri tanpa adanya dukungan dan bantuan dari teman-teman, karna bagiku hanya aku yang mengerti dari setiap isi tulisan skripsi ku.

Aku sidang terbuka tanpa didampingi oleh orang-orang terdekat, aku iri kepada teman-teman yang ketika sidang didampingi dan di semangati oleh teman-temannya. Bahkan saat selesai sidang mereka banyak mendapatkan kado dan buket bunga, sedangkan aku pulang dengan tangan kosong, tapi tak mengapa, semua itu tidak terlalu penting yang penting aku pulang dengan membawa senyum kebahagiaan yang menandakan bahwa aku telah selesai ujian. Umma yang melihatnya pun, juga ikut tersenyum. Akhirnya lulus tepat waktu kata umma dan nilai plusnya sudah mendapat pekerjaan tanpa harus terlalu lama menganggur. 

Dan akhirnya aku lulus dengan nilai sangat memuaskan. Pada saat wisuda aku tetap melaksanakan kewajibanku sebagai guru yang mengajar secara online, mengoreksi hafalan anak-anak dan memberikan apresiasi kepada anak-anak yang telah mengirimkan setoran hafalannnya pada hari itu.

Kata pak Bin salah satu tokoh yang ada di dalam karya tereliye dia mengatakan: Meski kita telah bekerja keras setiap waktu, belenggu kemiskinan tetap menjerat erat akibat ketidaktahuan, akibat dangkalnya pendidikan. Itulah pentingnya sekolah, agar kita bisa menghancurkan belenggu itu. 

Nah, Kesuksesan ada di tanganmu sendiri, bangunlah dari tidur mu kejarlah mimpi itu, raihlah kesuksesan tersebut, Karena hasil tidak akan menghianati proses. Tegakkan lah pohon cita-citamu setinggi mungkin. Langit adalah batasnya. Siapa saja bisa menggapai mimpi jika bersungguh-sungguh semua nya akan terwujud. 

_
Penulis : Nita Ulhasanah – SIT Ihsanul Amal Alabio

Bersama Wafa Merajut Amal Jariyah

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (Agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS. Muhammad:7)

Bangunan itu telah berdiri kokoh dari 2 tahun sebelumnya, namun sayang tak ada keriuhan anak-anak disini, yang ada semak belukar yang lebat di sekitar bangunan, pepohonan yang tumbuh tak beraturan sehingga membuat bangunan yang megah ini terkesan menyeramkan. Sesekali terdengar suara lenguhan sapi dan suara kambing. Ya, karena siang hari tempat ini dijadikan masyarakat untuk menambatkan hewan ternaknya. Apa jadinya jika kita berkunjung kesini pada malam hari? mungkin sangat cocok untuk dijadikan tempat syuting “Alam gaib” atau “ Antara ada dan tiada”…

Inilah cikal bakal SMKIT Khoiru Ummah tempat aku di amanahkan menjadi guru Qur’an dan sekaligus kesan pertamaku ketika menginjakkan kaki untuk pertama kalinya. Kalau boleh jujur sesungguhnya Sebenarnya background pendidikanku bukanlah pendidikan Al-Qur’an atau Hadits,  melainkan jurusan bahasa inggris yang  seharusnya sehari-hari berkutat dengan grammar, vocabularies beserta kroni-kroninya. Mungkin orang akan terkaget-kaget bagaimana bisa akhirnya putar haluan untuk menjadi guru Qur’an? Tentu hal ini bukanlah hal yang mendadak namun melalui proses yang panjang dan di penuhi suka dan duka. 

5 tahun aku lalui sebagai pengajar bahasa inggris. Namun, terkadang ada saja kejenuhan yang muncul dimasa-masa aku mengajar. Dan pada puncak kejenuhanku aku menemukan sebuah hadits 

“ Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Qur’an dan mengajarkannya (HR.Imam Bukhari)

Ketika membaca hadits ini aku berpikir apa sebenarnya yang ingin aku raih di dunia ini selain ridho Allah? Seketika ada rasa iri ketika melihat teman yang mengajar Al-Qur’an betapa nikmatnya mereka Karena bisa bersahabat dan  berinteraksi dengan Al-Qur’an setiap hari. Tak di pungkiri disetiap sholatku terselip do’a agar bisa menjadi ahlul qur’an dan bisa belajar Al-Qur’an lagi. 

Qodarullah, do’aku disambut Allah dalam sebuah kecelakaan motor. Kecelakaan itu tak hanya membuat lengaanku patah namun juga merenggut pekerjaanku. Aku di PHK karena pihak sekolah tak mau menunggu hingga kesehatanku pulih, mengingat proses kesembuhan yang memakan waktu cukup lama. 7 bulan aku berada dirumah tak dapat beraktifitas. kala itu aku habiskan waktuku dengan Al-Qur’an, tilawah dan mendengarkan murottal sesekali membaca terjemahannya, entah mengapa ada kenikmatan tersendiri ketika berlama-lama dengan Al-Qur’an. Setelah sembuh kabar bahagia itupun tiba tatkala kakakku mengirimkan sebuah brosur dauroh Al-Qur’an dan bersedia untuk membiayai semua pendidikanku hingga selesai. 

Di sebuah pondok dikota kembang, aku tinggalkan sejenak atribut ke-Guruan ku untuk kembali berkhidmat menjadi santri di salah satu pondok tahfidz. Disana aku menemukan banyak ilmu dan pengalaman yang mengesankan tentang Alqur’an. Tak jarang aku menangisi diriku yang menyesalkan kenapa baru di umur segini aku mengetahui keistimewaan-keistimewaan Al-qur’an.  Al-qur’an mengajarkan bahwasanya ketika manusia menjadikan Alqur’an sebagai jalan hidup, maka rezekinya adalah kelas langit dan bumi, yaitu dunia akhirat. Maka saat itu aku teguhkan hatiku bahwa Alqur’an adalah jalan hidupku.

 Namun lagi dan lagi Allah mengujiku, beberapa bulan setelah itu aku harus menerima kabar buruk bahwasanya ayah yang selalu mensuport-ku dan yang menjadi alasan untuk aku menghafal meninggal dunia dalam kecelakaan. Bagaikan disambar petir kala itu dan rasanya kakiku tak mampu untuk berpijak pada bumi. Kata-kata terakhir almarhum sebelum aku berangkat bertalu-talu dalam ingatanku, 

Nak, jika kau benar-benar ingin belajar Alqur’an, hanya satu yang ayah minta, tolong amalkan ilmumu jangan kau sia-sia kan”. 

Hingga detik ini, kata-kata itu selalu menjadi alasanku untuk tak meninggalkan Al-Qur’an apapun kondisinya. Interaksiku dengan Alqur’an ibarat rasa rindu yang tersampaikan kepada ayah yang sudah bahagia disana.  Sejak itulah aku membulatkan tekad untuk menjadi seorang guru Qur’an hingga akhir hayatku agar aku dapat mempersembahkan butiran-butiran pahala yang akan terus mengalir tanpa syarat kepada ayah, sebuah hadits yang aku baca dan selalu sukses membuatku meneteskan air mata 

“Barang siapa yang membaca alqur’an dan mempelajarinya serta mengamalkannya akan dipakaikan mahkota dari cahaya yang cahayanya lebih indah daripada cahaya matahari dan dipakaikan kepada kedua orang tuanya dua jubah kemuliaan yang tidak didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, kenapa aku dipakaikan ini? Karena kalian memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Alqur’an.”

Perjalananku sebagai guru Qur’an dimulai di yayasan Al-Amin, dimana saat itu ada lowongan guru Qur’an, yaitu ditempatkan disalah satu unitnya yaitu SMKIT Khoiru Ummah, sekolah baru dan belum ada santrinya sama sekali. Kenapa aku bisa menerima tempat ini padahal aku bisa mendapatkan tempat yang lebih baik jika aku ingin?  jawabannya adalah karena visi dan misinya yaitu ingin menjadikan sekolah ini sekolah swasta yang berbasis al-Qur’an dan mencetak generasi yang qur’ani. Sungguh ini adalah jalan yang aku cari untuk tetap istiqomah bersama Alqur’an. Selain itu, bagiku sekolah yang berbasis islam terpadu  didaerahku masih sangat sedikit dan minim dengan pendidikan Alqur’an  padahal kehidupan remaja disini semakin bebas dan jauh dari aturan islam. Dan akhirnya bismillah aku mantap untuk memilih sekolah ini sebagai tempat berlabuh. 

Menjadi seorang perintis bukanlah mudah, tidak sama seperti guru yang sudah langsung memiliki murid yang banyak dan fasilitas sekolah yang lengkap. Di awal perjalanan kami harus jatuh bangun untuk mencari siswa. Berbagai cara kami tempuh untuk meyakinkan masyarakat akan keberadaan sekolah ini, yaitu dengan menawarkan visi dan misi sekolah yang berbeda dengan SMK pada umumnya, dengan menyebarkan brosur, masuk kesekolah-sekolah hingga door to door mengetuk pintu rumah mencari anak yang ingin melanjutkan sekolah ke SMA. 

Beberapa bulan menuju kelulusan kami menyadari bahwa siswa yang daftar masih sangat sedikit bahkan masih hitungan jari, bahkan ketua yayasan mulai pasrah dengan kondisi. Beliau sempat menyebutkan jika tahun ini tak lagi mendapatkan siswa maka beliau akan di penjara atau bangunan itu akan di ambil alih oleh pemerintah, dikarenakan bangunan tersebut memang hasil negosiasi oleh pihak wakaf tanah dengan pemerintah daerah untuk pembuatan gedung SMK.  Beruntung kami memiliki tim yang sangat kompak dan saling mensuport hingga memutuskan hal yang cukup mengambil resiko yaitu sekolah gratis untuk tahun pertama hingga mereka lulus. Dengan beberapa pertimbangan bahwa disekitar sekolah ini banyak anak-anak yang putus sekolah karena tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SMA.

Alhamdulillah satu persatu siswa datang mendaftar, meskipun bagi kami itu belumlah seberapa namun cukup untuk membuat sekolah ini berjalan dan aktif menjadi sekolah yang sesungguhnya. Karena hal tersebut membuat kami sebagai perintis tidak memiliki standar wajib bagi anak-anak untuk masuk kesekolah ini yang penting mereka mau di didik disini dengan tidak mengurangi visi dan misi yang kami buat di awal. Termasuk pendidikan Al-Qur’an.  Sehingga tak heran jika di awal banyak menemukan anak-anak yang tidak bisa baca Al-Qur’an bahkan buta huruf Al-Qur’an.

Sebut saja namanya Meki, masih teringat jelas ketika dia datang kesekolah dengan membawa formulir pendaftaran, dengan celana boxer memakai kaos oblong dan asesoris kalung dan gelang rantai di tangan dan lehernya. aku yang menjaga meja pendaftaran waktu itu agak sedikit kaget dengan penampilannya namun karena butuh siswa jadi terima-terima saja. Mungkin siswa seperti itu tak hanya satu tapi hampir semua siswa karena memang sekolah kami berada di pedesaan yang agak terpencil dan hampir semua masyarakat belum terlalu mengenal islam secara kaffah. Namun tak menyurutkan semangat kami, karena kami yakin bahwa jika kita berniat baik yaitu menghadirkan sekolah yang mendekatkan kita dengan Al-Qur’an maka Allah akan hadirkan orang-orang baik yang menolong.

Qodarullah ada seorang pemilik Apotik di daerah ini yang datang berkunjung ke sekolah kami karena tertarik dengan brosur yang kami sebarkan. Alhamdulillah saat itu sekolah sudah dibersihkan hingga tak lagi semak-semak yang menempel, hanya pepohonan dan rumpun bambu yang menambah keasrian sekolah. Ketika datang beliau bertanya apa yang sekolah ini tawarkan? Dengan percaya diri kami pun berkata jika fasilitas yang ada belum terlalu lengkap tapi kami memiliki visi dan misi untuk menjadikan anak bapak dekat dengan Al-Qur’an. Diluar dugaan hal itu membuat si bapak langsung menerima dan memasukkan anaknya ke sekolah kami karena besar harapannya agar anaknya tersebut lebih mengenal islam dan dapat membaca dan menghafalkan Alqur’an.

Tibalah hari itu, hari dimana semua siswa masuk pertama kalinya ke SMKIT Khoiru Ummah, dan aku di amanahkan menjadi koordinator di bidang tahsin dan tahfidz. Awalnya sangat sulit untuk mengenalkan Al-Qur’an kepada mereka, jangankan untuk menghafal, menyentuhpun tidak. Aku terkejut ketika melakukan tashnif untuk pertama kalinya beberapa siswa di kelas TBSM sudah 3 tahun tidak memegang al-Qur’an. Dari hasil tashnif tersebut kami menemukan beberapa santri yang buta huruf Al-Qur’an, selebihnya yang standar baca qur’anya masih level 2 karena jarang membaca Al-qur’an.   Kenyataan yang sangat miris, tapi aku percaya bahwa inilah jalan dakwahku, yaitu bagaimana caranya membuat mereka yang tadinya asing menjadi terbiasa untuk membaca dan menghafalkan al-Qur’an.

Perlahan-lahan aku memberikan motivasi kepada mereka akan pentingnya Al-Qur’an dalam hidup, aku katakan Bahwasanya Alquran sangat mudah untuk dihafal sebagaimana Allah berjanji dalam surat Al-qomar ayat 17:

Sungguh Allah mudahkan Alqur’an untuk di ingat, maka adakah orang yang  mau mengambil pelajaran?

Ada sudut mata yang basah tatkala aku ceritakan tentang bagaimana Al-Qur’an memuliakan para penjaganya, syurga ‘adn, mahkota kemuliaan, jaminan bagi kedua orang tuanya untuk memasuki syurga dan keindahan-keindahan lain yang membuat kita tercekat, mata berkaca-kaca saking inginnya. Salah seorang siswi datang kepadaku berurai air mata, dengan tersedu ia berkata “Ustadzah, aku ingin jadi penghafal Al-qur’an, aku ingin memberi mahkota kemuliaan untuk kedua orang tuaku” . Ada bahagia tersendiri tatkala melihat semangat mereka melafalkan ayat demi ayat, meskipun dengan terbata-bata, karena yakin bahwa berlama-lama dalam kebaikan itu artinya membuat pahala terus mengalir. 

Sedikit demi sedikit kami kenalkan Al-Qur’an kepada mereka. Setiap hari murotal Al-Qur’an selalu terdengar disekolah ini setiap pagi hari dan jam-jam istirahat. Namun sebagai Koordinator Qur’an aku menyadari bahwa sekolah ini masih belum maksimal dalam pembelajaran Qur’an, metode yang ditawarkan yayasan untuk kami belum memiliki hasil yang maksimal untuk menggembleng kemampuan siswa, sehingga hal itu menjadi kendala mereka dalam menghafal yaitu tahsin Qur’annya yang belum baik. Dan aku berpikir bahwa sekolah ini harus memiliki metode yang pas dalam mengajarkan Al-Qur’an tapi aku belum tahu metode apa yang cocok.

Beberapa bulan dilalui, sehingga tiba di bulan ramadhan tatkala yayasan mengadakan kajian Al-Qur’an. disaat itu juga kedatangan tamu dari Wafa Qur’an Center yaitu ustadz Adhan Sanusi yang saat itu sedang membina yayasan di daerah sebelah yang memang lebih dulu menggunakan metode ini. Disinilah aku mengenal metode WAFA untuk pertama kalinya, ustadz Adhan menjelaskankan bahwa sebaiknya sekolah memiliki standar dalam mengajarkan Al-qur’an agar terhindar dari kesalahan serta memiliki jaminan mutu yang dapat di pertanggung jawabkan, dan beliau mengenal bagaimana asyiknya belajar Alqur’an dengan metode WAFA, yaitu metode otak kanan yang membuat pembelajaran al-Qur’an itu menyenangkan dan jauh dari kata seram.

Tibalah di rapat guru Qur’an yayasan. Memang beberarapa bulan sekali yayasan mengadakan pertemuan guru Qur’an mulai dari PAUD hingga SMK untuk mengevaluasi pembelajaran tahsin dan tahfidz Al-Qur’an. Hasilnya semua unit hampir memiliki kendala yang sama yaitu belum memiliki metode dalam mengajar Qur’an sehingga output yang dihasilkan masih jauh dari harapan. Di saat genting seperti ini maka tercetuslah ide untuk bergabung dengan Wafa Center dengan harapan yayasan ini memiliki metode yang berstandar dan memiliki hasil yang baik. Untuk memutuskan hal ini pun tidak mudah, apalagi beberapa unit masih kekeh untuk menggunakan metode mereka masing-masing. Hingga kami harus menunggu 1 tahun setelahnya barulah yayasan menyatakan  akan bergabung dengan WAFA Qur’an Center.

Seperti menemukan oase di padang pasir, akhirnya penantian berbuah hasil. Di awali dengan pelatihan yang di isi trainer WAFA yang luar biasa yaitu ustadz Dodi Tisna Amijaya dan ustadz Wawan Fitriono. Dari beliau berdua kami banyak menemukan pelajaran baru, dan sedikit demi sedikit kami mampu bangkit dari keterpurukan. Bahkan pembelajaran tahsin menjadi pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa-siswa kami, tak hanya itu masyarakat diluar pun tak kalah semangat untuk mendaftarkan diri untuk belajar WAFA di yayasan kami.

Dalam hitungan  bulan rasanya sulit dibayangkan bagi mereka untuk dapat menuntaskan  buku Tilawah tajwid dan ghorib, terlebih lagi sebagian besar dari siswa bukanlah lulusan pesantren atau sekolah islam yang sudah bisa baca Al-Qur’an.  Tapi biidznillah, aku cukup bahagia ketika melihat beberapa siswa yang dulu belum bisa membaca Alqur’an sudah mulai menunjukkan perkembangan,  para ustadz dan ustadzah pun sangat bersemangat belajar Al-Qur’an setiap ba’da dzuhur. Mereka tidak malu untuk belajar dari level 1 karena sangat ingin bisa membaca Al-Qur’an dengan baik. Dan yang paling aku syukuri adalah akhirnya sekolah memiliki metode yang tepat dan terukur dalam mengajarkan Al-Qur’an.

6 bulan setelah pelatihan kami mengajukan diri untuk menjalankan munaqosyah WAFA, Alhamdulillah dari munaqosyah tersebut hampir semua siswa dan guru kami dinyatakan lulus. Mata mereka berkaca-kaca saat sertifikat lulus dibagikan, ada bahagia yang tak mampu disembunyikan di semburat wajah mereka. Hingga salah seorang wali santri mengungkapkan kebahagiannya ketika mengetahui bahwasanya anaknya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik bahkan ada yang telah menyelesaikan hafalan 1 juz Alqur’an. untuk santri tahun pertama diantara semuanya ada 14 santri yang mampu menyetorkan 1 hingga 2 juz Alqur’an dalam rentang waktu 6 bulan. Dan lebih membanggakan lagi karena beberapa santri adalah alumni dari sekolah umum yang baru menghafal Alqur’an ketika di SMKIT. 

Akhir tahun 2020 lagi-lagi kita di uji dengan keadaan, yaitu tersiar kabar bahwa dunia kita sedang terserang wabah yang mematikan yaitu covid 19. Kabar kematian terdengar santer di televisi sehingga presiden bahkan bupati pun harus me-lock down semua kegiatan untuk beberapa bulan kedepan termasuk proses belajar mengajar di sekolah, hal itu membuat sekolah harus memutuskan sekolah daring (dalam jaringan) karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk tatap muka. Kondisi ini sungguh sangat menyiksa kami dan juga anak-anak. 

Terbayang sudah bagaimana menjejaki setapak-demi setapak jalan menuju ke syurga yang penuh dengan jariyah, “Khoiru Ummah”. Terbayang siswa yang lalu lalang dijalan raya menyapa kami dengan penuh hangat, ada juga yang hanya tersenyum sambil menklaksonkan kendaraan roda duanya. Dari gerbang sekolah alunan murotal alqur’an menyambut kedatangan mereka. Namun kini tak ada lagi, tak da keriuhan siswa di sekolah, tak ada lagi yang menyapa pagi hari. Yang ada kami harus berkutat dengan gadget dan siap di depan handphone masing-masing. 

Tapi itulah kekurangannya, ketika sekolah daring kami menemukan santri yang malas dan tidak semangat belajar, terkadang waktu belajar tiba tetapi siswanya belum nongol-nongol di zoom ataupun google meet, jika di Tanya jawaban mereka beragam ada yang kesiangan, ada yang tidak ada kuota, bahkan ada yang hilang tanpa berita. Dan tak jarang ketika sedang online tiba-tiba jaringan jelek dan aplikasi mati tiba-tiba sehingga membuat pembelajaran khususnya tahsin dan tahfidz menjadi kurang maksimal. Itulah suka dukanya mengajar melaui online, tapi beruntung WAFA memiliki pembelajaran berbasis online seperti aplikasi juz 28, 29 dan 30 yang bisa di download di handphone masing-masing bahkan bisa didengar kapan saja secara offline, dan juga pelatihan online untuk guru-guru dan siswa, sehingga biidznillah ditengah pandemi pun kami masih dapat melakukan aktifitas mengajar tahsin dan tahfidz dan ujian munaqosyah WAFA. 

Hari ini sudah hampir 3 tahun kami menggunakan metode WAFA dan menjalani 2 kali ujian Munaqosyah untuk guru dan siswa. Hampir semua guru bacaan Qur’annya telah terstandar dan siswa pun sudah banyak kemajuan bahkan tak hanya dapat membaca Al-Qur’an dengan baik tapi beberapa siswa telah berhasil menghafal lebih dari 10 juz Al-Qur’an. Untuk pembelajaran tahsin dan tahfidz metode ini sangat bagus dan  benar-benar terukur, bahkan di daerah kami tak hanya kami saja yang menggunakan metode ini bahkan ada beberapa yayasan lain yang juga mengikuti jejak kami menggunakan metode ini. 

Siapa yang menyangka bangunan tak berpenghuni dan minim murid itu sekarang sudah menjadi sekolah terbaik didaerahnya untuk kategori SMK, yang dahulu menjadi tempat menambatkan ternak telah berubah total menjadi bangunan yang kokoh dan asri meski tempatnya jauh dari keramaian kota namun tetap riuh dengan suara santri yang menyetorkan hafalan atau muroja’ah hafalannya. Masyaallah tabarokallah, hadza min fhadli rabbii. Sungguh aku semakin yakin bahwa tak ada yang tak mungkin bagi Allah, Allah akan memudahkan semua niat baik kita. Dan aku selalu berdo’a semoga kami sebagai pendidik mampu menjadi cahaya bagi mereka, mampu menjadikan mereka generasi yang mencintai Al-Qur’an, karena aku yakin setitik usaha yang kita perjuangkan dijalan Allah akan menjadi amal jariyah di yaumil akhir nanti.

Jika engkau merasa bahwa segala yang di sekitarmu pekat dan gelap

Tidakkah dirimu curiga?

Mungkin engkaulah yang dikirim Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka?

Berhentilah mengeluhkan kegelapan itu

Sebab sinarmulah yang sedang mereka nantikan

_
Penulis : Rahmaniar – SMKIT Khoiru Ummah

Beruntungnya Generasi Qur’ani

Sekolahku, Surgaku

Pagiku cerah, waktunya kembali ke sekolah. Bersua dengan keluarga di rumah kedua. Hati berbunga melihat setiap anak melangkah ke gerbang sekolah dengan senyum dan langkah semangat. Satu per satu mereka menyalami kami, guru-gurunya dengan penuh antusias. Bel berbunyi, lalu anak-anak berbaris teratur di depan kelas dan suara mereka saling bersahutan meneriakkan yel-yel sekolah dengan kompak dan semangat. “SDIT Taqiyya Rosyida, Madrassati Jannati, Sekolahku Surgaku!” Slogan itu mereka teriakkan dengan tulus dan semangat, pertanda setiap anak selalu merindukan rumah keduanya itu.

Suasana pagi sekolah begitu menyejukkan hati. Terdengar bersahutan bacaan sholat dhuha dan dzikir pagi di kelas-kelas dan masjid. Selepas sholat dhuha dan dzikir pagi, mereka lanjut murojaah dan menghafal ayat-ayat qauliyah-Nya di masjid, gazebo dan kelas-kelas. Menyejukkan hati bukan? Namun, itu hanya kenangan masa lalu. Suasana surga seperti itu, sudah lama tidak ada di sekolah. Kami berharap bumi ini segera sembuh. Sangat rindu berQur’an dan duduk melingkar dengan generasi-generasi Qur’ani. Rindu menyimak bacaan Wafa mereka. Rindu memandang wajah polos mereka yang sangat antusias belajar Al-Qur’an. 

Ketika memandangi wajah mereka mengingatkan bahwa setiap anak manusia adalah mahakarya. Mahakarya yang Allah ciptakan dengan perhatian sempurna dan istimewa. Allah membekali anak manusia dengan beragam kecerdasan, baik kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual (multiple intelligence).

Bila kecerdasan ini dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal, akan membuka peluang besar untuk membuat anak menjadi generasi yang berbudi dan berprestasi. Salah satu upaya meningkatkan kecerdasan adalah dengan menerapkan kebiasaan menghafal Al-Qur’an. Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa menghafal Al-Qur’an dapat meningkatkan kecerdasan, baik  emosional, spiritual, dan intelektual.

Kecerdasan dan kebiasaan menghafal Al-Qur’an.

Saat kelas, kami senantiasa memotivasi anak-anak untuk semangat menghafal Al-Qur’an. “Sholih sholihah, banyak sekali keberuntungan yang kita dapat jika kita menghafal Qur’an. Allah akan memuliakan penghafal Al-Qur’an. Selain itu, orang yang terbiasa menghafal akan membuat  sel-sel otak dan badannya aktif karena difungsikan terus menerus. Dengan menghafal, otak kita akan lebih cepat menyerap dan menyimpan informasi dalam waktu yang lama. Sehingga menghafal Al-Qur’an secara otomatis dapat meningkatkan kecerdasan kita” jelasku.

 

“Sedikit cerita teman-teman. Dulu ustadzah memiliki siswa yang mempunyai kesulitan belajar. Siswa ustadzah menderita disleksia, yaitu kesulitan dalam membaca, menulis, atau mengeja. Ia sudah kelas 3 SD, tetapi belum bisa menghafal huruf-huruf hijaiyah. Namun, dia punya motivasi dan tekad yang kuat dalam belajar. Ustadzah coba mengajarinya dengan metode Wafa, metode belajar dengan otak kanan yang kita gunakan sekarang, teman-teman. Alhamdulillah dengan metode Wafa yang menyenangkan dan tekadnya yang kuat, dia bisa lancar membaca huruf-huruf hijaiyah,” jelasku.

“Sekarang, dia bisa lancar membaca Al-Qur’an dengan tajwid dan sudah hafal 5 juz, masyaAllah. Selain itu teman-teman, dia juga punya banyak prestasi dalam lomba karya ilmiah. Semangat ya teman-teman. Kalau kita bersungguh-sungguh, pasti kita akan bisa sukses. Maksimalkan potensi yang kita miliki,” sambungku.  

“Wah, begitu ya ustadzah, aku mau tambah rajin menghafal ah, biar tambah cerdas,” kata Ita. “Ita, menghafal itu karena Allah, biar tambah berkah. Kalau kita tambah cerdas itu bonus dari Allah hehee,” kata Bunga. “Hehe iya siap Bunga, hafalanmu banyak makanya kamu tambah cerdas hehe, lalu manfaat tahfidz lainnya apa ustadzah?” tanya Ita.

 “Mantap teman-teman, manfaat lainnya ialah hati kita menjadi tentram dan tenang, karena kita senantiasa membaca dan menghafal firman Allah, serta mengingat-Nya. Selain itu, kita juga akan menjadi pribadi yang berakhlak mulia teman-teman. Penghafal Qur’an hendaknya juga mengamalkan isi Al-Qur’an. Tidak hanya membaca dan menghafalnya saja,” jelasku.

Bunga salah satu siswi kelas 5B menanggapi, “Wah, aku jadi tambah semangat menghafal Al-Qur’an, ustadzah. Selain mendapat kemuliaan di akhirat, kita juga dapat banyak manfaat. Ayo semangat teman-teman. Generasi Qur’ani ….!” Lalu, serempak teman-temannya menjawab, “Cinta Qur’an!” 

Bunga adalah salah satu anak didik kami yang sangat semangat belajar Al-Qur’an. Ia salah satu siswa kelas 5 Program Khusus tahfidz.  Capaian hafalannya banyak dan bacaannya bagus. Ia anak yang disiplin waktu, tau kapan waktunya belajar, mengaji, dan bermain. Sehingga prestasi belajarnya juga bagus di sekolah. Selain itu, ia punya adab bagus dan rajin beribadah. Ia gambaran generasi Qur’ani yang memiliki kecerdasan yang komprehensif, damai dalam interaksi sosialnya, berkarakter kuat, dan juga beradab.

Belajar dari Bunga

Saat ngobrol-ngobrol santai dengan Bunga di sela-sela istirahat, selalu banyak pelajaran yang bisa diambil. “Bunga cantik, apa yang membuat Bunga semangat menghafal Al-Qur’an?” tanyaku. “Aku ingin menjadi salah satu penjaga al-Quran yang mulia, ustadzah. Jangan sampai ada yang merubah dan melenyapkan firman Allah, betul kan ustadzah?” sahut Bunga.

MasyaAllah sholihah, iya betul. Hafidz atau hafidzah itu adalah orang-orang yang Allah pilih untuk menjaga Al-Qur’an. Allah sangat memuliakan para penghafal Al-Qur’an. Itu salah satu cara Allah untuk memelihara Al-Qur’an. Kita ingat firman Allah: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (Q.S.al Hijr: 9),” jelasku.

“Bahkan, Allah turunkan Al-Qur’an dengan mudah dihafal. Coba mbak, apakah ada karya manusia yang tebalnya setebal Qur’an dan bisa dihafal persis huruf per huruf seperti Al-Qur’an? Tidak ada bukan. Kita ingat, ayat yang Allah ulang empat kali dalam surah al-Qomar: Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran (Q.S.al-Qomar: 17,22,32,40). Nah mbak, sebenarnya Allah turunkan Al-Qur’an dengan mudah dihafal,” sambungku.

MasyaAllah, berarti Al-Qur’an itu sebenarnya mudah dihafal ya, ust. Tinggal kita mau bertekad kuat menghafal atau tidak,” kata Bunga semangat. “Iya betul mbak, terkadang kita menghafal tapi belum hafal-hafal, berarti usaha kita yang kurang. Maka harus ditambah usahanya. Kalau udah benar-benar lelah menghafalnya, coba istirahat dulu jangan dipaksakan. Nanti dilanjutkan lagi ngafalnya,” jelasku. “Siap ustadzah, terima kasih semangatnya,jawab Bunga.

Belajar dari keluarga penghafal Qur’an

Kami kagum dengan Bunga dan anak-anak lain yang sangat semangat belajar Al-Qur’an. Meskipun pandemi dan belajar dari rumah, mereka tetap semangat setoran hafalan dan setoran bacaan Wafa. Mereka sangat semangat belajar Al-Qur’an karena cintanya pada Al-Qur’an begitu besar dan ayah bunda mereka juga berhasil membentuk budaya Qur’an di rumah sendiri.

Saat pembelajaran daring, pembelajaran AQT (Al-Qur’an dan Tahfidz) di sekolah kami, menggunakan Zoom, Google Meet, Video Call, atau kirim video. Agar tetap ada interaksi tatap muka antara guru dan murid. Meskipun di awal perlu banyak penyesuaian, alhamdulillah saat ini anak-anak cukup antusias saat belajar daring. Bahkan, eberapa anak merasa sedih saat ada tanggal merah dan mereka tidak bisa setoran Wafa dan hafalan di hari itu. Di masa pandemi ini, perjuangan guru AQT memang lebih ekstra dalam mendampingi anak-anak belajar dari rumah. Tentunya juga perlu kerjasama yang baik antara guru dan ayah bunda di rumah.

Kami pernah berbincang dengan ibunda dari Alif Firstdy Hafidzurrahman, salah satu Hafidz Cilik Indonesia yang pernah kami undang ke acara sekolah beberapa waktu lalu. Mas Alif adalah 11 besar Hafidz Cilik Indonesia RCTI Tahun 2015, juara 1 MHQ (Musabaqah Hifdzil Qur’an) JSIT Seluruh Indonesia Tahun 2015, juara 1 MHQ tingkat provinsi DIY Tahun 2017, dan juara 1 MHQ piala Gubernur se-DIY Tahun 2017. Ibunda mas Alif hafidz cilik membagikan tips bagaimana agar anak istiqomah bersama Al-Qur’an.

“Bunda, mas Alif alhamdulillah tumbuh menjadi penghafal Al-Qur’an dan mempunyai banyak prestasi membanggakan di bidang Qur’an. Bagaimana tips agar anak istiqomah menghafal Al-Qur’an?” tanyaku. “Baik ustadzah, agar anak semangat menghafal Al-Qur’an, anak-anak perlu dipahamkan keutamaan menghafal. Allah selalu memberikan perintah dan juga menyiapkan balasan kebaikan-kebaikan yang luar biasa, termasuk dalam hal menghafal Al-Qur’an,” jawab bunda.

“Lalu ustadzah, orang tua perlu membangun budaya berQur’an di rumah. Di rumah, kami membuat jam-jam khusus Qur’an. Semua anggota keluarga wajib ikut, termasuk orang tua. Jika ingin anaknya rajin mengaji, orang tua juga perlu memberi contoh. Ayah, ibu, anak, semuanya membiasakan diri bersama Al-Qur’an.  Bahkan ketika sakit, kami tetap membaca al-Quran meskipun sambil berbaring. Dalam kondisi apapun tetap berQur’an. Tiada hari tanpa Qur’an. Selanjutnya, kita juga senantiasa mendoakan anak-anak kita agar anak-anak kita senantiasa mencintai dan bersama Al-Qur’an,” lanjut bunda.

MasyaAllah betapa indahnya keluarga yang ayah, ibu, dan anak-anaknya, seluruhnya memiliki kecintaan terhadap Al-Qur’an. Mereka senantiasa membacanya. Tidak ada waktu yang dilalui, melainkan senantiasa ada ayat-ayat Al-Qur’an yang disenandungkan. Juga berpikir, berbicara, dan bertindak sesuai tuntunan Al-Qur’an.

Mendidik generasi Qur’ani baik dulu, kini, dan nanti tidak hanya peran guru Al-Qur’an, namun juga membutuhkan peran ayah bunda di rumah. Allah akan memakaikan mahkota kemuliaan di surga kepada orang tua yang anaknya membaca al-Quran dan mengamalkannya. Generasi Qur’ani yang tidak hanya mempelajari Al-Qur’an namun juga mengamalkannya. 

Mendidik Generasi Qur’ani dulu, kini, dan nanti

Mendidik generasi Qur’ani di era kemajuan teknologi seperti ini, perlu kreatifitas dari para pengajar agar anak benar-benar cinta Al-Qur’an dan belajar tanpa paksaan. Banyak cara yang bisa dilakukan. Misalnya dengan menggunakan metode Wafa, yaitu belajar Al-Qur’an dengan metode otak kanan. Aplikasi Wafa juga sudah tersedia. Selain menggunakan metode yang cocok bagi anak, kita juga bisa menggunakan game Qur’ani, seperti ular tangga Qur’ani (tidak pakai dadu, pakai kartu), blok hijaiyah, puzzle Qur’ani, dan masih banyak lagi.

Dengan pembelajaran kreaktif dan menyenangkan, anak akan betah belajar Al-Qur’an. Para pengajar hendaknya terus inovatif menyesuaikan perkembangan zaman dan teknologi. Dengan adanya perubahan zaman, pengajar harus terus belajar untuk memperbarui keterampilan agar selalu tetap relevan dengan perubahan. Pendidikan generasi Qur’ani harus terus berlanjut, kini dan nanti.

Pendidikan generasi penerus merupakan hal yang harus terus diperhatikan. Pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia jangka panjang untuk mewujudkan generasi emas di masa mendatang. Generasi Qur’ani yang memiliki kecerdasan yang komprehensif, damai dalam interaksi sosialnya, berkarakter kuat, dan berperadaban unggul sangat dibutuhkan untuk kemajuan bangsa ini. Bersama kita lahirkan Bunga-Bunga yang lain untuk mengharumkan bangsa ini. Semangat bersama mendidik generasi Qur’ani.

_
Penulis : Fika Megawati, S.Pd. – Taqiyya Rosyida

Karyawan Allah SWT

Sore hari itu,  angin berhembus menyapu jilbab seorang ibu muda yang sedang duduk di belakang rumahnya, namanya Umi Maimunah. Matanya bergerak ke kiri dan kanan menyapu pemandangan di belakang rumah. Matanya menatap hamparan air yang berwarna hitam dan itulah sebab kampungnya dinamakan banyu hirang. 

Dalam pada itu, Umi Maimunah adalah seorang perempuan berumur 35 tahun yang memiliki 4 orang anak. Pekerjaannya adalah ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga adalah sebuah jabatan yang sungguh mulia bagi seorang perempuan. Nama anak-anaknya adalah Amel, Muzaki, Aya, dan Nadiya.

Matahari mulai bersembunyi di kaki langit barat, tak lama kemudian suara adzan maghrib pun berkumandang. Umi Maimunah segera mengambil air wudhu untuk bersiap sholat maghrib. Selesai sholat, ia mengangkat kedua tangannya sambil mendoakan ke 4 anaknya agar menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah serta dekat dengan Al- Qur’an. Baginya harta terbesar adalah ketika memiliki anak yang sholeh dan sholehah. Butiran air berwarna bening menetes dipipinya sambir merayu-rayu Allah SWT. Ia mengadukan pada Allah tentang kekhawatirannya pada anak ketiganya yang bernama Aya. Aya adalah anaknya yang berumur  6 tahun, ia agak susah di ajak belajar ngaji karena ia mudah bosan. 

Setelah sholat, entah dari mana asalnya, Umi Maimunah tiba-tiba terpikir untuk meminta bantuan kepada guru tahfizh di sekolah anak nya yang kedua yang bernama Ustadzah Aina.

Setelah sholat maghrib, ustadzah Aina yang baru saja menyelesaikan membaca surah Al-Waqi’ah favoritnya tiba-tiba mendengar handphonenya berdering. Ternyata dari Umi Maimunah. Kebetulan mereka sudah saling mengenal karena ustadzah Aina adalah guru Tahfidz disekolah anaknya yang kedua.

“Assalamualaikum Ustadzah”

“Wa’ alaikumussalaam wr.wb”

“Bisakah saya meminta bantuan ustadzah untuk mengajar anak saya yang ketiga belajar Al-Qur’an?”

“InsyaAllah bisa bunda, mau langsung besok bunda?”

“Iya ustadzah, kalau boleh, mau langsung besok”

 

Waktu berlalu sudah hampir satu jam, Umi Maimunah baru menutup telponnya. Umi menceritakan anaknya yang bernama Aya adalah anak yang mudah bosan saat belajar. Anak yang mudah bosan saat belajar memerlukan seorang guru yang memiliki metode menyenangkan saat mengajar. Ustdzah Aina adalah seorang guru yang menggunakan metode wafa saat mengajar. Metode wafa adalah metode yang sungguh menyenangkan dan tidak membosankan.

Ustadzah aina ketika ditawarkan perihal belajar dan mengajar Al-Qur’an ia pasti langsung bersemangat mengiyakan. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar dan mengajar Al-Qur’an. Menjadi guru Qur’an adalah investasi amal jariyah yang sangat menjanjikan baginya. Guru Al-Qur’an adalah karyawannya Allah SWT.

Esoknya tepat pukul 2 siang menemui Aya dirumahnya dan mulai berkenalan dengan anak tersebut. Dalam hatinya berbisik ya Allah semoga atas izin Mu melalui aku anak ini Engkau permudah dalam belajar Al-Qur’an. Air matanya menetes, entah mengapa ia sering terharu apabila melihat anak-anak belajar Al-Qur’an. Dalam hatinya berkata “Aya aku adalah gurumu, aku akan mendampingimu, aku tidak akan meninggalkanmu”.

Ustadzah Aina mengajak Aya belajar buku wafa 1. Ajakan itu dilampirkan dengan sebuah senyuman termanis yang diberikan guru kepada muridnya. Aya pun terlihat bersemangat. Memang benar kata orang, yang dari hati akan sampae ke hati.

Ustadzah aina mengajar ngaji dimulai dari pengenalan huruf-huruf hijaiyah yang ada di buku wafa 1 sambil bernyanyi dan disertai gerakan gerakan yang disukai anak kecil sehingga ia juga mudah mengingat nama-nama huruf hijaiyah tersebut.

Waktu berlalu sudah setengah jam, ustadzah aina bertanya kepada Aya “Aya kalau besar cita-citanya mau jadi apa?”, ” Aya mau jadi penghafal Al-Qur’an seperti anak-anak hafidz Indonesia ustadzah” jawab Aya dengan polosnya. “Masya Allah, anak sholehah semoga Allah mudahkan cita-citamu nak, berarti kamu harus rajin belajar mengaji”. Cita-cita menjadi penghafal Qur’an adalah cita-cita yang sungguh luar biasa tak terperi.

 

4 bulan waktu berlalu. Umi Maimunah yang yang sedang duduk di kursi kesayangannya tersenyum manis, bibirnya melengkung bak bulan sabit. Ia bahagia tak terperi melihat anaknya yang senang menyanyikan lagu huruf-huruf  hijaiyah, bahkan sudah hafal semua nama huruf hijaiyah.

Mata saya kaya roda…

Ada thoha bawa jala…

Aya menyanyikannyA dengan nyaring, sambil menggerak-gerakkan tangannya, ia nampak senang terbukti dari seringnya dia mengulang-ulang nyanyian tersebut.

Umi maimunah berterima kasih kepada Ustadzah Aina yang selama ini sudah sangat sabar dalam mengajar Al-Qur’an. Bagi ustadzah aina mengajar Al-Qur’an adalah tugas yang harus ia lakukan sampae akhir hayatnya, karena baginya semua ilmu yang ia dapatkan adalah pemberian Allah SWT yang kemudian harus ia sampaikan pula pada orang lain. Ia teringat pesan guru ngajinya saat kecil: 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خيركم من تعلم القرآن وعلمه 

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhori).

Hatinya berbisik Ya Allah berikanlah kami rezeki membaca Al-Qur’an disetiap hari kami dan buatlah hati kami selalu haus untuk bersama Al-Qur’an. Tiba-tiba air berwarna bening itu mengalir dipipinya.

_
Penulis : Nor Aina – SDIT Ihsanul Amal

Jalanku Bersama Al Quran

Perjalanan singkat dari seorang pejuang  Al – Quran. Saya alumni mahasiswa pertanian, seorang perempuan yang  tidak memiliki background dari pondok dan sangat minim sekali pengetahuan tentang islam terlebih Al Quran. Perjalanan saya dimulai dari tahun 2015, perubahan yang saya alami dari jaman jahiliyah, saya memulai mempelajari sedikit demi sedikit tentang Islam. Saya datangi majlis – majlis ilmu agar saya lebih memahami islam. Sehingga pada suatu ketika saya ingin mempelajari tentang Al Quran, mulai dari cara membaca, mentadaburi, bahkan mungkin terlintas dalam hati ingin menghafal Al Quran. Qodarullah pada suatu ketika saya mendapat tawaran dari seorang teman untuk mengikuti suatu program Al Quran untuk umum yang dinaungi suatu ponpes ternama dikota saya. 

Pertama kali yang terlintas dibenak saya, iya saya ingin bergabung walaupun dikatakan saya bisa membaca Al Quran tapi saya tidak tau benar tidaknya, dan alhasil tes pengumuman keluar dan ya saya masuk kelas dasar yang artinya kelas terendah. Merasa kaget pasti, bahkan rasanya malu untuk melanjutkan, tapi keingian untuk belajar lebih besar sehingga membuat saya lebih bersemangat. 2 tahun berlalu dan saya masih tetap semangat, tp kini saya sudah berada dikelas Tahfidz, mulai pada tahap menghafal yang ternyata tidak mudah, butuh kesungguhan, keistiqomahan, sabar dan semangat. Tidak sekali atau dua kali saya ingin menyerah dan berhenti untuk menghafal Al Quran, dengan dukungan dan dorongan seorang yang saya panggil ustadzah, hati ini selalu terketuk untuk selalu dengan Al Quran. Berat memang, susah dan melelahkan tapi ada ketenangan batin ketika saya mampu membaca ayat – ayat Allah dengan lancar.

Belum lama saya berada dikelas Tahfidz, tiba2 salah satu usth saya meminta saya untuk mengajar di program Al Quran tersebut. Saya merasa sangat terhormat atas tawaran itu, tidak menyangka dan membuat saya terharu mengingat hafalan yang saya miliki hanya sedikit sekali. Disinilah saya mulai menjadi guru Al Quran, dengan segala keterbatasan begitu banyak dukungan dari orang2 tersayang. Saya sangat menikmati peran ini walaupun disisi lain saya harus tetap menyelesaikan kuliah yang sedang saya tempuh, dengan melihat wajah – wajah semangat perempuan dari remaja sampai ibu – ibu dalam belajar Al Quran itu seperti charger bagi diri saya. Hal ini merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya dari seorang mahasiswa pertanian yang sehari hari bergelut dengan lahan tanah dan terik matahari.

Seiring berjalannya waktu semakin mendekati wisuda, beberapa bulan sebelumnya, kembali terulang salah satu dari ustadzah saya meminta saya untuk mengajar di SMPIT Al Ghozali Jember, secara prosedural saya kirim lamaran dan saya bergabung. Rasa takut dan merasa tidak pantas terus membayangi saya, sanggupkah menjadi seorang guru yang notobene akan menjadi tauladan bagi para muridnya, yah nyali saya semakin menciut tiap memikirkan hal itu. Tapi dalam hati kecil saya masih terbesit rasa bahwa saya ingin selalu bersama dengan Al Quran, mungkin inilah salah satu jalan untuk menempuhnya. 

Hari pertama, pekan pertama ku mulai beradaptasi dengan lingkungan dan siswa – siswa saya, ternyata sangat menyenangkan sekali melihat tawa dan tangis mereka. Setiap harinya saya bertemu dengan para penghafal Al Quran, dengan segala perjuangan mereka tak kenal lelah. Pernah suatu ketika seorang siswa mendatangi saya dengan menangis menestakan air mata, dia bercerita “betapa sulitnya dia menghafal, apakah dosa saya begitu banyak sampai saya susah sekali menghafal”. Tersentak hati saya ingin meneteskan air mata juga, tapi saya tahan dan saya peluk erat dia dan saya berkata ” pasti bisa nak, Allah sedang menguji kesabaranmu kita berjuang bersama – sama ya”.

Memang tidak mudah menjadi penghafal Al Quran, karna tidak pada sembarang orang Allah menitipkan kalamnya. Ayat – ayat Allah akan menetap pada hati seorang hamba yang memang bersungguh – sungguh niatnya hanya mencari ridho Allah. Air mata saya menetes kala saya melihat mereka yg berjuang bersama Al Quran diwisuda ketika akhir kelulusan, berapapun hafalan yg sudah mereka miliki selalu berkesan dihati saya, karna mereka telah melewati suka duka jatuh bangun bersama Al Quran. Ternyata siapapun kita dimasalalu, bisa berubah seiring berjalannya waktu. Seperti yang saya alami, dari yang tidak ada ketertarikan pada Al Quran, justru kini saya dikelilingi ahlul Quran. Jika Allah masih memberi saya kesempatan saya masih ingin terus memperbaiki bacaan Al Quran dan ingin terus menghafal sampai tuntas dan mutqin. Semoga guru – guru Al Quran dimanapun berada akan selalu dalam lindungan  Allah, Semoga Allah senantiasa memberika syafaat sampai hari akhir nanti  dan semoga dengan menjadi guru Al Quran  bisa membawa saya dan kita semua selalu dalam kebaikan, dan bisa menjembatani kita ke surga kelak. Aamiin

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

_
Penulis : Dinda Ragil Lestari – SMPIT Al Ghozali Jember

Muridku Inspirasiku

‘Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya’ (HR. Bukhori). Sepenggal hadits di atas selalu menjadi penyemangat dalam hati untuk terus belajar memperbaiki bacaan Al-Quran. Begitu pula untuk mengajarkannya. Berbicara soal dinamika belajar Al-Quran tentu ada suka dukanya. Tidak semulus jalan tol, pasti setiap ustadz memiliki kendala masing-masing. Dan kendala itu Insya Allah akan terlewati dengan baik. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Insyirah:5-6, Allah SWT berfirman:

 اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا (٦) فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا(٥)

Artinya: Maka, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (Al-Insyirah: 4-5)

Berawal dari mendapat amanah untuk mengampu BTAQ (Baca Tulis Al-Quran) di tahun pelajaran ini. Mata tercengang, hati gundah gulana, pikiran tak karuan. Mengapa nama saya masuk dalam daftar pengampu BTAQ? Dalam hati, background saya kan guru kelas. Masih terngiang, saat di tes tasnif oleh Ustadz Dody. Beliau berkata,”Ustadz, belajar wafa 3 lagi ya. Semangat.” Sejenak berpikir, apakah layak mengampu BTAQ dengan capaian masih jilid 3? Karena prinsipnya, amanah tak salah memilih pundak. Maka dengan modal ‘bismillah’ berupaya sebisa mungkin untuk ngopeni kelompok BTAQ.

Kelompok yang diamanahkan kepada saya ada 16 siswa. Rata-rata capaiannya jilid 1 halaman akhir (42-44). Kondisi masih pandemi, sesuai kebijakan dari sekolah proses belajar mengajar menggunakan sistem daring. Tambah pusing saya. Belum ada gambaran mengajar ngaji pakai sistem daring. Konsep trial and error menjadi upaya untuk terus mencari metode yang tepat. Pertama, saya coba menggunakan rekaman. Guru memberikan contoh bacaan melalui rekaman, kemudian siswa mengirimkan rekaman bacaan jilid wafanya. Dua pekan menggunakan cara ini, nampakanya belum efektif. Dari 16 siswa, rata-rata yang mengirimkan rekaman 3-5 siswa saja. Dan siswa yang mengirim rekaman itu-itu saja. Yang lain kemana ini?

Pekan selanjutnya, saya coba untuk menggunakan metode videocall. Di grup WA setiap Senin pagi saya buatkan list jadwal videocall selama sepekan. Ketentuannya, setiap anak mengisi satu waktu. Saya coba sepekan nampaknya gayung bersambut. Wali siswa antusias untuk mengisi jadwal ngaji via videocall. Semua siswa selalu mengisi jadwal dan melakukan videocall. Mendapat tanggapan yang positif dari siswa, akhirnya jadwal videocall saya tambah. Setiap siswa boleh mengisi 3x dalam sepekan. Masya Allah, wali siswa semakin antusias. Dalam hati terbesit, sepertinya ini metode yang tepat di kelompok saya.

Alhamdulillah pembelajaran berjalan dengan lancar. Memang ada satu siswa yang capaiannya paling bawah. Jika rata-rata siswa sudah sampai halaman akhir, siswa yang satu ini baru sampai halaman 20. Sebut saja Sahid (bukan nama sebenarnya). Meskipun tertinggal dari teman-temannya, Sahid selalu bersemangat untuk belajar ngaji wafa. Alhamdulillah, modal semangat Insya Allah akan dimudahkan oleh Allah untuk terus belajar. Dari sekolah memang memiliki visi Qur’ani, jika dipaparkan dalam tujuan yaitu menumbuhkan rasa cinta terhadap AL-Qur’an. Sebagai guru, rasanya senang jika ada siswa yang selalu bersemangat belajar ngaji. Berikut beberapa pengalaman yang membakar semangat untuk terus belajar ngaji dan memperbaiki bacaan Al-Qur’an.

Setiap hari minta videocall. Tepat setiap pukul 08.00 Sahid sudah standby di depan smartphone. Sudah berpakaian rapi, memakai baju muslim berpeci. Biasanya mengirim voicenote terlebih dahulu,” Asslamu’alaykum Pak Guru, saya sudah siap ngaji.” Hati ini tambah tersentuh melihat seorang siswa semangat ngaji. Saat mengaji pun tidak banyak yang saya ajarkan. Setiap pertemuan 3-4 baris. Nanti jika lancar, ditambah lagi. Jika belum lancar diulang-ulang. Bahkan diulang-ulang di hari berikutnya.

Belum mau mengerjakan tugas lain, jika belum ngaji wafa. Sahid juga memiliki tugas belajar seperti tematik, PAI (Pendidikan Agama Islam), Bahasa Inggris, Basa Jawa, pendidikan batik. Namun menurut penuturan orangtuanya, Sahid belum mau mengerjakan tugasnya jika belum ngaji wafa. Masya Allah, lagi-lagi tersentuh dengan semangatnya. Pernah suatu ketika, saya sedang ada keperluan mendadak. Sehingga videocall baru bisa dilaksanakan pukul 9.30 WIB. Dengan permohonan maaf, ternyata Sahid masih menunggu di depan HP. Dengan ekspresi wajah yang agak lesu, kemudian kami melakukan ngaji bersama. Setelah itu orangtuanya Sahid menyampaikan jika, anaknya dari tadi belum mau mengerjakan tugas yang lain. Pengennya ngaji dulu. Masya Allah.

Buku wafa selalu dibawa kemana-mana. Tidak sengaja beberapa kali melihat status dari orangtuanya Sahid, dalam perjalanan di mobil Sahid sedang mengulang-ulang baca wafa. Dalam hati terbesit doa, semoga menjadi anak yang sholih dan ashabul Quran, hatinya terpaut dengan Al-Quran. Allahumma Aamiin. Tepatnya di pagi hari, jadwal videocall. Posisi saat itu Sahid dalam perjalanan menuju rumah simbahnya di Gunungkidul. Masya Allah, meskipun sedang perjalanan kesiapan untuk ngaji sama persis saat ngaji di rumah. Yaitu: berpakaian rapi, memakai peci dan juga wafa sudah siap digenggamannya.

Demikian sekilas kisah yang saya alami. Inspirasi bisa jadi datang dari sekitar kita. Bahkan tanpa disadari bisa jadi datang dari murid kita. Tetap semangat belajar Al-Quran, tetap istiqomah mengajarkan AL-Quran. Semoga Allah ridhai setiap langkah kita. Aamiin. Wallahu a’lam bisshawab.

_
Penulis : Adib Muhammad – SDIT Ar Raihan

Get in Touch With Wafa

Selama hampir 2 tahun ini dunia pendidikan sedang dirundung duka karena pandemi. Ya, pandemi telah membuat wajah pendidikan benar—benar berubah. Perubahan wajah ini juga terjadi di sekolah kami, SDIT Al Uswah Banyuwangi. Selain karena pandemi, sekolah kami mengalami banyak sekali perubahan juga disebabkan oleh konflik yang terjadi di internal yayasan. Di rentang waktu antara tahun 2019 – 2020 banyak sekali guru dan kepala sekolah  yang mengundurkan diri karena konflik ini, masih ditambah lagi dengan dipindahnya sebagian murid mengikuti para guru dan kepala sekolah yang mengundurkan diri ke sekolah baru yang mereka dirikan. 

Di tengah badai yang hebat ini, yayasan memutuskan untuk mengganti metode pembelajaran Al Qur’an dari Ummi ke Wafa. Tentu hal ini sangat meresahkan bukan saja wali murid, tetapi juga guru. Kami pesimis akan keberhasilan pembelajaran Al Qur’an metode Wafa ini, karena pembelajaran di sekolah masih dilaksanakan secara daring. Yayasan bukan tidak mengetahui adanya keresahan ini, oleh karena itu yayasan segera mengadakan pelatihan pembelajaran Al Qur’an metode Wafa secara luring pada bulan Juli 2020, sekaligus sebagai persiapan untuk pembelajaran Al Qur’an di tahun pelajaran 2020/2021. Pelatihan ini kami beri judul “Get in Touch with Wafa”, karena ini memang pertama kalinya kami berkenalan dengan Wafa, dan akan mencoba menyukainya.

Memang benarlah kata pepatah, “Tak kenal maka tak sayang”. Sebelum mengikuti pelatihan kami pesimis akan keberhasilan metode baru ini. Tetapi setelah bertemu dengan para trainer Wafa dan mengikuti pelatihannya, kami mulai senang dengan metode baru ini.  Bahkan sebagian dari kami langsung mengunduh aplikasinya dari ‘Play Store’ untuk lebih mendalami metodenya. Kami mulai optimis untuk menggunakan metode ini dalam pembelajaran bersama siswa meskipun masih dengan moda daring. Bersyukur lagi karena ternyata berdasarkan hasil tashih 30 guru peserta pelatihan dari SDIT Al Uswah, 6 di antaranya sudah siap munaqosyah, dan yang lain berkisar di level 3 sampai 6. 6 orang yang sudah siap munaqosyah ini bisa diberdayakan untuk membimbing teman-teman yang lain.

Setelah pelatihan selesai maka dimulailah perjuangan kami yang sesungguhnya untuk mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anak di sekolah. Diawali dengan pelaksanaan ‘Qur’anic Parenting Online’ untuk memeperkenalkan metode baru ini kepada wali murid di semua sekolah dalam satu yayasan. Di pertemuan itu banyak wali murid yang menanyakan alasan perubahan metode pembelajaran Al Qur’an dari Ummi menjadi Wafa, serta menyampaikan pesimismenya atas keberhasilan metode ini karena pembelajaran masih dilakukan secara daring. Semuanya dijawab dengan meyakinkan oleh pengurus yayasan, bahwa kita bisa.

Karena pandemi masih belum usai dan sekolah masih dilaksanakan dengan moda daring, maka kami di sekolah harus membuat formula yang tepat agar siswa bisa mudah memahaminya. Dimulai dengan konversi jilid, yaitu penyesuaian pencapaian dari Ummi ke Wafa. Proses ini sempat menimbulkan sedikit masalah di kalangan wali murid, karena mereka menganggap putra putrinya mengalami penurunan jilid. Kami jelaskan bahwa mereka tidak turun jilid tetapi menyesuaikan, karena metode Ummi mempunyai 6 jilid ditambah ghorib dan tajwid, sedangkan Wafa mempunyai 5 jilid ditambah tajwid dan ghorib. Kami yakinkan wali murid bahwa meskipun mungkin jilidnya lebih rendah tetapi kemampuan anak-anak tidak menurun dan insya Allah akan lebih cepat sampai ke Al Qur’an.

Selain meyakinkan siswa dan orangtuanya, kami juga berusaha memberikan pelayanan yang prima. Guru-guru yang telah mencapai level siap munaqosyah diberdayakan untuk memberikan pembinaan tahsin. Ada 6 kelompok kecil guru berdasarkan levelnya, yaitu 3 kelompok level 3, 2 kelompok level 4, dan 1 kelompok level 5. Pembinaan ini dilaksanakan satu kali dalam sepekan. Selain memperbaiki bacaan Al Qur’an para guru juga menambah dan menjaga hafalannya. Hal ini dilakukan guru demi memantaskan diri di depan siswa, agar kami juga melakukan apa yang dilakukan oleh siswa. Hal ini kami yakini sebagai salah satu faktor kesuksesan sebuah proses pembelajaran.

Pembelajaran harian dilaksanakan dalam kelompok – kelompok kecil, yang dimulai dengan pembuatan grup Whatsapp. Materi pembelajaran dikirimkan melalui pesan suara di grup tersebut. Jika pencapaian halamannya tidak sama, maka kami memberikan keterangan di bawahnya berdasarkan halaman. Setelah guru mengirim materi, maka siswa diminta menyetorkan rekamannya mengaji di rumah. Di sini masalah mulai timbul. Para orang tua banyak yang kesulitan mendampingi anaknya mengaji dari rumah, biasanya masalah berasal dari orang tua yang bekerja dan yang merasa tidak bisa mengaji. Untuk yang mengalami masalah kami memberikan kesempatan kepada siswa untuk datang dan mengaji ke sekolah, minimal sekali dalam sepekan. Kami hanya memberikan pelayanan tatap muka untuk siswa yang bermasalah sekali dalam sepekan saja, karena di hari lain ada jadwal tes kenaikan jilid bagi siswa yang telah menyelesaikan tahsinnya. Ya, tes kenaikan jilid kami laksanakan secara tatap muka, agar hasilnya lebih bisa dipertanggungjawabkan. Meski cuma sekali, hal ini sudah lebih melegakan dan mulai menguraikan beberapa masalah yang terjadi di lapangan. 

Alhamdulillah, dengan kerjasama yang solid dan keyakinan akan pertolongan Allah, pembelajaran Al Qur’an di SDIT Al Uswah Banyuwangi dengan menggunakan metode Wafa bisa berjalan dengan baik. Meskipun dengan moda daring, banyak di antara siswa kami yang lebih cepat menyelesaikan jilidnya dan naik jilid melebihi target waktu yang telah ditentukan. Demikian juga dengan guru-gurunya. Dalam tashih yang dilaksanakan saat pelatihan terakhir, 90% guru telah naik level dari sebelumnya. Semua karena program tahsin pekanan di sekolah.

Pandemi ini memang lama dan tak tahu kapan berakhir, tetapi tidak boleh membuat pesimis dan menyurutkan langkah kita. Dari pengalaman bersama Wafa ini kami bisa mengambil hikmah bahwa, kesungguhan dan keyakinan akan pertolongan Allah adalah salah satu kunci sukses dalam proses pembelajaran. Apalagi yang kita ajarkan adalah kalamullah, panglima segala ilmu. Dan yang paling penting adalah, kita sebagai gurunya juga menjalani proses yang sama dengan siswa kita, yaitu terus belajar dan menghafal serta merutinkan tilawah Al Qur’an. Hal ini yang membuat proses pembelajaran itu berjalan baik dengan sendirinya.

_
Penulis : Dyna Rukmi HS – SDIT Al Uswah Banyuwangi

Kisah Perjalananku Menyampaikan Ayat-Ayat CintaMu

Bismillah…

Kumulai menulis dari sini

Kisah ini menjadi satu diantara Ribuan bahkan Miliaran  guru Al-Qur’an di dunia ini untuk menyampaikan Ayat -Ayat Cinta yang penuh makna dari Yang Maha Agung Rabb Pencipta Alam Semesta.

Pertengahan Tahun 2003…

Sepulangnya aku dari Pondok Pesantren Tholabudhin Miftahul Ulum Bondowoso yang terletak di salah satu Propinsi Jawa Timur demi sebuah cita cita untuk menuntut ilmu,kini aku Kembali di tempat kelahiran disalah satu pelosok desa yang jauh dari keramayan dan hiruk pikuk bising kendaraan seperti dikota,bahkan lampu listrikpun terbatas .Lampu pelita ( sebutan untuk lampu minyak sebagai salah satu alat penerang tradisional di kampung) Adalah handalan masyarakat disana .Aktifitas malam sangatlah terbatas, dan disinalah  awal perjuanganku menjadi seorang guru.Oleh Pak Ulul kepala Sekolah SD di kampungku,Beliaulah yang memintaku untuk mengajar Agama sekaligus guru ngaji namun tidak disekolah formal akan tetapi di Madrasah, saat itu bangunan yang dijadikan sebagai Madrasah tempat aku mengajar adalah Balai Desa yang sering kosong karena hanya sesekali digunakan untuk pertemuan Desa.Aku terima dengan senang hati. Kumulai mengajar anak anak dikampungku dari kelas 1 sampai kelas 6 untuk mengajar Agama,sedangkan mengajar ngaji aku hanya menerima bagi anak yang mau saja datang dirumah dikarenakan keterbatasan waktu dan tenaga.

Setiap bulannya Pak Ulul kerumah untuk mengantarkan amplom atau sekedar bertukar pikiran tentang kesulitan dan apapun kebutuhanku selama mengajar. Tak banyak yang aku keluhkan.Hanya keterbatasan buku bacaan dan reperensi untuk mengajar.Sedangkan gaji yang beliau sodorkan tak pernah aku komplen berapapun itu aku terima dengan senang hati

Menjadi guru Agama dan guru ngaji bagi anak anak dikampungku aku jalani lebih kurang 1 Tahun lamanya.Senang rasanya bisa berbagi ilmu dengan mereka yang selalu setia menanti kedatanganku diMadrasah, bahkan Ketika aku terlambat datang, merekapun tak segan menyusul dirumahku seolah tak sabar ingin bersama.

Tak terasa waktu berlalu,disela mengajar terpikirkan olehku akan keterbatasan ilmu yang di miliki. Tiga tahun dipondok seperti hanya menumpang tidur saja, itu perumpamaan yang dibuat bagi santri yang mondok sebentar sepertiku.Akan tetapi bisa menyampaikan walau satu ayat saja serasa seribu ayat yang disampaikan jika itu bermanfaat untuk mencerdaskan anak anak dikampung.Melihat mereka bisa menghafal Asma’ul Husna,sifat wajib Allah, melafadzkan doa doa harian dengan nada yang sederhana yang aku dapatkan juga dari pondok, itu sudah cukup membuat senang dan bahagia terlebih lagi bacaan sholat beserta gerakan sholat yang langsung dipraktekkan tatkala kumandang Adzan terdengar dari Surau Baiturrahman,anak anak seolah tak sabar ingin cepat cepat mengakhiri belajar diMadrasah dan bersegera menuju surau untuk sholat berjamaah.Masyaallah…. rindu masa itu.

Ayat ayat cintapun tak luput menjadi saksi perjalananku menjadi Guru, tanpa kusadari ada satu dari anak didikku yang telah selesai mengaji dan menghatamkan 30 juz Al Qur’an.Saat itu Ia duduk dikelas tiga SD,dan satu lagi yang pernah kuajarkan mengaji murid yang terasa spesial dihati dia adalah Mualaf,seorang ibu rumah tangga dari suku laut ( salah satu suku asli didaerahku).Dia adalah tetanggaku,rumahnya berhadapan dengan rumahku hanya dipisahkan oleh jalan kampung.Mengajarnya terasa seperti kembali mengajar anak yang baru mengenal huruf,namun pelan pelan kuajarkan kepadanya dari alif hingga ia mengenal 28 huruf hijaiyyah.Aku sampaikan kepadanya kalimat motivasi untuk orang orang yang ingin belajar AlQur’an dan bisa membacanya, bahwasanya Rasulullah bersabda :’’ siapa saja membaca satu huruf dari Al Qur’an, maka baginya satu kebaikan,dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.’’ (H.R.At Tarmidzi ).Semangatnya untuk belajar tampak dikala waktu mengaji dimalam hari,tak peduli dengan lampu pelita yang terkadang sesekali padam Ketika ditiup angin ia terus mengeja huruf demi huruf yang aku contohkan kepadanya, namun  belum sempat aku merangkaikan ayat ayat cinta itu kepadanya, Aku memutuskan untuk melanjutkan Pendidikanku, aku ingin melanjutkan hafalan Al Qur’anku yang sewaktu dipondok dulu belum terlaksana dan menempuh Pendidikan formal dijenjang yang lebih tinggi lagi menjadi seorang sarjana.

Kuputuskan juga jalan ini, kutinggalkan anak didikku dikampung dengan berat hati ,tahun 2005, aku pergi merantau lagi untuk menuntut ilmu agama yang aku cari,terutama ilmu Al Qur’an.Pergi ke ibukota Propinsi Kepri ,Tanjung pinang kota gurindam julukannya.Ya Allah perjalananku dan perjuanganku masih Panjang. Alhamdulillah walaupun perjalanan ini banyak batu krikil yang harus dilewati, Aku bisa menyelesaikan pendidikanku ke jenjang S1 dengan gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam, akan tetapi ada yang kurang  bagiku,… menjadi Hafidzoh,itu yang belum aku dapatkan.Proses itu terus berjalan hingga sekarang mesti tak muda lagi.

  Menjadi pendidik mungkin sudah mendarah daging di tubuhku,Akhir 2010 kuputuskan untuk mengajar disalah satu SD Swasta bergengsi di kota ini,dengan berbekal  ijazah S1 Pendidikan Agama Islam aku diterima disekolah itu dan diterima menjadi guru AL Qur’an.Pada tahun ke tiga aku mengajar, Aku diamanahkan menjadi Walikelas sekaligus mengajar Al-Qur’an.Tahun itu terasa Allah tambahkan amanah dan tanggung jawab yang lebih lagi, karena anak didik yang aku ajar adalah mereka yang sebenarnya tidak lolos sewaktu tes penerimaan siswa baru, karena yang diterima setiap tahunnya hanya tiga kelas, namun ditahun ini berbeda,ambisi dan semangat orang tua untuk memasukkan anaknya di SDIT Al MADINAH saat itu begitu luarbiasanya. Akhirnya dengan beberapa pertimbangan, dibukalah kelas tambahan  lagi dan itulah kelas yang aku diamanahkan.Jika dikelas lain jumlah siswa dan siswinya hampir berimbang, namun tidak dikelas yang ku pegang, ada enam belas murid laki laki dan hanya enam murid perempuan .Terbayangkan….???  betapa hebohnya kelas ini diisi dengan dominan murid laki laki.Ya Allah dengan izinmu kujalani ini, aku tidak berpikir dan khawatir dengan capayan akademis mereka,namun aku berusaha untuk mendidik mereka dengan cinta yang kupunya ,itu saja hasilnya kupasrahkan kepadaNYA sang Rabb yang maha  A’lim.

Sampai pada akhirnya ditahun 2017,WAFA hadir sebagai salah satu metode Al Qur’an belajar otak kanan yang menyenangkan.Disinilah Aku dan beberapa sahabat guru Qur’an lainnya ikut dalam pelatihan Metode Wafa sehingga ilmu yang kami dapatkan dari pelatihan tersebut dapat kami implementasikan kepada anak didik sebagai salah satu metode mengajar Al Qur’an yang lebih menarik ,mudah dipahami bahkan menyenangkan bagi anak didik.

.Banyak pembekalan ilmu yang aku dapatkan, mulai dari model Pendidikan Al Qur’an dengan istilah 5T yang meliputi : Tahsin Tilawah, Tahfidz, Terjemah, Tafhim dan Tafsir .Kemudian istilah 7M yang merupakan pendekatan dalam system pembelajaran Al Qur’an yang meliputi : Memetakan ,Memperbaiki bacaan, Menstandarisasi, Mendampingi, Memperbaiki, Menilai, dan Mengukuhkan. Kemudian Quantum Teaching yang diajarkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif.yang dalam Wafa distilahkan dengan TANDUR yang merupakan akronim dari Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan. Macam macam ice breaking dipraktekkan untuk membuat suasana  belajar menjadi hidup dan menyenangkan ,ditambah lagi lantunan nada hijazz yang dipakai 3 nada yang mudah dipelajari menjadi pelengkap materi yang membuatku  bersemangat mempelajarinya.

Setelah semua ilmu yang diberikan oleh Trainer Wafa selama kurang lebih tiga hari, kini kusadari begitu banyak kekurangan dan keterbatasan ilmu yang aku miliki.’’SEMANGAT’’ itu salah satu kalimat Motivasi yang datang dari energi dalam diri. Aku harus terus belajar ,menggali sedalam mungkin Ilmu Al Qur’an agar bisa kubaca, kuhafal, kufahami dan kutadaburi setiap ayat ayat cinta yang akan kuajarkan kepada anak didikku dan semata mata mencari keridhoanMu.Setelah menjalani beberapa tes untuk pemetaan guru Wafa, Masing masing dari kami mendapatkan nilai dengan kemampuan masing masing.Meskipun Aku tak mendapatkan nilai sempurna, menyelesaikan ujian ini saja rasanya sudah senang,walau masih ada beberapa kesalahan.Hasil itu bagiku tidak mempengaruhi semangat belajar dan semangat untuk terus mengajarkan ilmu Al Qur’an kepada anak didik.’’ALLAHU AKBAR’’ sekali lagi kobaran semangat dari dalam diri.

Awal mengajar dengan metode WAFA, Aku ditempatkan dikelas satu, dan sebelum metode ini hadir, aku telahpun mengajar dikelas satu, berbagai cara aku coba untuk memudahkan anak didikku memahami huruf hijaiyyah yang belum ia kenal.Mulai dari mencari gambar yang menarik di internet hingga mencocokkannya dengan huruf alfabet dan huruf hijaiyyah yang akan aku ajarkan.aku cari gambar apel dan kupadukan dengan huruf A dan Huruf Alif pada belakang gambar, begutu seterusnya hingga huruf ya’.Setiap harinya ku ajarkan beberapa huruf yang ia mampu mengingatnya dan memahaminya, mungkin butuh beberapa hari untuk ia memahami empat sampai lima huruf hijaiyyah, kertas kertas yang ku buat, kutempelkan didinding kelas sehingga nampak dan bahkan sering dilihatnya Ketika datang, istirahat maupun pulang sekolah, itu aku lakukan demi untuk anak didikku paham dengan apa yang aku ajarkan.

Alhamdulillah setelah Wafa hadir, ternyata sangat membantuku, terutama mengajar huruf hijaiyah dikelas satu.Wafa punya kartu kartu huruf hijaiyyah yang full callor dengan warna yang sangat menarik..Selain kartu,ada buku wafa yang juga tak kalah menarik isinya, ada gambar yang berisikan sirah  dan kisah bermakna dan penuh hikmah, serta materi tajwid sampai pelajaran ghoribpun lengkap.

Pada tahun 2019,memasuki tahun ke dua mengajar dengan metode WAFA, Aku diamanahkan untuk mengajar dikelas tiga, disini kutemukan beberapa dari anak didikku yang masih sangat butuh bimbinganku, dari hasil pemetaaan yang ku dapatkan, mereka yang berada digrade c memiliki masing masing permasalahan, akan tetapi motivasi untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an tak pernah jemu kuulang ulang.Aku sampaikan kepada mereka bahwasanya ‘’keutamaan orang yang membaca Al Qur’an itu akan dilipatgandakan pahalanya, diangkat drajatnya, mendapatkan ketenangan hati, mendapatkan pertolongan Allah, mendapatkan syafaat dihari kiamat, rumahnya dihadiri Malaikat, dan akan ditempatkan Bersama Malaikat.Semoga apa yang kusampaikan akan melekat dihati mereka.

Hampir satu tahun hingga akhir semester aku lakukan itu,dan aku ingat sekali dikala itu aku sedang mengandung anak ke tiga, dengan usia kehamilan yang semakin besar.Aku tau betul mengajar Al-Qur’an dengan posisi duduk lesehan dilantai selama jam Al-Qur’an tidaklah mudah, terkadang membuat pinggang meringis ngilu dan terasa sakit, kram dikaki bahkan diperut akan terasa,namun tetap kujalani lillah demi mencari Ridhomu lewat huruf, ayat, bahkan surat cinta yang kuajarkan kepada mereka..Dikala semester 2 hampir berakhir dan masih ada 2 siswaku yang belum tuntas.Kala itu,kondisi kehamilanku sedikit bermasalah,Aku mengalami pendarahan hebat sehingga harus segera dilarikan dirumah sakit. 

Pada hari itu juga Dokter memutuskan aku harus segera dioperasi dan bayinya harus segera dilahirkan.Ya Allah…kuatkan aku ya Allah dan kondisi bayi ini,….sebenarnya banyak rasa yang hadir saat dokter menyatakan itu,takut, gelisah, khawatir dan macam macam rasa yang lainnya.Ahamdulillah prosesnya berjalan lancar dengan segala ikhtiar,bayiku lahir normal .aku dan bayiku sehat walafiat, ini kebesaranMu,  ayat ayat cinta menjadi semangat dan penguatku.ya Allah engkau maha sempurna dengan segala penciptaanMu.

Teringat olehku ketika aku harus cuti melahirkan, ada dua anak didikku yang belum  tuntas bacaannya. Namun yang ku ingat dari mereka, adap, kesopanan mereka kepadaku saat belajar hingga izin dan berpamitan pulang.Bagiku menanamkan adab dan akhlak itu yang lebih utama, setelah itu baru pemahaman ilmu akan mudah masuk, karena Adab dalam menuntut ilmu adalah sebab yang menolong berkahnya mendapatkan ilmu, sebagaimana Abu Zakariya An Anbari rahimahullah mengatakan’’ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh’’Meskipun belum banyak yang mereka dapatkan dan fahami, ilmu adap telahpun mereka dapatkan, …semoga dikelas berikutnya Allah mudahkan kalian dalam memahami ayat ayat cinta ini.

Tahun 2020,bulan September, tepat 10 tahun aku mengajar di sekolah ini, dan tahun ini adalah tahun ke 4 sekolahku bermitra dengan Wafa, ditahun ini pula aku dan beberapa sahabat Al Qur’an lainnya diajukan untuk mengikuti tes sertifikasi guru Al Qur’an,namun sebelum aku dan yang lainnya benar benar dites,kami mendapatkan pembekalan ilmu selama 2 hari..Bagiku tes sertivikasi guru Al Qur’an seperti akan mengikuti ujian sekripsi waktu dikampus dulu,.Semua materi sudahpun kupelajari,terkadang aku suka menyendiri ,berbicara sendiri dengan lantang dan sekedar oret oret dibuku mengingat ingat kembali materi yang sudah kupelajari,seolah olah ujian tertulis.itulah caraku memahami dan mempelajari materi dengan auditorial.,Aku rasa trik ini lebih evektif untuk mempertajam daya ingatku dan menjadi lebih focus ,ditambah lagi diskusi bersama membuat aku lebih memahaminya lagi.

 Adapun yang pertama kali kulakukan adalah meminta do’a restu dari orang tua terutama ibu.kenapa aku lakukan itu….? Aku ingat lagi hadits Rasulullah tentang’’ ridho Allah itu tergantung ridho orang tua dan murka Allah tergantung kepada murka kedua orang tua.’’ (H.R Tirmidzi ).Do’a orang tua sangat berpengaruh dalam kunci kesuksesan anak anaknya.Bahkan karena salah satu do’a yang mustajab dan tidak diragukan lagi kedahsyatannya adalah do’a orang tua kepada anaknya.Aku bukanlah sehebat guru yang lain,mental berbicaraku didepan audiens sangatlah minim sekali.Oleh karenanya aku sangat yakin doa ortu terutama ibu,senjataku yang paling ampuh.

Tibalah dihari,dimana tes sertifikasi itu dilaksanakan.namun tes ini berbeda dari yang biasanya.karena masih dimasa Pandemi,seluruh dunia terkena imbasnya,terlebih dunia pendidkanpun ikut merasakan pengaruh perubahan besar pada pelaksanaan Pendidikan,semua serba digital,belajar hanya bisa lewat online,cara virtuallah yang diambil,demi menyampaikan ilmu yang bermanfaat untuk seluruh anak didik.

Kembali pada pelaksanaan tes sertivikasi yang dilakuakn via video call.Jam didinding kelas menunjukkan pukul 08.50 wib,bitu berarti 10 menit lagi waktunya, aku tidak lagi disibukkan dengan materi yang akan diuji, namun kusibukkan dengan beristigfar memohon ampun atas segala kesalahan dan kehilafan yang pernah aku buat, 99 Asma’ul Husna kulapadzkan dari bibir ini, karena Allah akan mengabulkan hambanya yang berdoa dengan menyebut Asma’ul husna seperti dalam surah Al A’raf ayat 180 yang Artinya :

‘’Hanya milik ALLAH Asma’ul Husna,maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut Asma’ul Husna itu dan tinggalkanlah orang orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama namaNya.Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.’’

…..dan Akhirnya tiba juga waktu itu,satu chat muncul di whashapku,

‘’Assalamu’alaikum ustadzah,,apakah sudah siap sekarang ‘’

Aku menjawab chat beliau :

‘’waalaikumsalam, insyaAllah sudaha siap ustadz’’

Namun keringat sudah mulai bercucuran disekujur tubuhku,detak jantungku berdegup kencang, akhirnya waktu yang kutunggu datang juga.Panggilan video di handphonepku telah berbunyi.’’bismillah ku angkat’’salam kuawali, begitupun ustadz yang akan menguji. Namun salam ramahnya dan aura teduh orang sholeh yang ada pada wajahnya membuat aku sedikit rileks,, dan ketika soalan demi soalan beliau lontarkan,Alhamdulillah bisa kujawab tanpa ragu, hanya ada saja kekurangaan dari kualitas jawabannya.Alhamdulillah tes hari ini telahpun selesai.Kuucapkan banyak banyak terimakasih,syukurku padamu Ya Allah, terimakasih doanya kepadamu Mak ,ditanganmu kucium bau surga, terimakasih suamiku jembatan surgaku,dan ustadz ustadzah terimakasih telah memberikan Ilmu yang bermanfaat untuk amal jariyahku semuanya kelak menjadi cinta pengikat surgaku.

Sampai dihari ini,bulan Agustus 2021,Pandemi covid-19 masih belum pergi dari negri ini, termasuk kota Tanjung Pinang sebagai ibukota propinsi Kepri tempat sekolahku untuk membagi ilmu bersama anak didik. Bahkan proses untuk menyampaikan ilmu pun harus dipikirkan dengan cara yang seepektif mungkin, karena covid-19 bukanlah menjadi penghalang.Tak bisa bertemu langsung saat di sekolah, lewat video call dan Zoom meetingpun menjadi handalan, bahkan menjadi yutuber dadakanpun dilakoni oleh guru.Apa yang tidak mungkin, tidak pada zamannya lagi untuk merasa susah dalam menyampaikan ilmu, hanya saja membuat anak didik mengerti dan mengamalkan ilmu yang diberikan itulah ikhtiar yang terus dijalani seorang guru.

Saat ini ada program baru disekolahku untuk Al-Qur’an yaitu Murajaah harian secara virtual setiap pagi dan sholat dhuha.Rasanya aku menemukan energi itu Kembali. Kini bacaan Al-Qur’an yang biasanya ramai dan riuh dikala pagi hari disekolah, kini Al-Qur’an itu juga riuh diruang zoom,begitupun dengan sholat dhuha.Betapa senangnya hatiku, mereka begitu antusias melaksanakannya, walaupun terkadang lelah kurasa, sakit dan perih mata ini hampir seharian berada dilayar leptop dan Handphone, kering tenggorokan, hampir tanpa jeda waktu yang kami berikan untuk mengajar prifat dengan video call, namun kukatakan dalam diri dan kepada mereka,’’nak semua ini kita lakukan dan niatkan karena Allah.Semoga Allah terima segala amal perbuatan  kita, aamiin 

Zaman boleh berganti, yang dulunya mengajar menggunakan penerangan Lampu pelita,kemudian cahaya listrik bahkan yang secanggih sekarangpun menggunakan layar ponsel dan leptoppun tak menyurutkan semangat untuk menyampaikana ayat ayat cintaMu yang dari dulu hingga akhir kehidupan ini Al Qur’anlah menjadi pegangan, petunjuk bahkan cahaya penerang bagi umat sedunia.

Mungkin masih jauh proses perjalanan ini, demi untuk mempelajari dan memaknai ayat ayat cintaMu yang akan diberikan kepada Anak didik.Namun lewat goresan pena ini, dapat kuluahkan segala cerita cintaku kepada mereka. Akan selalu kuuntaikan do’a untuk kalian generasi Qur’ani  ’’semoga Allah berikan kesuksesan Dunia dan Akhirat untuk kalian’’.Ayat ayat Cinta dari Rabbku yang pernah kuajarkan semoga selalu menjadi pegangan dan amal jariyah menuju surgaNya.

Diakhir tulisan ini ku ingin menutup dengan do’a khotmil Qur’an yang sering kulantunkan Bersama mereka Anak didikku dikala mengaji.

Ya Allah …

‘’ jadikanlah Al-Qur’an sebagai pemberi Rahmat,imam,cahaya,dan petunjuk. Pengingat Ketika lupa,pemberi pemahaman atas kebodohan,dan pemberi rezki sepanjang malam dan siang Ketika membacanya,dan jadikan Al-Qur’an sebagai hujjah penjelas bagi kehidupan yang fana ini.’’

_
Penulis : Arumaliana – SDIT Al Madinah Tanjung Pinang

Bahagia Bersama Wafa

Rasulullah SAW bersabda :

“ Bacalah oleh kalian al-qur’an, karena ia (al-qur’an) akan datang pada hari kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.” (HR. Muslim)

Hadits inilah yang menjadi motivasi saya untuk selalu bersemangat belajar dan mengajarkan al-qur’an. MasyaAllah… sungguh luar biasa ayat al-qur’an yang kita baca dan yang diajarkan akan menjadi penolong dihari kiamat kelak.

Maka dari itu jadikanlah al-qur’an sebagai renungan dan bacaan rutin setiap hari sampai akhir hayat.

Alhamdulillah pada tahun 2009 mendaftar di Yayasan Islam Al-Amin Kapuas saya diterima sebagai pengajar al-qur’an. Yang saat itu metode belajar qur’annya  belum memakai WAFA. Sekian tahun berjalan, walaupun masih banyak kendala. Siswa dipanggil satu persatu secara bergantian sedangkan yang lain menunggu giliran. Memakai metode ini, menurut saya kurang maksimal karena siswa yang menunggu giliran lama kelamaan akan bosan dan metode yang diterapkan terkesan monoton. Akhirnya siswa menjadi ramai dan kurang terkontrol.

Alhamdulillah ditahun 2017 Yayasan Islam Al-Amin memutuskan untuk menerapkan pembelajaran al-qur’an dengan metode WAFA, karena metode ini dilakukan secara  klasikal dan privat (kombinasi). Materi pembelajarannya disajikan secara menarik dan sistematis sehingga menjadikan peserta didik senang dalam belajar alqur’an. Metode ini sangat cocok bagi guru qur’an karena pembelajaran identik dengan menggunakan otak kanan. 

Sebelum mengajar WAFA, guru wajib membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Al-Qur’an yang  meliputi P1 (Pembukaan), P2 (Pengalaman), P3 (Pengajaran), P4 (Penilaian), dan P5 (Penutupan). Membuat RPP ini bertujuan agar pembelajaran al-qur’an lebih terarah dan juga banyak pengalaman yang kita dapatkan. 

Kegiatan P1 (Pembukaan), guru harus dapat menjadikan suasana kelas lebih menarik dan menyenangkan, karena tahapan ini merupakan tahapan yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan tahap-tahap berikutnya yaitu dengan cara bertanya kabar, membuat pertanyaan yang menantang siswa, memberi motivasi, melihat video, bercerita, bernyanyi, tampilan asing dan bermain tebak-tebakan.

Kegiatan P2 (Pengalaman), guru memberikan rangsangan kepada siswa untuk menggerakkan rasa ingin tahunya sebelum mereka memperoleh materi yang dipelajari. Dengan demikian, siswa akan mengalami kegiatan nyata yang akan memperkuat daya ingat materi yang diberikan. Adapun strategi yang digunakan bisa dengan cara simulasi, peraga langsung oleh siswa dan nasyid atau cerita analogis.

Kegiatan P3 (Pengajaran), guru memberikan materi pelajaran secara bertahap dan dilakukan secara diulang-ulang sehingga pada proses ini guru al-qur’an harus benar-benar mengerahkan kemampuannya agar para siswa tetap terjaga semangatnya dan dapat menguasai materi yang diberikan. Strateginya bisa dengan baca tiru dengan kartu peraga, peraga besar dan buku tilawah. Guru membaca kemudian siswa menirukan, satu siswa membaca, siswa yang lain menirukan dan satu kelompok membaca yang lain menirukan.

Kegiatan P4 (Penilaian), guru mengambil nilai dengan cara demontrasi, baca simak klasikal (satu siswa membaca sedangkan guru dan siswa yang lain menyimak), baca simak privat (satu siswa membaca, guru menyimak sedangkan siswa yang lain menulis atau muroja’ah hafalan).

Kegiatan P5 (penutup), guru akan mereview materi, memberikan penghargaan dan pujian. Ada yang istimewa dalam kegiatan penutup ini yaitu ada motivasi pendek yang bisa dijadikan oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Motivasi ini walaupun pendek tapi mempunyai kesan yang sangat bermakna sehingga tidak hanya siswa saja yang akan termotivasi membaca Al-Qur’an tetapi juga seluruh keluarganya.

Sebagai pengajar qur’an saya dikenal guru yang penyabar. Katanya sih, dapat menghadapi siswa yang susah dalam pengucapan membaca dan menghafal al-qur’an. Bagi saya menghadapi siswa yang bermasalah mendidiknya harus dengan cinta. Biasanya ketika menghadapi siswa yang seperti ini, saya selalu mengkondisikan diri saya seperti siswa ketika masih sekolah dulu sehingga dapat mengadakan pendekatan, mencari permasalahan beserta solusinya.

Pengajar qur’an adalah pekerjaan yang sangat mulia, karena sesungguhnya mengajarkan kalam Allah SWT yaitu kitab suci al-qur’an ganjaran yang didapat sangat menggiurkan yaitu pahala yang tidak berujung. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

“ Sebaik-baik diantara kalian adalah mereka yang mengajarkan al-qur’an dan mengajarkannya (HR. Bukhari)”.

Walaupun dalam kenyataannya, menjadi pengajar qur’an tidaklah mudah karena banyak tantangan yang dihadapi dan profesi ini tidak dapat dilakukan oleh setiap orang. Selain dituntut bisa mengaji dan baca tulis qur’an, juga harus telaten terutama ketika menghadapi siswa yang bermasalah.

Namun sebagai pengajar qur’an saya memiliki kebahagian tersendiri dalam membimbing siswa, yang membuat saya selalu bersemangat dan pantang menyerah. Di antaranya yaitu :

  1. Bahagia ketika mendo’akan siswa

     Setiap siswa pasti memiliki kelebihan dan kekurangan dalam mengikuti pembelajaran, ada yang lambat dan ada yang cepat memahami. Ketika ada siswa kesusahan membaca dan menghafal qur’an. Saat itulah dalam hati berdo’a (Ya Allah mudahkanlah anak ini si Ahmad membaca dan menghafal qur’an). Saat itu InsyaAllah ada keajaiban datang memudahkan lidah anak tersebut, yang pada akhirnya bisa membaca. Ini yang membuat saya sangat bahagia, karena do’a saya panjatkan dikabulkan oleh Allah SWT. Do’a adalah cara paling ampuh yang dibutuhkan setiap manusia agar Allah SWT selalu  membantu dan memudahkan dalam urusan apapun tidak terkecuali kegiatan pembelajaran.

  1. Bahagia karena ada muroja’ah hafalan

     Muroja’ah adalah mengulang hafalan suroh yang pernah dihafal. Kegiatan ini menurut saya sangat bermanfa’at. Semakin sering muroja’ah maka hafalan akan semakin kuat. Alhamdulillah di Lembaga kami ada program muroja’ah yaitu sebelum breafing guru, rapat mingguan, rapat khusus dengan tim qur’an, dan muroja’ah dengan siswa setiap kali mengajar. Sungguh sangat bersyukur sekali bergabung denga para penghafal qur’an. Bagi saya, muroja’ah adalah pelecut diri untuk menguatkan hafalan.

  1. Suka tilawah dengan nada wafa

     Membaca qur’an harus dengan baik dan seindah mungkin. Jika mentalaqi siswa dengan suara pas-pasan sangat memalukan. Ini adalah masalah saya sebelum memakai metode wafa. Alhamdulillah dengan memakai metode wafa, lama kelamaan nada tilawah saya lumayan baik didengar dari sebelumnya. Terpenting harus sering latihan dan konsisten tilawah dengan menerapkan nada wafa. Semakin sering kita menggunakan nada wafa maka akan terbiasa. Menurut saya nada wafa adalah nada termudah yang saya temukan.

  1. Bahagia karena sering mengikuti pelatihan wafa

     Guru yang profesional sangat diperlukan untuk mendidik siswa. Pelatihan adalah salah satu cara terbaik untuk menambah wawasan guru, karena guru yang terus belajar dan berkarya akan mencetak generasi pembelajar sepanjang hayat. Selain itu, mendidik harus menyesuaikan zaman yang dialami peserta didiknya. Apalagi perkembangan teknologi telah merubah dunia pembelajaran kita begitu cepat sehingga kita harus meningkatkan kualitas diri dalam mendidik.

     Metode wafa sangat menyenangkan dengan metodenya yang bervariasi, juga para pengajar Qur’an sangat diperhatikan perkembangannya. Pelatihannya bervariatif dengan adanya buku wafa yang berbeda sesuai tingkatan kemampuan siswa, metode menghafal yang menyenangkan, kelengkapan administrasi, sampai dengan munaqasah guru. Kita dapat memilih pelatihan yang kita kehendaki. Sungguh pelayanan yang sangat prima sehingga membuat saya tidak bosan mengikuti pelatihan yang diadakan wafa.

      Selain kebahagiaan, tentunya juga ada beberapa kendala dalam mengajar. Apalagi di musim pandemi covid-19 yang melanda Indonesia. Hal ini juga salah satu penyebab utama dalam belajar qur’an di Lembaga kami. Semangat dan keaktifkan siswa menjadi menurun. Pembelajaran daring (dalam jaringan) saat ini menjadi trend di dunia pendidikan. Maka dari itu, guru harus siap menghadapi semua permasalahan. Guru harus pandai/smart mengajar secara daring dengan menguasai metode dan aplikasi agar siswa mudah memahami dan tertarik dengan materi yang disampaikan.

     Bagi kelas bawah (kelas 1, 2 dan 3) yang orang tuanya sibuk bekerja, akhirnya siswa tidak mengikuti pembelajaran qur’an kecuali siswa tersebut dititipkan ke salah satu anggota keluarga yang dapat memahami teknologi penggunaan hp android. Permasalahan ini menjadi salah satu kendala besar dalam pembelajaran qur’an, yakni harus ada kerjasama yang baik anatara guru dan orangtua siswa.

    Tetapi walaupun banyak kendala dalam proses pemebelajaran daring , kami tetap semangat berjuang agar anak Indonesia tetap semangat belajar qur’an. Dengan metode wafa, kami sangat terbantu untuk tetap istiqamah membumikan al-qur’an.

    Wafa merupakan metode pembelajaran al-qur’an yang sangat tepat untuk anak-anak Indonesia maupun dunia. Dengan metode otak kanan, materi pembelajaran disajikan secara menarik dan sistematis sehingga menjadikan peserta didik semangat dalam belajar qur’an.

    Kami sangat senang dengan metode wafa dan ingin mengaji lebih baik dan sempurna lagi. Dengan menggunakan metode wafa banyak hal yang kami pelajari dan caranya pun sangat menyenangkan sehingga sangat mudah dimengerti. Sungguh, kami bahagia bersama wafa. Terimakasih wafa.

_
Penulis : Marfu’ah – SIT Al Amin Kapuas Kalteng